Minggu, 08 Maret 2026

Selamat Hari Perempuan Internasional: Mengenang Sepuluh Perempuan Anarkis Militan

Peneliti: Hasse Nima-Golkar


Sepanjang sejarah manusia, banyak orang dengan tegas mengatakan “tidak” kepada sistem pemerintahan yang eksploitatif, otoriter, dan despotik. Mereka menolak dogma pada zamannya dan memilih menempuh jalan perjuangan politik untuk memperkenalkan gagasan-gagasan baru kepada masyarakat. Kaum anarkis dan para pemberontak pecinta kebebasan telah memberikan banyak kontribusi penting bagi umat manusia. Salah satu yang terpenting adalah peran mereka sebagai kekuatan pendorong perubahan dalam masyarakat dunia. Jika ideologi yang dominan pada suatu masa tidak pernah ditantang baik secara individu maupun kolektif, maka perkembangan gagasan baru yang lebih progresif akan mengalami stagnasi dan paralysis.

Sepanjang sejarah yang penuh dengan pemberontakan, banyak anarkis yang dengan gagah berani melawan penindasan dan pelanggaran hak-hak perempuan. Ketika banyak orang mendengar kata “anarkis”, mereka sering langsung membayangkan stereotip seperti kaum hippie yang tinggal di bangunan kosong. Padahal, anarkisme memiliki banyak tokoh, wajah, dan sejarah yang jauh lebih luas daripada gambaran sederhana yang sering disebarkan oleh media arus utama dalam sistem kapitalis. Di bawah payung gagasan humanis yang sering disebut anarkisme, terdapat keyakinan bahwa setiap individu atau kelompok harus memiliki kendali atas hidupnya sendiri, tanpa berada di bawah dominasi diktator atau kekuasaan otoriter siapa pun. Sebagai manusia yang berpikir bebas, kita seharusnya dapat mengarahkan hidup kita sendiri tanpa dipaksa menerima hukum yang tidak adil dan tidak setara yang dibuat oleh kekuatan yang menindas.

Karena itu, dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional, Front Anarkis memperkenalkan sepuluh tokoh perempuan anarkis yang dengan tegas berani menantang sistem kapitalis yang patriarkal dan otoriter.


1. Emma Goldman

Ketika berbicara tentang perempuan tangguh dalam sejarah, nama Emma Goldman pasti selalu muncul. Ia adalah salah satu perempuan pemberontak paling terkenal dan berpengaruh dalam sejarah. 

Emma Goldman adalah seorang penulis, orator hebat, dan aktivis politik anarkis. Ia lahir pada tahun 1869 di Rusia, kemudian bermigrasi ke Amerika Serikat dan tumbuh besar di sana. Ia mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan gagasan-gagasan radikal dan libertarian. Perjuangannya semakin menguat setelah eksekusi beberapa pekerja anarkis yang terlibat dalam demonstrasi di Chicago pada tahun 1886, sebuah peristiwa yang dikenal sebagai “Haymarket Affair”. Pada saat itu para pekerja turun ke jalan secara damai untuk menuntut “delapan jam kerja per-hari” dan memprotes kekerasan polisi. Namun ketika polisi mencoba membubarkan massa, sebuah bom tiba-tiba meledak. Setelah peristiwa itu empat pekerja ditangkap dan dihukum mati meskipun bukti terhadap mereka sangat lemah.

Peristiwa ini memberi dampak besar pada kehidupan Emma Goldman. Setelah itu ia semakin aktif memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama “hak perempuan atas kendali terhadap tubuh dan reproduksi mereka sendiri”. Selama Perang Dunia 1, ia juga menentang wajib militer bagi laki-laki. Karena sikap ini ia ditangkap dan dipenjara selama dua tahun. Setelah dibebaskan, ia terus melakukan protes radikalnya hingga ia akhirnya dideportasi dari Amerika Serikat. Sejak saat itu ia menjalani kehidupan politiknya dalam pengasingan, tanpa pernah menemukan tempat tinggal yang tetap. Ia kemudian pergi ke Rusia dan sempat terlibat dalam revolusi di sana. Namun tidak lama kemudian ia memicu kemarahan anggota-anggota Partai Komunis, karena ia secara terbuka menentang pembentukan negara baru yang otoriter setelah revolusi.

Pada tahun 1989, sebuah dokumen ditemukan yang menunjukkan bahwa Emma Goldman secara terbuka mempertanyakan perlakuan kejam dan menindas dari Vladimir Lenin terhadap kaum anarkis di Uni Republik Sosialis Soviet. Sebagai seorang anarkis sejati, ia secara terbuka mengkritik penindasan dan konflik kelas, baik yang terjadi di Uni Soviet maupun di Amerika Serikat. Ia menghabiskan sisa hidupnya dalam pengasingan dan perjalanan, sambil membela kebebasan manusia dan menuangkan pandangan politiknya melalui berbagai tulisan.

Karena hanya sedikit pemikir pada masanya yang berani menentang kebijakan Amerika Serikat sekaligus Uni Soviet, ia memiliki tempat yang istimewa sebagai salah satu perempuan anarkis paling tangguh di dunia.

Ia pernah mengatakan: “Saya menuntut kebebasan berekspresi bagi semua orang, dan hak setiap orang untuk menikmati hal-hal yang indah dan bercahaya.”

Emma Goldman meninggal dunia pada 14 Mei 1940 di Kanada.


2. Margaret Sanger

Seorang penulis anarkis, perawat, dan pengajar pendidikan seksual. Ia lahir pada 14 September 1879 di New York. Sepanjang hidupnya dalam perjuangan politik, ia memiliki hubungan dekat dengan Emma Goldman. Dengan keberanian besar, mereka menantang tatanan sosial pada zamannya yang penuh dengan penindasan.

Pada tahun 1910, ia pindah ke Greenwich Village di New York City, yang saat itu menjadi pusat berbagai gerakan politik. Di sana, seperti Goldman, ia terlibat dalam berbagai aksi protes, termasuk perjuangan hak untuk bekerja dan hak perempuan untuk mengendalikan kelahiran. Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan istilah “birth control” (pengendalian kelahiran), yang pada masa itu dianggap sebagai gagasan ilegal. Untuk mendukung gagasan tersebut, ia mulai menerbitkan tulisan-tulisan tentang pendidikan seksual, yang kemudian membuatnya ditangkap dan dihukum karena alasan yang tidak jelas.

Untuk menghindari hukuman, ia meninggalkan Amerika Serikat hingga tahun 1915. Tuduhan terhadapnya akhirnya dicabut pada 1916, dan ia kemudian membuka klinik kontrasepsi di Brooklyn. Namun tidak lama kemudian ia kembali ditangkap dan dijatuhi hukuman 30 hari penjara dengan tuduhan mengganggu ketertiban umum. Meskipun demikian, perjuangannya mendapat dukungan luas dari masyarakat. Banyak orang mulai mendukung gagasan “birth control” dan hak reproduksi perempuan. Ia terus menulis dan memberikan pengaruh dalam bidang tersebut. Ia mendirikan berbagai organisasi yang mendukung “birth control”, dan membantu upaya-upaya untuk melegalkan praktik tersebut.

Dalam salah satu publikasi awalnya, ia menulis slogan terkenal:

“No Gods, No Masters!”
(Tidak ada Tuhan, Tidak ada Tuan!)

Margaret Sanger meninggal dunia pada 6 September 1966.


3. Louise Michel

Seorang penulis, guru, dan revolusioner anarkis dari Prancis. Ia lahir pada 29 Mei 1830. Ia merupakan salah satu tokoh penting dalam “Paris Commune” pada tahun 1871.

Dalam peristiwa tersebut, ia berada di garis depan “Garda Nasional” untuk mempertahankan kota Paris. Berbeda dengan kaum liberal yang percaya pada reformasi hukum yang lambat dan bertahap, Michel percaya pada revolusi dan penggunaan kekerasan revolusioner untuk mencapai tujuan perjuangannya.

Ketika tentara Jerman mengepung Paris pada tahun 1870, ia bekerja sebagai tenaga medis dalam layanan ambulans sambil tetap melawan pasukan Prusia yang menyerang kota tersebut.

Pada masa itu, Prancis berada dalam kondisi kekacauan politik. Pemerintah mencoba melucuti senjata warga Paris yang mendukung "Paris Commune". Namun Michel tetap melawan dengan senjata di tangannya. Akhirnya ia menyerah setelah ibunya dijadikan sandera oleh pihak berwenang. Ia ditangkap dan dipenjara. Di pengadilan ia menolak menggunakan pengacara dan memilih membela dirinya sendiri. Pada akhirnya ia dijatuhi hukuman pengasingan.

Selama menunggu masa pengasingan, ia kembali menghadapi tuduhan baru yang membuatnya harus menjalani hukuman penjara tambahan. Dalam masa pengasingannya, Michel terus belajar dan menulis tentang gagasan-gagasan anarkisme. Beberapa waktu kemudian, seluruh anggota "Paris Commune" mendapat amnesti umum dari pemerintah, sehingga Michel dapat kembali ke Prancis dan melanjutkan perjuangannya. Namun tahun tahun 1883, ia kembali ditangkap dan kali ini dijatuhi hukuman enam tahun penjara, setelah sekali lagi mencoba membela dirinya sendiri tanpa pengacara.

Baik di dalam maupun di luar penjara, ia terus menyebarkan gagasan-gagasannya meskipun menghadapi ancaman pembunuhan. Suatu ketika ia bahkan ditembak oleh seseorang yang menentang pandangan politiknya, tetapi ia berhasil selamat dari percobaan pembunuhan tersebut.

Louise Michel tetap menjadi seorang revolusioner anarkis hingga akhir hayatnya. Ia meninggal dunia pada 9 Januari 1905.


4. Marie-Louise Berneri

Ia lahir pada 1 Maret 1918 di Italia, pada masa perubahan besar dalam kehidupan politik dan sosial negara tersebut. Ayahnya adalah tokoh politik yang cukup kontroversial, sehingga keluarganya sering mengalami tekanan. Pada tahun 1926, karena terus menentang munculnya fasisme di Italia di bawah Benito Mussolini, keluarganya terpaksa mengasingkan diri dan pindah ke Prancis, lalu menetap di Sorbonne.

Pada dekade 1930-an, Berneri mulai menulis dan menerbitkan artikel-artikel anarkis dalam bahasa Prancis, yang kemudian juga disebarkan di tanah kelahirannya, Italia. Ketika Perang Saudara Spanyol pecah, ayahnya pergi ke garis depan untuk bertempur. Sementara itu, Berneri pindah ke Inggris. Di sana ia terus menulis dan menerbitkan artikel-artikel dalam bahasa Spanyol, Inggris, Prancis, dan Italia. Setelah perang saudara di Spanyol berakhir, ia merawat anak-anak yang menjadi yatim akibat perang dan menjadi salah satu editor surat kabar berjudul “War Commentary”. Ia dan tiga penulis lainnya kemudian ditangkap karena dituduh mencoba menghasut opini publik. Sementara tiga rekannya diadili, ia dibebaskan karena alasan teknis hukum. 

Walaupun pernah menghadapi ancaman penjara, ia tidak pernah meninggalkan prinsip-prinsipnya dan tetap menerbitkan serta menyebarkan gagasan-gagasan anarkisnya. Marie-Louise Berneri meninggal secara mendadak pada 13 April 1949, pada usia 31 tahun akibat infeksi yang menyebar luas pada masa itu.


5. Madalyn Murray O’Hair

Madalyn Murray O'Hair lahir pada 13 April 1919 di Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai seorang ateis, anarkis, dan aktivis yang sangat vokal. Karena kritik kerasnya terhadap institusi agama yang menurutnya sering menjadi alat penindasan, ia bahkan pernah dijuluki sebagai “perempuan paling dibenci di Amerika.”

O’Hair memiliki kepribadian karismatik dan suara yang sangat lantang. Ia berbicara dengan sangat terbuka tanpa rasa takut mengenai pandangan-pandangannya. Ia pernah mengajukan gugatan hukum untuk menghapus slogan “In God We Trust” pada mata uang dolar, serta penghentian praktik doa di sekolah-sekolah negeri. Pada tahun 1963, Mahkamah Agung Amerika Serikat memutuskan untuk menghentikan pembacaan Alkitab secara resmi di sekolah-sekolah negeri, setelah mendukung gugatan yang diajukan O’Hair.

Ia juga mengajukan puluhan gugatan hukum untuk membela kebebasan beragama dan mempromosikan pandangan feminis-ateis yang radikal, termasuk menulis di majalah "Playboy" tentang hubungan seksual dari sudut pandang perempuan.

Sebagai seorang anarkis, ia berusaha hidup melawan aturan dan norma sosial yang menurutnya menindas. Ia juga mendirikan organisasi "American Atheists" dan terus menantang sistem yang ada sepanjang hidupnya. Namun pada tahun 1995, sebuah peristiwa mengejutkan terjadi. O’Hair tiba-tiba menghilang bersama putra dan cucunya. Sebuah catatan misterius ditempel di pintu kantor organisasi ateis tersebut, dan melalui panggilan telepon seseorang menyatakan bahwa para sandera masih hidup dan aman.

Penyelidikan kemudian mengarah kepada seorang pegawai organisasi itu bernama David Roland Waters, yang memiliki riwayat panjang dalam kejahatan kekerasan dan penipuan. Di pengadilan ia mengakui telah mencuri 54.000 dolar dari kas organisasi. Pacarnya bersaksi bahwa Waters sangat marah terhadap sebuah tulisan O’Hair yang berisi imajinasi tentang penyiksaan terhadap dirinya. Ia kemudian menggunakan kartu kredit O’Hair hingga batas maksimum. Akhirnya penyelidikan FBI menyimpulkan bahwa Waters bersama dua orang lainnya, Danny Fry dan Gary Karr telah membunuh dan memutilasi para korban, sekaligus berusaha mencuri seluruh uang O’Hair.

Beberapa hari setelah O’Hair, putranya, dan cucunya dibunuh pada 29 September 1995, terungkap pula bahwa Waters dan Karr kemudian membunuh Danny Fry. Keduanya akhirnya ditangkap, dan Waters dijatuhi hukuman 80 tahun penjara. Ia kemudian memberi tahu polisi bahwa jenazah keluarga O’Hair dikuburkan di Texas.


6. Lucy Parsons

Lucy Parsons lahir pada 1853 di Texas. Ia adalah seorang anarkis, ateis, dan salah satu perempuan kulit berwarna pertama yang menjadi tokoh penting dalam gerakan buruh Amerika.

Ia bergabung dengan berbagai gerakan politik dan turut berpartisipasi dalam Perang Sipil Amerika melawan rasisme dan sistem penindasan rasial seperti “Jim Crow laws”.

Lucy Parsons memiliki pandangan politik yang sangat radikal. Ia dengan tegas mengatakan: “Negara harus dihapuskan dan sistem kapitalisme harus dihancurkan dengan cara apa pun.”

Ia menulis berbagai artikel protes yang menentang rasisme, seksisme, dan ketidakadilan ekonomi. Ia menikah dengan rekan perjuangannya, Albert Parsons. Di bawah pengaruh gagasan Emma Goldman, mereka terlibat dalam pengorganisiran gerakan protes buruh "Haymarket Affair" di Chicago pada tahun 1886.

Albert Parsons termasuk salah satu buruh yang dieksekusi karena keterlibatannya dalam peristiwa tersebut. Lucy Parsons kemudian menjadi tokoh radikal yang sangat dikenal di Amerika Serikat. Ia terus melanjutkan perjuangan untuk kebebasan, kesetaraan rasial, dan kesetaraan gender, serta menerbitkan berbagai tulisan tentang anarkisme.

Lucy Parsons meninggal dunia pada 7 Maret 1942 di Chicago, kota tempat kelahirannya.


7. Ursula K. Le Guin

Ia lahir pada 21 Oktober 1929 di California. Cara ia menyebarkan gagasan tentang anarkisme dan visi dunia yang lebih baik cenderung halus dan kreatif. Ia melakukannya melalui novel-novel fantasi dan fiksi ilmiah yang menarik, baik untuk pembaca dewasa maupun anak-anak. Melalui karya-karyanya, ia membawa pembaca keluar dari realitas sehari-hari agar dapat melihat masyarakat dari sudut pandang yang lebih luas dan imajinatif, sehingga memungkinkan kritik sosial yang lebih mendalam. Salah satu contoh penting adalah novel utopisnya yang terkenal, “The Dispossessed” yang diterbitkan pada tahun 1974.

Dalam novel tersebut digambarkan dua masyarakat yang hidup berdampingan: yang satu masyarakat kapitalis yang memiliki negara dan pemerintahan, dan yang satu lagi masyarakat anarkis tanpa negara maupun pemimpin. Para tokohnya berusaha menemukan kebebasan dan makna hidup dalam dua sistem sosial yang berbeda tersebut. Dalam tulisannya, Le Guin mengangkat dua gagasan penting: yang pertama, menolak norma-norma sosial yang mapan. Kedua, membayangkan kemungkinan masa depan yang berbeda dan lebih bebas.

Ia juga sangat kritis terhadap konsumerisme yang pasif dan berlebihan, dan sebagai alternatif ia mengusulkan gaya hidup yang lebih sederhana dan bebas dari obsesi material, yang menurutnya lebih sejalan dengan nilai-nilai anarkis. Ursula K. Le Guin meninggal dunia pada 22 Januari 2018.


8. Alexandra David-Néel

Ia lahir pada 24 Oktober 1868 dan dikenal sebagai seorang Buddhis, penulis, petualang, dan anarkis asal Prancis. Ia menolak norma-norma sosial konservatif di Prancis tempat ia dibesarkan.

Sepanjang hidupnya ia menulis lebih dari tiga puluh buku tentang mistisisme Timur dan perjalanan-perjalanannya, mulai dari Afrika Utara hingga India dan Tibet. Karena Inggris menguasai wilayah sekitar Tibet, ia sempat diusir karena dianggap memasuki wilayah tersebut secara ilegal. Ketika Perang Dunia 1 pecah dan menghalangi kepulangannya ke Eropa, ia pergi ke Jepang. Di sana ia bertemu seorang biksu, dan bersama biksu tersebut ia menempuh perjalanan sekitar 3.200 kilometer, sebagian besar dengan berjalan kaki untuk kembali menuju Tibet.

Keduanya menyamar sebagai biksu dan akhirnya berhasil mencapai Lhasa pada tahun 1924, yang merupakan kota suci bagi Buddhisme Tibet. Di sana ia menerjemahkan berbagai teks Buddhis ke dalam bahasa Prancis.

Alexandra David-Néel terus menulis karya-karya filsafat dan spiritual alternatif hingga akhir hayatnya, dan meninggal dunia pada 8 September 1969 pada usia 100 tahun.


9. Voltairine de Cleyre

Ia lahir pada 17 November 1866 di Amerika Serikat dan merupakan salah satu penulis anarkis paling awal di negara tersebut. Ia tertarik pada anarkisme setelah terpengaruh oleh tragedi “Haymarket Affair” di Chicago, ketika para buruh dibunuh dan dihukum mati setelah aksi protes mereka. 

Setelah peristiwa itu, ia menjadi kritikus keras terhadap tatanan sosial yang ada, termasuk negara dan kapitalisme. Ia juga menentang institusi pernikahan tradisional, negara, dan pemerintahan, serta melawan norma-norma sosial pada masa itu yang memberi hak kepada laki-laki dan institusi agama untuk mengontrol kehidupan dan hubungan seksual perempuan.

Pada 19 Desember 1902, salah satu muridnya bernama Herman Helcher mencoba membunuhnya. Percobaan itu gagal, tetapi luka yang ia terima menimbulkan rasa sakit dan masalah kesehatan yang terus ia rasakan sepanjang hidupnya. 

Helcher sebenarnya sedang mengalami demam tinggi dan gangguan mental. Menariknya, Voltairine justru membela muridnya sendiri. Ia percaya bahwa tindakan itu bukan karena kejahatan, melainkan karena penyakit mental, sehingga menurutnya Helcher tidak seharusnya dianggap sebagai penjahat.

Voltairine de Cleyre juga dikenal sebagai penentang militerisme, karena menurutnya militerisme sering menjadi penyebab perang yang dipaksakan kepada masyarakat. Ia juga menentang standar kecantikan dan penampilan yang dipaksakan kepada perempuan pada zamannya.

Sebagai seorang anarkis individualis, sepanjang hidupnya ia dengan tegas membela kebebasan dan hak-hak individu. Voltairine de Cleyre meninggal pada 20 Juni 1912 akibat meningitis (radang selaput otak).


10. Helen Keller

Ia lahir pada 27 Juni 1880 di Amerika Serikat. Ketika berusia 19 bulan, ia kehilangan penglihatan dan pendengarannya. Namun meskipun menghadapi keterbatasan tersebut, ia berhasil menyelesaikan pendidikan universitas dan kemudian terlibat dalam aktivisme politik radikal, termasuk dalam perjuangan untuk hak-hak perempuan penyandang disabilitas dan kaum pekerja. 

Ia juga berteman dengan banyak tokoh anarkis terkenal pada zamannya, termasuk Emma Goldman. Melalui tulisan-tulisannya, meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia mampu memberikan pengaruh besar terhadap cara pandang politik dan sosial para penyandang disabilitas, terutama dalam kaitannya dengan gagasan kebebasan dan kesetaraan. Helen Keller sangat percaya pada kesetaraan manusia dan penghormatan terhadap martabat individu. Ia juga dengan keras mengkritik masyarakat yang menganggap kemiskinan sebagai sesuatu yang wajar.

Meskipun sepanjang hidupnya ia harus menghadapi kondisi fisik yang sangat sulit, ia merasa bahwa “kegelapan dalam dirinya tidak seberapa dibandingkan dengan ketidakadilan sosial di dunia luar.”

Ia pernah menulis: “Kegelapan dalam diriku dipenuhi oleh cahaya kesadaran dan kecerdasan, sementara dunia yang terang di luar sana berjalan terhuyung-huyung dalam kebutaan sosial.”

Ia juga mengkritik kapitalisme dan pasar yang menurutnya menghasilkan kemiskinan dan penderitaan sosial. Dengan kata-kata yang sangat tajam, ia menyerang penindasan, perbudakan, dan sistem politik yang tidak adil, serta menegaskan bahwa:

“Suara uang sering kali lebih keras daripada suara rakyat.”

Bukti dari keyakinan tersebut dapat dilihat baik dalam tulisan-tulisannya maupun dalam perjuangan hidupnya. Helen Keller meninggal pada 1 Juni 1968.


Hidup Anarkisme!
Jin, Jiyan, Azadî! 
Tidak Untuk Mullah!
Tidak Untuk Shah!