Selasa, 19 Mei 2026

Tanpa Kemenangan, Tanpa Kekalahan

Penulis: Anonim

“Kaum anarkis selalu kalah. Mereka tidak pernah memenangkan apa pun.” Kalimat seperti ini tidak jarang terdengar, bahkan di antara mereka yang juga memusuhi otoritas, sering kali diucapkan dengan nada getir dan penuh penyesalan. Pernyataan-pernyataan semacam itu kerap mengakhiri begitu saja diskusi tentang perjuangan-perjuangan masa kini, atau menyusup sebagai keyakinan pasti dalam pembicaraan mengenai peran kaum anarkis dalam pemberontakan, insurgensi, dan revolusi di masa lalu yang kini telah lama berlalu. Bayangan tentang barisan milisi anarkis yang penuh semangat pun muncul kembali: para pejuang yang mengangkat senjata dan bendera sambil menyanyikan lagu-lagu pembakar keberanian, meninggalkan Barcelona pada Juli 1936. Dari sana lahir sebuah nostalgia yang perlahan berubah menjadi melankolia, sesuatu yang begitu akrab dalam pengalaman banyak anarkis. Hingga akhirnya muncul kesimpulan yang terdengar nyaris fatal: “Kita selalu kalah. Kita adalah kambing hitam sejarah.”

Namun demikian, sekalipun harapan terkadang mampu membakar hati kaum anarkis, kita tidak dapat melupakan bahwa keputusasaan juga selalu menjadi penderitaan yang menyertai perjalanan mereka. Mereka mencintai gagasan kebebasan dengan penuh gairah, sekaligus membenci para penindas dengan intensitas yang sama besarnya. Karena itu, cinta yang membakar hidup mereka dengan hasrat berjalan berdampingan dengan kebencian yang ganas, kebencian yang mampu menghantam tanpa belas kasihan dan menumpahkan darah para tiran, para antek mereka, serta para penyembah kekuasaan. Namun mengapa semua ini dibicarakan seolah hanya milik masa lalu? Apakah semesta, bahasa, dan dunia batin kaum anarkis benar-benar telah berubah? Bukankah harapan kembali menyala ketika ratusan ribu orang bangkit melawan rezim-rezim penguasa di berbagai negeri beberapa tahun lalu, dalam apa yang disebut sebagai “Musim Semi Arab”? Dan ketika pemberontakan-pemberontakan itu dihancurkan oleh reaksi yang datang dari berbagai arah, bukankah keputusasaan sekali lagi mempersenjatai tangan sebagian dari mereka untuk menyerang? Namun, tidak ada fatalisme di dalam semua itu. Sebab persoalannya terletak di tempat lain, sebagaimana nanti akan kita lihat.

Jika gagasan anarkisme mengusulkan penghancuran otoritas beserta seluruh relasi sosial yang dihasilkannya, hal itu tidak serta-merta berarti kepercayaan pada apa yang sering disebut sebagai “fajar kebebasan” yang final dan tak dapat diputar balik. Sesungguhnya, bertentangan dengan logika kemenangan dan kekalahan, anarki pada dasarnya adalah sebuah ketegangan, sebuah gagasan praktis yang terus-menerus berusaha menghancurkan segala bentuk kekuasaan. “Keyakinan” dalam arti dogmatis tidak ada hubungannya dengan hal itu. Jika cakrawala anarki tidak berhenti pada pemberontakan semata, melainkan juga membuka jalan menuju revolusi sosial, itu karena anarki ingin menghancurkan kekuasaan sampai ke akar-akarnya. Penjumlahan dari berbagai pemberontakan individual saja tidaklah cukup. Tentu saja, mereka yang berbicara tentang “revolusi sosial” sambil menyangkal pemberontakan individual sebagai fondasinya, sejatinya berbicara dengan mulut penuh bangkai. Dan kemungkinan besar merekalah yang pertama kali akan berteriak marah ketika seorang individu, atau segelintir individu, menyatukan gagasan dengan tindakan. Namun di sisi lain, menganggap bahwa perspektif revolusi sosial berarti memelihara keyakinan buta terhadap sebuah solusi final hanya akan menghidupkan kembali logika kemenangan dan kekalahan, sekaligus menghapus seluruh ketegangan yang hidup di dalam perjuangan. Sikap seperti itu juga mudah terjatuh pada determinisme Marxis yang suram (yang pada abad lalu membuat kaum komunis proletar menerima berbagai kengerian atas nama “keniscayaan sejarah” yang dianggap tak terelakkan).

Jika sebuah pemberontakan atau insurgensi memungkinkan ketegangan menuju kebebasan menjadi semakin tajam, semakin dalam, atau bahkan meluas, mengapa kita tidak berusaha mempercepat dan memicunya? Di tengah amnesia sejarah, keterpakuan pada teknologi, serta pendangkalan pikiran dan perasaan manusia, bukankah justru dapat dikatakan bahwa insurgensi hari ini mungkin lebih diperlukan dan lebih mendesak daripada sebelumnya, agar segala sesuatu kembali dapat dipandang secara jernih dan proporsional? Pengulangan argumen yang sama tentang kondisi material dan sosial yang dianggap tak lagi serupa dengan awal abad lalu, ataupun tentang negara yang kini jauh lebih canggih dan dipersenjatai secara berlebihan, sering kali hanya membuat diskusi berjalan di tempat alih-alih mendorongnya maju. Sungguh melankolis apabila kaum anarkis sampai hanya mampu melihat begitu banyak rintangan di sepanjang jalan, hingga akhirnya melupakan persoalan yang sesungguhnya: dalam perspektif anarkis, bagaimana menghadapi semua itu sendiri, di sini, dan sekarang? Sebab jika tidak demikian, maka itu tak lagi layak disebut perjuangan, pemberontakan, ataupun revolta, melainkan sekadar pengamatan pasif terhadap “tahi lalat tua” yang terus menggali di bawah tanah sambil perlahan sekarat (Marx menggunakan metafora “tahi lalat tua” untuk menggambarkan proses pematangan kekuatan-kekuatan sosial di bawah permukaan masyarakat yang suatu saat akan meledak menjadi revolusi). 

Mari kembali pada persoalan awal: apakah kaum anarkis, dengan gagasan tentang kebebasan dan penghancuran otoritas, memang ditakdirkan untuk selalu kalah? Maksudnya, melihat seluruh usaha, pengorbanan, dan inisiatif mereka akhirnya dilenyapkan, baik pada masa-masa yang relatif tenang maupun di tengah revolusi besar? “Sejarah selalu menunjukkan demikian”, kata kaum pragmatis. “Jangan percaya pada revolusi dan massa”, kata kaum sinis. Namun mungkin ada kemungkinan lain yang justru lebih dekat dengan semangat anarkis. Berbeda dengan kucing, kita hanya memiliki satu kehidupan. Dan kami berani mengatakan bahwa justru di dalam satu-satunya kehidupan inilah yang terpenting adalah berjuang, menjalani ketegangan menuju penghancuran otoritas itu sendiri. Dengan bergerak, dengan terus berjalan di jalur yang telah kita pilih, kita mewujudkan diri kita sendiri, menjadi apa yang benar-benar kita inginkan. Di sanalah kualitas hidup menerobos masuk: kualitas tindakan dan gagasan yang berjalan beriringan. Dalam ruang seperti itu, kemenangan maupun kekalahan kehilangan maknanya. Yang tersisa hanyalah bertahan atau menyerah, ketekunan atau kepasrahan, cinta dan kebencian yang menyala penuh gairah atau sebaliknya penghapusan diri secara politik. Ya, banyak anarkis memang adalah para pemimpi yang tak dapat ditebus. “Bertindak bukan hanya berpikir dengan otak, melainkan membuat seluruh keberadaan ikut berpikir. Bertindak berarti menutup diri di dalam mimpi agar dapat membuka, di dalam kenyataan, sumber-sumber pemikiran yang paling dalam”, tulis Maurice Maeterlinck. Dan memang, kaum anarkis adalah orang-orang yang bermimpi dengan mata terbuka. Artinya, mereka mempersenjatai hasrat, keyakinan, dan pilihan mereka untuk diwujudkan. Mungkin saja orang-orang tertindas lainnya, setelah dahaga amarah destruktif mereka mereda, kembali mengagumi seorang pemimpin, kembali bersujud kepada tuhan, lalu memperkuat kekuasaan yang baru. Itu mungkin terjadi, dan kekuatan reaksioner akan melakukan segalanya agar hal tersebut benar-benar terjadi. Namun itu tidak membuat upaya awal menjadi sia-sia. Itu tidak membatalkan usaha kaum anarkis untuk memperdalam keretakan terhadap tatanan yang ada, ataupun menghancurkan otoritas sampai ke akarnya, meskipun mungkin hanya berlangsung selama beberapa hari, beberapa minggu, atau beberapa bulan. Sebab kesempatan untuk mengecap, merasakan getaran, dan menjalani sepenuhnya kualitas hidup semacam itu tak mungkin tidak memikat setiap pecinta kebebasan dengan gairah yang mendalam.

Sebaliknya, ketika kaum anarkis meninggalkan kualitas itu (ketegangan menuju kebebasan melawan segala bentuk otoritas) lalu menggantinya dengan logika kemenangan dan kekalahan yang dipinjam dari dunia politik, di situlah kemerosotan yang sesungguhnya dimulai. Sedikit demi sedikit, seluruh fondasi gagasan anarkis mulai terkikis, runtuh, lalu menghilang. Dan siapa pun yang datang kemudian, mengenakan pakaian yang kurang lebih “libertarian” (karena hari ini siapa yang tidak mengklaim dirinya demikian?), dapat dengan mudah mengambil alih semuanya sambil memamerkan organisasi yang kuat, kerja massa yang besar, efektivitas militer yang katanya luar biasa, ataupun janji untuk mengakhiri “isolasi”. Kaum anarkis yang lelah dipenjara “tanpa hasil” atau demi sesuatu yang terasa terlalu kecil, lelah oleh cinta yang tak pernah benar-benar terpenuhi namun terus membakar hatinya, kehabisan tenaga oleh kebencian yang menopangnya tetapi hanya menemukan sedikit keterhubungan, kecewa oleh minimnya pemahaman dari sesama orang tertindas, akhirnya menerima tangan beracun yang disodorkan kepadanya. Ia mulai berpikir bahwa akhirnya “kekakuan lama” dan “kebuntuan ideologis” telah berhasil dilampaui. Dan di sanalah satu-satunya fatalisme yang benar-benar ada: ketika seorang anarkis meninggalkan anarki demi mencoba menyelaraskannya dengan konsep kemenangan dan kekalahan. Cinta terhadap gagasan kebebasan lalu dipandang dan ditolak sebagai kegilaan masa muda: indah, penuh gairah, tetapi dianggap jauh dari kenyataan dan tidak praktis.

Di sisi lain, kehidupan kaum anarkis juga tidak harus selalu menyerupai lintasan komet yang habis terbakar hanya dalam beberapa detik di atmosfer. Tentu saja, setiap orang memiliki jalannya masing-masing. Tidak diragukan lagi, lebih baik terbakar dalam perjuangan daripada perlahan membusuk sambil menunggu Revolusi datang. Namun kita tidak perlu menciptakan pertentangan mutlak ketika sebenarnya hal itu tidak harus ada. Jika di masa lalu beberapa anarkis terjun sepenuhnya ke dalam perjuangan, sulit membayangkan bahwa tujuan mereka adalah menjalaninya sesingkat mungkin. Mengapa berharap permusuhan segera berakhir jika justru mungkin untuk memperpanjangnya tanpa harus mengkhianati diri sendiri? Jika waktu terasa begitu cepat menutup bagi sebagian anarkis di masa lalu, itu terutama karena apa yang mengelilingi mereka, terutama kekuatan represif negara, bergerak dan menghantam terlalu cepat. Bukan karena mereka sejak awal menginginkan akhir yang segera, ataupun karena mereka menjadikan tragedi sebagai tujuan pada dirinya sendiri.

Gairah untuk hidup dapat berbenturan, bahkan terlalu cepat, dengan kekuatan-kekuatan yang ingin memusnahkannya. Kebencian terhadap penindasan dapat membawa kita begitu dekat dengan kematian yang terus mengintai. Itulah konsekuensi dari mempertaruhkan hidup, dari memilih untuk benar-benar hidup alih-alih sekadar bertahan. Sebagai para pemberontak sejati, kaum anarkis tidak seharusnya mengembangkan kultus terhadap tindakan membabi buta. Kita memiliki akal untuk berpikir, hati untuk merasakan, dan tangan untuk bertindak. Jadi mengapa harus menanggalkan salah satu dari kemampuan itu? Di antara hidup sepenuhnya pada saat ini dan kerinduan akan masa depan yang lebih terang, terbentang lautan kemungkinan yang luas. Ketika kita melemparkan diri ke dalam pertempuran, bahkan dengan keganasan jika memang diperlukan, itu bukan dilakukan dengan mata tertutup, melainkan dengan dunia yang ingin kita hancurkan tetap berada dalam pandangan. Keganasan tidak diukur dari kebutaan, melainkan dari perspektif yang menggerakkan hidup kita, dari arah yang kita tanamkan dalam setiap usaha dan tindakan. Jika kita memang harus menjadi komet, biarlah demikian. Namun jangan mempercepat kehancurannya sendiri. Keberadaan kita di dunia ini singkat. Karena itu, mari menjalaninya dengan mengerahkan seluruh kemungkinan dan seluruh potensi yang kita miliki. Yang benar-benar fatal bukanlah ketika kita menghantam batu karang, melainkan ketika badai datang dan kita sadar bahwa kita tidak memiliki kompas untuk menentukan arah. Melawan logika kemenangan dan kekalahan, melawan fatalisme atas nama “efektivitas” yang justru menghapus seluruh ketegangan anarkis, kita masih dapat memikirkan langkah-langkah kita, menentukan arah penjelajahan kita, dan memproyeksikan usaha-usaha kita. Cinta terhadap gagasan kebebasan dan kebencian terhadap otoritas dapat berjalan beriringan dengan proyek jangka menengah maupun jangka panjang, dengan refleksi yang memberi napas lebih luas, lebih dalam, dan lebih berani bagi perjalanan singkat kita di permukaan bumi ini.

Pada pergantian abad yang lalu, seorang anarkis bersama beberapa rekannya menyusun sebuah rencana yang luar biasa. Setelah melakukan sejumlah pencurian yang kurang lebih berhasil, Alexandre Marius Jacob mulai memandang cakrawala yang lebih jauh. Sebuah gagasan yang nyaris gila muncul di benaknya: alih-alih puas dengan beberapa aksi pencurian kecil di sana-sini (yang sebenarnya sudah cukup berani), mengapa tidak merancang proyek ekspropriasi besar-besaran di seluruh negeri (sesuatu yang jauh lebih besar lagi)? Pada akhirnya, para “pekerja malam” itu berkembang menjadi ratusan orang dan membobol ratusan rumah kaum borjuis. Mereka merencanakan setiap aksi dengan sangat teliti: logistik, metode, hingga sarana pendukungnya (mereka bahkan mendirikan peleburan perak dan emas, toko barang antik, serta toko perkakas agar dapat memesan model-model brankas terbaru secara legal dan mempelajarinya dengan tenang). Alexandre Jacob sebenarnya bisa saja merasa cukup dengan pencurian sesekali, dan mungkin itu akan menyelamatkannya dari deportasi ke Guyana. Namun ia ingin melangkah lebih jauh, bersinar lebih terang, dan bertahan lebih lama. Tidak ada yang mudah dalam perjalanan itu. Tidak ada usaha yang dihemat. Banyak harapan akhirnya kandas, dan ekspropriasi umum yang begitu ia dambakan tidak pernah benar-benar terwujud sebagaimana yang ia impikan dengan penuh gairah. Lalu kenapa?

Jangan mundur hanya karena sesuatu terasa sulit. Hadapilah dengan dipandu oleh perspektif yang kita yakini. Beranilah menempuh proyek-proyek yang paling tak terbatas. Hiduplah sebagai anarki itu sendiri! 


Diterjemahkan dari: 

Senin, 18 Mei 2026

Keputusasaan..

Penulis: Anonim

“Aku berharap semua orang yang telah bunuh diri masih hidup, dan semua orang yang masih hidup memilih untuk bunuh diri.”

Jika ada lapisan sosial yang bahkan berada di bawah kaum tertindas, kelompok yang paling menderita akibat absurditas masyarakat kita, maka merekalah orang-orang yang bunuh diri. Kelas bunuh diri ini, setiap menit, selalu ada yang jatuh menghantam trotoar. Siapa yang lebih tercerabut daripada mereka? Mereka baru benar-benar “diakui” ketika mereka menghilang; hanya darah mereka yang berbicara atas nama mereka. Mereka memahami lebih baik daripada siapa pun apa yang harus diubah dari dunia ini, namun karena putus asa terhadap kemungkinan perubahan itu sendiri, mereka melampiaskan kehancuran kepada satu-satunya korban yang paling mudah dijangkau: diri mereka sendiri. Dengan begitu, mereka memberi makna baru pada ungkapan bahwa mereka yang hanya menjalankan setengah revolusi pada akhirnya menggali kuburannya sendiri. 

Bayangkan seseorang merasa hidupnya di luar kendalinya, sampai-sampai ia berpikir satu-satunya cara untuk merebut kembali kepemilikan atas hidupnya adalah dengan membunuh dirinya sendiri. Dapatkah sebuah masyarakat benar-benar disebut bebas dan sehat jika manusia harus melangkah sejauh itu hanya untuk melarikan diri?

Karena itulah, sebagaimana pencurian dan perzinahan, bunuh diri dijadikan sesuatu yang terlarang dan dianggap sebuah kenistaan yang bahkan tak boleh dibicarakan. Orang-orang yang merasa puas dengan hidupnya sendiri, yang tidak pernah berhadapan dengan depresi yang melumpuhkan, merasa berhak mencemooh mereka yang mengambil keputusan sulit untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan orang-orang yang menderita penyakit parah pun tidak diberi hak untuk menentukan kapan dan bagaimana mereka akan mati. Ada hukum yang melarangnya, seolah-olah mereka yang masih hidup berhak membuat aturan bagi mereka yang sedang melangkah menuju kematian. Apa arti sebuah peradaban jika ia bukan hanya melarang warganya bunuh diri, tetapi bahkan tidak mengizinkan pertanyaan tentang apakah hidup ini layak dijalani?

Namun sesungguhnya kita melakukan bunuh diri kecil setiap kali menyangkal kehidupan yang sebenarnya ingin kita jalani. Bunuh diri secara langsung dianggap terlarang, tetapi kebanyakan orang dengan rela menerima kematian yang dicicil perlahan, mengikis hidup mereka sedikit demi sedikit dari jam ke jam. Betapapun hampa dan tidak memuaskannya hidup itu, mereka tetap tidak berani meninggalkannya, karena mereka percaya Tuhan menunggu di seberang sana untuk menghukum mereka yang dianggap mengabaikan kewajiban duniawinya. Atau jika bukan Tuhan, maka Opini Publik yang mengambil alih peran tersebut atas nama-Nya.

Sementara itu, ketika seorang pemuda bergabung dengan militer lalu mematuhi perintah secara membabi buta hingga menemui kematian yang sia-sia, tindakannya justru dipuji sebagai keberanian dan pengorbanan. Bunuh diri, sebagaimana bencana, dianggap dapat diterima selama terjadi sesuai syarat yang ditentukan oleh penguasa. Kamu boleh mati di tangan mereka, tetapi tidak atas kehendakmu sendiri. Mereka yang menembak atau menggantung diri diperlakukan seperti bid'ah yang berbahaya, layaknya mistikus pemberontak yang mengaku menerima wahyu tanpa perantara Paus. Jika penghancuran diri telah menjadi bagian dari tatanan dunia, mereka memilih berhubungan langsung dengannya tanpa peduli pada penilaian siapa pun. Dalam menolak sekaligus kematian yang hidup dan kedaulatan otoritas atas hidup mereka, mereka hanya selangkah lagi dari penolakan total terhadap kematian dan dominasi: tak ada kematian maupun pajak!

Namun sekali lagi, sebagaimana pencurian, perselingkuhan, dan berbagai katup pelampiasan lainnya, bunuh diri adalah tindakan yang sangat mengasingkan, bahkan mungkin yang paling mengasingkan dibandingkan bentuk pelarian lainnya. Meski tindakan itu memberikan sekejap otonomi bagi individu, ia justru menghalangi manusia untuk membangun kepemilikan kolektif atas hidup mereka bersama-sama. Mereka yang menggali kuburannya sendiri hanya menjalankan setengah revolusi.

Bayangkan jika tidak ada seorang pun yang bisa mencuri, menipu, atau mengakhiri hidupnya sendiri, sementara seluruh ketegangan dan kontradiksi yang menopang masyarakat kita tetap dibiarkan ada. Betapa dahsyat ledakan sosial yang mungkin akan terjadi setelahnya.

Jika semua orang yang telah bunuh diri dapat berkumpul dan saling bertukar cerita di suatu tempat di alam setelah kematian, apa yang kira-kira akan mereka katakan kepada kita? Mungkin mereka akhirnya mampu saling memahami dan saling menolong dengan cara yang tak pernah bisa dilakukan orang lain. Mungkin mereka akan menyesali bahwa, alih-alih menghancurkan diri sendiri, mereka tidak membentuk sebuah gerakan revolusioner yang terdiri dari orang-orang yang memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk kehilangan. Atau mungkin mereka akan merasa ganjil menyadari bahwa melakukan kekerasan terhadap diri sendiri ternyata terasa jauh lebih mudah daripada melawan kekerasan yang dilakukan dunia terhadap mereka.

Tentu saja semuanya sudah terlambat. Hidup mereka telah membeku dalam keabadian, terperangkap seperti serangga di dalam damar. Namun masih ada waktu bagi kita untuk menjangkau mereka yang saat ini sedang memikirkan bunuh diri, mendorong mereka agar dapat berbicara secara terbuka tentang perasaan mereka, dan berusaha menciptakan dunia yang tidak membuat siapa pun ingin meninggalkannya.


“Keluarkan aku dari penderitaanku, atau keluarkan aku dari hidup ini!”

Hidup bukan sekadar jebakan atau hukuman. Setidaknya sekali dalam hidup, setiap orang pernah menyadari hal itu. Kita memiliki satu pilihan yang membuat kita lebih bebas daripada Tuhan, sebagaimana setiap pekerja pada dasarnya lebih bebas daripada majikan: kita bisa berhenti. Gagasan ini dapat dinikmati bahkan dalam keadaan paling ekstrem; ia memberi penghiburan ketika tak ada lagi yang mampu melakukannya. Tidak ada yang benar-benar mewajibkan kita untuk hidup. Karena itu, jika kita memiliki keberanian, setiap momen dapat menjadi tabula rasa, ruang kosong tempat segala kemungkinan terbuka dan segala risiko dapat dipertaruhkan.

Dengan kebebasan sebesar itu, kita hanya menjadi budak jika kita memilih untuk menjadi budak. Perbudakan adalah milik mereka yang masih percaya bahwa para penguasa mengendalikan ranah kematian sekaligus kehidupannya. Bagi kita, yang ada hanyalah ketidaktahuan terhadap apa yang berada di depan. Ia mungkin mengerikan, mungkin keselamatan, mungkin kehampaan, tetapi tetap tak dapat diketahui, baik dalam hidup maupun dalam kematian. Ada batas-batas untuk dilintasi, dunia-dunia baru untuk dijelajahi, jurang-jurang yang harus dipertaruhkan. Ada kemungkinan untuk merasakan kegembiraan, mewujudkan hasrat terdalam, sekaligus menghadapi risiko. Risiko untuk akhirnya berhadapan dengan rasa takut, menantang yang tak dikenal, menatap keburukan hidup secara langsung, dan dengan satu atau lain cara berhenti menjadikan keberadaan sebagai pekerjaan.

Bagi kebanyakan orang pada zaman kita, hidup itu sendiri telah berubah menjadi pekerjaan: perjuangan putus asa untuk menyeimbangkan ribuan kewajiban, termasuk kewajiban paling menyedihkan dari semuanya, yaitu menikmati hidup. Orang-orang malang ini melupakan ringannya kehidupan, betapa setiap momen dan setiap keadaan sebenarnya nyaris tak berbobot ketika dihadapkan pada kemungkinan ketiadaan.

Kita selalu memiliki pilihan untuk tidak hidup. Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak membuka diri terhadap kehidupan atau mempertaruhkan segalanya demi kehidupan yang penuh kegembiraan. Selalu ada kemungkinan untuk mengakhiri semuanya; maka jika seseorang memilih untuk tetap hidup, ia sebaiknya hidup dengan taruhan yang besar. Lagi pula, hal terburuk yang mungkin terjadi pada akhirnya memang sudah pasti akan datang.

Karena itu, tidak ada alasan untuk bangun setiap pagi selain untuk benar-benar hidup. Tidak ada bos, hukum, ataupun tuhan yang dapat merampas kemungkinan bagimu untuk mengatakan “tidak”.

Namun semua ini tidak lagi berarti apa-apa bagi seseorang yang telah tenggelam dalam keinginan bunuh diri, seseorang yang sudah terputus dari kehidupan dan menginginkan kematian hanya untuk mengakhiri keterasingan antara apa yang ia rasakan dan apa yang harus ia jalani. Ketika seseorang sudah begitu lelah dan hancur secara batin, tidak ada latihan mental sederhana yang mampu mengubah pikirannya. Pelaku bom bunuh diri, bertentangan dengan spekulasi dangkal, justru harus memiliki keterikatan yang sangat besar terhadap dunia ini untuk mampu mati dengan cara yang juga menyeret orang lain. Sebaliknya, kebanyakan orang yang bunuh diri bahkan nyaris tidak memiliki tenaga untuk membersihkan apartemennya sendiri, apalagi menjalankan misi yang rumit.

Namun bayangkan jika manusia hidup seolah-olah mereka bisa mati kapan saja, sehingga setiap hari terasa seperti kelahiran kembali. Bayangkan jika tak seorang pun membiarkan hidup berubah menjadi pekerjaan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Berapa banyak orang yang masih akan memilih bunuh diri? Orang bunuh diri ketika mereka merasa lebih sulit membayangkan melepaskan seluruh keterikatan dan kewajiban hidup dibandingkan berhenti eksis sepenuhnya. Di sinilah kebiasaan, tuntutan sosial, dan berbagai investasi emosional berubah menjadi sesuatu yang membusuk, tidak alami, lalu perlahan menggiring manusia menuju liang kuburnya lebih cepat dari seharusnya.


Hidup; Pertimbangkan Alternatifnya

Jika kita cukup berani atau cukup nekat, keputusasaan sebenarnya dapat memberi kita kekuatan yang nyaris terasa supranatural. Bayangkan kita mampu bertindak tanpa rasa takut terhadap konsekuensi, memilih ketidakpastian daripada sesuatu yang sudah terlalu menyakitkan untuk terus dijalani, serta melepaskan diri dari kewajiban dan hubungan yang tidak sehat begitu kita menyadari hakikatnya. Dibutuhkan keberanian yang kejam untuk menanggalkan sentimentalitas dan menerima kenyataan tentang semua hal yang tak pernah terjadi dan mungkin memang tak akan pernah terjadi, tentang semua impian yang tak pernah terwujud. Kita harus berani mengakui bahwa kita tidak bisa menunggu selamanya, karena waktu tidak akan pernah cukup untuk itu.

Lepaskan masa lalu. Semua pertarungan lama yang masih kamu pikul, seluruh penyangkalan dan mekanisme pertahanan diri, semua kecanduan dan kelumpuhan yang menumpuk dalam dirimu, serta ketakutan-ketakutan yang membuatmu tetap terikat padanya. Ini mungkin akan menjadi hal tersulit yang pernah kamu lalui, tetapi lepaskanlah semuanya. Biarkan semuanya mati. Bertahanlah dengan keberanian melewati saat-saat sunyi di tengah kehampaan, ketika kamu menunggu dengan gemetar agar hidupmu yang baru dapat lahir. Dan ia akan lahir.

Keputusasaan. Itulah satu-satunya harapan yang kita miliki.


Diterjemahkan dari:

Manifesto Antinatalisme Radikal

Tentang serangan terhadap Bank Sperma di Helsinki

Penulis: Anonim

Dunia kita dipenuhi penderitaan, ketimpangan, dan bencana ekologis. Dalam kondisi seperti ini, apakah kehidupan benar-benar merupakan sesuatu yang secara tanpa syarat layak diwariskan kepada siapa pun? Ketika kita menciptakan makhluk sadar (yang mampu merasakan penderitaan), kita juga sedang membawa mereka ke dalam kemungkinan-kemungkinan menyakitkan yang tak terelakkan: mulai dari krisis iklim yang terus memburuk, penyakit, dan kompleksitas hidup, hingga kekerasan, kemiskinan, ketidakberdayaan, penyiksaan, serta berbagai bentuk diskriminasi. Misalnya, jika mereka lahir dengan orientasi seksual atau identitas gender yang dianggap “tidak normatif”, terlahir dengan disabilitas fisik atau mental, memiliki warna kulit yang tidak sesuai dengan pandangan rasialis masyarakat, atau dipaksa melahirkan maupun ikut berperang (sebagai kombatan) oleh hukum dan tatanan sosial tempat mereka hidup.

Namun bagaimana jika mereka tidak pernah diciptakan? Jika seseorang tidak pernah ada, maka tidak akan pernah ada penderitaan yang harus ia alami. Antinatalisme adalah pandangan yang setidaknya mengajak kita menyadari betapa besar dan seriusnya konsekuensi moral dari keputusan menciptakan makhluk sadar yang sebenarnya tidak akan pernah menderita jika tidak dilahirkan; dan dalam bentuk yang lebih radikal, menolak reproduksi (atau bentuk lain dari penciptaan makhluk sadar baru) sama sekali. Pandangan ini bukanlah penolakan terhadap hak reproduksi, melainkan upaya untuk meninjau kembali hak tersebut dari sudut pandang moral dan etika.


Etika Kehidupan dan Penderitaan

Setiap manusia baru yang lahir ke dunia pada akhirnya pasti akan menghadapi berbagai risiko, penderitaan, dan kematian. Ketika kita mendukung ideologi dominan tentang reproduksi dan terus mendorong lahirnya makhluk sadar baru, kita sering kali melupakan bahwa jika mereka tidak pernah ada, mereka juga tidak akan pernah mengalami rasa sakit, kehilangan, kesulitan ekonomi, keterasingan sosial, stres, kekerasan, penyakit, ketimpangan, ketidakadilan, kesepian, frustrasi, tekanan, maupun penderitaan. Hampir setiap alasan untuk melakukan reproduksi secara non-koersif (tanpa paksaan) pada akhirnya berangkat dari kalimat, “Saya ingin…” Antinatalis Radikal mempertanyakan etika dari reproduksi yang dilakukan secara tanpa refleksi dan dianggap begitu wajar.


Kepedulian terhadap Kualitas Hidup

Menciptakan kehidupan baru tidak pernah menjamin kualitas kehidupan itu sendiri. Pikirkan: masa kecil seperti apa yang dapat kamu berikan kepada anakmu? Warisan seperti apa yang akan mereka terima? Seberapa banyak hak yang akan dimiliki anak itu di negara tempat kamu hidup? Apakah mereka akan mengalami penderitaan jika ternyata berbeda dari mayoritas, misalnya sebagai seorang transgender? Bagaimana jika anak itu tidak mampu bekerja? Apakah kamu akan mampu menopang hidupnya sepanjang hayat? Bagaimana jika sepanjang hidupnya ia terus dihantui rasa lapar yang tak pernah terpuaskan akan kenyamanan dan kedamaian? Kita perlu mengakui bahwa kehidupan mungkin tidak membawa kebahagiaan maupun pemenuhan diri (namun bahkan jika kebahagiaan itu hadir, kebahagiaan tersebut tidak serta-merta “menyeimbangkan” penderitaan yang telah dialami). Kualitas keberadaan mungkin jauh lebih penting daripada sekadar fakta bahwa seseorang ada. Karena itu, Antinatalis radikal berpendapat bahwa kita perlu mempertanyakan apakah kita seharusnya menciptakan manusia baru jika besar kemungkinan mereka akan menghadapi begitu banyak kesulitan dalam hidupnya.


Normalisasi Budaya atas Reproduksi

Budaya terus menanamkan gagasan bahwa menjadi orang tua adalah bagian yang alamiah dan diinginkan dalam kehidupan. Namun bukankah aneh jika gagasan tentang memperbesar kemungkinan penderitaan justru dianggap sesuatu yang wajar dan diharapkan? Banyak dari kita menolak rasisme dan seksisme karena keduanya memperluas penderitaan. Banyak pula yang menentang penyiksaan, bahkan ketika itu dilakukan terhadap orang yang dianggap “sangat jahat”. Kita menolak pemerkosaan, pedofilia, pembunuhan yang tidak dapat dibenarkan, dan perang (meskipun muncul pertanyaan: adakah kekerasan yang benar-benar dapat dibenarkan?). Kita juga membenci mereka yang menyiksa hewan demi kesenangan. Namun ketika menyangkut anak-anak kita sendiri, pengecualian sering kali dibuat. Antinatalis radikal berpendapat bahwa kita perlu meninjau kembali secara kritis apakah menjadi orang tua (atau menciptakan makhluk sadar dalam bentuk apa pun) benar-benar merupakan pilihan yang lahir dari kesadaran penuh, atau justru konsekuensi dari norma sosial yang ditanamkan kepada kita sejak usia dini. Mereka juga berpendapat bahwa promosi terhadap reproduksi perlu dipertanyakan, sebagaimana kita mempertanyakan praktik-praktik lain yang memperbesar penderitaan, seperti diskriminasi, kekerasan terhadap hewan, dan perang.


Krisis Lingkungan dan Sumber Daya Planet

Bumi saat ini telah berada di bawah tekanan yang sangat besar akibat ledakan populasi. Setiap manusia baru membutuhkan sumber daya: makanan, air, energi, dan ruang hidup. Sementara itu, ekosistem terus mengalami kerusakan dan pengurasan. Di tengah pemanasan global dan degradasi lingkungan yang semakin parah, menciptakan kehidupan baru tampak sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab, baik terhadap masa depan anak-anak yang harus hidup di dunia yang terus memburuk, maupun terhadap dunia itu sendiri yang semakin terbebani oleh pertumbuhan populasi manusia.

Bank sperma, sebagai institusi yang mendorong reproduksi, dianggap turut mempercepat pertumbuhan populasi, yang pada akhirnya memperburuk krisis ekologis yang sudah ada. Antinatalis radikal percaya bahwa manusia perlu memberi kesempatan kepada planet ini untuk pulih secara sukarela, sebelum pada akhirnya kondisi ekologis memaksa hak reproduksi manusia dibatasi secara paksa.


Ancaman Penderitaan Ekstrem

Ada bentuk-bentuk penderitaan ekstrem yang tidak dapat dibenarkan oleh apa pun: bukan oleh Tuhan, bukan oleh kebetulan, bukan demi kebahagiaan banyak orang, dan bukan pula atas nama moralitas atau etika apa pun. Penderitaan semacam itu tidak seharusnya ditoleransi dalam keadaan apa pun, terlepas dari manfaat apa yang diklaim dapat lahir darinya. Contoh penderitaan ekstrem mencakup penyiksaan, direbus hidup-hidup, dikuliti, penyakit berat, sakaratul maut yang berkepanjangan, kehilangan anggota tubuh dan luka perang yang parah, hingga Sindrom Irukandji. Jika terdapat kemungkinan sekecil apa pun bahwa anak yang kamu lahirkan dapat mengalami penderitaan ekstrem semacam itu (dan kenyataannya kemungkinan itu memang ada, bukan hanya karena kematian menyakitkan yang bersifat kebetulan, tetapi juga karena berbagai bentuk kekerasan terus direproduksi secara aktif oleh kelompok-kelompok bersenjata dan pemerintahan di seluruh dunia), maka menciptakan makhluk sadar baru dipandang sebagai tindakan yang sangat tidak bermoral.


Serangan terhadap Bank Sperma

Tentu saja, “antinatalisme radikal” di sini tidak dimaksudkan sebagai ancaman literal. Dan beberapa grafiti disebut sebagai “serangan” terutama karena daya provokatif dari istilah tersebut. Meskipun bank sperma dipandang sebagai salah satu simbol paling jelas dari reproduksi, kami sama sekali tidak menyerukan pelarangan orang untuk memiliki anak. Yang kami serukan adalah penolakan sukarela terhadap reproduksi, atau setidaknya lahirnya kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam keputusan untuk melahirkan.

Tujuan dari aksi tersebut bukanlah untuk menutup institusi itu (kami bahkan menolak segala bentuk tindakan destruktif yang dapat mengganggu keseluruhan kerja rumah sakit), melainkan sebagai upaya putus asa untuk menarik perhatian terhadap sebuah gagasan yang tertanam di kepala kita jauh lebih kuat daripada heteronormativitas ataupun patriotisme: yakni pronatalisme, gagasan bahwa reproduksi adalah sesuatu yang normal dan harus diterima begitu saja. Kritik terhadap pronatalisme sebenarnya telah muncul sejak abad ke-19, tetapi hampir seluruh umat manusia menolak untuk benar-benar memikirkannya, padahal persoalan ini berkaitan dengan salah satu pertanyaan paling mendasar: bagaimana meminimalkan penderitaan makhluk sadar? Pada akhirnya, sebagian besar tindakan manusia sebenarnya bergerak menuju tujuan tersebut.

Aksi non-kekerasan ini tidak melukai satu pun makhluk sadar. Kerugian finansial akibat beberapa grafiti itu sangat kecil dibandingkan dengan penderitaan baru yang terus kita ciptakan setiap hari, lalu dibenarkan atas nama cinta. Mungkin sebagian antinatalis lain akan mengkritik tindakan ini dan menganggapnya sebagai cara yang buruk untuk memperkenalkan antinatalisme. Namun kami percaya bahwa di tengah sikap acuh tak acuh dan ketidaktahuan yang begitu luas, segala bentuk dialog mengenai isu ini tetap lebih baik daripada keheningan total.

Kami para antinatalis, baik yang radikal maupun tidak, tidak menyerukan pelarangan secara paksa ataupun kekerasan. Tujuan kami adalah mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting mengenai hakikat kehidupan dan reproduksi. Serangan terhadap bank sperma hanyalah simbol dari keinginan untuk menghentikan reproduksi yang dilakukan tanpa refleksi, sekaligus mengajak orang berpikir tentang apa arti menjadi manusia di dunia yang tidak sempurna ini. Aksi itu juga dimaksudkan untuk menarik perhatian terhadap apa yang kami anggap sebagai salah satu ideologi paling tak terlihat sekaligus paling penuh kekerasan yang ada saat ini.

Kita perlu memikirkan kembali nilai kehidupan dan konsekuensinya bagi seluruh umat manusia, serta menyadari bahwa setiap kelahiran baru berarti menciptakan makhluk sadar baru, dan bersama itu muncul tanggung jawab yang sangat besar. Refleksi semacam ini diharapkan dapat membantu membangun masyarakat yang lebih berkelanjutan dan lebih etis, di mana penderitaan dan ketimpangan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Terima kasih telah membaca manifesto kami. Kini keputusan sepenuhnya berada di tanganmu: apa yang ingin kamu lakukan setelah ini.


Diterjemahkan dari:


Antinatalisme sebagai Revolusi

Penulis: Anonim

Mengapa kita, kaum proletar, harus memiliki anak jika pada akhirnya mereka akan direnggut oleh kaum kapitalis untuk “dibunuh” secara metaforis melalui kerja, atau oleh kaum militeris untuk dibunuh secara nyata sebagai tentara?

Antinatalisme adalah sebuah filsafat yang telah berkembang selama berabad-abad dan menolak kelahiran manusia baru atas dasar pertimbangan etis dan filosofis. Kaum antinatalis berpendapat bahwa keberadaan manusia di dunia ini niscaya akan membuat seseorang mengalami penderitaan dan pengalaman negatif. Mereka biasanya mendasarkan pandangan tersebut pada dua posisi filosofis:

  1. Hedonisme, yaitu gagasan bahwa makna hidup terletak pada kebahagiaan.
  2. Jika makna hidup adalah kebahagiaan, maka kita seharusnya tidak menciptakan penderitaan atau ketidakbahagiaan bagi orang lain.

Berangkat dari dua posisi tersebut, serta dari kenyataan bahwa kehidupan tak terelakkan akan membawa pengalaman yang menyakitkan dan tidak memuaskan, kaum antinatalis berpendapat bahwa reproduksi sebaiknya dihindari, karena dengan melahirkan anak kita memaksa mereka menjalani kehidupan yang penuh penderitaan dan pengalaman negatif. Dalam tulisan ini, yang menggunakan sudut pandang anarko-komunis, kami mencoba mengemukakan secara ringkas gagasan bahwa kaum proletar memiliki tanggung jawab etis untuk menghindari reproduksi, setidaknya karena dua alasan: pertama, karena anak-anak mereka akan mengalami penderitaan di bawah kapitalisme; kedua, karena dengan melahirkan, mereka sekaligus menciptakan pekerja baru bagi kaum kapitalis dan tentara baru bagi kaum militeris.

Tujuan tulisan ini adalah mencoba menjawab pertanyaan: apakah antinatalisme dapat membantu revolusi? Apakah ia, pada dasarnya, merupakan filsafat revolusioner?

Kami memulai dari asumsi bahwa masyarakat yang paling bebas dan paling memuaskan adalah masyarakat yang dibangun di atas cita-cita Anarko-komunisme, yaitu masyarakat yang sejalan dengan gagasan-gagasan dasar Pyotr Kropotkin. Namun, karena masyarakat saat ini belum bersifat anarko-komunis, kaum proletar hidup di tengah pengalaman yang penuh penderitaan: utang, kelaparan, pemenjaraan, serta perang-perang yang dijalankan demi kepentingan elite.

Ketika seorang proletar memiliki anak, besar kemungkinan anak-anak tersebut juga akan menjadi proletar dan mengalami bentuk-bentuk penderitaan yang sama seperti orang tua mereka. Dengan demikian, melalui reproduksi, seorang proletar memaksa anaknya menjalani kehidupan yang dipenuhi kesedihan dan ketidakpuasan. Dari sudut pandang antinatalisme, tindakan itu dianggap tidak etis, karena tidak benar memaksa orang lain mengalami penderitaan. Lebih jauh lagi, seorang proletar yang memiliki kesadaran revolusioner juga memiliki tanggung jawab etis untuk tidak membantu sistem kapitalisme mempertahankan dirinya. Kehadiran proletar-proletar baru membantu kapitalisme terus bertahan, karena mereka menjadi konsumen baru, pekerja baru, dan tentara baru. Singkatnya, kelahiran anak-anak baru dari kaum proletar pada akhirnya ikut menopang keberlangsungan kapitalisme.

Berdasarkan pandangan tersebut, kaum proletar seharusnya tidak menciptakan anak baru, karena dengan begitu mereka menyerahkan anak-anak itu kepada sistem kapitalis yang tidak memiliki belas kasih dan akan menggunakan mereka demi mempertahankan tatanan yang tidak adil. Kapitalisme sendiri tidak mungkin bertahan tanpa keberadaan proletar dalam jumlah besar. Dari sini, kami mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai sifat revolusioner antinatalisme. Antinatalisme dapat dipandang sebagai filsafat revolusioner karena ia menolak menyuplai proletar baru bagi mesin kapitalisme. Dalam pengertian itu, penolakan kaum proletar untuk melahirkan generasi baru dapat dipahami sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap barbarisme kapitalis.


Tambahan

Antinatalisme tidak bertentangan dengan tindakan mengadopsi anak-anak yang sudah lahir dan telah ada di dunia ini.

Jika kita menerima gagasan bahwa janin yang belum lahir pun dapat merasakan penderitaan dan rasa sakit (yang menjadi sumber ketidakbahagiaan), maka dari sudut pandang antinatalisme, aborsi menjadi persoalan yang rumit untuk diterima. Sebab antinatalisme dibangun di atas keyakinan bahwa kita tidak seharusnya memaksakan penderitaan kepada makhluk lain. Karena itu, kontrasepsi kemungkinan merupakan solusi yang lebih sesuai bagi antinatalis yang aktif secara seksual.

Kami tidak mengklaim bahwa tulisan ini memberikan jawaban yang lengkap atau sepenuhnya benar mengenai persoalan reproduksi di kalangan proletar. Tulisan ini hanya menawarkan salah satu sudut pandang yang memadukan antinatalisme dengan anarko-komunisme (namun juga tetap dapat dipahami dalam kerangka perjuangan kelas yang lebih luas).


Diterjemahkan dari:

Masa Depan Adalah Sebuah Tipuan

Refleksi tentang keinginan untuk tidak memiliki anak

Penulis: Anonim

Tulisan ini lahir dari sebuah refleksi dan tidak dimaksudkan sebagai pembahasan yang sepenuhnya komprehensif. Kami menyadari bahwa topik yang diangkat sangat sensitif dan kemungkinan besar akan memunculkan reaksi yang kuat. Namun demikian, kami merasa penting untuk membicarakannya, mengingat dominasi cara pandang pronatalis serta berbagai konsekuensi yang ditimbulkannya. Refleksi ini berangkat dari pemikiran anarkis, dan karena itu juga dari keinginan untuk melampaui dunia yang otoriter, terindustrialisasi, spesiesis, dan berbagai bentuk penindasan lainnya.

Publikasi pertama di Prancis, April 2019.

Saat tulisan ini dibuat, populasi manusia di Bumi mencapai sekitar 7,7 milyar jiwa. Pada Abad Pertengahan, jumlah manusia bahkan belum mencapai 500 juta. Sepanjang abad ke-19, jumlah itu melampaui satu milyar. Angka dua milyar tercapai pada dekade 1920-an, sementara tiga milyar tercapai menjelang tahun 1960-an. Sekitar tahun 1975, populasi manusia telah melampaui empat milyar. Antara tahun 1985 hingga 1990, lima milyar manusia telah hidup di Bumi. Menjelang tahun 2000, angka enam milyar terlampaui, dan pada paruh pertama dekade 2010-an, populasi manusia akhirnya melewati tujuh milyar.

Bagi siapa pun yang tidak nyaman melihat angka ini terus meningkat, masa depan tampak menjanjikan sesuatu yang suram. Perkiraan terendah memprediksi pertumbuhan populasi akan terus berlangsung hingga sekitar tahun 2080, sementara perkiraan tertinggi memperkirakan peningkatan konstan setidaknya sampai tahun 2100. Untuk saat ini, proyeksi tersebut belum melampaui tahun itu.

Bagi kami, sebagaimana akan dibahas lebih lanjut, manusia telah berada dalam kondisi kelebihan populasi, dan kepadatan ini secara tak terbantahkan berdampak pada lingkungan serta seluruh makhluk hidup lain, termasuk diri kita sendiri. Meskipun laju pertumbuhan populasi secara umum mulai melambat, ia tetaplah pertumbuhan, dan justru itulah yang kami anggap problematis. Bahkan ketika jumlah manusia di Bumi masih sekitar tujuh kali lebih sedikit dibanding sekarang, cukup banyak kaum anarkis yang telah mempertanyakan hal-hal yang kini kembali kami renungkan.

Pada akhir abad ke-18, seorang ekonom bernama Thomas Malthus telah memikirkan persoalan angka kelahiran. Ia berpendapat bahwa pertumbuhan sumber daya tidak berjalan seiring dengan pertumbuhan populasi, sehingga pada suatu titik sumber daya tersebut akan habis. Untuk mencegah hal itu, ia menganjurkan pengendalian angka kelahiran. Namun, pemikirannya tetap sangat dipengaruhi moralitas zamannya, dengan mendorong penundaan usia pernikahan serta praktik kesucian seksual sebelum menikah. Ia juga menyarankan agar pasangan hanya memiliki jumlah anak yang benar-benar mampu mereka nafkahi. Bahkan, Malthus merekomendasikan penghentian bantuan finansial bagi kaum miskin.

Pemikirannya tampak lebih diarahkan pada pengendalian kaum miskin dan stabilitas sosial daripada refleksi yang bersifat emansipatoris, serta sama sekali tidak mempertanyakan model keluarga yang dominan. Karena itu, gagasan Malthus pada dasarnya tidak terlalu menarik bagi kami, sebab lebih berorientasi pada ekonomi dan kontrol sosial ketimbang pembebasan manusia. Meski demikian, cukup banyak kaum anarkis pada akhir abad ke-19 yang berangkat dari gagasan bahwa pertumbuhan populasi yang tak terbatas pada akhirnya akan berbenturan dengan kenyataan bahwa sumber daya di dunia bersifat terbatas. Pemikiran baru ini kemudian dikenal sebagai neo-Malthusianisme, sementara para anarkis yang mendukungnya disebut neo-Malthusian.

Walaupun berada dalam posisi minoritas, para neo-Malthusian anarkis berusaha menyesuaikan Malthusianisme dengan perspektif emansipatoris mereka. Mereka menegaskan bahwa anak-anak yang lahir di bawah sistem yang ada pada akhirnya hanya akan menjadi umpan meriam atau alat bagi para penguasa dan majikan. Adaptasi ini juga mencakup solusi individual untuk pengendalian kelahiran melalui promosi alat kontrasepsi serta pembelaan terhadap hak aborsi, sebuah posisi yang pada masa itu tergolong sangat maju dan radikal. Perlu diingat bahwa pada masa tersebut, metode kontrasepsi masih sangat terbatas. Akibatnya, banyak kelahiran yang sebenarnya tidak diinginkan, sementara banyak keluarga hidup dalam kemiskinan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan anak-anak mereka ataupun membesarkan mereka menjadi individu yang mandiri dan bertanggung jawab.

Di Prancis, neo-Malthusianisme dipelopori oleh Paul Robin pada tahun 1895. Gerakan ini terinspirasi oleh neo-Malthusianisme Inggris, yang pada masa itu juga dipengaruhi oleh teori-teori eugenika yang mulai berkembang. Sangat disayangkan bahwa neo-Malthusianisme sempat dipenuhi gagasan-gagasan eugenik. Seiring waktu, pendekatan tersebut terbukti memiliki banyak kelemahan ilmiah. Selain itu, gerakan ini juga mendorong pengendalian kelahiran yang bersifat koersif, sesuatu yang tidak kami setujui, karena menurut kami penurunan angka kelahiran seharusnya lahir dari refleksi pribadi dan pilihan sadar, bukan paksaan. Hasrat eugenik untuk menghapus segala bentuk “degenerasi” bukan hanya ilusi, tetapi juga mencerminkan keinginan menciptakan satu model manusia yang dianggap paling layak untuk hidup dan berkembang biak. Meski demikian, tidak semua neo-Malthusian mendukung teori-teori eugenika. Salah satu contohnya dapat ditemukan dalam karya Emilie Lamotte, La Limitation des Naissances: Moyens d’éviter les Grandes Familles, meskipun metode kontrasepsi yang ia sarankan kini sudah dianggap usang.

Yang mengkhawatirkan adalah kenyataan bahwa refleksi-refleksi semacam ini sudah muncul sejak abad ke-19, ketika populasi manusia di Bumi “baru” sekitar satu miliar jiwa. Sementara hari ini, ketika jumlah manusia telah meningkat tujuh kali lipat, kesadaran kolektif yang benar-benar besar mengenai persoalan tersebut justru nyaris tidak muncul.


Pronatalisme: Ideologi yang Mematikan

Pernahkah kamu mengatakan dalam sebuah percakapan bahwa kamu tidak ingin memiliki anak? Tanggapan yang muncul hampir selalu sama: “Sekarang saja kamu bilang begitu, nanti juga berubah”, “Ingin punya anak itu hal yang alami”, “Kamu egois”, “Kamu tidak suka anak-anak”, “Nanti kamu akan menua sendirian”, dan sebagainya.

Respons seperti itu hampir selalu bernada terkejut atau tersinggung, seolah-olah memiliki anak adalah sesuatu yang begitu jelas dan tak perlu dipertanyakan, sementara pilihan untuk tidak memiliki anak dianggap sebagai penyimpangan. Karena dianggap “wajar”, orang yang memilih tidak memiliki anak justru dituntut untuk membenarkan keputusannya, berbeda dengan mereka yang mengikuti apa yang dianggap sebagai “jalan alami kehidupan”. Bahkan kemungkinan untuk tidak memiliki anak jarang sekali disebut secara spontan. Kita hampir tidak pernah mendengar kalimat seperti, “Kalau suatu hari nanti kamu punya anak”, melainkan lebih sering, “Ketika nanti kamu punya anak”. Saat seseorang hamil, ia segera diberi ucapan selamat. Melahirkan dipandang sebagai sesuatu yang indah, positif, dan normal. Sebaliknya, keputusan untuk tidak memiliki anak langsung dianggap sebagai sesuatu yang negatif. Kehidupan tanpa anak sering kali dipersepsikan sebagai kehidupan yang tidak utuh, seolah-olah memiliki anak merupakan syarat dasar untuk menjadi manusia yang “lengkap”.

Ideologi pronatalis lah yang menjelaskan keadaan ini. Ideologi tersebut ditanamkan melalui pendidikan dan budaya, lalu bekerja secara halus maupun terang-terangan dalam kehidupan sehari-hari. Sejak masih kecil, kita sudah diperkenalkan pada cara pandang pronatalis melalui permainan. Siapa yang tidak pernah bermain boneka atau bermain “ayah dan ibu”? Bentuk pengondisian seperti ini membuat memiliki anak terasa sebagai sesuatu yang otomatis dan tak terelakkan, tanpa memberi ruang bagi kemungkinan untuk memilih tidak memiliki anak. Bahkan sejak masa kanak-kanak, masa depan kita seolah sudah digambar oleh orang lain: bahwa suatu hari nanti kita akan ikut serta dalam melanjutkan keberlangsungan spesies manusia.

Memiliki anak, pada akhirnya, dalam banyak hal merupakan upaya untuk mengabadikan diri sendiri melalui sesuatu yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Warisan itu bisa bersifat kultural. Banyak orang tua memproyeksikan diri mereka atau sosok yang mereka inginkan namun tak pernah tercapai ke dalam diri anak-anak mereka. Mereka ingin mewariskan nilai-nilai, tradisi, moralitas, sejarah, bahkan gairah hidup mereka agar semuanya tetap bertahan melampaui kematian mereka sendiri. Akibatnya, anak sering kali tidak dipandang sebagai individu yang utuh dengan keinginan dan aspirasinya sendiri, melainkan sebagai wadah bagi harapan, nilai, dan ambisi orang tua, sekaligus alat untuk melestarikan sebuah ideologi. 

Dalam beberapa lingkungan tertentu, terutama yang bercorak “Marxoid”, bahkan muncul anggapan bahwa antinatalisme adalah ideologi borjuis, dan bahwa kaum proletar justru harus memiliki anak demi menjamin keberlangsungan proletariat sebagai kelas revolusioner. Namun anak-anak tersebut, selain tidak pernah benar-benar dimintai persetujuan atas peran yang diproyeksikan kepada mereka, pada akhirnya sering kali hanya bergabung ke dalam barisan buruh, tentara, atau konsumen bagi sistem yang ada. Gagasan tentang “melahirkan proletar kecil yang kelak menjadi revolusioner besar” pada akhirnya hanyalah ilusi; jauh lebih mungkin mereka justru tumbuh menjadi pelayan Kapital. 

Warisan itu juga bisa bersifat material. Banyak orang tua ingin memastikan masa depan anak-anak mereka ketika mereka telah meninggal atau memasuki usia tua. Hal ini dapat diwujudkan melalui asuransi jiwa, tabungan, warisan, ataupun harapan bahwa salah satu anak akan melanjutkan usaha keluarga. Selain itu, warisan juga dapat bersifat genetik. Ada dorongan untuk mempertahankan garis keturunan, meneruskan nama keluarga, dan menjaga keberlangsungan “darah” keluarga. Karena itu, menjadi orang yang mengakhiri garis keturunan sering kali dianggap sesuatu yang nyaris tak terpikirkan. Bersamaan dengan itu, berkembang pula keyakinan bahwa setiap individu memiliki kewajiban untuk ikut menjaga keberlangsungan spesies manusia. Sementara itu, kemungkinan untuk mengadopsi anak sering kali langsung dikesampingkan. Alasannya beragam: anak adopsi dianggap tidak sama dengan anak kandung karena tidak memiliki kemiripan fisik, tidak mempunyai “ikatan darah”, dan tidak dianggap sebagai simbol penyatuan biologis kedua orang tua. Anak kandung kemudian dipandang sebagai bukti konkret sekaligus fisik dari cinta pasangan tersebut.

Ketiga bentuk warisan tersebut secara aktif menopang reproduksi sosial. Kelas yang memiliki kekuasaan tetap mempertahankan kepemilikannya, sementara kelas yang tertindas terus diwariskan ke dalam kondisi penindasan yang sama. Nilai-nilai sosial diturunkan tanpa henti dalam sebuah siklus yang terus mereproduksi dunia sebagaimana adanya. Lebih dari itu, generasi-generasi baru tidak hanya cenderung mempertahankan tatanan yang ada, tetapi juga memperkuat dan meneguhkannya. Salah satu contoh yang paling jelas dapat dilihat melalui perkembangan teknologi. Setiap kali muncul inovasi teknologi besar, generasi yang lebih tua sering kali meresponsnya dengan rasa curiga, canggung, atau kebingungan. Mereka pernah hidup sebelum teknologi itu hadir dan mengetahui bahwa kehidupan tetap bisa berjalan tanpanya. Sebaliknya, generasi yang lahir tepat pada masa transisi teknologi atau sesudahnya tidak pernah benar-benar mengalami perubahan tersebut. Dunia yang mereka masuki otomatis menjadi standar normal bagi mereka. Akibatnya, teknologi-teknologi baru terasa jauh lebih esensial dibandingkan bagi mereka yang pernah hidup sebelum transformasi itu terjadi.

Berbagai bentuk kekuasaan kemudian memanfaatkan antusiasme terhadap teknologi baru, terutama di bidang hiburan, untuk memperluas pengawasan dan kontrol, sambil menghadapi perlawanan yang sangat kecil. Misalnya, ketika masyarakat dibiasakan menggunakan pengenal wajah melalui telepon pintar, maka penolakan terhadap teknologi serupa akan semakin sulit ketika suatu saat diterapkan untuk memasuki gedung, mengakses layanan publik, atau ruang lainnya, terutama jika semua itu dibungkus dengan dalih keamanan dan kenyamanan. Proses reproduksi dan penguatan ini tidak hanya terjadi melalui teknologi. Reformasi hukum dan kebijakan negara pun bekerja dengan pola yang sama. Sebuah undang-undang biasanya hanya diperdebatkan ketika masih berupa rancangan atau sedang dibahas. Namun setelah disahkan dan diterapkan, generasi berikutnya tumbuh dengan menganggapnya sebagai sesuatu yang wajar. Karena tidak pernah mengalami dunia sebelum aturan itu ada, mereka cenderung jauh lebih sedikit mempertanyakannya. Dari generasi ke generasi, dunia yang kita tinggali semakin mengeras, sementara arah perkembangannya terus diteguhkan.

Model keluarga sendiri nyaris tidak pernah benar-benar dipersoalkan. Bahkan dalam banyak lingkungan LGBTI+ yang kompatibel dengan kapitalisme, “jalan hidup normal” tetap dipahami dengan pola yang sama: menemukan pasangan, menikah, memiliki anak, lalu ikut mereproduksi masyarakat sebagaimana adanya. Karena itu, meskipun kami memahami perjuangan sebagian orang untuk memperoleh akses terhadap "teknologi reproduksi berbantu" (ART) maupun "ibu pengganti" (surrogacy), kami tetap menganggap disayangkan bahwa perdebatan mengenai isu-isu tersebut sering kali hanya berhenti pada posisi “mendukung atau menolak”, tanpa pernah sungguh-sungguh mempertanyakan prokreasi itu sendiri. Cara berpikir dominan mendorong individu untuk terus mereproduksi model heteronormatif dan mencari integrasi ke dalam tatanan sosial yang ada. Dalam konteks inilah, sebagaimana ditulis dalam Bædan 1: Journal of Queer Nihilism, Anak kemudian dijadikan simbol masa depan dan harapan, sekaligus alasan bagi berbagai pengorbanan yang dilakukan demi generasi berikutnya.

Pada tingkat negara, berbagai cara dilakukan untuk mendorong orang memiliki anak, mulai dari kampanye peningkatan angka kelahiran hingga pemberian tunjangan sosial. Anak dipandang sebagai penggerak ekonomi; para pengiklan memahami hal ini dengan sangat baik. Selain itu, angka kelahiran juga dijadikan simbol kebanggaan nasional dan dianggap sebagai faktor pertumbuhan yang memungkinkan suatu negara bersaing dengan negara lain. Dalam kerangka seperti itu, melahirkan diposisikan sebagai semacam kewajiban terhadap bangsa. Karena itu pula, ketika seseorang belum memiliki anak, mereka cenderung lebih sering diarahkan pada metode kontrasepsi sementara daripada metode permanen. Dalam logika yang sama, orang-orang yang memiliki kemampuan biologis untuk melahirkan juga mengalami overmedikalisasi. Sejak pubertas hingga menopause, mereka dianjurkan menjalani pemeriksaan ginekologis setiap tahun demi memastikan bahwa “semuanya berfungsi dengan baik”, termasuk kemampuan mereka untuk menjalankan fungsi reproduktif. Ini menjadi salah satu contoh bagaimana masyarakat dan institusi merasa berhak mengawasi, mengatur, dan memeriksa tubuh seseorang.

Mereka yang menolak ideologi pronatalis dan memilih untuk tidak memiliki anak sering kali dicap egois. Padahal, tidak menginginkan anak tidak lebih egois daripada menginginkan anak. Pertanyaan yang lebih mendasar justru adalah: mana yang lebih otoriter, menolak menghadirkan seseorang yang belum pernah ada dan karenanya tidak akan pernah menderita karena ketidakhadirannya, atau memaksakan eksistensi kepada seseorang yang sama sekali tidak punya pilihan selain harus hidup?

Sulit untuk tidak mempertanyakan apakah keputusan untuk memiliki anak benar-benar lahir dari kehendak pribadi, atau justru merupakan hasil dari tekanan dan tuntutan sosial yang terus-menerus ditanamkan sejak dini. Dalam konteks ini, sering muncul anggapan bahwa memiliki anak adalah bagian dari “kodrat alami”, dan bahwa “naluri keibuan mendorong perempuan untuk melahirkan”. Identitas perempuan pun dilekatkan secara intrinsik dengan keibuan. Tidak jarang seseorang berkata bahwa mereka “baru benar-benar merasa menjadi perempuan setelah melahirkan”.

Karena itu, alih-alih mencari legitimasi di dalam peran-peran yang dilekatkan pada identitas tersebut, seperti melahirkan, mengasuh anak, dan mengurus rumah tangga, kami justru menganggap lebih relevan untuk mempertanyakan dan menolak identitas itu sendiri. Dan karena identitas “perempuan” dibentuk dalam relasinya dengan identitas “laki-laki”, maka menurut kami kedua identitas tersebut sama-sama perlu dipertanyakan sebagai konstruksi sosial yang membatasi.

“Mengklaim identitas perempuan sambil menolak keibuan ibarat seekor lalat yang mengira dirinya mampu menembus dinding toples tempat ia terperangkap. Identitas perempuan melekat secara inheren pada prokreasi. Kata ‘perempuan’ itu sendiri pada dasarnya merupakan tuntutan menuju keibuan.”

—Priscille Touraille

Selain persoalan tidak ingin memiliki anak, ada pula fenomena lain yang jauh lebih tabu untuk dibicarakan: penyesalan menjadi orang tua, dan terutama penyesalan menjadi seorang ibu. Menjadi orang tua memang dianggap sebagai pengalaman yang diinginkan banyak orang, tetapi bagi sebagian lainnya hal itu justru tidak demikian. Ketika ada orang tua yang berani mengakui penyesalan tersebut, mereka kerap menghadapi reaksi yang penuh kecaman. Hal ini terutama dialami oleh “perempuan”, yang dianggap wajib menjalankan peran keibuan mereka dan dipandang kejam atau tidak bermoral ketika mengungkapkan penyesalan itu. Padahal, penyesalan tersebut tidak selalu berarti ketiadaan cinta terhadap anak. Ada perbedaan antara cinta yang mungkin dirasakan seseorang kepada anaknya dengan beban tanggung jawab yang harus dipikul sepanjang hidup. Bahkan jika memang terdapat ketiadaan cinta, keadaan itu tetap perlu dipahami secara kritis tanpa serta-merta menyalahkan mereka yang mengalaminya. Karena keibuan telah ditempatkan sebagai kebajikan tertinggi dalam identitas perempuan, tidak mengherankan jika banyak “perempuan” merasa takut dihakimi ketika mengungkapkan penyesalan tersebut, sehingga memilih memendam apa yang sebenarnya mereka rasakan.

Hidup bersama anak tidak selalu menjadi sesuatu yang menyiksa, tetapi ia membawa tanggung jawab yang besar dan mengubah ritme kehidupan sehari-hari secara mendalam. Bagi kami, seluruh konsekuensi ini seharusnya dipertimbangkan dengan jauh lebih serius sebelum seseorang memutuskan menghadirkan anak ke dunia, tentu dengan asumsi bahwa mereka benar-benar memiliki kebebasan untuk membuat pilihan tersebut. Berapa banyak orang yang akhirnya mengurangi atau bahkan meninggalkan minat, gairah, dan aktivitas sehari-hari mereka, baik yang bersifat kreatif, intelektual, rekreatif, bahkan sekadar waktu tidur, demi mengurus anak? Meskipun sangat umum mendengar orang tua mengaku lelah, tertekan, atau frustrasi, keadaan itu sering kali dianggap sebagai “pengorbanan kecil yang sepadan”. Namun pengorbanan seperti itu tidak seharusnya dibebankan kepada mereka yang memang tidak menginginkannya.

Perlu juga dicatat bahwa bagi kami, seorang “laki-laki” yang meninggalkan tanggung jawab hanya karena tidak mampu menerima anak biologisnya sendiri tetaplah seseorang yang bertindak tidak bertanggung jawab.

Pertanyaannya kemudian: apakah momen-momen kebahagiaan yang dihadirkan seorang anak benar-benar cukup untuk menutupi seluruh konsekuensi besar dari menghadirkan satu atau beberapa anak ke dunia? Alih-alih mendorong pilihan yang benar-benar sadar dan rasional, ideologi pronatalis justru cenderung menyembunyikan sisi-sisi berat dari pengasuhan sambil menaturalisasi hasrat untuk bereproduksi. Akibatnya, keinginan untuk memiliki anak sering kali dibangun dari pengalaman melihat anak-anak dalam konteks yang menyenangkan, misalnya ketika bertemu anak milik keluarga atau teman, atau melihat mereka bermain di taman. Yang tampak hanyalah kelucuan dan emosi positif yang mereka hadirkan. Sementara itu, biaya hidup yang harus ditanggung, malam-malam tanpa tidur, tangisan, kelelahan, serta dorongan untuk semakin menyesuaikan diri dengan tatanan sosial yang ada, sering kali dibuat tidak terlihat dan nyaris tidak dipertimbangkan dalam keputusan untuk memiliki anak.

Sebelum memutuskan hidup bersama seorang anak, seseorang seharusnya terlebih dahulu mampu menilai apakah dirinya benar-benar sanggup memikul tanggung jawab tersebut, baik secara ekonomi, emosional, maupun afektif. Dalam masyarakat yang terus-menerus mereproduksi dirinya sendiri, di mana kerja menyita sebagian besar waktu hidup, “perempuan” didorong untuk mengabdikan hidup mereka kepada Tuhan, ayah, pasangan, atau atasan, alih-alih kepada diri mereka sendiri. Ketika seorang anak kemudian hadir dalam keseharian itu, maka semakin sedikit pula waktu yang tersisa untuk diri sendiri. Dan ketika seseorang telah terbiasa hidupnya dirampas, mereka hampir tidak memiliki ruang untuk mempertanyakan apa yang sebenarnya keliru, karena perhatian mereka terus disibukkan oleh rutinitas yang dipaksakan.

Sebagian “perempuan” yang memilih untuk tidak menjadi ibu sering kali mendengar tuduhan seperti, “itu tidak menghargai mereka yang tidak bisa memiliki anak”. Ungkapan semacam ini serupa dengan kalimat seperti, “memalukan kalau tidak memilih padahal banyak orang telah berjuang untuk hak pilih”, atau “memalukan kalau tidak menghabiskan makanan sementara orang lain kelaparan”. Kami tidak melihat bagaimana melahirkan anak dapat mengembalikan kesuburan bagi orang yang infertil, ataupun mengapa harus ada kewajiban historis yang mesti dipenuhi dengan cara itu. Sama halnya, menghabiskan makanan di piring tidak akan menyelesaikan persoalan yang berakar pada kapitalisme dan nasionalisme. Ketiga contoh tersebut justru menunjukkan bagaimana kita terus didorong untuk mereproduksi dunia sebagaimana adanya, alih-alih membayangkan dan menciptakan kehidupan sebagaimana yang benar-benar kita inginkan. Semua itu tidak lebih dari “logika penghambaan”.

Bagi kami, memiliki anak lebih merupakan fenomena budaya daripada kebutuhan biologis. Sebab jika manusia tidak dapat hidup tanpa bernapas, tidur, minum, atau makan, manusia tetap dapat hidup tanpa bereproduksi. Itu berarti seseorang hanya memilih untuk tidak mewariskan gen, budaya, maupun harta bendanya. Namun “perempuan” yang menolak memiliki anak sering kali dicap sebagai sosok yang kelak akan menua dalam kesepian dan kepahitan. Penilaian semacam ini lebih mencerminkan tuntutan sosial daripada kebutuhan biologis. Dengan cara yang sama, “laki-laki” yang menjalani vasektomi kerap dianggap kurang maskulin dan gagal menjalankan “peran alaminya”. Sementara itu, “perempuan” yang disteril dianggap tidak berguna karena tidak dapat memenuhi fungsi reproduktif yang dilekatkan kepada mereka. Karena itulah banyak orang didorong untuk menghindari sterilisasi, terutama mereka yang dianggap sebagai “perempuan”.

Tuntutan untuk bereproduksi bahkan mendahului tuntutan terhadap seksualitas itu sendiri. Dari sinilah lahir penghinaan bukan hanya terhadap orang-orang non-heteroseksual, tetapi juga terhadap orang-orang aseksual. Terlepas apakah seseorang aseksual atau tidak, tidak seorang pun berhak menentukan bagaimana seseorang menggunakan tubuh dan organ seksualnya sendiri. Secara historis, otoritas agama, keluarga, dan patriarki telah berperan besar dalam memperkuat tuntutan tersebut, baik melalui kecaman terhadap autoseksualitas, mutilasi genital, pelarangan hubungan seksual sebelum pernikahan, maupun pengucilan anggota keluarga non-heteroseksual hanya karena mereka dianggap tidak dapat “meneruskan garis keturunan”.


Melawan Overpopulasi, Melawan Kesedihan Normalitas

Apa makna dari memaksakan dunia sebagaimana adanya sekarang kepada seorang anak? Bahkan hanya dari sudut pandang eksploitasi saja, itu berarti menempatkan mereka dalam kemungkinan menjadi penindas atau korban. Karena anak dipandang sebagai pihak yang lebih lemah, kekerasan bukanlah sesuatu yang langka (baik fisik, psikologis, maupun seksual), dan dalam banyak kasus bahkan berujung pada kematian. Kekerasan semacam itu tidak hanya meninggalkan dampak langsung seperti luka, kematian, atau infeksi seksual yang menular, tetapi juga membentuk cara seseorang memandang dunia ketika dewasa, sambil membawa trauma dan luka batin yang sering kali justru ikut mereproduksi kekerasan itu sendiri. Meskipun berbagai “solusi” terus ditawarkan, semuanya pada akhirnya tetap tidak memadai, karena hampir seluruh struktur masyarakat ini cenderung menghasilkan kekerasan. Hampir tidak ada satu pun fondasi utama dunia modern (otoritas, negara, kerja, sekolah, agama, patriarki, dan sebagainya) yang benar-benar berpihak pada kepentingan anak.

Dalam kehidupan yang telah dirampas oleh kerja dan tuntutan sosial, bertanggung jawab atas seorang anak berarti kehilangan lebih banyak kebebasan. Anak membutuhkan perhatian, kesabaran, dan kehadiran emosional. Namun dalam kondisi ekonomi yang rapuh dan setelah hari kerja yang melelahkan, memenuhi kebutuhan tersebut menjadi semakin sulit. Berapa banyak orang tua yang akhirnya menyerahkan kehadiran bagi anak mereka kepada pihak lain, seperti kerabat, pengasuh, atau institusi? Pendidikan yang seharusnya menjadi bagian penting dalam pertumbuhan seorang anak, justru diserahkan kepada institusi yang sekaligus merampas bagian besar dari kehidupan anak maupun orang tuanya. Akibatnya, kita hidup dalam situasi yang absurd: seorang anak dipaksa mempelajari begitu banyak hal yang tidak pernah mereka pilih sendiri, sementara sebagian besar darinya justru berfungsi menanamkan ideologi negara dan mempersiapkan mereka memasuki dunia kerja yang eksploitatif. Dalam konteks ini, teks lain karya Emilie Lamotte berjudul L’Education rationnelle de l’enfance masih terasa relevan untuk dibaca hingga hari ini.

Namun lebih dari itu, kami tidak ingin bertanggung jawab atas pendidikan yang akan kami berikan kepada seorang anak. Kami menolak memaksakan cara hidup kami kepada mereka, karena itu tidak akan memungkinkan mereka hidup untuk diri mereka sendiri. Kami juga tidak ingin menggantungkan harapan ataupun kekecewaan pada apa yang mungkin mereka menjadi melalui proses pembentukan diri mereka sendiri. Selain itu, kami tidak ingin tubuh dan organ seksual kami menjadi sumber penderitaan, bahkan jika itu “hanya” penderitaan akibat melahirkan. Kami ingin tubuh kami menjadi sumber kenikmatan, dan hanya kenikmatan, baik sendiri maupun bersama satu atau beberapa orang yang saling memberi persetujuan.

Pada akhirnya, keinginan untuk bereproduksi pun sering kali membuat hubungan seksual berubah menjadi tugas mekanis yang terasa sama melelahkannya seperti bekerja di jalur perakitan. Ketika hubungan pasangan tidak bertahan setelah kelahiran anak dan akhirnya berakhir, para orang tua sering kali tetap dipaksa untuk terus terikat satu sama lain. Dalam situasi seperti itu, anak kerap berubah menjadi semacam perekat bagi hubungan yang sebenarnya sudah tidak lagi diinginkan.

Alasan-alasan yang telah kami bahas sejauh ini berangkat dari pengalaman dan refleksi yang bersifat personal. Namun reproduksi tidak hanya berdampak pada mereka yang memilih untuk memiliki anak, melainkan juga pada manusia lain dan makhluk hidup non-manusia. Karena itu, alasan kami untuk tidak memiliki anak juga lahir dari analisis terhadap dunia tempat kita hidup dan posisi manusia di dalamnya.

Setiap keberadaan manusia membawa konsekuensi terhadap lingkungan. Dan seperti yang telah kami katakan sebelumnya, kami memandang manusia sebagai spesies yang telah mengalami overpopulasi. Namun “kejeniusaan” manusia berhasil menekan, atau setidaknya menunda, berbagai mekanisme alam yang dahulu mengembalikan keseimbangan ketika populasi menjadi berlebihan (epidemi, kelaparan, dan sebagainya). Dalam kondisi jumlah manusia seperti sekarang, hal itu menjadikan manusia sebagai ancaman nyata bagi makhluk hidup lainnya. Sebagian orang mungkin berpendapat bahwa masalah utamanya terletak pada gaya hidup modern yang dipenuhi konsumerisme dan pemborosan. Kami tidak menyangkal bahwa gaya hidup semacam itu memang bagian dari persoalan. Namun bahkan jika kita membayangkan, meski tampak kecil kemungkinannya, bahwa manusia berhenti hidup seperti sekarang dan mulai menjalani kehidupan yang lebih sederhana, jumlah populasi yang begitu besar tetap akan membawa dampak destruktif bagi makhluk hidup lainnya.

Bagi kami, perjuangan antinatalis memiliki keterkaitan yang logis dengan perjuangan antispesiesisme. Memang jumlah vegetarian dan vegan terus meningkat, tetapi konsumsi produk hewani dan aktivitas yang bergantung pada eksploitasi hewan tidak menunjukkan penurunan yang berarti. Salah satu penyebab utamanya adalah pertumbuhan populasi manusia itu sendiri. Pertumbuhan demografis ini juga memperparah berbagai bentuk pencemaran. Bahkan jika manusia menjalani kehidupan yang lebih sederhana, kita tetap akan terus menghasilkan limbah yang dibuang ke lingkungan. Ambil satu contoh saja: sulit membayangkan masyarakat manusia yang sepenuhnya hidup tanpa obat-obatan. Namun sebagian zat kimia dari obat yang kita konsumsi akan dikeluarkan melalui urin, dan baik air limbah itu diolah maupun tidak, pada akhirnya zat-zat tersebut tetap bermuara ke sungai. Hal yang sama berlaku pada hewan-hewan yang dieksploitasi demi kesenangan manusia, baik untuk konsumsi maupun hiburan. Hewan-hewan itu juga jatuh sakit dan ironisnya sering diberi antibiotik secara preventif. Zat-zat tersebut kemudian ikut mencemari sungai dan lingkungan. Penggunaan antibiotik secara masif juga membuat bakteri menjadi semakin resisten. Akibatnya, obat-obatan yang sebelumnya efektif perlahan kehilangan daya kerjanya, bahkan dalam banyak kasus menjadi tidak lagi mampu mengatasi penyakit sebagaimana mestinya.

Pertumbuhan populasi manusia berarti meningkatnya kebutuhan akan ruang hidup. Namun ruang itu terbatas, sementara kita membaginya dengan banyak makhluk hidup lainnya. Keterbatasan ini semakin diperparah oleh kenyataan bahwa sebagian wilayah bumi memang tidak layak dihuni (gurun, kawasan yang tercemar akibat aktivitas manusia seperti Chernobyl, Fukushima, dan daerah sekitarnya, serta berbagai wilayah lain yang rusak secara ekologis). Untuk terus berkembang, manusia pada akhirnya harus mengambil alih ruang hidup makhluk lain. Hal ini terlihat jelas dalam berbagai proyek pembangunan yang menghancurkan lahan basah, ekosistem yang justru menjadi salah satu ruang kehidupan paling kaya dan vital. Dengan cara yang sama, umat manusia yang terus bertambah, bahkan jika menjalani gaya hidup yang lebih sederhana sekalipun, tetap membutuhkan pangan dalam jumlah besar. Kebutuhan tersebut menuntut perluasan lahan pertanian, dan di sini kita bahkan belum membahas peternakan industri, yang hanya memperparah persoalan. Ketika lahan-lahan baru dibuka, populasi hewan dipaksa terusir, bahkan dimusnahkan sepenuhnya.

Belum lagi ekspansi kota yang tidak pernah berhenti, pembangunan kawasan hiburan seperti pantai wisata, resor olahraga musim dingin, pusat rekreasi air, desa wisata, kawasan bisnis, dan berbagai infrastruktur lainnya. Semua ini bukan hanya mengusir atau mengancam kehidupan banyak spesies, tetapi juga mengganggu proses reproduksi makhluk non-manusia. Bahkan aktivitas yang tampak “tidak berbahaya”, seperti wisata alam yang dilakukan tanpa kehati-hatian, misalnya para pemburu foto yang memasuki hutan tanpa mempertimbangkan dampaknya, serta kebisingan yang dihasilkan oleh aktivitas manusia, turut mengganggu keseimbangan kehidupan liar.

Selain menciptakan kawasan pertanian monokultur, produksi pangan untuk populasi yang terus bertambah juga mendorong eksploitasi tanah secara berlebihan melalui penggunaan pestisida, pupuk kimia, dan GMO. Semua itu memperdalam ketergantungan terhadap industri. Eksploitasi semacam ini melekat pada dunia kapitalis, yang selalu menuntut produksi lebih banyak dan lebih cepat. Industri yang menopang GMO, pupuk, dan pestisida juga membutuhkan eksploitasi manusia dalam skala besar, sekaligus eksploitasi non-manusia melalui pengujian terhadap hewan. Jika suatu hari kita ingin melepaskan diri dari ketergantungan pada industri semacam ini, atau setidaknya menguranginya secara signifikan, sulit membayangkan hal itu dapat tercapai dengan jumlah populasi manusia sebesar sekarang.

Kebutuhan akan eksploitasi manusia juga meningkat seiring pertumbuhan populasi. Bahkan masyarakat yang memilih gaya hidup lebih sederhana tetap memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi. Kita telah melihat bagaimana produksi pangan menuntut eksploitasi tanah secara besar-besaran, tetapi kebutuhan itu tidak berhenti di sana: pangan masih harus diproses dan didistribusikan. Selain makanan, masih ada kebutuhan dasar lain yang terus menuntut eksploitasi lebih jauh, seperti pembangunan perumahan, produksi obat-obatan, riset ilmiah, produksi alat-alat penunjang kehidupan, hingga ekstraksi bahan mentah yang diperlukan untuk menopang seluruh proses tersebut.

Sebagaimana telah kita lihat, aktivitas manusia selalu membawa dampak terhadap lingkungannya. Semakin besar populasi manusia, semakin besar pula aktivitas yang dilakukan, dan semakin luas serta merusak dampak yang ditimbulkannya. Bertambahnya jumlah manusia juga berarti meningkatnya kebutuhan akan eksploitasi, baik eksploitasi terhadap manusia maupun terhadap makhluk non-manusia. Pertumbuhan populasi ini menuntut bentuk organisasi sosial dan hierarki yang semakin kompleks, yang semakin dalam mencampuri kehidupan setiap individu serta hubungan antarmanusia, sambil semakin menjauhkan kemungkinan terciptanya dunia horizontal tanpa otoritas.

Kami berpandangan, meskipun hampir tidak lagi memiliki harapan bahwa hal itu benar-benar dapat terwujud, bahwa salah satu syarat mendasar bagi terciptanya dunia yang anarkis adalah pengurangan drastis populasi manusia, hingga struktur kota sebagai bentuk organisasi sosial tidak lagi memiliki alasan untuk terus dipertahankan. Bagi kami, pengurangan populasi semacam itu tidak boleh terjadi melalui kematian massal manusia. Karena itu, satu-satunya jalan yang kami bayangkan adalah menurunkan angka kelahiran hingga berada di bawah tingkat pertumbuhan populasi. Kami menolak hukum dan paksaan; berbeda dengan berbagai “solusi” palsu yang pernah diterapkan oleh negara-negara tertentu, bagi kami hal ini tidak boleh dilakukan secara koersif maupun melalui pembatasan paksa dalam bentuk apa pun. Sebaliknya, hal itu harus lahir dari refleksi individu, dari analisis terhadap situasi dunia saat ini, kemungkinan masa depannya, dan apa yang dapat dilakukan (atau justru tidak dilakukan) oleh setiap orang secara pribadi untuk menolak berpartisipasi dalam hegemoni manusia atas bumi.

Kami mendorong penggunaan alat kontrasepsi yang efektif (yang tentu tidak mencakup metode-metode palsu seperti “senggama terputus”), termasuk kontrasepsi permanen, serta akses terhadap aborsi tanpa intimidasi moral maupun manipulasi dari dokter atau keluarga yang berusaha menghalangi mereka yang ingin melakukannya. Kami juga mendorong pandangan bahwa seksualitas seharusnya pertama-tama dipahami sebagai cara untuk merasakan kenikmatan, baik sendiri maupun bersama orang lain, bukan semata-mata sebagai sarana reproduksi. Karena itu, kami mendukung berbagai praktik seksual non-reproduktif. Seksualitas tidak boleh menjadi kewajiban; ia harus berlangsung atas dasar persetujuan dan kehendak bebas.

Gagasan utama dari pendekatan kami adalah menghapus segala bentuk otoritas, sekaligus menentang dunia yang spesiesis, patriarkal, dan rasis ini. Kerja, negara, sekolah, agama, masyarakat, dan berbagai institusi lainnya terus dipertahankan atas nama “anak”, dan semuanya membutuhkan agar anak terus dilahirkan demi menjaga keberlangsungan sistem itu sendiri. Masa depan, sebagaimana dibayangkan hari ini, tampak suram bagi kami. Baik masa depan yang dijanjikan kapitalisme yang rakus maupun yang dijanjikan oleh kaum revolusioner penuh optimisme, keduanya bagi kami tampak seperti sebuah penipuan besar.

Pandangan ini mungkin terdengar pesimistis, tetapi bukan berarti kami memilih pasrah dan tidak melakukan apa-apa. Ketika seseorang tenggelam, tidak ada yang mencegahnya untuk terus berjuang. Dan meskipun harapan tampak kecil, setidaknya seseorang telah berusaha sekuat mungkin. Siapa tahu, terkadang perjuangan itu dapat menyelamatkannya. Kami menolak untuk berpartisipasi secara positif dalam dunia ini dengan menghadirkan manusia-manusia baru ke dalamnya, dan dengan demikian menolak turut mempertahankan masa depan yang dibangun di atas dominasi dan penderitaan tersebut.


Diterjemahkan dari: 

Sabtu, 16 Mei 2026

Kematian Kiri: Merebut Kembali Anti-Imperialisme dari Orientalisme Eurosentris dan Anti-Baratisme

Penulis: Hein Htet Kyaw

Dalam gerakan Kiri hari ini, banyak orang menyebut diri mereka sebagai “anti-imperialis”, tetapi memiliki pemahaman yang sangat dangkal tentang makna anti-imperialisme itu sendiri. Anti-imperialisme telah menjadi tema penting sejak periode setelah wafatnya Vladimir Lenin hingga akhir abad ke-20, dan terus berlanjut hingga sekarang. Namun, konsep ini kerap disalahartikan sebagai bentuk patriotisme, nasionalisme, dan kecintaan pada bangsa yang dimobilisasi secara militan untuk melawan imperialisme di era modern. Hal ini menjadi salah satu tanda paling jelas bahwa makna sejati anti-imperialisme telah terkikis di kalangan mereka yang mengidentifikasi diri sebagai Marxis-Leninis, Trotskis, maupun Sosial-Demokrat.


Anti-Imperialisme "Bangsa Proletar" dan "Defensisme Revolusioner"

Pada masa awal Perang Dunia I, gerakan Sosial-Demokrat terpecah ke dalam setidaknya dua arus utama: kaum nasionalis atau defensis, dan kaum internasionalis. Julius Martov, seorang Menshevik internasionalis yang berada dalam posisi minoritas, memandang perang sebagai “perang imperialis” dan menjadi contoh bagaimana kaum internasionalis terpinggirkan di dalam gerakan Sosial-Demokrat pada masa itu. Pandangan serupa juga disampaikan oleh Leon Trotsky, yang menyebut Internasional Kedua sebagai “cangkang kaku” yang harus dilepaskan dari sosialisme. Sementara itu, Vladimir Lenin mengecam Internasional Kedua sebagai “bangkai yang membusuk” dan menyerukan pembentukan Internasional Ketiga dalam konferensi Bolshevik di Bern pada awal 1915.

Namun dalam praktiknya, banyak Sosial-Demokrat meninggalkan solidaritas kelas internasional dan justru berpihak pada kepentingan nasional masing-masing dengan mendukung keterlibatan dalam perang. Pada masa Perang Dunia I, tokoh Anarkis seperti Peter Kropotkin bahkan menganggap Perancis sebagai bangsa tertindas dan Jerman sebagai bangsa penindas. Di sisi lain, Georgi Plekhanov, salah satu pelopor Marxisme di Rusia, secara terbuka mendukung upaya perang Kekaisaran Rusia. Lenin kemudian menyebut tokoh-tokoh Kiri yang mendukung perang, khususnya dari Internasional Kedua, sebagai “Sosial-Chauvinis”. Kecenderungan serupa kemudian diapropriasi oleh Joseph Stalin dalam bentuk “patriotisme sosialis” untuk membenarkan penggunaan nasionalisme selama Perang Dunia II, yang ia tafsirkan sebagai “perang revolusioner” demi mempertahankan kepentingan Uni Soviet.

Seiring dengan menguatnya gagasan "defensisme revolusioner" (revolutionary defencism) di kalangan Kiri, muncul pula teori geopolitik yang sangat mirip di kalangan pemikir proto-fasis. Enrico Corradini misalnya, menggantikan internasionalisme dan perjuangan kelas dalam teori Marxis dengan nasionalisme dan perjuangan antarbangsa, lalu merumuskan konsep geopolitik yang ia sebut sebagai “bangsa proletar”. Ia mempromosikan gagasan ini terutama melalui La Lupa, sebuah majalah Nasional-Sindikalis yang didirikan oleh Paolo Orano dari Partai Sosialis Italia. Majalah tersebut bahkan memandang perang di Libya melawan Kesultanan Utsmaniyah sebagai sebuah revolusi, dengan mengklasifikasikan Utsmaniyah sebagai bangsa imperialis plutokratis dan Libya sebagai bangsa proletar.

Dalam kerangka Corradini, seluruh bangsa diposisikan sebagai entitas tunggal yang bersifat proletar atau plutokratis, sehingga menghapus kontradiksi dan perjuangan kelas di dalamnya. Pola ini mirip dengan gagasan Mao Zedong tentang “demokrasi baru”, di mana empat kelas dalam bangsa didorong untuk bekerja sama demi melawan imperialisme asing. Tidak mengherankan jika Mao Zedong maupun Li Dazhao kemudian mengadopsi kerangka geopolitik “bangsa proletar” sebagai bentuk anti-imperialisme mereka, yang dalam banyak hal menyimpang dari tradisi Vladimir Lenin dan Marxisme klasik. Konsep ini juga diadopsi oleh Gerakan Maois Internasionalis (MIM) serta Partai Komunis Revolusioner AS, yang menggunakan istilah dan kerangka serupa dalam analisis mereka.


Anti-Imperialisme dalam Perspektif Kekalahan Revolusioner

Dalam konteks Soviet, Joseph Stalin juga pernah berada pada posisi yang cenderung sejalan dengan gagasan "defensisme revolusioner".

Ketika Lev Kamenev dan Stalin memimpin Pravda, sikap Bolshevik menunjukkan keterbukaan terhadap kerja sama dengan Pemerintahan Sementara Rusia. Seruan untuk segera mengakhiri perang ditinggalkan, sementara para tentara justru didorong untuk tetap bertempur di garis depan dan menjaga ketertiban. Kamenev berpendapat bahwa selama perjanjian damai belum tercapai, rakyat Rusia harus tetap berada di front dan melawan Jerman dengan kekuatan penuh. Stalin mengemukakan pandangan serupa dengan menyatakan bahwa seruan “hentikan perang” tidak realistis. Pendekatan ini diajukan kepada Komite Petersburg pada 18 Maret dan memperoleh dukungan. Namun, posisi tersebut bertentangan langsung dengan sikap anti-perang Vladimir Lenin yang saat itu berada di pengasingan. Untuk menghindari konflik terbuka dengan garis Lenin, redaksi Pravda memilih untuk tidak mempublikasikan tulisan Lenin yang berjudul "Letters from Afar", kecuali bagian pertama yang telah melalui penyensoran.

Pada masa penandatanganan Perjanjian Brest-Litovsk, sejumlah tokoh Bolshevik seperti Nikolai Bukharin, Andrei Bubnov, Moisei Uritsky, dan Georgy Lomov berpendapat bahwa tentara Soviet seharusnya mengadopsi strategi "perang revolusioner" (defensisme revolusioner) sebagai praktik anti-imperialisme. Sebaliknya, Vladimir Lenin berpendapat bahwa syarat-syarat yang diajukan Jerman perlu diterima, sambil tetap memanfaatkan pertentangan antar kekuatan imperialis untuk menunda invasi sejauh mungkin. Ia mengkritik faksi Nikolai Bukharin sebagai pelaku “retorika revolusioner kosong”. Sementara itu, gagasan yang ia kembangkan sendiri dikenal sebagai “kekalahan revolusioner” (revolutionary defeatism). Di sisi lain, Leon Trotsky dalam misinya di Perjanjian Brest-Litovsk, mengemukakan posisi “tidak untuk perang dan tidak untuk perdamaian”, karena ia meyakini bahwa kaum buruh Jerman berada di ambang revolusi mereka sendiri. Sejak awal Perang Dunia I, Lenin telah merumuskan strategi untuk “mengubah perang imperialis menjadi perang saudara”, sebagai tandingan terhadap gagasan "defensisme revolusioner" yang dianut oleh Internasionale Kedua.

Namun, gagasan kekalahan revolusioner Lenin ini pada akhirnya memudar dari panggung politik selama beberapa dekade setelah kematiannya. Seiring dengan distorsi terhadap Leninisme oleh Joseph Stalin, Federasi Rusia kemudian terlibat dalam berbagai konflik yang justru berlandaskan patriotisme dan nasionalisme. Padahal, Lenin telah memperingatkan secara tegas bahwa "defensisme revolusioner" merupakan manifestasi paling mencolok dari gelombang borjuis kecil yang menyapu hampir seluruh kehidupan politik, sekaligus menjadi penghambat utama bagi kemajuan dan keberhasilan revolusi.


Relevansi Anti-Imperialisme di Abad ke-21

Moralitas kelompok-kelompok Kiri, khususnya yang mengklaim berafiliasi dengan Marxisme-Leninisme dan anti-imperialisme, dalam praktik historisnya kerap tidak berpijak pada analisis sejarah yang konsisten. Ia sering tampak tidak otentik, tidak universal, serta cenderung bersifat oportunistik atau semata-mata strategis.

Pada awal 1941, gerakan anti-perang dengan slogan seperti: “Hitler tidak menyerang kita, mengapa kita harus menyerang Hitler”, banyak dipimpin oleh kelompok yang menyebut diri sebagai Sosial-Demokrat dan Komunis. Setelah Pakta Molotov–Ribbentrop ditandatangani antara Jerman Nazi dan Uni Soviet, Partai Komunis AS mengambil posisi tegas sebagai anti-perang, dengan menggambarkan Perang Dunia II sebagai konflik antar-imperialis. Mereka bahkan menentang keterlibatan Amerika Serikat dalam perang dengan melakukan infiltrasi ke dalam America First Committee, sebuah kelompok yang mendorong kebijakan isolasionisme. 

Namun, setelah Juni 1941, ketika Operasi Barbarossa dilancarkan oleh Jerman Nazi ke Uni Soviet, posisi tersebut berubah secara drastis. Kelompok yang sebelumnya menolak perang berbalik mengecam America First Committee sebagai front fasis. Mereka yang telah melupakan gagasan asli Vladimir Lenin dan menganggap defensisme revolusioner versi Joseph Stalin sebagai “Leninis”, kemudian mencampurkan anti-imperialisme dengan nasionalisme. Dari sini muncul pandangan bahwa kaum Marxis dan nasionalis sayap kanan dapat bersatu dalam setiap perjuangan anti-imperialis.

Padahal, Lenin sendiri membedakan secara tegas gerakan anti-imperialis ke dalam dua kategori:

Pertama, perjuangan progresif dengan hasil progresif, yaitu gerakan yang melemahkan sistem kapitalisme global dan mendorong dunia menuju kemungkinan masa depan sosialis. Gerakan seperti ini tetap ia dukung, bahkan jika dipimpin oleh borjuasi nasional, selama mampu memberikan pukulan terhadap kekuatan imperialis besar.

Kedua, perjuangan reaksioner dengan hasil reaksioner, yaitu gerakan yang justru berupaya kembali ke tatanan feodal atau monarkis. Jika suatu perjuangan dipimpin oleh fundamentalisme religius atau elit monarki yang ingin menghidupkan kembali kekuasaan lama yang menindas rakyat, maka Lenin cenderung bersikap kritis atau tidak memberikan dukungan.

Dalam kerangka tersebut, perjuangan yang dipimpin oleh kekuatan-kekuatan feodal-klerikal yang reaksioner seperti Hamas, Hizbullah, dan ISIS melawan imperialisme dan kapitalisme tidak seharusnya didukung. Namun dalam praktiknya hari ini, kaum Sosial-Demokrat di AS bersama sejumlah kelompok Kiri lainnya justru enggan mengecam atau mengutuk kejahatan perang yang dilakukan oleh Hamas, dengan dalih bahwa mereka sedang memimpin sebuah revolusi.

Jika dibandingkan secara konkret, sebuah “demokrasi boneka Barat” yang masih membuka ruang bagi serikat pekerja, kebebasan pers, dan pendidikan sekuler, tetap merupakan peningkatan material yang signifikan dibandingkan sebuah kediktatoran klerikal yang represif, yang bahkan menghukum perempuan karena hal-hal sepele seperti memperlihatkan rambutnya. Dalam kerangka ini, dukungan terhadap Hamas, Hizbullah, IRGC, dan ISIS dapat dipandang sebagai posisi yang bersifat reaksioner, atau bahkan kontra-revolusioner.

Dalam konteks Perang Perancis-Prusia (yang berujung pada Komune Paris 1871), Mikhail Bakunin memang menyerukan perlawanan terhadap invasi Jerman. Namun, ia menegaskan bahwa perlawanan tersebut harus diwujudkan melalui pembentukan kekuatan revolusioner yang berbasis pada pekerja dan petani, yang berdiri independen dari negara Perancis dan bahkan beroposisi terhadapnya. Dengan demikian, membela rezim feodal yang menindas atas nama melawan imperialisme Barat tidak dapat disebut sebagai “perang revolusioner” maupun “anti-imperialisme”. Pendekatan semacam ini justru mencerminkan logika geopolitik yang menyamakan seluruh negara di bawah rezim represif sebagai “bangsa proletar”, sehingga menghapus kontradiksi sosial di dalamnya.

Jika kaum Kiri di Barat terus menjalin aliansi secara tidak kritis dengan simpatisan Hamas, Hizbullah, IRGC, junta militer Myanmar, rezim Baathis, maupun kekuatan sub-imperialis seperti BRICS, hal ini berisiko memperkuat kelompok-kelompok paling reaksioner yang memobilisasi sentimen nasionalis demi mempertahankan kekuasaan. Dampaknya, kelompok-kelompok progresif di dalam masyarakat tersebut justru semakin terpinggirkan, dan dalam kondisi terburuk mereka dapat terdorong untuk mendukung apa yang disebut “imperialisme kemanusiaan”. 

Jika kaum Kiri di Barat bahkan tidak mampu menjalankan tugas dasarnya, yaitu “mengubah perang imperialis menjadi perang sipil”, maka sikap merendahkan komunitas diaspora dengan cara menyebut warga Venezuela yang merayakan penangkapan Nicolás Maduro atau warga Iran yang merayakan kematian Ali Khamenei sebagai pro-imperialis, atau menggambarkan mereka sebagai orang yang tidak melek politik, merupakan bentuk kebodohan, rasisme, dan narsisme yang terang-terangan.

Selain itu, ketika penduduk lokal menuntut sanksi, hal tersebut tidak bisa serta-merta disebut sebagai imperialisme. Platform Anti-Imperialis Dunia (WAP) justru mendorong penghapusan sanksi Barat terhadap Myanmar, sejalan dengan lobi junta militer Myanmar, sementara gerakan serikat buruh dan kelompok progresif di sana secara aktif menyerukan penerapan Pasal 33 Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) melalui Konfederasi Serikat Buruh Internasional (ITUC). Dalam konteks ini, sikap Platform Anti-Imperialis Dunia (WAP) tampak narsistik, Eurosentris, dan mencerminkan mentalitas “penyelamat kulit putih”.

Jika Vladimir Lenin sendiri pernah menyatakan: “Tolong catat suara saya untuk menerima senjata dan dukungan dari bandit imperialis Anglo-Prancis”, maka tidak ada alasan untuk menyangkal hak masyarakat di negara-negara non-imperialis dalam memanfaatkan kekuatan imperialis, meskipun kepentingannya berbeda. Menolak hal ini justru mencerminkan sikap hipokrit, kolonial, dan imperialistik terhadap rakyat yang dieksploitasi di negara-negara non-imperialis, sementara kaum Kiri di Barat justru menikmati sistem kesejahteraan di negara-negara imperialis. Pola pikir seperti ini juga tampak pada tokoh-tokoh seperti Noam Chomsky dan Tariq Ali.

Sebagai contoh, Noam Chomsky dan Tariq Ali kerap mengalihkan tanggung jawab rezim pelaku genosida di Bosnia, rezim Khmer Merah, genosida Rwanda, Kampanye Anfal, dan berbagai tragedi lainnya kepada imperialisme Barat, tetapi tidak menawarkan solusi konkret untuk genosida Rohingya di Myanmar. Bagi mereka, Responsibility to Protect, sanksi, dan intervensi internasional dianggap sebagai bentuk imperialisme. Namun bagi masyarakat Rohingya dan para aktivis, langkah-langkah tersebut justru menjadi satu-satunya harapan di bawah rezim militer Myanmar yang represif.

Dalam cara pandang seperti ini, nyawa manusia direduksi menjadi sekadar angka dalam permainan geopolitik yang berfokus pada menyalahkan Barat, alih-alih mendorong upaya internasional yang terorganisir untuk menghentikan genosida dan pembantaian. Anti-imperialisme yang mereka usung hanyalah reaksi dangkal terhadap imperialisme Amerika Serikat, bahkan belum mencapai standar geopolitik “bangsa proletar”, apalagi tingkat analisis anti-imperialisme Lenin. Kenyataan bahwa pandangan seperti ini menjadi wajah anti-imperialisme di abad ke-21 menunjukkan adanya pergeseran problematis dalam gerakan Kiri global.

Di abad ke-21, imperialisme tidak seharusnya didefinisikan oleh kaum Kiri di negara-negara imperialis yang bahkan tidak mampu menjalankan satu tugas historisnya yang paling mendasar. Otoritas untuk mendefinisikan hal tersebut seharusnya diambil kembali oleh kelas pekerja dan kaum tani di negara-negara berkembang yang justru menjadi pihak yang dieksploitasi oleh negara-negara imperialis. Sudah saatnya kelompok-kelompok tertindas menulis sejarah mereka sendiri, merumuskan tuntutan mereka sendiri, dan menafsirkan realitas mereka dengan kerangka mereka sendiri. Kaum Kiri di negara-negara imperialis yang gagal menjalankan tugas “mengubah perang imperialis menjadi perang saudara”, tidak berada dalam posisi yang layak untuk menggurui mereka yang telah melawan rezim diktator dengan sumber daya terbatas.

Di tengah berbagai kontradiksi antara warga Venezuela, Iran, Kurdi, Baloch, dan Myanmar yang memiliki kepentingan berbeda dari kaum Kiri yang mengaku "anti-imperialis" namun dalam praktiknya justru mencerminkan geopolitik fasis, hanya tersisa dua kemungkinan: Pertama, mereka mulai mendengarkan suara nyata dari kelompok-kelompok tertindas di kawasan tersebut. Atau kedua, kelompok-kelompok tertindas itu akan mencari aliansi dengan kekuatan lain yang memandang “imperialisme kemanusiaan” sebagai bentuk realpolitik. 


Diterjemahkan dari: 

Jumat, 15 Mei 2026

Eksplorasi Menyeluruh tentang Perspektif Anarko-Sindikalis terhadap Perdebatan Mengenai Kecerdasan Buatan

Peneliti: Hasse-Nima Golkar

Menyusul terbitnya artikel pertama, “How Should We Confront the Digital Age?” (9 April 2026), dan sebagai kelanjutannya, tulisan ini berupaya mengkaji sejauh mungkin pokok-pokok utama argumen dari pihak pendukung maupun penentang.

Para pendukung penggunaan kecerdasan buatan untuk membuat poster dan gambar dalam gerakan politik atau sosial, termasuk arus-arus anarkis, biasanya berusaha menggeser pembahasan dari “kepemilikan alat” menuju “fungsi sosial alat”. Dengan kata lain, alih-alih hanya berfokus pada asal-usul teknologi atau perusahaan yang menciptakannya, mereka menekankan pertanyaan: “Siapa yang dilayani oleh alat ini, dan untuk tujuan apa alat ini digunakan?”

Kesadaran publik dianggap lebih penting daripada “kemurnian” alat itu sendiri. Banyak kelompok radikal atau anti-otoritarian tidak memiliki anggaran besar, platform media, ataupun akses yang luas. Dalam kondisi seperti itu, produksi gambar yang cepat dan murah dapat membantu menyampaikan pesan-pesan politik, anti-kapitalis, anti-perang, atau anti-fasis.


1. Argumen Para Pendukung:

Jika tujuannya adalah membangun kesadaran politik di tengah masyarakat luas, maka penolakan total terhadap alat-alat baru hanya karena asal-usul kapitalistiknya justru secara praktis merampas kemungkinan gerakan untuk berkomunikasi secara efektif. Dari sudut pandang ini, kecerdasan buatan dapat melayani kekuasaan maupun perlawanan terhadapnya, sebagaimana mesin cetak, radio dan televisi, internet, atau Photoshop pernah digunakan untuk tujuan yang sama sekali berbeda.

A) Penolakan mutlak terhadap kecerdasan buatan dapat berubah menjadi bentuk “elitisme artistik”

Para pendukung kadang berpendapat bahwa penolakan keras terhadap gambar yang dihasilkan AI secara tidak langsung menyiratkan bahwa hanya mereka yang memiliki keterampilan profesional, waktu, atau uang yang berhak memproduksi konten visual. Padahal banyak aktivis politik bukanlah desainer profesional, tidak memiliki anggaran yang memadai, atau hidup di negara-negara represif yang membatasi akses terhadap jaringan profesional. Karena itu, kecerdasan buatan dapat “mendemokratisasi” produksi media. Dengan kata lain, sebagaimana kamera ponsel mematahkan monopoli media, kecerdasan buatan juga dapat mengurangi sejauh mungkin monopoli atas produksi citra politik.

B) Persoalan utamanya adalah “kepemilikan korporasi”, bukan teknologinya itu sendiri

Para penentang sering kali lebih menyoroti eksploitasi karya para seniman oleh korporasi besar daripada kemungkinan penciptaan gambar oleh mesin itu sendiri. Sebagai tanggapan, para pendukung mengatakan bahwa kritik terhadap korporasi teknologi besar memang valid, tetapi hal itu tidak seharusnya berujung pada boikot total terhadap alatnya. Sebaliknya, yang perlu diperjuangkan adalah model-model yang bebas, sumber terbuka, kooperatif, dan non-korporatif. Dengan kata lain, solusinya bukan menghancurkan kecerdasan buatan, melainkan mensosialisasikan dan mendesentralisasikannya. Argumen ini penting bagi kaum anarkis karena selaras dengan gagasan anti-monopoli dan anti-sentralisasi.

C) Seni politik sejak lama menggunakan “kolase” dan rekombinasi

Banyak gerakan seni radikal, mulai dari dadaisme hingga punk dan kaum Situationist International, bertumpu pada penggunaan ulang, manipulasi, dan rekombinasi karya-karya yang sudah ada. Karena itu, kecerdasan buatan dipandang sebagai kelanjutan dari tradisi rekombinasi digital tersebut, bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Dari sudut pandang ini, pertanyaan utamanya bukan apakah “kecerdasan buatan dilatih menggunakan gambar-gambar lain”, melainkan apakah hasil akhirnya berkontribusi pada kekuatan kolektif, kesadaran, dan perlawanan.

D) Penggunaan secara sadar berbeda dengan konsumerisme buta

Banyak pendukung yang lebih berhati-hati tidak membela kecerdasan buatan “tanpa batas”. Mereka justru berpendapat bahwa seniman independen tidak boleh disingkirkan, kerja kreatif manusia tidak boleh diremehkan, dan transparansi mengenai sumber gambar serta hak cipta harus tetap dijaga. Namun pada saat yang sama, penggunaan yang terbatas, kritis, dan memiliki tujuan yang jelas untuk poster pendidikan atau politik tidak serta-merta berarti mendukung kapitalisme teknologi.

Sebagai contoh, terdapat kontradiksi ketika para aktivis anti-kapitalis menggunakan platform media sosial kapitalistik. Namun, dalam banyak keadaan tampaknya memang tidak ada jalan lain selain memanfaatkannya secara instrumental demi menyebarkan pesan.

E) Jika kaum anarkis dan kekuatan anti-otoritarian progresif lainnya meninggalkan serta memboikot alat ini sepenuhnya, maka hanya kaum otoritarian (pemerintah, korporasi, kelompok kanan-jauh, dan mesin propaganda kapitalis) yang akan menggunakannya dan memperoleh kendali penuh atas teknologi tersebut. Karena itu, sebagian orang berpendapat bahwa keterlibatan yang kritis dan sadar dalam arena teknologi lebih baik daripada menarik diri sepenuhnya. Ini merupakan salah satu argumen terpenting dari pihak pendukung. Dengan demikian, jawaban para pendukung biasanya bukan bahwa segala hal tentang kecerdasan buatan itu “baik”, melainkan bahwa teknologi pada dirinya sendiri tidak secara inheren membebaskan ataupun menindas; karakter suatu teknologi ditentukan oleh struktur kepemilikan dan cara penggunaannya.

Dalam kondisi media yang timpang seperti sekarang, kecerdasan buatan dapat menjadi alat yang murah dan cepat untuk membangun kesadaran politik. Penggunaannya secara sadar, terarah, kritis, dan bertanggung jawab dalam produksi poster politik dapat dipandang sebagai bagian dari perjuangan memperluas akses universal terhadap alat-alat produksi media, bukan sebagai pengkhianatan terhadap seni maupun kreativitas manusia.


2. Argumen Para Penentang:

Di kalangan anarkis, penolakan terhadap penggunaan kecerdasan buatan, termasuk untuk membuat poster atau citra politik, biasanya bukan sekadar reaksi emosional terhadap “teknologi baru”. Penolakan itu berakar pada sejumlah tradisi filosofis dan etis yang mendalam: kritik terhadap kapitalisme, kritik terhadap kerja yang teralienasi, pembelaan atas otonomi manusia, serta penolakan terhadap pemusatan kekuasaan teknologi.

Pengelompokan filosofis atas argumen para penentang dapat dijelaskan sebagai berikut:

A) Kritik terhadap eksploitasi tersembunyi

Seni dan poster politik berbasis AI dianggap “dibangun di atas pencurian kolektif”. Ini merupakan salah satu argumen terpenting dari pihak penentang. Dari sudut pandang mereka, model-model pembuat gambar dilatih tanpa persetujuan para seniman; karya jutaan ilustrator, desainer, dan pelukis diambil serta digunakan, sementara keuntungan utamanya justru mengalir kepada korporasi teknologi. Karena itu, penggunaan kecerdasan buatan bahkan untuk tujuan progresif tetap berarti menggunakan produk yang dibangun di atas eksploitasi kerja kreatif orang lain. Dalam perspektif ini, persoalannya bukan semata-mata “alat”, melainkan relasi produksi itu sendiri. Argumen ini dekat dengan tradisi anarkisme anti-kapitalis, kritik Marxis terhadap nilai-lebih, serta kritik terhadap kepemilikan monopolistik.

B) Keterasingan dari proses kreatif

Sebagian penentang berpendapat bahwa seni politik bukan sekadar “hasil visual”, melainkan bagian dari proses manusiawi berupa berpikir, mencipta, dan pengalaman kolektif. Ketika seseorang hanya mengetik beberapa kata lalu gambar langsung dihasilkan, hubungan antara tubuh, keterampilan, waktu, dan pengalaman dengan seni menjadi terputus, sementara kreativitas berubah menjadi konsumsi yang serba instan. Dalam pandangan ini, kecerdasan buatan mengancam bukan hanya pekerjaan seniman, tetapi juga makna penciptaan manusia itu sendiri. Argumen ini berkaitan dengan kritik Herbert Marcuse terhadap masyarakat teknologi, pemikiran Murray Bookchin, hingga tradisi kerajinan anti-industrial.

C) Ketergantungan pada infrastruktur korporasi yang tersentralisasi

Sebagian penentang dari kalangan anarkis berpendapat bahwa sebagian besar produksi gambar berbasis AI bergantung pada korporasi raksasa, dijalankan melalui server yang tersentralisasi, dan membutuhkan infrastruktur kapitalisme global. Karena itu, masyarakat yang bebas dan terdesentralisasi tidak mungkin dibangun dengan alat-alat yang pada dasarnya bersifat tersentralisasi, mengawasi, dan monopolistik. Akibatnya, meskipun isi poster bersifat radikal, cara produksinya tetap dapat mereproduksi relasi dominasi.

D) Komodifikasi total atas imajinasi

Sebagian kritikus yang lebih radikal meyakini bahwa kecerdasan buatan merepresentasikan tahap akhir dari komodifikasi: mula-mula kerja industri, kemudian komunikasi, lalu emosi, dan kini imajinasi serta penciptaan citra manusia itu sendiri. Dalam pandangan ini, kapitalisme kini berupaya mengotomatisasi bahkan mimpi dan imajinasi manusia. Karena itu, penolakan terhadap kecerdasan buatan dipandang sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap “mekanisasi pikiran”.

E) Akselerasi dan pendangkalan politik

Para penentang juga berpendapat bahwa kecerdasan buatan mendorong produksi konten secara massal dan serba cepat, tetapi sering kali dengan mengorbankan kedalaman intelektual. Dengan kata lain: poster semakin banyak, tetapi refleksi semakin sedikit. Konsumsi visual meningkat, sementara partisipasi yang sungguh-sungguh justru berkurang. Akibatnya, politik berubah menjadi “arus citra yang tak pernah berhenti”.


3. Pandangan Kaum Anarkis Klasik dan Kontemporer

Mulai dari pandangan Mikhail Bakunin, Pyotr Kropotkin hingga Murray Bookchin mengenai teknologi, industri, dan teknik; sekaligus perbandingan antara perspektif anarkis dan Marxis tentang otomatisasi, serta analisis estetika poster protes di era digital, termasuk kecerdasan buatan.

Berlawanan dengan anggapan umum, sebagian besar anarkis klasik bukanlah “anti-teknologi”. Pada umumnya mereka tidak menolak mesin atau ilmu pengetahuan itu sendiri; yang mereka tolak adalah cara teknologi diorganisasikan dalam struktur negara, kapitalisme, dan hierarki. Bagi banyak dari mereka, pertanyaan utamanya bukanlah: “Apakah teknologi itu baik atau buruk?”, melainkan: “Siapa yang mengendalikan teknologi, untuk tujuan apa, dan di dalam relasi sosial seperti apa teknologi itu digunakan?”

A) Mikhail Bakunin

Ilmu pengetahuan dan industri: membebaskan atau menjadi alat dominasi?

Bakunin tidak menentang ilmu pengetahuan maupun industri. Ia bahkan meyakini bahwa ilmu pengetahuan, pendidikan, dan perkembangan industri dapat membebaskan manusia dari kemiskinan dan ketergantungan. Namun, kekhawatiran utamanya adalah bahwa pengetahuan dan teknologi ketika berada di tangan elite, akan berubah menjadi alat dominasi. Ia sangat takut pada apa yang disebutnya sebagai “pemerintahan para ahli”, yakni suatu masyarakat di mana teknokrat, ilmuwan, manajer, atau perencana terpusat memerintah manusia atas nama “pengetahuan”.

Bakunin memiliki sebuah pernyataan terkenal yang pada intinya menyatakan bahwa jika para ilmuwan menjadi penguasa masyarakat, maka bentuk kediktatoran terburuk akan muncul, karena kekuasaan mereka dibenarkan melalui klaim ilmiah.

Ia tidak menganggap industri sebagai sesuatu yang pada dirinya jahat, tetapi percaya bahwa di bawah kapitalisme mesin-mesin justru memperbudak manusia, sementara dalam masyarakat bebas mesin yang sama dapat mengurangi kerja yang melelahkan. Karena itu, menurut pandangannya, persoalannya terletak pada “kepemilikan” dan “pemusatan kekuasaan”, bukan pada teknologinya sendiri.

B) Pyotr Kropotkin

Sebagai ilmuwan, geograf, dan pemikir yang dipengaruhi ilmu-ilmu alam, Kropotkin mungkin merupakan anarkis klasik yang paling optimistis terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi: teknologi yang melayani kerja sama dan kehidupan manusia.

Berbeda dengan kaum Marxis sentralis, ia menginginkan teknologi yang terdesentralisasi, berskala lokal, dan melayani komunitas-komunitas bebas. Dalam bukunya yang terkenal, “Fields, Factories and Workshops” (1899), Kropotkin mengkritik pembagian kerja industri yang massive dan tersentralisasi. Ia percaya bahwa kapitalisme mengubah manusia menjadi bagian-bagian kecil dari mesin; pekerja hanya melakukan satu gerakan berulang, sementara kehidupan manusia menjadi terpecah-pecah. Sebaliknya, ia membayangkan masyarakat di mana pertanian, industri, seni, dan pengetahuan dipadukan dalam skala yang lokal dan manusiawi.

Teknologi yang baik dan diinginkan, menurut Kropotkin, adalah teknologi berskala kecil dan partisipatoris, yang mengurangi ketergantungan manusia pada negara dan kapital. Ia percaya bahwa mesin seharusnya membebaskan manusia dari kerja yang melelahkan, bukan mengubah manusia menjadi pelengkap mesin.

C) Bakunin dan Kropotkin tidak pernah anti-ilmu pengetahuan, dan juga tidak menyerukan kembalinya masyarakat ke era pra-industri. Berbeda dengan aliran “primitivisme”, mereka bukan penentang industri secara mutlak. Pada umumnya mereka mendukung listrik, industri, teknik, pendidikan ilmiah, bahkan otomatisasi, selama berada di bawah kendali kolektif dan horizontal (non-hierarkis).

D) Murray Bookchin

Murray Bookchin membangun jembatan antara anarkisme, ekologi, dan kritik terhadap teknologi modern dalam masyarakat kapitalis. Berbeda dengan kaum primitivis, ia tidak sepenuhnya menolak teknologi, tetapi percaya bahwa teknologi di bawah kapitalisme tidak pernah benar-benar netral.

Gagasan utama Bookchin bertumpu pada prinsip bahwa “persoalannya bukan sekadar teknologi; persoalannya adalah masyarakat yang menghasilkan teknologi tersebut”. Ia berpendapat bahwa teknologi modern umumnya dirancang untuk pengendalian, pendisiplinan, pemusatan kekuasaan, dan pertumbuhan ekonomi tanpa akhir. Karena itu, bahkan mesin-mesin yang tampak berguna tetap mereproduksi relasi dominasi di dalam struktur kapitalisme.

Kritik Bookchin terhadap “rasionalitas instrumental” dipengaruhi oleh kritik Mazhab Frankfurt. Ia berpendapat bahwa masyarakat modern mereduksi segala sesuatu menjadi persoalan efisiensi, produktivitas, kecepatan, dan pengelolaan. Akibatnya alam, manusia, bahkan hubungan sosial diperlakukan sebagai “sumber daya yang dapat dikelola”. Di titik inilah kritik-kritik kontemporer terhadap kecerdasan buatan memiliki keterkaitan kuat dengan pemikirannya. Namun, penting untuk ditegaskan bahwa ia bukanlah anti-teknologi.

Bookchin mendukung apa yang kadang ia sebut sebagai “teknologi pembebasan”: energi terbarukan, teknologi berskala kecil, produksi lokal, sistem yang terdesentralisasi, serta otomatisasi yang mengurangi kerja berat manusia. Berbeda dengan kaum primitivis, ia dengan tegas menolak gagasan bahwa “demi kebebasan, peradaban dan teknologi harus ditinggalkan”. Baginya, persoalan utamanya adalah “hierarki”, bukan teknik itu sendiri. Dalam pandangannya, masyarakat yang demokratis dan berbasis lokal dapat mengorganisasi teknologi ke arah yang lebih membebaskan.


4. Keterkaitan Perspektif-Perspektif Ini dengan Perdebatan tentang Kecerdasan Buatan

Jika para pemikir ini masih hidup hari ini, kemungkinan besar tanggapan mereka akan bersifat kompleks dan berlapis-lapis.

Mikhail Bakunin mungkin akan bertanya: Siapa yang mengendalikan algoritma? Apakah kecerdasan buatan telah berubah menjadi “pemerintahan para ahli”?

Pyotr Kropotkin mungkin akan bertanya: Apakah kecerdasan buatan memperkuat kerja sama antarmanusia, atau justru membuat manusia semakin terasing dan bergantung?

Sementara Murray Bookchin kemungkinan akan bertanya: Apakah kecerdasan buatan melayani pemusatan kekuasaan dan konsumerisme, atau dapatkah ia diorganisasi ulang dalam struktur lokal dan demokratis?


5. Perbandingan Perspektif Anarkis dengan Pandangan Karl Marx tentang Otomatisasi dan Mesin

Terlepas dari perbedaan mendasar antara marxisme dan anarkisme, keduanya memiliki satu titik temu penting: di bawah kapitalisme, mesin dan teknologi sering kali berubah menjadi alat dominasi dan eksploitasi. Namun setelah titik itu, jalan keduanya mulai berpisah.

A) Pandangan Marx: mesin sebagai alat dominasi sekaligus kemungkinan pembebasan

Karl Marx memiliki pandangan yang bersifat ganda terhadap mesin. Dalam Das Kapital, ia menjelaskan bahwa di bawah kapitalisme, mesin memisahkan pekerja dari keterampilannya, membuat mereka bergantung pada pabrik, meningkatkan kecepatan dan intensitas kerja, serta mengubah manusia menjadi “pelengkap mesin”. Bagian dari kritik Marx ini memiliki kemiripan yang kuat dengan kritik kaum anarkis.

Namun, perbedaan utamanya terletak pada keyakinan Marx bahwa perkembangan industri berskala besar secara bersamaan juga menciptakan kondisi material bagi pembebasan di masa depan. Mengapa? Karena menurutnya, otomatisasi dapat mengurangi kerja yang diperlukan, meningkatkan produktivitas, dan membebaskan manusia dari kerja yang melelahkan. Dengan demikian, persoalan utamanya bukanlah mesin itu sendiri, melainkan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi.

Marx membayangkan bahwa apabila pabrik, industri, dan mesin disosialisasikan, teknologi yang sama dapat menjadi dasar bagi masyarakat yang lebih bebas.

B) Perspektif anarkis: persoalannya bukan hanya kepemilikan, tetapi juga pemusatan kekuasaan

Kaum anarkis pada umumnya sepakat dengan Marx bahwa kapitalisme menggunakan mesin untuk mengeksploitasi manusia. Namun, mereka jauh lebih curiga terhadap “industri berskala besar yang tersentralisasi”.

Sebagai contoh, Mikhail Bakunin khawatir bahwa bahkan jika kepemilikan pribadi dihapuskan, struktur industri modern yang tersentralisasi, birokrasi, dan manajemen teknis tetap dapat melahirkan bentuk dominasi baru. Dengan kata lain, jika pabrik hierarkis berskala besar tetap dipertahankan, maka negara hanya akan menggantikan posisi kapitalis.

Inilah tepatnya kritik yang sejak lama diajukan kaum anarkis terhadap Uni Soviet. Di sana kapitalis swasta memang disingkirkan, tetapi negara dan aparat teknokratis tetap dipertahankan.

C) Marx dan optimisme historis terhadap industri

Karl Marx pada umumnya lebih optimistis terhadap perkembangan kekuatan produktif. Ia percaya bahwa kapitalisme, tanpa disengaja, menciptakan kelimpahan material dalam skala besar, dan kelimpahan itu dapat menjadi landasan bagi komunisme. Karena itu, industri berskala besar, otomatisasi, dan teknologi maju dipandangnya sebagai tahap sejarah yang memang diperlukan sampai batas tertentu. 

D) Kaum anarkis dan skeptisisme terhadap “skala besar”

Sebaliknya, banyak kaum anarkis, terutama Pyotr Kropotkin, sangat memberi perhatian pada persoalan “skala”. Mereka berpendapat bahwa ketika teknologi menjadi terlalu tersentralisasi, manusia akan semakin bergantung, pasif, dan terasing dari kendali atas hidup mereka sendiri. Karena itu, mereka pada umumnya lebih memilih bentuk produksi yang bersifat lokal, partisipatoris, dan berskala kecil.

E) Perbedaan mengenai “negara”

Inilah mungkin perbedaan paling mendasar antara Marx dan kaum anarkis. Marx (setidaknya dalam banyak penafsiran) membayangkan bahwa kelas pekerja dapat merebut negara dan menggunakannya sebagai sarana transisi menuju sosialisme. Namun kaum anarkis berpendapat bahwa negara dan struktur industri yang tersentralisasi itu sendiri merupakan penghasil dominasi. Karena itu, bahkan “negara pekerja” pun dapat berubah menjadi bentuk otoritas baru.

F) Jika Marx dan kaum anarkis memperdebatkan kecerdasan buatan hari ini

Marx kemungkinan akan mengatakan bahwa kecerdasan buatan dapat secara drastis mengurangi jam kerja, mensosialisasikan produksi pengetahuan dan layanan, serta membebaskan manusia dari kerja yang repetitif. Namun ia juga akan menambahkan bahwa selama kecerdasan buatan tetap berada dalam kepemilikan korporasi swasta, teknologi itu akan tetap berfungsi sebagai alat akumulasi kapital.

Sebaliknya, kaum anarkis kemungkinan akan bertanya: Siapa yang mengendalikan algoritma? Apakah teknologi ini meningkatkan ketergantungan manusia pada struktur-struktur yang tersentralisasi? Apakah manusia benar-benar mengendalikan teknologi tersebut, atau mereka sekadar menjadi konsumen dari sistem yang bahkan tidak mereka pahami?

Barangkali perbedaan paling mendasar dapat diringkas dalam satu kalimat: Marx terutama bertanya, “Siapa yang memiliki mesin?”, sedangkan kaum anarkis lebih sering bertanya, “Relasi manusia seperti apa yang dihasilkan oleh mesin itu?”

Menariknya, banyak perdebatan hari ini tentang kecerdasan buatan sesungguhnya hanyalah kelanjutan dari pertanyaan-pertanyaan yang telah muncul sejak abad ke-19:

  1.  Apakah teknologi membebaskan manusia atau justru membuat mereka semakin patuh?
  2. Apakah otomatisasi mengurangi penderitaan kerja atau malah memperdalam keterasingan?
  3. Apakah sentralisasi teknis pada akhirnya selalu melahirkan sentralisasi kekuasaan politik?
  4. Apakah alat-alat yang lahir dari struktur dominasi dapat digunakan untuk melawan struktur tersebut?

Dari Karl Marx hingga Mikhail Bakunin, dari Pyotr Kropotkin hingga Murray Bookchin, dan kini dalam perdebatan mengenai kecerdasan buatan, ketegangan mendasar antara “pembebasan” dan “dominasi” terus berlanjut; hanya saja mesin-mesinnya menjadi semakin kompleks.

Kesimpulan

Kaum anarkis klasik pada umumnya bukan musuh teknologi, melainkan musuh kekuasaan yang terpusat, dominasi, dan keterasingan manusia. Bagi mereka, teknologi menjadi alat pembebasan ketika berada di bawah kendali kolektif, membebaskan manusia dari kerja yang merendahkan, tidak menghancurkan kreativitas, dan mengurangi ketergantungan pada struktur-struktur otoritarian.

Karena itu, dalam tradisi anarkis, perdebatan tentang kecerdasan buatan biasanya bermuara pada pertanyaan berikut: apakah teknologi ini membuat manusia semakin otonom, atau justru semakin mengikat mereka ke dalam jaringan otoritas, pengawasan, dan kapital?


6. Sebuah Kemungkinan Dialog antara Dua Aktivis Politik Anarkis

Tokoh: “Nima” yang mendukung penggunaan kritis poster berbasis AI, dan “Sima” yang menentangnya.

Nima:
Kita hidup di zaman ketika kapital dan negara menguasai hampir seluruh media. Jika sebuah kelompok pekerja anarko-sindikalis atau anti-fasis dapat menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat poster politik dengan lebih cepat dan murah, lalu menyebarkan pesannya kepada ribuan orang, mengapa alat ini tidak boleh digunakan?

Sima: 
Karena alat itu tidak netral. Kamu menggunakan sistem yang dibangun di atas pengambilan karya jutaan seniman tanpa persetujuan mereka. Inilah logika kapitalisme: merampas kerja kolektif lalu memprivatisasi keuntungannya.

Nima:
Tetapi komputer, internet, telepon genggam, bahkan perangkat lunak desain juga merupakan produk kapitalisme. Apakah kita harus meninggalkan semuanya? Persoalannya bukan dari mana alat itu berasal, melainkan untuk tujuan apa ia digunakan. 

Sima:
Kecerdasan buatan bukan sekadar alat komunikasi; ia merupakan pengganti langsung bagi kerja kreatif manusia. Kapitalisme selalu ingin menyingkirkan pekerja; sekarang ia juga ingin menyingkirkan seniman.

Nima:
Aku tidak mengatakan bahwa seniman harus lenyap. Maksudku, kecerdasan buatan bisa menjadi alat bantu. Banyak aktivis politik sama sekali tidak mampu membayar jasa desain profesional. Apakah hanya mereka yang punya uang atau keterampilan khusus yang boleh membuat citra politik?

Sima:
Itu argumen yang selalu digunakan kapitalisme untuk membenarkan otomatisasi: “kami sedang mendemokratisasi akses”. Tetapi apa hasilnya? Pemusatan kekuasaan yang semakin besar. Segelintir korporasi raksasa kini dapat mengendalikan hampir seluruh produksi visual dunia.

Nima:
Kalau begitu, solusinya seharusnya adalah sosialisasi teknologi, bukan meninggalkannya sepenuhnya. Sebab jika kekuatan politik libertarian, egaliter, dan pencari keadilan meninggalkan kecerdasan buatan, maka hanya pemerintah dan kelompok kanan-jauh yang akan memanfaatkannya.

Sima:
Persoalannya bukan hanya kepemilikan, tetapi juga hubungan manusia dengan kreativitas. Seni politik bukan semata-mata gambar akhir yang dihasilkan AI. Proses pembuatannya juga penting: diskusi kolektif, desain manual, kesalahan, pengalaman. Kecerdasan buatan mengubah seluruh proses itu menjadi konsumsi instan.

Nima:
Tetapi sejarah seni politik selalu mencakup kolase, rekombinasi, dan penggunaan ulang gambar. Gerakan punk juga memotong dan menyusun ulang gambar-gambar yang sudah ada.

Sima:
Kolase manusia berbeda dengan ekstraksi mesin. Dalam kolase, manusia masih memiliki pilihan, penafsiran, dan pengalaman hidup. Kecerdasan buatan adalah pelahapan budaya manusia dalam skala industri.

Nima: 
Aku mengakui bahwa bahaya itu memang ada. Tetapi apakah penolakan total terhadap teknologi realistis? Kita hidup di dunia visual. Jika kita meninggalkan alat produksi gambar yang cepat, suara gerakan-gerakan kecil tidak akan terdengar.

Sima:
Terkadang menjadi lebih lambat, lebih manusiawi, dan lebih terbatas justru merupakan bagian dari perlawanan. Tidak semua hal harus tunduk pada logika kapitalisme tentang kecepatan dan efisiensi.

Nima:
Dan terkadang ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara luas berarti menyerahkan seluruh ruang propaganda kepada kaum otoritarian..

Kelanjutan dialog ini tetap terbuka dan biasanya berakhir tanpa jawaban yang benar-benar pasti, karena perbedaan utamanya bukan semata-mata tentang “teknologi”, melainkan tentang pertanyaan mendasar ini: Bisakah alat-alat yang diciptakan kapitalisme digunakan untuk melawan struktur itu sendiri, ataukah alat-alat tersebut pada akhirnya selalu mereproduksi logika para penciptanya?

Dan justru pertanyaan inilah yang membuat diskursus mengenai kecerdasan buatan di kalangan anarkis, maupun di antara para pendukung dan penentangnya, menjadi tantangan politik dan filosofis yang begitu intens. Persoalan kecerdasan buatan dalam kaitannya dengan seni dan politik bukan sekadar perdebatan teknis; ia terhubung dengan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih dalam tentang kebebasan, kerja, kreativitas, kekuasaan, dan masa depan hubungan antarmanusia. Itulah sebabnya isu ini tetap hidup dan sensitif dalam lingkaran anarkis, artistik, dan radikal.


Tidak untuk Mullah! Tidak untuk Shah! Tidak untuk Perang!
Perempuan—Kehidupan—Kebebasan!


Diterjemahkan dari:



Tambahan: "Pertanyaan dan Jawaban tentang Anarkisme"


Pertanyaan: Mengapa anarkisme?

Karena pada saat pertanyaan itu diajukan, kita merasakan cengkeraman kekuasaan di tenggorokan kita dan menyadari bahwa kepatuhan, bahkan ketika tampak sukarela dan masuk akal, adalah racun yang melumpuhkan imajinasi pembebasan bahkan sebelum ia sempat tumbuh.

Pertanyaan: Tidakkah menurutmu menerapkannya terlalu idealis dan mustahil diwujudkan?

Pertanyaan ini justru lahir dari jebakan yang digali kekuasaan untuk kita: jebakan “realisme”.

Ya, jika ukuran realitas dianggap persis sama dengan apa yang disajikan dunia hierarkis ini sebagai satu-satunya jalan yang alami dan mungkin, maka anarkisme tentu akan tampak mustahil dan sekadar khayalan.

Namun justru di situlah letak persoalannya: realitas negara, kapital, dan kepatuhan itu sendiri merupakan fantasi terbesar yang dipaksakan, lalu terus direproduksi setiap hari melalui kekerasan dan kebiasaan. Anarkisme tidak pernah mengklaim bahwa pada suatu pagi yang dijanjikan seluruh struktur kekuasaan akan lenyap begitu saja dan masyarakat yang dibangun atas dasar mutual aid akan muncul dengan sendirinya. Gagasan semacam itu justru berasal dari ideologi utopis dan ideologi penyelamatan.

Anarkisme adalah praktik keras kepala untuk hidup dalam pembebasan di masa kini: setiap kali kita bekerja sama tanpa perantara tuan dan bos, setiap kali kita membangun komunitas berdasarkan keputusan horizontal dan federatif, setiap kali kita menolak kepatuhan tanpa berubah menjadi penguasa baru, pada saat itulah anarkisme sedang diwujudkan di sini dan sekarang.

Anggapan bahwa anarkisme mustahil diwujudkan hanyalah alasan untuk tidak pernah mulai mencoba, dan itu justru menguntungkan mereka yang kedudukannya bergantung pada perbudakan kita. Memang benar jalannya panjang dan penuh ketegangan. Namun, yang benar-benar mustahil adalah berharap dapat dibebaskan melalui institusi kekuasaan tanpa membiarkan logika kekuasaan itu berakar dalam diri kita. Justru terhadap pembebasan diri dan hubungan antarmanusia dari logika semacam itulah anarkisme bekerja. Jadi ya, anarkisme memang idealis, tetapi bukan dalam arti mustahil diwujudkan; melainkan sebagai cakrawala tempat setiap langkah yang bebas dan bertanggung jawab sesungguhnya sudah mulai dijalani.

Bukankah begitu?

Pertanyaan: Jadi apakah itu berarti seorang anarkis harus mengejar reformasi bertahap (alih-alih revolusi) demi mencapai perubahan perlahan menuju cita-cita tersebut?

Tidak, persoalannya bukan seperti itu.

Pembedaan antara reformasi dan revolusi itu sendiri merupakan dikotomi yang dibangun oleh cara berpikir yang berorientasi pada kekuasaan, cara berpikir yang ingin membuat kita terus terjebak antara memohon perubahan kepada penguasa dan menunggu ledakan pemberontakan besar yang apokaliptik. Persoalannya bukan apakah perubahan itu lambat atau cepat; pertanyaan sebenarnya adalah: siapa yang menciptakan perubahan itu, dan melalui logika seperti apa?

Reformasi bertahap berarti mengulurkan tangan kepada institusi kekuasaan sambil berkata: “Tolong tindas kami dengan sedikit lebih lembut.”

Itu berarti menerima bahwa negara yang sama, hukum yang sama, dan struktur vertikal yang sama tetap sah adanya, hanya perlu sedikit penyesuaian. Sementara itu, anarkisme sama sekali tidak bekerja dengan logika seperti ini. Kita tidak ingin menjinakkan sang tuan; kita ingin membubarkan hubungan tuan dan budak itu sendiri. Dan pembubaran itu tidak dibatasi pada suatu pemberontakan bersenjata besar yang entah kapan akan datang, juga bukan pada penerimaan terhadap perbaikan kecil yang diberikan dari atas.

Tindakan anarkis, yang radikal hingga ke akarnya, berarti membangun bentuk-bentuk kehidupan tanpa penguasa di sini dan sekarang, tanpa meminta izin dan tanpa menggantungkan harapan pada institusi kekuasaan. Ini sama sekali bukan sesuatu yang bertahap ataupun tenang, karena setiap kali sekelompok buruh menjalankan pabrik tanpa majikan, setiap kali sebuah lingkungan mengatur keamanannya sendiri tanpa polisi, setiap kali orang-orang berbagi pendidikan tanpa sekolah negara, maka sebuah pemberontakan penuh terhadap prinsip realitas yang dipaksakan telah terjadi.

Di titik ini, dikotomi reformasi/revolusi runtuh, karena kita tidak menunggu perintah dari atas ataupun memohon dari bawah. Kita membakar masa kini sedemikian rupa sehingga hubungan-hubungan baru tumbuh dari abunya, tanpa terlalu peduli apakah negara tetap ada atau runtuh. Dengan setiap reformasi, negara justru menjadi lebih kuat, tetapi dengan setiap tindakan otonom yang kita lakukan, sebagian dari kekuasaannya mulai membusuk.

Revolusi adalah proses pembebasan yang terus berlangsung, bukan janji pertemuan dengan raja untuk sekadar memindahkan takhta!

Jadi pada akhirnya, kameradku:

Kita bukan reformis yang memohon kepada tuan demi hari esok yang lebih baik, dan kita juga bukan Leninis yang membayangkan perebutan istana hanya untuk mempertahankan takhta yang sama!

Kita merebut masa kini dari cengkeraman dikotomi itu, dan setiap kali kita hidup tanpa penguasa serta tanpa menunggu “hari besar”, kita sedang mewujudkan anarkisme bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai cara hidup. Revolusi bukan sekadar sebuah peristiwa; revolusi adalah pemberontakan yang terus hidup dan terjalin dalam setiap hubungan antarmanusia.


Diterjemahkan dari: