Sabtu, 30 Mei 2026

Tuhan atau Kebebasan?

Penulis: Mikhail Bakunin

Sering kali dituduhkan bahwa kami adalah musuh kebebasan berbicara karena kami menentang segala gagasan keagamaan. Namun tuduhan itu sama sekali tidak benar. Kami adalah musuh yang konsisten dan berprinsip terhadap setiap bentuk otoritas, terhadap setiap kekuasaan yang memerintah. Kami juga menentang gagasan otoriter tentang negara, dan kami tidak akan pernah mengakui suatu tatanan sosial yang tidak didasarkan pada kebebasan seluruh umat manusia.

Kami begitu mencintai kebebasan sehingga kami menghormati pandangan dan pendapat setiap orang, bahkan ketika pandangan itu secara langsung bertentangan dengan pandangan kami. Bukankah salah seorang pembicara dari mimbar ini baru saja menyatakan bahwa Kekristenan adalah dasar dari seluruh moralitas? Kami telah mendengarkannya tanpa menyela, dan kini kami menuntut toleransi yang sama untuk menyatakan keyakinan kami yang terdalam: bahwa bukan hanya Kekristenan, melainkan juga semua agama lainnya, apa pun nama yang mereka sandang, merupakan pertentangan langsung terhadap moralitas manusia.

Kami tidak menentang agama karena kehendak sesaat atau kebencian yang membabi buta. Tidak! Kami menentangnya atas nama moralitas, keadilan, dan kemanusiaan. Kami yakin bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak akan pernah terwujud sepenuhnya selama umat manusia masih berada di bawah pengaruh utopia religius dan takhayul keagamaan.

Gagasan yang mendalam dan benar ini bahwa agama dalam keseluruhannya merupakan musuh bagi moralitas, martabat, dan keadilan manusia, bukanlah pertama kali dikemukakan oleh kami. Para pemikir besar abad yang lalu telah lebih dahulu mengembangkannya. Gagasan itu telah mengilhami jiwa-jiwa paling mulia, para pahlawan dan martir Renaisans, tokoh-tokoh seperti Giordano Bruno, Vanini, dan Servetus, yang dibiarkan dibakar hidup-hidup di Jenewa oleh Calvin, serta banyak lainnya yang melihat cahaya semangat Yunani kuno di tengah kegelapan Kekristenan. Merekalah yang mengibarkan panji kebebasan dan kemanusiaan di atas setiap menara benteng yang runtuh dari gagasan tentang Tuhan dan despotisme.

Pagi ini saya menemukan di atas meja ruang depan sebuah prospektus yang mengundang para delegasi untuk berlangganan sebuah buku yang ditulis menentang para paus. Moto buku tersebut diambil dari kata-kata Ulrich von Hutten: “Jika umat manusia ingin merdeka, pertama-tama ia harus mematahkan rantai tirani kepausan dan membebaskan dirinya dari kuk berat yang telah diletakkan para biarawan dan imam yang korup di atas pundaknya.” Lalu siapakah Ulrich von Hutten, tokoh besar Reformasi itu? Apakah ia menghancurkan belenggu Gereja Katolik hanya untuk tunduk kepada tirani Protestan yang saleh dari Luther, Calvin, atau Melanchthon? Tidak. Hutten adalah seorang ateis, sahabat sekaligus murid para ateis di Florence, tempat ia berkenalan dengan ajaran luhur kaum humanis.

Pahlawan besar pemikiran bebas ini, bersama seluruh pembebas besar umat manusia lainnya yang dikejar, dipenjarakan, disiksa, dibakar hidup-hidup, atau dibunuh dengan berbagai cara oleh para algojo kekuasaan, memang tumbang di bawah tirani raja dan imam, gereja dan negara. Namun gagasan-gagasan mereka tidak ikut binasa. Gagasan-gagasan itu menyamar dalam berbagai bentuk dan muncul kembali dengan berbagai nama. Mereka mempersiapkan karya besar kaum humanis pada abad ke-16, dan tanpa diragukan lagi Erasmus dari Rotterdam yang terpelajar dan bijaksana merupakan wakil mereka yang paling menonjol.

Pada abad ke-17, arus pemikiran ini memperoleh kekuatan yang jauh lebih besar melalui perkembangan ilmu pengetahuan alam. Galileo, Kepler, Newton, Gassendi, dan Bacon, yang dapat disebut sebagai perintis positivisme modern, membangun ilmu pengetahuan di atas landasan realitas. Landasan inilah yang membunyikan lonceng kematian bagi seluruh ajaran metafisika, dan dengan demikian juga bagi agama. Dari pertemuan kedua arus besar inilah lahir filsafat Prancis yang agung pada abad ke-18.

Abad 18 yang agung ini, yang melahirkan kita semua dan yang hingga kini masih mengilhami kita dengan gagasan-gagasannya yang perkasa, pada hakikatnya adalah abad yang paling manusiawi sekaligus paling ateistis. Abad ini mengakui manusia dan menolak Tuhan. Para pemikir besarnya memahami bahwa jika umat manusia sungguh ingin membebaskan dirinya, mematahkan rantai-rantai yang membelenggunya, serta meraih kebahagiaan, martabat, dan kebebasan, maka pertama-tama ia harus menghancurkan setiap utopia keagamaan dan seluruh konsep teologis maupun metafisis yang telah menjadi alat sekaligus pembenaran bagi segala upaya para tiran untuk memperbudak, merusak moral, dan mengeksploitasi umat manusia sepanjang sejarah. Para filsuf abad 18 lebih beruntung daripada para pemikir besar Renaisans. Zaman telah siap bagi mereka, dan propaganda mereka yang kuat serta penuh semangat melahirkan revolusi besar.

Haruskah saya menguraikan di sini sebab-sebab yang menghalangi revolusi besar itu mewujudkan seluruh harapannya? Itu akan membawa kita terlalu jauh. Cukuplah saya katakan bahwa doktrin-doktrin keagamaan Jean-Jacques Rousseau menjadi penghalang bagi kesatuan intelektual abad ke 18. Doktrin-doktrin itu juga didukung oleh teisme Voltaire yang tidak konsisten, picik, dan kasar, yang beranggapan bahwa agama mutlak diperlukan bagi rakyat, bagi “para bajingan”.

Saya hanya akan menambahkan bahwa selama Revolusi, doktrin ini mempersatukan pemujaan abstrak terhadap Tuhan dengan pemujaan abstrak terhadap Negara. Kedua arus metafisis ini, yang menjelma dalam sosok kelam Robespierre, Calvin-nya Revolusi, pada akhirnya membunuh Revolusi itu sendiri. Kemudian dimulailah masa kediktatoran Kekaisaran Prancis Pertama dan persatuannya dengan Gereja atas dasar prinsip kemanfaatan; tentu saja kemanfaatan bagi despotisme. Lalu datanglah masa Restorasi Bourbon dengan kemerosotan Katoliknya beserta para wakilnya: Chateaubriand, Lamartine, dan Schlegel. Dan akhirnya muncullah filsafat spekulatif Jerman dengan nama “eklektisisme”, yang berubah menjadi lembaga resmi negara di Prancis.

Inilah akar terdalam dari keadaan kita saat ini, suatu keadaan yang sulit untuk dilepaskan. Namun jika kita sungguh-sungguh ingin menyelamatkan diri, maka kita harus dengan terbuka dan tanpa rasa takut mengangkat kembali panji Renaisans dan Revolusi, panji yang bertuliskan: “Pemberontakan Manusia terhadap kuk Tuhan!”

Marilah kita memiliki keberanian untuk menyatakan secara terbuka dan bebas bahwa keberadaan Tuhan tidak memungkinkan terwujudnya kebahagiaan, kebebasan, martabat, dan akal budi umat manusia. Jika Tuhan ada, maka akal budi dan kehendak saya, betapapun besar kekuatannya, bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kehendak dan akal budi Tuhan. Kebenaran saya akan menjadi kebohongan di hadapan-Nya. Kehendak saya menjadi tak berdaya. Kebebasan dan pemberontakan saya berubah menjadi dosa terhadap-Nya. Hanya ada dua kemungkinan: Dia atau saya. Jika Tuhan ada, maka sayalah yang harus lenyap. Dan jika Dia begitu baik hingga mengutus para nabi-Nya untuk menyampaikan kepada saya kebenaran-kebenaran yang tak mampu dijangkau oleh akal saya; jika Dia mengutus para imam untuk membimbing pikiran saya, yang dengan kemampuan mereka sendiri tidak sanggup membedakan yang baik dari yang buruk; jika Dia mengutus raja-raja bermahkota untuk memerintah saya, maka saya harus tunduk kepada kehendak-Nya dengan kepatuhan seorang budak.

Barang siapa menginginkan Tuhan, ia juga menginginkan perbudakan umat manusia. Pilihannya hanya dua: Tuhan dan perbudakan manusia, atau kebebasan manusia dan penghapusan setiap gagasan tentang Tuhan. Tidak ada jalan ketiga. Kalian sendirilah yang harus memilih. Kebenaran yang mendalam ini, yang begitu banyak orang takut untuk mengungkapkannya secara terbuka, bahwa keberadaan Tuhan tidak memungkinkan kebebasan dan akal budi manusia bersatu dengan moralitas individu maupun moralitas sosial umat manusia, sesungguhnya diakui oleh banyak delegasi Kongres yang, karena berbagai alasan, memilih berpihak kepada mayoritas yang kami tentang. 

Bukankah salah seorang anggota dari kelompok moderat telah dengan jelas menyatakan bahwa perkembangan ilmu-ilmu positivisme niscaya akan mengakibatkan kehancuran bertahap seluruh dogma keagamaan, dan bahwa karena itu pendidikan merupakan sarana terbaik bagi emansipasi intelektual, politik, moral, dan sosial massa rakyat? Kami pun mendukung pendidikan yang baik dan bersifat umum. Kami juga berpendapat bahwa seluruh ilmu pengetahuan serta pencapaian tertinggi pemikiran manusia harus menjadi milik intelektual rakyat. Namun agar rakyat dapat belajar, mereka pertama-tama harus memiliki waktu dan kesempatan untuk menuntut ilmu. Mereka harus mampu menghidupi anak-anak mereka selama masa pendidikan. Akan tetapi, syarat itu sendiri menuntut perubahan yang radikal terhadap struktur ekonomi masyarakat yang ada saat ini.

Dan itu belum semuanya. Para pendukung revolusi damai, semua perkumpulan pemikir bebas yang meyakini bahwa mereka dapat menghancurkan kekuatan takhayul keagamaan hanya melalui pendidikan, propaganda tertulis, dan pidato-pidato, sedang melakukan kekeliruan besar. Agama bukan semata-mata pengaburan akal budi manusia. Agama juga merupakan ungkapan yang penuh gairah dan tak henti-hentinya dari pemberontakan terhadap kenyataan hidup manusia, terhadap kemiskinan, keterbatasan, dan kesempitan hidup sehari-hari. Imajinasi manusia menciptakan sebuah dunia buatan, sebuah dunia tempat seluruh kerinduan, harapan, dan cita-cita umat manusia dihimpun. Manusia telah membuat surga semakin kaya, dan karena itu menjadikan bumi semakin miskin. Itulah yang telah dilakukan agama. Dan agama akan tetap berkuasa selama kebodohan dan ketidakadilan masih merajalela di dunia. Karena itu, marilah kita menegakkan keadilan dan memberikan kepada bumi apa yang menjadi haknya: kebahagiaan dan persaudaraan. Marilah kita menghancurkan seluruh lembaga ketidakadilan dan tirani, lalu membangun sebuah dunia yang berlandaskan persaudaraan antarmanusia; sebuah dunia tempat hak yang setara bagi semua orang bertumpu pada solidaritas timbal balik semua orang; sebuah dunia tempat kebebasan menjadi buah dari kesetaraan. 

Dalam masyarakat seperti itu, agama tidak lagi akan memiliki tempat. Namun untuk menghancurkan agama dan seluruh bayang-bayang ilahi dalam imajinasi manusia yang membuat kita tetap terbelenggu dan terperangkap dalam kemiskinan, pencerahan intelektual saja tidaklah cukup. Yang dibutuhkan adalah sebuah revolusi sosial.


Diterjemahkan dari:


Tuhan atau Pekerja?

Kalian mencemooh kami karena tidak percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, kami menuduh kalian karena percaya kepada-Nya. Kami tidak mengutuk kalian karena itu. Kami bahkan tidak mendakwa kalian. Kami mengasihani kalian. Sebab zaman ilusi telah berlalu. Kami tidak dapat lagi ditipu.

Siapakah yang kita temukan di bawah panji Tuhan? Kaisar-kaisar, raja-raja, seluruh pejabat dan penjilat kekuasaan; para tuan tanah dan kaum bangsawan; semua golongan istimewa di Eropa yang nama-namanya tercatat dalam Almanach de Gotha; para pembesar dunia industri, perdagangan, dan perbankan; para profesor bersertifikat dari universitas-universitas; para pegawai birokrasi negara; para polisi berpangkat rendah maupun tinggi; para gendarme; para sipir penjara; para algojo atau penghukum mati; tanpa melupakan para imam, yang kini menjadi polisi berjubah hitam yang memperbudak jiwa kita demi Negara; para jenderal yang agung, para pembela ketertiban umum; dan akhirnya para penulis pers bayaran. Itulah bala tentara Tuhan.

Lalu siapakah yang kita temukan di kubu seberangnya? Bala tentara pemberontak. Mereka yang dengan berani menyangkal Tuhan dan menolak setiap prinsip ilahi maupun otoriter. Mereka yang karena itu percaya kepada kemanusiaan. Mereka yang menegaskan kebebasan manusia. Kalian mencela kami karena kami adalah ateis. Kami tidak mengeluh karenanya. Kami tidak merasa perlu meminta maaf. Kami mengakuinya.

Ya, kami adalah ateis. Dengan kebanggaan yang masih dapat dimiliki oleh makhluk-makhluk rapuh yang, seperti ombak, datang lalu lenyap kembali ke dalam samudra kehidupan kolektif yang tak bertepi, kami bangga menjadi ateis. Ateisme adalah kebenaran. Atau lebih tepatnya, ia adalah dasar dari segala kebenaran. Kami tidak merendahkan diri dengan menghitung-hitung konsekuensi praktisnya. Kami menginginkan kebenaran di atas segalanya. Kebenaran untuk semua.

Kami percaya bahwa, terlepas dari segala kontradiksi yang tampak, terlepas dari kebijaksanaan politik kaum parlementer yang selalu berubah-ubah, dan terlepas dari skeptisisme zaman ini, hanya kebenaranlah yang dapat membawa kebahagiaan nyata bagi rakyat. Inilah pasal pertama dari keyakinan kami.

Tampaknya kalian tidak puas hanya dengan mencatat bahwa kami adalah ateis. Kalian segera menyimpulkan bahwa kami tidak mungkin memiliki cinta ataupun penghormatan terhadap umat manusia. Kalian mengira bahwa semua gagasan besar dan perasaan luhur yang sepanjang zaman telah membuat hati manusia berdebar kini tidak lebih dari kata-kata kosong bagi kami. Kalian membayangkan kami menyeret hidup yang menyedihkan secara membabi buta; merangkak alih-alih berjalan, sebagaimana yang ingin kalian percayai; dan karena itu kalian menganggap kami tidak mengenal perasaan apa pun selain pemuasan hasrat-hasrat yang kasar dan inderawi.

Apakah kalian ingin mengetahui betapa besar cinta kami terhadap hal-hal indah yang kalian hormati? Ketahuilah bahwa kami mencintainya sedemikian dalam sehingga kami merasa marah sekaligus muak melihat semua itu digantung jauh di luar jangkauan, di langit idealisme kalian. Kami bersedih melihatnya dirampas dari ibu pertiwi kita, lalu diubah menjadi simbol-simbol yang tak bernyawa atau menjadi janji-janji jauh yang tak pernah terwujud. Kami tidak lagi puas dengan bayang-bayang dan khayalan. Kami menginginkan semuanya dalam kenyataannya yang utuh. Inilah pasal kedua dari keyakinan kami.

Dengan melontarkan cap materialis kepada kami, kalian mengira telah berhasil memojokkan kami. Namun kalian keliru besar. Tahukah kalian dari mana kesalahan itu berasal? Apa yang kalian sebut materi dan apa yang kami sebut materi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Materi versi kalian adalah sebuah fiksi. Dalam hal ini ia serupa dengan Tuhan kalian, Setan kalian, dan jiwa abadi kalian. Materi versi kalian tidak lebih dari kerendahan yang kasar, kebrutalan yang tak bernyawa, dan kebendaan yang mati. Ia adalah sesuatu yang mustahil ada, sama mustahilnya dengan roh murni kalian yang disebut “tak berwujud” dan “mutlak”.

Para pemikir pertama umat manusia, mau tak mau, adalah para teolog dan metafisikawan. Akal budi manusia memang terbentuk sedemikian rupa sehingga ia bangkit secara perlahan, menembus labirin kebodohan, dan melalui berbagai kekeliruan serta kesalahan, sedikit demi sedikit mencapai secercah kebenaran. Kenyataan ini tentu tidak dapat dijadikan alasan untuk memuliakan “kejayaan masa lampau”. Namun para teolog dan metafisikawan kita, karena ketidaktahuan mereka, menganggap segala sesuatu yang tampak memiliki kekuatan, gerak, kehidupan, atau kecerdasan sebagai satu hakikat yang sama. Melalui suatu generalisasi yang serampangan, mereka menamakannya roh. Sedangkan sisa yang mereka bayangkan tertinggal setelah pemisahan awal itu, yang secara tidak sadar mereka cabut dari keseluruhan dunia nyata, mereka beri nama materi. Kemudian mereka sendiri merasa heran ketika materi tersebut, yang sesungguhnya hanya ada dalam imajinasi mereka sebagaimana roh mereka juga hanya ada dalam imajinasi, tampak begitu mati dan bodoh bila dibandingkan dengan Tuhan mereka, roh yang abadi.

Terus terang, kami tidak mengenal Tuhan semacam itu. Dan kami juga tidak mengakui materi semacam itu. Dengan kata materi dan material, yang kami maksud adalah keseluruhan segala sesuatu; seluruh tingkatan realitas yang dapat diamati, sebagaimana kita mengenalnya, mulai dari benda-benda anorganik yang paling sederhana hingga fungsi-fungsi paling rumit dari pikiran seorang jenius; mulai dari perasaan-perasaan yang paling indah hingga gagasan-gagasan yang paling luhur; mulai dari tindakan-tindakan yang paling heroik hingga pengorbanan dan pengabdian diri; mulai dari kewajiban dan hak hingga penyangkalan diri dan egoisme dalam kehidupan sosial kita. Manifestasi kehidupan organik, sifat-sifat dan kualitas benda-benda sederhana, listrik, cahaya, panas, serta gaya tarik-menarik molekuler, semuanya bagi kami hanyalah berbagai bentuk perkembangan dari keseluruhan realitas yang kami sebut materi. Perkembangan-perkembangan ini dicirikan oleh suatu solidaritas yang erat, oleh kesatuan tenaga penggerak yang mendasarinya.

Kami tidak memandang keseluruhan keberadaan dan segala bentuknya ini sebagai suatu substansi yang kekal dan mutlak, sebagaimana yang diyakini kaum panteis. Sebaliknya, kami memandangnya sebagai hasil yang senantiasa berubah dan terus berubah dari beragam aksi dan reaksi, serta dari kerja tanpa henti makhluk-makhluk nyata yang lahir dan hidup di dalamnya. Sebagai penentangan terhadap keyakinan para teolog, saya mengajukan pokok-pokok berikut:

  1. Bahwa apabila ada Tuhan yang menciptakan dunia, maka dunia tidak akan pernah dapat eksis.
  2. Bahwa apabila Tuhan adalah penguasa alam, maka hukum-hukum alamiah, fisik, dan sosial tidak akan pernah dapat eksis. Dunia hanya akan menyajikan pemandangan kekacauan yang sempurna. Diperintah dari atas ke bawah, dunia akan menyerupai kekacauan yang dirancang dan diperhitungkan sebagaimana yang kita lihat dalam politik negara.
  3. Bahwa hukum moral adalah hukum yang sungguh-sungguh bermoral, logis, dan nyata hanya sejauh ia lahir dari kebutuhan-kebutuhan manusia. 
  4. Bahwa gagasan tentang Tuhan tidak diperlukan bagi keberadaan maupun bekerjanya hukum moral. Jauh dari itu, gagasan tersebut justru menjadi unsur yang mengacaukan dan merusak moral kehidupan sosial.
  5. Bahwa semua tuhan, baik yang dahulu maupun yang sekarang, berutang keberadaannya kepada imajinasi manusia yang belum terbebaskan dari belenggu naluri kebinatangan purbanya.
  6. Bahwa setiap tuhan, setelah ditegakkan di atas takhtanya, akan menjadi kutukan bagi umat manusia dan sekutu alami bagi seluruh tiran, penipu sosial, serta para pengeksploitasi manusia. 
  7. Bahwa keruntuhan Tuhan akan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan dari kemenangan umat manusia. Dan penghapusan gagasan tentang Tuhan akan menjadi hasil yang niscaya dari emansipasi proletariat.

Dari sudut pandang moral, sosialisme adalah kedatangan kembali harga diri bagi umat manusia. Sosialisme menandai berakhirnya kehinaan dan ketundukan di hadapan Yang Ilahi.

Dari sudut pandang praktis, sosialisme merupakan penerimaan penuh atas sebuah prinsip besar yang dari hari ke hari semakin meresap ke dalam masyarakat. Prinsip itu semakin kuat menegaskan dirinya dalam kesadaran publik. Ia telah menjadi dasar bagi penyelidikan ilmiah, kemajuan pengetahuan, dan perjuangan kaum proletar. Ia berkembang di mana-mana. Singkatnya, prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Sebagaimana dalam dunia material, unsur-unsur anorganik seperti proses mekanis, fisik, dan kimia menjadi dasar bagi perkembangan kehidupan organik, baik tumbuhan maupun hewan, demikian pula dalam kehidupan sosial, perkembangan ekonomi telah dan terus menjadi landasan yang menentukan arah perkembangan agama, filsafat, politik, dan seluruh tatanan sosial kita. Prinsip ini dengan berani menghancurkan seluruh gagasan keagamaan dan keyakinan metafisis. Ia merupakan pemberontakan yang jauh lebih besar daripada pemberontakan yang lahir pada masa Renaisans dan abad ketujuh belas, yang meruntuhkan seluruh doktrin skolastik yang selama berabad-abad menjadi benteng kokoh Gereja, monarki absolut, dan kaum bangsawan feodal, lalu melahirkan kebudayaan dogmatis yang mengatasnamakan apa yang disebut akal budi murni, yang pada akhirnya justru menguntungkan para penguasa modern, yakni kelas borjuis.

Karena itu, melalui Internasional, kami menyatakan: Perbudakan ekonomi yang menimpa kaum pekerja, yakni ketergantungan mereka kepada mereka yang menguasai kebutuhan hidup, alat-alat kerja, perkakas, dan mesin-mesin produksi, merupakan sebab utama dan sumber dari segala bentuk perbudakan yang ada saat ini. Dari situlah lahir kemerosotan intelektual dan ketundukan politik. Oleh karena itu, emansipasi ekonomi kaum pekerja adalah tujuan yang harus ditempatkan di atas segala tujuan lainnya. Setiap gerakan politik harus menundukkan keberadaannya kepada tujuan tersebut dan berfungsi semata-mata sebagai sarana untuk mencapainya. Singkatnya, inilah gagasan pokok Internasional.


Diterjemahkan dari: