Penulis: Rahyab
Pada hari-hari dan malam-malam ketika Pakistan menyerang wilayah Afghanistan, dan pada saat yang sama ketika Amerika Serikat dan Israel menyerang Iran, sebuah kenyataan pahit namun sangat bermakna muncul ke permukaan. Kenyataan ini sebenarnya telah lama menumpuk di lapisan tersembunyi masyarakat selama bertahun-tahun. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar rakyat Afghanistan dan Iran bukan hanya tidak memiliki keterikatan yang mendalam terhadap rezim yang berkuasa, tetapi bahkan sering kali menunggu celah sekecil apa pun atau tekanan dari luar yang mungkin membuka kesempatan bagi mereka untuk membebaskan diri dari struktur kekuasaan yang otoriter itu.
Perbandingan Sejarah
Dalam pengalaman sejarah banyak masyarakat, ketika sebuah negara menghadapi invasi dari luar, bahkan rakyat yang tidak puas terhadap pemerintahnya biasanya akan bersatu melawan agresor. Solidaritas kolektif dan semangat mempertahankan tanah air biasanya muncul. Orang-orang mungkin tidak setuju dengan pemerintah mereka, tetapi untuk sementara mereka bersatu menghadapi ancaman dari luar.
Namun dalam kasus Afghanistan dan Iran, pengamatan menunjukkan sesuatu yang berbeda dari pola sejarah tersebut. Dalam banyak situasi, tidak muncul pembelaan luas dari rakyat terhadap rezim yang berkuasa. Sebaliknya, di berbagai lapisan masyarakat terlihat sikap acuh tak acuh, diam, bahkan harapan tersembunyi agar struktur kekuasaan itu melemah. Hal ini menunjukkan adanya jurang yang sangat dalam antara pemerintah dan masyarakat, yang terbentuk akibat bertahun-tahun represi politik, pembatasan sosial yang luas, diskriminasi sistematis, dan perampasan hak-hak kebebasan dasar.
Kegagalan Bersejarah
Bagi setiap sistem politik, terutama yang mengklaim mewakili rakyat dan membela nilai-nilai agama, kondisi seperti ini merupakan sebuah kekalahan bersejarah. Pemerintahan yang tidak mampu menggalang dukungan dan kepercayaan rakyatnya pada saat krisis sebenarnya telah runtuh secara sosial jauh sebelum runtuh secara politik.
Hal ini menunjukkan betapa luasnya tekanan, represi, dan pembatasan yang telah diberlakukan. Sampai pada titik di mana sebagian masyarakat memandang runtuhnya rezim seperti itu, dari mana pun asalnya, sebagai sebuah bentuk pembebasan.
Reaksi dari Luar
Salah satu hal yang menarik adalah reaksi sebagian orang di luar Iran terhadap peristiwa-peristiwa di dalam negeri tersebut. Banyak orang Iran memandang kematian pemimpin Republik Islam sebagai simbol berakhirnya penindasan dan tirani yang telah berlangsung lama, bahkan disertai dengan perasaan terbebas.
Namun di negara-negara seperti Afghanistan, Pakistan, India, dan beberapa wilayah lainnya, ada kelompok-kelompok yang justru berkabung dan membela tokoh tersebut. Perbedaan reaksi ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai sifat solidaritas ideologis dan kesenjangan antara pengalaman hidup masyarakat yang benar-benar mengalaminya dengan persepsi orang-orang di luar.
Kenyataannya, banyak dari mereka yang membela struktur kekuasaan semacam itu di luar Iran tidak pernah mengalami kehidupan sehari-hari di bawah bayang-bayang aparat keamanan, penjara politik, eksekusi, sensor luas, dan represi sistematis. Karena itu, bagi mereka yang hidup di bawah sistem tersebut, simpati atau pujian terhadap rezim seperti itu sering terasa sulit dipahami. Bahkan bisa dianggap sebagai pengabaian terhadap penderitaan para korban dan pengorbanan mereka yang selama bertahun-tahun berjuang demi kebebasan dan keadilan.
Perspektif Anarkis
Dari sudut pandang pemikiran anarkis, situasi ini sekali lagi memperlihatkan sebuah kebenaran mendasar: setiap struktur kekuasaan yang dibangun di atas ketakutan, pemaksaan ideologi, dan penindasan sosial pada akhirnya akan kehilangan legitimasi di mata rakyat.
Pemerintah mungkin bisa bertahan untuk sementara waktu melalui tentara, penjara, aparat keamanan, dan propaganda ideologis. Namun ketika sebagian besar masyarakat secara batin menginginkan berakhirnya rezim tersebut, maka kekuasaan itu sebenarnya sudah runtuh dari dalam, meskipun secara formal masih berkuasa. Yang tersisa bukan lagi sebuah tatanan politik yang sah, melainkan sebuah struktur yang bertahan hanya dengan kekuatan dan rasa takut. Sejarah menunjukkan bahwa tidak ada sistem yang dapat bertahan lama di atas fondasi yang rapuh seperti itu.
Kediktatoran religius mungkin untuk sementara dapat mengontrol tubuh manusia, membungkam suara, dan menekan protes. Tetapi mereka tidak pernah sepenuhnya mampu menahan gagasan tentang kebebasan dalam pikiran manusia.
Aspirasi untuk kebebasan, keadilan, dan martabat manusia selalu menemukan jalannya di dalam hati masyarakat, bahkan setelah bertahun-tahun tersembunyi di bawah tekanan dan keheningan.
16 Esfand 1404
16 Hoot 1404