Penulis: Hasse-Nima Golkar
Pada 26 dan 27 Esfand 1366 (16–17 Maret 1988), di tahap akhir perang antara Iran dan Irak, pasukan militer rezim Ba’ath Irak di bawah pimpinan Saddam Hussein mengebom kota Halabja dengan senjata kimia mematikan. Serangan ini merupakan bagian dari operasi besar yang dikenal sebagai “Al-Anfal Campaign” (Qur’an 8:1—Rampasan Perang) yang menargetkan rakyat Kurdistan di Irak utara.
Sekitar lima ribu orang tewas dan sebelas ribu lainnya terluka, sebagian besar adalah warga sipil. Banyak korban yang selamat menderita penyakit kulit dan gangguan pernapasan selama bertahun-tahun, dan sebagian masih menanggung dampaknya hingga kini.
Tragedi ini adalah serangan senjata kimia terparah yang pernah terjadi di wilayah sipil dalam sejarah manusia.
Puisi oleh Yaghma Golrouei:
Jangan hukum mati Saddam.
Bawa dia ke Halabja
dan biarkan ia menarik napas dalam-dalam,
sedalam kuburan massal Kurdistan.
Jangan hukum mati Saddam.
Kirim dia ke Shalamja
dan suruh ia menangis begitu lama,
hingga pohon-pohon kurma yang terbakar di Khuzestan kembali hijau.
Jangan hukum mati Saddam.
Serahkan dia kepada para ibu
yang hingga kini,
setiap mendengar bel pintu,
membayangkan anak-anak mereka yang hilang telah kembali ke rumah.
setiap mendengar bel pintu,
membayangkan anak-anak mereka yang hilang telah kembali ke rumah.
Diterjemahkan dari:
Halabja: Tragedi di Tengah Perang Antarnegara
Pada 16 Maret 1988, di bulan-bulan terakhir Perang Iran–Irak, kota Halabja di Kurdistan selatan menjadi sasaran salah satu serangan senjata kimia paling mematikan terhadap warga sipil pada abad ke-20. Saat itu, pasukan militer Iran telah memasuki wilayah Halabja. Sebagai tanggapan, tentara Irak di bawah komando Saddam Hussein menyerang kota dan desa-desa sekitarnya dengan senjata kimia. Serangan ini merupakan bagian dari kampanye penindasan besar-besaran terhadap rakyat Kurdi, yang dikenal sebagai “Al-Anfal Campaign" (1986-1989).
Akibat serangan tersebut, sekitar 5.000 warga sipil: terutama perempuan, anak-anak, dan lansia tewas dalam beberapa jam pertama. Ribuan lainnya menderita keracunan parah dan cedera permanen. Foto-foto yang diambil di jalanan dan rumah-rumah kota, yang memperlihatkan keluarga-keluarga tewas di tempat mereka berdiri atau berbaring, menjadi salah satu gambar paling menghantui dunia tentang kejahatan perang.
Dampak serangan itu berlangsung jauh melampaui hari itu. Banyak korban selamat hidup bertahun-tahun dengan penyakit pernapasan kronis, kerusakan saraf, kebutaan, dan risiko kanker yang meningkat. Penelitian medis juga menunjukkan bahwa paparan zat kimia menyebabkan tingginya angka cacat bawaan pada generasi berikutnya.
Tragedi Halabja menunjukkan bagaimana dalam perang antarnegara, wilayah perbatasan dan komunitas lokal sering menjadi medan pertempuran. Selama perang, rakyat Kurdi di selatan dan timur Kurdistan berulang kali terjebak di antara kekuatan negara yang bersaing, dan menanggung penderitaan yang sangat besar. Pengalaman ini juga menimbulkan pertanyaan penting tentang ketergantungan kekuatan politik lokal pada dinamika kekuasaan negara, serta konsekuensinya bagi keamanan dan kesejahteraan masyarakat.
Hingga hari ini, Tragedi Halabja bukan hanya menjadi bagian dari ingatan sejarah rakyat Kurdi, tetapi juga menjadi peringatan global tentang dampak tidak manusiawi dari perang dan penggunaan senjata pemusnah massal terhadap warga sipil.
Front Anarkis
Diterjemahkan dari: