Selama lebih dari satu bulan, bom-bom Amerika Serikat dan Israel terus dijatuhkan ke Iran. Ribuan warga sipil tewas. Ratusan di antaranya adalah anak-anak. Lebih dari satu juta orang terpaksa mengungsi. Sejak 28 Februari, akses internet diputus. Kini perang telah meluas ke seluruh kawasan.
Namun ada hal yang ingin kami katakan, yang tidak akan disampaikan oleh media: Kami tidak berduka untuk Republik Islam. Sepanjang hidup, kami melawannya. Mereka menyiksa kawan-kawan kami, memenjarakan saudari-saudari kami, dan membantai rakyat selama empat puluh tujuh tahun.
Tetapi bom-bom imperialis bukanlah pembebasan bagi kami. Trump sendiri mengatakannya: ia tidak berperang demi demokrasi. Ia tidak berperang demi perempuan Iran. Ia berperang demi kepentingan strategis Amerika, untuk menghancurkan kemampuan rudal dan mengendalikan kawasan. Washington tidak menjatuhkan bom demi kebebasan. Coba tanyakan pada rakyat Irak dan Afghanistan.
Dan sementara bom jatuh dari luar, Republik Islam melancarkan perang dari dalam. Para demonstran dieksekusi. Tahanan politik dikurung tanpa makanan. Kawan-kawan kami menghilang. Rezim menggunakan para tahanan sebagai tameng manusia di fasilitas militer. Rakyat Iran terjebak di antara dua bentuk kekerasan: yang satu memakai sorban, yang lain memakai jas.
Kepada mereka yang di diaspora yang mengibarkan bendera Shah, kami katakan dengan tegas: kami tidak bertahan selama empat puluh tujuh tahun di bawah satu kediktatoran hanya untuk menyerahkan negara ini kepada anak dari diktator lainnya. Mahkota dan sorban adalah dua sisi dari koin yang sama. Kami menolak keduanya.
Apa yang kami inginkan sederhana: masyarakat yang dibangun dari bawah. Tanpa tuan, tanpa ulama, dan tanpa raja. Pekerja mengendalikan tempat kerjanya sendiri. Komunitas mengorganisir dan mengelola dirinya sendiri. Semua orang bebas menentukan masa depannya.
Kami berpihak pada rakyat Iran, bukan pada pemerintah Amerika Serikat dan Israel, bukan pada Republik Islam, dan bukan pula pada monarki.
Kami bersama rakyat!
Tidak untuk Perang Imperialis!Tidak untuk Mullah! Tidak untuk Shah!Perempuan—Kehidupan—Kebebasan!-----
Kawan-kawan dari Polandia dan Yunani telah menerjemahkan dan menyebarkan pernyataan ini, membawa suara anarkis Iran langsung ke gerakan di kedua negara tersebut.
Di tengah perang, ketika internet global diputus sejak 28 Februari, ketika kawan-kawan kami dipenjara, ketika bom jatuh dan rezim menembaki rakyat di jalanan, setiap orang yang menyebarkan suara ini telah sedikit demi sedikit memecah blokade informasi.
Kami berterima kasih kepada kawan-kawan di Polandia dan Yunani atas solidaritas dan dukungannya.
Perjuangan tidak mengenal batas.
Polandia:https://www.facebook.com/share/p/1D6jAvuxuq/https://www.instagram.com/federacja_slask?igsh=azd3bXBpdzRjMzJzYunani:https://www.facebook.com/share/17ggn8cELS/?mibextid=wwXIfr
-----
Jawaban atas pertanyaan dari kamerad Maciej Augustyn, seorang kawan anarkis dari Polandia.
1. Apakah gerakan anarkis di Iran masih kecil dan terfragmentasi, serta lebih banyak terkonsentrasi di kota-kota universitas? Dan seberapa aktif di diaspora?
Gerakan anarkis di Iran tergolong masih muda. Baru dalam beberapa tahun terakhir anarkisme di Iran berkembang menjadi sebuah gerakan dalam arti yang lebih utuh. Dalam periode yang sama, beberapa buku anarkis juga mulai diterjemahkan ke dalam bahasa Persia dan bahkan mendapatkan izin untuk diterbitkan di dalam negeri.
Meski demikian, penyebaran gerakan ini sebenarnya lebih luas dari yang sering dibayangkan. Berdasarkan survei yang kami lakukan di Twitter dan Telegram, keberadaan anarkis dapat ditemukan di seluruh 31 provinsi di Iran, mulai dari kota-kota kecil hingga kota-kota besar. Gerakan ini ada di mana-mana, meskipun tidak selalu terlihat.
Karena represi yang sangat keras, gerakan anarkis berkembang secara semakin terdesentralisasi. Namun, kondisi ini bukanlah kelemahan, melainkan strategi untuk tetap bertahan dan terus bergerak.
Kami merupakan satu-satunya organisasi anarkis yang memiliki sekitar 17 tahun aktivitas terorganisir secara berkelanjutan. Kami memulai pada 15 Agustus 2009 di luar Iran dengan nama Voice of Anarchism. Pada periode 2011 hingga 2014, kami melakukan reorganisasi dengan nama Anarchist Network. Sejak 2013, kami mengelola situs Asranarshism. Setelah kawan-kawan dari Afghanistan bergabung pada 2015, seluruh aktivitas digabungkan dalam Kolektif Asranarshism.
Pada 2018, bersama dua organisasi anarkis lainnya (satu di Iran dan satu di Afghanistan), kami mendirikan Anarchist Union of Afghanistan and Iran. Pada 2020, organisasi ini menjadi bagian dari Federation of Anarchism Era. Namun, pada pertengahan April 2025, federasi tersebut dibubarkan. Kami mempertahankan halaman-halamannya sebagai arsip, baik untuk mendokumentasikan sejarah maupun mencegah penyalahgunaan nama tersebut.
Sejak 30 April 2025, kami beroperasi dengan nama Anarchist Front, dengan fokus pada wilayah Iran, Afghanistan, dan kawasan sekitarnya.
Kami tidak berambisi memperluas kekuatan organisasi dalam arti kelembagaan konvensional. Fokus kami adalah pada kualitas dan kedalaman pengorganisasian, bukan sekadar pertumbuhan jumlah.
Terkait diaspora, kondisi kami berbeda dengan banyak kelompok oposisi Iran lainnya yang basis utamanya berada di luar negeri. Dalam kasus kami, akar dan kehadiran utama justru berada di dalam Iran. Sementara itu, jumlah anarkis di luar negeri masih relatif kecil.
2. Federation of Anarchism Era dan Zanan-e 8 March, apakah kelompok yang bersaing atau berasal dari akar ideologi yang sama?
Seperti telah dijelaskan, Federation of Anarchism Era sudah tidak lagi ada karena dibubarkan pada April 2025. Sebagian besar anggotanya kini mengorganisir diri dalam Anarchist Front. Struktur Anarchist Front bersifat koalisi, yang mencakup berbagai kecenderungan dalam anarkisme. Kami bekerja sama dengan berbagai arus anarkis, kecuali yang menggabungkan anarkisme dengan pasifisme, nasionalisme, agama, atau kapitalisme.
Kerja sama dengan kawan-kawan anarkis dari Afghanistan dimulai sejak 2015. Pada 2018, tiga kelompok (termasuk satu dari Afghanistan) mendirikan Anarchist Union of Afghanistan and Iran. Sejak awal berdirinya, kawan-kawan Afghanistan juga menjadi bagian dari Anarchist Front. Selain itu, ada pula anggota dari berbagai wilayah lain.
Mengenai Zanan-e 8 March, mereka bukan kelompok anarkis, melainkan Maois yang berafiliasi dengan Partai Komunis Iran (M.L.M). Memang ada kesamaan dalam hal penolakan terhadap Republik Islam serta beberapa isu terkait hak-hak perempuan. Namun secara politik, mereka berasal dari tradisi yang berbeda secara mendasar, yaitu berbasis pada struktur partai, konsep pelopor (vanguard), dan ideologi Marxis-Leninis-Maois.
Karena itu, kami tidak melihat mereka sebagai pesaing, tetapi juga bukan bagian dari akar ideologi yang sama.
3. Di mana situasinya lebih buruk, di Iran atau Afghanistan? Dan apakah Afghanistan dilupakan?
Situasi di kedua wilayah sama-sama buruk, tetapi bentuk krisisnya berbeda dan perlu dipahami secara jelas.
Di Iran saat ini, masyarakat menghadapi tiga krisis besar sekaligus, yaitu kemiskinan ekstrem, represi yang meluas, dan perang yang menghancurkan. Intensitas perang sangat tinggi dengan lebih dari 1500 warga sipil tewas termasuk lebih dari 200 anak-anak. Akses internet global telah diputus sejak 28 Februari. Masyarakat hidup di bawah ancaman bom, peluru, dan krisis ekonomi secara bersamaan.
Di Afghanistan, kondisi yang dihadapi bahkan lebih kompleks. Masyarakat menghadapi kemiskinan ekstrem, pengusiran massal pengungsi dari Iran dan Pakistan, represi, konflik terbatas yang terus berlangsung dengan Pakistan, serta penyingkiran total perempuan dan anak perempuan dari ruang lingkup pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan publik di bawah kekuasaan Taliban.
Di Afghanistan sendiri, gerakan anarkis belum berkembang dalam arti yang nyata. Baik di dalam maupun di luar negeri, hanya ada sedikit individu yang mengidentifikasi diri sebagai anarkis.
Sejak dimulainya perang di Ukraina, perhatian dunia terhadap Afghanistan menurun drastis. Negara ini seolah dilupakan dan ditinggalkan oleh kekuatan Barat yang sebelumnya ikut menciptakan kondisi kembalinya Taliban. Afghanistan tidak lagi dianggap penting secara strategis sehingga hampir tidak terlihat dalam pemberitaan global, meskipun sekitar 40 juta penduduknya hidup di bawah salah satu sistem apartheid gender paling represif di dunia saat ini.
Kami menolak pengabaian ini. Kedua situasi sama-sama membutuhkan solidaritas. Tidak bisa ditentukan mana yang lebih buruk dalam arti kemanusiaan. Namun, fakta bahwa Afghanistan dilupakan adalah tindakan politik itu sendiri.
4. Bagaimana respons gerakan anarkis terhadap pemberontakan Desember hingga Januari 2026, dan apakah kawan-kawan ikut terlibat?
Ketika rakyat turun ke jalan untuk memprotes, kaum anarkis juga ada di sana. Ketika puluhan ribu orang ditangkap, kaum anarkis juga termasuk di dalamnya. Kawan-kawan kami terlibat dalam aksi, membantu pengorganisasian, mendokumentasikan kejadian, dan sebagian juga ditangkap.
Namun setelah pembantaian besar terhadap puluhan ribu orang, terutama pada 8 dan 9 Januari 2026, kaum anarkis bersama banyak aktivis lainnya memutuskan untuk tidak lagi berpartisipasi dalam aksi jalanan untuk sementara waktu. Keputusan ini bukan karena perjuangan telah berakhir, tetapi karena bentuk aksi tersebut saat ini tidak efektif untuk menjatuhkan rezim. Pemerintah telah menunjukkan bahwa mereka siap membantai lebih banyak orang dan secara terbuka menyatakan bahwa siapa pun yang turun ke jalan akan diperlakukan sebagai musuh dan ditembak.
Pertanyaannya bukan lagi apakah harus melawan, tetapi bagaimana melawan secara efektif tanpa hanya menambah jumlah korban. Ini bukan pertanyaan yang mudah, tetapi itulah kenyataan yang harus dihadapi.
5. Bagaimana jika sebagian besar rakyat Iran menginginkan kembalinya Shah?
Penting untuk melihat apa yang benar-benar terjadi. Aksi protes dimulai pada 7 Januari 2026 atas inisiatif rakyat sendiri tanpa seruan dari kelompok oposisi di luar negeri. Selama sebelas hari masyarakat turun ke jalan secara mandiri. Pada 18 Januari organisasi-organisasi Kurdi menyerukan pemogokan umum. Setelah itu barulah Reza Pahlevi menyerukan partisipasi dalam aksi pada 18 dan 19 Januari.
Seruan ini muncul setelah gerakan berlangsung secara independen selama sebelas hari. Dalam konteks tersebut, momentum ini kemudian berujung pada pembantaian besar pada dua hari itu. Waktunya bukan kebetulan. Kelompok monarkis mencoba menunggangi gerakan yang sebelumnya tumbuh secara mandiri dari bawah.
Berdasarkan berbagai survei, pendukung monarki di Iran berada di kisaran 17 persen dari populasi. Angka ini tidak kecil dan mereka memiliki keunggulan dalam hal organisasi serta kepemimpinan yang lebih terpusat. Namun 17 persen bukanlah mayoritas dan tidak dapat dianggap mewakili seluruh masyarakat Iran.
Sejak protes dimulai pada 7 Januari, berbagai koalisi dan forum bermunculan dengan komposisi yang sangat beragam. Sebaliknya, pertemuan yang berkaitan dengan Pahlevi hanya diikuti oleh para pendukungnya sendiri. Pahlevi mewakili kaum monarkis, bukan seluruh rakyat Iran.
6. Apakah protes ini tidak patriotik karena adanya ancaman serangan? Apakah dipicu oleh sanksi?
Republik Islam berkuasa sejak 1979. Kurang dari satu bulan kemudian, protes besar perempuan melawan kewajiban hijab sudah terjadi pada 8 Maret. Pada tahun yang sama, gerakan rakyat Kurdi dihancurkan dengan kekuatan militer. Pada dekade 1980-an, terutama tahun 1988, ribuan orang dieksekusi di penjara. Pada 1990-an muncul gelombang protes di banyak kota yang semuanya ditekan. Lalu ada gerakan mahasiswa 1999, disusul 2009 dengan Gerakan Hijau, kemudian gelombang protes 2017, 2018, 2019, 2020, 2022, hingga 2025.
Selama 47 tahun, masyarakat terus turun ke jalan menuntut kebebasan, melawan represi, menolak kecurangan pemilu, menentang kenaikan harga, krisis air, serta pembunuhan Mahsa Jina Amini.
Negara telah menguras kekayaan rakyat. Banyak pejabat melarikan diri dengan membawa miliaran dolar, sementara sumber daya lainnya diinvestasikan ke kelompok proksi, proyek militer bawah tanah, dan program nuklir. Lingkungan dirusak, dan masyarakat dibiarkan hidup dalam kemiskinan.
Protes Januari 2026 dipicu oleh lonjakan tajam nilai dolar dalam waktu singkat yang membuat kebutuhan hidup menjadi tidak terjangkau. Tekanan hidup yang berat, kemiskinan, kenaikan harga, dan ketiadaan kebebasan mendorong masyarakat turun ke jalan.
Selama sebelas hari pertama, masyarakat bergerak sendiri tanpa seruan dari oposisi luar negeri maupun pemerintah asing. Setelah itu, kelompok monarkis mencoba menunggangi gerakan tersebut, dan negara seperti Amerika Serikat serta Israel berusaha memanfaatkannya.
Menyebut protes ini sebagai tindakan tidak patriotik berarti menghapus sejarah panjang perlawanan mandiri rakyat Iran dan mereduksinya menjadi proyek asing. Pandangan seperti itu harus ditolak.
Sebagai anarkis, kami menolak konsep patriotisme karena ia terikat pada negara-bangsa, batas wilayah, dan simbol-simbol seperti bendera. Masyarakat turun ke jalan bukan untuk membela tanah air, tetapi karena mereka lapar, karena mereka tertindas, karena mereka sudah tidak tahan lagi. Perjuangan mereka bukan milik bendera mana pun dan tidak melayani negara mana pun. Perjuangan itu adalah milik mereka sendiri.
Solidaritas kami ditujukan bukan kepada Iran sebagai sebuah negara, dan bukan kepada negara mana pun. Solidaritas kami ditujukan kepada kaum pekerja, perempuan, tahanan politik, dan rakyat miskin di mana pun mereka berada, tanpa pengecualian dan tanpa batas.
7. Tentang jumlah korban dalam protes Januari
Puluhan ribu orang tewas, tetapi tidak ada angka pasti. Ketidakjelasan ini sendiri merupakan hasil dari kebijakan negara. Yang jelas, warga sipil tak bersenjata ditembak dengan senjata berat, penembak jitu, dan ribuan aparat bersenjata. Siapa pun yang berada di jalan berisiko menjadi korban, termasuk warga yang tidak ikut aksi.
Sikap yang masuk akal adalah menggunakan angka minimum yang terverifikasi, sambil mengakui bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih besar. Perlu menolak baik upaya negara untuk mengecilkan angka maupun klaim berlebihan yang tidak bisa dibuktikan. Yang tidak bisa disangkal adalah bahwa skala kekerasan ini sangat besar dan dilakukan secara sengaja.
8. Tentang gagasan “perang pembebasan”
Tidak ada perang pembebasan yang dijalankan oleh negara. Perang selalu berarti kehancuran manusia, lingkungan, dan kehidupan sosial. Memang dalam sejarah, ada rezim represif yang runtuh akibat perang antarnegara, tetapi itu terjadi karena negara-negara mengejar kepentingan mereka sendiri, bukan demi kebebasan rakyat.
Perang ini bukan perang rakyat, melainkan perang antarnegara. Amerika Serikat dan Israel bertindak berdasarkan kepentingan strategis mereka sendiri, seperti melemahkan kemampuan militer dan pengaruh regional Iran. Tujuan-tujuan ini tidak mencakup kebebasan rakyat Iran.
Bom-bom itu sendiri sudah menjadi bukti: lebih dari 1.500 warga sipil tewas, ratusan di antaranya anak-anak, sekolah-sekolah hancur, dan pusat medis ikut menjadi sasaran.
Kami menentang Republik Islam, dan kami juga menentang perang ini. Kedua sikap ini berangkat dari prinsip yang sama: berpihak pada rakyat, bukan pada negara.
9. Bagaimana berkoordinasi di tengah pemadaman internet?
Dalam kondisi pemadaman internet total, ditambah represi luas, penangkapan massal, pengeboman, pengangguran, dan lonjakan harga, ruang untuk bertindak menjadi sangat terbatas.
Dalam situasi seperti ini, kondisi tahanan politik tidak bisa dipantau. Komunikasi antar kelompok perlawanan terputus. Warga di wilayah yang akan diserang sering tidak mendapat informasi sehingga tidak bisa saling memperingatkan atau membantu. Hubungan antara warga Iran di luar negeri dengan keluarga mereka di dalam negeri juga terputus. Informasi keamanan untuk mengurangi risiko pun tidak bisa disampaikan.
Gabungan antara perang, pemadaman, represi, dan krisis ekonomi menciptakan situasi krisis berlapis yang melampaui kemampuan respons terorganisir.
Yang bisa dilakukan hanya terbatas: mendokumentasikan, berkomunikasi saat ada akses, dan menjaga keberadaan. Namun kondisi ini memang sangat membatasi.
10. Tentang hilangnya Soheil Arabi
Banyak mantan tahanan politik kembali ditangkap tanpa alasan. Soheil Arabi, seorang anarko-sindikalis dan ateis, menghilang. Karena pemadaman internet, tidak diketahui ia berada di penjara mana, dalam kondisi apa, atau apakah ia mengalami penyiksaan.
Afshin Heyratian, mantan tahanan politik dari keluarga Baha’i yang juga seorang ateis dan anarkis, ditangkap sebelum protes dimulai dan masih ditahan tanpa izin jaminan.
Nama-nama ini harus terus disebut. Dalam kondisi seperti sekarang, ketidakpastian itu sendiri menjadi bentuk penyiksaan, baik bagi mereka maupun bagi orang-orang yang peduli.
11. Nama-nama lain yang harus diingat
Dalam pemberontakan “Jin, Jiyan, Azadi” tahun 2022, lebih dari 100.000 orang ditangkap dan sekitar 90.000 di antaranya diproses secara hukum.
Dalam protes 2025–2026, setidaknya 50.000 orang ditangkap, termasuk ratusan anak-anak. Banyak dari mereka masih dipenjara atau terancam hukuman mati.
Jumlah orang yang berisiko dieksekusi sangat besar, dan setiap hari penangkapan terus terjadi.
Daftar nama terlalu panjang untuk disebutkan satu per satu. Namun setiap nama adalah satu kehidupan, dan setiap kehidupan sangat berarti. Tekanan internasional sangat penting: dokumentasikan, suarakan, jangan biarkan pemadaman informasi menjadi penghapus ingatan.
12. Tentang minoritas dan bentuk masa depan politik
Sebagai anarkis, kami menolak segala bentuk negara dan mendukung masyarakat tanpa negara, dengan penentuan nasib sendiri dan pengorganisasian dari bawah.
Model seperti Rojava bisa menjadi inspirasi: horizontal, berbasis federasi, multi-etnis, dengan kekuasaan nyata di tangan komunitas.
Namun masyarakat di Iran sendiri yang akan menentukan jalan mereka, sesuai bahasa, budaya, dan kebutuhan masing-masing. Tidak ada pihak luar yang berhak memaksakan solusi.
Yang jelas, masyarakat Iran yang beragam tidak bisa memenuhi kebutuhannya di bawah negara yang terpusat, otoriter, dan memaksakan keseragaman identitas.
Kami mendukung kebebasan dan keputusan rakyat, sambil tetap menolak semua bentuk negara dan otoritarianisme.
13. Tentang Ukraina dan invasi Rusia
Invasi Rusia merupakan bentuk imperialisme yang bertujuan memperluas kekuasaan dan wilayah.
Sebagai penolak perang antarnegara, kami mengecam perang ini sebagaimana kami mengecam perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Sikap kami konsisten: menolak semua perang negara tanpa pengecualian.
Penghancuran kehidupan manusia dan alam tidak bisa dibenarkan oleh bendera atau ideologi apa pun.
14. Dilema moral: jika ada invasi darat, apa yang harus dilakukan?
Perang antara Iran, Israel, dan Amerika bukan perang rakyat. Negara berperang demi kepentingannya sendiri, lalu berdamai, sementara yang hancur adalah kehidupan manusia, hewan, anak-anak, dan lingkungan.
Kami tidak berjuang untuk negara. Kami juga tidak akan berjuang bersama Republik Islam dalam kondisi apa pun.
Yang dipertahankan adalah masyarakat, kehidupan, dan komunitas, bukan negara, bukan bendera, bukan kepentingan militer.
Jika terjadi pendudukan, maka yang dipertahankan adalah komunitas melalui cara-cara kolektif dan horizontal, bukan sebagai tentara negara, melainkan sebagai masyarakat yang mempertahankan diri.
15. Apa yang harus selalu diingat oleh kawan-kawan internasional?
Kami selalu berpihak pada rakyat di mana pun, dan menentang semua pemerintahan tanpa pengecualian.
Tidak ada kehidupan di satu wilayah yang lebih berharga daripada wilayah lain. Semua perang negara harus ditolak.
Namun yang paling penting untuk diingat adalah ini: rakyat Iran saat ini hidup di bawah bom-bom Amerika dan Israel, di bawah peluru aparat Republik Islam, di dalam penjara, dan sekaligus menghadapi kemiskinan, kelaparan, pengangguran, serta pemadaman internet total. Semua beban itu mereka tanggung secara bersamaan.
Itulah arti solidaritas: memahami kenyataan secara utuh, bukan menyederhanakannya menjadi narasi tentang “pembebasan” atau “perubahan rezim”, tetapi melihat apa yang benar-benar dialami oleh masyarakat Iran saat ini.
Anarchist Front—Maret 2026
Diterjemahkan dari: