Peneliti: Hasse-Nima Golkar
Banyak gerakan revolusioner berawal dari niat pembebasan, tetapi dalam praktiknya justru mengulang pola kekuasaan yang ingin mereka tumbangkan. Karena itu, “menghindari reproduksi kekuasaan” bukan sekadar prinsip abstrak, melainkan seperangkat metode praktis dan organisatoris yang dapat dirangkum sebagai berikut:
1) Struktur horizontal
Dalam pemikiran anarkis, penekanan utama adalah penghapusan hierarki. Ini berarti membuka ruang partisipasi langsung dan sukarela bagi semua orang melalui pengambilan keputusan dalam dewan-dewan demokratis (majelis umum yang bersifat federatif/konfederatif), serta menghindari kepemimpinan permanen. Namun, horizontalitas juga memiliki tantangan: bisa lambat, melelahkan, atau melahirkan “kekuasaan informal” dari individu yang berpengaruh.
2) Rotasi peran dan tanggung jawab
Untuk mencegah konsentrasi kekuasaan, peran harus bersifat sementara. Misalnya, fasilitator hanya mengatur jalannya diskusi dan harus terus diganti. Tidak boleh ada “spesialis kekuasaan” yang permanen, karena bahkan dalam struktur horizontal pun, peran tetap ada dan harus dibatasi.
3) Akuntabilitas langsung dan segera
Setiap individu atau kelompok harus bertanggung jawab langsung kepada kolektif atas tindakan dan pernyataannya tanpa hierarki. Harus ada mekanisme untuk mencabut mandat perwakilan atau koordinator kapan saja. Artinya, posisi-posisi tersebut bersifat terbatas, sementara, dan bisa ditarik kembali.
4) Pengambilan keputusan cepat namun kolektif
Gerakan sering terjebak antara otoritarianisme dan kelumpuhan dalam pengambilan keputusan. Untuk menghindarinya, dapat digunakan metode konsensus relatif (bukan konsensus penuh), sehingga keputusan bisa diambil cepat dalam kelompok kecil tanpa menunggu instruksi dari “pusat”.
5) Pengorganisasian mandiri skala kecil
Alih-alih membangun pusat komando tunggal, gerakan sebaiknya terdiri dari kelompok-kelompok kecil yang otonom dan saling terhubung. Misalnya, kelompok berisi 5–15 orang yang memiliki kepercayaan relatif, masing-masing mengambil keputusan sendiri. Model ini memperkuat ketahanan terhadap represi dan mencegah konsentrasi kekuasaan. Jika satu bagian dihancurkan, keseluruhan jaringan tidak runtuh.
6) Transparansi dan sirkulasi informasi bebas
Kekuasaan sering muncul dari monopoli informasi. Karena itu, tidak boleh ada negosiasi tertutup. Semua keputusan harus terbuka dan dapat diakses oleh semua orang.
7) Prafigurasi alternatif
“Hiduplah seperti masyarakat masa depan yang ingin dibangun.” Jika tujuannya kebebasan, maka cara berorganisasi juga harus bebas. Jika tujuannya kesetaraan, maka struktur gerakan juga harus setara.
8) Menolak “momen kepemimpinan”
Hampir semua gerakan menghadapi tekanan untuk menunjuk satu pemimpin demi efektivitas. Justru di titik inilah reproduksi otoritas dimulai. Bahkan figur populer sekalipun bisa menjadi pusat kekuasaan. Karena itu, penting untuk berani mengatakan “tidak” terhadap konsentrasi kekuasaan, termasuk dari dalam gerakan sendiri.
9) Kritik internal yang berkelanjutan
Gerakan hanya bisa bertahan jika terus mengkritik dirinya sendiri. Dengan begitu, relasi kekuasaan yang tersembunyi dapat diungkap dan dilawan, baik yang berbasis kelas, gender, maupun karisma.
10) Kemandirian penuh dari negara dan kekuatan geopolitik
Tidak boleh ada ketergantungan finansial, politik, maupun media terhadap negara mana pun. Kemandirian dalam pengambilan keputusan harus dijalankan secara nyata, bukan sekadar slogan. Sebab, setiap bentuk ketergantungan eksternal dengan cepat akan melahirkan struktur hierarkis dan merusak otonomi gerakan.
11) Memusatkan perhatian pada kehidupan sehari-hari, bukan hanya “momen revolusi"
Jika sebuah gerakan hanya berpusat pada aksi jalanan, maka ketika gelombang protes mereda, kekuasaan lama cenderung kembali menguat. Sebaliknya, jika gerakan juga membangun jaringan solidaritas lokal-regional, praktik mutual aid, dan bentuk pengelolaan sosial-ekonomi yang mandiri, maka dominasi dari atas dapat ditekan atau setidaknya diminimalkan.
Kegiatan konkret dapat mencakup membantu para tahanan dan keluarga mereka, merawat korban luka, mendukung mereka yang kehilangan sumber penghasilan, membentuk dana kolektif di tingkat lokal (atau regional), serta berbagi sumber daya seperti makanan, obat-obatan, dan informasi. Praktik-praktik ini tidak hanya membangun kepercayaan, tetapi yang terpenting juga menggeser gerakan dari sekadar aksi di jalanan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
12) Tinjauan dan kritik terhadap gerakan di Iran
Jika prinsip-prinsip anarkis ini diterapkan untuk membaca gelombang protes di Iran dalam beberapa dekade terakhir, akan terlihat gambaran yang kompleks: di satu sisi terdapat spontanitas dan kecenderungan horizontal yang kuat, di sisi lain ada hambatan serius dalam menstabilkan bentuk-bentuk tersebut.
a) Horizontalitas dan ketiadaan kepemimpinan terpusat
Dalam banyak gelombang protes, terutama pada 2017, 2019, dan 2022 setelah pembunuhan Mahsa Amini, aksi-aksi muncul tanpa kepemimpinan formal. Seruan aksi menyebar melalui media sosial dan jaringan komunikasi yang terdesentralisasi. Ini merupakan kekuatan besar, karena mengurangi kontrol dari atas dan menyulitkan represi melalui “pemenggalan” kepemimpinan. Namun, ketiadaan struktur pengambilan keputusan yang stabil juga menyebabkan fragmentasi dan diskontinuitas gerakan.
b) Jaringan informal dan pengorganisasian mandiri
Dalam praktiknya, muncul berbagai bentuk kelompok kecil di tingkat lokal serta koordinasi informal, misalnya di lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, dan kampus. Pola ini mendekati model jaringan, namun umumnya masih bersifat jangka pendek dan reaktif, serta belum berkembang menjadi struktur yang berkelanjutan.
c) Ketiadaan institusi akar rumput yang bertahan lama
Salah satu kelemahan utamanya adalah ketiadaan struktur pengambilan keputusan kolektif yang stabil, seperti dewan lokal-regional atau majelis umum. Protes memang terjadi, tetapi tidak jelas institusi apa yang akan menggantikannya setelahnya. Tanpa struktur semacam ini, kekuasaan akan mudah kembali terkonsentrasi, baik oleh negara maupun kelompok oposisi tertentu.
d) Persoalan representasi dan perebutan suara gerakan
Dalam banyak momen, kelompok di luar negeri terutama kalangan monarkis atau figur media, berusaha tampil sebagai wakil atau suara gerakan. Inilah titik di mana gerakan dari bawah berisiko berubah menjadi proyek dari atas, bahkan tanpa niat buruk sekalipun.
“Juru bicara permanen” atau representasi resmi cenderung menghasilkan konsentrasi kekuasaan. Ini membuka jalan bagi kembalinya pola otoritarian, termasuk proyek restorasi monarki di bawah kepemimpinan Reza Pahlevi atau bentuk negara terpusat lainnya.
Karena itu, prinsip penolakan terhadap satu “wajah” tunggal gerakan harus ditegaskan secara jelas. Ketidakpuasan terhadap situasi saat ini tidak otomatis berarti keluar dari logika dominasi. Bisa saja hanya mengganti satu kekuasaan dengan kekuasaan lain.
e) Peran kehidupan sehari-hari dan persoalan penghidupan
Dalam protes ekonomi 2019, akar gerakan terletak pada tekanan hidup sehari-hari. Namun, gerakan tersebut belum berkembang menjadi jaringan solidaritas yang berkelanjutan, seperti praktik mutual aid atau dukungan kolektif yang luas.
Seandainya jaringan semacam itu terbentuk, gerakan berpotensi bergerak dari sekadar “protes” menuju pembangunan alternatif. Menghubungkan aksi dengan ruang-ruang konkret seperti lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, dan kampus, serta membentuk kelompok-kelompok kecil yang stabil di ruang-ruang tersebut dapat menjadi dasar bagi terbentuknya dewan-dewan nyata.
Namun dalam praktiknya, represi yang intens, pengawasan ketat, dan tekanan keamanan membuat proses ini sulit berkembang dan bertahan dalam jangka panjang.
f) Represi keras sebagai hambatan struktural
Kita juga harus bersikap realistis: intensitas represi yang brutal di Iran dalam praktiknya tidak memberi ruang bagi banyak mekanisme ini untuk berkembang. Akibatnya, horizontalisasi dan pengorganisasian mandiri sering kali hanya muncul pada tingkat “sementara” dan tidak sempat tumbuh menjadi institusi yang bertahan lama.
g) Momen-momen “prafigurasi”
Meski demikian, dalam beberapa momen tampak munculnya solidaritas lokal-regional dan bentuk-bentuk kerja sama spontan. Ini merupakan benih-benih penting, tetapi belum berkembang menjadi struktur yang stabil. Tanpa struktur yang berkelanjutan, massa yang besar berisiko cepat melemah serta dikooptasi atau dibajak oleh kekuatan lain.
13) Kesimpulan
a) Anarkisme mengakui bahwa tidak ada jaminan mutlak untuk mencegah reproduksi kekuasaan. Kekuasaan selalu cenderung terkonsentrasi, dan satu-satunya cara menghadapinya adalah dengan menciptakan mekanisme yang mencegah kekuasaan terkonsentrasi dan membuatnya selalu terbuka untuk dikritik dan diawasi. Ini merupakan proses yang berkelanjutan, bukan kondisi yang statis.
b) Gelombang protes di Iran berulang kali menunjukkan bahwa masyarakat mampu bergerak tanpa kepemimpinan terpusat. Namun, gerakan tersebut belum sepenuhnya menunjukkan kemampuan untuk mengorganisir diri secara berkelanjutan tanpa kembali mereproduksi bentuk-bentuk kekuasaan lama.
c) Agar sebuah gerakan di Iran (atau di mana pun) tidak mudah terjebak dalam reproduksi kekuasaan, ia perlu dimulai dari skala kecil (kelompok-kelompok), tetap horizontal (tidak hierarkis dan tidak berpusat pada pemimpin), berkembang sebagai jaringan (bukan terpusat), berakar dalam kehidupan sehari-hari (bukan hanya di jalanan), dan yang paling penting: sejak awal bergerak bukan untuk “merebut kekuasaan”, melainkan untuk menyerahkannya kepada masyarakat melalui pembentukan dewan-dewan demokratis.
Tidak untuk Perang Imperialis!
Perempuan, Kehidupan, Kebebasan!
