Sabtu, 14 Maret 2026

Analisis Politik-Historis tentang Revolusi yang Dicuri di Iran dari Perspektif Anarko-Sindikalis

Penulis: Hasse‑Nima Golkar


Salah satu algojo paling terkenal di dunia yang muncul ke panggung politik setelah protes reaksioner Islamis terhadap “Revolusi Putih” (Revolusi Konstitusional) pada 5 Juni 1963 adalah Ruhollah Khomeini. Ia kemudian diasingkan secara paksa, pertama ke Turki pada November 1964, kemudian ke Iraq pada Oktober 1965, dan akhirnya pada tahun 1978 ke Paris di Prancis.

Pada 1 Februari 1979, ia kembali ke Iran dengan berbagai janji palsu, menipu, dan sikap politik yang penuh kemunafikan. Tidak lama kemudian, pada 11 Februari 1979, ia berhasil merebut kekuasaan negara yang bersifat otoriter dan fasis. Sejak saat itu Iran memasuki masa yang jauh lebih gelap dan hingga hari ini negara tersebut berada dalam kondisi sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang jauh lebih buruk.

Rezim Mohammad Reza Pahlevi memang runtuh, tetapi fondasi sistem kapitalis yang eksploitatif tetap bertahan hampir tanpa perubahan. Bersama fondasi itu, alat-alat kekuasaan seperti penjara, penyiksaan, pembunuhan, eksekusi, perampasan, dan korupsi juga tetap dipertahankan. Sistem monarki yang telah berlangsung selama 2500 tahun hanya menyerahkan kekuasaannya kepada bentuk kekuasaan baru, yaitu kekhalifahan Islam yang mengklaim warisan 1400 tahun lalu. Akibatnya terbentuk proses yang sangat reaksioner dan penuh kontradiksi di seluruh negeri.

Gerakan rakyat yang pada dasarnya tidak bersifat religius mulai muncul dari wilayah pinggiran dan kawasan miskin di Teheran pada pertengahan tahun 1970-an. Gerakan ini perlahan meluas, tetapi akhirnya tersesat dan berubah menjadi apa yang kemudian dikenal sebagai “Revolusi Islam Syiah”.

Peristiwa yang disebut sebagai “Revolusi Iran” sebenarnya bukanlah pembebasan rakyat. Peristiwa itu lebih merupakan pergantian kekuasaan di mana satu elite otoriter menggantikan elite otoriter lainnya. Dengan menggunakan slogan keadilan, moralitas, dan anti-imperialisme, sebuah pemberontakan sosial yang luas akhirnya dibajak oleh gerakan teokratis yang dipimpin oleh elite keagamaan yang memiliki ambisi besar untuk menguasai negara sepenuhnya.

Ketidakpuasan terhadap kediktatoran Shah memang nyata dan berakar kuat. Ketidakpuasan itu lahir dari represi politik, ketidakadilan sosial, kekerasan negara, dan sistem kekuasaan yang sangat terpusat sehingga rakyat diperlakukan seperti bawahan yang tidak memiliki hak. Para pekerja, mahasiswa, perempuan, kelompok etnis minoritas, serta kelompok kiri ikut terlibat dalam protes dengan harapan mendapatkan kebebasan, pengelolaan mandiri, dan kehidupan yang bebas dari teror negara. Namun harapan tersebut dengan cepat dikhianati.

Kepemimpinan religius yang selama bertahun-tahun menentang proyek sekulerisasi yang dilakukan oleh Shah memanfaatkan energi pemberontakan rakyat untuk melegitimasi perebutan kekuasaan mereka sendiri. Melalui retorika populis, penciptaan mitos politik, dan janji-janji palsu tentang demokrasi serta keadilan sosial, bentuk baru penindasan akhirnya didirikan, kali ini dibungkus dengan agama.

Dari perspektif anarkis, peristiwa ini bukanlah revolusi melainkan sebuah kontra-revolusi. Negara tidak dibubarkan tetapi justru diperkuat. Hierarki tidak runtuh tetapi malah dipertegas. Penindasan tidak berakhir tetapi diorganisir kembali. Negara Islam yang baru dengan cepat berubah menjadi alat kekerasan sistematis. Eksekusi mati, penjara, sensor, apartheid gender, dan penganiayaan terhadap orang yang berbeda pandangan dilegalkan dan dilembagakan dalam hukum maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Penindasan yang sangat brutal diarahkan kepada gerakan-gerakan yang berusaha mengorganisir diri secara mandiri. Dewan pekerja, kelompok mahasiswa, organisasi perempuan, dan organisasi kiri yang otonom dihancurkan karena dianggap sebagai ancaman langsung terhadap kekuasaan yang terpusat. Setiap kali rakyat berusaha mengatur kehidupannya sendiri tanpa negara, tanpa partai, dan tanpa otoritas agama, rezim meresponsnya dengan kekerasan.

Sejak tahun 1979, Iran berada dalam cengkeraman sebuah sistem yang dipertahankan melalui rasa takut, ketaatan paksa, dan kontrol ideologis. Negara menggunakan agama untuk menormalisasi keadaan darurat yang berlangsung terus-menerus sehingga kebebasan individu selalu dikorbankan demi kelangsungan kekuasaan. Akibatnya terbentuk masyarakat yang dipenuhi kemiskinan ekonomi, perpecahan sosial, penindasan budaya, dan represi yang terus berlangsung.

Pengalaman Iran menunjukkan dengan sangat jelas bahwa pembebasan sejati tidak pernah datang dari atas. Ia tidak datang dari raja, dari jenderal, ataupun dari ulama. Selama kekuasaan tetap terpusat, apa pun ideologinya, penindasan akan terus direproduksi. Kebebasan hanya dapat dicapai melalui pengorganisasian diri masyarakat, melalui struktur horizontal, dan melalui perlawanan kolektif terhadap semua bentuk otoritas, baik otoritas negara, agama, maupun kekuasaan ekonomi.


Latar Belakang Singkat

Sebagian besar ilusi romantis rakyat Iran tampak jelas dalam demonstrasi tahun 1979, yang diringkas dalam slogan: “Jika setan pergi, malaikat akan datang.”

Dengan cara yang sama, sebagian besar gerakan kiri di Iran juga tidak memiliki strategi perjuangan yang jelas dan terorganisir. Mereka mabuk oleh apa yang disebut sebagai “musim semi kebebasan”, sebuah masa yang dipenuhi pesan politik yang ambigu, ilusi yang kuat, dan pandangan romantis tentang apa yang mereka bayangkan sebagai revolusi sosialis. Dalam keadaan itu, mereka seolah melupakan bahwa struktur kekuasaan Islam Syiah dibangun di atas kebohongan, kemunafikan, dan kontrol otoriter. Akibatnya mereka langsung terjebak dalam perangkap para mullah dan tenggelam dalam kekuasaan yang dibangun oleh Ruhollah Khomeini.

Sebelum merebut kekuasaan, Khomeini menjanjikan berbagai hal besar kepada rakyat. Ia berbicara tentang kemerdekaan, kebebasan, kemuliaan moral manusia, dan kehidupan religius. Pada saat yang sama ia juga menjanjikan listrik, air, perumahan, dan transportasi umum gratis. Namun tidak lama kemudian ia menyatakan bahwa “ekonomi adalah urusan keledai”, sambil sekaligus meminta maaf karena menurutnya sejak awal ia belum cukup bersikap revolusioner.

Dalam pertemuan-pertemuan tertutup dengan para ulama serta dalam berbagai pidato publik, ia bahkan menyatakan bahwa jika sejak awal mereka bertindak lebih keras seperti revolusi lain, mereka seharusnya sudah menutup surat kabar yang mengkritik Islam dan mengeksekusi ribuan pengkritik rezim di depan umum. Menurutnya, dengan cara itu semua masalah akan selesai. Kemudian ia menandatangani sebuah keputusan yang memberi wewenang kepada pengadilan Islam untuk mengeksekusi para tahanan politik tanpa belas kasihan jika mereka tetap mempertahankan kritik terhadap Islam Syiah versi pemerintah.

Pada musim panas 1982 dan 1988, dua pembantaian besar terjadi di penjara-penjara Iran atas perintah langsung Khomeini. Ribuan tahanan politik dieksekusi dan dikuburkan dalam kuburan massal tanpa nama di berbagai wilayah negara. Protes mahasiswa di Universitas Teheran pada tahun 1999 terhadap kebijakan sosial dan ekonomi rezim juga ditindas secara brutal. Protes terhadap kecurangan pemilu tahun 2009, yang dikenal sebagai “Green Movement”, juga dihancurkan dengan kekerasan. Gelombang protes nasional pada tahun 2017 dan 2019 mengalami penindasan keras yang sama. Pemberontakan panjang “Jin, Jiyan, Azadi” pada tahun 2022 juga dipadamkan dengan kekerasan besar. Gelombang protes nasional terbaru pada Desember 2025 hingga Januari 2026, yang dipicu oleh krisis ekonomi parah, inflasi yang tak terkendali, jatuhnya nilai mata uang nasional, ketidakstabilan pasar, dan kehancuran ekonomi; sekali lagi dihancurkan secara brutal dengan ribuan korban tewas (40 rb lebih korban pembantaian dan penghilangan paksa) dan terluka.

Kini, sekali lagi, ilusi romantis lama bahwa “ketika setan pergi, malaikat akan datang” mengancam untuk membawa sejarah kembali ke tahun 1979. Kali ini para pendukung monarki lama mencoba menghidupkan kembali kekuasaan yang hilang dari dinasti Pahlevi di bawah kepemimpinan Reza Pahlevi.

Kekuatan kiri-sosialis di Iran, setelah lebih dari lima puluh tahun mengalami represi brutal sejak masa monarki hingga pemerintahan saat ini, serta karena kebingungan politik dan ideologis yang berkepanjangan, masih terjebak dalam pola lama yang berfokus pada model negara-partai. Akibatnya mereka tertinggal dari gerakan rakyat yang bergerak cepat untuk menumbangkan negara Islam Syiah yang berkuasa di Iran. Mereka juga tidak memiliki mekanisme dan kapasitas yang cukup untuk menghadapi serangan kekuatan kanan fasis yang mendukung kembalinya monarki. Setelah hampir 47 tahun aktivitas politik dan organisasi, mereka tetap belum siap menghadapi masa-masa yang gelap dan berbahaya seperti sekarang.

Sebaliknya, gerakan anarkis yang masih relatif baru di Iran, meskipun telah melalui hampir dua dekade aktivitas yang penuh kesulitan dan memiliki sumber daya yang sangat terbatas, tetap berusaha menyebarkan gagasan-gagasannya sejauh kemampuan mereka. Gagasan tersebut mencakup pengelolaan mandiri individu dan kolektif, pengorganisasian horizontal tanpa hierarki partai dan kepemimpinan tunggal, solidaritas internasional, serta mutual aid (saling membantu). Dengan berpegang pada prinsip-prinsip tersebut, gerakan ini berusaha mempertahankan jalannya sendiri sebagai gerakan pembebasan yang independen.

"Tidak seorang pun akan menghadiahkan kemenangan dan kebahagiaan kepada kita! Bukan tuhan, bukan raja, dan bukan pula pahlawan. Kebebasan harus kita rebut dengan tangan kita sendiri, dengan melanjutkan perjuangan sampai pertempuran terakhir!"

—L'Internationale


Hancurkan Negara Fasis Islam yang Berkuasa di Iran!
Tidak untuk Mullah, Tidak untuk Shah!
Hidup dan Jayalah: Jin, Jiyan, Azadi!
Hidup Anarkisme!



Diterjemahkan dari: