Minggu, 05 April 2026

Hari Buruh dalam Kobaran Api: Melawan Imperialisme dan Teokrasi

Setiap tanggal 1 Mei, sebagian kiri di Barat turun ke jalan membawa bendera merah, meneriakkan internasionalisme dan kekuatan kelas pekerja. Tapi kita perlu bertanya: apakah ada tempat bagi buruh Iran dalam Hari Buruh kalian?


Ditulis oleh: Decolonize Anarchism

Pada 26 April 2025, sebuah ledakan besar mengguncang Pelabuhan Shahid Rajaee di dekat Bandar Abbas, pelabuhan komersial terbesar di Iran. Setidaknya 70 orang tewas dan lebih dari 1.200 lainnya terluka menurut laporan resmi. Ledakan itu berasal dari penyimpanan bahan kimia yang tidak aman, termasuk amonium perklorat, senyawa yang digunakan sebagai bahan bakar rudal.

Perusahaan yang bertanggung jawab bukanlah entitas swasta dalam arti kapitalisme liberal. Ia berada di bawah jaringan Yayasan Mostazafan, bagian dari struktur “amal” Islam yang terhubung langsung dengan Pemimpin Tertinggi dan Garda Revolusi Iran (IRGC). Jaringan ini menguasai aset besar, memiliki hubungan militer, dan menjadi mesin utama akumulasi kekayaan di dalam negeri. Mereka bebas pajak, tidak tunduk pada hukum ketenagakerjaan, tidak akuntabel, dan bertahan melalui perampasan surplus sosial secara langsung. Ini adalah perpaduan antara kapital negara dan otoritas klerikal, yang digerakkan bukan oleh efisiensi pasar, melainkan oleh legitimasi ideologis dan disiplin paramiliter.

Bencana ini bukan kejadian terpisah. Ia terjadi dalam konteks struktural yang ditandai oleh pengabaian, kerentanan yang disengaja, dan perang kelas dari atas. Pelabuhan Bandar Abbas sebagian besar dioperasikan oleh buruh kontrak dari kelompok etnis miskin, terutama komunitas Baloch dan Afro-Iran. Banyak dari mereka tidak memiliki dokumen resmi, bekerja tanpa identitas hukum, dan tidak mendapatkan perlindungan dasar. Sebagian adalah pengungsi. Kebanyakan dipekerjakan dengan kontrak jangka pendek tanpa jaminan, tanpa asuransi kesehatan, dan tanpa akses ke serikat independen.

Mereka melakukan pekerjaan berbahaya seperti menangani bahan kimia dan bongkar muat kontainer tanpa perlengkapan keselamatan yang memadai atau prosedur darurat. Ledakan ini adalah akibat langsung dari kelalaian tersebut, yang diperparah oleh korupsi sistemik dan lemahnya pengawasan.

Ini juga bukan satu-satunya kasus. Antara Mei 2024 hingga April 2025, lebih dari 2.081 pekerja di Iran meninggal akibat kondisi kerja yang tidak aman. Anak-anak semuda 12 tahun bekerja di tambang, pengolahan limbah, dan industri tekstil. Di sektor informal, yang mencakup hingga sepertiga tenaga kerja Iran, kecelakaan dan kematian sering kali tidak tercatat. Negara yang seharusnya menegakkan hukum ketenagakerjaan justru menjadi pelaku utama eksploitasi. Sekitar 90% pekerja di Iran bekerja dengan kontrak sementara, dan lebih dari sepertiganya tidak memiliki asuransi. Artinya, tidak ada jaminan kerja, tidak ada pesangon, dan tidak ada layanan kesehatan, bahkan untuk pekerjaan yang paling berbahaya sekalipun.

Represi terhadap gerakan buruh berlangsung sistematis dan brutal. Setidaknya 19 aktivis buruh masih dipenjara hingga saat ini. Di antaranya adalah Pakhshan Azizi dan Verisheh Moradi, dua aktivis Kurdi yang memperjuangkan hak buruh dan perempuan, dan dijatuhi hukuman mati. Seperti banyak aktivis Kurdi lainnya, mereka ditahan dalam isolasi berkepanjangan, tidak diberi akses hukum, dan dipaksa mengaku melalui penyiksaan dalam proses peradilan yang tidak adil. Mereka bukan kasus tunggal. Fakta bahwa mereka adalah perempuan, Kurdi, sekuler, dan berkomitmen pada pengorganisasian kolektif dari bawah membuat mereka dianggap berbahaya oleh rezim yang bergantung pada pembelahan etnis, kontrol patriarkal, dan kekuasaan terpusat.

Tali yang melingkari leher mereka bukan hanya milik rezim, melainkan simpul dari seluruh kekuatan kontra-revolusi: nasionalisme, otoritarianisme, dan pemujaan terhadap kapital. Rasisasi terhadap tenaga kerja dan represi terlihat sangat jelas. Di Kurdistan, para "kulbar" yaitu buruh pengangkut lintas perbatasan secara rutin ditembak oleh penjaga perbatasan. Di Iran bagian tenggara, buruh Baloch, yang sering kali tidak memiliki dokumen, menghadapi eksploitasi harian dan kekerasan yang dimiliterisasi.

Pada April 2025, delapan pekerja Baloch asal Pakistan ditembak mati di Mehrestan. Mereka dibunuh bukan karena politik atau aksi protes, tetapi karena mereka miskin, dirasialisasi, dan dianggap bisa dibuang begitu saja. Setidaknya 50% eksekusi dalam beberapa tahun terakhir menargetkan individu Baloch, padahal mereka hanya sekitar 5% dari populasi. Proletariat yang dirasialisasi ini, yang bergerak, informal, dan terpinggirkan, merupakan salah satu bagian paling rentan sekaligus paling radikal dari kelas pekerja Iran.

Situasi buruh Iran juga harus dilihat dari perspektif gender. Perempuan pekerja menghadapi beban ganda: eksploitasi ekonomi dan represi patriarkal. Mereka didorong ke sektor kerja paling tidak terlihat dan paling minim perlindungan. Di sektor tidak teratur seperti pekerjaan rumah tangga dan pertanian, mereka kerap menghadapi kekerasan seksual dan pemaksaan ekonomi. Aktivis buruh perempuan seperti Sharifeh Mohammadi, Sosan Razani, dan Sepideh Qoliyan mengalami penjara, cambukan, hingga pengasingan. Di Bandar Abbas, banyak korban luka adalah perempuan yang bekerja sebagai tenaga kontrak di sektor logistik dan kebersihan, dibayar jauh lebih rendah dari laki-laki, serta tidak memiliki hak cuti melahirkan maupun cuti medis.

Di tengah kondisi ini, Republik Islam terus memainkan narasi anti-imperialisme. Para pemimpinnya mengklaim menentang hegemoni Amerika Serikat, sambil tetap melakukan negosiasi diam-diam dengan Washington. Manuver diplomatik ini hanya memperkuat kekuasaan elite, tanpa memperbaiki kondisi pengangguran massal, upah yang tidak layak, dan teror negara yang dialami para pekerja. Rezim menggunakan retorika anti-imperialisme untuk membenarkan militerisme di luar negeri dan represi di dalam negeri. Kritik dibungkam, kegagalan domestik disalahkan pada sanksi, sementara kebijakan penghematan neoliberal tetap dijalankan: privatisasi, deregulasi, dan pemangkasan layanan publik.

Kemunafikan ini sering kali tercermin juga pada sebagian kiri di Barat. Terjebak dalam pola pikir biner ala Perang Dingin, mereka menyederhanakan Iran sebagai korban semata dari agresi Amerika Serikat. Mereka mengabaikan kenyataan bahwa rezim tersebut menghancurkan gerakan buruh, memenjarakan guru dan pensiunan, serta mengeksekusi pekerja dari kelompok minoritas. Dengan menganggap kekerasan ini sebagai konsekuensi “tak terhindarkan” dari sanksi, mereka menghapus peran aktif buruh dan kaum revolusioner Iran yang melawan baik imperialisme maupun rezim otoriter. Anti-imperialisme yang sejati harus berpihak pada yang tertindas, bukan pada penindas yang kebetulan berseberangan dengan Barat.

Gerakan buruh di Iran saat ini memang terpecah, tetapi tetap bertahan. Antara Januari hingga April 2025 saja, terjadi 44 aksi protes buruh di 26 kota, dari pekerja petrokimia di Mahshahr hingga tenaga kesehatan desa di Minab. Protes ini bukan sekadar soal upah, tetapi tentang hak untuk hidup, hak untuk berorganisasi, dan hak atas martabat. Di Kurdistan, Balochistan, Khuzestan, dan Hormozgan, wilayah yang mengalami penindasan etnis dan perampasan ekonomi, para pekerja bangkit bukan hanya melawan eksploitasi, tetapi juga struktur negara yang menopangnya.

Pada 1 Mei, sebagian kiri di Barat akan turun ke jalan membawa bendera merah dan meneriakkan internasionalisme serta kekuatan kelas pekerja. Tapi kita perlu bertanya: apakah ada tempat bagi buruh Iran dalam Hari Buruh kalian?

Ketika kalian mengecam imperialisme Amerika dan neoliberalisme, apakah kalian juga menyebut lebih dari 2.000 pekerja Iran yang tewas tahun lalu dalam “kecelakaan kerja” yang sebenarnya bisa dicegah? Apakah kalian berbicara tentang buruh Baloch yang dikriminalisasi dan dieksekusi, atau para kulbar Kurdi yang ditembak di pegunungan? Atau apakah kehidupan mereka terlalu rumit, terlalu tidak sesuai dengan kerangka biner kalian, terlalu mengganggu posisi politik yang sudah kalian pilih?

Kalian mengaku bersolidaritas. Tapi ketika pengorganisir buruh di Iran dipenjara, disiksa, bahkan dijatuhi hukuman mati, terlalu banyak dari kalian yang memilih diam. Kalian tidak perlu mengulang propaganda Washington atau Tel Aviv untuk menyebut kejahatan Teheran. Jika anti-imperialisme kalian tidak mencakup mereka yang berjuang dari bawah, melawan tirani lokal sekaligus kapital global, maka itu bukan solidaritas. Itu hanyalah diplomasi bayangan.

Solidaritas internasional harus menolak pilihan-pilihan palsu. Mendukung kelas pekerja Iran berarti mendukung hak mereka untuk berorganisasi secara mandiri, melawan represi dalam negeri dan dominasi asing, serta membayangkan masa depan di luar kapitalisme teokratis dan kekerasan imperialis.

Hari Buruh bukan tentang memilih rezim mana yang disukai. Hari Buruh adalah tentang kekuatan sebuah kelas yang tidak memiliki rezim, tidak memiliki bendera, dan tidak memiliki tuan.