Jumat, 12 Juni 2026

Kumpulan Essay “BAD Press” (Part 2)

Penulis: Boston Anarchist Drinking Brigade

Individualisme, Anarki, dan Kepedulian

Salah satu kendala yang dihadapi kaum anarkis individualis dalam upaya memperkenalkan gagasan mereka kepada sesama anarkis maupun masyarakat luas adalah anggapan bahwa mereka kurang memiliki kepedulian terhadap orang lain. Kaum individualis membayangkan sebuah masa depan di mana kebebasan pribadi, kemandirian, otonomi individu, dan kepemilikan pribadi menjadi prinsip-prinsip utama kehidupan sosial. Karena itu, sebagian orang beranggapan bahwa masyarakat semacam itu tidak akan mampu memberikan dukungan yang memadai bagi mereka yang tidak dapat bekerja atau tidak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Namun, meskipun masyarakat individualis tentu tidak akan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan dengan cara yang sama seperti negara kesejahteraan atau komune anarkis, individu-individu yang bebas tetap sama mampunya untuk membantu sesama sebagaimana anggota maupun institusi dalam bentuk masyarakat lainnya.

Kaum individualis cenderung tidak terlalu menekankan aspek pelayanan sosial dalam masyarakat anarkis. Sebaliknya, mereka lebih sering berbicara tentang kebebasan yang akan dimiliki oleh individu-individu yang mandiri dan mampu untuk menjalani hidup sesuai keinginan mereka, serta bekerja sama atau berkolaborasi dengan orang lain kapan dan di mana mereka menghendakinya. Di sisi lain, kaum kolektivis sering kali memusatkan perhatian pada apa yang akan diperoleh individu dari komunitas dalam masyarakat anarkis masa depan, seperti pendidikan gratis, layanan kesehatan gratis, gudang pangan komunal, dan berbagai bentuk dukungan sosial lainnya. Perbedaan ini berakar pada cara pandang yang berbeda mengenai manusia. Kaum individualis memandang manusia pada dasarnya mampu mengurus dirinya sendiri selama mereka tidak dihalangi oleh negara dan hukum untuk mengembangkan potensi mereka secara penuh. Sementara itu, kaum kolektivis cenderung beranggapan bahwa manusia tidak mampu, atau setidaknya kecil kemungkinannya, untuk menjalani kehidupan yang utuh dan bahagia tanpa adanya jaringan sosial yang terorganisasi secara formal, lengkap dengan tanggung jawab dan manfaat bersama, bahkan dalam dunia yang tidak memiliki negara sekalipun.

Kaum individualis tidak percaya bahwa seseorang “berhak” atas sesuatu selain hasil penuh dari jerih payahnya sendiri, kepemilikan atas harta yang diperoleh melalui kerja tersebut, pemenuhan perjanjian yang secara sukarela dibuat dengan orang lain, serta kebebasan untuk tidak diganggu oleh pihak lain. Meski demikian, kaum individualis mengakui bahwa sebagian orang, dan mungkin hampir setiap orang pada suatu masa dalam hidupnya, akan membutuhkan bantuan dari orang lain untuk bertahan menghadapi keadaan yang tidak terduga atau situasi yang merugikan. Karena itu, kaum individualis juga memiliki gagasan mengenai bagaimana orang-orang semacam itu dapat dibantu dalam masyarakat tanpa negara.

Jauh sebelum negara kesejahteraan muncul, di Amerika Serikat telah ada berbagai "perkumpulan persaudaraan" (fraternal societies) yang menyediakan bantuan timbal balik, baik secara formal maupun informal, dalam bentuk asuransi jiwa, asuransi kesehatan, tunjangan bagi keluarga yang ditinggalkan, tempat tinggal bagi lanjut usia, dan berbagai layanan sosial lainnya. Perkumpulan-perkumpulan seperti Freemasons, True Reformers, dan Ladies of the Maccabees sebagian besar beranggotakan kaum pekerja miskin yang secara sukarela bergabung untuk saling membantu dan memenuhi kebutuhan sesama anggota mereka. Kelompok-kelompok tersebut tentu bukan satu-satunya sumber bantuan. Keluarga dan gereja juga merupakan penyedia utama dukungan timbal balik sebelum pemerintah mulai menyediakan jaminan sosial dan berbagai tunjangan kesejahteraan lainnya.

Menurut pandangan individualis, asosiasi sukarela dan jaringan sosial semacam itu dapat kembali menjadi sumber utama bantuan bagi individu-individu yang membutuhkan dalam masyarakat anarkis. Namun demikian, pengaturan yang berbeda perlu disediakan bagi mereka yang secara permanen tidak mampu bekerja atau tidak mampu mengurus diri mereka sendiri. Akan tetapi, sebagaimana banyak warga Amerika saat ini tetap menyumbangkan dana secara sukarela kepada lembaga-lembaga amal swasta meskipun mereka sudah dibebani pajak untuk membiayai program kesejahteraan pemerintah, individu-individu dalam masyarakat tanpa negara juga akan memberikan kontribusi sukarela kepada organisasi-organisasi yang didedikasikan untuk merawat dan membantu mereka yang tidak mampu merawat diri mereka sendiri.

Masih ada pertanyaan mengenai orang-orang yang sebenarnya mampu bekerja, tetapi tidak bersedia menghidupi diri mereka sendiri. Dalam masyarakat individualis, mereka yang tidak mau bekerja harus mampu meyakinkan seseorang atau suatu kelompok bahwa keberadaan maupun kebersamaan mereka layak untuk ditanggung biayanya. Jika tidak, mereka harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri atau meninggalkan komunitas tersebut dan mencari lingkungan yang lebih bersedia menerima mereka. Namun demikian, kecil kemungkinan bahkan kolektif atau komune yang paling altruistis sekalipun akan terus-menerus menoleransi orang-orang yang enggan berkontribusi. Dalam jangka panjang, mereka mungkin tidak akan diperlakukan dengan lebih lunak dibandingkan dalam kelompok yang menganut prinsip-prinsip individualis. Selain itu, karena jumlah kerja yang diperlukan untuk memperoleh makanan, pakaian, dan tempat tinggal dalam masyarakat anarkis masa depan kemungkinan jauh lebih sedikit dibandingkan saat ini, tidaklah berlebihan untuk mengharapkan setiap orang yang mampu bekerja agar turut menanggung kebutuhan hidupnya sendiri.

Kaum kolektivis tampaknya beranggapan bahwa individu dan organisasi-organisasi sukarela yang mereka bentuk tidak dapat dipercaya untuk menunjukkan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, menurut mereka, kepedulian harus disosialisasikan dan dikelola oleh komunitas secara kolektif. Sebaliknya, kaum individualis berpendapat bahwa meskipun belas kasih bukan selalu motivasi utama mereka, mereka tetap berjuang untuk mewujudkan dunia di mana individu-individu yang bebas dapat membangun jaringan-jaringan sukarela yang saling bertaut dan saling melengkapi guna memenuhi kebutuhan mereka sendiri maupun kebutuhan orang lain. Menurut pandangan individualis, ketika orang-orang yang bebas dihadapkan pada suatu persoalan, mereka akan mampu menemukan cara untuk mengatasinya. Oleh karena itu, meskipun kaum kolektivis mungkin lebih sering menyoroti manfaat sosial dari masyarakat anarkis, kaum individualis meyakini bahwa manfaat-manfaat tersebut juga dapat diwujudkan dengan baik, bahkan dalam lingkungan yang memberikan kebebasan yang lebih besar bagi setiap individu.


Diterjemahkan dari:


Penghinaan dan Kerugian, Gagasan dan Tindakan; Sebuah Pembelaan Anarkis terhadap Kebebasan Berekspresi Tanpa Batas

Hampir setiap orang di Amerika Serikat mengaku mendukung kebebasan berbicara dan berekspresi. Namun, ketika muncul perdebatan mengenai upaya sejumlah individu untuk menggunakan kebebasan tersebut, sering kali kita mendapati bahwa mereka yang mengaku sebagai pembela kebebasan berbicara justru termasuk di antara pihak yang ingin membungkam ekspresi orang lain. Sayangnya, sikap yang diambil oleh banyak anarkis dan kaum kiri dalam persoalan ini sering kali tidak lebih berprinsip dibandingkan sikap yang diambil oleh kaum konservatif dan liberal arus utama.

Dalam praktiknya, kebanyakan orang, apa pun label politik yang mereka gunakan, mendukung kebebasan untuk menyampaikan pandangan yang mereka setujui, tetapi mendukung pembatasan terhadap gagasan-gagasan yang sangat mereka tentang. Dengan kata lain, mereka membela kebebasan berekspresi hanya selama ekspresi tersebut sejalan dengan keyakinan mereka sendiri. Sebagai contoh, banyak kaum konservatif ingin mencegah segala bentuk pembahasan mengenai homoseksualitas yang tidak mengecamnya, tetapi pada saat yang sama mendukung hak mahasiswa untuk menggunakan ungkapan-ungkapan yang bersifat rasis. Sebaliknya, cukup banyak kaum liberal dan kiri yang mendukung hak kaum rasis kulit hitam untuk berbicara di kampus-kampus, tetapi menentang upaya kaum rasis kulit putih untuk mengadakan rapat umum di ruang publik. Kaum anarkis pun sering kali berpihak kepada mereka yang menentang kebebasan berbicara. Dalam beberapa kasus, mereka bahkan melangkah lebih jauh dengan melakukan serangan fisik terhadap kaum rasis kulit putih.

Salah satu argumen yang sering diajukan oleh mereka yang ingin membungkam ekspresi orang lain adalah bahwa mengatakan atau menggambarkan sesuatu yang buruk sama saja dengan melakukan tindakan yang buruk. Menurut logika ini, ujaran rasis dianggap setara dengan menyerang seseorang secara fisik karena warna kulitnya, atau adegan pemerkosaan yang diperankan oleh aktor dalam sebuah video dianggap sama dengan pemerkosaan yang benar-benar terjadi. Pandangan semacam itu tidak benar. Namun, penggunaan istilah seperti “serangan verbal” untuk menggambarkan hinaan atau makian sering kali mengaburkan perbedaan antara ucapan dan tindakan, antara penghinaan dan pencederaan. Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan ungkapan bahwa “tongkat dan batu dapat mematahkan tulang kita, tetapi kata-kata tidak akan melukai kita.” Tentu saja, tidak sepenuhnya benar bahwa hinaan atau ucapan yang menyinggung tidak menimbulkan luka sama sekali. Kata-kata dapat menyebabkan penderitaan emosional atau perasaan tersakiti. Namun, perbedaan yang jelas harus tetap dipertahankan antara penderitaan emosional dan kekerasan fisik. Pembelaan diri sepenuhnya dapat dibenarkan ketika seseorang diserang secara fisik, apa pun alasannya. Namun, ucapan yang menyinggung, meskipun mungkin ingin kita tanggapi dengan berbagai cara, tetap harus diperbolehkan jika kita menginginkan masyarakat yang bebas.

Alasan lain yang sering digunakan untuk membatasi kebebasan berekspresi adalah anggapan bahwa meskipun seseorang hanya menyebarkan gagasan tertentu, gagasan tersebut dapat mendorong orang lain melakukan tindakan yang merugikan atau melukai pihak lain secara fisik. Memang benar bahwa tindakan manusia dipengaruhi oleh apa yang mereka pikirkan, dan bahwa gagasan seseorang dapat dipengaruhi oleh orang lain. Namun demikian, dari mana pun seseorang memperoleh keyakinannya, setiap individu tetap bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Jika seseorang, setelah mendengarkan pidato rasis, kemudian menyerang orang lain yang berbeda warna kulit, atau setelah membaca artikel anti-pornografi lalu menghancurkan majalah pornografi milik orang lain, maka pihak yang diserang berhak membela diri terhadap penyerangnya, bukan terhadap pembicara atau penulis yang menyampaikan gagasan tersebut. Hanya tindakan yang bersifat agresif atau merugikan secara langsung yang dapat membenarkan respons fisik.

Cara yang tepat untuk menanggapi gagasan yang tidak kita setujui adalah dengan menyebarkan gagasan yang berbeda. Perdebatan terbuka antara pandangan yang saling bertentangan merupakan cara terbaik untuk menemukan kebenaran dan memajukan gagasan-gagasan yang etis. Mereka yang mendorong pembungkaman pandangan lawan umumnya adalah mereka yang khawatir akan kalah dalam perdebatan terbuka. Orang-orang yang menginginkan masyarakat baru yang bebas, tetapi merasa perlu membungkam gagasan orang lain untuk mewujudkan masyarakat tersebut, mungkin perlu meninjau kembali sejarah Uni Soviet, tempat pendekatan semacam itu pernah diterapkan secara nyata. Sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang pengkritik awal kaum Leninis, Rosa Luxemburg: “Kebebasan selalu, dan secara eksklusif, merupakan kebebasan bagi mereka yang berpikir berbeda.”


Diterjemahkan dari:


Multikulturalisme, Individualisme, dan Keberagaman

Dalam masyarakat yang multietnis dan multikultural, khususnya di Amerika Serikat, konsep multikulturalisme dan keberagaman semakin sering menjadi perhatian. Individu didorong untuk menghormati nilai-nilai dan praktik budaya orang lain, berbagai organisasi dianjurkan untuk menjadi lebih beragam, dan bahkan ada orang-orang yang membangun karier sebagai konsultan keberagaman. Sebagian besar dorongan ini lahir dari keinginan untuk mengubah sikap rasis dan memerangi praktik-praktik diskriminatif. Namun, penekanan yang berlebihan pada perbedaan budaya dan identitas etnis, alih-alih mengakui keragaman individu yang ada dalam setiap kelompok sosial, tidak serta-merta mendorong keberagaman pemikiran dan pengalaman manusia. Sebaliknya, hal itu justru dapat memperkuat prasangka dan asumsi yang keliru tentang orang-orang yang dianggap berbeda.

Para pendukung multikulturalisme mengatakan bahwa kita harus peka terhadap budaya orang lain. Akan tetapi, mengetahui latar belakang budaya seseorang sebenarnya tidak banyak memberi tahu kita tentang pribadi orang tersebut. Memang ada keyakinan atau praktik tertentu yang umumnya hanya ditemukan, atau lebih sering ditemukan, di negara atau kelompok etnis tertentu. Namun, tidak semua anggota kelompok tersebut akan memiliki keyakinan atau menjalankan praktik yang sama. Di masa lalu, dianggap tidak peka atau bahkan diskriminatif jika seseorang menganggap bahwa orang lain berpikir atau bertindak dengan cara tertentu hanya karena mereka berkulit putih, berkulit hitam, atau merupakan imigran dari Haiti. Kini, tampaknya kecenderungan untuk menilai orang berdasarkan identitas budaya semacam itu justru semakin didorong, meskipun dalam bentuk yang berbeda.

Program-program “kompetensi budaya” banyak digunakan di berbagai organisasi dengan tujuan mendorong kerja sama antar kelompok etnis dan mempromosikan keberagaman. Namun, yang sering diajarkan dalam lokakarya dan seminar semacam itu adalah bahwa orang kulit hitam Amerika berpikir dan bertindak dengan cara tertentu, orang Filipina makan dan beribadah dengan cara tertentu, atau orang Rusia membesarkan anak-anak mereka dengan cara tertentu pula. Generalisasi semacam ini justru mendorong orang untuk menganggap bahwa semua anggota suatu kelompok berpikir dan bertindak dengan cara yang sama. Sikap tersebut sama berpotensinya menimbulkan kesalahpahaman seperti halnya prasangka-prasangka lama yang lahir dari ketidaktahuan mengenai kehidupan kelompok etnis lain. Keberagaman justru terhambat ketika orang memandang kelompok-kelompok “budaya” dengan cara seperti itu dan gagal menghargai keragaman nyata yang terdapat di antara individu-individu yang membentuk kelompok tersebut.

Di saat rasisme dan nasionalisme di kalangan warga kulit putih Amerika banyak dikritik, dan memang patut dikritik, multikulturalisme sering kali tidak mendorong pemahaman antar kelompok. Sebaliknya, ia justru dapat memperkuat identitas etnis kelompok-kelompok non-kulit putih, sehingga mempertahankan batas-batas pemisah antara kelompok maupun antar individu. Bahkan, dalam beberapa situasi, istilah “multikultural” hanya menjadi kata lain untuk menyebut non-kulit putih. Ada organisasi atau kegiatan yang menyebut dirinya multikultural, tetapi pada praktiknya memasukkan sebagian orang dan mengecualikan yang lain berdasarkan warna kulit atau latar belakang budaya mereka. Selain itu, ketika seseorang mulai mendefinisikan dirinya sebagai anggota suatu budaya tertentu, dan sekaligus menetapkan bagaimana anggota budaya tersebut seharusnya berpikir dan bertindak, maka terbuka pula kemungkinan untuk mengucilkan anggota kelompoknya sendiri yang dianggap tidak menunjukkan nilai-nilai budaya yang “semestinya”. Orang-orang seperti itu dapat dicap sebagai pengkhianat ras, atau dituduh tidak “berpikir sebagai orang kulit hitam”, misalnya. Dengan cara yang serupa, sebagian feminis pernah mengecam perempuan yang mendukung pornografi dengan menyebut mereka sebagai “beridentitas laki-laki” (male-identified). Penetapan standar mengenai perilaku yang dianggap benar secara rasial atau etnis semacam ini tidak mendorong keberagaman. Sebaliknya, hal itu justru membatasi keragaman individu serta menghambat pemahaman dan interaksi dengan orang-orang yang berbeda dari diri kita.

Sebagai tanggapan terhadap generalisasi semacam itu, sebagian orang mendorong identifikasi diri berdasarkan apa yang mereka sebut sebagai “subkultur”. Meskipun pendekatan ini dimaksudkan untuk melawan stereotip yang muncul ketika kelompok-kelompok besar dianggap memiliki budaya yang seragam, pada kenyataannya ia menghasilkan bentuk stereotip yang sama, hanya dalam lingkup yang lebih sempit. Pembentukan identitas subkultural tetap berangkat dari anggapan yang keliru bahwa orang-orang yang memiliki beberapa ciri tertentu pada dasarnya serupa satu sama lain. Pendekatan ini merangkul orang-orang yang dianggap sesuai dengan identitas tersebut, sekaligus menyingkirkan mereka yang dianggap tidak cocok. Contoh kelompok subkultural yang dibentuk berdasarkan identifikasi diri semacam ini antara lain “putri lesbian Yahudi dari penyintas Holocaust” (dan ini benar-benar ada) atau “laki-laki kulit hitam yang gay dan biseksual”. Sulit mengatakan bahwa kategori-kategori semacam itu mencerminkan multikulturalisme atau keberagaman dalam arti yang luas.

Masalah mendasar dari semua pendekatan ini adalah bahwa mereka yang mengidentifikasi diri sendiri atau orang lain sebagai anggota suatu budaya cenderung memberi bobot yang lebih besar pada kelompok daripada pada individu yang membentuk kelompok tersebut. Setiap individu memiliki seperangkat gagasan, nilai, prinsip moral, dan pengalaman yang unik. Memang, sebagian dari hal-hal tersebut mungkin dimiliki bersama oleh orang lain dalam berbagai kombinasi, tetapi tidak pernah sepenuhnya sama. Demikian pula, setiap orang bertindak dengan cara yang khas. Meskipun beberapa perilaku dapat menyerupai perilaku orang lain, tidak ada dua individu yang benar-benar identik. Karena setiap kelompok terdiri atas individu-individu yang unik, sangat sedikit hal yang dapat dikatakan tentang suatu kelompok yang benar-benar berlaku bagi seluruh anggotanya. Oleh sebab itu, mencoba menjelaskan pikiran, perasaan, atau tindakan seseorang hanya dengan merujuk pada “budayanya” merupakan pendekatan yang keliru.

Kesalahpahaman dan intoleransi memang akan muncul dari waktu ke waktu karena berbagai alasan. Cara terbaik untuk mengurangi kemungkinan terjadinya konflik semacam itu adalah dengan memandang orang lain sebagai individu, sebagai sesama manusia, bukan sebagai representasi dari suatu budaya asing yang harus diamati dan diklasifikasikan. Keyakinan bahwa setiap individu yang tidak menggunakan paksaan terhadap orang lain layak memperoleh rasa hormat, toleransi, dan perlakuan yang baik akan mendorong hubungan yang lebih adil antarmanusia. Penghargaan terhadap individualitas juga akan mendorong keberagaman yang sesungguhnya: keberagaman gagasan, pengalaman hidup, dan cara menjalani kehidupan. Pada akhirnya, nilai-nilai dan tindakan selalu merupakan milik individu. Karena itu, setiap orang seharusnya bebas menjalani hidupnya tanpa dibatasi oleh asumsi-asumsi budaya yang dilekatkan orang lain kepada dirinya. Multikulturalisme mungkin menjanjikan pemahaman dan toleransi yang lebih besar. Namun, dalam praktiknya pendekatan tersebut justru sering menghasilkan lebih banyak stereotip, lebih banyak kesalahpahaman, dan lebih sedikit penghargaan terhadap perbedaan-perbedaan individual.


Diterjemahkan dari:


Tidak Ada Keadilan, Tidak Ada Perdamaian, Tidak Ada Alasan Pembenar

Sejak akhir April, banyak tulisan muncul di pers kiri dan anarkis mengenai pembebasan para polisi yang memukuli Rodney King serta gelombang pemukulan, pembunuhan, dan penjarahan yang terjadi tak lama kemudian di Los Angeles. Sebagaimana dapat diduga, sebagian besar pers kiri membela atau setidaknya mencari alasan untuk membenarkan kekerasan yang dilakukan oleh sebagian warga Los Angeles, sambil secara tepat mengecam kekerasan yang dilakukan oleh Departemen Kepolisian Los Angeles. Yang lebih memprihatinkan, meskipun tidak terlalu mengejutkan, adalah kenyataan bahwa sebagian pers anarkis juga menunjukkan sikap yang sama. Mereka mendukung, atau setidaknya enggan mengkritik, pemukulan dan pembunuhan yang terjadi di Los Angeles pada 29 April dan hari-hari berikutnya.

Selama apa yang oleh banyak kaum kiri dan anarkis disebut sebagai “pemberontakan” atau “perlawanan”, orang-orang dari berbagai latar belakang ras dan etnis dipukuli atau dibunuh tanpa alasan selain kebencian. Kadang kebencian itu berakar pada sentimen rasial, dan kadang semata-mata lahir dari kekejaman serta kurangnya penghormatan terhadap kehidupan dan milik orang lain. Hanya sedikit dari mereka yang menjadi sasaran serangan merupakan polisi, dan tidak satu pun adalah politisi, hakim, atau anggota juri yang terlibat dalam persidangan para polisi yang memukuli Rodney King. Sebagian besar korban adalah orang-orang biasa yang sedang menjalani aktivitas sehari-hari dan kebetulan berada di tempat yang salah ketika berpapasan dengan para penyerangnya. Toko-toko, rumah-rumah, dan tempat-tempat berkumpul milik banyak orang juga dirusak, dibakar, dan dijarah. Korban-korbannya berasal dari berbagai kelompok etnis. Di antaranya terdapat Aquarian Bookstore, yang saat itu dikenal sebagai toko buku milik warga kulit hitam tertua di Amerika Serikat, serta Church of the Living God, sebuah jemaat yang sebagian besar anggotanya adalah warga kulit hitam. Yang dihancurkan umumnya bukanlah milik kaum kaya. Yang menjadi sasaran justru toko-toko kecil milik pelaku usaha setempat dan rumah-rumah milik orang-orang miskin. Apakah ini yang dimaksud dengan revolusi oleh sebagian kalangan kiri di Amerika Serikat? Apakah ini jenis masyarakat yang ingin dibangun oleh kaum anarkis?

Mulai dari June Jordan di The Progressive, hingga editor The Libertarian Mutualist, Barbara Smith serta Phill Wilson di Gay Community News, para anarkis anonim yang menerbitkan LA Today, dan para penulis di The Revolutionary Worker, banyak kaum kiri dan anarkis yang membela, menyetujui, menjelaskan, dan mencari pembenaran atas kebencian serta kekerasan yang terjadi. Mereka menyalahkan pemerintahan Ronald Reagan dan George H. W. Bush, rasisme, pengadilan, polisi, dan pemadam kebakaran atas kehancuran serta pembunuhan yang terjadi di Los Angeles. Namun tidak satu pun dari mereka yang mengatakan bahwa memukuli dan membunuh orang-orang yang tidak melakukan, maupun tidak berencana melakukan, kekerasan terhadap siapa pun adalah tindakan yang salah, terlepas dari apa yang terjadi di pengadilan pada hari itu. Para penulis LA Today bahkan secara terus terang menyebut kekerasan di Los Angeles bukan hanya dapat dibenarkan, tetapi juga perlu dilakukan. Sementara itu, editor The Libertarian Mutualist sampai terdorong untuk “memuji para pelaku kekerasan acak yang berani karena telah memilih sasaran yang tepat.” Tidak satu pun dari para penulis tersebut yang menyatakan bahwa membakar rumah dan toko milik orang lain adalah tindakan yang salah. Bahkan Ayofemi Folayan, dalam Sojourner, secara tidak langsung menyalahkan dinas pemadam kebakaran atas kebakaran-kebakaran di Los Angeles, meskipun para petugas pemadam justru diserang ketika berusaha menjalankan tugas mereka. Alih-alih meminta pertanggungjawaban dari mereka yang menyalakan api, kesalahan malah dialihkan kepada pihak lain. Mereka semua berusaha memaklumi apa yang oleh Anti-Authoritarians Anonymous disebut sebagai “ekses-ekses yang dilakukan oleh populasi yang kemarahannya telah meluap tanpa batas”, seolah-olah kemarahan dapat menjadi alasan yang sah untuk melakukan pembunuhan.

Ketika seorang pria, yang frustrasi terhadap pekerjaannya dan kehidupannya secara umum, memukuli pacarnya, apakah orang-orang ini meminta kita untuk memahami kemarahannya? Ketika polisi, yang marah karena salah seorang korbannya menolak mematuhi perintah mereka, lalu menghajarnya habis-habisan, apakah kita juga diharapkan untuk memahami kemarahan mereka? Tentu tidak. Dalam keadaan seperti itu, kita justru diharapkan untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku kekerasan atas tindakan mereka dan mengecam mereka sebagaimana mestinya. Peristiwa di Los Angeles tidak berbeda. Orang-orang yang dipenuhi kebencian dan melakukan kekerasan di sana tidak lebih layak dibela daripada para polisi yang menghajar Rodney King.

Alasan para penulis ini bersedia membela para pelaku kekerasan di Los Angeles adalah karena mereka menerapkan standar ganda terhadap manusia, sebuah standar ganda yang dipengaruhi oleh bias rasial dan bias kelas. Mereka tampaknya beranggapan bahwa, karena adanya rasisme institusional dan ketimpangan ekonomi, orang kulit hitam dan/atau orang miskin tidak mampu membuat pilihan moral yang sama seperti yang dibuat oleh orang non-kulit hitam dan/atau non-miskin. Oleh karena itu, menurut pandangan mereka, orang-orang tersebut tidak bertanggung jawab atas tindakan kekerasan yang dilakukan sebagian dari mereka. Sebaliknya, banyak kaum kiri ini menganggap orang kulit putih secara kolektif bertanggung jawab atas tindakan sebagian orang kulit putih lainnya. Karena itu, dalam kerangka moral mereka, semua orang kulit putih dianggap sebagai sasaran yang sah bagi “kemarahan” kaum yang disebut “tertindas”. Sebagaimana ditulis seseorang dalam LA Today: “Kita harus menyadari bahwa kondisi yang dialami orang-orang kulit berwarna di negara ini sepenuhnya membenarkan tindakan perlawanan apa pun yang mereka pilih untuk lakukan, bahkan jika tindakan itu ‘menghabisi’ beberapa dari kelompok kita sendiri (yang dimaksud dengan ‘kelompok kita’ adalah orang kulit putih, baik yang anti-rasis maupun yang rasis). Sebagian korbannya mungkin orang baik, aktivis, sahabat dekat, atau kekasih kita, tetapi kita harus berhati-hati menempatkan kesalahan pada pihak yang memang bertanggung jawab: bukan pada orang kulit hitam, melainkan pada sistem kapitalis kulit putih yang rasis itu sendiri. Dalam kemarahan yang membutakan saat pemberontakan, orang tidak berhenti untuk menanyakan posisi kelas atau pandanganmu tentang rasisme; jika kamu kulit putih, kamu adalah sasaran. Hal itu memang dapat diperkirakan. Tidak menyenangkan, tetapi dapat diperkirakan.”

Perhatikan bahwa mereka mengatakan pembunuhan bermotif rasial itu “tidak menyenangkan”. Mereka tidak pernah mengatakan bahwa tindakan itu “salah”.

Orang miskin dan/atau orang kulit hitam memang memiliki pilihan yang lebih terbatas dalam berbagai aspek kehidupan mereka, baik karena rasisme maupun karena berbagai hukum yang membatasi kebebasan mereka. Namun demikian, mereka tetap memiliki kemampuan untuk menentukan tindakan mereka sendiri dan tetap bertanggung jawab atas konsekuensi dari keputusan yang mereka ambil, sama seperti manusia lainnya. Beranggapan sebaliknya berarti memperlakukan orang kulit hitam dan/atau orang miskin seperti anak-anak yang tidak mampu bertanggung jawab atas tindakannya sendiri. Itu berarti memandang mereka sebagai manusia yang kurang utuh dibandingkan orang lain. Cara berpikir seperti ini justru menjadi dasar bagi intervensi paternalistik negara ke dalam kehidupan mereka, yang pada akhirnya hanya mempertahankan ketergantungan dan kemiskinan yang sudah ada.

Meskipun kaum kiri menyalahkan negara dan orang kulit putih atas kekerasan serta kehancuran di Los Angeles, mereka tetap berpaling kepada negara (yang sebagian besar dijalankan oleh orang kulit putih) untuk memperbaiki keadaan. Bukan dengan membiarkan masyarakat mengatur dirinya sendiri, melainkan dengan memperluas campur tangan negara dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mendukung perumahan pemerintah, pekerjaan pemerintah, tunjangan kesejahteraan, layanan penitipan anak yang dibiayai dan diatur pemerintah, program “rehabilitasi” narkoba yang dibiayai pemerintah, penambahan polisi kulit hitam, dan berbagai program lain yang berpusat pada negara. Padahal, jika negara yang rasis adalah sumber masalah, maka tidak masuk akal mengandalkan negara yang sama untuk memperbaiki keadaan bagi masyarakat kulit hitam miskin.

Perubahan yang benar-benar dapat memperbaiki kehidupan warga Los Angeles hanya akan terjadi jika negara disingkirkan dari berbagai aspek kehidupan ekonomi dan sosial. Salah satu langkah awal yang penting adalah menghapus hukum-hukum yang membatasi masuknya orang miskin dan/atau orang kulit hitam ke berbagai jenis pekerjaan. Peraturan taksi yang membatasi pasar transportasi, sistem perizinan bagi penata rambut, perawat, dan berbagai profesi lain yang menyingkirkan orang-orang yang tidak mampu membayar pelatihan bersertifikat atau biaya lisensi pemerintah, serta aturan zonasi yang melarang orang bekerja dari rumah atau membuka usaha di wilayah tertentu, merupakan bentuk campur tangan negara yang membuat banyak warga kulit hitam tetap terjebak dalam kemiskinan. Bidang lain yang merugikan kaum miskin adalah perumahan. Perlindungan negara terhadap hak kepemilikan atas properti yang ditelantarkan mencegah orang mengambil alih dan memanfaatkan bangunan kosong, sehingga mereka dipaksa bergantung pada perumahan pemerintah yang kotor dan berbahaya. Selain itu, hukum narkoba yang mengkriminalisasi aktivitas sukarela dan bersifat pribadi ikut mendorong kekerasan dan pencurian yang menghancurkan banyak lingkungan tempat tinggal warga kulit hitam. Mendorong orang untuk mengandalkan diri sendiri alih-alih negara dapat melahirkan individu-individu yang mandiri, otonom, dan lebih berani memberontak. Namun, pemberontakan itu seharusnya diarahkan kepada sumber penindasan yang sebenarnya (negara beserta hukum, pengadilan, polisi, dan militernya), bukan kepada tetangga mereka atau orang-orang lain yang tidak menggunakan paksaan terhadap siapa pun.

Peristiwa di Los Angeles memaksa kaum kiri dan kaum anarkis untuk menunjukkan dengan jelas posisi mereka. Sayangnya terlalu banyak dari mereka yang berdiri di pihak yang keliru. Kaum kiri telah memeluk negara, rasisme, nasionalisme, pembunuhan, dan penghancuran sebagai sarana menuju masyarakat yang bebas setidaknya sejak Revolusi Rusia. Sebaliknya, secara historis kaum anarkis selalu menekankan pentingnya keselarasan antara sarana dan tujuan, yaitu gagasan bahwa hanya cara-cara yang bermoral atau etis yang dapat menghasilkan hasil yang bermoral atau etis pula. Namun, para anarkis yang menerbitkan LA Today, The Libertarian Mutualist, dan mereka yang memiliki pandangan serupa, mengharapkan kita untuk percaya bahwa pembunuhan, penyerangan, dan pencurian yang dilakukan hari ini entah bagaimana akan menghasilkan kebebasan dan anarki di masa depan. Pengalaman gerakan sosialis otoriter telah menunjukkan kekeliruan gagasan semacam itu. Akan tetapi, banyak anarkis tampaknya lambat mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut. Selama kaum anarkis tidak mengembangkan kritik terhadap negara kesejahteraan, tidak meninggalkan rasisme kiri, serta tidak mendorong orang untuk mengandalkan diri sendiri dan bertanggung jawab atas kehidupan mereka sendiri, maka hanya akan ada sedikit hal yang membedakan mereka dari kelompok kiri otoriter lainnya, terlepas dari retorika anti-negara yang mereka gunakan. Satu-satunya cara untuk berharap terciptanya masa depan yang libertarian adalah dengan mendorong tindakan-tindakan yang libertarian sejak sekarang. Hanya melalui praktik kebebasan, tanggung jawab individu, dan penolakan terhadap pemaksaan,  masyarakat yang bebas dapat diwujudkan di masa depan.


Diterjemahkan dari:


Kemiskinan Negara Kesejahteraan

Ketika pemerintah di berbagai tingkatan berupaya mengurangi tunjangan kesejahteraan dan berbagai bantuan sosial lainnya bagi masyarakat miskin, atau mewajibkan penerima bantuan untuk bekerja sebagai syarat memperoleh tunjangan tersebut, kaum anarkis di Amerika Serikat mulai memperdebatkan dan menulis tentang bagaimana seharusnya respons anarkis terhadap situasi ini. Sebagian berpendapat bahwa kaum anarkis seharusnya mendukung program kesejahteraan negara bagi kaum miskin dan secara aktif menentang pemotongan anggaran tersebut. Mereka berargumen bahwa orang miskin berhak menerima bantuan negara karena mereka merupakan korban dari hubungan ekonomi kapitalis; bahwa korporasi kapitalis merupakan ancaman yang lebih besar bagi kaum miskin dan kelas pekerja dibandingkan negara; dan bahwa memaksa orang bekerja demi memperoleh tunjangan hanya akan memperburuk kondisi kerja yang sudah buruk, sehingga semakin memiskinkan mereka. Selain itu, sebagian anarkis juga mengemukakan argumen bahwa karena negara memberikan berbagai bentuk subsidi dan bantuan kepada korporasi serta orang-orang kaya, maka sudah sewajarnya kaum miskin juga memperoleh bagian mereka. Argumen-argumen tersebut memang disampaikan dengan itikad baik dan didorong oleh keinginan untuk membantu kaum miskin. Namun, kaum anarkis seharusnya menelaah persoalan ini lebih dalam serta mengembangkan kritik terhadap sistem kesejahteraan negara dan menawarkan solusi atas kemiskinan yang lebih selaras dengan prinsip-prinsip libertarian, alih-alih mengikuti begitu saja logika negara kesejahteraan modern.

Memanfaatkan keberadaan negara kesejahteraan dan mengambil manfaat dari program-program yang lahir dari tuntutan serta gerakan kaum statist radikal atau progresif tentu dapat dipahami. Namun, berbeda halnya jika program-program tersebut dianggap sebagai cara terbaik atau utama untuk menyelesaikan persoalan sosial. Menuntut penghapusan sistem kesejahteraan bagi kaum miskin mungkin bukan langkah awal yang paling tepat bagi kaum anarkis dalam perjuangan melawan keberadaan negara itu sendiri. Akan tetapi, mendukung pelestarian atau bahkan perluasan sistem tersebut seolah-olah itulah satu-satunya cara membantu orang yang membutuhkan juga bukan jalan yang tepat. Sebagaimana dalam persoalan sosial lainnya, kaum anarkis seharusnya menawarkan solusi non-negara terhadap kemiskinan. Meskipun penghapusan negara secara menyeluruh dianggap sebagai solusi akhir terhadap kemiskinan, terdapat langkah-langkah lain yang dapat diajukan dan diterapkan bahkan dalam kondisi negara yang masih ada. Misalnya, pengurangan pajak untuk meningkatkan pendapatan kaum pekerja miskin, deregulasi layanan kesehatan guna menekan biaya kesehatan, serta menghidupkan kembali lembaga-lembaga mutual aid sebagai pengganti perusahaan asuransi yang dianggap eksploitatif. Langkah-langkah semacam itu jauh lebih sejalan dengan prinsip-prinsip anarkis dibandingkan sekadar menjadi pendukung program bantuan negara seperti AFDC (Aid to Families with Dependent Children), yaitu program bantuan kesejahteraan bagi keluarga miskin yang memiliki anak tanggungan di Amerika Serikat.

Secara historis, kaum anarkis berupaya mengurangi pengaruh negara dalam kehidupan kaum miskin dan kelas pekerja. Ketika berhadapan dengan kemiskinan, mereka mendorong pengorganisasian diri dan aksi langsung para pekerja untuk memperoleh setidaknya porsi yang lebih besar dari hasil kerja mereka sendiri. Dalam perjuangan melawan korporasi, kaum anarkis tidak menyerukan agar pemerintah memberlakukan lebih banyak undang-undang ketenagakerjaan. Sebaliknya, mereka mengkritik negara karena menggunakan polisi dan militernya untuk melindungi kepentingan korporasi. Yang mereka tuntut adalah agar negara menyingkir dan berhenti menghalangi, bukan agar negara tampil sebagai penyelamat kaum miskin. Kaum anarkis juga membayangkan suatu masa depan di mana individu-individu dan kelompok-kelompok yang cakap serta mandiri, setelah terbebas dari berbagai pembatasan masyarakat yang berpusat pada negara, mengatur kehidupan mereka sendiri dan saling membantu dengan cara-cara yang mereka anggap paling masuk akal. Tampaknya visi anarkis semacam ini telah dilupakan oleh sebagian orang pada masa kini.

Sejumlah anarkis tampaknya telah menerima gagasan bahwa karena negara terkadang lebih responsif terhadap tuntutan kaum miskin dibandingkan kaum kapitalis swasta, maka negara dapat dipandang sebagai pelindung dari berbagai bentuk eksploitasi yang dilakukan oleh kapital. Pandangan ini tidak sejalan dengan analisis anarkis yang menyatakan bahwa negara justru menopang sistem kapitalisme. Pandangan tersebut juga bertentangan dengan kenyataan bahwa dalam beberapa kasus perusahaan swasta memberikan perlakuan yang lebih baik kepada pekerja dan pelanggannya dibandingkan lembaga-lembaga negara terhadap para penerima layanan maupun pekerjanya. Setidaknya sebagian alasan mengapa terkadang lebih mudah memperoleh konsesi dari negara adalah karena para pejabat yang menjalankan negara tidak menanggung biayanya secara pribadi. Mereka cukup membebankan biaya tambahan itu kepada masyarakat pekerja melalui kenaikan pajak untuk membiayai peningkatan tunjangan kesejahteraan. Sebaliknya, dalam perusahaan kapitalis swasta, para pemilik usaha tidak selalu dapat mengalihkan biaya peningkatan kesejahteraan pekerja kepada konsumen. Akibatnya, mereka mungkin harus mengorbankan sebagian keuntungan mereka jika memenuhi tuntutan pekerja akan upah yang lebih tinggi atau kondisi kerja yang lebih baik. Namun demikian, baik negara maupun perusahaan kapitalis pada dasarnya hanya memberikan manfaat kepada pihak lain ketika mereka dipaksa untuk melakukannya. Program kesejahteraan, jaminan sosial, dan berbagai bentuk bantuan negara lainnya tidak muncul karena kemurahan hati pemerintah, melainkan sebagai hasil tekanan dari gerakan-gerakan sosial. Demikian pula, berbagai tunjangan yang lebih baik di banyak perusahaan swasta merupakan hasil dari gerakan buruh yang kuat, yang memaksa para pemilik perusahaan mengembalikan kepada pekerja bagian yang lebih besar dari nilai kerja mereka dibandingkan sebelumnya. Negara dan perusahaan kapitalis pada dasarnya memiliki kepentingan yang serupa. Keduanya hanya akan memberikan konsesi ketika menghadapi tekanan yang kuat dari orang-orang yang berada di bawah kekuasaan mereka, baik sebagai warga negara maupun sebagai pekerja.

Sementara pekerja yang menekan majikannya untuk memperoleh perlakuan yang lebih baik pada dasarnya hanya menuntut bagian yang memang merupakan hak mereka, penerima bantuan kesejahteraan dan tunjangan lainnya meminta pemerintah mengambil uang milik orang lain dan memberikannya kepada mereka. Banyak pendukung sistem kesejahteraan yang ada saat ini memang dengan tepat menunjukkan bahwa biaya program-program tersebut relatif kecil jika dibandingkan dengan keseluruhan pengeluaran negara. Pengeluaran negara untuk senjata pemusnah massal dan bantuan kepada korporasi jauh lebih besar daripada program kesejahteraan bagi individu dan keluarga miskin. Selain itu, banyak pekerja yang biasanya tidak dianggap sebagai penerima bantuan negara sebenarnya juga menerima manfaat serupa, misalnya ketika kalangan kelas menengah menggunakan Medicaid untuk membiayai perawatan di panti jompo, atau ketika pekerja memperoleh layanan kesehatan gratis di rumah sakit yang biayanya ditanggung pemerintah. Meskipun semua ini benar, hal tersebut tidak membenarkan perampasan uang para pekerja oleh negara untuk kemudian diberikan kepada pihak lain. Dana pajak yang digunakan untuk membiayai bantuan korporasi, AFDC, dan Medicaid merupakan hasil pemaksaan, sebagaimana pula dana yang diperoleh melalui pungutan wajib terhadap perusahaan asuransi untuk membiayai layanan kesehatan gratis yang pada akhirnya dibebankan kembali kepada para pelanggan mereka. Kalangan kaya tidak menanggung beban utama pajak, dan kalangan yang sangat miskin juga tidak. Yang menanggungnya adalah jutaan pekerja biasa, yang pada akhirnya menopang kedua kelompok tersebut. Dan meskipun sebagian dari mereka menerima kembali sebagian uang yang dipungut dari mereka dalam bentuk berbagai manfaat, kebanyakan tetap membayar lebih banyak daripada yang mereka terima; jika tidak demikian, tidak akan ada dana yang tersisa untuk diberikan kepada kaum kaya maupun kaum miskin.

Kaum kaya dan korporasi menjadi makmur karena mereka, atau pendahulu mereka, berhasil memperoleh secara tidak adil sebagian kekayaan yang dihasilkan oleh orang lain. Mereka hanya dapat melakukan hal itu karena negara, beserta polisi dan militernya, menopang institusi keuntungan, bunga, dan sewa yang memindahkan kekayaan dari para pekerja kepada mereka yang “memiliki” perusahaan, bank, dan properti. Orang-orang kaya tidak berhak atas kekayaan yang telah mereka miliki, dan tentu saja tidak berhak menerima uang yang secara langsung dirampas dari para pekerja oleh pemerintah, maupun berbagai keuntungan lain yang mereka nikmati atas beban para pembayar pajak. Di antara masyarakat miskin yang menerima uang atau manfaat lain dari negara, terdapat mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan. Sebagian memang menjadi korban keadaan yang sebagian besar berada di luar kendali mereka, sementara sebagian lainnya membuat pilihan yang buruk dan berharap orang lain akan menolong mereka. Namun ada pula penerima bantuan yang sekadar bersikap parasitis dan merasa bahwa orang lain seharusnya bekerja untuk menopang gaya hidup yang ingin mereka pertahankan (sama seperti kaum kaya). Menjadi miskin tidak otomatis membuat seseorang bermoral atau layak menerima bantuan. Meskipun demikian, karena setidaknya ada sebagian orang miskin yang memang membutuhkan pertolongan, lebih baik uang pajak digunakan untuk membiayai AFDC, Medicaid, dan kupon pangan daripada untuk subsidi korporasi dan militer. Namun baik penerima yang kaya maupun yang miskin tidak memiliki hak atas uang yang dipungut secara paksa dari para pekerja.

Karena pemindahan kekayaan secara paksa seperti itu tidak dapat diterima, kita perlu mencari cara-cara lain yang tidak bersifat koersif agar masyarakat dapat lebih mampu memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, pemotongan pajak, deregulasi layanan kesehatan, dan lembaga-lembaga mutual air yang bersifat sukarela semuanya dapat mengurangi kemiskinan, bahkan jika diterapkan dalam masyarakat yang masih berada di bawah negara. Menghapus negara sepenuhnya beserta perlindungannya terhadap hubungan ekonomi kapitalis akan membuka jauh lebih banyak pilihan bagi setiap orang untuk menentukan jalan hidup mereka sendiri, yang pada gilirannya akan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, barang-barang yang lebih murah (termasuk layanan kesehatan, pangan, dan perumahan), serta secara drastis mengurangi jumlah orang yang hidup dalam kemiskinan. Berakhirnya pemerintahan berarti berakhirnya kemiskinan yang dipaksakan secara struktural, dan dengan demikian juga berakhirnya sebagian besar kebutuhan akan apa yang saat ini disebut sebagai kesejahteraan sosial. Sejumlah kecil orang yang tidak mampu bekerja dan membutuhkan bantuan dari komunitas tetap dapat dibantu melalui berbagai bentuk bantuan timbal balik, sesuai dengan struktur ekonomi komunitas tempat mereka tinggal.

Anarki setidaknya didasarkan pada gagasan bahwa dengan menyingkirkan pemerintah dari kehidupan masyarakat, orang-orang akan mampu melihat, memahami, dan menyelesaikan persoalan mereka sendiri. Hal ini juga berlaku bagi masyarakat miskin. Pada umumnya mereka bukanlah orang-orang tak berdaya yang tidak memiliki pilihan selain bergantung pada negara. Sebaliknya, masyarakat miskin menjadi korban korporasi bukan karena negara gagal melindungi mereka, melainkan karena negara mencegah mereka melindungi diri mereka sendiri. Hukum dan berbagai tindakan pemerintah lainnya mempertahankan kapitalisme beserta sistem keuntungan, bunga, dan sewa yang merupakan bentuk perampasan terhadap hasil kerja kaum pekerja dari semua lapisan. Tanpa negara dan aparat bersenjatanya (polisi maupun militer), kapitalisme tidak akan bertahan lama. Orang-orang akan mempertahankan apa yang menjadi hak mereka, berhenti membayar sewa, mengakhiri monopoli perbankan, serta mengelola pabrik dan usaha mereka sendiri. Yang kita butuhkan bukanlah kesejahteraan yang disediakan negara, melainkan penghapusan negara itu sendiri.


Diterjemahkan dari:


Kekuasaan dan Sang Nabi

Banyak kritik telah dilontarkan di media arus utama dan berbagai forum lainnya terhadap tindakan pemerintah dalam tragedi Branch Davidian di Waco. Harian Quincy Patriot Ledger (21/4/1993) bahkan menyebut peristiwa itu sebagai “salah satu bencana terburuk dalam sejarah penegakan hukum Amerika.” ATF dan FBI dihujani kecaman karena metode yang mereka gunakan serta kegagalan mereka mencapai penyelesaian damai atas pengepungan tersebut. Reno dan Clinton juga disalahkan karena dianggap tidak memiliki pandangan jauh ke depan untuk mengantisipasi bencana sebesar itu, dan karena membiarkan aparat federal memaksakan konfrontasi. Mengapa mereka tidak terus mempertahankan “sanksi” sampai para Davidian lelah dan keluar dengan sendirinya? Apa alasan mereka kehilangan kesabaran dan memicu malapetaka yang kemudian terjadi? Banyak orang bahkan mempertanyakan mengapa ATF merasa perlu menyerbu kompleks Davidian dengan gaya operasi besar-besaran sejak awal. Kelompok Davidian berada di daerah terpencil dan tidak mengganggu siapa pun, sementara Koresh sendiri bisa saja ditangkap di luar kompleks tersebut. Jelas bahwa para Davidian seharusnya dibiarkan begitu saja.

Pihak pemerintah menawarkan sejumlah jawaban yang tidak memadai, mulai dari pengakuan tanggung jawab Janet Reno secara terus terang (atas kegagalan di tahap akhir, bukan atas keseluruhan peristiwa), hingga pembelaan kosong dari kalangan aparat penegak hukum yang berusaha menyalahkan Koresh atas kekacauan yang mereka ciptakan sendiri karena ia menolak “bermain sesuai aturan”. Persediaan senjata ringan yang dibeli secara legal dijadikan alasan untuk tindakan tergesa-gesa pada awal operasi. Rumor tentang “pelecehan anak” yang tidak pernah dijelaskan secara jelas (alasan serbaguna yang saat itu sedang populer untuk membenarkan intervensi panik) termasuk di antara dalih yang digunakan untuk membenarkan serangan terakhir. Namun alasan sebenarnya di balik pengepungan dan penyerbuan yang begitu ekstrem bukanlah persoalan bersalah atau tidak bersalah. Masalahnya bukan pada apa yang diduga telah dilakukan Koresh dan para pengikutnya, bahkan bukan pula pada apa yang mungkin mereka lakukan sebagai kaum fanatik religius bersenjata yang terobsesi seks. Yang menjadi persoalan adalah tantangan mereka yang tanpa penyesalan terhadap otoritas Negara.

Banyak orang merasakan adanya sesuatu yang tak terelakkan dalam keseluruhan peristiwa ini, dan dalam satu hal yang sangat penting mereka memang benar. Mengingat watak otoriter baik dari Negara maupun sekte Davidian, begitu konflik dimulai, satu-satunya cara konflik itu dapat berakhir adalah dengan kehancuran pihak yang dianggap menentang. Sudah lama menjadi pemahaman dasar dalam tradisi anarkis bahwa Negara mencadangkan bagi dirinya sendiri monopoli atas kontrol yang bersifat memaksa. Sebagaimana dikatakan oleh Benjamin Tucker secara lugas, “Agresi, invasi, dan pemerintahan adalah istilah yang dapat saling dipertukarkan. Hakikat pemerintahan adalah kontrol, atau upaya untuk mengontrol.” Negara tidak akan dan tidak dapat membiarkan adanya otoritas yang independen dari kontrol tersebut di dalam wilayah kekuasaannya. Koresh dan para pengikutnya dikecam karena bertahan secara sia-sia melawan pemerintah alih-alih berunding. Memang itu sia-sia, tetapi sangat mungkin mereka menyadari bahwa tidak ada “perundingan” yang sungguh-sungguh mungkin dilakukan. Salah satu prinsip dasar Negara adalah bahwa tidak seorang pun (tampaknya bahkan kepala negara lain sekalipun) dapat menempatkan dirinya “di atas hukum”; dengan kata lain, berada di luar otoritas Negara. Karena itu, satu-satunya pertanyaan yang tersisa bukanlah apakah hukum akan ditegakkan, melainkan bagaimana hukum itu akan dibalaskan. Satu-satunya pilihan yang tersedia adalah penyerahan diri secara total dan tunduk sepenuhnya, setelah itu rincian serta tingkat hukuman yang akan dijatuhkan dapat disesuaikan.

Sekte Davidian berasumsi dan bertindak seolah-olah mereka memiliki otoritas yang mandiri berdasarkan ajaran Kristen. Mereka menolak bermain sesuai aturan dan menolak menyerah seperti warga negara yang patuh kepada Negara. Namun, kaum anarkis seharusnya menahan diri dari godaan untuk mengidentifikasi diri dengan para korban represi pemerintah ini. Tragedi tersebut terjadi karena kedua belah pihak memiliki kelemahan yang sama-sama fatal: pemujaan yang berlebihan terhadap otoritas. Agama, khususnya agama Kristen, sejak lama mengklaim memiliki otoritas yang dalam beberapa hal melampaui otoritas Negara, meskipun hanya sedikit kelompok yang cukup naif untuk mendorong klaim tersebut hingga konsekuensi logisnya. Seperti yang telah lama ditegaskan oleh kaum anarkis, otoritas semacam itu pada akhirnya akan membawa bencana. David Koresh dan para pengikutnya (dan tidak masuk akal untuk berpura-pura bahwa mereka semua hanyalah korban manipulasi dirinya) memilih untuk mengikuti tuntutan keyakinan mereka daripada tuntutan Negara, sebagaimana kelompok-kelompok religius lain, dari kaum Pilgrim hingga kaum Mormon, pernah melakukannya di masa lalu. Dan sebagaimana yang terjadi pada masa lalu, mereka harus menanggung akibat karena menantang kekuasaan Negara.

Otoritas Negara dipertahankan melalui tuntutan agar hukum dan peraturannya dipatuhi tanpa pertanyaan. Pada umumnya, dibutuhkan pelanggaran yang nyata dan aktif terhadap hukum-hukum tersebut, yakni tindakan yang benar-benar dianggap sebagai “kejahatan”, untuk memicu respons koersif dari pemerintah. Namun kini telah menjadi kebiasaan untuk mengantisipasi kemungkinan pelanggaran dan bertindak lebih dulu terhadap para “penjahat” potensial yang, melalui keyakinan dan aktivitas mereka (seperti menganut pandangan keagamaan, seksual, atau politik yang tidak konformis), suatu saat mungkin melanggar sekian banyak aturan dan regulasi yang dapat digunakan pemerintah sebagai alasan untuk melakukan pemaksaan. Setelah mengalami perlakuan yang kerap brutal dan mengintimidasi di tangan (dan kaki) lembaga-lembaga seperti ATF dan DEA, para “pendosa sosial” itu diharapkan digiring pergi untuk dijadikan contoh bagi para pembangkang potensial lainnya. Ketika mereka yang diserbu menolak mengikuti skenario Negara dengan tidak menyerah dan tidak mengakui ketundukan mereka, maka mereka harus dihancurkan, baik secara sosial maupun secara fisik.

Dengan menegaskan otoritas mereka sendiri di atas otoritas pemerintah, kaum Davidian melontarkan tantangan yang tidak mungkin diabaikan. Negara menerima tantangan itu, dan seperti yang biasanya terjadi, Negara menang. Kaum Davidian diserang, dicela, dipermalukan, dijadikan iblis oleh media, dan pada akhirnya (meskipun tidak disengaja) dimusnahkan secara fisik. Mungkin kini akan muncul banyak kritik, dan barangkali beberapa orang akan kehilangan jabatan atau sejumlah undang-undang yang lebih lunak akan disahkan. Namun Negara itu sendiri tidak akan terpengaruh. Selama kritik hanya berfokus pada cara represi itu dijalankan, dan bukan pada hak istimewa yang diklaim pemerintah untuk melakukan represi sesuka hati, tidak akan ada yang berubah.


Diterjemahkan dari:


Winnie Mandela, Queerbashing, dan Kiri Politik

Beberapa bulan lalu berlangsung sebuah persidangan di Afrika Selatan yang seharusnya menarik perhatian besar bagi gerakan lesbian dan gay progresif. Winnie Mandela didakwa dan kemudian dinyatakan bersalah atas berbagai tuduhan yang berkaitan dengan penculikan dan pemukulan terhadap beberapa pemuda, salah satunya kemudian dibunuh oleh orang-orang yang berafiliasi dengannya. Yang membuat persidangan ini relevan bagi gerakan lesbian dan gay adalah kenyataan bahwa setidaknya sebagian alasan serangan tersebut adalah karena para pemuda itu diyakini melakukan hubungan seksual dengan sesama laki-laki, suatu aktivitas yang tampaknya dianggap layak dihukum dengan pemukulan, bahkan kematian, oleh Mandela. Lebih dari dua tahun sebelumnya, ketika insiden ini terjadi, Mandela telah menerima kritik keras dari para aktivis anti-apartheid di Afrika Selatan. Namun, dengan pengecualian artikel “Has Winnie Lost It?” yang terbit dalam BLK edisi Mei 1991, hampir tidak terlihat kritik terhadap Mandela dari aktivis atau publikasi lesbian dan gay progresif di Amerika Serikat, termasuk kelompok-kelompok radikal seperti Queer Nation maupun Gay Community News. Bahkan, sejumlah lesbian di tingkat lokal turut terlibat dalam penyelenggaraan sebuah acara perempuan di Boston untuk menghormati Mandela pada bulan Juni tahun sebelumnya. Tampaknya, banyak lesbian dan gay radikal menganggap queer-bashing dapat diterima selama pelakunya adalah tokoh progresif seperti Winnie Mandela.

Kami mengakui bahwa sulit untuk mengetahui seluruh fakta mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam kasus ini. Namun, kami belum menemukan apa pun yang membuat kami meragukan bahwa prasangka anti-homoseksual memainkan peran penting dalam pemukulan dan pembunuhan tersebut. Mandela sendiri mengakui bahwa dugaan hubungan homoseksual antara para korban dan seorang pendeta di asrama tempat mereka tinggal menjadi alasan penculikan dan pemukulan itu. Namun, ia mengklaim bahwa tindakannya semata-mata bertujuan untuk “melindungi” mereka dari “pelecehan seksual”, meskipun para “korban” itu sendiri tidak pernah menyatakan bahwa pelecehan semacam itu pernah terjadi. Seperti banyak orang tua yang berusaha memukul habis perasaan homoseksual dari anak-anak mereka, Mandela tampaknya menganggap penyiksaan terhadap mereka yang lebih menyukai hubungan sesama jenis sebagai sesuatu yang sah. Jika ia benar-benar bermaksud melindungi para pemuda tersebut dari pelecehan seksual, mengapa yang menjadi sasaran justru para “korban”, bukan pelaku yang dituduh melakukan pelecehan? Satu-satunya pelecehan yang benar-benar dialami para pemuda itu adalah pelecehan yang dilakukan oleh Mandela dan orang-orang di sekelilingnya.

Tindakan semacam ini dari Mandela terhadap orang-orang yang dianggap menyimpang atau menentangnya seharusnya tidak mengejutkan, mengingat komitmennya terhadap kekerasan dan pertumpahan darah sebagai cara utama untuk menyelesaikan masalah. Mandela juga dikaitkan dengan tiga kasus penculikan dan penyerangan lainnya, serta satu kasus penghilangan orang, yang terjadi hanya dalam rentang beberapa bulan dari peristiwa yang menjadi pokok persidangan tersebut. Ia juga pernah dikutip mengatakan, “Dengan korek api dan kalung kami, kami akan membebaskan Afrika Selatan”, merujuk pada praktik necklacing, yakni menaruh ban yang telah disiram bensin di leher orang-orang yang dianggap “pengkhianat” oleh sebagian aktivis anti-apartheid, lalu membakarnya hidup-hidup. Menariknya, sama seperti perundungan dan kekerasan yang dilakukan Mandela terhadap kaum queer muda, praktik necklacing ini hanya diterapkan terhadap orang kulit hitam.

Berbeda dengan kebanyakan rekan mereka di Amerika Serikat, gerakan progresif di Afrika Selatan menolak untuk berdiam diri menghadapi kebrutalan Mandela. Bahkan, laporan pertama mengenai penculikan, penganiayaan, dan pembunuhan tersebut diterbitkan oleh surat kabar anti-apartheid, bukan oleh media yang dikendalikan atau mendukung pemerintah. Organisasi-organisasi anti-apartheid di Afrika Selatan, seperti Congress of South African Trade Unions (COSATU) dan United Democratic Front (UDF), dengan cepat mengecam tindakan kekerasan yang dilakukan Mandela. Pernyataan bersama UDF/COSATU antara lain berbunyi: “Kami geram atas keterlibatan Ny. Mandela dalam penculikan dan penganiayaan terhadap Stompie… Kami geram atas teror yang telah dikaitkan dengan tim tersebut [para pengawal Mandela, yang juga dikenal sebagai Mandela United Soccer Club atau Mandela Football Club]. Ny. Mandela bukan hanya terkait dengan tim itu; faktanya, tim tersebut adalah ciptaannya sendiri. Kami berpendapat bahwa Ny. Mandela telah menyalahgunakan kepercayaan dan keyakinan yang selama bertahun-tahun diberikan kepadanya... Dengan ini, Gerakan Demokrasi Massa menyatakan mengambil jarak dari Ny. Mandela dan tindakannya.”

Kecaman dari para mantan sekutunya dalam gerakan anti-apartheid itu muncul hanya lima bulan setelah citra Mandela sebagai pemimpin oposisi yang populer diguncang oleh tantangan lain. Pada September 1988, rumah Mandela di Soweto dibakar oleh para aktivis setempat, yang tampaknya merupakan tindakan balasan atas pelecehan seksual terhadap seorang pemimpin mahasiswa oleh anggota “football club” tersebut (tampaknya, pelecehan seksual dapat diterima oleh Mandela dan kawan-kawannya selama pelakunya heteroseksual). Serangan terhadap rumah Mandela juga tampaknya dipicu oleh kemarahan atas gaya hidup Mandela yang relatif mewah di tengah kemiskinan yang meluas di Soweto, termasuk kepemilikannya atas sebuah Mercedes. Menurut seorang sumber dalam gerakan buruh anti-apartheid, kecaman publik terhadap Mandela oleh COSATU dan UDF didorong oleh tekanan dari warga Soweto yang sudah muak dengan tindakan Mandela dan para pengikutnya. Bahkan sebelum pembunuhan Stompie Seipei, penentangan dari sesama aktivis anti-apartheid terhadap kelompok preman Mandela telah mendorong Oliver Tambo dan Nelson Mandela untuk meminta Winnie Mandela membubarkan klub tersebut.

Kaum kiri di Amerika Serikat, baik heteroseksual maupun homoseksual, tidak pernah terlalu konsisten dalam membela individu dari tirani pemerintah atau gerakan yang mengatasnamakan kemajuan. Misalnya, sebagian aktivis gay dan lesbian masih membela para penguasa Kuba yang dahulu memenjarakan kaum queer dan yang hingga kini mengarantina orang-orang yang hidup dengan HIV, praktik-praktik yang akan mereka anggap tidak dapat diterima jika dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat atau sekutu-sekutunya. Tampaknya, bagi banyak kaum kiri, tokoh-tokoh politik seperti Mandela dan Castro yang mengumandangkan slogan-slogan pembebasan tidak perlu mematuhi standar perilaku yang sama seperti orang lain pada umumnya. Dalam sebuah kolom berjudul “Leftist cheerleaders are often wrong, but never in doubt”, Thomas Sowell membahas pola pikir para pendukung Mandela: “Jauh sebelum episode buruk yang sekarang terjadi, Winnie Mandela sudah membenarkan praktik mengerikan berupa membakar hidup-hidup lawan politik. Bagaimana mungkin seseorang meromantisasi sosok seperti itu? Seperti terlalu banyak isu lainnya, Afrika Selatan tidak dipandang sebagai persoalan serius yang menyangkut nasib jutaan manusia nyata, melainkan sebagai isu simbolik yang menyediakan panggung lain bagi kita untuk mempertontonkan superioritas moral kita sendiri. Mereka yang terobsesi menunjukkan bahwa dirinya berada di pihak para malaikat akan dengan cepat menemukan malaikat untuk mereka dukung. Winnie Mandela hanyalah salah satu dari malaikat-malaikat itu.”

Sebagaimana banyak kaum kiri Amerika pada masa lalu mengabaikan bukti-bukti yang dapat dipercaya bahwa para pemimpin progresif seperti Vladimir Lenin dan Fidel Castro menindas dan membunuh para pembangkang, banyak kaum kiri saat ini, termasuk sejumlah aktivis gay dan lesbian, masih terus mengagung-agungkan Mandela. Padahal, bahkan banyak mantan sekutunya sendiri telah melihat dirinya sebagai seorang perundung dan secara terbuka mengecam tindakannya. Orang-orang yang sungguh-sungguh memperjuangkan pembebasan, baik pembebasan seksual maupun bentuk pembebasan lainnya, perlu memiliki komitmen yang konsisten terhadap kebebasan individu dan bersedia bersuara setiap kali seseorang menjadi sasaran ketidakadilan, siapa pun pelakunya. Menutupi dan membela berbagai tindakan berlebihan yang dilakukan oleh tokoh atau gerakan progresif secara munafik hanya akan menimbulkan keraguan serius terhadap komitmen kaum kiri yang mereka nyatakan sendiri terhadap terwujudnya masyarakat yang bebas.


Diterjemahkan dari:


Prinsip dan Polarisasi

Saat ini ada begitu banyak tujuan yang diklaim sebagai bagian dari anarkisme. Bukan hanya penghancuran negara dan institusi-institusi otoritas lainnya, tetapi juga seluruh spektrum persoalan radikal: kapital, krisis lingkungan, diskriminasi yang tidak adil, ketimpangan gender, prasangka rasial, imperialisme, dan berbagai persoalan lainnya. Semua masalah tersebut memang penting, meskipun mungkin tidak sepenting yang diklaim sebagian orang. Namun, ada bahaya nyata bahwa kecenderungan anarkis akan tenggelam dalam berbagai persoalan yang, bagi anarkisme, pada akhirnya hanyalah persoalan sekunder. Tujuan utama anarkisme bukanlah menangani satu per satu daftar panjang ketidakadilan sosial dan budaya, melainkan menjamin kedaulatan pribadi, martabat, dan keamanan bagi semua orang dengan menghancurkan pola-pola dasar kekuasaan dan otoritas yang merampas hal-hal tersebut. Tentu saja, para anarkis seharusnya berjuang, baik secara individu maupun bersama orang lain, untuk melawan berbagai bentuk ketidakadilan yang ada di dunia. Namun, hal itu tidak serta-merta menjadikan perjuangan tersebut sebagai perjuangan yang secara khusus bersifat anarkis. Tanpa pemahaman bersama mengenai hakikat anarkisme yang sebenarnya, bahwa anarkisme bukanlah pseudo-Marxisme, bukan elitisme sayap kanan, dan bukan pula sekadar gaya hidup atau mode subkultur punk, kecil kemungkinan kita akan mampu memberikan pengaruh yang berarti dalam kehidupan politik dan sosial.

Landasan anarkisme adalah kebebasan manusia. Namun, kebebasan bukanlah sesuatu yang tunggal dan sederhana. Kebebasan lebih tepat dipahami sebagai suatu pola hubungan yang sarat dengan kontradiksi, bahkan dalam kehidupan setiap individu. Dalam suatu masyarakat yang terdiri atas banyak individu, persoalan ini menjadi jauh lebih kompleks. Kebebasan dapat dipahami sebagai sebuah polaritas antara sisi negatif dan sisi positif. Sisi negatif adalah ketiadaan pembatasan, sedangkan sisi positif adalah kepemilikan kapasitas atau kemampuan. Yang pertama terutama menekankan kebebasan untuk bertindak, sementara yang kedua menekankan kemampuan untuk mencapai sesuatu secara setara. Keduanya merupakan perhatian tradisional dalam anarkisme, meskipun sering kali saling bertentangan. Meskipun kedua posisi tersebut pada dasarnya tidak menyangkal hak orang lain, mereka yang berani mengambil risiko dan bertindak bebas dapat memperoleh bagian sumber daya yang jauh lebih besar melalui keberuntungan, keterampilan, atau kekuatan yang mereka miliki. Sebaliknya, mereka yang lebih mengutamakan keamanan dan kesetaraan mungkin ingin mengoreksi ketimpangan tersebut dengan membatasi kebebasan negatif sebagian orang secara paksa atau dengan mengambil sumber daya dari sebagian orang untuk didistribusikan kepada yang lain. Pendekatan yang memaksakan prinsip “dari masing-masing menurut kemampuannya, kepada masing-masing menurut kebutuhannya” jelas tidak selaras secara logis dengan kemandirian yang menjadi inti anarkisme. Namun, sikap yang dingin dan tidak peduli seperti “yang penting saya baik-baik saja dan kebutuhan saya sudah terpenuhi” juga tidak lebih dapat dibenarkan. Akan keliru jika anarkisme membenarkan pemerasan yang berlangsung terus-menerus melalui redistribusi paksa (yakni perpajakan yang dipaksakan) setelah ketidakadilan historis berhasil diatasi. Namun di sisi lain, apakah anarkisme dapat dibenarkan secara moral jika membiarkan sebagian orang hidup dalam penderitaan sementara yang lain menikmati kemakmuran? Yang diperlukan adalah tercapainya suatu keseimbangan: keseimbangan yang tetap menempatkan kebebasan negatif sebagai prinsip utama, tetapi sekaligus mengakui tuntutan moral yang terkandung dalam kebebasan positif.

Karena itu, yang dibutuhkan adalah pengembangan beragam posisi anarkis yang berpijak pada berbagai kutub persoalan politik, bukan membekukan diri ke dalam dogma-dogma yang kaku dan eksklusif. Polaritas otoritarian-libertarian adalah yang paling relevan bagi anarkisme. Ancaman terhadap kebebasan tidak hanya berasal dari sifat otoriter negara, tetapi juga dari dunia korporasi serta berbagai bentuk tekanan sosial dan budaya yang bersifat memaksa. Melawan kekuatan-kekuatan represif inilah yang menjadikan perjuangan anarkis begitu penting bagi masa depan kebebasan dan martabat manusia. Karena itu, posisi anarkis harus berada dekat dengan kutub libertarian, tanpa jatuh ke titik ekstrem, ketika egoisme dan amoralitas menafikan pentingnya kerja sama sosial. Sebaliknya, polaritas individualisme-kolektivisme, yang sejak lama menjadi dasar perdebatan politik, sesungguhnya hanya memiliki arti yang terbatas bagi anarkisme itu sendiri. Kaum anarkis telah menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenaga untuk menegaskan bahwa hanya posisi komunis, sindikalis, atau individualis yang sah, seolah-olah persoalan itu menentukan keseluruhan makna anarkisme. Padahal, dalam kenyataannya, masing-masing bisa saja relevan tergantung pada keadaan yang dihadapi. Persoalan yang sebenarnya adalah apakah suatu tanggapan yang tidak bersifat memaksa cocok dengan situasi yang ada dan dapat diterima oleh orang-orang yang terlibat. Spektrum lain yang juga perlu diperhatikan adalah polaritas rasional-emosional. Anarkisme lahir dari rasionalisme era Pencerahan, tetapi kemudian juga mengakui nilai dari sisi subjektif dan penuh gairah dalam karakter manusia. Kedua ekstrem tersebut, yakni “rasionalitas” yang dingin dan tidak manusiawi di satu sisi, serta “gairah” yang membabi buta dan berbahaya di sisi lain, sama-sama bertentangan dengan kebebasan. Namun, posisi yang berada di antara keduanya, yang memadukan unsur-unsur dari masing-masing sisi, tidaklah demikian. Polaritas antara kepemilikan pribadi dan kepemilikan komunal, yang sering disalahpahami dan disederhanakan secara berlebihan, juga merupakan persoalan yang perlu dibahas. Melarang orang untuk memiliki dan mengendalikan secara pribadi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka seperti makanan, pakaian, tempat tinggal, dan hubungan sosial mungkin dapat menghasilkan kesetaraan. Namun, hal itu juga berpotensi mendorong tirani mayoritas serta membuat individu bergantung pada kelompok. Melarang keistimewaan yang tidak adil dan monopoli adalah satu hal. Namun, menolak hak individu atas keamanan yang lahir dari usufruct yang setara dan kepemilikan pribadi adalah hal yang berbeda sama sekali. Sebagaimana juga dikatakan oleh Pierre-Joseph Proudhon, “Kepemilikan adalah Kebebasan.”

Teori anarkis seharusnya menawarkan berbagai pendekatan yang masih dapat diterima dalam batas-batas tertentu, alih-alih menetapkan jawaban yang kaku dan tunggal. Suatu posisi baru dapat dianggap tidak lagi anarkis ketika melampaui batas-batas tersebut, tetapi selama masih berada di dalamnya, beragam pendekatan seharusnya tetap terbuka. Tidak ada satu sistem pun yang cocok untuk semua orang dan semua situasi, entah itu feminisme, egalitarianisme, maupun pendekatan lainnya. Karena itu, kita perlu memberi ruang bagi tanggapan yang beragam dan pragmatis terhadap kebutuhan dan keadaan yang berbeda-beda, sambil tetap mempertahankan perspektif anarkis yang jelas. Jika kita terlalu mempersempit atau justru terlalu meluaskan apa yang dianggap dapat diterima sebagai anarkis, atau menolak keabsahan setiap tanggapan yang sungguh-sungguh libertarian, maka kita hanya akan memastikan terus berlanjutnya marginalisasi dan ketidakberdayaan salah satu pertahanan terbaik yang dimiliki dunia terhadap gelombang pemaksaan, dominasi, dan penghancuran kedaulatan pribadi serta keamanan ekonomi yang kian menguat.


Diterjemahkan dari:


Di Mana Kaum Anarkis?

Sebuah tajuk rencana dalam edisi 4 Desember 1999 majalah The Economist merujuk pada peristiwa di Seattle pada November tahun itu dan mengajukan pertanyaan: “Ngomong-ngomong, mengapa tidak ada kaum anarkis di antara semua ‘anarkis’ itu?” Pertanyaan tersebut cukup masuk akal bagi seorang pengamat. Meskipun banyak dari mereka yang berdemonstrasi (dan terkadang melakukan lebih dari sekadar demonstrasi) di Seattle adalah anarkis yang tulus dan reflektif, yang meyakini bahwa tindakan mereka di sana turut memajukan perjuangan demi kebebasan manusia, mereka gagal mengemukakan sudut pandang yang secara khusus bersifat anarkis atau membedakan diri secara memadai dari para demonstran lainnya. Sebagian besar demonstran tersebut justru mendorong tindakan pemerintah sebagai cara untuk memperbaiki kehidupan kaum pekerja dan melindungi lingkungan alam.

Berbeda dengan para pendukung perubahan sosial lainnya, kaum anarkis secara historis menentang keberadaan pemerintahan dan segala bentuk pemaksaan. Mereka berpendapat bahwa manusia yang bebas mampu mengatur kehidupan mereka sendiri sesuai kehendak mereka, tanpa pengawasan negara beserta hukum, polisi, dan militernya, yang cenderung menguntungkan mereka yang memiliki kekuasaan ekonomi maupun politik dengan mengorbankan mayoritas besar kaum pekerja. Namun, dalam media dan pernyataan publik mereka, pesan ini sering kali tidak terlihat. Para aktivis anarkis di Seattle, London, Washington, dan berbagai tempat lainnya mengkritik “globalisasi” serta kapitalisme internasional dengan bahasa yang nyaris tidak berbeda dari para demonstran lainnya. Mereka mengecam “perdagangan bebas”, WTO, Bank Dunia, dan IMF, tetapi gagal menawarkan alternatif yang benar-benar anarkis. Dengan tidak mengemukakan pesan anti-negara secara eksplisit, kaum anarkis akhirnya terdengar tidak jauh berbeda dari kaum nasionalis dan proteksionis yang meratapi apa yang mereka anggap sebagai kemunduran kedaulatan nasional dan tetap mendukung campur tangan pemerintah dalam pengaturan ekonomi masyarakat.

Namun, dalam beberapa kasus, hal ini bukan sekadar akibat kegagalan untuk menyatakan pandangan secara tegas. Banyak orang yang menyebut diri mereka anarkis sebenarnya tidak menolak penggunaan negara sebagai sarana untuk mewujudkan tujuan-tujuan yang mereka dukung, dan menganggapnya sebagai cara yang sah serta efektif untuk memperbaiki kehidupan masyarakat biasa. Noam Chomsky, yang mungkin merupakan penulis paling terkenal dan paling banyak dibaca yang dikaitkan dengan gerakan anarkis, secara terbuka mendukung penguatan kekuasaan pemerintah federal dan keterlibatan politik kaum pekerja. Ia berpendapat bahwa mengkritik negara kesejahteraan menunjukkan sikap meremehkan kaum miskin, dan bahwa merupakan puncak dari “kesombongan dan kebodohan” jika kaum anarkis mengkritik partisipasi dalam politik negara serta dukungan terhadapnya. Menariknya, pandangan Chomsky memiliki pengaruh yang begitu besar di kalangan anarkis, padahal gagasan bahwa mendukung pemerintah Amerika Serikat entah bagaimana dapat mengarah pada masyarakat libertarian tidak berbeda jauh dari argumen kaum Marxis bahwa negara sosialis otoriter yang mereka perjuangkan pada akhirnya akan melahirkan dunia yang anarkis.

Tanpa adanya pesan anti-negara yang jelas, citra kaum anarkis yang tampaknya tertinggal di benak banyak orang setelah peristiwa di Eugene, Seattle, Washington, dan London selama setahun terakhir hanyalah citra para demonstran yang merusak properti dan tidak takut bentrok dengan polisi. Padahal, meskipun perusakan properti dan perlawanan terhadap polisi dalam keadaan tertentu dapat dianggap sebagai tindakan yang tepat, hal-hal tersebut bukanlah yang menjadikan seseorang anarkis, dan juga tidak membantu masyarakat luas memahami kritik anarkis terhadap tatanan sosial yang ada. Ada yang berpendapat bahwa taktik-taktik anarkis belakangan ini bermanfaat karena berhasil menarik perhatian publik terhadap anarkisme dan membawa lebih banyak orang ke berbagai acara serta situs web anarkis. Namun pertanyaannya adalah: apa sebenarnya yang menarik minat mereka? Kemungkinan besar yang menarik perhatian mereka adalah bentrokan jalanan dengan polisi dan aksi merusak toko seperti Gap atau McDonald's, bukan gagasan tentang membebaskan dunia dari pemerintahan dan memberi keleluasaan kepada kaum pekerja untuk menentukan sendiri di mana mereka berbelanja, dengan siapa mereka berdagang, jenis makanan apa yang ingin mereka tanam dan jual, serta secara umum bagaimana mereka ingin menjalani hidup tanpa dibatasi oleh para predator korporasi maupun para politisi.

Bukan media arus utama yang harus disalahkan atas citra baru kaum anarkis ini. Di internet, orang dapat dengan mudah menemukan kaum anarkis yang dengan antusias menceritakan aksi-aksi "black bloc" ketika mereka berhadapan dengan polisi, “membebaskan” persimpangan jalan, dan menghancurkan etalase toko. Para demonstran di Washington memilih menyebut diri mereka sebagai kaum revolusioner anti-kapitalis, sebuah label yang juga digunakan oleh berbagai kelompok Marxis. Menjelang aksi-aksi bulan April, hampir tidak ada kritik terhadap negara sama sekali; yang ada hanyalah retorika anti-korporasi yang dapat diterima oleh hampir semua kalangan kiri. Dalam media dan diskusi internet mereka, sebagian anarkis bahkan mempromosikan politik anarkis berupa “munisipalisme”, lengkap dengan pajak, referendum, dan pengambilan keputusan oleh berbagai serikat maupun komite yang tidak banyak berbeda dari pemerintahan lokal. Sangat sulit menemukan pembahasan mengenai peran negara dalam menciptakan dan mempertahankan tatanan ekonomi yang menindas yang saat ini kita jalani.

Meskipun kapitalisme korporatis merupakan musuh kaum pekerja, ia tidak akan mampu menimbulkan kerusakan sebesar itu tanpa perlindungan dan dukungan dari negara-negara di seluruh dunia. WTO adalah lembaga yang dibentuk dan dijalankan oleh berbagai pemerintah yang menjadi anggotanya, bukan organisasi swasta. Polisi yang begitu gemar dihadapi oleh banyak anarkis adalah pegawai negara, bukan pegawai IMF, dan mereka digaji dengan uang yang dipungut secara paksa dari kaum pekerja. Para pekerja penjara di Amerika Serikat maupun Tiongkok dipenjarakan dan dipaksa bekerja oleh aparat pemerintah. Negara mengawasi, membatasi kekuasaan, dan merampas hasil kerja kaum pekerja, sehingga memungkinkan para pemilik bisnis, bankir, dan tuan tanah mengambil alih kekayaan yang mereka hasilkan melalui kerja mereka sendiri. Negara melestarikan ketimpangan dan hak-hak istimewa, dan karena itu tidak pernah dapat menjadi sarana pembebasan manusia. Inilah perspektif anarkis yang sesungguhnya, tetapi justru perspektif inilah yang belakangan semakin jarang terdengar di kalangan anarkis sendiri.

Tampaknya banyak anarkis lebih memilih menampilkan diri sebagai aktivis anti-korporasi yang gemar bentrok dengan polisi dan merusak bisnis yang tidak mereka sukai, daripada mengemukakan posisi anti-negara yang jelas dan tegas yang dapat membantu orang lain memahami apa yang membuat anarkisme dan kaum anarkis berbeda dari gerakan-gerakan politik lainnya. Karena itu, tidak mengherankan jika banyak orang kemudian menganggap bahwa yang mereka perjuangkan adalah anarki dalam arti kekacauan dan ketidaktertiban, alih-alih anarki dalam pengertian lain: sebuah dunia libertarian yang dihuni individu-individu dan kelompok-kelompok bebas yang menjalani kehidupan mereka secara damai, tanpa beban pemerintahan yang terus membayangi dan mengendalikan mereka.


Diterjemahkan dari:


Anarkisme dan Keberadaban

Salah satu prinsip yang secara umum diterima dalam tradisi anarkis adalah bahwa negara hanya dapat dibongkar secara efektif melalui pemberontakan rakyat yang bersifat sukarela, kooperatif, dan spontan. Revolusi otoriter yang digerakkan oleh kelompok pelopor yang manipulatif ditolak karena bertentangan dengan keyakinan anarkis bahwa cara yang digunakan harus selaras dengan tujuan yang hendak dicapai. Sejarah memberikan banyak contoh yang menunjukkan bahwa perebutan kekuasaan melalui pemberontakan elitis, alih-alih mewujudkan tujuan revolusi, justru menjadi sarana untuk memperkuat negara dalam bentuk yang baru dan lebih ganas. Dari sekejap euforia kebebasan, orang pada akhirnya terbangun menghadapi mabuk panjang yang bernama Napoleon, Lenin, atau Mao.

Meski demikian, banyak anarkis kontemporer masih terpesona oleh seruan untuk mengangkat senjata, bahkan ketika peluang keberhasilan tindakan romantis semacam itu nyaris tidak ada. Revolusi yang benar-benar terjadi lahir ketika ketidakpuasan rakyat membuat negara runtuh di bawah beban kebodohan dan kontradiksinya sendiri, bukan ketika sekelompok pelopor bersenjata, yang mengikuti fantasi destruktif apa pun yang dirancang para pemimpinnya, memilih berhadapan langsung dengan negara modern. Jalan semacam itu hampir selalu berakhir pada penderitaan yang sia-sia bagi mereka yang terlibat, sementara korban terbesar biasanya adalah orang-orang yang tidak bersalah yang kebetulan terjebak di antara dua pihak yang sama-sama digerakkan oleh ideologi yang keliru. Menjadi seorang “pemberontak” dan menantang para penguasa yang pongah dalam negara modern memang dapat terasa menggairahkan, tetapi ketika kemungkinan pemberontakan yang sesungguhnya hampir tidak ada, tindakan tersebut tidak lebih dari sekadar gertakan dan pemuasan diri yang kekanak-kanakan. Pada akhirnya, para “revolusioner” yang paling radikal biasanya berakhir sebagai martir yang pahit dan terlupakan, atau justru berubah menjadi kaum kapitalis yang “terlahir kembali” bagi generasi berikutnya. Setelah melampiaskan gairah pemberontakan mereka, mereka kemudian memeluk “realisme” baru dengan keyakinan yang sama tertutup dan egosentrisnya seperti ketika dahulu mereka memeluk semangat pemberontakan. Tak satu pun dari semua itu membawa kita lebih dekat kepada penyelesaian persoalan mendasar: keberadaan negara itu sendiri.

Kekeliruan petualangan revolusioner juga tercermin pada tingkat yang lebih personal dalam wacana politik identitas yang intoleran dan kasar. Setiap orang dinilai terlebih dahulu berdasarkan ras, gender, orientasi seksual, atau afiliasi agamanya, lalu dimasukkan ke dalam kotak-kotak politik yang dianggap benar secara ideologis. Padahal tujuan gerakan anarkis adalah membangun masyarakat yang bebas, toleran, dan kooperatif, yang merangkul keberagaman serta menghargai perbedaan. Jika cara yang digunakan harus selaras dengan tujuan yang hendak dicapai, bagaimana mungkin praktik yang begitu eksklusif dan memecah-belah seperti politik identitas dapat menghasilkan tujuan tersebut? Menetapkan seseorang sebagai “musuh” berdasarkan kelahiran atau kecenderungan identitasnya, tanpa memedulikan keyakinan maupun tindakannya sebagai individu, tidak lain adalah bentuk prasangka. Sebaliknya, menganggap seseorang memiliki keunggulan moral hanya karena alasan yang sama juga merupakan bentuk kebodohan. Demikian pula, mengklaim diri sebagai juru bicara yang sah bagi sekumpulan individu yang beragam hanya karena mereka kebetulan berbagi satu karakteristik dasar tertentu merupakan salah satu bentuk elitisme yang paling arogan. Akibatnya, manusia dengan seluruh kompleksitasnya direduksi menjadi identitas tunggal yang bersifat abstrak. Individualitas mereka dihapus dan digantikan oleh konstruksi satu dimensi yang mengabaikan keragaman karakter, pengalaman, dan keyakinan yang mereka miliki. Pendekatan semacam ini bukanlah jawaban terhadap rasisme dan prasangka yang terlembagakan, melainkan hanya cerminan terbaliknya.

Cara berpikir yang penuh prasangka seperti ini memang memiliki daya tarik tersendiri bagi mereka yang menyukai penyederhanaan. Jauh lebih mudah mengagungkan atau membenci seseorang hanya berdasarkan penampilannya. Kecenderungan serupa pernah melandasi berbagai "Hukum Kemewahan" (Sumptuary Laws) di masa lalu, yang menghukum siapa pun yang berpakaian melampaui kelas sosialnya. Kaum elite merasa terlalu gelisah dengan kemungkinan bahwa mereka bisa saja keliru memperlakukan seseorang yang mereka anggap lebih rendah sebagai setara, hanya karena penampilan yang "tidak semestinya". Prasangka politik menawarkan jalan pintas yang serupa untuk menghadapi kerumitan kehidupan modern yang tercerabut dari akar-akarnya, di mana tidak lagi terdapat tanda-tanda lahiriah yang jelas mengenai seperti apa seseorang sebenarnya. Semua laki-laki kulit putih (kecuali, mungkin, jika mereka gay) dianggap berbahaya, haus kekuasaan, dan penuh prasangka. Semua perempuan (kecuali, mungkin, jika mereka seorang Republikan) dianggap intuitif, penuh kepedulian, dan memiliki empati terhadap Alam. Anggota kelompok minoritas tertentu (pilih saja yang mana) dianggap lebih unggul secara moral dibandingkan anggota kelompok mayoritas. Klasifikasi dan label yang membantu kita membuat penilaian semacam itu kemudian dianggap lebih nyata (dan lebih penting) daripada manusia yang sesungguhnya mereka gambarkan. Dan seterusnya.. Omong kosong belaka.

Tujuan untuk mewujudkan masyarakat yang toleran dan kooperatif, yang terdiri atas individu-individu bebas, hanya dapat dicapai melalui cara-cara yang sejalan dengan tujuan tersebut: bersikap toleran, kooperatif, dan menghormati kebebasan. Kita harus menjadi rekan yang lebih baik bagi sesama manusia, apa pun latar belakang atau ciri-ciri lahiriah mereka. Sikap beradab, yang memungkinkan kerja sama antarmanusia, merupakan syarat penting agar anarki dapat benar-benar berjalan. Sebaliknya, sikap keras kepala, merasa diri paling benar, agresif, gemar menghakimi, dan tidak toleran hanya akan mempertahankan kondisi yang ada. Ini bukan berarti kita harus menerima segala sesuatu begitu saja atau menganut sikap pasif yang selalu mengalah. Setelah melampaui berbagai label dan identitas, tetap ada banyak orang yang memang layak dikritik atau dijauhi. Orang-orang yang arogan, penuh kekerasan, tidak toleran, fanatik, rasis, manipulatif, atau rakus perlu diwaspadai. Namun, sifat-sifat tersebut tidak hanya ditemukan pada satu kelompok tertentu yang mudah dikenali. Karakter-karakter semacam itu dapat ditemukan pada laki-laki maupun perempuan, orang kulit hitam maupun kulit putih, penyandang disabilitas maupun mereka yang tidak, dan pada berbagai kelompok manusia lainnya. Di sisi lain, tidak seorang pun memiliki kemurnian moral seperti yang sering dibayangkan oleh sebagian idealis moral masa kini. Setiap individu merupakan gabungan dari berbagai sifat dan kecenderungan, bukan sekadar perwujudan dari satu sifat yang paling menonjol. Kaum radikal pun tidak kebal dari kelemahan dan kekurangan manusiawi, sama seperti para pemilik industri atau kelompok lainnya. Karena itu, kita seharusnya menilai seseorang berdasarkan dampak nyata yang mereka berikan kepada komunitas dan lingkungannya, bukan berdasarkan satu kelebihan atau kekurangan tertentu yang paling menarik perhatian kita. Jauh lebih masuk akal untuk bersikap toleran terhadap seseorang yang mungkin memiliki prasangka dalam ucapan, tetapi dalam praktiknya membantu orang lain, daripada terhadap seorang munafik yang gemar mengucapkan slogan-slogan yang dianggap benar secara politik, tetapi kemudian pulang dan melakukan kekerasan terhadap pasangannya sendiri.

Anarkisme menuntut penilaian yang sadar, bertanggung jawab, dan kritis, serta kemampuan untuk menembus berbagai ilusi, topeng, dan propaganda yang menyelimuti masyarakat yang masih jauh dari kebebasan sejati. Salah satu jebakan paling berbahaya bagi sebagian kalangan kiri kontemporer adalah kecenderungan meniru prasangka refleksif yang lazim ditemukan di kalangan kanan, yaitu pola pikir "kami melawan mereka" yang berlandaskan identitas kelompok dan dipenuhi sikap bermusuhan. Memang ada banyak pelaku penindasan dan ketidakadilan di dunia ini. Sebagian mudah dikenali, sementara yang lain bersembunyi di balik kemunafikan dan retorika moral. Namun, ada pula banyak orang baik yang sering kali dinilai secara keliru hanya karena latar belakang kelahiran, pendidikan, lingkungan, atau keadaan hidup mereka. Karena itu, perhatian kita seharusnya ditujukan kepada individu, bukan kepada kelompok tempat mereka berasal. Kita perlu menyadari bahwa satu-satunya cara untuk benar-benar mencapai cita-cita anarki adalah dengan mulai menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari, di sini dan sekarang, meskipun hal itu sering kali sulit dilakukan. Kita harus memperlakukan satu sama lain dengan hormat dan beradab. Tidak ada persiapan yang lebih baik untuk mewujudkan masyarakat anarkis di masa depan selain menjalankan prinsip-prinsip itu dalam praktik kehidupan saat ini.


Diterjemahkan dari:

Jumat, 05 Juni 2026

Kumpulan Essay “BAD Press” (Part 1)

Penulis: Boston Anarchist Drinking Brigade

Sebuah Pembelaan Anarkis terhadap Pornografi

Pornografi tetap menjadi isu yang kontroversial, termasuk di kalangan anarkis, yang seharusnya dapat diharapkan menjadi salah satu pendukung paling kuat bagi kebebasan ekspresi seksual. Namun, banyak anarkis justru mengkritik pornografi, dan sebagian bahkan mendukung atau terlibat dalam gerakan anti-pornografi, yang para anggotanya tidak jarang berusaha mencegah orang lain mengakses atau menikmati materi pornografi. Beberapa anarkis di Kanada bahkan pernah melempar bom api ke sebuah toko video porno, tindakan yang oleh banyak anarkis lainnya justru diabaikan atau tidak dikritik sama sekali. Sementara itu, mereka yang membela pornografi dan kebebasan berekspresi, baik seksual maupun bentuk ekspresi lainnya, malah sering dicap sebagai seksis atau reaksioner. Mengapa orang-orang yang mengaku mencintai kebebasan dan pembebasan seksual justru tampak melupakan prinsip-prinsipnya ketika berhadapan dengan literatur atau gambar yang secara eksplisit menampilkan seksualitas?

Gerakan anti-pornografi, termasuk anggota dan pendukungnya dari kalangan anarkis, bukanlah kelompok yang seragam. Sebagian memang tidak menyukai buku atau film porno, tetapi tetap mendukung kebebasan setiap orang untuk memproduksi maupun mengonsumsinya. Mereka mengandalkan argumen dan protes untuk mencoba mengubah pandangan orang-orang yang menikmati pornografi, mendorong mereka agar tidak mengonsumsinya, tanpa mendukung sensor. Sebagian lainnya, termasuk beberapa anarkis, menganggap bahwa serangan fisik terhadap toko porno atau sensor yang diberlakukan negara merupakan taktik yang sah dalam memerangi pornografi. Meskipun hanya posisi terakhir yang secara jelas bersifat menyensor, dan karena itu bertentangan dengan prinsip anarkisme, posisi pertama pun tetap problematis dalam sebuah gerakan yang mengaku mendukung kebebasan seksual, sebab posisi tersebut tetap memandang rendah representasi seksual itu sendiri.

Pornografi pada dasarnya hanyalah representasi aktivitas seksual, baik melalui tulisan maupun gambar. Kebanyakan orang memandang seks sebagai sesuatu yang menyenangkan dan memberi kenikmatan, dan bagi banyak orang melihat pornografi juga dapat membangkitkan gairah seksual. Kelompok anti-pornografi sering mengatakan bahwa citra perempuan dalam pornografi bersifat merendahkan dan menghina. Namun, meskipun memang ada perempuan yang merasa tersinggung oleh gambar-gambar pornografi yang mereka anggap merendahkan, ada pula perempuan yang justru menikmati pornografi (lihat misalnya buku Caught Looking karya Kate Ellis dkk., atau Writing Sado-masochistic Pornography: A Woman’s Defense karya Deborah Ryder). Gerakan anti-pornografi cenderung memandang perempuan sebagai satu kelas yang dianggap memiliki tujuan dan keinginan yang seragam. Padahal perempuan bukanlah sekumpulan automaton yang semuanya berpikir dan merasakan hal yang sama. Sebagaimana halnya laki-laki, sebagian perempuan ada yang mendukung pornografi, sebagian lainnya ada yang menentangnya. Selain itu, representasi perempuan dalam pornografi tidak lebih seksis atau merendahkan dibanding representasi perempuan dalam sebagian besar karya sastra dan media visual lainnya, mulai dari novel, film, televisi, hingga iklan majalah. Dalam masyarakat yang seksis, hampir seluruh representasi perempuan akan memuat setidaknya sebagian sikap seksis yang umum hidup di kalangan laki-laki maupun perempuan. Di samping itu, sebagian pornografi juga menampilkan karakter perempuan yang mandiri, memiliki kehendak sendiri, dan berfokus pada kenikmatan mereka sendiri, terutama dalam pornografi S/M, di mana perempuan tidak jarang berada pada posisi dominan. Yang sebenarnya mengganggu sebagian orang bukanlah citra perempuan dalam pornografi, sebab representasi serupa juga hadir di berbagai ruang lain dalam masyarakat, melainkan keterusterangan seksualnya. Mereka merasa tidak nyaman terhadap seks itu sendiri.

Aktivis anti-pornografi juga mengklaim bahwa pornografi, melalui representasi terhadap perempuan yang mereka anggap merendahkan, turut membentuk sikap dan perilaku laki-laki terhadap perempuan, sehingga dipandang berbeda dari bentuk ekspresi lainnya. Namun, sebagaimana bentuk tulisan dan gambar lainnya, pornografi umumnya hanya menampilkan apa yang memang ingin dilihat dan diterima oleh orang-orang; ia tidak begitu saja menanamkan gagasan asing ke dalam pikiran seseorang. Bahkan dalam kasus ketika pornografi memperkenalkan gagasan baru, gagasan itu tetaplah sekadar gagasan. Laki-laki tidak memperkosa atau memukuli perempuan semata-mata karena melihatnya dalam film. Seksisme, pemerkosaan, dan kekerasan terhadap perempuan sudah ada jauh sebelum pornografi modern tersebar luas. Bahkan masyarakat yang memiliki sedikit atau nyaris tidak memiliki pornografi pun tidak otomatis menjadi lebih sedikit seksis atau lebih sedikit penuh kekerasan dibanding masyarakat yang pornografinya mudah ditemukan.

Klaim bahwa pornografi membuat laki-laki menjadi brutal, selain tidak akurat juga bertumpu pada mitos bahwa sebagian besar pornografi bersifat penuh kekerasan. Padahal mayoritas pornografi justru berisi representasi hubungan seksual yang non-kekerasan, saling disetujui, dan memberi kenikmatan bagi semua pihak yang terlibat. Sebagian pornografi memang memuat praktik S/M, yang meskipun menggunakan unsur-unsur yang tampak seperti kekerasan dan melibatkan rasa sakit, tetap dilakukan atas dasar persetujuan dan kenikmatan bersama. Memang ada pornografi yang menampilkan pemerkosaan atau hubungan seksual yang koersif dan penuh kekerasan, tetapi itu hanya sebagian kecil dari keseluruhan pornografi yang diproduksi maupun dikonsumsi. Lagi pula, sebagaimana film dan buku non-seksual yang penuh kekerasan, semua itu hanyalah representasi fantasi yang diciptakan penulis atau diperankan oleh aktor yang memberi persetujuan. Pornografi yang menampilkan kekerasan bukanlah kekerasan nyata, sama seperti adegan pembunuhan dalam film horror Halloween bukanlah pembunuhan nyata.

Jika kelompok anti-pornografi benar-benar peduli pada unsur kekerasannya, bukan pada seks dalam pornografi, mengapa yang mereka protes hanya toko porno atau majalah dan video porno, sementara film seperti Friday the 13th serta majalah dan buku horror nyaris tidak pernah menjadi sasaran mereka?

Salah satu aspek dari fenomena pornografi yang sering diabaikan dalam perdebatan adalah pornografi homoseksual. Banyak pornografi yang diproduksi saat ini menampilkan hubungan seksual antara laki-laki dengan laki-laki, sementara semakin banyak pula yang menampilkan hubungan seksual antara perempuan dengan perempuan. Kelompok anti-pornografi cenderung mengabaikan pornografi homoseksual karena keberadaannya justru membantah banyak argumen mereka sendiri. Jika representasi hubungan seksual yang timpang antara laki-laki dan perempuan dianggap merendahkan perempuan, lalu mengapa hubungan timpang serupa antara laki-laki dengan laki-laki, yang sangat umum dalam pornografi sesama laki-laki (dengan pembagian peran “top” dan “bottom”), tidak dianggap merendahkan laki-laki? Dan jika memang dianggap merendahkan laki-laki, mengapa pornografi semacam itu tidak dipandang menghina laki-laki, terutama laki-laki yang berada pada posisi “bottom”? Begitu pula jika citra S/M dan kekerasan pura-pura dalam pornografi dianggap dapat memicu kekerasan nyata, mengapa hal itu tidak menyebabkan meluasnya kekerasan terhadap laki-laki, bahkan pemerkosaan terhadap laki-laki?

Pembahasan mengenai persoalan-persoalan semacam ini hampir tidak pernah benar-benar terjadi, karena banyak penentang pornografi heteroseksual enggan membicarakan apalagi mengkritik pornografi queer. Mereka khawatir dianggap homofobik atau dinilai tidak “benar secara politis”. Hal ini berkaitan dengan kenyataan bahwa pornografi sering dipandang (dan memang tidak sepenuhnya keliru) sebagai sesuatu yang membebaskan bagi laki-laki homoseksual (belakangan juga bagi sebagian perempuan homoseksual). Dalam kehidupan arus utama kaum queer, pornografi bahkan menjadi bagian yang jauh lebih terbuka dibanding posisi pornografi heteroseksual dalam masyarakat heteroseksual. Karena pornografi queer telah dipolitisasi sedemikian rupa, setiap kritik terhadap pornografi homoseksual dari kelompok anti-pornografi yang sebagian besar bukan laki-laki homoseksual, akan sangat mudah dituduh sebagai “anti-gay”, sehingga pembahasannya secara efektif dibungkam. Padahal diskusi semacam itu justru dapat memperlihatkan kelemahan dan kontradiksi dalam banyak argumen anti-pornografi.

Meskipun terasa ganjil bahwa para pendukung pembebasan seksual dan anarkis menganggap pornografi sebagai sesuatu yang ofensif, tetap harus diakui bahwa setiap orang memiliki selera dan batas kenyamanannya masing-masing. Hanya karena seseorang menyukai pornografi bukan berarti orang lain juga harus menyukainya. Namun, jika seseorang merasa terganggu oleh sesuatu, seharusnya ia cukup menghindarinya. Akan tetapi, kelompok anti-pornografi tidak pernah merasa cukup dengan cara itu ketika berbicara tentang pornografi. Mereka beranggapan bahwa jika pornografi menyinggung mereka, maka hal itu pasti juga menyinggung orang lain (terutama perempuan), lalu mengambil posisi sebagai pihak yang harus “melindungi” orang lain darinya. Selain itu, karena mereka percaya pornografi dapat menyeret laki-laki yang semula tidak penuh kekerasan dan mencintai perempuan menuju seksisme serta kekerasan, mereka merasa perlu mencegah laki-laki mengakses pornografi sama sekali.

Seperti telah disebutkan sebelumnya, kelompok anti-pornografi memiliki perbedaan dalam strategi yang mereka gunakan untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka yang mengandalkan argumen dan protes untuk memengaruhi orang lain agar menjauhi pornografi tentu lebih dapat diterima dibanding para pendukung sensor. Namun, cara pandang mereka terhadap manusia tetap problematis bagi siapa pun yang memiliki perspektif anarkis. Manusia adalah individu bebas yang membuat pilihan dan keputusan berdasarkan apa yang mereka lihat, dengar, dan alami, serta bertanggung jawab atas konsekuensi dari pilihan tersebut. Cara libertarian dalam menghadapi individu lain yang memilih membaca atau menonton materi yang tidak kita sukai adalah dengan membiarkan mereka mengaksesnya, lalu mendiskusikannya dan mencoba meyakinkan mereka terhadap sudut pandang kita.

Yang lebih sulit diterima bagi anarkis adalah para aktivis anti-pornografi yang secara terang-terangan mendukung penyensoran. Selain memiliki pandangan yang sama dengan kelompok anti-pornografi lain yang ingin “melindungi” orang dari pornografi, mereka melangkah lebih jauh dengan menggunakan paksaan untuk mencapai tujuan mereka. Hal itu sepenuhnya bertentangan dengan bentuk masyarakat sukarela yang diidealkan oleh kebanyakan anarkis, dan karena itu seharusnya ditolak oleh siapa pun yang mencintai kebebasan.

Pornografi, sebagaimana bentuk hiburan lainnya, dapat bernilai baik ataupun buruk tergantung pada kualitas dan isi dari masing-masing karya. Namun sebagai genre sastra atau film, pornografi tidak secara inheren lebih baik ataupun lebih buruk, lebih bermoral ataupun lebih jahat dibanding genre lainnya. Jika pornografi dianggap buruk atau seksis, maka langkah yang lebih masuk akal adalah mengkritiknya, mendiskusikannya dengan orang lain, dan/atau menciptakan pornografi yang lebih baik serta tidak seksis, bukan menindas atau melarangnya. Seks dan representasinya merupakan sumber kenikmatan bagi banyak orang, dan kebebasan untuk menikmati keduanya seharusnya dipertahankan atau setidaknya ditoleransi oleh para anarkis. Para penyensor, termasuk mereka yang mengaku sebagai anarkis, adalah musuh kebebasan. Dan anarkis yang mendukung penyensoran patut dipertanyakan komitmennya terhadap masyarakat yang benar-benar bebas.


Diterjemahkan dari:


Sebuah Argumen Anarkis Menentang Kontrol Senjata

Kaum anarkis membayangkan sebuah masyarakat tanpa pemerintahan, sebuah dunia di mana individu, terkadang secara sendiri-sendiri dan terkadang melalui kerja sama dengan orang lain, mengurus diri mereka sendiri, kebutuhan mereka, serta hasrat mereka. Dalam masyarakat libertarian semacam itu, di mana tidak ada pembatasan terhadap kebebasan individu untuk melakukan aktivitas produktif maupun komersial selama tidak bersifat koersif, serta tidak adanya institusi politik dan hukum yang menindas, dapat diperkirakan bahwa pencurian dan kekerasan fisik akan jauh lebih sedikit dibanding yang terjadi saat ini. Meskipun perubahan dunia melalui penghapusan kemiskinan dan kekerasan institusional mungkin merupakan solusi paling mendasar terhadap persoalan kekerasan dan perampokan, sampai kondisi itu benar-benar terwujud, orang-orang yang tidak koersif tetap membutuhkan sarana untuk mempertahankan diri dari mereka yang tidak se-damai diri mereka.

Saat ini kebanyakan orang menggantungkan perlindungan mereka pada aparat bersenjata milik negara, baik polisi maupun militer. Namun, bukan saja polisi dan militer sering gagal memberikan perlindungan yang memadai kepada individu, mereka juga kerap menjadi pelaku kekerasan koersif itu sendiri. Karena itu, orang-orang perlu mulai bergantung pada diri mereka sendiri dan komunitas pilihan mereka untuk membangun pertahanan diri. Strategi pertahanan semacam itu harus mencakup kebebasan untuk memiliki dan menggunakan pistol tanpa harus menghadapi risiko penangkapan ataupun kekerasan dari aparat negara.

Banyak negara bagian dan kota di Amerika Serikat memiliki undang-undang yang sangat ketat terhadap kepemilikan dan penggunaan pistol, dengan dalih bahwa aturan semacam itu dapat mencegah senjata jatuh ke tangan pelaku kekerasan. Namun dalam praktiknya, aturan-aturan tersebut sering kali tidak benar-benar mencapai tujuan itu. Dampak utamanya justru melucuti individu-individu yang damai dan membiarkan mereka berada dalam posisi rentan, baik di hadapan penjahat jalanan maupun aparat kepolisian. Para pelaku kekerasan yang sejak awal sudah melanggar hukum melalui pembunuhan, pemerkosaan, perampokan, dan berbagai tindak agresif lainnya, tidak otomatis akan berhenti menggunakan senjata hanya karena penggunaannya juga dikriminalisasi. Jika mereka benar-benar takut pada hukum, sejak awal mereka tidak akan menyerang orang lain. Undang-undang kontrol senjata justru mempermudah para predator sosial, karena aturan tersebut merampas sarana pertahanan yang efektif dari calon korban mereka.

Pihak lain yang diuntungkan oleh kontrol senjata adalah aparat kepolisian. Ketika masyarakat tidak memiliki akses terhadap senjata, polisi dapat dengan leluasa menghentikan, menggeledah, dan mengintimidasi orang-orang yang sebenarnya tidak melakukan kekerasan; menggerebek rumah mereka, memerintahkan mereka keluar dari kendaraan untuk diperiksa, serta menyita barang-barang mereka tanpa takut akan adanya perlawanan. Untuk menghadapi bentuk terorisme yang disponsori negara semacam itu, penghapusan ataupun pengabaian terhadap hukum kontrol senjata, disertai kepemilikan senjata secara luas, merupakan sesuatu yang penting. Kepemilikan senjata oleh individu dapat mengurangi praktik penghentian kendaraan secara sewenang-wenang maupun intimidasi rutin terhadap warga damai oleh polisi. Namun, setiap upaya pertahanan bersenjata terhadap polisi atau aparat negara dalam skala yang lebih besar tidak dapat hanya mengandalkan segelintir individu. Jika kelompok kecil mencoba mempertahankan diri dari serangan polisi, mereka berisiko menghadapi serangan bergaya militer terhadap rumah atau tempat tinggal mereka, sebagaimana pernah terjadi dalam pengeboman terhadap MOVE di Philadelphia maupun serangan terhadap kelompok Branch Davidians di Waco. Hanya respons yang terorganisir secara luas di tingkat lokal atau komunitas yang memiliki kemungkinan untuk mencegah ataupun melawan serangan semacam itu.

Undang-undang yang mengatur kepemilikan dan penggunaan pistol juga telah membantu mencegah masyarakat melawan penindasan sosial dan politik yang mereka alami. Larangan terhadap penjualan pistol murah, yang dikenal dengan istilah “Saturday Night Special”, secara historis diberlakukan untuk mencegah orang-orang miskin yang damai memiliki akses terhadap senjata, karena mereka sering kali tidak mampu membeli pistol atau senapan yang lebih mahal. Kebijakan semacam itu pada masanya membuat warga kulit hitam di wilayah selatan Amerika berada dalam posisi rentan terhadap kekerasan Ku Klux Klan (KKK), serta membuat para pekerja dari berbagai ras tidak memiliki sarana pertahanan terhadap preman bayaran yang digunakan pemilik bisnis untuk menghancurkan pemogokan dan aksi buruh. Undang-undang milisi yang berkaitan dengan hal tersebut juga berperan dalam menghancurkan organisasi bersenjata Lehr-und-Wehr-Verein di Chicago pada abad ke-19, sebuah kelompok yang dibentuk untuk mempertahankan para pekerja pemberontak dari serangan polisi dan yang juga memiliki anggota-anggota anarkis di dalamnya. Meskipun saat ini masyarakat miskin di Amerika Serikat relatif lebih mampu membeli pistol yang lebih mahal dibanding masa lalu, upaya modern untuk melarang senjata murah meskipun dibungkus dengan alasan demi “keselamatan publik”, tetap akan mempersulit kelompok yang paling membutuhkan sarana pertahanan untuk memperoleh senjata. Kebijakan semacam itu justru membuat mereka jauh lebih tidak aman dibanding jika mereka bebas mempertahankan diri mereka sendiri.

Meskipun berbagai kelompok masyarakat yang damai menjadi lebih rentan ketika mereka tidak memiliki kebebasan untuk memiliki dan menggunakan senjata api, salah satu kelompok yang paling terdampak oleh pembatasan hukum terhadap pistol adalah perempuan yang mengalami kekerasan dari pasangan atau suami mereka. Hubungan semacam itu sering kali rumit. Korban tidak selalu ingin (atau belum siap) memaksa perubahan perilaku dari orang yang menyakiti mereka ataupun mengakhiri hubungan tersebut. Dalam situasi seperti itu, sering kali tidak banyak yang dapat dilakukan untuk melindungi orang yang berada dalam risiko. Namun ketika seorang perempuan yang mengalami kekerasan fisik memutuskan bahwa sudah saatnya melawan dan meminta bantuan kepada polisi, ia biasanya hanya disarankan untuk mengurus surat perintah penahanan, yang nyaris tidak memiliki nilai perlindungan nyata. Polisi sendiri pada praktiknya sering kali tidak mampu melindungi perempuan-perempuan tersebut, bahkan jika mereka memang ingin melakukannya. Satu-satunya cara agar mereka memiliki peluang untuk mempertahankan diri adalah dengan memiliki akses terhadap senjata api, baik untuk diri mereka sendiri maupun melalui teman dan orang-orang yang siap membela mereka.

Kelompok lain yang juga menjadi lebih rentan akibat hukum kontrol senjata adalah para sopir taksi. Sementara banyak pemilik usaha dapat memperoleh izin membawa pistol untuk melindungi bisnis dan uang mereka, para sopir taksi umumnya dilarang membawa senjata, meskipun mereka bekerja dalam kondisi yang jauh lebih terisolasi dan rentan dibanding pemilik toko. Di Boston, kepolisian setempat memiliki kewenangan menentukan siapa yang boleh dan tidak boleh membawa pistol. Mereka mensyaratkan bahwa pemohon izin membawa senjata untuk pertahanan diri harus dapat membuktikan bahwa mereka “bertanggung jawab atas sejumlah besar uang untuk penggajian, setoran bank, atau pengangkutan barang dagangan bernilai tinggi dalam bisnis mereka”. Kebijakan ini biasanya tidak berlaku bagi sopir taksi atau hampir siapa pun yang mengajukan izin senjata untuk mempertahankan diri, tidak peduli seberapa berbahaya situasi kerja atau lingkungan hidup mereka. Kepolisian Boston tampaknya menganggap pendapatan pemilik toko lebih berharga dan lebih layak dilindungi dibanding nyawa seorang sopir taksi (atau siapa pun yang tidak memenuhi standar ekonomi mereka dalam hal ini). Secara hukum, sopir taksi di Boston diwajibkan mengantar setiap calon penumpang ke mana pun tujuan yang diminta. Karena itu, mereka setidaknya sama rentannya terhadap situasi berbahaya seperti pemilik usaha atau pegawai bank mana pun. Mereka dapat dengan mudah terjebak di jalan sepi bersama penjahat bersenjata dan menjadi korban kekerasan, sementara pada saat yang sama polisi tetap melarang mereka memiliki sarana untuk mempertahankan diri.

Polisi dan hukum yang menopang keberadaan mereka mengatakan bahwa mereka harus bergantung pada aparat kepolisian untuk memperoleh perlindungan. Namun pada kenyataannya, aparat tersebut sering kali gagal memberikan perlindungan, atau bahkan justru menjadi pihak yang melakukan kekerasan terhadap orang-orang yang seharusnya mereka lindungi. Bahkan jika polisi mampu menjalankan tugasnya dengan lebih baik sekalipun, hal itu tetap tidak memberi mereka hak untuk mencegah orang melindungi dirinya sendiri. Tak seorang pun pernah dimintai persetujuan untuk menyerahkan keselamatannya kepada pihak lain, tetapi polisi tetap mengklaim “melayani dan melindungi” masyarakat tanpa persetujuan mereka. Manusia yang bebas seharusnya juga bebas untuk mempersenjatai dan mempertahankan diri dengan senjata pilihan mereka sendiri. Mengurangi kekerasan dalam masyarakat melalui perubahan kondisi sosial yang melahirkan berbagai bentuk predasi, serta menghapus paksaan politik, mungkin merupakan cara paling mendasar untuk menghentikan tindakan agresif. Namun sampai kondisi semacam itu benar-benar terwujud, masyarakat seharusnya tetap memiliki akses terhadap sarana untuk mempertahankan diri, termasuk senjata api.


Diterjemahkan dari:


Sebuah Perspektif Anarkis: Deregulasi Penggunaan Narkoba

Perdebatan mengenai penggunaan narkoba di negara ini biasanya hanya diposisikan antara dua pilihan: mempertahankan kriminalisasi atau melegalkannya. Kedua posisi tersebut pada dasarnya berarti pilihan antara kelanjutan intimidasi negara, seperti penangkapan, pemenjaraan, penyitaan harta benda, dan bahkan kemungkinan hukuman mati bagi pengguna maupun pengedar narkoba, atau legalisasi yang tetap disertai pengawasan negara seperti yang berlaku pada alkohol dan rokok, termasuk pajak tinggi serta pembatasan mengenai di mana, kapan, dan kepada siapa narkoba boleh dijual. Kedua posisi itu sebenarnya bertumpu pada asumsi yang sama: bahwa pemerintah memiliki hak untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan individu terhadap dirinya sendiri. Meskipun legalisasi tentu dipandang lebih baik dibanding kriminalisasi yang terus berlangsung, terdapat alternatif ketiga: dekriminalisasi dan deregulasi, yang berarti tidak adanya hukum yang melarang narkoba, tidak adanya pengawasan negara terhadap penjualan maupun penggunaan narkoba, tidak ada penangkapan, tidak ada penjara, dan tidak ada pajak. Alih-alih sekadar menggantinya dengan bentuk regulasi baru, penghapusan hukum narkoba sepenuhnya akan menciptakan pasar bebas narkoba di mana setiap orang bebas menjual, mengkonsumsi, atau menyuntikkan apa pun yang mereka inginkan tanpa campur tangan pemerintah.

Penggunaan narkoba merupakan aktivitas sukarela yang tidak melibatkan kekerasan, sehingga seharusnya menjadi keputusan pribadi dan bukan urusan siapa pun selain penggunanya sendiri. Namun pemerintah mengambil alih kewenangan untuk mengatur penggunaan narkoba demi memperbesar kontrol terhadap masyarakat, sebagaimana mereka juga mengatur alkohol, membatasi aborsi, serta mendata dan menerapkan wajib militer. Kriminalisasi narkoba telah menghasilkan tingkat kejahatan kekerasan yang sangat besar, sebagaimana pernah terjadi pada masa pelarangan alkohol. Sebagian besar kejahatan tersebut didorong oleh kebutuhan untuk memperoleh uang demi membeli narkoba yang harganya melambung tinggi akibat status ilegalnya. Kejahatan yang berkaitan dengan narkoba kemudian dijadikan alasan bagi polisi untuk mengintimidasi laki-laki kulit hitam secara sewenang-wenang, menghentikan, menggeledah, dan sering kali menangkap mereka di jalanan tanpa alasan selain karena mereka tinggal di wilayah yang dicap sebagai daerah dengan tingkat kriminalitas tinggi. Penghapusan hukum narkoba akan menurunkan harga narkoba secara drastis, sekaligus mengurangi sebagian besar kejahatan jalanan dan menghilangkan alasan yang selama ini digunakan aparat untuk meneror masyarakat kulit hitam.

Dekriminalisasi dan deregulasi, beserta lahirnya pasar narkoba yang kompetitif, akan menghasilkan narkoba yang lebih murni dan lebih aman, sehingga dapat mengurangi banyak kematian dan penyakit yang berkaitan dengan penggunaan narkoba. Sebagian besar dampak berbahaya dari penggunaan narkoba bukan disebabkan oleh zat itu sendiri, melainkan oleh kontaminasi narkoba atau jarum suntik, serta ketidakpastian kadar dan kekuatan zat yang digunakan. Heroin misalnya, tidak lebih berbahaya dibanding aspirin jika diproduksi secara bersih tanpa campuran berbahaya dan digunakan dengan jarum steril. Bahkan overdosis aspirin juga dapat menyebabkan kematian sebagaimana overdosis heroin, hanya saja prosesnya lebih lambat dan terasa lebih menyiksa. Dekriminalisasi penggunaan jarum suntik juga dapat sepenuhnya menghilangkan penularan AIDS di kalangan pengguna narkoba suntik (IV drug users), sebagaimana disebut terjadi di 39 negara bagian Amerika Serikat yang tidak membatasi penjualan jarum steril. Namun, program pertukaran jarum suntik saja tidak cukup. Ketersediaan jarum steril harus diperluas agar praktik berbagi jarum suntik dapat benar-benar dihentikan.

Selain menghapus hukum terhadap narkoba rekreasional, penghapusan regulasi pemerintah terhadap obat-obatan “terapeutik” juga akan membawa manfaat bagi masyarakat. FDA (Food and Drug Administration) kerap menghambat banyak obat untuk masuk ke pasar, termasuk pengobatan bagi AIDS, kanker, dan berbagai penyakit serius lainnya. Bahkan obat-obatan yang akhirnya disetujui pun sering tertunda bertahun-tahun akibat aturan FDA, sementara ribuan orang meninggal dalam masa penantian tersebut. Sebagai contoh, setelah penelitian membuktikan efektivitas aerosolized pentamidine dalam mencegah pneumocystis carinii pneumonia (salah satu penyebab kematian yang umum pada penderita AIDS), aturan FDA tetap menunda persetujuan penggunaannya selama berbulan-bulan. Sebagaimana hukum narkoba menyebabkan kematian yang berkaitan dengan narkoba ilegal dan menghambat akses terhadap jarum steril untuk mencegah penularan AIDS, regulasi obat-obatan juga turut menyebabkan kematian penderita AIDS dengan menghalangi akses mereka terhadap pengobatan yang efektif. Hukum obat-obatan di Amerika Serikat juga menghambat pemasaran obat-obatan penggugur kandungan (abortifacients) yang baru dikembangkan, yaitu obat yang dapat memicu aborsi pada tahap awal kehamilan dan memungkinkan perempuan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada institusi medis untuk memperoleh layanan aborsi. Obat-obatan tersebut akan mengembalikan keputusan mengenai aborsi kepada pihak yang dianggap paling berhak menentukannya, yaitu individu itu sendiri.

Penghapusan hukum narkoba secara keseluruhan akan memperluas pilihan masyarakat, baik dalam urusan rekreasi maupun kesehatan. Selain itu, kebijakan tersebut juga dapat mengurangi kejahatan, menekan angka kematian dan penyakit yang berkaitan dengan penggunaan narkoba ilegal, serta mengurangi kematian akibat AIDS dan penyakit serius lainnya. Individu seharusnya bebas menentukan sendiri keputusan mengenai penggunaan narkoba maupun aspek lain dalam hidup mereka, tanpa campur tangan pemerintah ataupun “komunitas”.


Diterjemahkan dari:


Kematian dan Anarki

Aktivitas organisasi seperti Hemlock Society serta individu seperti Jack Kevorkian dan orang-orang yang ia bantu untuk mengakhiri hidup mereka telah memicu banyak perdebatan di media mengenai apa yang disebut sebagai “hak” untuk mati. Berbagai posisi pun muncul dalam perdebatan tersebut, mulai dari penolakan terhadap segala bentuk bunuh diri hingga dukungan terhadap prosedur yang rumit, di mana dokter diperbolehkan membantu seseorang meninggal hanya dalam keadaan tertentu yang sangat dibatasi. Terdapat berbagai perbedaan dalam usulan-usulan yang diajukan oleh mereka yang mendukung perubahan hukum terkait bunuh diri. Namun secara umum tampak adanya kesepakatan bahwa setiap regulasi baru yang dimaksudkan untuk memberi orang lebih banyak kebebasan dalam menentukan kapan mereka akan mati hanya berlaku bagi mereka yang menderita penyakit terminal atau penyakit serius dan dianggap masih berada dalam kondisi mental yang “waras”. Seluruh model semacam itu tetap mencampuri kehidupan pribadi seseorang dengan cara yang tidak dapat diterima dalam masyarakat yang benar-benar bebas.

Semua manusia, sebagai individu yang berdaulat atas dirinya sendiri, seharusnya bebas menentukan apa yang ingin mereka lakukan terhadap tubuh mereka. Kebebasan itu mencakup hak untuk melanjutkan atau mengakhiri kehamilan, menggunakan obat-obatan rekreasional maupun terapeutik sesuai pilihan mereka, melakukan aktivitas seksual konsensual apa pun yang mereka inginkan, ataupun mengakhiri hidup mereka sendiri dengan cara apa pun yang mereka pilih, selama tindakan tersebut tidak menyebabkan cedera fisik terhadap orang lain yang tidak menghendakinya. Bunuh diri merupakan tindakan non-koersif yang pada akhirnya hanya menjadi urusan orang yang ingin mengakhiri hidupnya sendiri. Satu-satunya cara untuk mencoba mencegah seseorang melakukan bunuh diri yang masih selaras dengan penghormatan terhadap kebebasan individu adalah melalui percakapan, perdebatan, dan upaya untuk mengubah pikirannya secara sukarela. Segala bentuk intervensi hukum maupun paksaan oleh negara ataupun komunitas merupakan bentuk pembatasan terhadap kebebasan individu untuk hidup dan mati dengan cara yang mereka pilih sendiri.

Ketika seseorang memutuskan untuk meninggalkan dunia ini secara sukarela, keputusan mengenai kapan, di mana, dan bagaimana hal itu dilakukan seharusnya sepenuhnya berada di tangan orang tersebut. Seseorang tidak harus menderita penyakit terminal ataupun rasa sakit kronis agar keputusannya dianggap sah atau dapat dibenarkan. Tak seorang pun dapat menentukan bagi orang lain kapan hidup masih layak dijalani dan kapan tidak lagi. Begitu pula para psikiater maupun terapis, seharusnya tidak memiliki hak untuk mencampuri keinginan seseorang untuk mati dengan melabeli keinginan tersebut sebagai gejala dari “penyakit mental”. Fakta bahwa seseorang memandang atau merespons dunia secara berbeda dari kebanyakan orang, atau bahwa penderitaan batinnya begitu besar hingga kematian terasa sebagai satu-satunya jalan keluar, tidak otomatis membatalkan kemampuan mereka dalam mengambil keputusan. Setiap orang menjalani kehidupan dan menghadapi kematiannya sendirian bersama pikiran, perasaan, emosi, dan persepsinya masing-masing. Karena itu, tidak seorang pun berhak mendikte bagaimana orang lain harus berpikir atau merasakan sesuatu, ataupun secara paksa mencegah bunuh diri seseorang.

Sebagian orang yang gagal dalam upaya bunuh diri kemudian mengungkapkan penyesalan atas tindakan mereka dan mengatakan bahwa mereka bersyukur kepada orang-orang yang mencegah mereka mengakhiri hidupnya. Hal ini sering dijadikan bukti bahwa pada saat mencoba bunuh diri mereka dianggap kurang mampu membuat keputusan yang “rasional” dibanding setelahnya, sehingga intervensi koersif untuk mencegah bunuh diri dipandang dapat dibenarkan. Namun, setidaknya dalam sebagian kasus, perubahan sikap tersebut mungkin tidak sepenuhnya tulus, karena untuk menghindari pengurungan di fasilitas “kesehatan mental”, orang-orang yang mencoba bunuh diri sering kali harus menarik kembali keinginan maupun tindakan mereka sebelumnya. Bahkan dalam situasi di mana seseorang benar-benar menyesali tindakannya dan menemukan kembali alasan untuk menghargai hidup, hal tersebut tetap tidak cukup untuk membenarkan perampasan kebebasan mereka atas hidupnya sendiri. Manusia mengubah pikirannya sepanjang waktu, dan kita tidak secara otomatis menganggap bahwa apa yang pernah dipikirkan seseorang di masa lalu kurang sah atau kurang rasional dibanding apa yang diyakininya sekarang. Setiap orang seharusnya memiliki kendali atas kemampuan berpikir dan mengambil keputusan dalam segala situasi, kecuali terdapat bukti yang jelas sebaliknya, misalnya adanya kerusakan organik pada otak. Pikiran maupun tindakan bunuh diri, dengan sendirinya, seharusnya tidak dianggap sebagai bukti semacam itu.

Karena bunuh diri merupakan tindakan yang tidak melibatkan pemaksaan terhadap orang lain, maka mereka yang ingin mengakhiri hidupnya seharusnya bebas meminta bantuan orang lain untuk melakukannya. Jika seseorang terlalu lemah atau terlalu takut untuk mengakhiri hidupnya sendiri, tetapi dapat menemukan orang lain yang bersedia melakukannya atas permintaannya, maka tidak ada alasan yang dapat membenarkan pelarangan terhadap tindakan tersebut. Orang-orang yang memberikan bantuan semacam itu juga tidak seharusnya dibatasi hanya pada kalangan profesional medis, karena keputusan seseorang untuk mengakhiri hidup bukan persoalan medis, melainkan persoalan moral atau etis. Dengan cara yang sama, pembatasan hukum terhadap pembelian dan penggunaan obat-obatan dalam bentuk apa pun juga seharusnya dihapuskan, sehingga setiap orang bebas memperoleh sarana farmasi untuk kematian yang tidak menyakitkan tanpa harus memerlukan resep dokter ataupun menghadapi risiko penangkapan.

Kemampuan untuk menentukan sendiri waktu, tempat, dan keadaan dari kematian yang tidak terjadi secara mendadak dipandang sama pentingnya dengan kebebasan untuk bekerja, bermain, berhubungan seksual, memiliki anak atau tidak, maupun melakukan tindakan non-koersif lainnya kapan pun, di mana pun, dan dengan cara apa pun yang dipilih seseorang. Meskipun seseorang terkadang dapat membuat keputusan yang keliru dalam hal tersebut, sebagaimana juga dalam berbagai aspek lain kehidupannya, mereka tetap seharusnya bebas membuat kesalahan semacam itu. Campur tangan koersif terhadap keputusan tersebut, baik oleh dokter, pengadilan, anggota keluarga, maupun polisi, tidak seharusnya diterima dalam masyarakat yang benar-benar bebas. Penghapusan pembatasan hukum terhadap bunuh diri, bunuh diri berbantuan (assisted suicide), serta akses terhadap sarana untuk melakukannya, adalah satu langkah tambahan menuju dunia tanpa paksaan dan tanpa campur tangan negara dalam kehidupan individu.


Diterjemahkan dari:


Hapuskan Semua Penjara!

Pemerintah federal, pemerintah negara bagian, dan pemerintah lokal di Amerika Serikat menjalankan sistem yang memenjarakan sangat banyak orang. Secara per kapita, jumlah tahanan di negara tersebut disebut lebih tinggi dibanding negara mana pun di dunia. Pada tahun 1992, terdapat hampir 1.400.000 orang yang dipenjara di Amerika Serikat, dengan sekitar 925.000 orang berada di penjara federal dan negara bagian, serta 444.000 lainnya ditahan di penjara lokal. Jumlah tersebut meningkat sekitar 6% dibanding data tahun 1991, dan melonjak jauh dibanding angka pada tahun 1972 yang masing-masing berada di kisaran 200.000 dan 150.000 orang. Populasi penjara tumbuh berkali-kali lebih cepat dibanding pertumbuhan populasi umum, sementara pemerintah di berbagai wilayah terus membangun lebih banyak penjara dan berencana memenjarakan lebih banyak orang. Meski demikian, kejahatan kekerasan tetap memengaruhi kehidupan banyak orang, sebagaimana intimidasi dan kekerasan yang dilakukan polisi juga terus berlangsung. Selain itu, sejumlah besar narapidana (bahkan disebut mencapai 63% di California dan lebih dari 70% di Ohio) kembali dipenjara setelah menjalani hukuman mereka karena kembali melakukan aktivitas yang sama seperti sebelumnya. Memenjarakan orang tidak mencegah ataupun menghalangi terjadinya kejahatan, dan juga tidak menghentikan mereka yang dipenjara untuk mengulangi tindakan yang sama.

Tujuan utama penjara jelas bukan rehabilitasi, melainkan penghukuman. Di dalam penjara, selain kehilangan kebebasan untuk bergerak dan menjalani hidup sesuka mereka, para tahanan juga kerap mengalami pelecehan dan intimidasi, baik dari sipir maupun sesama narapidana. Mereka diperlakukan seperti anak-anak, sebagaimana anak-anak sering diperlakukan dalam masyarakat di luar penjara, tetapi setelah masa hukuman berakhir mereka tetap diharapkan mampu bersikap sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab. Para tahanan dipaksa bekerja dengan upah yang sangat kecil atau bahkan tanpa bayaran sama sekali, dan sering kali dipaksa melakukan pekerjaan yang berbahaya (bahkan mematikan), seperti memadamkan kebakaran atau membersihkan tumpahan minyak. Memukuli, memperkosa, mengintimidasi, memperbudak, dan memperlakukan manusia seperti anak kecil tidak akan menghasilkan pribadi yang peduli dan tidak penuh kekerasan, melainkan menghasilkan orang-orang yang marah, penuh kebencian, dan lebih rentan terhadap kekerasan. Selain tidak efektif dalam mencegah kejahatan, penyiksaan terhadap orang-orang yang melakukan pelanggaran juga tidak adil. Ketika narapidana yang melarikan diri ditemukan bertahun-tahun kemudian hidup damai tanpa melakukan kejahatan di bawah identitas baru, meskipun hal itu menunjukkan bahwa mereka telah berubah, mereka biasanya tetap dikembalikan ke penjara untuk menyelesaikan hukuman mereka, bahkan sering kali mendapat tambahan hukuman karena melarikan diri. Tindakan tersebut tidak lebih dari bentuk balas dendam aparat kepolisian dan pengadilan, bukan upaya untuk melindungi masyarakat dari pelaku kejahatan. Apa pun pelanggaran yang pernah dilakukan seseorang, memperlakukan mereka secara kejam dan abusif sebagai balasan adalah tindakan yang tidak manusiawi. Terdapat cara lain yang lebih adil dan tidak sekejam penjara untuk menangani orang-orang yang saat ini dipenjara.

Sebagian besar orang yang berada di penjara, mereka dipenjara karena pelanggaran yang tidak melibatkan kekerasan. Banyak di antara mereka bahkan dipenjara karena melakukan aktivitas yang tidak merugikan siapa pun, atau paling jauh hanya berdampak pada diri mereka sendiri, sehingga seharusnya tidak menjadi urusan pemerintah maupun pihak lain. Banyak orang dipenjara karena menjual, menggunakan, atau mengangkut narkoba ilegal, terlibat dalam atau menawarkan hubungan seksual dengan imbalan uang, ataupun melakukan hubungan seksual konsensual dengan orang yang lebih muda, sesama jenis, atau dengan cara yang tidak disetujui negara. Aktivitas-aktivitas tersebut merupakan tindakan non-koersif dan non-kekerasan, sehingga seharusnya hanya menjadi urusan orang-orang yang terlibat di dalamnya. Kekerasan memang terkadang muncul dalam kaitannya dengan sebagian aktivitas tersebut, tetapi hal itu terjadi karena negara mengkriminalkan aktivitas-aktivitas tersebut dan mendorongnya bergerak secara bawah tanah. Dekriminalisasi terhadap aktivitas-aktivitas sukarela semacam itu akan menyelesaikan persoalan tersebut. Sementara itu, untuk pelanggaran yang memang menimbulkan kerugian terhadap orang lain tetapi tidak melibatkan kekerasan, seperti perampokan atau pencurian, bentuk ganti rugi atau restitusi lebih masuk akal dibanding pemenjaraan.

Bahkan bagi mereka yang melakukan kekerasan terhadap orang lain, penjara jelas bukanlah solusi. Penjara tidak mampu mencegah pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan berbagai bentuk kekerasan lainnya. Penjara bahkan dapat mendorong terulangnya tindakan-tindakan tersebut. Satu-satunya cara untuk mencegah kejahatan kekerasan adalah dengan memungkinkan masyarakat membela diri mereka sendiri. Salah satu caranya adalah dengan menghapus undang-undang pembatasan senjata, sehingga setiap orang dapat melindungi dirinya dari kemungkinan serangan orang lain. Mengandalkan polisi tidak akan efektif dalam mencegah kekerasan terhadap masyarakat. Keberadaan aparat kepolisian sering dijadikan alasan untuk melucuti kemampuan individu dalam membela diri, terutama masyarakat miskin dan masyarakat kulit hitam. Padahal, polisi sendiri turut bertanggung jawab atas banyak kekerasan yang terjadi terhadap masyarakat. Kepemilikan pistol genggam, terutama oleh perempuan, lebih efektif sebagai sarana pencegahan terhadap kejahatan kekerasan. Sebagai contoh, ketika Orlando menjalankan program yang melatih 6.000 perempuan menggunakan dan membawa pistol genggam, serta program tersebut dipublikasikan secara luas, angka pemerkosaan di kota itu disebut menurun hingga 90% pada saat angka pemerkosaan justru meningkat tajam di wilayah lain.

Sebagaimana banyak institusi negara lainnya, keberadaan penjara bukan hanya tidak efektif, tetapi juga tidak adil. Karena itu, solusi yang paling manusiawi terhadap persoalan penjara adalah dengan menghapuskannya sepenuhnya, lalu membiarkan masyarakat, baik secara individu maupun kolektif sesuai pilihan mereka sendiri, mengorganisir pertahanan diri terhadap kekerasan dan pencurian.


Diterjemahkan dari:


Pembelaan atas Kebebasan untuk Dibiarkan Sendiri

Kita hidup dalam masyarakat yang invasif. Kebebasan untuk menjalani hidup secara damai sesuai kehendak sendiri dibatasi secara ketat oleh hukum, aturan, dan regulasi yang diberlakukan oleh berbagai bentuk pemerintahan beserta para pendukungnya di tengah masyarakat. Kita tunduk pada begitu banyak aturan, di antaranya hukum yang melarang bentuk-bentuk tertentu dari hubungan seksual konsensual; melarang ketelanjangan di ruang publik; membatasi penjualan atau produksi buku dan film yang mengandung muatan seksual eksplisit; mengkriminalkan penjualan layanan seksual; melarang kepemilikan pistol genggam; mewajibkan resep dokter untuk membeli obat-obatan tertentu; mencegah seseorang memperoleh bantuan orang lain untuk mengakhiri hidupnya sendiri; mendenda orang karena tidak mengenakan sabuk pengaman; serta berusaha melarang penggunaan narkotika rekreasional pilihan seseorang. Mengapa orang-orang menerima tingkat campur tangan pemerintah sebesar ini dalam kehidupan pribadi mereka? Karena mereka telah diyakinkan bahwa individu dan masyarakat perlu dilindungi dari konsekuensi pilihan-pilihan “buruk” yang mungkin diambil manusia apabila mereka dibiarkan hidup tanpa campur tangan pihak lain.

Pemerintah selalu menganggap bahwa mereka lebih tahu apa yang baik bagi orang lain dibanding orang-orang itu sendiri. Para penguasa ini tampaknya percaya bahwa ketika seseorang membuat pilihan yang mereka anggap tidak bijak, tidak sehat, atau tidak bermoral, maka orang tersebut pasti bertindak demikian karena kurang informasi, bodoh, atau mengalami “penyakit” fisik, psikologis, maupun moral. Atas dasar itu, negara merasa berhak campur tangan untuk mencegah orang-orang yang dianggap “tidak tercerahkan” agar tidak membahayakan diri mereka sendiri. Para pencampur urusan orang lain ini gagal memahami bahwa seseorang dapat secara bebas memilih melakukan hal-hal yang mungkin tidak disetujui oleh orang lain.

Manusia memiliki selera dan cara hidup yang berbeda-beda. Ada yang menyukai hubungan heteroseksual, ada yang homoseksual, ada yang menyukai keduanya, dan ada pula yang tidak tertarik pada keduanya. Sebagian orang menyukai kopi dan rokok, sementara yang lain lebih memilih vodka dan kokain. Ada yang lebih suka mengikuti nasihat dokter tentang cara menjaga kesehatan dan obat apa yang harus dikonsumsi, sementara yang lain lebih memilih penyembuh non-medis atau ingin menentukan sendiri obat apa yang ingin mereka gunakan. Ada orang yang memilih melakukan hubungan seksual tanpa imbalan, sementara yang lain bersedia membayar atau menjual layanan seksual. Semua aktivitas tersebut merupakan hasil dari pilihan yang dibuat secara sukarela, dan tidak memengaruhi siapa pun selain orang-orang yang secara sukarela terlibat di dalamnya. Karena itu, aktivitas-aktivitas tersebut seharusnya hanya menjadi urusan para pelakunya sendiri dan tidak sepatutnya dicampuri oleh pihak lain.

Orang terkadang melakukan aktivitas yang berpotensi membahayakan diri mereka sendiri karena kenikmatan atau manfaat yang mereka peroleh, atau harapkan dari aktivitas tersebut, dianggap lebih penting daripada bahaya nyata maupun potensi bahaya yang mungkin ditimbulkannya. Orang tetap merokok meskipun mengetahui adanya peningkatan risiko kanker paru-paru dan emfisema yang berkaitan dengan kebiasaan tersebut, karena mereka menikmati aktivitas merokok itu sendiri. Sebagian orang juga melakukan aktivitas seksual tertentu, seperti seks oral tanpa kondom, yang memiliki risiko penularan HIV, karena kenikmatan seksual yang mereka peroleh dianggap sebanding dengan risiko kecil terinfeksi dan kemungkinan mengembangkan AIDS. Pilihan-pilihan semacam itu seharusnya sepenuhnya diserahkan kepada individu yang bersangkutan, karena tidak ada pihak lain yang dirugikan. Kita seharusnya bebas menjalani hidup sesuai kehendak kita sendiri, bahkan jika beberapa keputusan yang kita ambil kemudian ternyata tidak bijaksana.

Beberapa aktivitas sukarela dilarang atau diatur karena dianggap berpotensi melibatkan orang lain secara tidak sukarela. Karena senjata api dapat digunakan untuk membunuh orang lain, muncullah argumen bahwa kepemilikan senjata harus diatur demi mencegah kemungkinan terjadinya bahaya terhadap orang lain. Sebagian orang yang terluka akibat senjata memang dianggap pantas menerima kekerasan tersebut, misalnya ketika pemilik senjata sedang membela diri atau melindungi propertinya sendiri. Namun, terkadang orang-orang yang tidak bersalah juga menjadi korban. Meski demikian, fakta bahwa orang-orang yang tidak melakukan kekerasan kadang terluka atau terbunuh ketika senjata tersedia secara bebas tidak serta-merta membenarkan pembatasan terhadap kepemilikan senjata. Orang-orang yang tidak bersifat koersif juga terkadang terluka atau meninggal dalam kecelakaan mobil, tetapi hampir tidak ada yang menuntut pelarangan mobil karena alasan tersebut. Hanya karena senjata atau mobil dapat disalahgunakan untuk melukai orang lain, bukan berarti benda-benda itu harus dilarang.

Para pendukung pemerintahan intervensionis akan berargumen bahwa masyarakat tidak boleh menerima risiko sama sekali, atau setidaknya hanya menerima risiko dalam kadar yang sangat kecil. Namun, persoalan dari cara pandang semacam itu adalah bahwa mengurangi risiko berarti membatasi kebebasan. Masyarakat yang menghargai kebebasan pada akhirnya harus menjadi masyarakat yang membiarkan orang-orang bebas melakukan tindakan yang mengandung risiko. Karena itu, kita harus memilih: antara dunia yang bebas namun mengandung sejumlah risiko, atau dunia yang aman dan terkendali tetapi menyesakkan serta tidak bebas.

Politisi dari berbagai kecenderungan politik, baik kanan maupun kiri, sama-sama mendukung campur tangan pemerintah dalam kehidupan orang lain. Kaum konservatif dan liberal arus utama mungkin lebih terang-terangan dalam menunjukkan sikap intervensionis mereka, tetapi mereka bukan satu-satunya pihak yang bersikap demikian. Kaum kiri sosialis juga sama-sama bersedia mencampuri urusan orang lain, dan negara-negara sosialis bahkan memiliki catatan yang lebih buruk dibanding Amerika Serikat dalam hal pembatasan kebebasan individu. Sebagai contoh, hanya sedikit kaum kiri yang mengkritik sistem resep obat ataupun hukum yang melarang penggunaan narkotika rekreasional, sementara negara-negara sosialis dikenal luas karena menganiaya orang-orang yang melakukan hubungan homoseksual.

Tidak ada bentuk pemerintahan apa pun, sebesar atau sekecil apa pun, ataupun dengan orientasi politik apa pun, yang benar-benar akan membiarkan manusia hidup tanpa campur tangan dirinya. Hakikat dan tujuan pemerintahan adalah mencampuri kehidupan individu dan menentukan bagaimana mereka seharusnya menjalani hidup. Kita hanya akan benar-benar bebas ketika manusia akhirnya menyadari bahwa mereka dapat hidup lebih baik dan lebih bebas tanpa pemerintahan apa pun, lalu mulai membangun masyarakat tanpa negara.


Diterjemahkan dari:


Bisnis yang Penuh Risiko

Aktivitas sehari-hari kita terus-menerus dicampuri atau dibatasi oleh begitu banyak hukum, aturan, dan regulasi. Pilihan kita mengenai tempat tinggal, jenis pekerjaan yang ingin dijalani, cara membesarkan anak, hingga bentuk hiburan yang ingin dinikmati semuanya dibatasi oleh pemerintah dan para pendukungnya. Kaum anarkis menawarkan gambaran dunia yang berbeda: sebuah masyarakat tanpa pemerintahan di mana manusia bebas menjalani hidup sesuai kehendak mereka selama tetap menghormati kebebasan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Namun, kemungkinan terwujudnya masyarakat semacam itu tampak sangat suram jika melihat begitu besarnya dukungan masyarakat terhadap pemerintahan dan semakin luasnya kontrol negara atas kehidupan kita.

Begitu banyak orang tampak rela menyerahkan otonomi mereka kepada pengawasan pihak lain, karena mereka menganggap campur tangan tersebut sebagai harga yang harus dibayar demi memperoleh sedikit rasa aman di dunia yang dianggap penuh bahaya. Namun, mereka tampaknya tidak menyadari apa yang sebenarnya mereka korbankan dalam upaya membuat hidup mereka sebebas mungkin dari risiko.

Mengurangi risiko tentu merupakan tujuan yang masuk akal, tetapi menghilangkan risiko sepenuhnya adalah hal yang mustahil. Hampir tidak ada orang yang ingin sakit, terluka, atau mati. Namun, banyak aktivitas dalam kehidupan, mulai dari yang paling biasa hingga yang paling mendebarkan, selalu mengandung risiko. Karena itu, setiap orang harus menyeimbangkan keinginan untuk menjalani hidup yang memuaskan dengan keinginan untuk menghindari bahaya. Sayangnya, upaya untuk menyeimbangkan keinginan-keinginan yang kadang saling bertentangan tersebut dapat menimbulkan persoalan, baik bagi individu yang bersangkutan maupun bagi orang lain.

Jika kita benar-benar ingin menghindari semua bahaya yang mungkin dihadapi, dunia akan menjadi tempat yang sangat berbeda. Tak seorang pun akan mengendarai mobil, menggunakan sepatu roda inline skate, bekerja di pekerjaan berbahaya, meminum koktail, ataupun merokok tembakau maupun ganja, karena semua aktivitas tersebut mengandung risiko membahayakan diri sendiri. Namun, kebanyakan orang memilih untuk tidak sepenuhnya menghindari aktivitas-aktivitas tersebut, karena manfaat atau kesenangan yang mereka peroleh dianggap lebih besar daripada risiko yang menyertainya. Risiko itu sendiri dapat dikurangi, misalnya dengan mengemudi perlahan, menggunakan perlengkapan pelindung, atau minum dan merokok secara moderat. Setiap hari manusia membuat keputusan-keputusan semacam itu sambil menjalani hidup di dunia yang penuh ketidakpastian ini.

Terkadang pilihan seseorang mengenai aktivitas yang ingin dijalani dapat terlihat bodoh atau terlalu berhati-hati di mata orang lain. Sebagai contoh, ada orang-orang yang sebenarnya memiliki risiko sangat kecil tertular HIV melalui hubungan seksual, tetapi memilih menghindari seluruh bentuk hubungan seksual, alih-alih sekadar lebih berhati-hati dalam memilih pasangan atau jenis aktivitas seksual. Namun, meskipun orang-orang semacam itu mungkin membatasi diri secara berlebihan dan menyangkal kesenangan bagi diri mereka sendiri, pilihan tersebut tidak memengaruhi orang lain yang tidak terlibat, sehingga seharusnya bukan urusan siapa pun selain diri mereka sendiri.

Masalah mulai muncul ketika orang-orang yang berniat baik tetapi terlalu berhati-hati memutuskan meminta bantuan pemerintah untuk melindungi diri mereka sendiri dan orang lain dari risiko, baik yang nyata maupun yang dibayangkan. Campur tangan pemerintah kemudian memaksa semua orang membatasi aktivitas mereka sesuai keinginan orang-orang yang paling takut mengambil risiko dan paling tidak berani di antara kita. Undang-undang yang mengatur pembangunan perumahan, mewajibkan lisensi profesi dan institusi, serta membatasi penjualan obat-obatan terapeutik maupun rekreasional, semuanya diklaim dibuat untuk melindungi masyarakat dari bahaya. Namun pada kenyataannya, aturan-aturan tersebut bukan hanya menyebabkan kelangkaan perumahan, tunawisma, mahalnya biaya layanan kesehatan, meningkatnya kriminalitas dan pengangguran, tetapi juga menimbulkan kemiskinan budaya dan sosial secara umum. Ketika kita tidak dapat memilih sendiri jenis rumah yang ingin kita tinggali, tenaga kesehatan seperti apa yang ingin kita datangi, siapa yang boleh merawat anak-anak kita, siapa yang boleh memotong rambut kita, atau obat apa yang ingin kita gunakan untuk menyembuhkan maupun menghibur diri, maka hidup kita menjadi semakin terbatas, kurang menarik, kurang memuaskan, dan semakin tidak bebas.

Banyak orang sudah begitu terbiasa dengan pengawasan dan perlindungan dari pemerintah sehingga mereka menganggapnya sebagai satu-satunya solusi setiap kali sesuatu yang buruk terjadi. Karena orang kadang terluka akibat penggunaan kembang api, banyak negara bagian melarang sepenuhnya penjualan maupun penggunaan kembang api oleh individu. Dan karena kelalaian sebagian orang tua pernah menyebabkan anak-anak terluka, pernah muncul upaya di Massachusetts untuk menjadikan tindakan meninggalkan anak di bawah usia 14 tahun tanpa pengawasan sebagai tindakan ilegal dalam keadaan apa pun. Sekilas, tindakan-tindakan semacam itu mungkin tampak masuk akal. Namun, logika yang sama juga dapat digunakan untuk melarang kendaraan bermotor ataupun berjemur di bawah matahari. Apakah dunia yang aman tetapi membosankan dan tanpa gairah seperti itu benar-benar dunia yang kita inginkan?

Hidup penuh ketidakpastian dan terkadang tidak aman. Itulah kondisi manusia. Namun, hidup juga dapat menjadi sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan. Sebagian orang bersedia mengorbankan banyak hal demi janji keamanan. Itu tidak masalah, selama mereka tidak berusaha mencegah orang lain mengambil risiko. Sebagian dari kita tidak bersedia menukar kebebasan dengan rasa aman, dan lebih memilih menghadapi sejumlah risiko sambil menjalani hidup sesuai kehendak sendiri. Dan untuk sekali ini saja, orang-orang yang tidak menyetujuinya seharusnya mengurus urusan mereka sendiri.


Diterjemahkan dari:


Perdagangan Bebas adalah Perdagangan yang Adil; Pandangan Anarkis tentang Perdagangan Dunia

Banyak orang yang menentang World Trade Organization (WTO) mengusung apa yang mereka sebut sebagai “perdagangan yang adil”, sebagai lawan dari “perdagangan bebas” yang diklaim dipromosikan oleh WTO. Namun pada kenyataannya, bentuk perdagangan yang dipromosikan WTO sama sekali bukan perdagangan bebas, sementara alternatif yang diajukan oleh para penentangnya juga tidak bisa disebut adil. Baik WTO maupun sebagian besar pengkritiknya, yang mencakup kaum nasionalis sayap kanan tradisional, aktivis buruh, aktivis lingkungan, hingga berbagai kelompok kiri, sama-sama mendukung keberlanjutan campur tangan pemerintah dalam kegiatan ekonomi, baik di tingkat domestik maupun internasional. Padahal, perdagangan yang diatur oleh negara dalam bentuk apa pun tidak akan pernah benar-benar bebas ataupun adil.

Pemerintah di seluruh dunia secara rutin mencampuri perekonomian negara yang mereka kuasai dan secara aktif mengintervensi perdagangan lintas batas. Mereka memberikan subsidi kepada sektor-sektor tertentu, seperti pertanian di Amerika Serikat dan Eropa, membiayai promosi internasional bagi korporasi-korporasi besar, serta memberlakukan tarif dan aturan kepabeanan yang menghambat atau mempersulit arus bebas barang antara orang-orang yang berada di dua sisi berbeda dari batas-batas politik negara. Aturan dan regulasi semacam itu menguntungkan perusahaan-perusahaan besar di dalam negeri, sementara para produsen di negara lain harus menanggung kerugiannya. Dengan demikian, perdagangan internasional yang berlangsung saat ini bukanlah hasil pertukaran bebas antar individu, melainkan sistem yang dibentuk dan diarahkan oleh kepentingan negara serta kelompok-kelompok ekonomi yang memiliki kedekatan dengan kekuasaan.

Apa yang disebut sebagai perjanjian “perdagangan bebas” dan organisasi seperti North American Free Trade Agreement (NAFTA) maupun World Trade Organization (WTO) mungkin mengubah beberapa rincian dari intervensi tersebut, tetapi tidak pernah mempertanyakan prinsip dasarnya, yaitu bahwa pemerintah berhak menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dibeli oleh warga negara serta dengan siapa mereka boleh berdagang. Di bawah NAFTA, misalnya, membeli obat-obatan terapeutik yang lebih murah di Kanada untuk kemudian dijual kembali di Amerika Serikat merupakan tindakan yang ilegal. WTO juga tidak berupaya membebaskan perdagangan antar individu. Organisasi tersebut hanya menetapkan aturan-aturan yang menurut para birokrat yang mengelolanya paling sesuai dengan kepentingan korporasi-korporasi yang didukung oleh pemerintah-pemerintah anggotanya. WTO bahkan tidak mempertimbangkan kemungkinan adanya kesepakatan sukarela antara individu maupun kelompok yang dilakukan secara mandiri tanpa pengawasan badan regulasi, petugas bea cukai, penjaga perbatasan, aparat kesehatan publik, aparat penjaga pantai, dan berbagai birokrasi lainnya. Yang dipromosikannya hanyalah kelanjutan pengawasan pemerintah terhadap orang-orang yang ingin melakukan kegiatan perdagangan satu sama lain.

Sebagian besar pengkritik WTO juga mendukung pengawasan pemerintah terhadap urusan ekonomi. Serikat-serikat buruh mendesak pemerintah untuk melarang impor barang yang dijual lebih murah daripada produk yang dihasilkan oleh para anggotanya. Aktivis lingkungan menginginkan pemerintah menerapkan regulasi yang melindungi satwa liar dan membatasi pencemaran lingkungan. Aktivis hak asasi manusia menuntut pemerintah memaksa perusahaan-perusahaan agar mengizinkan para pekerjanya membentuk serikat guna memperjuangkan kondisi kerja yang lebih baik. Tujuan-tujuan tersebut tentu patut dihargai: melindungi pekerjaan dengan upah layak, menjaga tumbuhan dan hewan dari eksploitasi serta kepunahan, dan memungkinkan pekerja berupah rendah meningkatkan kondisi ekonomi mereka. Namun, cara yang diajukan untuk mencapai tujuan tersebut pada dasarnya sama dengan yang dipromosikan oleh WTO, yaitu penggunaan kekuasaan negara. Tampaknya tidak banyak orang yang mengusulkan cara lain untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi kaum pekerja di semua negara, sekaligus bagi makhluk hidup lain yang berbagi planet ini dengan kita.

Banyak orang mengungkapkan kekhawatiran bahwa WTO melemahkan kedaulatan nasional, seolah-olah pemerintah Amerika Serikat merupakan kekuatan yang baik dan patut dipertahankan. Mereka tampaknya lupa bahwa pemerintah federal merampas hasil kerja para pekerja melalui pajak, sambil menyalurkan berbagai bentuk subsidi dan bantuan kepada korporasi-korporasi besar. Para pengkritik semacam itu gagal memahami bahwa pemerintah Amerika Serikat, sebagaimana pemerintah nasional lainnya, secara rutin membatasi kedaulatan individu, satu-satunya bentuk kedaulatan yang benar-benar penting. Berbagai tingkat pemerintahan mungkin lebih atau kurang menindas, lebih atau kurang adil, tergantung pada situasi tertentu dan kepentingan individu yang terlibat. Namun, tidak satu pun dari mereka memiliki pembenaran moral atas tindakan-tindakannya. Semuanya mengambil uang dari para pekerja melalui pajak, menegakkan hukum yang mempertahankan pola kepemilikan tanah yang tidak adil, memonopoli sarana pertukaran ekonomi, serta melindungi kekayaan kaum kaya yang diperoleh secara tidak adil, sehingga semakin memiskinkan kaum pekerja. Karena itu, semuanya harus ditentang.

Para demonstran yang menentang WTO juga menunjukkan bahwa organisasi tersebut tidak demokratis, berbeda dengan sebagian pemerintah nasional yang sering dijadikan pembanding. Memang benar bahwa pemerintah Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, India, Jepang, dan negara-negara lainnya dipilih melalui proses demokratis. Namun, hal itu tidak berarti bahwa mereka sah secara moral, bersifat baik hati, atau benar-benar mewakili kepentingan individu-individu yang hidup di bawah kekuasaan mereka. Pemerintah demokratis Amerika Serikat, misalnya, melancarkan perang terhadap rakyat Kosovo dan Irak, mendukung negara polisi Tiongkok, memberikan subsidi kepada petani tembakau dan berbagai komoditas pertanian yang diprioritaskan negara, serta melarang penggunaan sejumlah obat terapeutik yang tersedia secara legal di negara lain. Namun, inilah pemerintah yang oleh sebagian pengkritik WTO dianggap mampu membela kepentingan para pekerja dunia dan lingkungan hidup. Yang dibutuhkan bukanlah memilih antara WTO dan berbagai pemerintah nasional, melainkan membebaskan masyarakat dari campur tangan keduanya. Baik WTO maupun negara sama-sama mengatur, mengendalikan, dan sering kali menindas orang-orang yang berada di bawah kekuasaan mereka. Jika demokrasi, seperti halnya pemungutan suara, benar-benar mampu mengubah segalanya, maka praktik itu sudah lama akan dilarang.

Menghapus WTO maupun NAFTA tidak akan membawa manfaat bagi kaum pekerja, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Yang akan membawa manfaat adalah penghapusan negara itu sendiri. Menghambat perdagangan lintas batas tidak akan menaikkan upah pekerja di Meksiko, memperbaiki kondisi kerja di pabrik-pabrik Malaysia, ataupun meringankan beban para petani dan buruh di Tiongkok. Bukan perdagangan internasional yang merugikan mereka, melainkan pemerintah-pemerintah yang membatasi kebebasan mereka sedemikian rupa sehingga mereka hampir tidak memiliki pilihan selain bekerja dengan upah yang tidak adil demi memperkaya orang lain. Di seluruh dunia, pemerintah merampas kebebasan ekonomi rakyat pekerja dan mengutamakan kepentingan para pemilik tanah serta pemilik industri yang kaya raya. Akibatnya, mayoritas masyarakat menjadi semakin miskin, sementara segelintir orang semakin kaya, dan pada gilirannya memperkaya para politisi.

Perdagangan bebas yang sesungguhnya tidak akan menyerupai sistem yang ada sekarang, maupun sistem yang akan ada jika WTO memegang kendali. Tanpa pemerintah yang menghalangi orang untuk menjalani hidup sesuai kehendak mereka sendiri, masyarakat yang bebas dapat membentuk sistem mata uang dan lembaga perbankan mereka sendiri guna memperluas akses kredit bagi orang-orang biasa. Hasil kerja mereka tidak akan dirampas oleh pemerintah yang eksploitatif. Mereka juga tidak akan dilucuti haknya untuk membela diri oleh para wakil rakyat yang mereka pilih sendiri, sehingga tetap mampu mempertahankan tanah dan harta benda mereka dari korporasi-korporasi multinasional rakus yang memperoleh perlindungan dari para politisi. Mereka tidak akan dipaksa oleh negara untuk membayar sewa kepada para pemilik tanah yang hanya dapat mengklaim kepemilikan atas lahan dan properti karena pemerintah mendukung hak milik atas tanah yang tidak digunakan maupun tidak ditempati oleh pemiliknya. Para pekerja juga akan bebas mengambil alih pabrik-pabrik dan sarana produksi lain yang selama ini mereka gunakan, karena tidak akan ada pemerintah yang memaksakan tuntutan para “pemilik” saat ini atas sebagian hasil kerja orang lain. Tanpa harus menyerahkan sebagian dari kekayaan yang mereka hasilkan melalui kerja mereka sendiri, para pekerja yang bebas akan menjadi pekerja yang makmur. Mereka akan bebas bertukar barang dan jasa dengan siapa pun, tanpa memandang letak geografis maupun latar belakang etnis, selama hubungan tersebut berlangsung secara sukarela. Jika perdagangan benar-benar bebas, maka satu-satunya pertukaran yang akan disetujui orang adalah pertukaran yang adil. Dan jika terdapat persaingan yang sungguh-sungguh bebas antara para pekerja yang juga menjadi pemilik usaha mereka sendiri di seluruh dunia, tidak seorang pun akan mampu menumpuk kekayaan dalam jumlah besar dengan mengorbankan orang lain.

Perdagangan bebas yang sesungguhnya memang akan mengandung risiko-risiko yang tidak ditemukan dalam sistem ekonomi yang diawasi negara. Tidak akan ada sistem kesejahteraan yang dikelola pemerintah, tidak akan ada undang-undang perburuhan, dan tidak akan ada peraturan negara yang melarang pencemaran lingkungan atau pembantaian satwa liar secara semena-mena. Namun, itu tidak berarti bahwa individu maupun lingkungan alam akan dibiarkan begitu saja untuk berjuang sendiri. Manusia lebih dari mampu membentuk organisasi-organisasi sukarela untuk menghadapi masa-masa sulit, saling membantu menciptakan lapangan kerja, memfasilitasi perdagangan langsung antara produsen, serta mengampanyekan perlakuan yang lebih manusiawi terhadap makhluk hidup non-manusia. Orang-orang yang bebas berdagang satu sama lain juga akan bebas meninjau kembali cara mereka hidup dan bekerja, lalu mengembangkan cara-cara yang lebih manusiawi dan lebih selaras dengan lingkungan dibandingkan yang ada saat ini. Sepanjang sejarah, manusia telah melakukan hal tersebut, dan mereka masih melakukannya hingga sekarang, berdampingan dengan berbagai institusi negara kesejahteraan dan negara perang.

Anarki dan perdagangan bebas tidak akan menyelesaikan semua persoalan ataupun melahirkan sebuah utopia. Keduanya hanya akan membebaskan manusia untuk berinteraksi dengan orang lain sesuai kehendak mereka sendiri, dengan cara yang saling menguntungkan bagi semua pihak yang terlibat. Dalam kondisi seperti itu, individu dan berbagai asosiasi sukarela akan bebas untuk berdagang secara adil satu sama lain, bersatu sesuai keinginan mereka untuk memperjuangkan kepentingan bersama, serta melindungi lingkungan yang mereka huni bersama. Semua itu dapat dilakukan tanpa harus tunduk pada campur tangan para politisi maupun elite ekonomi yang memperoleh kekuasaan dan perlindungan dari mereka.


Diterjemahkan dari:


Privatisasi? Itu Tidak Cukup Jauh!

Sudah menjadi hal yang lazim bagi pejabat pemerintah dari kedua partai besar untuk sekadar melontarkan retorika tentang berbagai masalah yang ditimbulkan oleh apa yang mereka sebut sebagai “pemerintahan yang terlalu besar”. Sambil terus mengesahkan lebih banyak undang-undang, memberlakukan lebih banyak regulasi, memperbesar populasi penjara, dan memungut semakin banyak uang dari kaum pekerja, mereka tetap mengklaim mendukung “perampingan” negara. Salah satu langkah yang sering diajukan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah privatisasi. Transportasi umum, rumah sakit, bahkan penjara, dijual secara langsung kepada korporasi swasta atau dikelola oleh pihak luar sementara pemerintah tetap mempertahankan kepemilikannya. Meskipun kaum anarkis pada umumnya mendukung upaya untuk semakin menjauhkan berbagai aspek kehidupan dari kendali negara, privatisasi yang disponsori negara pada kenyataannya tidak meningkatkan otonomi masyarakat, yaitu kemampuan individu untuk menentukan sendiri bagaimana dan di mana mereka memperoleh barang dan jasa, serta bagaimana mereka menjalani kehidupan mereka.

Pada umumnya, pemerintah menjalankan hampir semua hal dengan buruk. Lembaga-lembaga publik cenderung tidak efisien, mahal, dan lamban, sementara berbagai “layanan” sering kali diberikan oleh orang-orang yang kasar dan arogan. Setidaknya sebagian dari masalah ini muncul karena banyak badan usaha milik negara beroperasi sebagai monopoli. Jika seseorang tidak perlu bersaing dengan pihak lain yang bergerak di bidang yang sama, maka tidak banyak dorongan untuk mengelola usaha dengan lebih baik, menyediakan layanan yang lebih berkualitas, atau memperlakukan pelanggan dengan baik. Privatisasi biasanya tidak mengubah keadaan tersebut. Perusahaan yang membeli atau mengelola lembaga yang sebelumnya dimiliki negara umumnya tetap diberikan monopoli di bidang usahanya, sama seperti yang sebelumnya dimiliki oleh negara.

Ketika pemerintah memprivatisasi sistem transportasi umum atau pengelolaannya, mereka tidak benar-benar membuka pasar sehingga siapa pun dapat bersaing dan menyediakan layanan transportasi bagi pelanggan yang menginginkannya. Mereka hanya menyerahkan sistem yang sudah ada dan bersifat monopolistik kepada entitas swasta yang berorientasi pada keuntungan untuk dikelola dengan cara yang berbeda. Yang berubah hanyalah sebagian orang yang berada di posisi puncak. Hal itu mungkin menghasilkan layanan yang lebih efisien atau lebih ramah, tetapi tidak benar-benar memberi masyarakat lebih banyak pilihan dibandingkan sebelumnya. Pemerintah tidak mengizinkan perusahaan-perusahaan swasta lain bersaing dengan pemilik atau pengelola baru dengan membuka rute-rute baru atau menantang operator resmi di rute yang sudah ada, sehingga pelanggan dapat menentukan sendiri dengan siapa mereka ingin berurusan. Mereka juga tentu tidak mengizinkan individu menggunakan truk, mobil, atau kendaraan pribadi lainnya sebagai sarana angkutan untuk bersaing dengan pemilik atau pengelola baru tersebut.

Ketika sebuah rumah sakit diprivatisasi, perubahan serupa juga terjadi. Sebagian perubahan itu mungkin membawa perbaikan, tetapi tidak ada perubahan mendasar dalam cara individu berhubungan dengan sistem layanan kesehatan. Rumah sakit tersebut tetap akan dijalankan oleh dokter, ahli bedah, perawat, dan administrator yang memperoleh sertifikasi dari pemerintah. Masyarakat tetap hanya dapat berkonsultasi dengan jenis penyedia layanan kesehatan tertentu, menggunakan jenis asuransi tertentu, dan tetap tidak dapat membeli sebagian besar obat-obatan tanpa resep dokter atau perawat yang berwenang. Privatisasi rumah sakit milik negara tidak berarti masyarakat kini bebas memilih jenis penyembuh atau metode pengobatan apa pun yang mereka anggap sesuai. Mereka juga tidak menjadi bebas mengonsumsi obat atau zat apa pun yang mereka inginkan, ataupun mendirikan pusat layanan kesehatan atau rumah sakit mereka sendiri tanpa persetujuan dan pengawasan pemerintah.

Penjara yang diprivatisasi mungkin merupakan contoh paling jelas tentang betapa kecil perbedaan antara lembaga yang dikelola negara dan lembaga yang diserahkan kepada korporasi yang berorientasi pada keuntungan. Di penjara-penjara swasta ini, para tahanan tetap mengalami kekerasan, pemukulan, dan pemerkosaan. Para sipir tetap mengendalikan detail-detail terkecil dalam kehidupan mereka, dan orang-orang tetap dikurung tanpa persetujuan mereka. Penjara swasta justru merupakan kebalikan dari pengambilan keputusan pribadi dan kesepakatan sukarela antar individu, karena “pelanggan” dalam kasus ini, yaitu para tahanan, tidak memiliki kebebasan untuk menentukan hidup mereka sendiri, hanya dapat membuat sangat sedikit keputusan pribadi, dan tidak bebas untuk mengakhiri hubungan dengan perusahaan yang mengelola penjara lalu pergi begitu saja. Selain itu, penjara yang berorientasi pada keuntungan sepenuhnya bergantung pada negara untuk menyediakan “pelanggan” baru melalui penangkapan dan penghukuman terhadap orang-orang yang dianggap melanggar hukum yang dibuat oleh berbagai tingkat pemerintahan. Tanpa tindakan negara, tidak akan ada tahanan, dan tanpa tahanan tidak akan ada penjara, baik yang dikelola negara maupun yang dimiliki swasta.

Kaum anarkis menghargai pengambilan keputusan secara pribadi dan kesepakatan sukarela antar individu. Mereka menentang negara karena negara mengganggu aktivitas orang-orang yang tidak menggunakan kekerasan maupun paksaan dalam menjalani hidup mereka. Privatisasi terdengar menarik bagi sebagian anarkis karena menawarkan harapan untuk mengurangi campur tangan dan pengawasan negara dalam kehidupan masyarakat. Namun, meskipun privatisasi mengubah cara negara berinteraksi dengan individu, pada umumnya hal itu tidak menghasilkan peningkatan nyata dalam kebebasan masyarakat untuk menentukan bagaimana mereka ingin hidup. Privatisasi tidak memberi kita lebih banyak pilihan. Sering kali juga tidak menghasilkan pelayanan yang lebih baik. Selain itu, privatisasi tidak menghentikan negara mengambil uang dari kantong kita untuk mensubsidi berbagai perusahaan baru tersebut. Dan tentu saja, privatisasi tidak mengurangi beban pajak kita, karena pemerintah selalu menemukan cara baru untuk menghabiskan uang rakyat, sekalipun privatisasi menghasilkan penghematan dalam beberapa bidang. 

Masyarakat seharusnya bebas memproduksi dan mengonsumsi apa pun yang mereka inginkan, selama mereka tidak mengganggu kebebasan orang lain untuk melakukan hal yang sama. Jika seseorang ingin mengangkut penumpang menggunakan mobil van miliknya dengan imbalan uang, atau jika sekelompok orang ingin mengelola layanan bus mereka sendiri, maka hal itu seharusnya hanya menjadi urusan pihak-pihak yang terlibat dalam pertukaran tersebut. Jika seseorang ingin mengonsumsi penisilin atau valium tanpa harus memperoleh resep dokter, atau ingin berkonsultasi dengan lulusan sekolah kedokteran sebelum mengambil keputusan terkait kesehatannya, maka kedua pilihan itu seharusnya tersedia. Kebebasan yang sejati, kehidupan pribadi yang sejati, berarti kebebasan untuk menjalani hidup sesuai kehendak kita sendiri, serta membuat kesepakatan dengan orang lain kapan pun dan jika memang diinginkan oleh semua pihak yang terlibat. Hanya penghapusan negara secara menyeluruh yang benar-benar akan “memprivatisasi” kehidupan kita. Privatisasi yang disponsori negara? Itu tidak cukup jauh.


Diterjemahkan dari:


Anarkis yang Memilih dalam Pemilu: Sebuah Kontradiksi atau Bukan?

Secara historis, kaum anarkis dengan tegas menghindari keterlibatan dalam politik elektoral. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, setidaknya di Amerika Serikat, sebagian anarkis mulai menganjurkan partisipasi dalam pemungutan suara. Argumen yang diajukan oleh para anarkis pemilih ini pada umumnya tidak berbeda dari argumen yang diajukan oleh kelompok kiri lainnya yang tidak mampu atau tidak bersedia memutuskan hubungan mereka sepenuhnya dengan proses politik. Mereka berpendapat bahwa memilih kandidat tertentu, yang biasanya digambarkan sebagai “kejahatan yang lebih kecil” dan biasanya (jika tidak selalu) berasal dari Partai Demokrat, diperlukan untuk mencegah agresi Amerika Serikat terhadap negara revolusioner yang mereka dukung (seperti Nikaragua di bawah pemerintahan Sandinista), merupakan bentuk pembelaan diri terhadap kandidat yang lebih konservatif, atau sekadar lebih baik daripada “apatisme”, sebagaimana sebagian orang menyebut sikap golput. Seseorang tentu dapat menolak pemungutan suara dengan alasan bahwa tindakan tersebut jarang (jika pernah) mencapai tujuan-tujuan yang diklaim oleh para pendukungnya. Namun, ada alasan yang lebih mendasar mengapa kaum anarkis menolak pemilu: memberikan suara dalam pemilihan umum yang diselenggarakan negara merupakan tindakan yang secara inheren bersifat otoriter, dan sarana yang otoriter tidak pernah menghasilkan tujuan yang libertarian.

Alasan utama mengapa kaum anti-negara tidak seharusnya memilih, bahkan seharusnya menentang praktik pemilihan itu sendiri, adalah karena tindakan memilih pada dasarnya merupakan upaya untuk mendelegasikan kepada orang lain suatu kekuasaan yang sebenarnya tidak dapat mereka miliki secara sah. Negara berdiri di atas paksaan. Memang, berbagai bentuk pemerintahan menyediakan sejumlah layanan dan manfaat bagi orang-orang yang berada di wilayah kekuasaannya. Namun, pada saat yang sama, negara menggunakan polisi, pengadilan, militer, lembaga perpajakan, dan berbagai perangkat lainnya untuk secara koersif mencampuri kehidupan orang-orang yang berada di bawah kekuasaannya. Kaum anarkis berpendapat bahwa tidak seorang pun, baik di dalam maupun di luar pemerintahan, seharusnya memiliki kekuasaan semacam itu. Jika prinsip ini benar, maka kaum anarkis yang menentang kekuasaan politik dan segala bentuk paksaan tidak dapat secara konsisten menganjurkan partisipasi dalam pemilu. Individu tidak seharusnya memiliki wewenang untuk memaksa orang lain. Karena itu, mereka juga tidak seharusnya menempatkan diri mereka dalam posisi untuk mendelegasikan wewenang tersebut kepada pihak ketiga, yang merupakan inti dari praktik pemungutan suara. Sebagian orang berpendapat bahwa mereka memilih semata-mata sebagai bentuk pembelaan diri. Namun, konsekuensi dari pilihan mereka adalah bahwa kandidat yang mereka dukung akan menggunakan kekuasaan negara terhadap orang-orang lain, termasuk mereka yang memilih untuk tidak berpartisipasi dalam proses tersebut. Oleh karena itu, bentuk pembelaan diri semacam ini tidak dapat diterima oleh kaum anarkis.

Selain bersifat tidak etis bagi seorang anti-otoritarian, partisipasi dalam politik elektoral juga berfungsi melegitimasi keseluruhan proses politik dan keberadaan negara itu sendiri. Jika masyarakat tidak ikut memilih, teori demokratis tentang pemerintahan akan kehilangan dasar legitimasinya, dan para politisi harus mencari pembenaran lain untuk mempertahankan kekuasaan mereka selain klaim bahwa mereka memerintah atas dasar persetujuan rakyat yang diperintah. Hal ini akan membuat hakikat negara yang sebenarnya menjadi lebih jelas bagi masyarakat. Kesadaran semacam itu juga berpotensi mendorong orang-orang untuk menantang, menghindari, atau mengabaikan campur tangan dan paksaan yang dilakukan oleh negara.

Bahkan jika kaum anarkis dapat berpartisipasi dalam pemilu secara etis, masih ada satu alasan utama untuk memboikot proses tersebut: kandidat mana pun yang mereka bantu terpilih pada akhirnya akan menjalankan kebijakan-kebijakan intervensionis dan mengambil tindakan-tindakan koersif yang hasilnya tidak akan sejalan dengan tujuan-tujuan anarkis. Memilih kandidat dari Partai Demokrat mungkin dapat dianggap mengurangi kemungkinan intervensi Amerika Serikat terhadap Kuba atau Nikaragua. Namun, pada saat yang sama, hal itu bisa memperburuk situasi di Israel/Palestina atau Afrika Selatan (baik ANC maupun PLO tidak akan mengambil posisi resmi terkait pemilihan presiden Amerika Serikat, pada dasarnya karena mereka lebih mendukung Bush, tetapi merasa tidak nyaman untuk mengatakannya secara terbuka). Para pemilih sering berpendapat bahwa pemerintahan dari Partai Republik akan memperburuk kondisi ekonomi kaum pekerja dan masyarakat miskin di Amerika Serikat. Namun, kenaikan pajak yang hampir pasti diberlakukan oleh presiden dari Partai Demokrat juga akan semakin memiskinkan kaum pekerja yang menjadi sumber utama penerimaan pajak tersebut. Selain itu, banyak orang khawatir terhadap Mahkamah Agung yang didominasi hakim-hakim yang ditunjuk oleh Partai Republik. Akan tetapi, hakim-hakim individual sering kali sulit diprediksi (seperti Sandra Day O'Connor), dan hakim yang diangkat oleh Partai Demokrat pun sama bersedianya untuk mencampuri kehidupan masyarakat melalui kekuasaan negara sebagaimana hakim-hakim dari Partai Republik.

Selain tidak menghasilkan tujuan yang diinginkan, praktik memilih dalam pemilu juga mengandung kelemahan lain bagi kaum anarkis. Bahkan jika seluruh anarkis di Amerika Serikat ikut memberikan suara dalam pemilihan presiden, hal itu tetap tidak akan memengaruhi hasil pemilu secara berarti. Jumlah anarkis terlalu sedikit sehingga suara mereka secara individual nyaris tidak memiliki dampak, sementara hasil pemilu ditentukan oleh jutaan suara. Jika para anarkis yang mendukung pemungutan suara benar-benar percaya bahwa memilih dapat dilakukan secara etis, bahkan oleh seorang anarkis, maka mereka seharusnya mempertimbangkan untuk terlibat sepenuhnya dalam proses politik dan berkampanye bagi kandidat presiden tertentu. Jika memilih dianggap dapat diterima, maka secara logis seharusnya dapat diterima pula bagi kandidat mereka untuk memegang kekuasaan dalam pemerintahan yang bersifat koersif, dan dapat diterima pula bagi mereka untuk mendorong orang lain agar ikut memilih. Saya belum pernah melihat kaum anarkis secara terbuka menyerukan keterlibatan aktif dalam Partai Demokrat. Namun, itulah konsekuensi logis dari argumen anarkis yang membela partisipasi dalam pemilu. Jika mereka merasa tidak nyaman mengajak orang lain memilih kandidat yang mereka dukung, maka mereka seharusnya meninjau kembali alasan-alasan yang mereka gunakan untuk membenarkan tindakan tersebut.

Sikap golput di kalangan anarkis bukanlah tanda apatisme. Sebaliknya, hal itu merupakan bentuk penolakan terhadap cara-cara politik, yaitu cara-cara yang bertumpu pada paksaan, dalam menyelesaikan masalah dan mengatur kehidupan bersama. Jika kita, sebagai kaum anarkis, sungguh-sungguh ingin menemukan cara-cara baru untuk hidup dan berinteraksi satu sama lain, maka sudah sepatutnya kita menjauh dari rawa politik elektoral dan mempertahankan sikap tradisional anarkisme yang menolak keterlibatan dalam politik pemilu dalam bentuk apa pun.


Diterjemahkan dari: