Penulis: Hasse Nima Golkar
Slogan ini diteriakkan dalam pertemuan para pendukung monarki yang mendukung Reza Pahlavi pada 25 Bahman 1404, bertepatan dengan 14 Februari 2026, di Munich, Jerman. Dari pengeras suara panggung resmi penyelenggara, slogan tersebut setidaknya diserukan oleh tiga pembicara, yaitu Aran Kamangir, Saeed Bashirtash, dan Iraj Mesdaghi.
Apakah kita melihat sebuah perbedaan yang sebenarnya sangat dekat dengan hakikatnya?
Pertama
Slogan ini dahulu digunakan untuk menekankan gagasan tentang negara Jerman yang tunggal dan homogen di bawah kekuasaan mutlak Adolf Hitler. Slogan tersebut mencerminkan nasionalisme ekstrem, otoritarianisme, dan totalitarianisme yang menjadi inti ideologi Nazi. Tujuannya adalah memusatkan kekuasaan dan mengendalikan seluruh aspek kehidupan masyarakat Jerman.
Slogan para pendukung Adolf Hitler bagi negara otoriter Jerman pada tahun 1938 berbunyi:
"Ein Volk, Ein Reich, Ein Führer”
(Satu Bangsa, Satu Kekaisaran, Satu Pemimpin)
Kedua
Slogan lain digunakan untuk menegaskan gagasan tentang negara Iran yang tunggal dan homogen di bawah kekuasaan mutlak Reza Pahlevi. Slogan ini mencerminkan nasionalisme ekstrem, otoritarianisme, dan kecenderungan totaliter yang dikaitkan dengan ideologi Pahlevi. Tujuannya adalah memusatkan kekuasaan dan mengendalikan seluruh aspek kehidupan masyarakat Iran.
Slogan yang diteriakkan dalam acara di Munich pada 14 Februari 2026 berbunyi:
یک ملت – یک پرچم – یک رهبر
“Yek mellat, Yek parcham, Yek rahbar”
(Satu Bangsa, Satu Bendera, Satu Pemimpin)
Dari perspektif anarko-sindikalisme, persoalan utamanya bukan nama, bukan juga bendera, melainkan struktur kekuasaan itu sendiri. Yang penting bukan hanya isi slogan tersebut, tetapi logika yang sama di baliknya. Logika itu adalah pemusatan kekuasaan pada satu negara, satu bangsa yang dianggap homogen, dan satu pemimpin.
Karena itu anarkisme:
- Menolak segala bentuk pemusatan kekuasaan dan otoritas.
- Memandang gagasan bangsa yang homogen sebagai struktur yang menindas.
- Melihat kepemimpinan karismatik yang berpusat pada satu figur sebagai reproduksi hierarki.
Dalam pandangan ini, kesamaan kedua slogan tersebut terletak pada cara mereka menghapus individualitas dengan meleburkannya ke dalam konsep abstrak yang disebut “bangsa”. Keberagaman sosial dipaksa menjadi keseragaman, dan kekuasaan tidak diorganisasi secara horizontal, melainkan dipaksakan dari atas (top-down).
Masalahnya bukan hanya siapa pemimpinnya, tetapi mengapa harus ada pemimpin?
Mikhail Bakunin pernah memperingatkan bahwa setiap negara yang mengklaim berbicara atas nama rakyat pada akhirnya akan berubah menjadi alat dominasi, karena kekuasaan yang terpusat secara alami cenderung mempertahankan dan memperluas dirinya sendiri.
Peter Kropotkin menentang mitos persatuan yang dipaksakan. Ia membela solidaritas sukarela dan organisasi horizontal, yaitu suatu tatanan hidup yang muncul dari jaringan komune dan asosiasi bebas, bukan dari perintah satu pusat kekuasaan.
Emma Goldman melangkah lebih jauh dengan menunjukkan bahwa bangsa, pemimpin, dan otoritas pada awalnya bukan sekadar institusi politik, melainkan pola psikologis ketaatan yang membuat individu larut dalam kolektivitas abstrak.
Dari perspektif ini, slogan yang menyerukan satu bangsa, satu bendera, dan satu pemimpin, apa pun konteks sejarahnya, bertumpu pada logika yang sama. Logika itu adalah penghapusan keberagaman, penolakan terhadap pengorganisasian diri dan otonomi, serta menjadikan manusia sekadar massa yang harus tunduk pada kekuasaan.
Sebagai tandingannya, anarkisme mengatakan bahwa kebebasan tidak lahir dari kesatuan yang dipaksakan, melainkan dari keberagaman yang bebas. Ketertiban tidak lahir dari perintah, melainkan dari kerja sama. Dan masyarakat tidak membutuhkan pemimpin, melainkan hubungan yang setara di antara manusia.
Tidak unuk Shah!
Jin, Jiyan, Azadi!
https://anarchistfront.noblogs.org/post/2026/02/17/57154
