Sabtu, 14 Maret 2026

Pembongkaran Anarkis terhadap Bahasa dalam Sastra Persia: Kritik atas Kata-Kata Religius, Metafisik, dan Otoriter dalam Membela Bahasa Pembebasan

 Peneliti: Hasse Nima Golkar



Anarkisme ateis, jika hanya membatasi dirinya pada penolakan terhadap negara, kapital, atau kekuasaan politik, sebenarnya telah menyerahkan setengah medan perjuangan. Setengah medan lainnya adalah “bahasa”. Di sinilah kekuasaan bekerja bukan melalui kekerasan terbuka, tetapi melalui kebiasaan, metafora, dan kata-kata. Bahasa bukan sekadar alat untuk menggambarkan dunia. Bahasa juga membentuk dunia sosial. Karena itu, anarkisme sebagai kritik mendasar terhadap kekuasaan tidak bisa bersikap acuh terhadap bahasa yang membuat kekuasaan tampak alami, wajar, dan tidak perlu dipertanyakan.

Dalam tulisan dan percakapan anarkis berbahasa Persia, bahkan yang secara jelas bersifat ateis, anti-otoritarian, dan materialis, sering muncul kata-kata seperti: “legitimasi”, “tanah Tuhan”, “roh”, “roh pemberontak”, “roh revolusi”, “ikatan spiritual”, “tangan takdir”, “kesucian kehidupan manusia”, atau “pensakralan tanah dan bendera”. Kata-kata ini memiliki akar dalam teologi, metafisika, atau konsep hukum yang bersifat otoriter.

Tulisan ini merupakan usaha sederhana untuk membedah secara kritis bahasa tersebut dan menawarkan alternatif yang lebih selaras dengan anarkisme ateis. Dalam pendekatan ini, bahasa dipandang sebagai medan perjuangan yang nyata, karena kekuasaan dan otoritas sering kali bermula dari cara kita menamai dan memaknai sesuatu.

Tujuan kritik ini adalah membantu membersihkan dan memperkuat bahasa pembebasan. Dengan begitu, kita dapat menghindari penggunaan kata-kata yang secara tidak sadar membawa muatan metafisik atau teologis, meskipun pemikiran penulis atau pembicara sebenarnya menolak cara pandang tersebut.


Bagian pertama membahas aspek linguistik, filsafat ilmiah, dan anarkisme ateis

Dalam prinsip umum anarkisme ateis, persoalan utama biasanya bukan metafora itu sendiri, melainkan kecenderungan menormalisasi konsep-konsep supranatural tanpa disadari. Jika suatu kata membawa gagasan tentang esensi yang berdiri sendiri, kekuatan tak terlihat, atau agen non-manusia, maka kata itu memindahkan tanggung jawab dan tindakan manusia kepada sesuatu di luar manusia. Hal ini bertentangan dengan dasar materialis dan anti-otoritarian dalam anarkisme.

Tentang kata “legitimasi”

Kata ini berasal dari bahasa hukum keagamaan dan mengandung pola kepatuhan terhadap otoritas. Bahkan dalam penggunaan sekuler, kata ini tetap mengandaikan adanya otoritas yang lebih tinggi yang memberikan izin. Ketika kita berbicara tentang “legitimasi kekuasaan”, sebenarnya kita sudah menerima keberadaan kekuasaan itu terlebih dahulu dan hanya memperdebatkan sumber pengakuannya. Struktur ini tetap mempertahankan kekuasaan selama sebagian masyarakat masih menerimanya, baik karena persetujuan yang rapuh maupun karena paksaan.

Alternatif yang dapat digunakan misalnya: “penerimaan sosial”, “persetujuan sukarela”, atau “dukungan masyarakat”. Misalnya mengganti istilah “krisis legitimasi” dengan “runtuhnya dukungan sosial”.

Tentang kata “roh”

Dalam sejarah pemikiran, kata “roh” menunjuk pada substansi non-materi yang terpisah dari tubuh. Konsep ini berasal dari tradisi religius yang memisahkan tubuh dan jiwa. Ketika orang mengatakan “roh revolusi”, secara tidak sadar muncul kesan bahwa revolusi memiliki esensi supranatural. Padahal dalam perspektif anarkis dan ilmiah, revolusi adalah hasil dari kondisi material, hubungan sosial, dan kesadaran kolektif manusia. Tidak ada kekuatan gaib yang bekerja di baliknya. Yang sebenarnya dimaksud oleh kata “roh” sering kali adalah kesamaan perasaan, kesadaran bersama, atau dinamika sosial dalam suatu gerakan. Karena itu, istilah seperti: “dinamika kolektif”, “kesadaran revolusioner”, atau “solidaritas sosial” lebih sesuai digunakan.

Tentang ungkapan “tanah Tuhan”

Ungkapan ini secara langsung mengaitkan kepemilikan bumi dengan otoritas supranatural. Walaupun penuturnya mungkin tidak religius, bahasa ini tetap membawa logika kekuasaan yang menempatkan manusia di bawah otoritas yang lebih tinggi. Dari perspektif anarkisme ateis, bumi bukan milik Tuhan, negara, atau bangsa tertentu. Bumi adalah hasil proses alam dan merupakan tempat hidup bersama bagi manusia dan makhluk hidup lainnya.

Alternatifnya dapat berupa: “bumi bersama”, “ruang hidup bersama manusia dan alam”, atau “bumi tanpa pemilik”.

Tentang ungkapan “tangan takdir”

Konsep takdir mengandung gagasan determinisme supranatural yang menolak sebab akibat material. Ia juga memindahkan tanggung jawab manusia kepada kekuatan di luar manusia. Dalam perspektif ilmiah dan anarkis, suatu peristiwa dapat terjadi sebagai hasil dari kondisi material, hubungan kekuasaan, keputusan manusia, dan juga kebetulan dalam proses sosial. Ungkapan seperti “tangan takdir” secara tidak langsung mengeluarkan tanggung jawab manusia dari peristiwa sejarah.

Alternatifnya bisa berupa: “kondisi historis”, “hasil dari hubungan sosial”, atau “akibat dari struktur sosial tertentu”.

Tentang gagasan “kesucian kehidupan manusia"

Kata “suci” biasanya berarti sesuatu yang tidak boleh dipertanyakan dan berada di luar kritik. Dalam anarkisme ateis, tidak ada hal yang kebal terhadap kritik. Kehidupan manusia bukanlah sesuatu yang suci dalam arti religius, tetapi sesuatu yang berharga, rentan, dan membutuhkan perlindungan bersama secara sadar. Sejarah menunjukkan bahwa konsep kesucian sering digunakan oleh kekuasaan untuk melindungi dirinya dari kritik. Karena itu, anarkisme ateis tidak membutuhkan gagasan kesucian. Penderitaan nyata manusia sudah cukup menjadi alasan untuk gagasan ini.

Alternatifnya adalah: “nilai kehidupan manusia”, “pentingnya kehidupan manusia”, “martabat manusia” dalam pengertian non-religius, atau “hak untuk hidup secara bebas”.


Bagian kedua menjelaskan mengapa kesalahan bahasa seperti ini sering terjadi

  1. Karena kurangnya perhatian teoritis terhadap kritik bahasa.
  2. Karena gerakan sosial sering membutuhkan bahasa yang kuat secara emosional.
  3. Karena bahasa Persia memiliki warisan religius dan mistik yang sangat dalam. 
  4. Karena puisi dan metafora sering diambil dari tradisi lama. 
  5. Karena kritik terhadap kekuasaan biasanya hanya ditujukan pada lembaga, bukan pada bahasa itu sendiri.


Bagian ketiga membahas pentingnya menghancurkan bahasa kepatuhan secara sadar

Persoalan ini bukan sekadar soal memurnikan bahasa secara moral. Yang lebih penting adalah kesadaran terhadap sejarah dan makna yang dibawa oleh setiap kata. Kata yang kabur atau tidak selaras secara teori dapat menjadi sarana untuk menghidupkan kembali pola pikir otoriter. Jika anarkisme ateis ingin tetap radikal, ia harus mengkritik bukan hanya kekuasaan, tetapi juga bahasa yang menopang kekuasaan tersebut. Kebebasan tidak akan lengkap tanpa pembebasan dari bahasa dominasi.

Kekuasaan sering kali dimulai dari cara menamai sesuatu. Sebelum memberi perintah, kekuasaan terlebih dahulu membentuk makna. Setiap kali kata seperti “legitimasi”, “roh”, “takdir”, atau “suci” digunakan dalam teks anarkis, sebagian dari perangkat bahasa kekuasaan itu kembali dihidupkan. Kata-kata yang membuat kekuasaan tampak alami atau tak terhindarkan pada dasarnya juga merupakan bentuk dominasi. Karena itu, anarkisme ateis yang ingin benar-benar radikal harus menghancurkan bukan hanya institusi kekuasaan, tetapi juga bahasa yang membuat kekuasaan itu tampak masuk akal.



Jin, Jiyan, Azadi!


Diterjemahkan dari:

https://anarchistfront.noblogs.org/post/2026/02/09/57035