Jumat, 20 Maret 2026

Rojava Menghadapi Ancaman Serius, bahkan Risiko Genosida

Penulis: Hasseh-Nima Golkar


Kobane, kota yang menjadi simbol perlawanan terhadap ISIS pada tahun 2013, kini kembali berada di bawah ancaman. Kota ini kembali tertekan oleh kekuatan Islamis ekstrem yang berafiliasi dengan penguasa Suriah dan Turki, dengan persetujuan diam-diam dari Amerika Serikat dan beberapa negara Eropa.

Saat ini yang terjadi di wilayah utara dan timur Suriah (Rojava) adalah upaya mengisolasi kawasan tersebut melalui pemutusan akses air dan listrik. Tindakan ini bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari rencana yang lebih luas, di mana kekuatan global memanfaatkan figur seperti Ahmad al-Sharaa untuk menekan masyarakat-masyarakat otonom dari berbagai latar etnis dan agama yang berusaha menentukan nasib mereka sendiri.

Nesrin Abdullah, komandan senior pasukan di Rojava, dalam sebuah konferensi pers memperingatkan bahwa Kobane kini dikepung oleh pasukan pemerintah transisi Damaskus. Intensitas serangan dalam beberapa hari terakhir terus meningkat, dan garis depan kini hanya berjarak sekitar 30 kilometer dari kota. Ia juga menyoroti ancaman serius lain, yaitu kemungkinan jatuhnya penjara-penjara yang menahan anggota ISIS ke tangan pasukan pemerintah. Jika para tahanan tersebut dibebaskan, termasuk ratusan pelaku kejahatan paling berbahaya, maka keamanan dan stabilitas kawasan akan terancam, bahkan berpotensi menimbulkan risiko genosida. Karena itu, ia menyerukan kepada masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan guna mencegah bencana kemanusiaan.

Nesrin Abdullah juga menegaskan bahwa Rojava memiliki sejarah panjang dalam melawan kelompok-kelompok teroris. Ia menyatakan bahwa mereka akan terus bertahan hingga titik darah penghabisan, karena mereka adalah pemilik sah tanah tersebut dan tidak akan membiarkannya jatuh ke tangan kekuatan negara yang represif.

Perlu diingat bahwa Ahmad al-Sharaa, yang sebelumnya dikenal sebagai Muhammad al-Julani, memiliki latar belakang dalam jaringan jihadisme, termasuk keterkaitannya dengan Abu Bakar al-Baghdadi di Irak dan Suriah. Ia berperan dalam pembentukan kelompok Jabhat al-Nusra, yang kemudian berkembang menjadi Hayat Tahrir al-Sham melalui penggabungan berbagai kelompok Islamis. Melalui serangkaian operasi militer, ia berhasil memperluas pengaruhnya dari wilayah Aleppo hingga akhirnya merebut Damaskus dalam waktu singkat dan menggulingkan pemerintahan Bashar al-Assad pada 8 Desember 2024.

Dari sudut pandang anarkis, Rojava bukan sekadar wilayah geografis atau front militer. Ia adalah sebuah eksperimen nyata tentang kemungkinan membangun masyarakat tanpa negara, tanpa dominasi kapitalisme, dan tanpa struktur patriarki. Selama lebih dari satu dekade, wilayah ini telah mencoba membangun sistem pengelolaan berbasis dewan, konfederalisme demokratis, kesetaraan gender, keberagaman etnis dan agama, serta ekonomi yang berlandaskan kerja sama.

Model ini bertentangan secara mendasar dengan logika negara-bangsa, batas-batas buatan (perbatasan negara), otoritarianisme, dan tatanan kapitalisme global. Oleh karena itu, keberadaannya memicu reaksi keras dari negara-negara regional, kekuatan global, dan kelompok fundamentalis, karena menunjukkan bahwa masyarakat bisa mengatur dirinya sendiri tanpa negara terpusat, tanpa militer profesional yang terpisah dari rakyat, dan tanpa hierarki yang menindas.

Pemutusan air dan listrik, ancaman pembebasan tahanan ISIS, serta serangan militer hanyalah bentuk nyata dari satu logika lama, yaitu dominasi. Logika ini bisa muncul dalam bentuk pemerintah transisi Suriah, negara Turki, maupun dalam narasi “perang melawan terorisme” oleh Amerika dan Eropa. Namun pada dasarnya, semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu menghancurkan setiap contoh keberhasilan pengorganisasian diri yang bisa menginspirasi kelompok tertindas di tempat lain.

Rojava juga memiliki arti penting bagi gerakan anarkis global karena menghubungkan perjuangan melawan negara dan kapitalisme dengan pembebasan perempuan, penghancuran struktur patriarki, dan penolakan terhadap nasionalisme sempit. Slogan “Jin, Jiyan, Azadî" (Perempuan, Kehidupan, Kebebasan) bukan sekadar simbol, melainkan inti dari sebuah proyek revolusioner yang menggabungkan kebebasan individu dan kolektif, penolakan terhadap otoritas negara, agama, dan etnis, serta upaya membangun hubungan sosial yang baru.

Karena itu, membela Rojava berarti membela martabat manusia dalam arti yang paling mendasar: hak untuk mengatur kehidupan tanpa penguasa, tanpa tentara pendudukan, tanpa kapitalis, dan tanpa otoritas agama. Ini adalah gagasan bahwa dunia bisa dibangun di atas solidaritas, kerja sama, dan pengelolaan mandiri, bukan atas dasar batas-batas negara dan kekuasaan yang menindas.

Menghadapi aliansi antara kekuatan global, negara-negara regional, dan fundamentalisme agama, jawaban dari perspektif anarkis adalah memperkuat solidaritas internasional. Solidaritas antara pekerja, perempuan, pemuda, kelompok etnis dan agama minoritas, serta semua pihak yang tertindas oleh sistem negara dan kapitalisme.

Rojava bukan hanya milik penduduknya, tetapi juga milik semua orang yang di berbagai penjuru dunia yang berjuang untuk kebebasan, kesetaraan, dan dunia tanpa penindasan.


Jin, Jiyan, Azadî! 
Hidup dan Bertahanlah Rojava! 
Jauhkan Tangan Kekuasaan Negara dari Rojava!