Minggu, 15 Maret 2026

Ketegangan Taliban dan Pakistan: Pertikaian Dua Kekuasaan

Pertikaian antara Taliban Afghanistan dan pemerintah Pakistan bukanlah sekedar sengketa perbatasan atau krisis keamanan semata, melainkan konflik kompleks antara dua struktur kekuasaan yang sama-sama lahir dari proyek geopolitik kawasan. Konflik ini berlapis, samar, dan sarat permainan intelijen serta ideologi. Sebuah perang yang di permukaan dibungkus slogan keamanan dan kedaulatan nasional, namun di dalamnya merupakan persaingan atas pengaruh, kendali, dan legitimasi.

Pemerintah Pakistan menuduh Taliban Afghanistan mendukung Tehrik-e-Taliban Pakistan (TTP). Kelompok ini telah lama memerangi negara Pakistan. Taliban Afghanistan membantah tuduhan tersebut, tetapi berbagai bukti menunjukkan adanya keberadaan, tempat perlindungan, serta hubungan ideologis antara kedua kelompok tersebut.

Secara politik, hubungan ini bukan sekadar simpati ideologis, melainkan keterkaitan struktural. Keduanya berakar pada tafsir tertentu atas Islam politik dan memiliki asal-usul yang sama dalam mazhab keagamaan di kawasan tersebut. Apa yang hari ini disebut Pakistan sebagai “ancaman”, pada masa lalu justru merupakan bagian dari instrumen kebijakan regionalnya sendiri. Kini, kekuatan yang dulu dipelihara itu telah berubah menjadi tantangan bagi struktur yang sama.

Bagi Pakistan, Durand Line adalah perbatasan resmi dan internasional; bagi Taliban, ia hanyalah “garis imajiner”. Dengan mengandalkan klaim etnis, Taliban memandang garis tersebut sebagai pemisah bangsa Pashtun. Namun di balik klaim itu, persoalannya bukan semata etnisitas, melainkan perluasan “kedaulatan”. Taliban menolak mengakui perbatasan yang dianggap sebagai warisan kolonial, karena penerimaannya berarti mengukuhkan tatanan negara-bangsa modern, sebuah tatanan yang pada praktiknya justru direproduksi kembali oleh Taliban dalam bentuknya yang lain.

Ideologi Taliban tidak terbatas pada geografi Afghanistan. Konsep “Emirat Islam” yang mereka usung memiliki daya tarik dan potensi inspiratif bagi kelompok-kelompok serupa di kawasan tersebut. Dari sudut pandang Pakistan, ancaman utamanya adalah kemungkinan model Taliban merembes masuk ke dalam wilayahnya sendiri dan mengguncang tatanan semi-militer/semi-sipil yang menopang negara tersebut.

Di sini tampak kontradiksi historis yang jelas. Selama bertahun-tahun Pakistan memanfaatkan kelompok-kelompok bersenjata sebagai instrumen kedalaman strategisnya. Kini, ia berhadapan dengan versi dari logika yang sama, yang tidak lagi dapat ia kendalikan. Hubungan Taliban yang semakin berkembang dengan India juga menjadi sumber kekhawatiran bagi Pakistan. Setiap bentuk kedekatan antara Kabul dan New Delhi dipandang oleh pemerintah Pakistan sebagai ancaman bagi posisi regional Islamabad.

Taliban yang dahulu merupakan proyek bersama sebagian lingkaran keamanan Pakistan dan dukungan eksternal dalam konteks akhir Perang Dingin dan periode setelahnya, kini berupaya menampilkan diri sebagai aktor yang lepas dari ketergantungan historis tersebut dan menjalin hubungan dengan spektrum yang lebih luas.

Menurut saya, konflik ini bukanlah perang antara rakyat Afghanistan dan Pakistan, melainkan perang antara dua mesin kekuasaan. Dalam serangan udara, ledakan, dan bentrokan di perbatasan, korban utamanya adalah warga sipil, orang-orang yang tidak memiliki andil dalam pengambilan keputusan dan tidak menikmati keuntungan dari kekuasaan. 

Dalam konteks ini, bahkan kemungkinan untuk memanfaatkan ketegangan ini demi membangkitkan sentimen nasionalistik bukanlah hal yang mustahil, sebab pemerintahan yang dilanda krisis kerap memanfaatkan musuh eksternal untuk memperkuat kohesi internal.

Dengan demikian, konflik ini dapat dipahami sebagai benturan dua narasi tentang kedaulatan: sebuah negara bangsa yang keamanan dan stabilitasnya selama bertahun-tahun dipertahankan menggunakan instrumen-instrumen gelap dalam kebijakan luar negerinya, dan sebuah emirat ideologis yang kini memandang dirinya sebagai aktor regional yang mandiri.

Namun di kedua sisi perbatasan, rakyat biasa tetap menjadi korban. Pada akhirnya ini adalah perang kekuasaan, bukan perang antara rakyat Afghanistan dan rakyat Pakistan. Yang terbakar dan hancur adalah desa-desa, rumah-rumah, dan kehidupan manusia tak berdaya. Sementara struktur-struktur kekuasaan tetap terjaga.


Diterjemahkan dari: