Pada akhir Desember 2025 sampai awal Januari 2026, gelombang protes besar-besaran meletus di Iran. Protes ini dipicu oleh inflasi yang menyebabkan lonjakan harga barang-barang kebutuhan pokok hingga tidak lagi terjangkau oleh masyarakat. Krisis ini bukan sekedar kehancuran ekonomi akibat sanksi, melainkan hasil dari akumulasi panjang kekuasaan negara yang otoriter, korup, ekonomi rente, dan berbagai kebijakan neoliberal yang anti-rakyat.
Bagi banyak orang, krisis ini berarti kehancuran sosial. Naiknya harga barang-barang kebutuhan pokok membuat masyarakat tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan dasarnya. Hal ini diperparah dengan tingginya angka pengangguran, krisis air bersih, pemangkasan subsidi, ketimpangan gender, ketimpangan ekonomi ekstrem, represi politik, penindasan etnis, diskriminasi agama, dan berbagai kebijakan pembatasan pemerintah lainnya yang mencekik leher rakyat. Semua akumulasi kesenjangan yang telah terjadi selama puluhan tahun inilah yang mendorong masyarakat turun ke jalan melawan rezim teokratis. Dalam hitungan hari, gelombang protes yang awalnya dipicu krisis ekonomi berubah menjadi krisis politik dengan tuntutan-tuntutan yang meluas ke berbagai isu.
Sama seperti gelombang-gelombang protes sebelumnya, rezim teokratis membalas kemarahan masyarakat dengan represi ekstrem. Hanya dalam hitungan hari sejak protes dimulai, pemerintah memberlakukan pembatasan internet. Di tengah pembatasan tersebut, melalui kekuatan aparatusnya (yakni: Garda Revolusi Islam atau IRGC), rezim menembaki para demonstran di jalanan dengan peluru tajam. Tidak diketahui berapa jumlah korban secara pasti, namun menurut beberapa laporan di media, puluhan ribu demonstran tewas, ribuan lainnya di tangkap dan dihilangkan paksa. Dan pemerintah Iran, melalui media-media yang mereka kendalikan, menuduh para demonstran yang menuntut hak-haknya sebagai agen asing atau antek zionis. Sebuah tuduhan tidak berdasar yang dijadikan alasan pembenaran bagi rezim untuk melakukan represi keji atas nama “stabilitas dan keamanan nasional”.
Di tengah kondisi tersebut, sekitar satu bulan kemudian, Amerika Serikat dan Israel di bawah komando Donald Trump dan Benjamin Netanyahu melakukan agresi ke Iran, yang menargetkan banyak infrastruktur militer, pemerintahan, dan sipil. Akibat dari serangan ini, setidaknya 3000-4000 orang tewas, termasuk diantaranya 1.700 warga sipil dan 250 anak-anak. Alih-alih melakukan agresi dengan dalih “pembebasan”, intervensi ini menunjukkan bahwa kekuatan imperialis hanya mengejar kepentingan strategisnya sendiri. Kami dengan tegas menolak agresi tersebut sebagai tindakan reaksioner dan kontra-revolusioner. Sejarah telah menunjukkan bahwa agresi imperialis tidak pernah membawa pembebasan bagi rakyat mana pun. Pembebasan rakyat Iran hanya dapat dicapai oleh rakyat itu sendiri, bukan melalui bom-bom yang dijatuhkan dari langit.
Di tengah kobaran perang imperialis tersebut, rezim teokratis terus mengobarkan perang terhadap rakyatnya sendiri. Dengan dalih kondisi “darurat perang”, rezim memberlakukan darurat militer tidak resmi. Pos-pos pemeriksaan militer dengan tentara anak didirikan di jalan-jalan untuk mengawasi masyarakat. Pemutusan internet terus dilakukan hingga hari ini untuk mencegah informasi keluar. Penangkapan sewenang-wenang hingga eksekusi massal terhadap tahanan politik terus berlangsung. Dalam konteks ini, dua kamerad anarkis kami juga termasuk diantara yang ditangkap: Sohei Arabi, pada 10 Maret; dan Afshin Heyratian, yang di tangkap sebelum gelombang protes besar kemarin terjadi.
Terdapat pula laporan bahwa militer menggunakan permukiman warga sebagai tempat berlindung, serta menjadikan tahanan politik sebagai tameng manusia. Tidak hanya itu, di wilayah-wilayah etnis minoritas seperti Kurdi dan Baloch, yang menjadi basis gerakan protes sebelumnya, juga dibombardir secara keji oleh Garda Revolusi Islam. Tidak diketahui berapa jumlah korban secara pasti di wilayah-wilayah tersebut, kemungkinan ratusan atau bahkan ribuan warga sipil tewas.
Solidaritas kami ditujukan kepada seluruh rakyat Iran, dan hanya kepada rakyat! Kepada rakyat yang turun ke jalan untuk melawan rezim teokratis dan menuntut hak-haknya, kepada rakyat yang menjadi korban represi keji rezim demi melindungi kekuasaannya, dan kepada rakyat yang menjadi korban dari perang imperialis ini. Kami juga menyatakan solidaritas kepada seluruh tahanan politik di Iran, khususnya dua kamerad anarkis kami: Soheil Arabi dan Afshin Heyratian. Kami menuntut pembebasan segera seluruh tahanan politik di Iran, dan penghentian penangkapan sewenang-wenang serta eksekusi terhadap para tahanan politik!
Tidak Ada yang Bebas Sampai Semua Bebas!
Bebaskan Seluruh Tahanan Politik di Iran!
Bebaskan Soheil Arabi dan Afshin Heyratian!
Stop Eksekusi terhadap Tahanan Politik!
Tidak untuk Mullah, Tidak untuk Shah!
Tidak untuk Republik Islam Fasis Kriminal!
Tidak untuk Monarki Pahlevi!
Perempuan—Kehidupan—Kebebasan
Panjang Umur Solidaritas Internasional!
Hanya Ada Satu Solusi untuk Iran, yakni “Anarki!”
Panjang Umur Anarki!
23 April 2026
English Version:
Statement by Indonesian Anarchists on the Protests in Iran, Imperialist War, and the Arrest of Two Iranian Anarchist Comrades: Soheil Arabi and Afshin Heyratian
From late December 2025 to early January 2026, a wave of mass protests erupted across Iran. These protests were triggered by soaring inflation, which drove the prices of basic necessities beyond the reach of ordinary people. This crisis is not merely the result of sanctions or economic collapse, but the outcome of a long accumulation of authoritarian rule, corruption, rent-seeking economics, and anti-people neoliberal policies.
For many, this crisis has meant social devastation. The rising cost of basic goods has made it impossible for people to meet their fundamental needs. This situation is further worsened by high unemployment, water shortages, subsidy cuts, gender inequality, extreme economic disparity, political repression, ethnic oppression, religious discrimination, and various restrictive state policies that continue to suffocate the population. It is this accumulation of inequality over decades that has driven people into the streets against the theocratic regime. Within days, protests that began over economic grievances transformed into a broader political crisis, with demands expanding across multiple issues.
As in previous protest waves, the theocratic regime responded to public anger with extreme repression. Within days of the protests beginning, the government imposed internet restrictions. Under these conditions, its apparatus, particularly the Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), opened fire on demonstrators in the streets using live ammunition. The exact number of victims remains unknown, but various reports indicate that many were killed, thousands were arrested, and others forcibly disappeared. Through state-controlled media, the Iranian government accused protesters of being foreign agents or Zionist proxies. These baseless accusations have been used to justify brutal repression in the name of “national stability and security.”
Amid this situation, approximately one month later, the United States and Israel, under the leadership of Donald Trump and Benjamin Netanyahu, launched attacks on Iran, targeting military, governmental, and civilian infrastructure. These strikes resulted in thousands of deaths, including civilians and children. Far from bringing “liberation,” this intervention demonstrates that imperialist powers pursue only their own strategic interests. We firmly reject this aggression as reactionary and counter-revolutionary. History has shown that imperialist intervention has never brought liberation to any people. The liberation of the Iranian people can only be achieved by the people themselves, not by bombs dropped from the sky.
In the midst of this imperialist war, the theocratic regime has continued its war against its own population. Under the pretext of a “state of war emergency,” the regime has effectively imposed undeclared martial control. Military checkpoints, including the use of child soldiers, have been established across public spaces to monitor society. Internet shutdowns persist in order to block the flow of information. Arbitrary arrests, detention, and mass executions of political prisoners continue. In this context, two of our anarchist comrades are among those detained: Soheil Arabi, arrested on March 10, and Afshin Heyratian, who was detained prior to the recent wave of protests.
There are also reports that the military has used civilian residential areas as cover and political prisoners as human shields. In regions inhabited by ethnic minorities, such as Kurdish and Baloch areas, which had previously been centers of protest, the IRGC has reportedly carried out brutal bombardments. The number of casualties in these regions remains unknown, but is likely to be in the hundreds or even thousands of civilians.
Our solidarity is with the people of Iran, and only with the people. With those who have taken to the streets to resist the theocratic regime and demand their rights; with those who have suffered under state repression; and with those who have fallen victim to imperialist war. We also express our solidarity with all political prisoners in Iran, especially our two anarchist comrades, Soheil Arabi and Afshin Heyratian. We demand the immediate release of all political prisoners and an end to arbitrary arrests and executions.
No One is Free Until All are Free!
Free All Political Prisoners in Iran!
Free Soheil Arabi and Afshin Heyratian!
Stop The Execution of Political Prisoners!
No Mullah, No Shah!
No to The Criminal Fascist Islamic Republic!
No to The Pahlavi Monarchy!
Woman–Life–Freedom.
Long live international solidarity!
There is Only One Solution for Iran: "Anarchy!"
Long Live Anarchy!
April 23, 2026
Versi Bahasa Persia:
Versi Bahasa Swedia:
Versi Bahasa Italia:
Versi Bahasa Spanyol: