Jumat, 17 April 2026

Laporan Lapangan tentang Perkumpulan yang Diselenggarakan Pemerintah untuk Propaganda Republik Islam


Di antara sesama warga kita yang bukan “zombie”, tetapi juga tidak menginginkan kami hidup, saya menghadiri perkumpulan-perkumpulan ini di Teheran atas saran beberapa pendukung pemerintah yang berkuasa di Iran saat ini.

Mereka mengatakan kepada saya: “Kamu sebaiknya datang dan melihat sendiri, lalu menulis laporan yang sebisa mungkin independen.”

Salah satu dari mereka menambahkan bahwa menghadiri acara-acara Islamis ini tidak mengharuskan saya menutup rambut: “Kami berkumpul di sana untuk kepentingan nasional”, kata mereka, “dan tentu orang-orang yang berpikir serta berpakaian seperti kamu juga akan diterima.”

Saya kemudian datang dengan apa yang saya anggap sebagai penampilan “normal”, sebuah penampilan yang secara hukum masih dianggap sebagai pelanggaran.

Laporan ini disusun antara sekitar pukul 20.00 hingga 23.00 di sekitar Lapangan Enghelab, Teheran.


Dalam Perjalanan

Di dalam kereta, saya melihat perempuan dan laki-laki dari berbagai usia yang membawa bendera Republik Islam dan menuju lokasi perkumpulan.

Sebagian besar perempuan mengenakan cadar dan juga menutupi wajah mereka dengan masker gelap, baik masker medis maupun penutup wajah. Saya mengingat bahwa dalam beberapa tahun terakhir perempuan religius di Iran lebih jarang menutupi wajah, sehingga peningkatan penggunaan penutup wajah ini terasa cukup mencolok. Banyak laki-laki juga sesekali mengenakan masker.

Wajah anak-anak tetap terlihat. Banyak dari mereka mengenakan ikat kepala yang menunjukkan dukungan kepada Hizbullah di Lebanon dan kepada Mojtaba Khamenei.

Para penentang pemerintah sering mengklaim bahwa banyak peserta bukan warga Iran. Namun ketika saya mendengarkan cara berbicara dan aksen mereka, saya tidak mendengar bahasa asing atau aksen non-Persia. Mereka yang duduk di sekitar saya tampaknya adalah warga Iran sendiri.

Jumlah perempuan tampak lebih banyak dibandingkan laki-laki. Di antara mereka, perempuan lanjut usia dan gadis-gadis muda lebih menonjol daripada kelompok usia paruh baya. Sebagian datang bersama teman atau keluarga, sementara sebagian lainnya mungkin melalui jaringan Basij, yaitu organisasi mobilisasi berbasis komunitas yang menjalankan program ideologis dan mendukung agenda politik pemerintah.


Suasana dan Persepsi

Saat mengamati orang-orang di sekitar saya, saya merasakan adanya jarak dan kemungkinan permusuhan yang ditujukan kepada saya karena penampilan saya. Namun saya menyadari bahwa ini bisa saja berasal dari prasangka pribadi.

Saya tidak dapat membaca pikiran orang lain dan tidak bisa mengklaim diri sepenuhnya netral atau bebas dari bias politik. Saya adalah seorang warga sekuler, dan cara pandang saya terhadap kelompok religius dibentuk oleh pengalaman sebelumnya. Meski begitu, kesan itu tetap muncul pada saat itu.

Ketika saya mengamati lebih dekat, saya melihat seorang perempuan yang berusaha menyembunyikan benderanya di bawah cadar. 

Situasi ini terasa agak ganjil. Saya sempat berpikir bahwa kelompok ini mungkin kurang percaya diri secara individu dan merasa terancam oleh bagian lain dari masyarakat, sehingga sebagian dari mereka memilih menutupi wajah. 

Saya berusaha menampilkan sikap yang lebih “religius” dan tersenyum agar tidak terlihat mengintimidasi siapa pun. Perempuan yang duduk di seberang saya kemudian menghindari tatapan saya.

Di Lokasi Perkumpulan

Kami tiba di stasiun dan bergerak menuju pintu keluar bersama puluhan pendukung pemerintah lainnya. Dalam perjalanan, saya melihat seorang pria dan seorang perempuan berkulit hitam membawa bendera Hizbullah. Saya menduga mereka mungkin mahasiswa teologi atau sedang menempuh studi di bidang lain seperti kedokteran, karena ada juga mahasiswa asing di Iran. Mereka adalah satu-satunya orang non-Iran yang saya lihat malam itu.

Di luar stasiun metro, seorang pria menjual bendera Republik Islam. Hal ini tampaknya bertentangan dengan anggapan bahwa seluruh acara sepenuhnya dibiayai negara. Walaupun pemerintah jelas mengalokasikan dana besar untuk propaganda, acara ini juga tampaknya melibatkan pengeluaran pribadi para peserta.

Harga setiap bendera sekitar 180.000 toman. Saya sempat mempertimbangkan untuk membeli satu agar tidak terlalu menonjol, tetapi saya memutuskan untuk tidak melakukannya karena tidak ingin secara sukarela memberikan uang kepada pihak atau institusi tersebut. Dalam situasi seperti ini saya bertanya pada diri sendiri, apakah saya masih benar-benar tetap netral dan independen? 

Saya ingat bahwa selama dua tahun, sistem ini memaksa saya melakukan kerja tanpa upah sebagai imbalan untuk menghindari penjara, dan juga menuntut uang untuk mengembalikan jenazah para demonstran yang telah mereka bunuh. Saya memutuskan untuk tidak membeli bendera.


Aktivitas Propaganda

Di sepanjang jalan, telah didirikan stan-stan propaganda dan hiburan. Misalnya, orang-orang dapat menulis pesan untuk anak-anak yang tewas dalam perang antara Israel dan Republik Islam, lalu menerima pulpen sebagai suvenir. Di tempat lain, seorang pria melantunkan nyanyian religius sementara yang lain menyemangati massa melalui pidato.

Saat sedang mengamati, seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun mendekati saya dari belakang dan berkata dengan tegas: “Tarik kerudungmu ke depan dan tutupi rambutmu”, lalu segera pergi.

Pasukan keamanan bersenjata hadir untuk menjaga ketertiban, tetapi mereka tidak menegur saya terkait penampilan saya. Apa yang mereka toleransi justru tidak dapat diterima oleh para pendukungnya sendiri yang menuntut keseragaman.


Penerimaan dan Pengucilan

Mungkin mereka mengira saya seorang pendukung. Namun apakah mereka benar-benar dapat menerima seorang sekuler sebagai sekutu?

Bagi banyak dari mereka jawabannya tampak jelas: “tidak”. Bagi kelompok ini, keyakinan terhadap Republik Islam bukan sekadar urusan politik, tetapi menyatu dengan pandangan hidup, gaya hidup, dan budaya.

Mereka mungkin masih dapat mentoleransi seorang penentang yang diam dan tidak menunjukkan penolakan secara terbuka, tetapi mereka tidak dapat menerima perbedaan yang terlihat dalam penampilan atau cara hidup.

Republik Islam sering mempromosikan gagasan bahwa sistemnya mendukung keberagaman gaya hidup, tetapi pada praktiknya fondasinya bertumpu pada eksklusi, yaitu pemisahan antara orang dalam dan orang luar, antara yang dianggap beriman dan yang dianggap kafir.


Nuansa

Namun demikian, tidak semua interaksi bersifat bermusuhan. Sebagian orang, terutama perempuan muda, tampak lebih terbuka dan menunjukkan fleksibilitas serta rasa percaya. Banyak anak-anak yang saya lihat juga tampak polos dan menggemaskan.

Terlepas dari perbedaan politik, kita semua memiliki tanggung jawab terhadap masa depan mereka, memastikan mereka memiliki kesempatan yang setara dan tidak menanggung konsekuensi atas pilihan orang lain.


Motif

Saya tidak melihat adanya pembagian uang atau makanan mewah, berbeda dengan klaim sebagian pihak yang menentang. Para peserta ini tidak digerakkan oleh insentif material. Mereka lebih banyak membela keyakinan, cara hidup, dan manfaat jangka panjang yang mereka yakini diberikan oleh sistem, yang mereka anggap sebagai hak yang wajar.

Bayangkan sebuah perusahaan yang hanya merekrut orang bermata biru. Lama-kelamaan, orang-orang bermata biru itu percaya bahwa ciri tersebut berkaitan dengan kemampuan. Mereka kemudian menganggap keistimewaan mereka bukan sebagai diskriminasi, melainkan sebagai hak yang pantas mereka miliki.

Para pendukung pemerintah berada dalam posisi yang serupa. Mereka juga benar-benar percaya bahwa mereka sedang membela negara mereka. Dengan cara mereka sendiri, mereka mencintai apa yang mereka sebut sebagai “Iran”. Sebagian telah kehilangan anggota keluarga dalam konflik baru-baru ini, dan membawa duka yang berubah menjadi dorongan untuk balas dendam.


Slogan dan Ideologi

Slogan-slogan yang diteriakkan umumnya menargetkan lawan dari Pemimpin Tertinggi, Amerika Serikat, dan Israel.

Di tengah kerumunan itu saya mendengar kata-kata: “Kematian bagi musuh Pemimpinan Tertinggi", yang dalam praktiknya ini berarti seruan kematian bagi orang-orang seperti saya.

Jika saya mengungkapkan identitas saya secara terbuka, apakah mereka bisa melukai saya? Saya percaya jawabannya adalah “ya”.

Mereka tampak marah dan seolah hanya mendengar diri mereka sendiri. Ketika saya bertanya kepada seorang pria tentang masa depan, ia berkata: “Kami akan menaklukkan Arab Saudi dan pergi ke Mekkah.”

Ketika ditanya tentang kondisi saat ini, ia menjawab: “Keadaan cukup baik meskipun ada korupsi, dan ketika Imam Mahdi kembali segalanya akan menjadi lebih baik.”

Dalam ketiadaan visi masa depan yang realistis, mereka berpegang pada keyakinan dan kepastian yang bersifat abstrak.


Kesimpulan

Setelah kembali, saya membagikan laporan ini kepada orang yang mendorong saya untuk pergi.

Ia bertanya, mengapa saya tidak membeli bendera? Saya menjawab bahwa penjualnya mendukung sistem. Ia mengatakan bahwa hal itu mungkin benar, tetapi tanggung jawab moral harus dipahami dengan hati-hati, dan tidak semua orang dapat disamaratakan dalam hal tanggung jawab.

Saya percaya bahwa kita semua membutuhkan pengakuan atas penderitaan dan hak-hak kita, yang kemudian harus diikuti oleh keadilan. Untuk itu, diperlukan pemahaman yang lebih dalam. Kita perlu saling mengamati dengan lebih jernih, serta menghindari narasi yang sederhana dan generalisasi yang berlebihan.

Mungkin itu masih menjadi tugas yang layak untuk dilakukan.

—Narator


Laporan ini diambil dan diterjemahkan dari:

Channel Front Anarkis (Iran dan Afghanistan)—Bahasa Indonesia:

Catatan: Saluran ini menyediakan berita dan analisis berdasarkan konten berbahasa Persia dari Front Anarkis, yang aktif di Iran dan Afghanistan.