Rabu, 25 Maret 2026

MASA DEPAN POLITIK IRAN: ANALISIS DARI PERSPEKTIF ANARKO-SINDIKALIS

Peneliti: Hasse-Nima Golkar



Perkembangan geopolitik terbaru di Timur Tengah, khususnya eskalasi ketegangan militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Republik Islam Iran, menimbulkan pertanyaan penting mengenai masa depan politik Iran serta stabilitas regional. Artikel penelitian ini menganalisis kemungkinan arah perkembangan politik Iran dalam kondisi perang melalui lensa teoretis anarko-sindikalisme. Kajian ini mengeksplorasi beberapa skenario, termasuk konsolidasi kekuasaan dalam institusi militer-keamanan, bertahannya struktur politik saat ini, serta munculnya krisis internal. Selain itu, penelitian ini juga mempertimbangkan kemungkinan konflik sipil, fragmentasi elit, serta implikasi yang lebih luas terhadap dinamika kekuatan regional.

Eskalasi konflik militer yang melibatkan Iran dan aktor-aktor eksternal merupakan salah satu krisis geopolitik paling signifikan di Timur Tengah kontemporer. Operasi militer berskala besar yang menargetkan infrastruktur strategis memunculkan pertanyaan serius tentang stabilitas institusi politik serta potensi perubahan tatanan regional. Namun, menganalisis masa depan politik Iran semata-mata melalui kerangka persaingan antarnegara hanya memberikan pemahaman yang parsial. Perspektif kritis, khususnya anarko-sindikalisme, menekankan peran struktur negara, organisasi sosial, dan dinamika kelas dalam membentuk hasil politik.

Dimulainya operasi militer gabungan kedua antara pasukan militer Amerika Serikat (Epic Rage) dan Israel (Roaring Lion), serta pengeboman intens, destruktif, dan mematikan yang berlangsung sejak 28 Februari 2026 hingga saat ini, masih belum mampu memaksa pemerintah Islam yang berkuasa di Iran untuk menyerah. Mungkin mereka tidak memperkirakan bahwa rezim tersebut tidak akan begitu cepat dan mudah dipaksa melepaskan kekuasaan tanpa pengerahan ribuan pasukan infanteri ke medan perang, bahkan setelah menyingkirkan Ali Khamenei dan banyak tokoh penting lainnya di dalam pemerintahan.

Apa yang dapat diamati dari situasi di jalan-jalan kota Iran adalah semacam darurat militer tersembunyi yang diberlakukan oleh Garda Revolusi Islam (IRGC) dan sayap pendukungnya "Basij", guna mencegah kemungkinan munculnya protes atau pemberontakan di jalanan. Oleh karena itu, dalam kondisi saat ini:

a) Apakah skenario seperti kudeta klasik dengan kerja sama antara militer dan sebagian politisi oportunis di dalam maupun luar negeri dapat dibayangkan?

b) Apakah kemungkinan terjadinya perang saudara skala luas dalam jangka pendek cukup besar?

c) Apakah pemberontakan bersenjata rakyat untuk menggulingkan seluruh sistem “Republik Islam” memungkinkan?


1. Probabilitas tiga skenario nyata namun kompleks yang bergantung pada kondisi perang saat ini:

a) Konsentrasi kekuasaan di tangan militer

Di banyak negara yang berada dalam kondisi perang eksternal, kekuatan militer cenderung mengambil kendali politik yang lebih besar. Di Iran, Garda Revolusi tidak hanya memiliki kekuatan militer, tetapi juga struktur ekonomi dan keamanan yang luas, serta jaringan politik di dalam pemerintahan. Akibatnya, negara secara praktis dapat dijalankan sebagai negara militer-polisi tanpa perlu secara resmi menyatakan kudeta, sebuah kondisi yang menyerupai “kudeta lunak dari dalam sistem".

b) Kudeta formal

Skenario ini lebih mungkin terjadi jika struktur kepemimpinan mengalami kekosongan, atau jika terjadi perpecahan serius di antara institusi kekuasaan. Dalam kondisi tersebut, sebagian dari Garda Revolusi dan militer bisa saja mengambil alih kekuasaan dengan dalih “menjaga sistem” (yang menurut pernyataan tegas Ruhullah Khomeini merupakan “kewajiban yang paling utama”) atau “menyelamatkan negara".

Namun pada kenyataannya, di Iran, Garda Revolusi justru merupakan pilar utama dari sistem itu sendiri. Oleh karena itu, kemungkinan terjadinya kudeta nyata terhadap pemerintah relatif kecil.

c) Bertahannya status quo


2. Apakah perang saudara mungkin terjadi?

a) Runtuhnya pemerintahan pusat

Selama Garda Revolusi, Basij, dan aparat keamanan masih mampu mempertahankan kontrol atas negara, kemungkinan perang saudara akan tetap kecil.

b) Persenjataan luas di kalangan kekuatan sosial yang ingin menggulingkan kekuasaan

Karena saat ini kelas pekerja dan kelompok-kelompok buruh lainnya di Iran tidak dipersenjatai secara luas, kemungkinan terjadinya perang saudara seperti di Suriah atau Libya menjadi lebih rendah.

c) Munculnya kekuatan bersenjata tandingan

Di beberapa wilayah seperti Kurdistan, Balochistan, atau daerah perbatasan lainnya, terdapat kelompok-kelompok bersenjata. Jika pemerintah pusat melemah, konflik nasional (lokal-regional) serta berbagai bentuk pemberontakan bersenjata rakyat berpotensi muncul, meskipun tidak selalu berupa perang saudara klasik. 


3. Skenario paling realistis untuk masa depan Iran dan Timur Tengah

Berdasarkan evaluasi terhadap data yang tersedia hingga saat ini, beberapa kemungkinan yang dapat terjadi adalah:

a) Perang singkat dan kembali ke negosiasi

Berdasarkan pernyataan yang telah disampaikan secara terbuka sejauh ini, tujuan utama aliansi Amerika Serikat–Israel adalah penghancuran total program nuklir dan infrastruktur rudal Iran, bukan secara langsung menggulingkan pemerintahan Islam yang berkuasa atau membangun demokrasi di Iran. Jika posisi ini tidak berubah, perang dapat berlangsung selama beberapa minggu atau bulan, lalu diikuti oleh gencatan senjata atau negosiasi baru. Skenario seperti ini sangat umum dalam sejarah Timur Tengah.

b) Pemerintah Iran melemah, tetapi sistem tetap bertahan

Dalam skenario ini, infrastruktur militer dan ekonomi mengalami kerusakan besar, tetapi sistem politik tetap utuh, mirip dengan Irak pada 1990-an, Serbia pada era Slobodan Milošević, atau Ukraina.

c) Krisis internal dan perubahan politik

Jika krisis ekonomi yang parah, kekalahan militer, dan perpecahan di antara elit penguasa terjadi secara bersamaan, maka kemungkinan perubahan politik di dalam sistem atau peralihan kekuasaan dapat muncul. Proses ini biasanya berawal dari dalam elit, bukan dari jalanan.

d) Masa depan Timur Tengah

Jika perang ini terus berlanjut, beberapa konsekuensi besar kemungkinan akan terjadi:

  1. Meluasnya keterlibatan kekuatan regional seperti Hizbullah di Lebanon, Hashd al-Shaabi di Irak, Ansar Allah (Houthi) di Yaman, dan lainnya.

  2. Guncangan ekonomi global akibat lonjakan tajam harga minyak dan gas, terutama jika Selat Hormuz di Teluk Persia ditutup.

  3. Melemahnya pemerintah Iran akan menggeser keseimbangan kekuatan regional, yang justru dapat memperkuat pemerintah Turki, Arab Saudi, dan Israel.


4. Ringkasan skenario

a) Bertahannya sistem dengan konsentrasi kekuasaan pada aparat keamanan

Dalam banyak perang, skenario yang paling umum adalah bertahannya sistem dengan konsentrasi kekuasaan pada aparat keamanan. Ketika suatu negara berada di bawah serangan eksternal, kekuatan militer dan keamanan biasanya memperoleh kekuasaan yang lebih besar, ruang politik menjadi semakin tertutup, dan pemerintah menggunakan slogan “pertahanan nasional” untuk memobilisasi dukungan.

Dalam situasi seperti ini:

  1. Garda Revolusi dan militer dapat memainkan peran yang jauh lebih dominan dalam pemerintahan. 

  2. Struktur politik dapat berubah menjadi pemerintahan militer-polisi yang terpusat. 

  3. Reformasi terbatas dan bersifat permukaan mungkin dilakukan untuk meredam ketidakpuasan. 

Negara melemah, tetapi tidak runtuh. Contoh historis: negara-negara Balkan, Irak, dan Ukraina.

b) Perubahan politik dari dalam elit kekuasaan

Di banyak negara, perubahan politik tidak selalu terjadi melalui revolusi, melainkan sering kali muncul dari dalam kalangan elit yang berkuasa. Di Iran saat ini terdapat tiga pusat kekuasaan utama, yaitu Garda Revolusi, lembaga agama (kaum klerikal atau ulama), serta jaringan ekonomi-politik yang terhubung dengan negara.

Karena itu, jika perang berlangsung berkepanjangan dan krisis semakin dalam, sebagian elit dapat sampai pada kesimpulan bahwa untuk mempertahankan sistem, kepemimpinan atau struktur politik perlu diubah. Perubahan tersebut dapat mengambil berbagai bentuk, seperti pengalihan kekuasaan kepada dewan kepemimpinan, peningkatan peran militer, atau perubahan konstitusi. Contoh historis: perubahan dalam pemerintahan Uni Soviet setelah krisis, serta transfer kekuasaan dalam beberapa rezim militer di Amerika Latin.

c) Kemungkinan runtuhnya sistem yang berkuasa

Jika kekalahan militer + krisis ekonomi yang parah + perpecahan elit terjadi secara bersamaan, maka kemungkinan runtuhnya sistem yang berkuasa menjadi nyata. Dalam kondisi tersebut, otoritas pemerintah pusat akan melemah dan kemungkinan hilangnya kontrol atas sebagian wilayah meningkat.

Dalam situasi seperti ini, kelompok-kelompok bersenjata lokal-regional, partai-partai etnis, serta kekuatan oposisi lainnya dapat menjadi lebih aktif. Namun demikian, perlu ditekankan bahwa dalam kondisi geografis dan politik Iran saat ini terdapat beberapa karakteristik penting:

  1. Pemerintahan pusat yang relatif masih kuat dengan sekitar empat belas hingga tujuh belas institusi keamanan beserta sayap bersenjatanya (militer, Garda Revolusi, dan Basij). 

  2. Represi yang keras dan tanpa kompromi terhadap setiap suara protes, termasuk dari dewan pekerja dan institusi sipil. 

  3. Perpecahan ideologis-politik yang kronis di antara kekuatan oposisi. 

  4. Ketiadaan organisasi independen dan pengelolaan mandiri yang luas dan stabil. 

  5. Serta yang paling penting, tidak adanya persenjataan rakyat secara luas dan terkoordinasi. 

Semua faktor ini menunjukkan bahwa runtuhnya sistem yang berkuasa, berbeda dengan narasi yang disebarkan oleh media arus utama maupun pendukung monarki di bawah kepemimpinan Reza Pahlevi (putra Mohammad Reza Shah, mantan diktator), tidak akan berlangsung secara cepat, melainkan melalui proses yang sulit dan bertahap.

d) Perang eksternal yang berujung pada negosiasi

Dalam beberapa kasus, perang eksternal justru berakhir dengan negosiasi besar dan penataan ulang politik. Dalam situasi seperti ini, bisa terbentuk kesepakatan regional atau internasional. Pemerintah Iran mungkin akan memberikan sejumlah konsesi, dan sebagai imbalannya memperoleh jaminan parsial terhadap keamanan rezim atau pengurangan sanksi. Contoh historis: perjanjian yang mengakhiri perang Iran–Irak serta kesepakatan nuklir di masa lalu.


5. Alternatif realistis dari perspektif anarko-sindikalis

Secara umum, tidak ada gerakan fundamental, selain yang disertai oleh revolusi sosialis-libertarian, yang mampu merombak secara menyeluruh fondasi sistem kapitalis yang eksploitatif dan otoriter beserta seluruh agen dan pendukungnya, serta menempatkannya sebagai bagian dari sejarah, sebagaimana sistem-sistem sosial sebelumnya.

Perlu diingat bahwa anarkisme merupakan suatu tradisi pemikiran yang terdiri dari berbagai cabang politik dengan akar yang sama, seperti: Anarkisme Sosial, Anarko-Sindikalisme, Anarkisme Komunal, Anarkisme Individualis, Anarkisme Feminis-Queer, Anarkisme Ekologis, dan lainnya. 

Meskipun beragam, sebagian besar kecenderungan ini berbagi prinsip-prinsip dasar berikut:

a) Penolakan terhadap negara-bangsa dan segala bentuk dominasi

Menolak segala bentuk “negara-bangsa” (baik kecil maupun besar), serta melawan semua bentuk otoritas dan dominasi seperti: struktur hierarkis (parlemen, militer, polisi, birokrasi), sistem penjara, penyiksaan, dan eksekusi. 

b) Penekanan pada revolusi sosial dan pengelolaan mandiri masyarakat

Menekankan revolusi dan pemerintahan mandiri masyarakat, ekonomi partisipatif-kooperatif, organisasi horizontal dan pengelolaan mandiri, pembentukan komite dan dewan demokratis lokal-regional (federalis-konfederalis), solidaritas, bantuan timbal balik, serta kerja sama sukarela yang bebas.

Dengan mempertimbangkan seluruh poin umum yang telah dibahas sejauh ini, analisis dan kesimpulan khusus dari sudut pandang anarkis dapat dirumuskan sebagai berikut:

Pada dasarnya, perang, kudeta, dan persaingan kekuasaan antarnegara dipandang sebagai hasil dari struktur negara yang terpusat. Artinya, negara-negara saling bersaing untuk mempertahankan kekuasaan dan pengaruh. Namun, yang selalu menanggung biaya terbesar dari krisis, perang, dan kehancuran yang ditimbulkan adalah kaum pekerja dan rakyat biasa.

Karena itu, anarkisme pada umumnya menggeser fokus pembahasan dari pertanyaan “negara mana yang akan menang” menjadi pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu "bagaimana manusia dapat mengorganisir dan mengelola kehidupan serta masyarakat mereka tanpa dominasi dan struktur kekuasaan yang otoriter?"

Sebagian besar skenario yang dibahas sebelumnya masih berada dalam kerangka struktur negara yang terpusat, seperti perubahan dalam pemerintahan, negara militer, republik yang direformasi, atau sistem parlementer. Namun, anarkisme berpendapat bahwa bahkan jika pemerintah berubah, selama struktur kekuasaan terpusat tetap dipertahankan, maka bahaya reproduksi otoritarianisme, ketimpangan, dan represi akan terus berlanjut.

c) Alternatif yang diajukan oleh anarkisme

Dalam banyak teori anarkis, alternatif yang ditawarkan berupa organisasi horizontal dan pengelolaan mandiri, antara lain:

  1. Dewan-dewan demokratis lokal-regional serta sistem pemerintahan mandiri berbasis federalisme-konfederalisme. 

  2. Serikat buruh sindikalis. 

  3. Institusi sosial-sipil yang independen dan bebas. 

  4. Jaringan kerja sama sukarela dan solidaritas antar komunitas etnis yang beragam, sebagai pengganti negara terpusat. 

Dalam model seperti ini, seluruh keputusan diambil secara partisipatif di tingkat lokal-regional, sementara kekuasaan dalam masyarakat didistribusikan secara terdesentralisasi dan non-hierarkis.

Bahkan, banyak pemikir anarkis mengakui bahwa transisi menuju masyarakat semacam ini umumnya hanya dapat berlangsung melalui proses yang panjang dan bertahap, serta sering kali berkembang berdampingan dengan struktur politik lain. Oleh karena itu, dalam jangka pendek, dari sudut pandang mereka, hal yang paling penting adalah memperkuat masyarakat sipil, jaringan lokal-regional, dan institusi pengorganisasian diri, sehingga ketergantungan masyarakat terhadap negara dapat berkurang.


6. Kesimpulan

Jika seluruh pembahasan dirangkum dari perspektif anarkis, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:

a) Krisis politik dan perang sering kali merupakan produk dari persaingan antarnegara yang terpusat.

b) Pergantian pemerintahan tidak selalu berarti berakhirnya struktur dominasi dan kekuasaan.

c) Solusi jangka panjang terletak pada perluasan pengelolaan mandiri masyarakat, desentralisasi kekuasaan, bantuan timbal balik, kerja sama sukarela, serta solidaritas berkelanjutan di antara kaum pekerja.


Diterjemahkan dari:

PENJARA EVIN: Rumah Kegelapan Iran

Sejarah dan Lokasi

Dibangun pada tahun 1972 di bawah pemerintahan Mohammad Reza Shah, Penjara Evin menempati kompleks seluas lima hektare di utara Teheran, di kaki Pegunungan Alborz. Setelah Revolusi Islam 1979, penjara ini dialihfungsikan oleh Kementerian Intelijen sebagai pusat penahanan utama bagi tahanan politik rezim. Fungsi penjara ini tidak berubah setelah revolusi, yang berubah adalah para korbannya. Di bawah pemerintahan Shah, penjara ini menahan kaum kiri dan revolusioner. Di bawah Ruhullah Khomeini dan para penerusnya, penjara ini juga menahan kaum revolusioner yang sama, beserta siapa pun yang berani bersuara melawan rezim.

Bagi banyak warga Iran, Penjara Evin identik dengan represi politik dan penyiksaan. Ia dikenal sebagai “Universitas Evin”, namun ini bukan sekolah. Pemukulan, penyiksaan, eksekusi, dan interogasi brutal adalah hal yang lazim, di mana selama empat dekade jeritan penderitaan para tahanan seakan ditelan oleh dinding kusam fasilitas tersebut. Saat ini, penjara ini diperkirakan menahan sekitar 10.000 hingga 15.000 orang, termasuk demonstran, jurnalis, akademisi, warga negara ganda, serta turis asing yang dituduh melakukan spionase atau “permusuhan terhadap Tuhan”.


Blok-Blok Penjara

Evin bukan sekadar satu penjara, melainkan kompleks berbagai sistem penahanan yang beroperasi di bawah otoritas berbeda, masing-masing dengan logika represi tersendiri.

"Blok 209" adalah yang paling ditakuti. Dikelola oleh Kementerian Intelijen dan Keamanan (MOIS), blok ini selalu dipenuhi orang-orang yang ditahan dengan tuduhan mengancam stabilitas nasional atau berpartisipasi dalam protes. Mereka ditempatkan dalam isolasi dan menjalani interogasi intensif. Para tahanan ini, yang berada dalam status penahanan sementara, hidup dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi di sel isolasi dan dirampas hak-hak dasarnya.

Seorang mantan tahanan asal Prancis menggambarkan pengalaman di Blok 209 secara rinci setelah dibebaskan: para tahanan menjalani interogasi dengan mata tertutup, dipaksa memberikan pengakuan, dan memiliki kontak yang sangat terbatas dengan dunia luar.

“Penyiksaan ini bertujuan agar ketika anda dibawa ke ruang interogasi dengan mata tertutup, anda akan mengakui apa yang mereka inginkan. Pengakuan itu bisa berupa dokumen yang ditandatangani atau bahkan pengakuan paksa.”

"Blok 2-A" berada di bawah kendali Garda Revolusi Islam (IRGC) dan menahan tahanan politik dalam isolasi selama berbulan-bulan tanpa akses terhadap cahaya matahari.

"Blok 4" menampung tahanan politik dalam kondisi kelebihan kapasitas yang parah. Awalnya dirancang untuk 120 orang, aula 3 dan 4 kini menampung lebih dari 300 tahanan. Kepadatan ini menyebabkan kondisi tidur yang sempit dan masalah kebersihan yang serius. Banyak tahanan terpaksa tidur di lantai, yang mengakibatkan meningkatnya penyebaran kutu busuk dan penyakit lainnya.

"Blok 6-7" diperuntukkan bagi pelaku kejahatan finansial dan pencurian.

"Blok Perempuan" memiliki bagian khusus tersendiri, yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah.


Perlakuan terhadap Tahanan Politik

Laporan Amnesty International tahun 2020 berjudul “Trampling Humanity” mendokumentasikan penangkapan massal pasca gelombang protes November 2019 dan menyimpulkan bahwa para tahanan di Evin secara rutin mengalami pemukulan, sengatan listrik, dan kekerasan seksual, tanpa adanya pengawasan yang berarti.

Para tahanan juga melaporkan berbagai bentuk perlakuan tidak manusiawi, termasuk kekerasan seksual yang meluas, pemukulan, perampasan waktu tidur, makanan yang tidak layak konsumsi, isolasi berkepanjangan, kepadatan berlebih, kondisi sanitasi yang buruk, penolakan perawatan medis, serta pemaksaan pengakuan palsu yang kemudian disiarkan melalui televisi negara.

Tuduhan yang digunakan untuk membenarkan penahanan sering kali sengaja dibuat kabur, seperti “melakukan kerusakan di muka bumi” dan “permusuhan terhadap Tuhan”, dengan ancaman hukuman termasuk eksekusi gantung. Tuduhan-tuduhan ini tidak memerlukan bukti maupun standar pembuktian yang jelas, dan pada praktiknya digunakan untuk membungkam.

Peraih Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi, yang pernah dipenjara di Evin telah mendokumentasikan penyiksaan sistematis dari dalam selnya. Dalam sebuah dokumen yang ia terbitkan, ia mengungkap penderitaan para perempuan yang mengalami isolasi berkepanjangan, interogasi keras, serta dijebak atas kejahatan yang tidak mereka lakukan.

Dengan menyebutkan nama 58 tahanan, ia menggambarkan sel isolasi di blok-blok yang berada di bawah kendali Kementerian Intelijen dan Garda Revolusi sebagai “pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dan bentuk penyiksaan putih/white torture (penyiksaan psikologis melalui isolasi dan tekanan mental)”, serta menyatakan bahwa 57 dari 58 tahanan perempuan telah mengalami “penyiksaan tidak manusiawi yang mengerikan.”


Blok Perempuan

Kondisi perempuan di Evin mencerminkan bentuk kekerasan berbasis gender yang spesifik dan sistematis oleh negara.

Perempuan memiliki bagian khusus di Evin. Mereka ditempatkan di empat sel yang padat, sering kali berbagi ruang hingga dengan 20 orang.

Sebuah laporan pada Desember 2025 mendokumentasikan kondisi di blok perempuan secara rinci: para tahanan politik perempuan dikurung di ruang bawah tanah yang sangat tidak higienis, minim ventilasi, dan jauh dari standar dasar sanitasi, kesejahteraan, serta kebersihan pribadi. Dilaporkan adanya infestasi tikus dan hama lainnya yang persisten dan berbahaya, dengan perkiraan mencapai hingga 100 ekor tikus di dalam blok tersebut. Meskipun telah ada peringatan berulang, pihak penjara gagal melakukan pengendalian hama, sanitasi, maupun pembersihan.

Sekitar 60 tahanan politik perempuan saat ini ditahan di blok perempuan. Para tahanan melaporkan adanya kontaminasi luas di lorong dan ruang sel, serta keberadaan tikus dan serangga yang terus-menerus. Rekaman audio yang diperoleh IranWire dari dalam Blok 209 mengungkap kondisi perempuan secara lebih langsung: “Kekurangan makanan, rasa lapar yang terus-menerus, tidak adanya buah dan serat, kondisi kamar mandi dan toilet yang sangat kotor, serta tidak adanya akses ke dokter, terutama bagi perempuan yang menderita penyakit infeksi, merupakan masalah utama perempuan di Evin.”

Banyak tahanan mengalami kondisi ini hingga 50 hari lebih dalam sel, dengan hanya 20 menit paparan sinar matahari per minggu.

Pada Desember 2022, peraih Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi menulis surat dari selnya yang merinci kekerasan seksual dan pelecehan sistematis oleh penjaga serta interogator penjara. Akses terhadap layanan medis juga secara sistematis ditolak: tahanan politik perempuan bahkan tidak mendapatkan layanan kesehatan dasar, termasuk akses ke dokter spesialis, obat-obatan penting, maupun rujukan ke rumah sakit di luar penjara. Sembilan tahanan politik perempuan di blok ini, termasuk dua yang dijatuhi hukuman mati, telah ditolak haknya untuk bertemu dengan keluarga dan pengacara mereka.


Anak di Bawah Umur di Evin

Republik Islam juga telah memenjarakan anak di bawah umur di Evin, yakni anak-anak yang ditangkap selama protes, ditahan bersama orang dewasa, serta dirampas hak atas pendidikan dan kebutuhan dasar mereka.

Selama pemberontakan "Jin, Jiyan, Azadi" tahun 2022 dan protes Januari 2026, anak-anak termasuk di antara mereka yang ditangkap secara massal dan dipindahkan ke fasilitas penahanan orang dewasa. Sebagian dari mereka ditahan di Blok 209 dalam kondisi yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu isolasi, interogasi, dan penolakan perawatan medis.

Pemenjaraan sistematis terhadap anak-anak karena aktivitas politik merupakan pelanggaran terhadap seluruh standar internasional dalam sistem peradilan anak.


Pembantaian 1988—Bab Paling Gelap

Tidak ada uraian tentang Evin yang lengkap tanpa membahas pembantaian tahun 1988. Pada musim panas 1988, Ruhullah Khomeini mengeluarkan fatwa yang memerintahkan eksekusi massal terhadap tahanan politik.

Dalam hitungan minggu, ribuan tahanan, banyak di antaranya telah menjalani hukuman, dieksekusi secara diam-diam dan dikuburkan di kuburan massal. Evin menjadi salah satu lokasi utama pembantaian ini. Jumlah korban yang pasti tidak pernah diakui secara resmi, dengan perkiraan berkisar dari beberapa ribu hingga lebih dari sepuluh ribu orang.

Kuburan di pemakaman Khavaran di tenggara Teheran hingga hari ini masih menjadi tempat berkabung sekaligus sasaran tekanan negara.


Kebakaran Oktober 2022

Kebakaran di Penjara Evin pada 15 Oktober 2022 merupakan salah satu peristiwa paling signifikan dan kontroversial selama gelombang protes nasional di Iran.

Insiden tersebut terjadi pada malam 15 Oktober 2022, di tengah pemberontakan yang dipicu oleh kematian Mahsa Jina Amini. Suara tembakan dilaporkan terdengar terlebih dahulu, diikuti oleh kebakaran yang terjadi di beberapa bagian penjara, khususnya di Blok 7 dan gudang pakaian.

Video yang beredar menunjukkan kobaran api dan asap tebal membumbung dari dalam kompleks penjara, sementara suara tembakan terus-menerus terdengar.

Terdapat dua versi yang saling bertentangan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Versi resmi dari Republik Islam menyatakan bahwa insiden tersebut disebabkan oleh perkelahian antar tahanan dan pembakaran gudang, serta bahwa situasi telah berhasil dikendalikan. Sementara itu, kesaksian para tahanan dan sumber tidak resmi menyampaikan cerita yang berbeda, yaitu bahwa bentrokan dengan aparat keamanan serta penggunaan senjata tajam dan senjata api memainkan peran utama, dan bahwa kebakaran terjadi dalam konteks represi di dalam penjara.

Menurut angka resmi, sedikitnya 8 orang tewas, yang disebut sebagian besar merupakan tahanan kasus finansial, dan puluhan lainnya terluka. Namun, sumber independen menyatakan kemungkinan jumlah korban yang lebih tinggi. Banyak tahanan mengalami luka bakar, menghirup asap beracun, dan mengalami cedera pernapasan serius, kondisi yang sesuai dengan situasi terperangkap di dalam fasilitas tertutup yang terbakar tanpa ventilasi.

Setelah kejadian tersebut, sebagian tahanan dipindahkan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, sementara yang lain dipindahkan ke penjara lain. Muncul laporan mengenai terbatasnya akses terhadap perawatan medis, serta pemulangan cepat beberapa tahanan ke dalam tahanan sebelum mereka benar-benar pulih.

Insiden ini terjadi pada puncak gelombang protes nasional setelah kematian Mahsa Jina Amini, dan ditafsirkan sebagai tanda meningkatnya tekanan keamanan terhadap para tahanan, kebijakan kekerasan yang disengaja terhadap mereka yang ditahan, serta krisis manajemen dan akuntabilitas dalam sistem penahanan Iran. Ini bukan peristiwa terisolasi, melainkan sebuah gejala.


Apa yang Terjadi Saat Ini—Selama Perang

Perang yang sedang berlangsung telah mengubah Evin dari tempat represi sistematis menjadi lokasi krisis akut.

Laporan lapangan menunjukkan runtuhnya seluruh struktur administrasi dan manajemen di Penjara Evin seiring eskalasi konflik militer. Aparat administratif meninggalkan pos mereka, sehingga pengawasan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar para tahanan berhenti. Di Blok Perempuan dan Blok 7, distribusi makanan telah sepenuhnya terhenti. Di beberapa blok lain, hanya sejumlah kecil roti yang diberikan. Penutupan kantin penjara serta ketiadaan tanggung jawab dari pihak berwenang telah menghilangkan kemungkinan bagi tahanan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka sendiri.

Sejumlah organisasi hak asasi manusia memperingatkan adanya krisis kemanusiaan yang sedang terjadi. Tatanan administratif di dalam Evin pada dasarnya telah runtuh, para penjaga meninggalkan pos mereka sementara pintu-pintu sel tetap terkunci, membuat para tahanan terkurung di dalam. Distribusi makanan dan layanan medis sebagian besar telah dihentikan, sementara toko penjara yang menjadi sumber utama makanan dan air minum juga ditutup. Dalam beberapa kasus, tahanan politik dipindahkan ke lokasi yang tidak diketahui tanpa pemberitahuan kepada keluarga mereka.

Seorang ilmuwan Swedia-Iran yang dijatuhi hukuman mati, Ahmadreza Djalali, berhasil menghubungi istrinya melalui telepon pada 3 Maret.

“Koneksi sangat buruk dan sering terputus, tetapi ia menelepon kembali, dan kami berbicara mungkin sekitar dua menit.”

Ia mengatakan bahwa mereka dapat mendengar ledakan bom di sekitar, tetapi pintu-pintu blok tetap terkunci.

Menurut laporan Amnesty International tertanggal 6 Maret, kartu elektronik yang digunakan tahanan untuk membeli makanan dan air di toko penjara tidak lagi berfungsi. Para tahanan melaporkan kepadatan ekstrem dan kondisi sanitasi yang semakin memburuk. Mereka juga mengalami penolakan atau penundaan perawatan medis, bahkan ketika interogasi tetap berlangsung.

Situs lembaga bantuan hukum Dadban memperingatkan bahwa periode ketegangan politik atau militer yang tinggi di Iran sering kali diikuti dengan perlakuan yang lebih keras terhadap tahanan politik: “Di Republik Islam, dalam masa ketegangan politik atau militer yang parah, risiko meningkatnya represi dan bahkan pembalasan terhadap tahanan politik akan meningkat.”

Selama perang 12 hari pada Juni 2025, Evin secara langsung menjadi target serangan: Israel membombardir penjara tersebut saat jam kunjungan. Serangan ini melibatkan delapan kali hantaman dan menewaskan sedikitnya 80 orang, termasuk tahanan dan pekerja sosial, menurut investigasi Human Rights Watch. Kini, dengan perang baru yang jauh lebih intens, sebagian dinding Penjara Evin kembali menjadi target serangan rudal dan mengalami kerusakan.

Jumlah staf saat ini telah menurun drastis. Pada 2 Maret 2026, polisi anti huru-hara Iran mengambil alih kendali penjara dari petugas reguler. Laporan menyebutkan bahwa selama perang, para tahanan dibiarkan terkunci di dalam sel, sementara penjaga sebagian besar tidak berada di tempat, membuat mereka terperangkap tanpa pengawasan, makanan, maupun bantuan yang memadai.

Menurut laporan terbaru, jumlah staf dan aparat keamanan di Penjara Evin terus menurun, sehingga fasilitas ini kini beroperasi dengan personel yang sangat terbatas.


Kerangka Hukum yang Dilanggar

Ketika para tahanan di Evin sengaja dikurung di dalam blok, ditinggalkan oleh penjaga, dan dibiarkan tanpa makanan maupun perawatan, hukum internasional secara tegas melarang kondisi semacam ini. Situasi tersebut tidak lagi sekadar merupakan pelanggaran prosedur, melainkan pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan dalam kondisi tertentu, dapat diklasifikasikan sebagai perlakuan tidak manusiawi atau penyiksaan.

Pasal 6 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) menjamin hak untuk hidup, yang mewajibkan negara memastikan bahwa tidak seorang pun secara sewenang-wenang dibiarkan menghadapi risiko kematian. Menelantarkan tahanan tanpa makanan, air, atau perawatan medis, sambil tetap menghalangi mereka untuk keluar, merupakan pelanggaran langsung, bahkan jika kematian belum terjadi. Pasal 7 ICCPR secara tegas melarang penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi.

Peraturan penjara Iran sendiri juga dilanggar: para tahanan seharusnya mendapatkan makanan yang cukup dan layak, akses terhadap air minum yang aman, kondisi kebersihan yang memadai, serta kehadiran petugas di dalam blok setiap saat.


Kesimpulan

Penjara Evin bukanlah pengecualian dalam Republik Islam, melainkan cerminan dari esensinya. Selama lebih dari lima puluh tahun, baik di bawah Mohammad Reza Shah maupun di bawah pemerintahan para ulama, tempat ini menjadi lokasi di mana para penguasa Iran menahan siapa pun yang menolak untuk diam. Jurnalis, pekerja, mahasiswa, perempuan, minoritas etnis dan agama, anarkis, serta siapa pun yang menantang kekuasaan akan berakhir di balik dinding tersebut.

Hari ini, di tengah kekacauan perang, dinding-dinding itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan: sebuah ruang tertutup di mana ratusan tahanan politik dikurung tanpa makanan, tanpa perawatan medis, tanpa kontak dengan keluarga mereka, serta tanpa perlindungan dari bom yang jatuh di luar maupun dari aparat yang belum sepenuhnya meninggalkan tempat itu.

Keheningan yang menyelimuti Evin saat ini bukanlah tanda kedamaian, melainkan selubung bagi apa yang mungkin menjadi bab paling kelam dalam sejarah panjang kekejaman di tempat tersebut.


Kami menuntut pembebasan segera seluruh tahanan politik!
Kami menuntut jaminan atas keselamatan mereka!
Kami menuntut dunia untuk tidak berpaling!


Tidak untuk Mullah! Tidak untuk Shah!
Perempuan—Kehidupan—Kebebasan



Sumber

1. Wikipedia — Evin Prison: en.wikipedia.org/wiki/Evin_Prison
2. Human Rights Watch — "Like the Dead in Their Coffins": hrw.org/reports/2004/iran0604/5.htm
3. Iran International — Evin Ward 4 conditions: iranintl.com/en/202406157248
4. Iran HRM — Iran Prisons Information: iran-hrm.com/iran-prisons-information
5. Iran International — Fears grow for prisoners during war: iranintl.com/en/20260305
6. Jerusalem Post — What is Evin Prison: jpost.com/middle-east/iran-news/article-858692
7. TIME — Fears Rise for Political Prisoners: time.com/7382157/iran-political-prisoners-evin
8. Iran HRM — Urgent Report March 2026: iran-hrm.com/2026/03/02/urgent-report-emergency-situation
9. WNCRI — Humanitarian Crisis in Evin Prison: wncri.org/2025/12/15/humanitarian-crisis-in-evin-prison
10. WNCRI — Conditions of Female Political Prisoners: wncri.org/2025/12/26/conditions-of-female-political-prisoners
11. IranWire — Like Purgatory: iranwire.com/en/politics/110408
12. Iran International — Ward 209 conditions: iranintl.com/en/202501168258
13. Iran International — Narges Mohammadi account: iranintl.com/en/20230119
14. Foreign Policy — Political Prisoners in the Firing Line: foreignpolicy.com/2026/03/16/iran-war-political-prisoners-detainees
15. Iran HRM — Political Prisoners in the Firing Line: iran-hrm.com/2026/03/18/irans-political-prisoners-are-in-the-firing-line
16. Amnesty International — March 6, 2026 report on Evin Prison conditions: amnesty.org
17. BBC Persian/Iran Wire — October 2022 Evin Fire coverage




Diterjemahkan dari:

Sabtu, 21 Maret 2026

Wawancara dengan Maryam Namazie dari Partai Buruh Komunis Iran, tentang Revolusi Iran di Tengah Bayang-bayang Perang

Hein Htet Kyaw (Abu Bakar), Direktur Australia untuk Atheist Alliance International sekaligus juru bicara Burmese Atheists, melakukan wawancara dengan Maryam Namazie, anggota sentral Partai Buruh Komunis Iran, dan juru bicara dari Movement for Women’s Liberation, One Law for All, dan Council of Ex-Muslims of Britain. Wawancara ini membahas perang yang sedang berlangsung serta gelombang protes revolusioner di Iran sepanjang tahun 2025 hingga 2026.

Dalam wawancara ini, Maryam Namazie menegaskan bahwa konflik utama di Iran bukanlah perang proksi antarnegara, melainkan perjuangan sosial rakyat Iran melawan Republik Islam. Ia menempatkan protes 2025–2026 dalam rangkaian panjang pemberontakan selama beberapa dekade, serta menyoroti peran penting gerakan “Jin, Jiyan, Azadî” (Perempuan, Kehidupan, Kebebasan), perjuangan buruh, dan aktivisme mahasiswa. Namazie juga mengkritik sebagian kelompok kiri di Barat yang menganggap protes tersebut sebagai manipulasi asing, serta kelompok pro-perang yang melihat eskalasi militer sebagai jalan menuju pembebasan. Secara keseluruhan, wawancara ini menggambarkan pemberontakan di Iran sebagai perjuangan yang berakar kuat dari rakyat untuk meraih kebebasan dan kesetaraan, yang hasil akhirnya akan lebih ditentukan oleh dinamika internal masyarakat Iran daripada intervensi geopolitik luar.

Hein Htet Kyaw: Melihat situasi di Iran saat ini, bagaimana anda menganalisis revolusi dan perang yang sedang berlangsung? Sebagian kelompok kiri di Barat menghubungkan pemberontakan ini dengan imperialisme Israel dan Barat. Di sisi lain, ada juga kelompok kanan yang justru menyerukan intervensi Barat dan Israel serta mendukung perang. Bisakah anda menjelaskan hal ini?

Maryam Namazie: Konflik utama di Iran bukanlah antara rezim Islam dengan kekuatan asing. Konflik utamanya adalah antara rezim Islam dengan rakyat yang telah bangkit melawannya selama beberapa dekade. Perjuangan di Iran bukanlah perang proksi antarnegara, melainkan sebuah revolusi sosial melawan rezim teokratis.

Selama puluhan tahun, rakyat Iran terus melakukan perlawanan, termasuk pada tahun 1999, 2009, 2017–2018, 2019, 2022, serta dalam protes Desember 2025–Januari 2026. Setiap gelombang perlawanan semakin meluas secara sosial dan berkembang menjadi gerakan yang lebih luas melawan rezim. Terutama sejak pemberontakan “Jin, Jiyan, Azadî” pada tahun 2022, perempuan memainkan peran sentral dalam melawan sistem apartheid gender yang diberlakukan rezim. Kewajiban berhijab dan pengawasan terhadap tubuh perempuan bukan sekadar kebijakan tambahan, melainkan pilar ideologis utama rezim Islam. Karena itu, perlawanan perempuan menjadi pemicu meluasnya pemberontakan sosial.

Gerakan revolusioner yang sedang berlangsung ini tidak diciptakan oleh Israel, Amerika Serikat, atau kekuatan luar lainnya. Ia berakar pada kondisi nyata di dalam Iran: apartheid gender, kewajiban berhijab, eksekusi massal, penindasan gerakan buruh, upah yang tidak dibayar, krisis ekonomi, inflasi, korupsi, serta rezim yang mempertahankan kekuasaannya melalui kekerasan. Aktor-aktor eksternal memang bisa mencoba memanfaatkan situasi dan protes ini untuk kepentingan strategis mereka sendiri, sama seperti rezim yang selalu menuduh setiap protes sebagai konspirasi asing untuk membenarkan penindasan. Dalam situasi konflik geopolitik, gerakan revolusioner dari bawah sering kali disalahpahami atau dimanfaatkan oleh negara-negara untuk kepentingan mereka sendiri. Perang yang sedang berlangsung memperbesar risiko tersebut. Akibatnya, revolusi yang sebenarnya berakar dari rakyat bisa tertutup dan disalahpahami sebagai bagian dari konflik antarnegara.

Sebagai contoh, Citizen Lab mendokumentasikan adanya operasi yang terkait dengan Israel yang menggunakan akun-akun palsu serta materi buatan AI untuk memengaruhi opini publik. Sebuah studi akademik terbaru juga menemukan bahwa hanya sekitar 17 persen slogan dalam ribuan video protes yang merujuk pada “Shah” atau “Pahlevi”, sementara 83 persen lainnya berisi tuntutan yang lebih luas menentang Republik Islam. Namun, media diaspora seperti Iran International justru secara berlebihan menonjolkan narasi monarkis. Meski demikian, memanfaatkan situasi tidak sama dengan mengatur atau merekayasa sepenuhnya. Misalnya, Khamenei pernah memanfaatkan gerakan Black Lives Matter, tetapi itu tidak berarti BLM dikendalikan oleh rezim Iran. Begitu pula Rusia dan Tiongkok yang mencoba memengaruhi politik Amerika Serikat, tidak berarti bahwa protes terhadap ICE adalah ciptaan mereka.

Menyederhanakan pemberontakan yang berakar dari rakyat sebagai konspirasi asing merupakan salah satu cara utama penguasa untuk membajak atau melemahkan perjuangan rakyat. Pola distorsi semacam ini tidak hanya terjadi dalam rezim otoriter, tetapi juga muncul dalam perdebatan internasional tentang Iran. Hal ini terlihat pada sebagian kelompok kiri “anti-imperialis” di Barat yang justru meninggalkan rakyat Iran, kelas pekerja, dan gerakan sosial progresif di dalam negeri. Mereka mereduksi anti-imperialisme menjadi sesuatu yang dangkal. Titik berangkat mereka bukan lagi gerakan sosial atau kelas pekerja, melainkan negara. Dalam kerangka ini, subjek politik bergeser. Rakyat menghilang, dan negara menggantikan peran mereka. Logikanya menjadi sederhana: musuh dari musuhku adalah temanku. Dan “teman” ini hampir selalu adalah elite penguasa, bukan kelompok yang tertindas. Akibatnya, jika sebuah rezim bersikap anti-Barat maka ia dianggap “baik” dan bagian dari “poros perlawanan”, seperti rezim Islam di Iran. Sebaliknya, jika tidak anti-Barat maka ia dianggap “buruk”, seperti rezim Arab Saudi. Padahal kedua rezim tersebut sama-sama otoriter dan anti terhadap kelas pekerja.

Pandangan seperti ini tidak ada hubungannya dengan solidaritas. Ia mencerminkan cara pandang yang sempit, Eurosentris, dan rasis, yang berpusat pada konflik kekuasaan Barat, sambil menganggap perjuangan rakyat tertindas di bawah rezim otoriter non-Barat sebagai sesuatu yang sekunder atau tidak penting. Akibatnya, ada orang di Barat yang turun ke jalan membela hak-hak perempuan, tetapi sekaligus membela rezim anti-perempuan di Iran. Mereka berbicara tentang hak-hak buruh, tetapi pada saat yang sama melegitimasi negara yang menganggap pemogokan sebagai sesuatu yang haram dan memenjarakan serta mencambuk aktivis buruh yang memperingati Hari Buruh.

Rezim Islam sendiri memahami hal ini dengan sangat baik. Ia membungkus dirinya dengan bahasa anti-imperialisme, sementara pada saat yang sama menerapkan salah satu sistem pemerintahan paling misoginis di dunia. Sebuah negara yang mengeksekusi pembangkang dan berkuasa melalui otoritas keagamaan tiba-tiba dianggap “anti-imperialis” oleh mereka yang tidak akan pernah menerima kekejaman seperti itu di negara mereka sendiri. Menariknya, perdebatan ini sering kali terlalu terfokus pada kegagalan kelompok kiri. Sementara perhatian terus diarahkan pada kelompok kecil di kiri, justru kelompok kanan yang memegang kekuasaan negara, mengendalikan militer, dan menjalankan perang dengan seluruh kekuatan medianya, terus merusak dunia tanpa banyak mendapat perlawanan. Sebagai contoh, munculnya Islamisme di Iran sering disalahkan pada kelompok kiri, padahal pemerintah Barat yang berhaluan kanan memainkan peran penting dalam melegitimasi kekuatan Islamis pada tahap akhir runtuhnya rezim Shah. Dalam Konferensi Guadeloupe tahun 1979, para pemimpin Barat pada dasarnya menerima bahwa kekuasaan Shah telah berakhir dan mulai mempersiapkan transisi politik di mana kekuatan Islamis akan memainkan peran utama. Selama Perang Dingin, kekuatan Barat juga sering mendukung kelompok Islamis sebagai bagian dari strategi membentuk “sabuk hijau” untuk menahan pengaruh Soviet.

Seperti biasa, Amerika Serikat dan Israel tiba-tiba menunjukkan kepedulian terhadap hak-hak perempuan ketika bom-bom mereka mulai dijatuhkan. Namun secara faktual, kita tahu bahwa bom-bom tersebut tidak pernah menghasilkan masyarakat yang demokratis di kawasan ini. “Pembebasan” yang mereka bawa di tempat seperti Irak atau Afghanistan justru berarti kehancuran, perpecahan sektarian, kembalinya otoritarianisme, dan penderitaan massal. Ada ironi yang mendalam ketika pemerintah sayap kanan di Israel dan Amerika Serikat mengklaim diri sebagai pembela kebebasan rakyat Iran, sementara tindakan mereka di Gaza telah menormalisasi penghancuran besar-besaran terhadap kehidupan sipil dan infrastruktur.

Pada kenyataannya, perang antarnegara tidak menghasilkan pembebasan sosial. Ia justru menghancurkan masyarakat dan memperkuat serta mempersenjatai kekuatan paling reaksioner di semua pihak. Dalam situasi seperti ini, rezim otoriter sering menggunakan alasan keamanan nasional untuk meningkatkan represi, membungkam perbedaan pendapat, dan memaksa masyarakat fokus pada bertahan hidup alih-alih bergerak secara politik. Di sisi lain, kekuatan asing berusaha mempresentasikan eskalasi militer sebagai bentuk pembebasan. Kedua dinamika ini pada akhirnya meminggirkan kekuatan-kekuatan sosial di dalam negeri yang sebenarnya sedang berjuang untuk kebebasan.

Mereka yang mendukung eskalasi militer atas nama kebebasan Iran sebenarnya tidak peduli pada hak dan kebebasan rakyat Iran sama seperti kelompok kiri “anti-imperialis”. Bagi mereka, semua ini hanyalah soal geopolitik dan kepentingan pribadi, yang pada akhirnya menghapus peran aktif rakyat dan menutupi fakta utama bahwa konflik di Iran bukanlah antara rezim Islam dan kekuatan asing. Konflik utamanya adalah antara rezim Islam dan rakyat yang berjuang untuk menjatuhkannya. Ini adalah pertarungan antara rakyat dan negara.

Jelas bahwa tidak ada pemerintah yang terlibat dalam konflik ini benar-benar bertindak demi kepentingan rakyat Iran. Rezim Islam berusaha mempertahankan kekuasaannya dan memperluas pengaruh regional dengan dukungan dari China dan Rusia, sementara kekuatan Barat dan negara-negara kawasan lainnya mengejar kepentingan strategis mereka sendiri. Masa depan Iran tidak akan ditentukan oleh pemerintah asing atau eskalasi militer, melainkan oleh kekuatan sosial di dalam masyarakat Iran yang sedang berjuang untuk perubahan demokratis. Hal ini terutama terlihat dalam revolusi “Jin, Jiyan, Azadi” yang tidak hanya menantang rezim, tetapi juga mengguncang struktur kekuasaan di tingkat regional dan global.

Singkatnya, kelompok kiri pro-Islamis menolak revolusi ini dengan menyebutnya sebagai konspirasi Barat. Sementara itu, kelompok kanan yang pro-perang justru menjadikannya alasan untuk mendorong intervensi militer. Keduanya sama-sama menghapus peran aktif rakyat Iran. Sebuah revolusi rakyat bukan milik kekuatan imperialis maupun negara-negara reaksioner. Ia adalah milik rakyat itu sendiri: mereka yang setiap kali turun ke jalan harus menghadapi risiko penjara, penyiksaan, bahkan kehilangan nyawa.

Hein Htet Kyaw: Seberapa kuat posisi kelompok kiri di Iran saat ini?

Maryam Namazie: Di bawah sistem yang represif, kekuatan kelompok kiri tidak bisa diukur dengan cara biasa. Ia tidak bisa dilihat dari keberadaan partai legal atau institusi politik formal, melainkan dari kehadirannya di dalam masyarakat.

Selama puluhan tahun, rezim Islam telah memenjarakan, mengeksekusi, dan memaksa kaum kiri, aktivis buruh, mahasiswa, dan feminis untuk hidup dalam pengasingan. Serikat pekerja independen dilarang, dan aktivitas buruh diperlakukan sebagai ancaman terhadap keamanan nasional. Lembaga pemantau hak buruh internasional seperti ITUC Global Rights Index secara konsisten menempatkan Iran sebagai salah satu negara terburuk di dunia dalam hal hak-hak pekerja. Namun, meski mengalami represi seperti itu, kelompok kiri tetap bertahan dan mengekspresikan diri melalui perjuangan sosial, bukan melalui struktur partai. Salah satu pengecualian penting mungkin adalah Kurdistan Iran, di mana tradisi politik kiri dan sosialis masih terlihat lebih terorganisir. Partai-partai Kurdi seperti Partai Komunis Iran masih memiliki struktur politik dan akar historis yang kuat di wilayah tersebut. Aktivis Kurdi di berbagai kota juga berada di garis depan berbagai aksi protes, termasuk dalam pemberontakan yang dipicu oleh kematian Mahsa Jina Amini. Slogan “Jin, Jiyan, Azadi” sendiri berasal dari perjuangan Kurdi, khususnya dari gerakan perempuan Kurdi dan pengalaman Rojava.

Jika melihat tuntutan yang muncul dari masyarakat Iran, seperti buruh yang menuntut upah yang belum dibayar, guru dan pensiunan yang memprotes kemiskinan, perempuan yang menolak kewajiban berhijab dan apartheid gender, mahasiswa yang melawan privatisasi, serta kampanye menentang hukuman mati dan menuntut pembebasan tahanan politik, semua ini pada dasarnya adalah tuntutan sosial yang bersifat egaliter. Secara substansi, tuntutan-tuntutan ini mencerminkan nilai kesetaraan, keadilan sosial, dan sekularisme yang secara historis terkait dengan politik kiri. Hal ini terlihat jelas dalam “Piagam Tuntutan Minimum” tahun 2023 yang disusun oleh 20 organisasi serikat pekerja dan masyarakat sipil independen. Piagam ini menyatukan perempuan, mahasiswa, pelajar, guru, buruh, keluarga korban yang menuntut keadilan, penulis, kelompok LGBTQ, dan masyarakat luas dalam satu kerangka tuntutan bersama untuk kebebasan politik, kesetaraan sosial, dan hak-hak demokratis.

Meskipun ditekan secara sistematis, aksi-aksi buruh di Iran tetap berlangsung secara luas dan terus-menerus di berbagai sektor, mulai dari minyak dan petrokimia hingga baja, transportasi, pendidikan, dan pertanian. Lembaga Human Rights Activists News Agency mencatat setidaknya 725 aksi protes buruh dan 1.378 pemogokan sepanjang tahun 2024. Sementara itu, Center for Human Rights in Iran mendokumentasikan aksi besar buruh di setidaknya 14 kota antara Maret hingga Juli 2024, serta pemogokan di lebih dari 115 perusahaan minyak dan gas antara 19 Juni hingga 1 Juli 2024. Data ini menunjukkan bahwa gerakan buruh di Iran tetap aktif, meluas, dan memiliki peran penting secara struktural.

Salah satu perjuangan buruh paling penting dalam satu dekade terakhir adalah gerakan pekerja tebu Haft Tappeh di Khuzestan, yang menentang korupsi, privatisasi, dan berbulan-bulan upah yang tidak dibayar. Gerakan ini melahirkan tokoh-tokoh seperti Esmaeil Bakhshi, seorang aktivis buruh yang mengungkap praktik penyiksaan setelah penangkapannya, serta Sepideh Gholian, jurnalis dan aktivis buruh yang meliput aksi mogok dan kemudian menjadi simbol perlawanan setelah berulang kali dipenjara. Organisasi buruh penting lainnya adalah “Serikat Pekerja Bus Teheran dan Sekitarnya”. Para pemimpinnya, seperti Reza Shahabi dan Ebrahim Madadi, telah menghabiskan bertahun-tahun di penjara karena mengorganisir buruh dan menuntut hak untuk membentuk serikat independen. Meski demikian, serikat ini tetap menjadi salah satu contoh paling nyata dari pengorganisasian buruh independen di Iran. Serikat guru juga memainkan peran penting dalam gelombang protes belakangan ini. Aktivis seperti Mohammad Habibi dan Esmail Abdi dipenjara karena mengorganisir pemogokan nasional yang menuntut upah layak, peningkatan anggaran pendidikan, dan pembebasan rekan-rekan mereka yang ditahan. Aksi-aksi ini melibatkan ribuan tenaga pendidik di seluruh Iran.

Perjuangan perempuan juga semakin terhubung dengan tuntutan yang lebih luas. Selain menentang kewajiban berhijab dan apartheid gender, mereka juga menuntut otonomi atas tubuh, keadilan sosial, serta melawan kekerasan domestik dan praktik “pembunuhan kehormatan”. Perempuan juga berperan penting dalam gerakan menentang hukuman mati. Salah satu contoh penting adalah Mothers of Khavaran, yang selama puluhan tahun menuntut kebenaran dan keadilan atas eksekusi massal tahanan politik pada tahun 1980-an. Banyak dari korban tersebut adalah aktivis kiri yang dikuburkan di kuburan massal di Khavaran. Perjuangan mereka menjadi salah satu gerakan terpanjang dalam upaya mencari keadilan dan menjaga ingatan kolektif di Iran. Selain itu, mahasiswa juga secara historis memiliki peran penting dalam gerakan demokrasi. Misalnya, pada Oktober 2024, mahasiswa Universitas Teheran melakukan protes terhadap privatisasi dan segregasi gender. Aktivisme mahasiswa di Iran sering menggabungkan sikap anti-otoritarian, anti-pasar bebas, dan nilai-nilai kesetaraan, yang memiliki keterkaitan kuat dengan tradisi kiri dalam gerakan mahasiswa.

Pada saat yang sama, kelompok kiri Iran di pengasingan bukanlah satu blok politik yang utuh. Puluhan tahun represi telah memecah organisasi-organisasi di dalam negeri, dan politik di pengasingan sering kali ditandai oleh perpecahan serta konflik internal. Meski begitu, kelompok kiri tetap hadir sebagai kekuatan sosial. Perannya dalam perjuangan buruh lebih kuat daripada yang disadari banyak pengamat, lebih terlihat secara organisasi di beberapa wilayah Kurdistan, berpengaruh dalam gerakan mahasiswa anti-otoritarian, dan tidak terpisahkan dari sisi paling radikal dalam gerakan perempuan. Karena itu, kondisi kelompok kiri Iran saat ini bisa dikatakan sangat ditekan, tetapi tetap memiliki pengaruh sosial yang nyata dalam perjuangan buruh, perempuan, mahasiswa, hak-hak kelompok minoritas, serta pembelaan terhadap tahanan politik yang terus menantang dasar-dasar kekuasaan negara.

Jika hanya melihat politik di pengasingan atau perdebatan di televisi satelit, peran kelompok kiri akan tampak seolah tidak ada, sehingga menghasilkan gambaran yang keliru. Kelompok oposisi monarkis atau sayap kanan banyak bergantung pada media sosial dan stasiun televisi satelit yang didanai oleh negara-negara Teluk dan Israel untuk tampil sebagai satu-satunya alternatif yang terlihat di tingkat internasional. Namun, jika kita melihat apa yang benar-benar diperjuangkan oleh masyarakat di Iran dengan risiko penjara, penyiksaan, bahkan kehilangan nyawa: seperti hak buruh, kesetaraan perempuan, kebebasan dari kediktatoran, penghapusan hukuman mati, dan hak untuk berorganisasi, maka terlihat jelas bahwa arah perjuangan ini berakar pada tuntutan yang bersifat egaliter, emansipatoris, dan dekat dengan tradisi politik kiri.

Fakta bahwa rezim terus memenjarakan pemimpin buruh, aktivis mahasiswa, dan pengorganisir gerakan perempuan juga menunjukkan sesuatu yang penting. Negara tidak akan menghabiskan puluhan tahun untuk menghancurkan gerakan yang tidak berarti. Mereka menindas justru gerakan yang paling mereka takuti. 

Hein Htet Kyaw: Ada yang mengatakan bahwa Islam politik memiliki unsur kiri bergaya sosial-demokrat seperti amal dan sistem kesejahteraan. Apa pendapat anda? Sebagai seorang Marxis dan feminis, apakah Islam politik termasuk kiri atau kanan?

Maryam Namazie: Islam politik adalah gerakan sayap kanan. Amal tidak mengubah hal itu. Gereja juga menjalankan dapur umum, tetapi itu tidak membuat Vatikan atau gereja Evangelis di Amerika menjadi sosialis atau emansipatoris. Pertanyaan utamanya bukan apakah suatu gerakan membagikan bantuan, tetapi jenis tatanan sosial apa yang ia bangun dan relasi kekuasaan seperti apa yang ia pertahankan. Perbedaan antara kiri dan kanan bukan soal amal atau kesejahteraan. Intinya adalah apakah suatu proyek politik memperluas kebebasan dan kesetaraan manusia, atau justru mempertahankan hierarki dan otoritas. Secara historis, gerakan kiri lahir dari perjuangan melawan monarki, kekuasaan agama, patriarki, dan dominasi kelas. Sebaliknya, Islam politik mengorganisir masyarakat berdasarkan otoritas ilahi, kekuasaan ulama, sensor, polisi moral, dan hukuman terhadap perbedaan pendapat.

Islam politik juga dibangun di atas sistem apartheid gender, seperti kewajiban berjilbab, pemisahan laki-laki dan perempuan, ketimpangan dalam pernikahan dan warisan, serta kontrol terhadap tubuh dan seksualitas perempuan. Hal-hal ini bukan sekadar praktik tambahan, melainkan bagian inti dari tatanan tersebut. Kontrol atas tubuh perempuan menjadi kunci bagaimana sistem hierarkis mempertahankan diri. Ketika setengah populasi dibatasi, seluruh masyarakat menjadi lebih mudah dikendalikan. Sistem politik yang bergantung pada penundukan perempuan tidak bisa dianggap sebagai bagian dari kiri.

Penting juga untuk memahami bagaimana amal bekerja secara politis. Sepanjang sejarah modern, banyak gerakan konservatif atau otoriter membangun jaringan kesejahteraan sambil tetap mempertahankan hierarki. Rezim fasis seperti Italia di bawah Mussolini dan Jerman Nazi juga memiliki program kesejahteraan besar sambil menghancurkan serikat pekerja dan hak-hak demokratis. Gerakan Islamis sering beroperasi dengan cara serupa. Mereka membangun jaringan amal, klinik, atau bantuan sosial, tetapi tetap berada dalam kerangka politik yang menekan kebebasan, membatasi perempuan, dan melemahkan organisasi buruh independen. Amal sering menjadi alat patronase dan kontrol sosial, bahkan di negara demokratis Barat, untuk meredam dan menjauhkan perjuangan rakyat dari politik.

Ada juga unsur rasisme dalam cara isu ini sering dibahas. Di Eropa, tidak ada yang berargumen bahwa kelompok kanan Kristen harus memerintah hanya karena gereja melakukan kegiatan amal. Namun ketika logika yang sama diterapkan pada negara-negara mayoritas Muslim, kekuasaan berbasis agama justru disebut otentik atau bahkan progresif. Ini menciptakan standar ganda tentang kebebasan dan merupakan bentuk relativisme budaya yang rasis. Selain itu, cara pandang seperti ini juga menghapus keberagaman masyarakat di negara mayoritas Muslim. “Muslim” bukan satu blok politik. Ada buruh, perempuan, minoritas agama dan seksual, kaum sekuler, sosialis, ateis, aktivis serikat pekerja, dan banyak lainnya yang sama-sama melawan negara otoriter maupun gerakan kanan religius.

Amal bisa ada dalam berbagai ideologi, bahkan dalam fasisme. Yang mendefinisikan kiri bukanlah amal, melainkan keterlibatan aktif dalam perjuangan pembebasan. Proyek politik yang bergantung pada otoritas agama, kontrol patriarkal, dan penindasan terhadap perbedaan pendapat jelas berada di kubu kanan. Kiri berfokus pada perluasan kebebasan dan kesetaraan manusia, sedangkan Islamisme mengatur masyarakat berdasarkan hierarki dan kepatuhan.

Sebagai tambahan, ada yang mengatakan bahwa kiri dan kanan sudah tidak relevan. Biasanya yang dimaksud adalah runtuhnya partai-partai tradisional atau lanskap politik yang semakin terfragmentasi. Namun perbedaan mendasar itu tidak hilang. Selama masyarakat masih memiliki hierarki kelas, gender, dan kekuasaan, perbedaan tersebut tetap nyata.

Hein Htet Kyaw: Ada yang berpendapat bahwa Islam politik melampaui nasionalisme karena menganggap semua Muslim sebagai satu komunitas global. Apakah ini bisa disebut sebagai “internasionalisme”? Atau justru bentuk lain dari politik identitas seperti yang terlihat dalam gerakan kanan identitarian?

Maryam Namazie: Internasionalisme berangkat dari kesetaraan manusia secara universal dan solidaritas lintas batas. Artinya adalah solidaritas antara buruh dan kelompok tertindas di berbagai negara, tanpa memandang jenis kelamin, ras, keyakinan, atau etnis untuk melawan sistem penindasan. Slogannya adalah “Kaum Buruh di Seluruh Dunia Bersatulah”, bukan buruh kulit putih bersatulah atau buruh Muslim bersatulah.

Islamisme bukan internasionalisme, melainkan identitarianisme. Alih-alih membangun solidaritas kemanusiaan, ia membagi dunia menjadi kelompok beriman dan tidak beriman, umat dan kafir, yang “bermoral” dan “tidak bermoral”. Ini bukan politik kelas. Ia menggantikan solidaritas kelas dengan identitas agama dan menjadikan identitas sebagai dasar utama politik. Karena itu, ia memiliki kemiripan dengan nasionalisme kulit putih. Keduanya mereduksi manusia menjadi identitas semata, menuntut loyalitas pada komunitas yang dibayangkan, dan terobsesi dengan keseragaman identitas, pengawasan moral, serta musuh internal. Dalam kedua kasus, politik tidak lagi tentang kebebasan atau kesetaraan, melainkan tentang menjaga batas-batas moral kelompok.

Politik identitas juga membuka jalan bagi dehumanisasi, karena manusia direduksi menjadi kategori seperti Muslim, non-Muslim, orang dalam, atau orang luar. Ketika manusia dipandang hanya sebagai kategori, menjadi lebih mudah untuk membenarkan diskriminasi, represi, dan kekerasan atas nama “melindungi komunitas”. Jadi, Islamisme bukan bentuk internasionalisme. Internasionalisme bersifat universal, sedangkan Islamisme bersifat komunal. Yang satu memperluas solidaritas kemanusiaan, yang lain justru membatasinya pada identitas agama. Itu bukan internasionalisme, melainkan globalisasi dari politik identitas sayap kanan.

Hein Htet Kyaw: Saya tahu bahwa gerakan eks-Muslim memiliki perspektif yang unik, berbeda dari sebagian kiri Barat yang relatif lebih mapan, karena pengalaman kita dalam melawan rezim kanan berbasis agama, rezim otoriter yang mengklaim diri sebagai sosialis, serta kelompok kanan supremasi kulit putih. Karena anda adalah salah satu figur utama dalam gerakan eks-Muslim, apakah anda ingin membawa pemahaman Marxis ke dalamnya? Menurut saya, hanya menjadi eks-Muslim saja tidak cukup. Dalam beberapa kasus, itu bahkan bisa menjadi sesuatu yang reaksioner. Misalnya, ada eks-Muslim yang secara terbuka mendukung kejahatan perang Israel terhadap Palestina karena mereka membenci kelompok kiri oportunis yang dianggap terlalu dekat dengan Islamisme atau meremehkan antisemitisme di dalamnya. Jadi, untuk menghindari politik reaksioner baik dari oportunisme kiri maupun kanan, kita perlu memahami anti-imperialisme, analisis kelas, dan interseksionalitas. Apa pendapat anda?

Maryam Namazie: Gerakan eks-Muslim berlandaskan prinsip-prinsip universal, seperti kebebasan berkeyakinan, sekularisme, kesetaraan di hadapan hukum, dan hak untuk murtad. Karena itu, kita perlu berhati-hati agar tidak memaksakan program politik tertentu ke dalam gerakan ini, karena memang bukan itu tujuan utamanya. Gerakan ini adalah gerakan hak sipil yang memperjuangkan hak untuk murtad, hak untuk mengkritik atau menolak agama, penghapusan hukum penistaan agama dan murtad, serta kebebasan berkeyakinan. Dalam arti ini, ia lebih mirip dengan gerakan hak-hak LGBTQ daripada sebuah partai politik.

Seperti halnya menjadi gay tidak otomatis membuat seseorang progresif, menjadi eks-Muslim juga tidak otomatis melahirkan pandangan politik yang emansipatoris. Individu dalam suatu gerakan bisa memiliki pandangan politik yang berbeda-beda, dan tetap harus bertanggung jawab atas posisi mereka masing-masing. Mengatakan bahwa semua eks-Muslim adalah neo-konservatif atau pendukung kanan ekstrem sama kelirunya dengan mengatakan bahwa semua Muslim adalah Islamis. Eks-Muslim sebagai kategori tidak otomatis progresif, sama seperti Muslim sebagai kategori tidak otomatis reaksioner.

Sebagian kebingungan muncul karena tidak dibedakannya antara identitas sebagai pengalaman dan identitas sebagai politik. Identitas sebagai pengalaman berarti seseorang keluar dari Islam dan kemudian menghadapi ancaman, stigma, pengucilan, pengasingan, atau kekerasan. Pengalaman nyata inilah yang menjadi dasar gerakan hak sipil untuk menuntut kebebasan berkeyakinan. Sementara itu, identitas sebagai politik berbeda. Ia muncul ketika pengalaman tersebut dijadikan dasar untuk mengklaim kebenaran moral atau politik hanya karena seseorang termasuk dalam identitas tersebut. Ketika identitas dijadikan dasar utama dalam berpolitik, ia mudah berubah menjadi sikap kesukuan.

Perbedaan ini penting, karena banyak aktivis menganggap bahwa pengalaman penindasan otomatis menghasilkan kebenaran politik. Seolah-olah jika seseorang pernah tertindas, maka pandangan politiknya pasti benar secara moral. Sejarah menunjukkan bahwa hal ini tidak selalu benar. Mengalami penindasan tidak membuat seseorang kebal dari mengadopsi politik yang reaksioner. Karena itu, kepada eks-Muslim yang memusuhi Muslim sebagai kelompok, mendukung kebijakan imigrasi yang rasis, atau membenarkan perang, genosida, dan hukuman kolektif, saya akan mengatakan bahwa mereka justru sedang mengulang logika yang dulu menindas mereka. Islamisme memperlakukan eks-Muslim sebagai pengkhianat yang pantas dihukum mati hanya karena mereka murtad. Ketika eks-Muslim mulai melihat Muslim sebagai musuh yang homogen atau membenarkan kekerasan terhadap mereka, maka mereka sedang mengulangi logika politik yang sama: menyalahkan secara kolektif dan menghilangkan kemanusiaan pihak lain. 

Penolakan terhadap Islam tidak boleh berubah menjadi cermin dari Islam itu sendiri. Tujuannya bukan mengganti “umat Muslim” dengan “umat eks-Muslim” atau membangun identitas baru yang didasarkan pada kebencian terhadap yang lain. Gerakan eks-Muslim bukan tentang menciptakan kelompok identitas baru, melainkan tentang memperluas kebebasan manusia. Meninggalkan agama seharusnya membuka ruang kebebasan, bukan sekadar mengganti satu identitas dengan identitas lain.

Politik yang reaksioner muncul ketika prinsip-prinsip universal ditinggalkan dan digantikan oleh politik identitas. Gerakan hak sipil tidak bisa hanya membela kelompoknya sendiri. Hak menjadi penting justru karena berlaku untuk semua orang. Tujuannya bukan untuk mengklaim superioritas moral, melainkan menegaskan bahwa setiap manusia berhak atas kebebasan berkeyakinan dan hak-hak universal yang sama, baik bagi yang beriman maupun yang tidak.


Diterjemahkan dari:


Jumat, 20 Maret 2026

Rojava Menghadapi Ancaman Serius, bahkan Risiko Genosida

Penulis: Hasseh-Nima Golkar


Kobane, kota yang menjadi simbol perlawanan terhadap ISIS pada tahun 2013, kini kembali berada di bawah ancaman. Kota ini kembali tertekan oleh kekuatan Islamis ekstrem yang berafiliasi dengan penguasa Suriah dan Turki, dengan persetujuan diam-diam dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

Saat ini yang terjadi di wilayah utara dan timur Suriah (Rojava) adalah upaya mengisolasi kawasan tersebut melalui pemutusan akses air dan listrik. Tindakan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari rencana yang lebih luas, di mana kekuatan global memanfaatkan figur seperti Ahmad al-Sharaa untuk menekan masyarakat-masyarakat otonom dari berbagai latar etnis dan agama yang berusaha menentukan nasib mereka sendiri.

Nesrin Abdullah, komandan senior pasukan di Rojava, dalam sebuah konferensi pers memperingatkan bahwa Kobane kini dikepung oleh pasukan pemerintah transisi Damaskus. Intensitas serangan dalam beberapa hari terakhir terus meningkat, dan garis depan kini hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari kota. Ia juga menyoroti ancaman serius lain, yaitu kemungkinan jatuhnya penjara-penjara yang menahan anggota ISIS ke tangan pasukan pemerintah. Jika para tahanan tersebut dibebaskan, termasuk ratusan pelaku kejahatan paling berbahaya, maka keamanan dan stabilitas kawasan akan terancam, bahkan berpotensi menimbulkan risiko genosida. Karena itu, ia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan guna mencegah bencana kemanusiaan.

Nesrin Abdullah juga menegaskan bahwa Rojava memiliki sejarah panjang dalam melawan kelompok-kelompok teroris. Ia menyatakan bahwa mereka akan terus bertahan hingga titik darah penghabisan, karena mereka adalah pemilik sah tanah tersebut dan tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan kekuatan negara yang represif.

Perlu diingat bahwa Ahmad al-Sharaa, yang sebelumnya dikenal sebagai Muhammad al-Julani, memiliki latar belakang dalam jaringan jihadisme, termasuk keterkaitannya dengan Abu Bakar al-Baghdadi di Irak dan Suriah. Ia berperan dalam pembentukan kelompok Jabhat al-Nusra, yang kemudian berkembang menjadi Hayat Tahrir al-Sham melalui penggabungan berbagai kelompok Islamis. Melalui serangkaian operasi militer, ia berhasil memperluas pengaruhnya dari wilayah Aleppo hingga akhirnya merebut Damaskus dalam waktu singkat dan menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024.

Dari sudut pandang anarkis, Rojava bukan sekadar wilayah geografis atau front militer. Ia adalah sebuah eksperimen nyata tentang kemungkinan membangun masyarakat tanpa negara, tanpa dominasi kapitalisme, dan tanpa struktur patriarki. Selama lebih dari satu dekade, wilayah ini telah mencoba membangun sistem pengelolaan berbasis dewan, konfederalisme demokratis, kesetaraan gender, keberagaman etnis dan agama, serta ekonomi yang berlandaskan kerja sama.

Model ini bertentangan secara mendasar dengan logika negara-bangsa, batas-batas buatan (perbatasan negara), otoritarianisme, dan tatanan kapitalisme global. Oleh karena itu, keberadaannya memicu reaksi keras dari negara-negara regional, kekuatan global, dan kelompok fundamentalis, karena menunjukkan bahwa masyarakat bisa mengatur dirinya sendiri tanpa negara terpusat, tanpa militer profesional yang terpisah dari rakyat, dan tanpa hierarki yang menindas.

Pemutusan air dan listrik, ancaman pembebasan tahanan ISIS, serta serangan militer hanyalah bentuk nyata dari satu logika lama, yaitu dominasi. Logika ini bisa muncul dalam bentuk pemerintah transisi Suriah, negara Turki, maupun dalam narasi “perang melawan terorisme” oleh Amerika dan Eropa. Namun pada dasarnya, semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghancurkan setiap contoh keberhasilan pengorganisasian diri yang bisa menginspirasi kelompok tertindas di tempat lain.

Rojava juga memiliki arti penting bagi gerakan anarkis global karena menghubungkan perjuangan melawan negara dan kapitalisme dengan pembebasan perempuan, penghancuran struktur patriarki, dan penolakan terhadap nasionalisme sempit. Slogan “Jin, Jiyan, Azadî" (Perempuan, Kehidupan, Kebebasan) bukan sekadar simbol, melainkan inti dari sebuah proyek revolusioner yang menggabungkan kebebasan individu dan kolektif, penolakan terhadap otoritas negara, agama, dan etnis, serta upaya membangun hubungan sosial yang baru.

Karena itu, membela Rojava berarti membela martabat manusia dalam arti yang paling mendasar: hak untuk mengatur kehidupan tanpa penguasa, tanpa tentara pendudukan, tanpa kapitalis, dan tanpa otoritas agama. Ini adalah gagasan bahwa dunia bisa dibangun di atas solidaritas, kerja sama, dan pengelolaan mandiri, bukan atas dasar batas-batas negara dan kekuasaan yang menindas.

Menghadapi aliansi antara kekuatan global, negara-negara regional, dan fundamentalisme agama, jawaban dari perspektif anarkis adalah memperkuat solidaritas internasional. Solidaritas antara pekerja, perempuan, pemuda, kelompok etnis dan agama minoritas, serta semua pihak yang tertindas oleh sistem negara dan kapitalisme.

Rojava bukan hanya milik penduduknya, tetapi juga milik semua orang yang di berbagai penjuru dunia yang berjuang untuk kebebasan, kesetaraan, dan dunia tanpa penindasan.


Jin, Jiyan, Azadî! 
Hidup dan Bertahanlah Rojava! 
Jauhkan Tangan Kekuasaan Negara dari Rojava! 


Konfederalisme Demokratis dan Perang Tersembunyi Antarnegara: dari Terorisme Terbuka hingga Jihadisme yang Dilegalkan oleh Negara

Penulis: Jamal

Setelah pecahnya perang saudara di Suriah, masyarakat Kurdi di Rojava berada dalam situasi yang menuntut pilihan politik yang sadar, bukan sekadar keterpaksaan. Mereka tidak bergabung dengan pemerintah pusat Suriah, juga tidak dengan oposisi yang bergantung pada kekuatan asing. Sebaliknya, mereka memilih “jalan ketiga”, yaitu jalur yang bertumpu pada pengorganisasian diri masyarakat, pertahanan rakyat, serta sistem dewan dan komune.

Konfederalisme demokratis di wilayah utara dan timur Suriah muncul sebagai jawaban praktis atas runtuhnya negara, kekerasan sektarian, dan logika negara-bangsa yang terpusat. Pengalaman ini, yang berlandaskan partisipasi langsung masyarakat, kesetaraan gender, serta keberagaman etnis dan agama, sejak awal telah menjadi sebuah alternatif nyata. Alternatif ini tidak hanya menantang negara otoriter, tetapi juga keseluruhan tatanan imperialisme yang berbasis pada sistem negara-bangsa.

Dalam konteks seperti ini, kemunculan ISIS tidak bisa semata-mata dipahami sebagai hasil ekstrimisme agama atau kekosongan kekuasaan. Serangan-serangan terorganisir ISIS yang berfokus pada komunitas Yazidi dan wilayah konfederalisme demokratis menunjukkan bahwa kekerasan jihad memiliki fungsi politik yang spesifik. Tujuan utamanya adalah menghancurkan sebuah eksperimen yang mampu menciptakan keamanan dan tatanan sosial tanpa negara, tanpa batas, dan tanpa campur tangan kekuatan luar.

Pasukan pertahanan Rojava, dengan mengandalkan pengorganisasian sosial dan strategi perang asimetris, berhasil melemahkan ISIS secara signifikan dan mendorongnya ke ambang kehancuran. Momen ini dapat dilihat sebagai titik kegagalan tahap pertama strategi imperialisme Amerika, di mana terorisme terbuka tidak lagi mampu menghancurkan konfederalisme tersebut.

Setelah kegagalan itu, Amerika Serikat mengubah strateginya. Alih-alih terus mengandalkan kelompok yang kehilangan legitimasi internasional dan efektivitas, mereka beralih pada reorganisasi jihadisme dalam bentuk yang lebih “resmi” dan terlembagakan. Dari berbagai kelompok jihad yang tercerai-berai atau ditangkap, termasuk tokoh seperti al-Julani, dibentuk kekuatan baru yang awalnya digunakan untuk melawan pemerintahan Bashar al-Assad.

Seiring melemahnya negara pusat, terbentuklah pemerintahan Tahrir al-Sham yang kemudian mengambil alih kekuasaan formal. Pemerintahan ini bukanlah kekuatan anti-jihad, melainkan bentuk yang dilegalkan dari jihadisme sebelumnya. Unsur-unsur ISIS dan Al-Qaeda kini beroperasi dalam kerangka militer dan institusi negara, dengan tujuan yang lebih terarah: menyerang konfederalisme demokratis di wilayah utara dan timur Suriah.

Dalam pengertian ini, Amerika Serikat tidak benar-benar memerangi ISIS atau menghapuskannya. Setelah ISIS mengalami kekalahan, bentuknya justru diubah dari terorisme ilegal menjadi jihadisme yang dilembagakan dalam bentuk negara.

Dukungan Amerika Serikat terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF) dalam perang melawan ISIS juga perlu dipahami dalam kerangka ini. Bantuan senjata dan peralatan militer dari Amerika selalu berada di bawah pengawasan ketat dan bersyarat melalui sistem end-use monitoring. Artinya, senjata tersebut hanya bisa digunakan secara efektif selama tetap berada dalam kerangka misi yang ditentukan oleh Amerika.

Ketika konfederalisme demokratis mulai bergerak sebagai proyek politik yang lebih mandiri dan terlibat dalam konflik dengan Tahrir al-Sham, peralatan tersebut pada praktiknya kehilangan efektivitasnya. Tidak berfungsinya senjata-senjata Amerika di tangan pasukan konfederalisme demokratis bukanlah masalah teknis, melainkan keputusan politik. Sebuah keputusan untuk menarik dukungan dan membuka jalan bagi serangan pemerintahan jihad Tahrir al-Sham, dengan dukungan persenjataan dan pasukan bayaran dari negara Turki.

Meskipun sebagian wilayah konfederalisme telah diduduki dan serangan pemerintah sementara Suriah difokuskan pada upaya menghancurkan sepenuhnya pengalaman ini, bukan sekadar membatasinya di Rojava, sistem pengelolaan mandiri demokratis masih tetap bertahan. Keberlanjutan pengalaman ini tidak bergantung pada dukungan negara, melainkan pada kekuatan masyarakat, pengalaman panjang dari perang saudara, dan kemampuan untuk mengorganisasi diri.

Bahkan dalam kondisi di mana pemerintahan Tahrir al-Sham mendapat dukungan logistik dan militer dari Turki dan Amerika Serikat, Pasukan Demokratik Suriah (SDF) masih memiliki kemungkinan untuk bertahan. Dengan mengandalkan dukungan masyarakat serta akses terhadap persenjataan dari pasar global, mereka dapat melemahkan dan mendorong mundur kekuatan tersebut.

Hal ini menunjukkan bahwa sasaran utama dari tekanan Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya adalah sistem pengelolaan mandiri dan konfederalisme demokratis. Karena itu, pengalaman ini menjadi musuh bersama bagi imperialisme, fasisme regional, dan jihadisme yang dilembagakan oleh negara.


Hidup Perjuangan Pembebasan Rakyat Tertindas! 
Hidup Konfederalisme Demokratis! 
Kebebasan dan Kemanusiaan akan Menang! 
Hancurkan Imperialisme Global! 


Diterjemahkan dari:

Kamis, 19 Maret 2026

Analisis Politik-Historis Rojava dari Perspektif Anarkis

Peneliti: Hasseh-Nima Golkar


Penandatanganan kesepakatan 14 poin pada 18 Januari 2026 antara pemerintah transisi Suriah yang dipimpin Ahmad al-Sharaa dan Pasukan Demokratik Suriah (SDF), menandai titik balik baru dalam nasib proyek yang selama lebih dari satu dekade dikenal dengan nama “Rojava” dan “Konfederalisme Demokratik” di wilayah utara dan timur Suriah.

Proyek ini sejak awal mengklaim dirinya sebagai alternatif radikal terhadap negara-bangsa, sentralisasi kekuasaan, nasionalisme, dan patriarki. Ia muncul dalam sebuah periode sejarah ketika perang saudara membuka celah bagi lahirnya pengalaman langka berupa pengelolaan mandiri masyarakat di kawasan Timur Tengah.

Secara garis besar, kesepakatan ini mencakup beberapa poin utama:

  1. Gencatan senjata segera dan menyeluruh di semua front, disertai penarikan pasukan SDF ke timur Sungai Efrat.
  2. Penyerahan penuh wilayah Raqqa dan Deir ez-Zor, baik secara administratif maupun militer, kepada pemerintah pusat di Damaskus.
  3. Integrasi lembaga sipil dan administrasi di Hasakah ke dalam struktur resmi negara.
  4. Pengambilalihan kontrol oleh pemerintah pusat atas perbatasan, ladang minyak dan gas, serta jaminan keamanan atasnya.
  5. Kewajiban bagi SDF untuk mengeluarkan anggota asing PKK dan membubarkan struktur semi-militer demi memperkuat kedaulatan negara, dan seterusnya.


Latar Belakang Historis dan Kemunculan “Rojava”

Dengan runtuhnya otoritas negara Suriah pada awal perang saudara (2011–2012), wilayah-wilayah Kurdi dan multi-etnis di utara dan timur Suriah memasuki fase kekosongan kekuasaan. Wilayah ini memiliki komposisi penduduk yang beragam, termasuk Kurdi, Arab, Armenia, dan kelompok etnis lainnya.

Dalam kondisi tersebut, wilayah-wilayah ini secara bertahap lepas dari kendali pemerintah pusat. Pasukan Kurdi bersama sekutu non-Kurdi di bawah kepemimpinan SDF kemudian berhasil menguasai wilayah yang luas, terutama setelah kekalahan kelompok seperti ISIS.

Di tengah kekacauan ini, muncul sebuah proyek politik-sosial yang kemudian dikenal sebagai “Konfederalisme Demokratik”. Proyek ini berakar dari tradisi perjuangan gerakan Kurdistan, dengan tujuan membangun struktur berbasis dewan lokal dan masyarakat yang mandiri, tanpa mendirikan negara-bangsa baru, serta tanpa kembali tunduk pada negara pusat yang dikendalikan oleh Damaskus atau Ankara.

Gagasan ini dipengaruhi oleh anarkisme sosial dan pemikiran Abdullah Öcalan. Ia menekankan demokrasi langsung, pengorganisasian diri, kesetaraan gender, perlindungan lingkungan, serta koeksistensi damai antar kelompok etnis dan agama. Secara ekonomi, ia mengarah pada model kooperatif dan komunal.

Dalam praktiknya, proyek ini berusaha menggantikan institusi negara dengan dewan-dewan partisipatif, sekaligus membangun struktur sosial berdasarkan kesepakatan bersama antar komunitas yang beragam. Namun, eksperimen ini juga menghadapi berbagai tantangan serius:

  1. Penolakan dari pemerintah pusat Suriah yang melihatnya sebagai ancaman terhadap integritas nasional.
  2. Penolakan dari Turki terhadap setiap bentuk organisasi politik atau militer Kurdi di dekat perbatasannya.
  3. Ketergantungan militer dan politik SDF pada dukungan eksternal, terutama dari Amerika Serikat.


Krisis Legitimasi dan Realitas Kekuasaan

Meskipun Rojava selama beberapa tahun berhasil menerapkan sistem otonomi secara nyata di sebagian wilayah Suriah, legitimasi proyek ini tetap rapuh dalam dua arah:

  1. Dari atas, pemerintah pusat menganggapnya sebagai ancaman terhadap persatuan nasional. Kesepakatan terbaru tampaknya berupaya meredakan ketegangan ini.
  2. Dari bawah, masyarakat lokal menghadapi berbagai krisis ekonomi, keamanan, dan politik. Tidak hanya Kurdi, tetapi juga Arab, Asyur, dan kelompok lain tidak selalu menerima sistem ini secara penuh.

Meski demikian, pengalaman ini tetap memiliki sejumlah aspek penting:

  1. Melemahnya kekuasaan negara yang terpusat.
  2. Pengambilan keputusan dipindahkan ke tingkat lokal.
  3. Upaya menggantikan hierarki dengan jaringan horizontal.
  4. Kritik terhadap konsep negara, batas wilayah, dan kedaulatan sebagai bentuk dominasi modern.


Rojava, Negara, dan Batas-Batas Eksperimen Revolusioner

Rojava, terutama dalam pertempuran melawan Negara Islam Iraq dan Suriah (ISIS), khususnya di Kobani, pernah menjadi simbol perlawanan dan solidaritas global. Pengalaman ini menginspirasi banyak kalangan: mulai dari komunis hingga feminis radikal, terutama kaum anarkis di berbagai belahan dunia.

Namun sejak awal, proyek ini mengandung kontradiksi mendasar. Di satu sisi, ia mengusung prinsip swakelola dan organisasi horizontal. Di sisi lain, ia bertahan dalam bayang-bayang kekuatan negara dan geopolitik.

Pertanyaan mendasarnya adalah:

  1. Bagaimana mungkin membangun masyarakat anti-negara dengan bergantung pada aliansi militer negara, terutama Amerika Serikat?
  2. Bagaimana struktur horizontal bisa bertahan di dalam mesin militer yang terpusat dan birokratis?

Dalam praktiknya, Pasukan Demokratik Suriah (SDF), meskipun membawa wacana konfederalisme demokratis, berkembang menjadi kekuatan militer yang terorganisir secara hierarkis. Di saat yang sama, institusi-institusi sipil yang awalnya berbasis dewan perlahan berubah menjadi struktur semi-negara dengan lembaga keamanan, sistem peradilan, dan kontrol wilayah.

Ini bukan sekadar “penyimpangan”, melainkan konsekuensi logis dari upaya bertahan dalam sistem global yang didominasi negara, perang, dan batas teritorial. Setiap proyek yang tetap berada dalam logika ini, pada akhirnya akan terdorong untuk mereproduksi bentuk-bentuk kekuasaan yang sama.


Apakah Kesepakatan Terbaru Menandai Berakhirnya Fase Revolusioner di Rojava?

Kesepakatan 14 poin terbaru tidak bisa dipahami sekadar sebagai kompromi politik. Ia adalah momen kembalinya negara ketika pemerintah Suriah kembali menegaskan kedaulatannya atas wilayah tersebut.

Konsekuensinya cukup jelas:

  1. Berakhirnya otonomi militer. 
  2. Integrasi institusi sipil ke dalam struktur negara.
  3. Hilangnya kontrol langsung masyarakat atas sumber daya. 
  4. Reduksi peran dewan-dewan lokal menjadi simbolis atau sekedar konsultatif. 

Yang runtuh bukan hanya struktur administratif, tetapi juga kemungkinan nyata untuk membangun alternatif tanpa negara di kawasan Timur Tengah.


Pelajaran dari Perspektif Anarkis

Dari perspektif anarkis, arti penting Rojava bukan terletak pada “keberhasilan akhir”, melainkan pada eksperimennya. Rojava menunjukkan bahwa:

  1. Masyarakat dapat mengorganisir diri di luar kerangka negara-bangsa.
  2. Koeksistensi lintas etnis dan agama itu mungkin.
  3. Pembebasan perempuan bisa menjadi pusat transformasi sosial. 

Namun pada saat yang sama, pengalaman ini juga menegaskan batas-batasnya: tidak ada “pulau kebebasan” yang bisa bertahan lama di tengah sistem global yang didominasi negara, tanpa pemutusan yang lebih radikal dari logika militerisme dan geopolitik.


Dari Mimpi Otonomi hingga Kemunduran Relatif dan Kembalinya Negara

Kesepakatan pada Maret 2025 antara Ahmad al-Sharaa dan Mazloum Abdi bertujuan untuk mengintegrasikan lembaga SDF ke dalam struktur negara Suriah sekaligus menjamin hak-hak sipil kelompok etnis. Pada awalnya kesepakatan ini terlihat menjanjikan. Namun karena tidak pernah benar-benar dijalankan dan ketegangan terus meningkat, kesepakatan tersebut akhirnya menemui jalan buntu. Perkembangan terbaru kemudian kembali menjadi titik balik dalam situasi ini.

Seiring pecahnya kembali perang pada Januari 2026 dan majunya militer Suriah ke wilayah Raqqa dan Deir ez-Zor, situasi di lapangan berubah secara signifikan dan semakin melemahkan struktur otonomi. Dalam kondisi ini, kesepakatan 14 poin, alih-alih memperkuat pengelolaan mandiri, justru mendorong kembalinya kedaulatan negara atas wilayah-wilayah yang sebelumnya berada di bawah kendali SDF.


Akhir dari Konfederalisme Demokratis?

Secara institusional, konfederalisme demokratis mungkin sedang mengalami kemunduran. Namun sebagai pengalaman sejarah, ia akan tetap dikenang dalam gerakan-gerakan pembebasan, seperti Komune Paris, Revolusi Spanyol, atau gerakan Zapatista di Meksiko.

Meskipun praktik pengelolaan mandiri dan pengorganisasian horizontal secara bertahap ditekan oleh kekuatan negara, pengalaman ini tetap membuka cakrawala baru bagi imajinasi politik dan sosial.

Perlawanan yang lahir di Rojava akan terus berlanjut dan tidak mudah dipadamkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa upaya pembebasan dari sistem kapitalisme yang tidak setara memang bisa bersifat sementara dan rapuh pada fase tertentu, tetapi pada akhirnya akan selalu berhadapan dengan logika negara-bangsa.


Kesimpulan

Jika dilihat dari perspektif anarkis, Rojava adalah upaya nyata untuk membangun masyarakat tanpa negara, di mana rakyat berpartisipasi langsung dalam pengambilan keputusan, dan hierarki negara yang runtuh perannya digantikan oleh komunitas-komunitas mandiri.

Namun, ada dua faktor utama yang menunjukkan keterbatasan dari upaya ini:

  1. Sikap otoriter dari negara-negara kawasan. Suriah, Turki, Iran, dan aktor lainnya cenderung melihat struktur di luar negara sebagai ancaman.
  2. Ketergantungan pada dukungan militer dari luar. Jika sebuah sistem bergantung pada bantuan eksternal, maka kebebasan dan keberlanjutannya akan mudah terancam.

Akibatnya, seperti yang terlihat dalam perkembangan terbaru, lembaga-lembaga otonom akan sulit bertahan jika tidak mampu membangun hubungan sosial dan ekonomi yang seimbang dalam sistem yang lebih luas, serta tidak mendapat dukungan yang cukup dari semua kelompok etnis. Dalam kondisi seperti ini, tekanan militer, politik, dan ekonomi yang lebih besar akan semakin sulit dihadapi.


Hidup Rojava! 
Jin, Jiyan, Azadî! 



Diterjemahkan dari:



Selasa, 17 Maret 2026

Sementara Bom Dijatuhkan ke Iran dari Luar, Republik Islam Sedang Melancarkan Perang Kedua terhadap Rakyatnya Sendiri dari Dalam

Komandan pasukan polisi Republik Islam mengumumkan penangkapan 500 orang, menuduh mereka sebagai “mata-mata” yang konon mengirim informasi ke media asing. Di Lorestan, “Pasukan Garda Revolusi (IRGC)” menahan tiga orang lagi atas tuduhan “mengganggu opini publik, menyebarkan rumor, dan mengirim gambar ke media musuh.” Dalam enam belas hari terakhir sejak serangan Amerika dan Israel dimulai, penangkapan sewenang-wenang dilaporkan hampir setiap hari.

Tuduhan “mata-mata” tidak memerlukan bukti. Ia membungkam melalui rasa takut. Tuduhan ini selalu menjadi senjata favorit rezim terhadap siapa pun yang berani mendokumentasikan, berbicara atau menolak diam.

Yang paling kami khawatirkan bukanlah apa yang kita ketahui, tetapi apa yang tidak bisa kita ketahui.

Pemadaman internet kini telah berlangsung lebih dari 384 jam (tujuh belas hari) dan semakin parah. Dalam beberapa hari terakhir, penurunan kapasitas infrastruktur telekomunikasi yang tersisa telah memutus beberapa pengguna VPN, dan membuat beberapa pengguna yang seharusnya bisa mengakses layanan penting juga offline. Ini bukan sekadar kegagalan komunikasi. Ini adalah tembok gelap yang disengaja, yang di baliknya rezim bisa bergerak bebas untuk menangkap, menahan, dan menghilangkan siapapun. Para pemuda yang membagikan gambar pengeboman, aktivis yang mendokumentasikan korban sipil, jurnalis yang menolak narasi resmi, dan warga biasa yang hanya menceritakan kebenaran, mereka semua terancam.

Kita tidak tahu berapa banyak yang telah ditangkap dalam gelap. Kita tidak tahu kondisi mereka yang sudah berada di tahanan sebelum perang dimulai. Kita tidak tahu apa yang sedang terjadi saat ini di sel-sel, ruang interogasi, atau markas militer tempat para tahanan politik dipindahkan.

Ketidaktahuan ini memang sengaja diciptakan. Pemadaman ini dilakukan agar dunia tidak bisa melihat dan kita tidak bisa berbicara.

Kami sangat khawatir akan kesehatan dan keselamatan setiap aktivis sosial dan politik di Iran saat ini. Kami khawatir untuk setiap pemuda yang mengangkat telepon untuk mendokumentasikan perang ini. Kami juga peduli kepada kawan-kawan anarkis yang menghadapi bom imperialis sekaligus penindasan dan penjara.

Untuk kawan-kawan kami di Iran: kalian tidak pernah kami lupakan. 
Dan untuk dunia luar: diam yang kalian dengar dari Iran bukanlah tanda damai. Itu adalah topeng penindasan. Pecahkan di mana pun kalian bisa! 

Tidak untuk Perang Imperialis dan Teror Negara!
Tidak untuk Republik Islam yang Kriminal!
Tidak untuk Mullah! Tidak untuk Shah!
Jin—Jiyan—Azadî!


Front Anarkis


Diterjemahkan dari:

Memperingati 38 Tahun Serangan Senjata Kimia di Halabja, Kurdistan Iraq: Tragedi di Tengah Perang Antarnegara

Penulis: Hasse-Nima Golkar



Pada 26 dan 27 Esfand 1366 (16–17 Maret 1988), di tahap akhir perang antara Iran dan Irak, pasukan militer rezim Ba’ath Irak di bawah pimpinan Saddam Hussein mengebom kota Halabja dengan senjata kimia mematikan. Serangan ini merupakan bagian dari operasi besar yang dikenal sebagai “Al-Anfal Campaign” (Qur’an 8:1—Rampasan Perang) yang menargetkan rakyat Kurdistan di Irak utara.

Sekitar lima ribu orang tewas dan sebelas ribu lainnya terluka, sebagian besar adalah warga sipil. Banyak korban yang selamat menderita penyakit kulit dan gangguan pernapasan selama bertahun-tahun, dan sebagian masih menanggung dampaknya hingga kini.

Tragedi ini adalah serangan senjata kimia terparah yang pernah terjadi di wilayah sipil dalam sejarah manusia.


Puisi oleh Yaghma Golrouei:

Jangan hukum mati Saddam.
Bawa dia ke Halabja
dan biarkan ia menarik napas dalam-dalam,
sedalam kuburan massal Kurdistan.

Jangan hukum mati Saddam.
Kirim dia ke Shalamja
dan suruh ia menangis begitu lama,
hingga pohon-pohon kurma yang terbakar di Khuzestan kembali hijau.

Jangan hukum mati Saddam.
Serahkan dia kepada para ibu
yang hingga kini,
setiap mendengar bel pintu,
membayangkan anak-anak mereka yang hilang telah kembali ke rumah.


Diterjemahkan dari:


Halabja: Tragedi di Tengah Perang Antarnegara


Pada 16 Maret 1988, di bulan-bulan terakhir Perang Iran–Irak, kota Halabja di Kurdistan selatan menjadi sasaran salah satu serangan senjata kimia paling mematikan terhadap warga sipil pada abad ke-20. Saat itu, pasukan militer Iran telah memasuki wilayah Halabja. Sebagai tanggapan, tentara Irak di bawah komando Saddam Hussein menyerang kota dan desa-desa sekitarnya dengan senjata kimia. Serangan ini merupakan bagian dari kampanye penindasan besar-besaran terhadap rakyat Kurdi, yang dikenal sebagai “Al-Anfal Campaign" (1986-1989).

Akibat serangan tersebut, sekitar 5.000 warga sipil: terutama perempuan, anak-anak, dan lansia tewas dalam beberapa jam pertama. Ribuan lainnya menderita keracunan parah dan cedera permanen. Foto-foto yang diambil di jalanan dan rumah-rumah kota, yang memperlihatkan keluarga-keluarga tewas di tempat mereka berdiri atau berbaring, menjadi salah satu gambar paling menghantui dunia tentang kejahatan perang.

Dampak serangan itu berlangsung jauh melampaui hari itu. Banyak korban selamat hidup bertahun-tahun dengan penyakit pernapasan kronis, kerusakan saraf, kebutaan, dan risiko kanker yang meningkat. Penelitian medis juga menunjukkan bahwa paparan zat kimia menyebabkan tingginya angka cacat bawaan pada generasi berikutnya.

Tragedi Halabja menunjukkan bagaimana dalam perang antarnegara, wilayah perbatasan dan komunitas lokal sering menjadi medan pertempuran. Selama perang, rakyat Kurdi di selatan dan timur Kurdistan berulang kali terjebak di antara kekuatan negara yang bersaing, dan menanggung penderitaan yang sangat besar. Pengalaman ini juga menimbulkan pertanyaan penting tentang ketergantungan kekuatan politik lokal pada dinamika kekuasaan negara, serta konsekuensinya bagi keamanan dan kesejahteraan masyarakat.

Hingga hari ini, Tragedi Halabja bukan hanya menjadi bagian dari ingatan sejarah rakyat Kurdi, tetapi juga menjadi peringatan global tentang dampak tidak manusiawi dari perang dan penggunaan senjata pemusnah massal terhadap warga sipil.


Front Anarkis


Diterjemahkan dari: