1. Wikipedia — Evin Prison: en.wikipedia.org/wiki/Evin_Prison
2. Human Rights Watch — "Like the Dead in Their Coffins": hrw.org/reports/2004/iran0604/5.htm
3. Iran International — Evin Ward 4 conditions: iranintl.com/en/202406157248
4. Iran HRM — Iran Prisons Information: iran-hrm.com/iran-prisons-information
5. Iran International — Fears grow for prisoners during war: iranintl.com/en/20260305
6. Jerusalem Post — What is Evin Prison: jpost.com/middle-east/iran-news/article-858692
7. TIME — Fears Rise for Political Prisoners: time.com/7382157/iran-political-prisoners-evin
8. Iran HRM — Urgent Report March 2026: iran-hrm.com/2026/03/02/urgent-report-emergency-situation
9. WNCRI — Humanitarian Crisis in Evin Prison: wncri.org/2025/12/15/humanitarian-crisis-in-evin-prison
10. WNCRI — Conditions of Female Political Prisoners: wncri.org/2025/12/26/conditions-of-female-political-prisoners
11. IranWire — Like Purgatory: iranwire.com/en/politics/110408
12. Iran International — Ward 209 conditions: iranintl.com/en/202501168258
13. Iran International — Narges Mohammadi account: iranintl.com/en/20230119
14. Foreign Policy — Political Prisoners in the Firing Line: foreignpolicy.com/2026/03/16/iran-war-political-prisoners-detainees
15. Iran HRM — Political Prisoners in the Firing Line: iran-hrm.com/2026/03/18/irans-political-prisoners-are-in-the-firing-line
16. Amnesty International — March 6, 2026 report on Evin Prison conditions: amnesty.org
17. BBC Persian/Iran Wire — October 2022 Evin Fire coverage
Bebas seperti udara! Siapapun boleh membaca, menyebarluaskan, dan memanfaatkan semua bacaan di blog ini untuk tujuan apapun.
Rabu, 25 Maret 2026
PENJARA EVIN: Rumah Kegelapan Iran
Sejarah dan Lokasi
Dibangun pada tahun 1972 di bawah pemerintahan Mohammad Reza Shah, Penjara Evin menempati kompleks seluas lima hektare di utara Teheran, di kaki Pegunungan Alborz. Setelah Revolusi Islam 1979, penjara ini dialihfungsikan oleh Kementerian Intelijen sebagai pusat penahanan utama bagi tahanan politik rezim. Fungsi penjara ini tidak berubah setelah revolusi, yang berubah adalah para korbannya. Di bawah pemerintahan Shah, penjara ini menahan kaum kiri dan revolusioner. Di bawah Ruhullah Khomeini dan para penerusnya, penjara ini juga menahan kaum revolusioner yang sama, beserta siapa pun yang berani bersuara melawan rezim.
Bagi banyak warga Iran, Penjara Evin identik dengan represi politik dan penyiksaan. Ia dikenal sebagai “Universitas Evin”, namun ini bukan sekolah. Pemukulan, penyiksaan, eksekusi, dan interogasi brutal adalah hal yang lazim, di mana selama empat dekade jeritan penderitaan para tahanan seakan ditelan oleh dinding kusam fasilitas tersebut. Saat ini, penjara ini diperkirakan menahan sekitar 10.000 hingga 15.000 orang, termasuk demonstran, jurnalis, akademisi, warga negara ganda, serta turis asing yang dituduh melakukan spionase atau “permusuhan terhadap Tuhan”.
Blok-Blok Penjara
Evin bukan sekadar satu penjara, melainkan kompleks berbagai sistem penahanan yang beroperasi di bawah otoritas berbeda, masing-masing dengan logika represi tersendiri.
"Blok 209" adalah yang paling ditakuti. Dikelola oleh Kementerian Intelijen dan Keamanan (MOIS), blok ini selalu dipenuhi orang-orang yang ditahan dengan tuduhan mengancam stabilitas nasional atau berpartisipasi dalam protes. Mereka ditempatkan dalam isolasi dan menjalani interogasi intensif. Para tahanan ini, yang berada dalam status penahanan sementara, hidup dalam kondisi yang sangat tidak manusiawi di sel isolasi dan dirampas hak-hak dasarnya.
Seorang mantan tahanan asal Prancis menggambarkan pengalaman di Blok 209 secara rinci setelah dibebaskan: para tahanan menjalani interogasi dengan mata tertutup, dipaksa memberikan pengakuan, dan memiliki kontak yang sangat terbatas dengan dunia luar.
“Penyiksaan ini bertujuan agar ketika anda dibawa ke ruang interogasi dengan mata tertutup, anda akan mengakui apa yang mereka inginkan. Pengakuan itu bisa berupa dokumen yang ditandatangani atau bahkan pengakuan paksa.”
"Blok 2-A" berada di bawah kendali Garda Revolusi Islam (IRGC) dan menahan tahanan politik dalam isolasi selama berbulan-bulan tanpa akses terhadap cahaya matahari.
"Blok 4" menampung tahanan politik dalam kondisi kelebihan kapasitas yang parah. Awalnya dirancang untuk 120 orang, aula 3 dan 4 kini menampung lebih dari 300 tahanan. Kepadatan ini menyebabkan kondisi tidur yang sempit dan masalah kebersihan yang serius. Banyak tahanan terpaksa tidur di lantai, yang mengakibatkan meningkatnya penyebaran kutu busuk dan penyakit lainnya.
"Blok 6-7" diperuntukkan bagi pelaku kejahatan finansial dan pencurian.
"Blok Perempuan" memiliki bagian khusus tersendiri, yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah.
Perlakuan terhadap Tahanan Politik
Laporan Amnesty International tahun 2020 berjudul “Trampling Humanity” mendokumentasikan penangkapan massal pasca gelombang protes November 2019 dan menyimpulkan bahwa para tahanan di Evin secara rutin mengalami pemukulan, sengatan listrik, dan kekerasan seksual, tanpa adanya pengawasan yang berarti.
Para tahanan juga melaporkan berbagai bentuk perlakuan tidak manusiawi, termasuk kekerasan seksual yang meluas, pemukulan, perampasan waktu tidur, makanan yang tidak layak konsumsi, isolasi berkepanjangan, kepadatan berlebih, kondisi sanitasi yang buruk, penolakan perawatan medis, serta pemaksaan pengakuan palsu yang kemudian disiarkan melalui televisi negara.
Tuduhan yang digunakan untuk membenarkan penahanan sering kali sengaja dibuat kabur, seperti “melakukan kerusakan di muka bumi” dan “permusuhan terhadap Tuhan”, dengan ancaman hukuman termasuk eksekusi gantung. Tuduhan-tuduhan ini tidak memerlukan bukti maupun standar pembuktian yang jelas, dan pada praktiknya digunakan untuk membungkam.
Peraih Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi, yang pernah dipenjara di Evin telah mendokumentasikan penyiksaan sistematis dari dalam selnya. Dalam sebuah dokumen yang ia terbitkan, ia mengungkap penderitaan para perempuan yang mengalami isolasi berkepanjangan, interogasi keras, serta dijebak atas kejahatan yang tidak mereka lakukan.
Dengan menyebutkan nama 58 tahanan, ia menggambarkan sel isolasi di blok-blok yang berada di bawah kendali Kementerian Intelijen dan Garda Revolusi sebagai “pelanggaran berat terhadap hak asasi manusia dan bentuk penyiksaan putih/white torture (penyiksaan psikologis melalui isolasi dan tekanan mental)”, serta menyatakan bahwa 57 dari 58 tahanan perempuan telah mengalami “penyiksaan tidak manusiawi yang mengerikan.”
Blok Perempuan
Kondisi perempuan di Evin mencerminkan bentuk kekerasan berbasis gender yang spesifik dan sistematis oleh negara.
Perempuan memiliki bagian khusus di Evin. Mereka ditempatkan di empat sel yang padat, sering kali berbagi ruang hingga dengan 20 orang.
Sebuah laporan pada Desember 2025 mendokumentasikan kondisi di blok perempuan secara rinci: para tahanan politik perempuan dikurung di ruang bawah tanah yang sangat tidak higienis, minim ventilasi, dan jauh dari standar dasar sanitasi, kesejahteraan, serta kebersihan pribadi. Dilaporkan adanya infestasi tikus dan hama lainnya yang persisten dan berbahaya, dengan perkiraan mencapai hingga 100 ekor tikus di dalam blok tersebut. Meskipun telah ada peringatan berulang, pihak penjara gagal melakukan pengendalian hama, sanitasi, maupun pembersihan.
Sekitar 60 tahanan politik perempuan saat ini ditahan di blok perempuan. Para tahanan melaporkan adanya kontaminasi luas di lorong dan ruang sel, serta keberadaan tikus dan serangga yang terus-menerus. Rekaman audio yang diperoleh IranWire dari dalam Blok 209 mengungkap kondisi perempuan secara lebih langsung: “Kekurangan makanan, rasa lapar yang terus-menerus, tidak adanya buah dan serat, kondisi kamar mandi dan toilet yang sangat kotor, serta tidak adanya akses ke dokter, terutama bagi perempuan yang menderita penyakit infeksi, merupakan masalah utama perempuan di Evin.”
Banyak tahanan mengalami kondisi ini hingga 50 hari lebih dalam sel, dengan hanya 20 menit paparan sinar matahari per minggu.
Pada Desember 2022, peraih Nobel Perdamaian, Narges Mohammadi menulis surat dari selnya yang merinci kekerasan seksual dan pelecehan sistematis oleh penjaga serta interogator penjara. Akses terhadap layanan medis juga secara sistematis ditolak: tahanan politik perempuan bahkan tidak mendapatkan layanan kesehatan dasar, termasuk akses ke dokter spesialis, obat-obatan penting, maupun rujukan ke rumah sakit di luar penjara. Sembilan tahanan politik perempuan di blok ini, termasuk dua yang dijatuhi hukuman mati, telah ditolak haknya untuk bertemu dengan keluarga dan pengacara mereka.
Anak di Bawah Umur di Evin
Republik Islam juga telah memenjarakan anak di bawah umur di Evin, yakni anak-anak yang ditangkap selama protes, ditahan bersama orang dewasa, serta dirampas hak atas pendidikan dan kebutuhan dasar mereka.
Selama pemberontakan "Jin, Jiyan, Azadi" tahun 2022 dan protes Januari 2026, anak-anak termasuk di antara mereka yang ditangkap secara massal dan dipindahkan ke fasilitas penahanan orang dewasa. Sebagian dari mereka ditahan di Blok 209 dalam kondisi yang sama seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, yaitu isolasi, interogasi, dan penolakan perawatan medis.
Pemenjaraan sistematis terhadap anak-anak karena aktivitas politik merupakan pelanggaran terhadap seluruh standar internasional dalam sistem peradilan anak.
Pembantaian 1988—Bab Paling Gelap
Tidak ada uraian tentang Evin yang lengkap tanpa membahas pembantaian tahun 1988. Pada musim panas 1988, Ruhullah Khomeini mengeluarkan fatwa yang memerintahkan eksekusi massal terhadap tahanan politik.
Dalam hitungan minggu, ribuan tahanan, banyak di antaranya telah menjalani hukuman, dieksekusi secara diam-diam dan dikuburkan di kuburan massal. Evin menjadi salah satu lokasi utama pembantaian ini. Jumlah korban yang pasti tidak pernah diakui secara resmi, dengan perkiraan berkisar dari beberapa ribu hingga lebih dari sepuluh ribu orang.
Kuburan di pemakaman Khavaran di tenggara Teheran hingga hari ini masih menjadi tempat berkabung sekaligus sasaran tekanan negara.
Kebakaran Oktober 2022
Kebakaran di Penjara Evin pada 15 Oktober 2022 merupakan salah satu peristiwa paling signifikan dan kontroversial selama gelombang protes nasional di Iran.
Insiden tersebut terjadi pada malam 15 Oktober 2022, di tengah pemberontakan yang dipicu oleh kematian Mahsa Jina Amini. Suara tembakan dilaporkan terdengar terlebih dahulu, diikuti oleh kebakaran yang terjadi di beberapa bagian penjara, khususnya di Blok 7 dan gudang pakaian.
Video yang beredar menunjukkan kobaran api dan asap tebal membumbung dari dalam kompleks penjara, sementara suara tembakan terus-menerus terdengar.
Terdapat dua versi yang saling bertentangan mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Versi resmi dari Republik Islam menyatakan bahwa insiden tersebut disebabkan oleh perkelahian antar tahanan dan pembakaran gudang, serta bahwa situasi telah berhasil dikendalikan. Sementara itu, kesaksian para tahanan dan sumber tidak resmi menyampaikan cerita yang berbeda, yaitu bahwa bentrokan dengan aparat keamanan serta penggunaan senjata tajam dan senjata api memainkan peran utama, dan bahwa kebakaran terjadi dalam konteks represi di dalam penjara.
Menurut angka resmi, sedikitnya 8 orang tewas, yang disebut sebagian besar merupakan tahanan kasus finansial, dan puluhan lainnya terluka. Namun, sumber independen menyatakan kemungkinan jumlah korban yang lebih tinggi. Banyak tahanan mengalami luka bakar, menghirup asap beracun, dan mengalami cedera pernapasan serius, kondisi yang sesuai dengan situasi terperangkap di dalam fasilitas tertutup yang terbakar tanpa ventilasi.
Setelah kejadian tersebut, sebagian tahanan dipindahkan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan, sementara yang lain dipindahkan ke penjara lain. Muncul laporan mengenai terbatasnya akses terhadap perawatan medis, serta pemulangan cepat beberapa tahanan ke dalam tahanan sebelum mereka benar-benar pulih.
Insiden ini terjadi pada puncak gelombang protes nasional setelah kematian Mahsa Jina Amini, dan ditafsirkan sebagai tanda meningkatnya tekanan keamanan terhadap para tahanan, kebijakan kekerasan yang disengaja terhadap mereka yang ditahan, serta krisis manajemen dan akuntabilitas dalam sistem penahanan Iran. Ini bukan peristiwa terisolasi, melainkan sebuah gejala.
Apa yang Terjadi Saat Ini—Selama Perang
Perang yang sedang berlangsung telah mengubah Evin dari tempat represi sistematis menjadi lokasi krisis akut.
Laporan lapangan menunjukkan runtuhnya seluruh struktur administrasi dan manajemen di Penjara Evin seiring eskalasi konflik militer. Aparat administratif meninggalkan pos mereka, sehingga pengawasan terhadap pemenuhan kebutuhan dasar para tahanan berhenti. Di Blok Perempuan dan Blok 7, distribusi makanan telah sepenuhnya terhenti. Di beberapa blok lain, hanya sejumlah kecil roti yang diberikan. Penutupan kantin penjara serta ketiadaan tanggung jawab dari pihak berwenang telah menghilangkan kemungkinan bagi tahanan untuk memenuhi kebutuhan dasar mereka sendiri.
Sejumlah organisasi hak asasi manusia memperingatkan adanya krisis kemanusiaan yang sedang terjadi. Tatanan administratif di dalam Evin pada dasarnya telah runtuh, para penjaga meninggalkan pos mereka sementara pintu-pintu sel tetap terkunci, membuat para tahanan terkurung di dalam. Distribusi makanan dan layanan medis sebagian besar telah dihentikan, sementara toko penjara yang menjadi sumber utama makanan dan air minum juga ditutup. Dalam beberapa kasus, tahanan politik dipindahkan ke lokasi yang tidak diketahui tanpa pemberitahuan kepada keluarga mereka.
Seorang ilmuwan Swedia-Iran yang dijatuhi hukuman mati, Ahmadreza Djalali, berhasil menghubungi istrinya melalui telepon pada 3 Maret.
“Koneksi sangat buruk dan sering terputus, tetapi ia menelepon kembali, dan kami berbicara mungkin sekitar dua menit.”
Ia mengatakan bahwa mereka dapat mendengar ledakan bom di sekitar, tetapi pintu-pintu blok tetap terkunci.
Menurut laporan Amnesty International tertanggal 6 Maret, kartu elektronik yang digunakan tahanan untuk membeli makanan dan air di toko penjara tidak lagi berfungsi. Para tahanan melaporkan kepadatan ekstrem dan kondisi sanitasi yang semakin memburuk. Mereka juga mengalami penolakan atau penundaan perawatan medis, bahkan ketika interogasi tetap berlangsung.
Situs lembaga bantuan hukum Dadban memperingatkan bahwa periode ketegangan politik atau militer yang tinggi di Iran sering kali diikuti dengan perlakuan yang lebih keras terhadap tahanan politik: “Di Republik Islam, dalam masa ketegangan politik atau militer yang parah, risiko meningkatnya represi dan bahkan pembalasan terhadap tahanan politik akan meningkat.”
Selama perang 12 hari pada Juni 2025, Evin secara langsung menjadi target serangan: Israel membombardir penjara tersebut saat jam kunjungan. Serangan ini melibatkan delapan kali hantaman dan menewaskan sedikitnya 80 orang, termasuk tahanan dan pekerja sosial, menurut investigasi Human Rights Watch. Kini, dengan perang baru yang jauh lebih intens, sebagian dinding Penjara Evin kembali menjadi target serangan rudal dan mengalami kerusakan.
Jumlah staf saat ini telah menurun drastis. Pada 2 Maret 2026, polisi anti huru-hara Iran mengambil alih kendali penjara dari petugas reguler. Laporan menyebutkan bahwa selama perang, para tahanan dibiarkan terkunci di dalam sel, sementara penjaga sebagian besar tidak berada di tempat, membuat mereka terperangkap tanpa pengawasan, makanan, maupun bantuan yang memadai.
Menurut laporan terbaru, jumlah staf dan aparat keamanan di Penjara Evin terus menurun, sehingga fasilitas ini kini beroperasi dengan personel yang sangat terbatas.
Kerangka Hukum yang Dilanggar
Ketika para tahanan di Evin sengaja dikurung di dalam blok, ditinggalkan oleh penjaga, dan dibiarkan tanpa makanan maupun perawatan, hukum internasional secara tegas melarang kondisi semacam ini. Situasi tersebut tidak lagi sekadar merupakan pelanggaran prosedur, melainkan pelanggaran hak asasi manusia yang serius dan dalam kondisi tertentu, dapat diklasifikasikan sebagai perlakuan tidak manusiawi atau penyiksaan.
Pasal 6 International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) menjamin hak untuk hidup, yang mewajibkan negara memastikan bahwa tidak seorang pun secara sewenang-wenang dibiarkan menghadapi risiko kematian. Menelantarkan tahanan tanpa makanan, air, atau perawatan medis, sambil tetap menghalangi mereka untuk keluar, merupakan pelanggaran langsung, bahkan jika kematian belum terjadi. Pasal 7 ICCPR secara tegas melarang penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi.
Peraturan penjara Iran sendiri juga dilanggar: para tahanan seharusnya mendapatkan makanan yang cukup dan layak, akses terhadap air minum yang aman, kondisi kebersihan yang memadai, serta kehadiran petugas di dalam blok setiap saat.
Kesimpulan
Penjara Evin bukanlah pengecualian dalam Republik Islam, melainkan cerminan dari esensinya. Selama lebih dari lima puluh tahun, baik di bawah Mohammad Reza Shah maupun di bawah pemerintahan para ulama, tempat ini menjadi lokasi di mana para penguasa Iran menahan siapa pun yang menolak untuk diam. Jurnalis, pekerja, mahasiswa, perempuan, minoritas etnis dan agama, anarkis, serta siapa pun yang menantang kekuasaan akan berakhir di balik dinding tersebut.
Hari ini, di tengah kekacauan perang, dinding-dinding itu telah berubah menjadi sesuatu yang lebih mengerikan: sebuah ruang tertutup di mana ratusan tahanan politik dikurung tanpa makanan, tanpa perawatan medis, tanpa kontak dengan keluarga mereka, serta tanpa perlindungan dari bom yang jatuh di luar maupun dari aparat yang belum sepenuhnya meninggalkan tempat itu.
Keheningan yang menyelimuti Evin saat ini bukanlah tanda kedamaian, melainkan selubung bagi apa yang mungkin menjadi bab paling kelam dalam sejarah panjang kekejaman di tempat tersebut.
Kami menuntut pembebasan segera seluruh tahanan politik!
Kami menuntut jaminan atas keselamatan mereka!
Kami menuntut dunia untuk tidak berpaling!
Tidak untuk Mullah! Tidak untuk Shah!
Perempuan—Kehidupan—Kebebasan
Sumber
Diterjemahkan dari: