Kamis, 30 April 2026

Daye Selma: Mahkota yang Tak Pernah Bisa Dirampas Negara


Selama 40 tahun, Daye Selma menyusuri lorong-lorong dingin antara penjara dan pemakaman di Kurdistan, mencari jejak anaknya. Anaknya dieksekusi oleh Republik Islam pada tahun-tahun awal kekuasaannya. Selama empat dekade, negara tidak memberinya apa pun. Tidak ada makam, tidak ada dokumen, bahkan tidak ada pengakuan bahwa anaknya pernah ada.

Lalu, setelah 40 tahun, ia akhirnya menerima tulang-belulang anaknya. Ia meletakkan tengkorak itu di kepalanya seperti sebuah mahkota.

Gambar tersebut tidak memerlukan penjelasan. Itu adalah salah satu bentuk pembangkangan paling kuat yang pernah kita saksikan. Seorang ibu yang mengubah 40 tahun duka, penantian, dan keadilan yang ditolak menjadi satu gestur yang tidak bisa dihapus, tidak bisa dipenjarakan, dan tidak bisa dieksekusi oleh negara.

Kisah Daye Selma bukan sekadar kisah satu orang. Ini adalah kisah Kurdistan di bawah Republik Islam, kisah tentang sebuah masyarakat yang sejak awal diperlakukan seolah identitas, bahasa, dan keberadaannya adalah kejahatan. Sejak 1979, respons Republik Islam terhadap tuntutan pengakuan dari masyarakat Kurdi selalu sama: operasi keamanan, penangkapan, eksekusi, dan penghilangan paksa. Banyak keluarga menghabiskan bertahun-tahun mencari orang-orang yang mereka cintai di penjara dan kuburan tanpa nama. Di wilayah ini, menjadi Kurdi kerap diperlakukan sebagai kejahatan yang tak tertulis.

Negara bekerja dengan cara seperti ini. Mereka mengeksekusi, lalu menyangkalnya. Mereka menguburkan, lalu menyangkalnya. Mereka membuat keluarga menunggu puluhan tahun, lalu menggantikan keadilan dengan tulang-belulang. Ini bukan kebetulan atau penyimpangan, melainkan bagian dari kebijakan. Penghapusan sistematis terhadap rakyat Kurdi, terhadap sejarah mereka, kematian mereka, dan duka mereka menjadi alat kontrol politik. Jika bahkan berkabung pun tidak diperbolehkan, maka ingatan kolektif tidak dapat menjadi dasar perlawanan. Negara memahami hal ini.

Namun ketika akhirnya tulang-belulang itu diberikan, ia tidak runtuh. Ia justru menjadikannya mahkota.

Kita menghormatinya. Kita menghormati anaknya. Kita juga menghormati setiap keluarga di Kurdistan, Balochistan, Khuzestan, dan di berbagai wilayah lain yang selama bertahun-tahun mencari orang-orang mereka di penjara dan pemakaman. Duka mereka bukanlah sesuatu yang pasif. Duka itu bersifat politis. Duka itu adalah bentuk perlawanan.

Republik Islam bukan satu-satunya negara yang memperlakukan masyarakat Kurdi dengan cara seperti ini. Negara, pada dasarnya menuntut keseragaman: satu bahasa, satu identitas, satu cara hidup yang dianggap sah. Mereka yang tidak sesuai dengan kerangka ini diperlakukan sebagai ancaman yang harus dikendalikan, ditekan, atau dihapus. Ini bukan penyimpangan, melainkan logika negara-bangsa itu sendiri.

Jawaban atas logika tersebut bukanlah mendirikan negara baru, melainkan menghapus keberadaan negara itu sendiri. Sebuah pengorganisasian masyarakat secara horizontal di mana komunitas Kurdi, Persia, Baloch, Arab, dan lainnya menentukan kehidupan mereka sendiri tanpa kekuasaan terpusat yang mengatur siapa yang berhak hidup dan dengan syarat apa.

Mahkota Daye Selma bukan terbuat dari emas. Mahkota itu terbuat dari tulang, dari harga yang dibayar oleh generasi-generasi yang menolak untuk dilenyapkan.


Diterjemahkan dari: