Peneliti: Hasse-Nima Golkar
Menyusul terbitnya artikel pertama, “How Should We Confront the Digital Age?” (9 April 2026), dan sebagai kelanjutannya, tulisan ini berupaya mengkaji sejauh mungkin pokok-pokok utama argumen dari pihak pendukung maupun penentang.
Para pendukung penggunaan kecerdasan buatan untuk membuat poster dan gambar dalam gerakan politik atau sosial, termasuk arus-arus anarkis, biasanya berusaha menggeser pembahasan dari “kepemilikan alat” menuju “fungsi sosial alat”. Dengan kata lain, alih-alih hanya berfokus pada asal-usul teknologi atau perusahaan yang menciptakannya, mereka menekankan pertanyaan: “Siapa yang dilayani oleh alat ini, dan untuk tujuan apa alat ini digunakan?”
Kesadaran publik dianggap lebih penting daripada “kemurnian” alat itu sendiri. Banyak kelompok radikal atau anti-otoritarian tidak memiliki anggaran besar, platform media, ataupun akses yang luas. Dalam kondisi seperti itu, produksi gambar yang cepat dan murah dapat membantu menyampaikan pesan-pesan politik, anti-kapitalis, anti-perang, atau anti-fasis.
1. Argumen Para Pendukung:
Jika tujuannya adalah membangun kesadaran politik di tengah masyarakat luas, maka penolakan total terhadap alat-alat baru hanya karena asal-usul kapitalistiknya justru secara praktis merampas kemungkinan gerakan untuk berkomunikasi secara efektif. Dari sudut pandang ini, kecerdasan buatan dapat melayani kekuasaan maupun perlawanan terhadapnya, sebagaimana mesin cetak, radio dan televisi, internet, atau Photoshop pernah digunakan untuk tujuan yang sama sekali berbeda.
A) Penolakan mutlak terhadap kecerdasan buatan dapat berubah menjadi bentuk “elitisme artistik”
Para pendukung kadang berpendapat bahwa penolakan keras terhadap gambar yang dihasilkan AI secara tidak langsung menyiratkan bahwa hanya mereka yang memiliki keterampilan profesional, waktu, atau uang yang berhak memproduksi konten visual. Padahal banyak aktivis politik bukanlah desainer profesional, tidak memiliki anggaran yang memadai, atau hidup di negara-negara represif yang membatasi akses terhadap jaringan profesional. Karena itu, kecerdasan buatan dapat “mendemokratisasi” produksi media. Dengan kata lain, sebagaimana kamera ponsel mematahkan monopoli media, kecerdasan buatan juga dapat mengurangi sejauh mungkin monopoli atas produksi citra politik.
B) Persoalan utamanya adalah “kepemilikan korporasi”, bukan teknologinya itu sendiri
Para penentang sering kali lebih menyoroti eksploitasi karya para seniman oleh korporasi besar daripada kemungkinan penciptaan gambar oleh mesin itu sendiri. Sebagai tanggapan, para pendukung mengatakan bahwa kritik terhadap korporasi teknologi besar memang valid, tetapi hal itu tidak seharusnya berujung pada boikot total terhadap alatnya. Sebaliknya, yang perlu diperjuangkan adalah model-model yang bebas, sumber terbuka, kooperatif, dan non-korporatif. Dengan kata lain, solusinya bukan menghancurkan kecerdasan buatan, melainkan mensosialisasikan dan mendesentralisasikannya. Argumen ini penting bagi kaum anarkis karena selaras dengan gagasan anti-monopoli dan anti-sentralisasi.
C) Seni politik sejak lama menggunakan “kolase” dan rekombinasi
Banyak gerakan seni radikal, mulai dari dadaisme hingga punk dan kaum Situationist International, bertumpu pada penggunaan ulang, manipulasi, dan rekombinasi karya-karya yang sudah ada. Karena itu, kecerdasan buatan dipandang sebagai kelanjutan dari tradisi rekombinasi digital tersebut, bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Dari sudut pandang ini, pertanyaan utamanya bukan apakah “kecerdasan buatan dilatih menggunakan gambar-gambar lain”, melainkan apakah hasil akhirnya berkontribusi pada kekuatan kolektif, kesadaran, dan perlawanan.
D) Penggunaan secara sadar berbeda dengan konsumerisme buta
Banyak pendukung yang lebih berhati-hati tidak membela kecerdasan buatan “tanpa batas”. Mereka justru berpendapat bahwa seniman independen tidak boleh disingkirkan, kerja kreatif manusia tidak boleh diremehkan, dan transparansi mengenai sumber gambar serta hak cipta harus tetap dijaga. Namun pada saat yang sama, penggunaan yang terbatas, kritis, dan memiliki tujuan yang jelas untuk poster pendidikan atau politik tidak serta-merta berarti mendukung kapitalisme teknologi.
Sebagai contoh, terdapat kontradiksi ketika para aktivis anti-kapitalis menggunakan platform media sosial kapitalistik. Namun, dalam banyak keadaan tampaknya memang tidak ada jalan lain selain memanfaatkannya secara instrumental demi menyebarkan pesan.
E) Jika kaum anarkis dan kekuatan anti-otoritarian progresif lainnya meninggalkan serta memboikot alat ini sepenuhnya, maka hanya kaum otoritarian (pemerintah, korporasi, kelompok kanan-jauh, dan mesin propaganda kapitalis) yang akan menggunakannya dan memperoleh kendali penuh atas teknologi tersebut. Karena itu, sebagian orang berpendapat bahwa keterlibatan yang kritis dan sadar dalam arena teknologi lebih baik daripada menarik diri sepenuhnya. Ini merupakan salah satu argumen terpenting dari pihak pendukung. Dengan demikian, jawaban para pendukung biasanya bukan bahwa segala hal tentang kecerdasan buatan itu “baik”, melainkan bahwa teknologi pada dirinya sendiri tidak secara inheren membebaskan ataupun menindas; karakter suatu teknologi ditentukan oleh struktur kepemilikan dan cara penggunaannya.
Dalam kondisi media yang timpang seperti sekarang, kecerdasan buatan dapat menjadi alat yang murah dan cepat untuk membangun kesadaran politik. Penggunaannya secara sadar, terarah, kritis, dan bertanggung jawab dalam produksi poster politik dapat dipandang sebagai bagian dari perjuangan memperluas akses universal terhadap alat-alat produksi media, bukan sebagai pengkhianatan terhadap seni maupun kreativitas manusia.
2. Argumen Para Penentang:
Di kalangan anarkis, penolakan terhadap penggunaan kecerdasan buatan, termasuk untuk membuat poster atau citra politik, biasanya bukan sekadar reaksi emosional terhadap “teknologi baru”. Penolakan itu berakar pada sejumlah tradisi filosofis dan etis yang mendalam: kritik terhadap kapitalisme, kritik terhadap kerja yang teralienasi, pembelaan atas otonomi manusia, serta penolakan terhadap pemusatan kekuasaan teknologi.
Pengelompokan filosofis atas argumen para penentang dapat dijelaskan sebagai berikut:
A) Kritik terhadap eksploitasi tersembunyi
Seni dan poster politik berbasis AI dianggap “dibangun di atas pencurian kolektif”. Ini merupakan salah satu argumen terpenting dari pihak penentang. Dari sudut pandang mereka, model-model pembuat gambar dilatih tanpa persetujuan para seniman; karya jutaan ilustrator, desainer, dan pelukis diambil serta digunakan, sementara keuntungan utamanya justru mengalir kepada korporasi teknologi. Karena itu, penggunaan kecerdasan buatan bahkan untuk tujuan progresif tetap berarti menggunakan produk yang dibangun di atas eksploitasi kerja kreatif orang lain. Dalam perspektif ini, persoalannya bukan semata-mata “alat”, melainkan relasi produksi itu sendiri. Argumen ini dekat dengan tradisi anarkisme anti-kapitalis, kritik Marxis terhadap nilai-lebih, serta kritik terhadap kepemilikan monopolistik.
B) Keterasingan dari proses kreatif
Sebagian penentang berpendapat bahwa seni politik bukan sekadar “hasil visual”, melainkan bagian dari proses manusiawi berupa berpikir, mencipta, dan pengalaman kolektif. Ketika seseorang hanya mengetik beberapa kata lalu gambar langsung dihasilkan, hubungan antara tubuh, keterampilan, waktu, dan pengalaman dengan seni menjadi terputus, sementara kreativitas berubah menjadi konsumsi yang serba instan. Dalam pandangan ini, kecerdasan buatan mengancam bukan hanya pekerjaan seniman, tetapi juga makna penciptaan manusia itu sendiri. Argumen ini berkaitan dengan kritik Herbert Marcuse terhadap masyarakat teknologi, pemikiran Murray Bookchin, hingga tradisi kerajinan anti-industrial.
C) Ketergantungan pada infrastruktur korporasi yang tersentralisasi
Sebagian penentang dari kalangan anarkis berpendapat bahwa sebagian besar produksi gambar berbasis AI bergantung pada korporasi raksasa, dijalankan melalui server yang tersentralisasi, dan membutuhkan infrastruktur kapitalisme global. Karena itu, masyarakat yang bebas dan terdesentralisasi tidak mungkin dibangun dengan alat-alat yang pada dasarnya bersifat tersentralisasi, mengawasi, dan monopolistik. Akibatnya, meskipun isi poster bersifat radikal, cara produksinya tetap dapat mereproduksi relasi dominasi.
D) Komodifikasi total atas imajinasi
Sebagian kritikus yang lebih radikal meyakini bahwa kecerdasan buatan merepresentasikan tahap akhir dari komodifikasi: mula-mula kerja industri, kemudian komunikasi, lalu emosi, dan kini imajinasi serta penciptaan citra manusia itu sendiri. Dalam pandangan ini, kapitalisme kini berupaya mengotomatisasi bahkan mimpi dan imajinasi manusia. Karena itu, penolakan terhadap kecerdasan buatan dipandang sebagai bentuk perlawanan kultural terhadap “mekanisasi pikiran”.
E) Akselerasi dan pendangkalan politik
Para penentang juga berpendapat bahwa kecerdasan buatan mendorong produksi konten secara massal dan serba cepat, tetapi sering kali dengan mengorbankan kedalaman intelektual. Dengan kata lain: poster semakin banyak, tetapi refleksi semakin sedikit. Konsumsi visual meningkat, sementara partisipasi yang sungguh-sungguh justru berkurang. Akibatnya, politik berubah menjadi “arus citra yang tak pernah berhenti”.
3. Pandangan Kaum Anarkis Klasik dan Kontemporer
Mulai dari pandangan Mikhail Bakunin, Pyotr Kropotkin hingga Murray Bookchin mengenai teknologi, industri, dan teknik; sekaligus perbandingan antara perspektif anarkis dan Marxis tentang otomatisasi, serta analisis estetika poster protes di era digital, termasuk kecerdasan buatan.
Berlawanan dengan anggapan umum, sebagian besar anarkis klasik bukanlah “anti-teknologi”. Pada umumnya mereka tidak menolak mesin atau ilmu pengetahuan itu sendiri; yang mereka tolak adalah cara teknologi diorganisasikan dalam struktur negara, kapitalisme, dan hierarki. Bagi banyak dari mereka, pertanyaan utamanya bukanlah: “Apakah teknologi itu baik atau buruk?”, melainkan: “Siapa yang mengendalikan teknologi, untuk tujuan apa, dan di dalam relasi sosial seperti apa teknologi itu digunakan?”
A) Mikhail Bakunin
Ilmu pengetahuan dan industri: membebaskan atau menjadi alat dominasi?
Bakunin tidak menentang ilmu pengetahuan maupun industri. Ia bahkan meyakini bahwa ilmu pengetahuan, pendidikan, dan perkembangan industri dapat membebaskan manusia dari kemiskinan dan ketergantungan. Namun, kekhawatiran utamanya adalah bahwa pengetahuan dan teknologi ketika berada di tangan elite, akan berubah menjadi alat dominasi. Ia sangat takut pada apa yang disebutnya sebagai “pemerintahan para ahli”, yakni suatu masyarakat di mana teknokrat, ilmuwan, manajer, atau perencana terpusat memerintah manusia atas nama “pengetahuan”.
Bakunin memiliki sebuah pernyataan terkenal yang pada intinya menyatakan bahwa jika para ilmuwan menjadi penguasa masyarakat, maka bentuk kediktatoran terburuk akan muncul, karena kekuasaan mereka dibenarkan melalui klaim ilmiah.
Ia tidak menganggap industri sebagai sesuatu yang pada dirinya jahat, tetapi percaya bahwa di bawah kapitalisme mesin-mesin justru memperbudak manusia, sementara dalam masyarakat bebas mesin yang sama dapat mengurangi kerja yang melelahkan. Karena itu, menurut pandangannya, persoalannya terletak pada “kepemilikan” dan “pemusatan kekuasaan”, bukan pada teknologinya sendiri.
B) Pyotr Kropotkin
Sebagai ilmuwan, geograf, dan pemikir yang dipengaruhi ilmu-ilmu alam, Kropotkin mungkin merupakan anarkis klasik yang paling optimistis terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi: teknologi yang melayani kerja sama dan kehidupan manusia.
Berbeda dengan kaum Marxis sentralis, ia menginginkan teknologi yang terdesentralisasi, berskala lokal, dan melayani komunitas-komunitas bebas. Dalam bukunya yang terkenal, “Fields, Factories and Workshops” (1899), Kropotkin mengkritik pembagian kerja industri yang massive dan tersentralisasi. Ia percaya bahwa kapitalisme mengubah manusia menjadi bagian-bagian kecil dari mesin; pekerja hanya melakukan satu gerakan berulang, sementara kehidupan manusia menjadi terpecah-pecah. Sebaliknya, ia membayangkan masyarakat di mana pertanian, industri, seni, dan pengetahuan dipadukan dalam skala yang lokal dan manusiawi.
Teknologi yang baik dan diinginkan, menurut Kropotkin, adalah teknologi berskala kecil dan partisipatoris, yang mengurangi ketergantungan manusia pada negara dan kapital. Ia percaya bahwa mesin seharusnya membebaskan manusia dari kerja yang melelahkan, bukan mengubah manusia menjadi pelengkap mesin.
C) Bakunin dan Kropotkin tidak pernah anti-ilmu pengetahuan, dan juga tidak menyerukan kembalinya masyarakat ke era pra-industri. Berbeda dengan aliran “primitivisme”, mereka bukan penentang industri secara mutlak. Pada umumnya mereka mendukung listrik, industri, teknik, pendidikan ilmiah, bahkan otomatisasi, selama berada di bawah kendali kolektif dan horizontal (non-hierarkis).
D) Murray Bookchin
Murray Bookchin membangun jembatan antara anarkisme, ekologi, dan kritik terhadap teknologi modern dalam masyarakat kapitalis. Berbeda dengan kaum primitivis, ia tidak sepenuhnya menolak teknologi, tetapi percaya bahwa teknologi di bawah kapitalisme tidak pernah benar-benar netral.
Gagasan utama Bookchin bertumpu pada prinsip bahwa “persoalannya bukan sekadar teknologi; persoalannya adalah masyarakat yang menghasilkan teknologi tersebut”. Ia berpendapat bahwa teknologi modern umumnya dirancang untuk pengendalian, pendisiplinan, pemusatan kekuasaan, dan pertumbuhan ekonomi tanpa akhir. Karena itu, bahkan mesin-mesin yang tampak berguna tetap mereproduksi relasi dominasi di dalam struktur kapitalisme.
Kritik Bookchin terhadap “rasionalitas instrumental” dipengaruhi oleh kritik Mazhab Frankfurt. Ia berpendapat bahwa masyarakat modern mereduksi segala sesuatu menjadi persoalan efisiensi, produktivitas, kecepatan, dan pengelolaan. Akibatnya alam, manusia, bahkan hubungan sosial diperlakukan sebagai “sumber daya yang dapat dikelola”. Di titik inilah kritik-kritik kontemporer terhadap kecerdasan buatan memiliki keterkaitan kuat dengan pemikirannya. Namun, penting untuk ditegaskan bahwa ia bukanlah anti-teknologi.
Bookchin mendukung apa yang kadang ia sebut sebagai “teknologi pembebasan”: energi terbarukan, teknologi berskala kecil, produksi lokal, sistem yang terdesentralisasi, serta otomatisasi yang mengurangi kerja berat manusia. Berbeda dengan kaum primitivis, ia dengan tegas menolak gagasan bahwa “demi kebebasan, peradaban dan teknologi harus ditinggalkan”. Baginya, persoalan utamanya adalah “hierarki”, bukan teknik itu sendiri. Dalam pandangannya, masyarakat yang demokratis dan berbasis lokal dapat mengorganisasi teknologi ke arah yang lebih membebaskan.
4. Keterkaitan Perspektif-Perspektif Ini dengan Perdebatan tentang Kecerdasan Buatan
Jika para pemikir ini masih hidup hari ini, kemungkinan besar tanggapan mereka akan bersifat kompleks dan berlapis-lapis.
Mikhail Bakunin mungkin akan bertanya: Siapa yang mengendalikan algoritma? Apakah kecerdasan buatan telah berubah menjadi “pemerintahan para ahli”?
Pyotr Kropotkin mungkin akan bertanya: Apakah kecerdasan buatan memperkuat kerja sama antarmanusia, atau justru membuat manusia semakin terasing dan bergantung?
Sementara Murray Bookchin kemungkinan akan bertanya: Apakah kecerdasan buatan melayani pemusatan kekuasaan dan konsumerisme, atau dapatkah ia diorganisasi ulang dalam struktur lokal dan demokratis?
5. Perbandingan Perspektif Anarkis dengan Pandangan Karl Marx tentang Otomatisasi dan Mesin
Terlepas dari perbedaan mendasar antara marxisme dan anarkisme, keduanya memiliki satu titik temu penting: di bawah kapitalisme, mesin dan teknologi sering kali berubah menjadi alat dominasi dan eksploitasi. Namun setelah titik itu, jalan keduanya mulai berpisah.
A) Pandangan Marx: mesin sebagai alat dominasi sekaligus kemungkinan pembebasan
Karl Marx memiliki pandangan yang bersifat ganda terhadap mesin. Dalam Das Kapital, ia menjelaskan bahwa di bawah kapitalisme, mesin memisahkan pekerja dari keterampilannya, membuat mereka bergantung pada pabrik, meningkatkan kecepatan dan intensitas kerja, serta mengubah manusia menjadi “pelengkap mesin”. Bagian dari kritik Marx ini memiliki kemiripan yang kuat dengan kritik kaum anarkis.
Namun, perbedaan utamanya terletak pada keyakinan Marx bahwa perkembangan industri berskala besar secara bersamaan juga menciptakan kondisi material bagi pembebasan di masa depan. Mengapa? Karena menurutnya, otomatisasi dapat mengurangi kerja yang diperlukan, meningkatkan produktivitas, dan membebaskan manusia dari kerja yang melelahkan. Dengan demikian, persoalan utamanya bukanlah mesin itu sendiri, melainkan kepemilikan pribadi atas alat-alat produksi.
Marx membayangkan bahwa apabila pabrik, industri, dan mesin disosialisasikan, teknologi yang sama dapat menjadi dasar bagi masyarakat yang lebih bebas.
B) Perspektif anarkis: persoalannya bukan hanya kepemilikan, tetapi juga pemusatan kekuasaan
Kaum anarkis pada umumnya sepakat dengan Marx bahwa kapitalisme menggunakan mesin untuk mengeksploitasi manusia. Namun, mereka jauh lebih curiga terhadap “industri berskala besar yang tersentralisasi”.
Sebagai contoh, Mikhail Bakunin khawatir bahwa bahkan jika kepemilikan pribadi dihapuskan, struktur industri modern yang tersentralisasi, birokrasi, dan manajemen teknis tetap dapat melahirkan bentuk dominasi baru. Dengan kata lain, jika pabrik hierarkis berskala besar tetap dipertahankan, maka negara hanya akan menggantikan posisi kapitalis.
Inilah tepatnya kritik yang sejak lama diajukan kaum anarkis terhadap Uni Soviet. Di sana kapitalis swasta memang disingkirkan, tetapi negara dan aparat teknokratis tetap dipertahankan.
C) Marx dan optimisme historis terhadap industri
Karl Marx pada umumnya lebih optimistis terhadap perkembangan kekuatan produktif. Ia percaya bahwa kapitalisme, tanpa disengaja, menciptakan kelimpahan material dalam skala besar, dan kelimpahan itu dapat menjadi landasan bagi komunisme. Karena itu, industri berskala besar, otomatisasi, dan teknologi maju dipandangnya sebagai tahap sejarah yang memang diperlukan sampai batas tertentu.
D) Kaum anarkis dan skeptisisme terhadap “skala besar”
Sebaliknya, banyak kaum anarkis, terutama Pyotr Kropotkin, sangat memberi perhatian pada persoalan “skala”. Mereka berpendapat bahwa ketika teknologi menjadi terlalu tersentralisasi, manusia akan semakin bergantung, pasif, dan terasing dari kendali atas hidup mereka sendiri. Karena itu, mereka pada umumnya lebih memilih bentuk produksi yang bersifat lokal, partisipatoris, dan berskala kecil.
E) Perbedaan mengenai “negara”
Inilah mungkin perbedaan paling mendasar antara Marx dan kaum anarkis. Marx (setidaknya dalam banyak penafsiran) membayangkan bahwa kelas pekerja dapat merebut negara dan menggunakannya sebagai sarana transisi menuju sosialisme. Namun kaum anarkis berpendapat bahwa negara dan struktur industri yang tersentralisasi itu sendiri merupakan penghasil dominasi. Karena itu, bahkan “negara pekerja” pun dapat berubah menjadi bentuk otoritas baru.
F) Jika Marx dan kaum anarkis memperdebatkan kecerdasan buatan hari ini
Marx kemungkinan akan mengatakan bahwa kecerdasan buatan dapat secara drastis mengurangi jam kerja, mensosialisasikan produksi pengetahuan dan layanan, serta membebaskan manusia dari kerja yang repetitif. Namun ia juga akan menambahkan bahwa selama kecerdasan buatan tetap berada dalam kepemilikan korporasi swasta, teknologi itu akan tetap berfungsi sebagai alat akumulasi kapital.
Sebaliknya, kaum anarkis kemungkinan akan bertanya: Siapa yang mengendalikan algoritma? Apakah teknologi ini meningkatkan ketergantungan manusia pada struktur-struktur yang tersentralisasi? Apakah manusia benar-benar mengendalikan teknologi tersebut, atau mereka sekadar menjadi konsumen dari sistem yang bahkan tidak mereka pahami?
Barangkali perbedaan paling mendasar dapat diringkas dalam satu kalimat: Marx terutama bertanya, “Siapa yang memiliki mesin?”, sedangkan kaum anarkis lebih sering bertanya, “Relasi manusia seperti apa yang dihasilkan oleh mesin itu?”
Menariknya, banyak perdebatan hari ini tentang kecerdasan buatan sesungguhnya hanyalah kelanjutan dari pertanyaan-pertanyaan yang telah muncul sejak abad ke-19:
- Apakah teknologi membebaskan manusia atau justru membuat mereka semakin patuh?
- Apakah otomatisasi mengurangi penderitaan kerja atau malah memperdalam keterasingan?
- Apakah sentralisasi teknis pada akhirnya selalu melahirkan sentralisasi kekuasaan politik?
- Apakah alat-alat yang lahir dari struktur dominasi dapat digunakan untuk melawan struktur tersebut?
Dari Karl Marx hingga Mikhail Bakunin, dari Pyotr Kropotkin hingga Murray Bookchin, dan kini dalam perdebatan mengenai kecerdasan buatan, ketegangan mendasar antara “pembebasan” dan “dominasi” terus berlanjut; hanya saja mesin-mesinnya menjadi semakin kompleks.
Kesimpulan
Kaum anarkis klasik pada umumnya bukan musuh teknologi, melainkan musuh kekuasaan yang terpusat, dominasi, dan keterasingan manusia. Bagi mereka, teknologi menjadi alat pembebasan ketika berada di bawah kendali kolektif, membebaskan manusia dari kerja yang merendahkan, tidak menghancurkan kreativitas, dan mengurangi ketergantungan pada struktur-struktur otoritarian.
Karena itu, dalam tradisi anarkis, perdebatan tentang kecerdasan buatan biasanya bermuara pada pertanyaan berikut: apakah teknologi ini membuat manusia semakin otonom, atau justru semakin mengikat mereka ke dalam jaringan otoritas, pengawasan, dan kapital?
6. Sebuah Kemungkinan Dialog antara Dua Aktivis Politik Anarkis
Tokoh: “Nima” yang mendukung penggunaan kritis poster berbasis AI, dan “Sima” yang menentangnya.
Nima:
Kita hidup di zaman ketika kapital dan negara menguasai hampir seluruh media. Jika sebuah kelompok pekerja anarko-sindikalis atau anti-fasis dapat menggunakan kecerdasan buatan untuk membuat poster politik dengan lebih cepat dan murah, lalu menyebarkan pesannya kepada ribuan orang, mengapa alat ini tidak boleh digunakan?
Sima:
Karena alat itu tidak netral. Kamu menggunakan sistem yang dibangun di atas pengambilan karya jutaan seniman tanpa persetujuan mereka. Inilah logika kapitalisme: merampas kerja kolektif lalu memprivatisasi keuntungannya.
Nima:
Tetapi komputer, internet, telepon genggam, bahkan perangkat lunak desain juga merupakan produk kapitalisme. Apakah kita harus meninggalkan semuanya? Persoalannya bukan dari mana alat itu berasal, melainkan untuk tujuan apa ia digunakan.
Sima:
Kecerdasan buatan bukan sekadar alat komunikasi; ia merupakan pengganti langsung bagi kerja kreatif manusia. Kapitalisme selalu ingin menyingkirkan pekerja; sekarang ia juga ingin menyingkirkan seniman.
Nima:
Aku tidak mengatakan bahwa seniman harus lenyap. Maksudku, kecerdasan buatan bisa menjadi alat bantu. Banyak aktivis politik sama sekali tidak mampu membayar jasa desain profesional. Apakah hanya mereka yang punya uang atau keterampilan khusus yang boleh membuat citra politik?
Sima:
Itu argumen yang selalu digunakan kapitalisme untuk membenarkan otomatisasi: “kami sedang mendemokratisasi akses”. Tetapi apa hasilnya? Pemusatan kekuasaan yang semakin besar. Segelintir korporasi raksasa kini dapat mengendalikan hampir seluruh produksi visual dunia.
Nima:
Kalau begitu, solusinya seharusnya adalah sosialisasi teknologi, bukan meninggalkannya sepenuhnya. Sebab jika kekuatan politik libertarian, egaliter, dan pencari keadilan meninggalkan kecerdasan buatan, maka hanya pemerintah dan kelompok kanan-jauh yang akan memanfaatkannya.
Sima:
Persoalannya bukan hanya kepemilikan, tetapi juga hubungan manusia dengan kreativitas. Seni politik bukan semata-mata gambar akhir yang dihasilkan AI. Proses pembuatannya juga penting: diskusi kolektif, desain manual, kesalahan, pengalaman. Kecerdasan buatan mengubah seluruh proses itu menjadi konsumsi instan.
Nima:
Tetapi sejarah seni politik selalu mencakup kolase, rekombinasi, dan penggunaan ulang gambar. Gerakan punk juga memotong dan menyusun ulang gambar-gambar yang sudah ada.
Sima:
Kolase manusia berbeda dengan ekstraksi mesin. Dalam kolase, manusia masih memiliki pilihan, penafsiran, dan pengalaman hidup. Kecerdasan buatan adalah pelahapan budaya manusia dalam skala industri.
Nima:
Aku mengakui bahwa bahaya itu memang ada. Tetapi apakah penolakan total terhadap teknologi realistis? Kita hidup di dunia visual. Jika kita meninggalkan alat produksi gambar yang cepat, suara gerakan-gerakan kecil tidak akan terdengar.
Sima:
Terkadang menjadi lebih lambat, lebih manusiawi, dan lebih terbatas justru merupakan bagian dari perlawanan. Tidak semua hal harus tunduk pada logika kapitalisme tentang kecepatan dan efisiensi.
Nima:
Dan terkadang ketidakmampuan untuk berkomunikasi secara luas berarti menyerahkan seluruh ruang propaganda kepada kaum otoritarian..
Kelanjutan dialog ini tetap terbuka dan biasanya berakhir tanpa jawaban yang benar-benar pasti, karena perbedaan utamanya bukan semata-mata tentang “teknologi”, melainkan tentang pertanyaan mendasar ini: Bisakah alat-alat yang diciptakan kapitalisme digunakan untuk melawan struktur itu sendiri, ataukah alat-alat tersebut pada akhirnya selalu mereproduksi logika para penciptanya?
Dan justru pertanyaan inilah yang membuat diskursus mengenai kecerdasan buatan di kalangan anarkis, maupun di antara para pendukung dan penentangnya, menjadi tantangan politik dan filosofis yang begitu intens. Persoalan kecerdasan buatan dalam kaitannya dengan seni dan politik bukan sekadar perdebatan teknis; ia terhubung dengan pertanyaan-pertanyaan yang jauh lebih dalam tentang kebebasan, kerja, kreativitas, kekuasaan, dan masa depan hubungan antarmanusia. Itulah sebabnya isu ini tetap hidup dan sensitif dalam lingkaran anarkis, artistik, dan radikal.
Tidak untuk Mullah! Tidak untuk Shah! Tidak untuk Perang!
Perempuan—Kehidupan—Kebebasan!
Diterjemahkan dari:
Tambahan: "Pertanyaan dan Jawaban tentang Anarkisme"
Pertanyaan: Mengapa anarkisme?
Karena pada saat pertanyaan itu diajukan, kita merasakan cengkeraman kekuasaan di tenggorokan kita dan menyadari bahwa kepatuhan, bahkan ketika tampak sukarela dan masuk akal, adalah racun yang melumpuhkan imajinasi pembebasan bahkan sebelum ia sempat tumbuh.
Pertanyaan: Tidakkah menurutmu menerapkannya terlalu idealis dan mustahil diwujudkan?
Pertanyaan ini justru lahir dari jebakan yang digali kekuasaan untuk kita: jebakan “realisme”.
Ya, jika ukuran realitas dianggap persis sama dengan apa yang disajikan dunia hierarkis ini sebagai satu-satunya jalan yang alami dan mungkin, maka anarkisme tentu akan tampak mustahil dan sekadar khayalan.
Namun justru di situlah letak persoalannya: realitas negara, kapital, dan kepatuhan itu sendiri merupakan fantasi terbesar yang dipaksakan, lalu terus direproduksi setiap hari melalui kekerasan dan kebiasaan. Anarkisme tidak pernah mengklaim bahwa pada suatu pagi yang dijanjikan seluruh struktur kekuasaan akan lenyap begitu saja dan masyarakat yang dibangun atas dasar mutual aid akan muncul dengan sendirinya. Gagasan semacam itu justru berasal dari ideologi utopis dan ideologi penyelamatan.
Anarkisme adalah praktik keras kepala untuk hidup dalam pembebasan di masa kini: setiap kali kita bekerja sama tanpa perantara tuan dan bos, setiap kali kita membangun komunitas berdasarkan keputusan horizontal dan federatif, setiap kali kita menolak kepatuhan tanpa berubah menjadi penguasa baru, pada saat itulah anarkisme sedang diwujudkan di sini dan sekarang.
Anggapan bahwa anarkisme mustahil diwujudkan hanyalah alasan untuk tidak pernah mulai mencoba, dan itu justru menguntungkan mereka yang kedudukannya bergantung pada perbudakan kita. Memang benar jalannya panjang dan penuh ketegangan. Namun, yang benar-benar mustahil adalah berharap dapat dibebaskan melalui institusi kekuasaan tanpa membiarkan logika kekuasaan itu berakar dalam diri kita. Justru terhadap pembebasan diri dan hubungan antarmanusia dari logika semacam itulah anarkisme bekerja. Jadi ya, anarkisme memang idealis, tetapi bukan dalam arti mustahil diwujudkan; melainkan sebagai cakrawala tempat setiap langkah yang bebas dan bertanggung jawab sesungguhnya sudah mulai dijalani.
Bukankah begitu?
Pertanyaan: Jadi apakah itu berarti seorang anarkis harus mengejar reformasi bertahap (alih-alih revolusi) demi mencapai perubahan perlahan menuju cita-cita tersebut?
Tidak, persoalannya bukan seperti itu.
Pembedaan antara reformasi dan revolusi itu sendiri merupakan dikotomi yang dibangun oleh cara berpikir yang berorientasi pada kekuasaan, cara berpikir yang ingin membuat kita terus terjebak antara memohon perubahan kepada penguasa dan menunggu ledakan pemberontakan besar yang apokaliptik. Persoalannya bukan apakah perubahan itu lambat atau cepat; pertanyaan sebenarnya adalah: siapa yang menciptakan perubahan itu, dan melalui logika seperti apa?
Reformasi bertahap berarti mengulurkan tangan kepada institusi kekuasaan sambil berkata: “Tolong tindas kami dengan sedikit lebih lembut.”
Itu berarti menerima bahwa negara yang sama, hukum yang sama, dan struktur vertikal yang sama tetap sah adanya, hanya perlu sedikit penyesuaian. Sementara itu, anarkisme sama sekali tidak bekerja dengan logika seperti ini. Kita tidak ingin menjinakkan sang tuan; kita ingin membubarkan hubungan tuan dan budak itu sendiri. Dan pembubaran itu tidak dibatasi pada suatu pemberontakan bersenjata besar yang entah kapan akan datang, juga bukan pada penerimaan terhadap perbaikan kecil yang diberikan dari atas.
Tindakan anarkis, yang radikal hingga ke akarnya, berarti membangun bentuk-bentuk kehidupan tanpa penguasa di sini dan sekarang, tanpa meminta izin dan tanpa menggantungkan harapan pada institusi kekuasaan. Ini sama sekali bukan sesuatu yang bertahap ataupun tenang, karena setiap kali sekelompok buruh menjalankan pabrik tanpa majikan, setiap kali sebuah lingkungan mengatur keamanannya sendiri tanpa polisi, setiap kali orang-orang berbagi pendidikan tanpa sekolah negara, maka sebuah pemberontakan penuh terhadap prinsip realitas yang dipaksakan telah terjadi.
Di titik ini, dikotomi reformasi/revolusi runtuh, karena kita tidak menunggu perintah dari atas ataupun memohon dari bawah. Kita membakar masa kini sedemikian rupa sehingga hubungan-hubungan baru tumbuh dari abunya, tanpa terlalu peduli apakah negara tetap ada atau runtuh. Dengan setiap reformasi, negara justru menjadi lebih kuat, tetapi dengan setiap tindakan otonom yang kita lakukan, sebagian dari kekuasaannya mulai membusuk.
Revolusi adalah proses pembebasan yang terus berlangsung, bukan janji pertemuan dengan raja untuk sekadar memindahkan takhta!
Jadi pada akhirnya, kameradku:
Kita bukan reformis yang memohon kepada tuan demi hari esok yang lebih baik, dan kita juga bukan Leninis yang membayangkan perebutan istana hanya untuk mempertahankan takhta yang sama!
Kita merebut masa kini dari cengkeraman dikotomi itu, dan setiap kali kita hidup tanpa penguasa serta tanpa menunggu “hari besar”, kita sedang mewujudkan anarkisme bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai cara hidup. Revolusi bukan sekadar sebuah peristiwa; revolusi adalah pemberontakan yang terus hidup dan terjalin dalam setiap hubungan antarmanusia.
Diterjemahkan dari: