Penulis: S. Bamdad
Soheil Arabi, seorang aktivis politik anarko-sindikalis, ditangkap pada 10 Maret 2026. Ia ditangkap di tengah berlangsungnya perang kedua rezim dengan Israel. Penangkapan ini bukan kebetulan, juga bukan respons terhadap suatu kejahatan tertentu. Peristiwa ini merupakan bagian dari logika kekuasaan, yang dalam situasi krisis eksternal, mereka berupaya untuk menyingkirkan seluruh ancaman internal secara bersamaan.
Dengan memanfaatkan suasana perang, rezim melabeli suara-suara yang dianggap berbahaya sebagai “kolaborator musuh” atau “mengganggu keamanan”, sehingga dapat disingkirkan tanpa menanggung biaya politik yang berarti. Arabi kemudian dipindahkan ke Penjara Ghezel Hesar, tempat di mana dalam beberapa bulan terakhir banyak tahanan politik dieksekusi. Pada saat yang sama, muncul kabar penyitaan harta benda dan kendaraannya. Penyitaan ini bukan sekadar bentuk hukuman, melainkan menyerupai rampasan perang, yaitu penghancuran basis material yang memungkinkan seseorang untuk bangkit kembali.
Namun, Arabi tidak sendiri. Dalam waktu singkat selama perang ini, rezim telah menangkap puluhan tahanan politik dan dengan cepat mengeksekusi sebagian dari mereka. Tuduhan yang digunakan cenderung berulang dan mudah ditebak, seperti spionase untuk Israel, hubungan dengan kelompok oposisi, atau bahkan keterlibatan dalam protes di masa lalu yang kini ditafsirkan sebagai bentuk kolaborasi dengan musuh asing. Eksekusi terhadap tahanan yang bahkan telah berada di barisan hukuman mati sebelum perang, menunjukkan bahwa bagi rezim perang bukanlah ancaman, melainkan peluang, yaitu kesempatan untuk menyingkirkan mereka yang tidak pernah tunduk pada dominasi.
Dalam situasi perang, kekuasaan bahkan tidak lagi merasa perlu mempertahankan kesan adanya proses hukum. Cukup dengan mengatasnamakan “keamanan nasional”, setiap suara yang berbeda dapat dicap sebagai antek asing dan dibungkam melalui eksekusi.
Dari perspektif anarkis, pola ini dapat dipahami meskipun tidak dapat dibenarkan. Negara, dalam bentuk apa pun, cenderung menggunakan perang sebagai dalih untuk memperketat kontrol internal. Perang kedua dengan Israel bukanlah pengecualian. Rezim Islam menghadapi musuh eksternal di satu sisi, sementara di sisi lain menghancurkan oposisi internal dengan logika yang sama. Arabi, bersama para tahanan politik yang dipenjara dan dieksekusi, merupakan korban dari struktur ini, yaitu struktur yang tidak dapat mentoleransi keberadaan suara independen karena setiap kritik radikal pada dasarnya menantang batas-batas kekuasaan.
Arabi, yang bertahun-tahun lalu mengenal anarkisme selama masa penahanannya di Evin dan Rajai Shahr, kini kembali berada di Ghezel Hesar, tempat di mana rezim berharap dapat membungkamnya secara permanen.
Namun, yang tidak dapat dipahami oleh rezim adalah bahwa anarkisme tidak terikat pada satu individu dan tidak dapat dimusnahkan melalui penangkapan atau bahkan eksekusi. Setiap penangkapan dan eksekusi justru memperlihatkan betapa rapuhnya dominasi, betapa kekuasaan harus terus menggunakan kekerasan demi mempertahankan dirinya.
Arabi di Ghezel Hesar, seperti ratusan tahanan politik sebelumnya, menjadi cermin yang menunjukkan bagaimana kekuasaan di tengah perang eksternal tetap menjalankan perang utamanya melawan rakyatnya sendiri. Ini bukan soal kepahlawanan individu, melainkan gambaran nyata dari otoritas, yaitu negara yang demi mempertahankan keberadaannya, mereka menekan ke dalam dan ke luar secara bersamaan.
Perlawanan yang nyata adalah apa yang telah ditunjukkan Arabi selama bertahun-tahun: penolakan total terhadap permainan kekuasaan ini, penolakan terhadap kedua pihak yang terlibat perang, serta komitmen teguh pada prinsip bahwa tidak ada kekuasaan, baik Islam, Israel, atau negara mana pun, yang berhak merampas kehidupan dan kebebasan manusia atas nama keamanan atau ideologi.
https://anarchistfront.noblogs.org/post/2026/04/16/57884
