Analisis Anarkis oleh Decolonize Anarchism
Dalam beberapa hari terakhir, seiring dengan meluas dan semakin radikalnya pemberontakan di Iran, beredar gambar dan video para demonstran yang membakar masjid, institusi yang selama ini melekat dalam aparatus kekuasaan Republik Islam. Hampir seketika, muncul respons yang sudah akrab dari kalangan liberal Barat dan sebagian kiri Barat. Para komentator yang tidak pernah hidup di bawah fasisme klerikal, tidak pernah diawasi oleh polisi moral, dan tidak pernah tubuhnya diatur oleh dekret keagamaan, dengan cepat melabeli tindakan tersebut sebagai Islamofobia.
Reaksi ini tidak muncul begitu saja. Ia mencerminkan pola berulang di mana Barat menolak mengakui masyarakat non-Barat sebagai subjek politik yang mampu mendefinisikan perjuangannya sendiri. Alih-alih bertanya kondisi material apa yang melahirkan tindakan tersebut, atau mendengarkan mereka yang hidup di bawah rezim, pengamat Barat justru kembali pada kerangka pikir, kecemasan, dan narasi rasial mereka sendiri. Dengan begitu, mereka sekali lagi memusatkan diri mereka (rasa bersalah, wacana, dan kenyamanan mereka) sambil merampas agensi historis rakyat Iran.
Kecaman semacam ini bukan hal baru. Pada pemberontakan “Jin, Jiyan, Azadi” tahun 2022, ketika perempuan Iran membakar jilbab mereka di jalanan, tuduhan serupa juga muncul. Perempuan yang menolak kewajiban berjilbab, salah satu bentuk paling intim dari kekerasan negara, justru dituduh tidak sensitif secara budaya, dianggap menyerap rasisme Barat, bahkan disebut Islamofobik. Dalam kedua momen tersebut, logika yang sama bekerja: perlawanan Iran hanya dianggap sah selama tidak melanggar standar moral Barat. Ketika perlawanan bergerak dari simbol ke institusi, dari ekspresi ke upaya penghancuran, ia langsung dinyatakan tidak sah.
Republik Islam Iran bukan sekadar negara yang kebetulan religius. Ia adalah rezim teokratis yang bersifat fasis, di mana agama berfungsi sebagai hukum, ideologi, sekaligus alat disiplin. Masjid, sekolah, pengadilan, penjara, dan aparat keamanan membentuk satu sistem yang saling terhubung. Masjid bukan ruang ibadah yang netral dan terpisah dari politik. Ia adalah simpul kekuasaan yang nyata: ruang pengawasan, rekrutmen, indoktrinasi, dan legitimasi kekerasan. Di sanalah ketaatan diritualkan, perbedaan dianggap dosa, dan hierarki dipresentasikan sebagai kehendak ilahi. Masjid bukan sesuatu yang terpisah dari rezim, melainkan bagian dari organ kekuasaannya. Membakarnya bukan serangan terhadap keyakinan, melainkan serangan terhadap otoritas.
Wacana Barat sering gagal memahami hal ini karena terus-menerus mencampuradukkan identitas dengan relasi kekuasaan. Di Barat, Islam adalah identitas minoritas yang sering dirasisasi, diawasi, dan didiskriminasi. Islamofobia di sana nyata dan berbahaya, serta tidak terpisahkan dari kekerasan imperialis. Namun Iran bukan Barat. Di Iran, Islam bukan posisi yang terpinggirkan, melainkan sumber kedaulatan. Kaum ulama bukan minoritas tertindas, melainkan kelas penguasa. Memaksakan kerangka politik minoritas ala Barat ke dalam konteks negara teokratis bukanlah anti-rasisme. Itu justru bentuk kolonialisme analitis: memaksakan kerangka luar yang menghapus relasi dominasi yang nyata di tingkat lokal.
Apa yang berulang kali dilakukan oleh liberal Barat adalah mereduksi sejarah menjadi persoalan moral semata. Analisis material digantikan oleh perasaan. Yang ditanyakan bukan lagi siapa yang didominasi, melainkan siapa yang merasa tersinggung. Kritik terhadap kekuasaan disamakan dengan kebencian terhadap identitas. Ini bukan solidaritas, melainkan kekerasan epistemik. Barat sekali lagi memaksakan kategorinya sebagai sesuatu yang universal, traumanya sebagai pusat, dan bahasanya sebagai otoritas, bahkan ketika orang-orang di lapangan sudah mengatakan dengan jelas bahwa kerangka tersebut tidak relevan.
Anarkisme menolak penyederhanaan seperti ini. Ia menuntut pemahaman yang konkret, historis, dan material. Secara historis, ketika agama menyatu dengan kekuasaan negara, respons yang muncul sering kali adalah penghancuran institusi-institusinya. Dalam Revolusi Prancis, gereja-gereja dijarah dan dihancurkan bukan karena rakyat tiba-tiba menolak iman, tetapi karena Gereja Katolik berfungsi sebagai tuan tanah feodal sekaligus alat ideologis monarki. Dalam Perang Saudara Spanyol, kaum anarkis membakar gereja dan biara karena Gereja secara terbuka berpihak pada tuan tanah, jenderal, dan fasis, memberkati eksekusi serta melegitimasi kontra-revolusi. Tindakan-tindakan ini tidak dipahami sebagai kebencian terhadap agama, melainkan sebagai pemberontakan anti-klerikal terhadap dominasi institusional.
Abolisi bukan sekadar kritik simbolik. Ia bukan penolakan dalam wacana. Ia adalah penghancuran struktur yang membuat kebebasan menjadi mustahil. Para budak tidak menulis esai untuk mengkritik perkebunan, mereka membakarnya. Para pekerja tidak sekadar mengeluh tentang pabrik, mereka mendudukinya dan menyabotasenya. Perempuan tidak meminta izin untuk keluar dari patriarki, mereka menghancurkan simbol-simbolnya. Ketika institusi mengatur tubuh melalui kekerasan, memaksakan apartheid gender, moralitas wajib, dan teror politik, maka institusi tersebut kehilangan klaim apa pun atas kesucian.
Ada sesuatu yang sangat kolonial dalam cara sebagian orang memandang perlawanan di Iran. Ketika rakyat bangkit melawan rezim klerikal, respons yang muncul bukan rasa ingin tahu atau kerendahan hati, melainkan penghakiman moral. Ada sesuatu yang absurd ketika orang-orang yang hidup di bawah kewajiban berjilbab, religiusitas yang dipaksakan, eksekusi, dan pengawasan permanen justru diminta mengekspresikan kemarahan mereka secara sopan, simbolik, dan tidak mengganggu sensitivitas Barat. Seolah-olah sebuah revolusi harus terlebih dahulu lolos dari standar moral Barat agar dianggap sah.
Yang membuat kami marah bukan hanya kesalahpahaman. Yang lebih menyakitkan adalah rasa berhak itu sendiri. Anggapan bahwa rakyat Iran berhutang penjelasan kepada Barat, harus menerjemahkan diri, dan menampilkan bentuk perlawanan yang dianggap “layak". Seolah-olah revolusi kami harus sesuai dengan bahasa LSM Barat agar diakui sebagai sesuatu yang progresif. Ini adalah rasisme yang dibungkus sebagai kepedulian. Pola lama imperialisme yang sama: berbicara atas nama kami, mendefinisikan ulang perjuangan kami, mengatur kemarahan kami, lalu mengklaim keunggulan moral.
Jangan menceramahi kami tentang Islamofobia sementara rakyat kami dieksekusi atas nama Tuhan. Jangan meminta kami mempertahankan institusi agama yang digunakan untuk menindas perempuan, queer, pekerja, dan kelompok etnis yang terpinggirkan. Jangan menuntut kami menghormati simbol-simbol penindasan yang menindas kami, hanya agar anda merasa nyaman secara politik. Ini bukan revolusi anda, ini bukan kategori anda. Penolakan anda untuk memahami hal ini justru menunjukkan banyak keterbatasan politik kiri Barat itu sendiri.
Kami tidak membakar iman, kami membakar otoritas. Dan kami tidak akan meminta maaf karena menghancurkan institusi yang membuat hidup kami tidak layak dijalani.
Hidup rakyat revolusioner Iran!
Hidup perempuan yang membakar simbol penindasan dan menolak tunduk!
Hidup mereka yang menghancurkan institusi yang menguasai tubuh dan hidup mereka!
Hidup perlawanan terhadap fasisme klerikal!
Hidup penghapusan negara, kekuasaan agama, dan segala bentuk otoritas yang dipaksakan!
Hidup mereka yang melawan tanpa izin!
Hidup rakyat yang membakar dominasi demi membuka kemungkinan hidup yang bebas!
Jin Jîyan Azadî
https://theanarchistlibrary.org/library/decolonize-anarchism-in-praise-of-burning-down-clerical-fascism-in-iran