Kamis, 30 April 2026

Mengapa Sebagian Kiri Kosmopolitan di Barat Tidak Mendukung Rakyat Iran, dan Mengapa Sebagian Anarkis Iran Justru Menjadi Chauvinistik? Apakah Gagasan Kita (Satu Harapan Bersama) Telah Gagal?

Penulis: Ravi


Saya menulis ini dari pengalaman pribadi sebagai seseorang yang tumbuh di Iran dan hidup dengan identitas sebagai orang Iran.

Banyak orang di sekitar saya hidup dalam kondisi yang sangat berat. Kombinasi represi politik, kehadiran aparat militer, pemadaman internet, serta lonjakan tajam harga bahan pangan membuat kehidupan sehari-hari semakin sulit. Dalam situasi seperti ini, masyarakat mencari jalan keluar. Mereka terbuka terhadap berbagai gagasan, bahkan yang paling radikal sekalipun. Mereka ingin didengar, dan jika hak asasi manusia benar-benar bersifat universal, mereka ingin hak itu juga berlaku bagi mereka.

Namun, banyak aktivis hak asasi manusia dan media di Barat justru memilih diam terhadap apa yang terjadi di Iran serta berbagai kejahatan yang dilakukan oleh Republik Islam terhadap rakyatnya. Mereka lebih fokus pada kecaman sepihak terhadap Amerika Serikat dan Israel, serta membahas perang dan kenaikan harga bahan bakar di Eropa. Sementara itu, di Iran eksekusi terus berlangsung di bawah represi yang ketat.

Sebagian masyarakat Barat tampak menerapkan standar ganda terhadap Iran. Bagi warga Iran, seolah-olah hidup dan kelangsungan mereka jauh kurang berharga dibandingkan kenaikan harga bensin beberapa sen di Eropa. Dunia bersedia bernegosiasi soal harga bahan bakar. Namun, siapa yang benar-benar bernegosiasi atau turun ke jalan untuk menghentikan eksekusi dan memulihkan akses masyarakat Iran ke internet global?

Jawabannya hampir tidak ada. Memang ada sebagian kecil individu di Barat yang bersuara, tetapi jumlahnya sangat terbatas.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian aktivis Iran mulai menggantungkan harapan pada Amerika Serikat dan Israel. Muncul narasi bahwa rakyat Iran memiliki kepentingan yang sejalan dengan Israel. Terlepas dari benar atau tidaknya klaim tersebut, kesadaran individu dan kolektif kelompok ini telah sampai pada titik di mana mereka tidak lagi tersentuh oleh nasib rakyat Palestina di bawah penindasan Israel. Bahkan, sebagian dari mereka membela Israel dengan bangga.

Hal ini bukan semata-mata karena mereka adalah pelaku kejahatan, melainkan karena mereka memilih untuk memprioritaskan diri dan kepentingan mereka sendiri, sebagaimana yang juga dilakukan oleh banyak orang di Eropa dan Amerika. Seorang mantan kawan anarkis pernah menyampaikan hal ini kepada saya secara langsung.

Lalu, apa yang menciptakan jarak di antara orang-orang yang dulu percaya pada dunia tanpa batas, penuh kebebasan dan kesetaraan, namun kini saling berseberangan?

Jawaban saya adalah kondisi material dan kepentingan konkret.

Kita hidup dalam tatanan global berbasis negara-bangsa, di mana kekayaan dan peluang didistribusikan secara tidak merata. Meskipun kita menganggap diri sebagai kosmopolitan, batas-batas itu tetap nyata dan dalam banyak situasi menentukan hidup dan mati. Dalam kondisi seperti ini, wajar jika individu memprioritaskan diri mereka sendiri dan orang-orang terdekatnya.

Mengakui realitas objektif serta adanya kepentingan diri seperti ini tidak selalu negatif atau patut dikecam. Dalam batas tertentu, kepedulian terhadap diri sendiri adalah hal yang alami dan penting. Hal ini membantu mempertahankan kehidupan dan membuka ruang bagi pemberdayaan. Manusia menjaga kebebasannya melalui kemampuan untuk bertahan dan berdaya. Tanpa itu, kebebasan justru tidak mungkin ada.

Karena itu, memaksakan gagasan bahwa demi etika universal seseorang harus sepenuhnya mengorbankan diri dan mengabaikan kondisi hidupnya justru bertentangan dengan kehidupan dan kebebasan itu sendiri. Dalam pandangan saya, ini bertentangan dengan ajaran anarko-egoisme, dan merupakan hasil dari kesalahpahaman yang dangkal terhadap kosmopolitanisme dan pemikiran anarkis.

Selain itu, cara pandang dan narasi juga berbeda di setiap konteks geografis. 

Bayangan saya tentang bagaimana anarkisme terwujud tidak sama dengan bayangan seseorang di Eropa. Pengalaman sosial dan personal yang berbeda membuat prioritas kita pun tidak mungkin sama.

Seorang anarkis-hijau di Amerika Serikat mungkin membayangkan runtuhnya masyarakat industri sebagai bagian dari terwujudnya anarkisme, sementara seorang anarko-komunis di India yang hidup di lingkungan termarginalkan justru membayangkan kota ideal dengan akses industri yang setara dan layanan kesehatan yang tinggi.

Bagi saya, runtuhnya negara berarti hancurnya sistem religius-politik di Iran dan Afghanistan. Sementara itu, bagi sebagian individu di Eropa yang memiliki pandangan anarkis yang lebih relativistik, runtuhnya negara terpusat dan keberadaan otoritas religius lokal bisa saja dianggap cukup, bahkan diinginkan.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa anarkisme pada dasarnya merupakan kerangka politik yang luas, sebuah cita-cita dengan banyak kemungkinan bentuk. Mengabaikan kondisi material dan faktor budaya dalam pemikiran politik justru akan mendorong orang pada kekakuan ideologis.

Dengan demikian, bukankah anarkisme tetap menjadi cita-cita bersama bagi kita semua?

Apakah pemikiran anarkis akan terus terkungkung dalam batas-batas politik dan ekonomi negara-bangsa, terpecah ke dalam berbagai bayangan tentang bagaimana ia seharusnya diwujudkan?

Kondisi anarkis lebih berkaitan dengan apa yang kita bayangkan untuk masa depan daripada dengan situasi saat ini. Karena itu, membatasi pemikiran dan abstraksi pada batas geografis dan politik merupakan langkah mundur dari standar ideal masa depan. Manusia tidak hanya membentuk dunia sebagai reaksi terhadap kondisi material yang ada, tetapi juga mencipta di tingkat gagasan dan memperluas kemungkinan material melalui kreativitas tersebut.

Kita bukan politisi! 

Kita tidak dituntut untuk berkorban tanpa batas, meskipun kita tetap menyadari keterbatasan yang ada dan memperjuangkan kepentingan konkret kita serta orang-orang terdekat. Dalam memperjuangkan hak, kita tidak harus membatasi diri pada faksi-faksi politik negara atau solusi yang mereka tawarkan. Dengan begitu, kita justru dapat membela kepentingan manusia secara lebih luas.

Di sinilah perbedaan antara politisi dan aktivis anarkis. Politisi bergerak dalam ranah politik formal dan bekerja melalui partai serta struktur negara untuk mencapai solusi dan membangun aliansi. Sementara itu, aktivis anarkis tidak terikat pada struktur negara-bangsa, mendefinisikan dirinya pada tingkat yang berbeda, sehingga memiliki ruang gerak dan tanggung jawab yang juga berbeda.

Pada saat yang sama, kita dapat memperluas cakrawala dengan tetap menjaga semangat kosmopolitan, serta berupaya membangun infrastruktur global yang lebih setara. Dengan cara ini, gagasan kosmopolitan dapat bergerak dari sekadar slogan menuju bentuk yang lebih nyata.

Anarkisme adalah kerangka yang luas. Gambaran dan hasil akhirnya tidak harus seragam! 

Pemikiran anarkis sendiri terdiri dari berbagai arus, dan di setiap wilayah dibentuk oleh proses serta konteks yang berbeda. Jika kita memahami bahwa anarkisme pada dasarnya berarti ketiadaan kekuasaan politik yang terpusat serta ketiadaan dominasi militer dan ekonomi, maka ruang dialog antar berbagai cabangnya tetap terbuka.

Dengan demikian, anarkisme tidak menjadi doktrin yang kaku, melainkan berkembang sebagai pemikiran yang lentur dan berakar pada pengalaman. Menurut saya, hanya dengan cara inilah kita dapat tetap terhubung dan berbagi landasan pemikiran yang sama.


Diterjemahkan dari: