Saya menulis kepada kalian dari Iran. Saat ini saya duduk di depan televisi dan menonton demonstrasi para aktivis Barat. Sebagian dari mereka mengaku sebagai aktivis anti-perang, tetapi justru menggelar aksi pro-Hamas dan pro-Republik Islam.
Para demonstran itu membawa bendera Republik Islam Iran, dan rezim di Iran dengan senang hati menayangkannya sebagai bukti bahwa mereka memiliki pendukung internasional.
Mungkin para demonstran itu merasa mereka sedang melawan imperialisme, atau menentang Trump, atau mungkin mereka berpikir bahwa mereka sedang mendukung Palestina. Namun saya bisa mengatakan dengan tegas: Itu adalah kesalahan besar!
Bendera yang mereka bawa bahkan bukan simbol lokal yang didukung secara luas oleh masyarakat di sini. Masyarakat tempat saya hidup sangat beragam. Muslim dan berbagai kelompok lain hidup berdampingan. Karena itu, satu simbol Islam tertentu tidak bisa dianggap sebagai bendera atau lambang seluruh masyarakat kami. Simbol itu tidak mewakili sebagian besar dari kami.
Bendera itu milik sebuah pemerintahan Islam Syiah yang bersifat teokratis dan totaliter. Pemerintahan inilah yang menindas dan membunuh para demonstran hanya karena mereka menuntut hak-hak dasar mereka.
Di Iran tidak ada media yang bebas. Internet sering diputus. Sudah sepuluh hari saya berusaha tersambung ke internet internasional hanya untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia.
Televisi satelit ditekan dan dibatasi oleh pemerintah. Hanya sekitar satu persen pengguna media sosial di Iran yang memiliki akses ke internet internasional, dan akses itu justru diberikan oleh rezim. Tujuannya agar mereka menjadi suara sistem, menyebarkan narasi yang diinginkan Republik Islam di media sosial, sementara sebagian besar rakyat biasa sama sekali tidak memiliki akses.
Iran Sedang Diputus dari Dunia! Iran Tidak Memiliki Kebebasan untuk Bersuara!
Teman-teman, saudara-saudara saya berada di penjara dan menghadapi hukuman mati hanya karena menuntut kehidupan yang lebih baik: sekedar ingin ada makanan di meja makan mereka, atau karena menjadi diri mereka sendiri dan memperjuangkan apa yang mereka yakini.
Jika anda anggota komunitas LGBTQ, anda bisa menghadapi hukuman mati di Iran di bawah kekuasaan Republik Islam. Namun pada saat yang sama, sebagian aktivis kiri di Barat, bahkan yang berasal dari komunitas LGBTQ, menggunakan kebebasan berbicara mereka untuk seenaknya berbicara atas nama kami, dan justru mendukung rezim yang membungkam kami!
Semua itu dilakukan untuk menunjukkan betapa mereka membenci Trump dan kaum konservatif di Barat. Apakah ini yang disebut protes kemanusiaan? Tentu saja tidak.
Saya melihat para aktivis yang mengaku anti-imperialisme ini membawa foto para pelajar yang tewas dalam perang, pelajar yang dibunuh oleh Israel. Itu memang tragedi perang yang menyedihkan. Namun para aktivis ini mengabaikan anak-anak lain yang pada saat yang sama dibunuh oleh Republik Islam.
Saya adalah orang Iran, dan saya ingin dipandang sebagai "manusia", bukan sebagai alat politik untuk meraih keuntungan ideologis.
Duka kami dan kehidupan anak-anak kami di wilayah ini memiliki nilai yang sama berharganya. Itu bukan alat tawar-menawar bagi berbagai kelompok politik yang memilih-milih tragedi untuk mencapai tujuan mereka.
Kami tidak akan membiarkan kaum Zionis ekstremis memutihkan kejahatan mereka dengan memanfaatkan sikap Republik Islam. Dan kami juga tidak akan membiarkan para pendukung Hamas memutihkan kejahatan Republik Islam dengan menyebarkan cerita yang tidak benar saat rakyat Iran sedang dibungkam.
—Narator
Diterjemahkan dari: