Penulis: Edwin J. Kuh
Ketika seseorang menyampaikan penolakan terhadap tradisi teologis, ia melakukannya dengan kesadaran bahwa tindakannya itu, sampai batas tertentu, dapat membuatnya menghadapi pengucilan sosial. Opini publik, yang jarang memberi ruang bagi perbedaan yang halus dan cenderung menyamaratakan segala sesuatu, memandang kaum bid’ah, orang yang tidak beragama, agnostik, dan ateis sebagai satu kelompok yang patut dicela dan dicurigai. Sama seperti opini publik memandang kaum sosialis, anarkis, dan teroris sebagai kelompok yang dianggap saling tumpang tindih dan dipersepsikan sebagai ancaman bagi masyarakat.
Ketika kita melihat sebuah kota diliputi ketakutan hanya karena kehadiran seorang penderita kusta secara kebetulan, padahal sebenarnya ia jauh lebih kecil risikonya bagi masyarakat dibandingkan penderita tuberkulosis, kita dapat memahami betapa kuatnya pengaruh tradisi, prasangka, dan ketidaktahuan yang bekerja tanpa disadari.
Kita semua cenderung melebih-lebihkan tingkat kemajuan pemikiran pada zaman sekarang. Memang ada kelompok kecil yang lebih tercerahkan, tetapi sebagian besar masyarakat, jika dipandang secara umum, tetap sama mudah tertipu dan tidak jauh lebih bijaksana dibanding masa-masa sebelumnya. Kita tidak boleh lupa bahwa dari segi susunan batin dan kecenderungan yang diwariskan, manusia pada dasarnya membawa warisan ratusan ribu tahun sejarah evolusi, sementara sisi diri kita yang benar-benar beradab sebenarnya masih tergolong sangat muda.
Dua kekuatan yang paling dominan dalam dunia yang beradab adalah Gereja dan Negara. Mengenai yang terakhir, saya tidak akan membahasnya secara khusus. Namun, saya cukup akrab dengan literatur anarkisme untuk menyadari bahwa kaum idealis terbesar pada masa kini adalah kaum anarkis. Jika peluang penyebaran gagasan anarkisme dalam kondisi sekarang dan untuk generasi-generasi mendatang tidak tampak begitu mustahil untuk diwujudkan secara nyata, orang mungkin masih dapat menggantungkan harapan pada cita-cita anarki. Tetapi manusia yang sempurna dan masyarakat ideal belum tampak di hadapan kita. Sang pemimpi yang menanam benih kebebasan universal pada akhirnya akan menuai duri sebagai balasan atas jerih payahnya.
Kekuatan besar lainnya yang mendominasi urusan umat manusia adalah Gereja. Jika Negara mengklaim dirinya sebagai pelindung hak-hak rakyat, termasuk memberikan kebebasan bertindak dan berbicara dalam batas-batas tertentu yang terkadang terasa mengekang, maka Gereja sepanjang sejarah justru berusaha menindas bahkan kebebasan berpikir. Jika memang benar untuk membenci penindasan, kefanatikan, kekerasan, dan pembunuhan massal, maka kita tentu beralasan untuk membenci Gereja karena sejarah panjang penganiayaannya yang konsisten dan tanpa belas kasihan. Hal yang selalu paling saya anggap menjijikkan dalam sejarah Gereja adalah ketiadaan rasa iba yang begitu mutlak, bahkan sekadar belas kasih yang paling sederhana sekalipun terhadap para korbannya. Bahkan kematian saja tidak cukup memuaskan para pengikut Kristus ini apabila tidak disertai penyiksaan.
Namun, saat ini kita hidup dalam sebuah masa pemberontakan besar. Lembaga paling tangguh dalam sejarah, yaitu Gereja, sedang mengalami keruntuhan. Ia sedang runtuh di bawah serangan keraguan, akal budi, dan pengetahuan. Kita tidak seharusnya berputus asa hanya karena dalam kematian Ferrer, Gereja masih menunjukkan kemampuannya untuk menghancurkan. Sebaliknya, kita harus melihat peristiwa itu sebagai hentakan terakhir dari seekor binatang yang sedang sekarat, yang dalam amukan terakhirnya masih sempat meremukkan korban yang tidak menyadari bahaya yang mendekat.
Saya akan mencoba menunjukkan betapa pentingnya untuk tidak mempercayai sesuatu yang tidak benar, dan karena itu saya memberi esai ini judul “Hak untuk Tidak Percaya”.
Fenomena yang paling menarik dalam psikologi umat manusia adalah keteguhan manusia dalam mempertahankan kepercayaannya terhadap hal-hal adikodrati. Agama, sebagaimana sering dijelaskan, lahir dari rasa takjub dan kebingungan manusia ketika menghadapi gejala-gejala alam, dibentuk oleh rasa takut, serta didorong oleh upaya untuk berdamai dengan kekuatan-kekuatan yang tidak dipahaminya. Manusia menemukan bahwa di dalam unsur-unsur alam terdapat kekuatan yang berada di luar kendalinya: “Denn die Elemente hassen das Gebild der Menschenhand” (Sebab unsur-unsur alam membenci apa yang diciptakan oleh tangan manusia). Untuk menenangkan kekuatan-kekuatan alam yang dianggap merusak itu, manusia mencari perlindungan melalui pemujaan dan persembahan kurban. Dalam ketidakberdayaannya menghadapi kekuatan-kekuatan yang tak terlihat dan tak dapat dikendalikan, manusia merasa perlu mencari pertolongan dari sesuatu yang berada di luar dunia fisik. Dari sinilah muncul kecenderungan untuk memberikan sifat-sifat rohani kepada benda-benda di sekitarnya. Batu, pohon, api, air, udara, dan hewan dipercaya sebagai tempat berdiam roh-roh yang dapat dijangkau dan dipengaruhi melalui pemujaan, rayuan, dan persembahan. Pengalaman mimpi dan keadaan trans diperlakukan sebagai sesuatu yang nyata, sementara kematian dipahami sebagai pelepasan permanen roh yang dipercaya tetap melayang di sekitar tempat ia pernah hidup semasa di dunia. Roh-roh orang mati kemudian dianggap memiliki pengaruh terhadap nasib mereka yang masih hidup. Dari sinilah muncul kepercayaan terhadap yang adikodrati, keyakinan akan kehidupan setelah kematian, serta praktik pemujaan sebagai bentuk paling awal dari kehidupan beragama umat manusia. Ketika imajinasi manusia berkembang menuju gambaran yang lebih luhur, langit pun dibayangkan dipenuhi oleh dunia-dunia lain dan makhluk-makhluk yang dipercaya mengendalikan nasib manusia. Cara manusia memahami hubungannya dengan alam semesta seperti ini terus bertahan hingga masa kini, meskipun mengalami perubahan sesuai dengan zaman dan kebudayaan. Pandangan ini sering dijadikan alasan umum untuk menegaskan perlunya suatu sistem kepercayaan, sebab jika seluruh umat manusia memiliki agama, maka agama dianggap sebagai kebutuhan yang alamiah dalam kehidupan batin manusia.
Untuk merumuskan hubungan antara manusia dan alam semesta ke dalam suatu sistem yang menyeluruh, muncullah sekelompok orang yang secara khusus menjalankan fungsi itu, yaitu para nabi, peramal/dukun, dan imam. Menurut batas pengetahuan yang mereka miliki, mereka berusaha memahami hal-hal yang belum diketahui dan bertindak sebagai penafsir, perantara, sekaligus pemimpin upacara keagamaan. Agar kewibawaan mereka tetap terjaga, mereka perlu mengklaim bahwa mereka memiliki pengetahuan yang lebih dekat tentang kehendak ilahi dan kekuatan-kekuatan di bawahnya, serta kemampuan untuk memengaruhi peristiwa-peristiwa alamiah maupun adikodrati. Dari sinilah lahir lembaga kependetaan yang selama waktu yang sangat panjang otoritasnya nyaris tidak pernah dipersoalkan. Selama seribu tahun masa kegelapan di Eropa, ketika iman dan ketidaktahuan mencapai puncak pengaruhnya, kekuasaan para pemuka agama tidak hanya mendominasi kehidupan rohani, tetapi juga turut menguasai urusan-urusan duniawi. Karena tujuan dan hasil dari pelayanan mereka tidak selalu dapat dibuktikan melalui kenyataan yang dapat diamati, maka dogma dan klaim tentang ketidakmungkinan untuk keliru menjadi konsekuensi yang dianggap perlu. Karena itu, dapat dimengerti apabila Gereja sepanjang sejarah selalu mempertahankan kepastian atas ajaran dan kewenangannya, sementara keraguan dipandang sebagai ancaman yang harus disingkirkan, melalui bujukan jika memungkinkan, atau melalui paksaan apabila diperlukan. Seorang Bapa Gereja pada masa awal pernah mengungkapkan kebutuhan akan iman yang tanpa syarat ini melalui ungkapan yang terkenal: “Credo quia impossibile” (Aku percaya karena itu mustahil), sebuah aforisme yang begitu memikat sehingga bahkan mampu menggugah imajinasi orang yang paling sulit tersentuh sekalipun.
Kita telah berusaha menjelaskan sesingkat mungkin bahwa agama lahir dari pencarian yang masih meraba-raba menuju pemahaman; bahwa ia muncul dari ketidaktahuan, bukan dari kebijaksanaan; bahwa dasarnya bertumpu pada takhayul, dan bangunannya ditegakkan oleh iman. Semua itu dapat kita lihat dengan begitu jelas ketika menilai sistem kepercayaan orang lain. Namun ketika menyangkut keyakinan kita sendiri, keraguan atau penyangkalan segera dicap sebagai penghujatan. Agama-agama besar Mesir, India, Persia, Yunani, dan Roma tampak bagi kita sebagai rangkaian yang membingungkan dari tenaga yang tersia-sia, upacara yang sulit dipahami, pengorbanan yang kejam, dan perkembangan yang terhambat. Kita memandang dengan skeptis semangat religius kaum Brahmana, dan para dewa Olimpus tampak seperti tokoh-tokoh dalam sandiwara. Namun semua agama berasal dari sumber yang sama; setiap kepercayaan baru pada dasarnya merupakan penolakan terhadap kepercayaan sebelumnya. Perkembangannya bergerak dari bentuk yang lebih tidak masuk akal menuju bentuk yang lebih dapat diterima oleh nalar. Seiring berkembangnya kecerdasan manusia, setiap kemajuan dalam perkembangan agama terjadi melalui pelepasan unsur-unsur yang tidak lagi dapat dipertahankan.
Berbeda dengan perkembangan di bidang pengetahuan lainnya, kemajuan dalam agama lebih banyak terjadi melalui pengurangan daripada penambahan. Dengan kata lain, ketika teologi bergerak selangkah maju sebagai tanggapan terhadap meningkatnya kecerdasan manusia, ia melakukannya dengan melepaskan sebagian beban lama yang dibawanya. Terdengar seperti seruan yang sangat modern ketika kita membaca bahwa para imam Romawi dulu pernah mengecam umat Kristen awal sebagai kaum ateis. Upacara pembaptisan, percikan air suci, atau mandi di sungai untuk menyembuhkan kusta, semuanya merupakan jejak penghormatan kepada dewa-dewa air; demikian pula pembakaran dupa yang berasal dari ritual Mesir kuno. Jika seluruh kerumitan ajaran Kristen disingkirkan dan hanya unsur-unsur dasarnya yang disisakan, maka tampak bahwa keyakinan itu lahir dari dorongan yang sama dan dipenuhi oleh emosi yang sama seperti yang menggerakkan manusia pada tahap paling awal peradaban. Kita bahkan tidak perlu masuk terlalu jauh ke dalam rinciannya untuk melihat bahwa di dalamnya masih begitu banyak unsur fetisisme, penyembahan berhala, dan antropomorfisme, sehingga orang Kristen abad kedua puluh pada akhirnya masih berdiri dalam garis sejarah yang sama dengan para penyembah dari masa prasejarah.
Dalam kaitannya dengan hal ini, menarik untuk dicatat bahwa Huxley pernah menunjukkan adanya kemiripan yang mencolok antara fetisisme masyarakat Polinesia abad ke-19 dan teologi bangsa Israel kuno.
Ketika menelaah beberapa ciri dasar dari cara berpikir religius, pikiran hampir pasti akan sampai pada persoalan mukjizat. Mukjizat adalah anak kesayangan iman; gagasan bahwa Kekristenan akan bertahan atau runtuh bersama mukjizat-mukjizatnya telah mengalir sepanjang sejarah Gereja. Gereja Kristen tidak pernah ragu menolak taumaturgi atau praktik penciptaan mukjizat dari agama-agama Pagan. Menolak keyakinan terhadap mukjizat di luar Kekristenan dianggap sebagai sesuatu yang patut dipuji. Namun, apabila mukjizat di luar tradisi Kristen dinyatakan palsu, maka anggapan bahwa mukjizat Kristen dengan sendirinya pasti benar adalah “reductio ad absurdum” (pengurangan menuju absurditas).
Sekarang saya akan memberikan sebuah contoh yang secara historis sulit dibantah mengenai bagaimana kisah-kisah mukjizat terbentuk dan berkembang. Dalam riwayat hidup Santo Fransiskus Xaverius, kita menemukan gambaran yang sangat jelas tentang asal-usul kepercayaan terhadap mukjizat dan bagaimana kisah mukjizat semakin membesar seiring berjalannya waktu. Andrew D. White, dalam kajiannya mengenai Santo Fransiskus Xaverius, yang dijuluki “Rasul bagi Hindia”, menjelaskan bahwa Santo Fransiskus meninggalkan catatan yang sangat rinci tentang kehidupannya sebagai misionaris, baik melalui tulisannya sendiri maupun melalui catatan rekan-rekan seperjuangannya. Namun, tidak satu pun dari naskah-naskah tersebut menyebut adanya mukjizat yang dilakukan olehnya. Sebaliknya, Santo Fransiskus dan orang-orang sezamannya secara terbuka mengakui keterbatasannya sebagai manusia. Jose de Acosta, tokoh Jesuit pada masanya sekaligus otoritas tertinggi yang hidup sezaman dalam persoalan ini, secara tegas menyatakan bahwa Santo Xaverius tidak pernah melakukan mukjizat. Perlu diingat bahwa Santo Fransiskus hidup pada paruh pertama abad ke-16. Tidak lama setelah kematiannya, mulai bermunculan kisah-kisah tentang mukjizat yang konon dilakukan olehnya. Pada tahun 1622, tujuh puluh tahun setelah kematiannya, ia dikanonisasi di Roma dan dikisahkan telah membangkitkan tiga orang dari kematian. Pada tahun 1682, seratus tiga puluh tahun setelah kematiannya, jumlah itu berkembang menjadi empat belas kebangkitan. Jika legenda semacam ini dapat muncul pada masa beberapa abad setelah Shakespeare, ketika seni percetakan telah lama berkembang dan penyebaran tulisan jauh lebih luas, maka dapat dibayangkan betapa suburnya lahan bagi tumbuhnya mitos-mitos mukjizat pada abad-abad awal, ketika naskah hanya beredar di kalangan terbatas, di tangan orang-orang yang bebas membentuk tradisi sesuai imajinasi mereka dan menganggap setiap tambahan pada kisah-kisah keajaiban Kristen sebagai tindakan yang saleh.
Pengamatan-pengamatan ini membawa kita pada persoalan yang sangat mendasar. Karena tradisi-tradisi paling suci dalam Gereja Kristen bertumpu pada sosok Yesus, dunia Kristen tentu tidak akan mudah menerima dampak mengguncang dari penelitian sejarah terhadap kehidupan dan zamannya. Pengetahuan kita mengenai pribadi Yesus, menurut sumber-sumber yang dianggap paling dapat dipercaya, pada dasarnya sepenuhnya bertumpu pada tradisi. Tulisan paling awal yang mengisahkan kehidupannya berasal dari Paulus, yang tidak pernah melihatnya secara langsung. Keempat Injil sendiri ditulis sekitar empat puluh, lima puluh, enam puluh, dan seratus tahun setelah kematiannya. Bahkan seandainya informasi tersebut berasal dari saksi mata, yang kenyataannya tidak demikian, kita tetap memiliki alasan untuk meragukan keandalannya secara serius. Kita mengetahui bahwa Injil mengalami perkembangan selama berabad-abad setelah awal era Kristen melalui tangan para penulis anonim yang menambahkan unsur-unsur penafsiran dan imajinasi mereka ke dalam catatan-catatan terdahulu. Sejarah menunjukkan bahwa pada masa para Kaisar Romawi awal terdapat harapan yang luas akan kedatangan "Sang Mesias". Politeisme telah kehilangan daya hidupnya. Ia tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan intelektual maupun moral manusia. Di tengah dunia Yunani-Romawi yang mulai kehilangan kepercayaan terhadap politeisme itulah muncul sebuah ajaran baru yang menawarkan pertolongan bagi kaum miskin, keadilan bagi yang tertindas, kebebasan bagi para budak, harapan bagi mereka yang putus asa, pembaruan bagi mereka yang dianggap berdosa, dan kebangkitan bagi mereka yang menghadapi kematian. Dan masyarakat menyambut ajaran itu, yang pada kemudian hari digunakan sebagai sarana untuk menarik dan mempertahankan pengikut.
Dikatakan bahwa pada masa tersebut terdapat beberapa orang bernama Yesus yang mengklaim diri memiliki panggilan sebagai Mesias, dan dari sini muncul kesimpulan bahwa sosok Yesus dalam kitab suci merupakan figur gabungan yang terbentuk dari berbagai tradisi dan pengaruh. Nama Yesus sendiri, yang bagi banyak orang tampak begitu khas dan unik, sebenarnya merupakan bentuk Helenisasi dari nama Ibrani “Yosua”. Dengan demikian, pengangkatannya menjadi sosok ilahi dapat dipahami sebagai ungkapan religius yang lahir dari luapan keyakinan manusia, baik secara pribadi maupun kolektif, yang mencerminkan kecenderungan manusia untuk mencari bentuk tertinggi bagi ibadah mereka dan harapan mereka akan penebusan. Namun, apabila kritik sejarah dapat melangkah sejauh mempertanyakan secara serius apakah “Khotbah di Bukit” benar-benar pernah disampaikan, dan apakah yang dikenal sebagai “Doa Bapa Kami” benar-benar pernah diucapkan oleh Yesus dari Nazaret, maka sudah lama tradisi Kristen memerlukan peninjauan kembali secara menyeluruh. Meskipun demikian, sejauh apa pun pemahaman kita mengenai pribadi Yesus mengalami perubahan, ajaran etikanya tetap dapat dipandang sebagai suara kemanusiaan yang mendalam, memiliki daya jangkau yang hampir universal, dan dalam banyak hal merupakan puncak dari gagasan tentang kehidupan yang benar dan berkeadilan.
Dosa-dosa Gereja bukanlah dosa dari Kekristenan yang murni. Sebab, sekalipun Yesus tidak pernah hidup, ajaran-ajaran yang dipersonifikasikan melalui dirinya tetap akan menemukan, dan memang akan menemukan, bentuk pengungkapannya dalam suara universal umat manusia. Orang patut merenungkan seperti apa dukacita yang mungkin dirasakan oleh jiwa Yesus seandainya ia dapat menyaksikan apa yang telah dilakukan lembaga kependetaan atas dirinya; bagaimana ingatannya dinodai melalui tindakan-tindakan yang dilakukan atas namanya; bagaimana kesederhanaannya diubah menjadi lapisan upacara, kemegahan, dan kekerasan. Kita dapat membayangkan kebingungannya melihat kemurnian dan kelembutannya bercampur dengan hasrat akan kekuasaan yang begitu terang-terangan. Kita dapat membayangkannya seolah kehilangan tempat di tengah katedral-katedral megah yang dibangun untuk menghormatinya. Kita dapat membayangkannya bergidik melihat begitu besar penderitaan manusia yang dituntut sebagai harga dari pengagungannya. Dan jika ia hadir kembali ke dunia, tanpa segala sifat legendaris yang telah dilekatkan Gereja kepadanya, kita bahkan dapat membayangkan bahwa ia justru akan menjadi sasaran cemoohan dan penolakan dari para imam yang sama, yang telah mengangkatnya menjadi sosok ilahi.
Karena terdapat kelompok Kristen yang terhormat dan berpandangan rasional, yaitu kaum Unitarian, yang tidak menerima ajaran tentang keilahian Yesus, maka dapat dikatakan bahwa pengilahian “Sang Penebus” bukanlah ajaran yang mutlak dalam iman Kristen. Dengan demikian, yang tersisa adalah suatu bentuk keyakinan yang lebih sederhana, yang kerangkanya bertumpu pada gagasan tentang Tuhan yang esa, dengan Yesus dipandang sebagai seorang guru besar.
Mari kita menelaah perkembangan monoteisme. Huxley berpendapat bahwa evolusi teologi pada dasarnya merupakan bagian dari kajian antropologi. Dalam menelusuri asal-usul, perkembangan, kemunduran, dan perubahan berbagai gagasan mengenai keberadaan, kekuatan, serta watak makhluk-makhluk yang dianggap menyerupai manusia tetapi sedikit banyak bebas dari sifat jasmani, yang secara umum termasuk ke dalam wilayah teologi, ia menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap roh merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari keyakinan Israel kuno. Istilah “Elohim” digunakan untuk menyebut roh atau jiwa yang telah terlepas dari tubuh, yang dipahami sebagai bayangan dari tubuh yang pernah ditempatinya. Perbedaan yang dianggap ada di antara berbagai Elohim bukanlah perbedaan hakikat, melainkan hanya perbedaan tingkat. Dalam istilah logika, Elohim adalah kategori umum, sedangkan roh-roh, Kemos, Dagon, Baal, dan Yahweh dipandang sebagai bentuk-bentuk khusus di dalamnya. Bangsa Israel kuno membayangkan Yahweh bukan hanya dalam rupa manusia, tetapi juga sebagai sosok yang dapat berubah-ubah, mudah tersinggung, dan pada saat tertentu dapat bertindak keras. Yahweh-Elohim digambarkan sebagai makhluk yang pada dasarnya tetap memiliki sifat manusia seperti yang lain, hanya saja dengan kekuatan yang jauh lebih besar, baik untuk membawa kebaikan maupun kebinasaan. Karena itu, menurut pandangan ini, konsep tentang Yahweh merupakan perkembangan langsung dari fetisisme, pemujaan leluhur, pemujaan terhadap tokoh-tokoh besar, dan demonologi yang lahir dari cara berpikir manusia purba. Dalam tradisi Musa, sosok tuhan yang bercorak manusiawi ini kemudian berkembang menjadi gagasan tentang Tuhan Yang Maha Tahu dan Maha Kuasa sebagaimana dipahami dalam tradisi Yahudi, Kristen, dan Islam. Konsep tentang ketuhanan seperti ini, menurut argumen tersebut, tidak mungkin lahir dari pola pikir modern. Namun demikian, generasi kita masih dituntut untuk menyesuaikan pemahaman kita tentang misteri besar alam semesta dan memusatkan rasa hormat kita pada suatu konsep tentang Tuhan yang terbentuk jauh sebelum munculnya cara berpikir ilmiah modern.
Karena inilah zaman ilmu pengetahuan. Selama empat atau lima abad terakhir, pencarian manusia terhadap pengetahuan telah bergerak ke arah yang baru. Penemuan mesin cetak, reformasi, perkembangan ilmu astronomi, dan penjelajahan samudra menjadi tiupan terompet yang menandai lahirnya zaman modern. Seni percetakan menyingkap tirai kegelapan yang selama lima belas abad menyelimuti Eropa. Sepanjang masa itu, bahkan hingga melewati era reformasi, pergulatan panjang dalam perkembangan Kekristenan menggema ke seluruh dunia. Itu adalah proses kelahiran yang panjang dan penuh gejolak. Anak pertama lahir dengan keadaan yang dalam istilah patologi disebut “bicephalus”, atau makhluk berkepala dua, dengan satu kepala mewakili corak Yunani dan kepala lainnya mewakili corak Romawi. Saudaranya yang lahir beberapa abad kemudian muncul dengan tenaga yang lebih kuat dan sejak awal telah menyatakan perlawanan keras terhadap kakaknya. Pada mulanya ia tampak sehat, tetapi kemudian berkembang sedemikian rupa dengan berbagai tambahan dan pertumbuhan baru sehingga menjadi sulit membedakan mana bentuk aslinya dan mana yang sekadar lapisan yang menumpuk di atasnya. Dua anak yang telah lama mengalami benturan ini, yang sama-sama berasal dari warisan Musa dan yang mungkin bahkan sulit dikenali oleh ayah mereka sendiri, yaitu Yesus, telah memperlakukan satu sama lain dengan cukup kasar. Namun mereka juga harus menghadapi lawan-lawan dari luar diri mereka sendiri.
Draper menunjukkan bahwa selama seribu lima ratus tahun era Kristen tidak muncul astronom Kristen yang berarti. Di mata Gereja, dengan pandangan penciptaannya yang masih bersifat kuno, astronomi dianggap sebagai cabang ilmu yang paling mengancam. Karena itu, apabila seorang Kristen ingin menikmati kemewahan untuk meninggal dengan tenang di tempat tidurnya sendiri, akan lebih aman baginya menyerahkan penelitian astronomi kepada bangsa Arab. Namun pada awal abad ke-16, Copernicus menulis sebuah risalah berdasarkan perhitungan matematis yang ia beri judul “Revolutions of the Heavenly Bodies” (Tentang Revolusi Benda-Benda Langit). Ia tidak berani menerbitkan karya itu selama 36 tahun. Menjelang kematiannya, satu-satunya penghiburan yang sempat ia rasakan adalah ketika sahabat-sahabatnya membawa kepadanya salinan cetak buku tersebut dan meletakkannya di samping tempat tidurnya.
Satu abad kemudian, Galileo mengarahkan teleskop ke langit dan memberikan bukti yang dapat diamati langsung untuk mendukung teori Copernicus. Pada masa yang sama, tiga pelaut besar: Columbus, Da Gama, dan Magellan, menunjukkan bahwa pandangan yang didasarkan pada penafsiran kitab suci mengenai bumi yang datar tidak lagi dapat dipertahankan. Setelah itu, penemuan demi penemuan terus bermunculan, dan pengorbanan demi pengorbanan terus menyertainya. Wajah para pemikir besar yang dipenuhi kesedihan seolah terus menatap kita sepanjang sejarah. Kisah Galileo adalah salah satu kisah yang tidak pernah kehilangan maknanya untuk terus diceritakan. Meskipun cerita tentang hentakan kaki dan ucapan “eppur si muove” (namun ia tetap bergerak) mungkin hanya legenda, kisah itu terlalu kuat untuk dilupakan. Pernyataan penyangkalan yang tercatat dalam sejarah berbunyi: "Saya, Galileo, pada usia tujuh puluh tahun, sebagai seorang tahanan dan dalam keadaan berlutut di hadapan Yang Mulia, dengan Injil Suci di depan mata yang saya sentuh dengan tangan saya, menyangkal, mengutuk, dan menolak kesalahan serta ajaran sesat tentang gerak bumi." Pernyataan itu disampaikan di bawah ancaman penyiksaan. Setelah itu, berbagai sanggahan teologis terhadap sistem Copernicus diajukan, sementara Galileo sendiri tidak diberi kesempatan untuk menanggapinya.
Saya akan mengutip karya Chiaramonti, yang ditulis di bawah perlindungan Gereja, sebagai contoh khas cara berdebat kalangan gerejawi pada masa itu: “Makhluk yang bergerak memiliki anggota tubuh dan otot; bumi tidak memiliki anggota tubuh dan otot; maka bumi tidak bergerak. Saturnus, Jupiter, matahari, dan benda-benda langit lainnya digerakkan oleh para malaikat. Jika bumi berputar, maka harus ada malaikat di pusatnya yang menggerakkannya; tetapi di sana hanya ada iblis; maka yang menggerakkan bumi pastilah iblis.” Di hadapan pembelaan seperti itu, beserta berbagai argumen serupa lainnya, pada akhirnya pandangan kosmologis yang bertumpu pada tafsir kitab suci dan otoritas Gereja runtuh. Bumi tidak lagi dipandang sebagai pusat alam semesta. Benteng demi benteng ditinggalkan, dan Gereja tidak lagi menjadi kekuatan dominan yang terus bertempur mempertahankan wilayahnya. Ia berangsur berubah menjadi kekuatan yang lebih pasif namun tetap bertahan; ketika tekanan semakin besar, ia mulai meraih dengan ragu ke arah ilmu pengetahuan yang telah unggul, bersedia meninggalkan tafsir harfiah, lalu mundur ke wilayah penafsiran simbolik.
Namun, kebenaran ilmiah adalah sesuatu yang tegas dan tidak mengenal kompromi. Ketika para filsuf yang tenggelam dalam istilah-istilah rumit, atau para ilmuwan semu, mencoba tampil sebagai penengah dan menjembatani jurang itu melalui permainan dialektika yang rumit, kita hanya dapat menyaksikan pertunjukan tersebut, tergantung pada kecenderungan masing-masing, dengan rasa geli atau dengan rasa muak. Belakangan ini tampaknya menjadi semacam kebiasaan untuk memperlakukan Gereja dengan lebih lunak; mencari titik temu; mengulurkan tangan persahabatan; menjabat tangan yang berlumuran darah atau tangan licin mereka yang selalu menyesuaikan diri dengan keadaan. Bagi mereka yang bersedia menerima pelukan seekor ular, saya tidak mempermasalahkan jika mereka juga bersedia berbagi tempat dengan kependetaan.
Teologi telah mengajarkan ajaran-ajaran yang dianggap keliru dan karena itu kehilangan kewibawaannya sebagai pengajar. Jika suatu hari misteri besar tentang keberadaan menemukan jawabannya, maka jawabannya tidak akan datang melalui teologi, melainkan melalui ilmu pengetahuan. Para imam, dengan langkah yang lambat dan berat, akan terus berjalan di belakang penelitian dan penemuan. Kita akan berpaling kepada para matematikawan, astronom, geolog, ahli paleontologi, fisikawan, kimiawan, ahli botani, biolog, ahli anatomi, dan ahli fisiologi untuk mencari pemahaman tentang langit dan bumi, tentang kehidupan dan kematian. Sulit untuk memastikan perubahan seperti apa yang pada akhirnya akan dialami oleh peran kependetaan. Besar kemungkinan jumlah rohaniwan akan semakin berkurang. Dan lebih besar lagi kemungkinan bahwa para pencari kebenaran tidak lagi diburu atau dikucilkan oleh lembaga keagamaan yang telah kehilangan kewibawaannya. Sangat mungkin pula bahwa ketika akal budi mengambil tempat yang selama ini ditempati oleh tradisi, umat manusia akan menghela napas lega karena terbebas dari belenggu pikiran yang dikekang, serta dari pengaruh sekelompok orang yang dipandang telah menjadi pengajar yang menyesatkan. Dalam kaitannya dengan hal ini, ada dua persoalan yang pemecahannya menghadirkan bahan renungan yang sangat menarik.
Pertama: bagaimana mungkin, di tengah hantaman keras terhadap keabsahan historis kitab-kitab suci, ortodoksi, semi-ortodoksi, bahkan liberalisme dalam teologi masih tetap bertahan?
Kedua: apa yang akan terjadi pada umat manusia apabila landasan teologi dicabut?
Sekarang mengenai pertanyaan pertama. Bagaimana mungkin Gereja mampu bertahan dari serangan para penentangnya, dan mengapa orang-orang dengan kecerdasan tinggi tetap setia pada tradisi teologis? Jawabannya tidak sederhana. Massa bergerak dengan lambat. Lembaga tradisi dapat diibaratkan seperti sebuah piramida, yang daya tahannya paling kuat justru pada bagian dasarnya. Semua gerakan besar selalu bermula dari lapisan atas dan harus menghadapi kelembaman massa yang sangat besar. Meskipun bangunan itu mulai runtuh, proses keruntuhannya berlangsung begitu lambat sehingga membuat kaum optimis kehilangan harapan, sementara kaum reaksioner justru terlena dalam rasa aman yang palsu. Perubahan yang bersifat evolusioner tidak dapat diukur hanya dengan hitungan tahun atau generasi. Fakta bahwa sebuah lembaga kuno, meskipun selama berabad-abad menunjukkan tanda-tanda kemunduran, belum juga mencapai kehancuran sepenuhnya, tidak dapat dijadikan bukti bahwa lembaga tersebut sungguh kokoh. Menarik sekali melihat betapa bahkan orang-orang cerdas pun dapat kebal terhadap logika dan bukti. Bukan hanya orang bodoh yang menjadi pendukung berbagai bentuk kepalsuan, baik dalam agama, politik, ilmu pengetahuan, maupun kehidupan sosial. Ketika seseorang seperti Gladstone tampil membela ortodoksi, kita seharusnya memandangnya sebagaimana seorang dokter memandang gejala penyakit yang perlu dicari penjelasannya.
Izinkan saya menjelaskan maksud ini melalui sebuah perumpamaan. Pada titik masuk saraf optik ke retina terdapat apa yang disebut sebagai blind spot atau titik buta. Setiap mata normal memiliki titik buta tersebut. Jika fakta ini dijadikan metafora, maka di dalam otak manusia pun terdapat satu atau lebih titik buta. Ketika suatu gagasan atau kesan mencapai titik itu, tidak muncul reaksi ataupun tanggapan. Pada orang-orang yang kurang cerdas, ketiadaan reaksi ini tampak sangat jelas dan sering kali menjengkelkan. Dalam kalangan intelektual jumlahnya memang lebih sedikit. Namun sangat jarang ada pikiran yang cukup peka untuk menerima setiap kesan secara utuh dan jernih. Bahkan sering kali kita melihat bahwa semakin terang cahayanya, semakin pekat pula bagian yang menjadi kabur. Penyebab keadaan ini sangat beragam. Pertama, ada sistem pendidikan kita. Orang pergi ke sekolah karena nilai ekonomi kecerdasan dianggap lebih tinggi daripada tenaga fisik, kecuali mungkin bagi petinju atau pemain bisbol. Sebagian besar masyarakat hanya memperoleh pendidikan dasar. Kurang dari lima persen yang mencapai pendidikan menengah, dan kurang dari dua persen yang berhasil memasuki pendidikan tinggi. Artinya, sembilan puluh lima persen masyarakat tetap berada dalam keadaan yang relatif tidak terdidik, di negara yang begitu bangga akan kecerdasan warganya. Apa yang diajarkan di sekolah-sekolah umum sama sekali belum cukup untuk disebut sebagai pendidikan yang sesungguhnya. Jutaan anak dilepas ke tengah masyarakat hanya dengan sedikit pengetahuan tentang beberapa hal dan ketidaktahuan yang luas tentang banyak hal lainnya. Menjelaskan bagaimana tujuh tahun berharga dalam masa sekolah itu dihamburkan oleh sistem yang buruk dan guru-guru yang tidak cakap akan membawa pembahasan ini terlalu jauh. Cukuplah dikatakan bahwa tanpa dasar yang kokoh, tidak mungkin berdiri bangunan yang kokoh. Anak-anak ini kemudian tumbuh menjadi orang dewasa yang biasa-biasa saja secara intelektual dan jarang memiliki kemampuan untuk berpikir mandiri. Di sinilah, tanpa diragukan lagi, terletak rahasia kekuatan pers di Amerika. Dari sanalah mengalir racun halus yang oleh para optimis disebut sebagai Opini Publik. “Opini publik, perpaduan besar antara kebodohan, kelemahan, prasangka, perasaan yang keliru, perasaan yang benar, keras kepala, dan potongan-potongan berita surat kabar.”
Lalu ada sekolah menengah, perguruan tinggi, dan universitas bagi segelintir orang yang secara logis seharusnya menjadi pemimpin intelektual masyarakat. Selama empat atau lima abad terakhir, penelitian ilmiah terus berkembang hingga mencapai pencapaian-pencapaian besar pada abad ke-19. Namun, apakah kemenangan-kemenangan ilmu pengetahuan itu benar-benar mengubah sistem pendidikan kita? Sama sekali tidak. Di hampir semua lembaga pendidikan umum, ilmu-ilmu alam belum ditempatkan sebagai bidang yang paling utama. Sistem pendidikan warisan abad pertengahan masih tetap mendominasi. Padahal, selain memiliki manfaat praktis, pemahaman yang mendalam tentang ilmu pengetahuan juga sangat penting secara intelektual, karena ilmu pengetahuan melatih manusia untuk menggunakan akal budi, memahami hubungan sebab dan akibat, tidak menerima sesuatu begitu saja, serta memahami mekanisme alam semesta dan hubungan manusia dengan alam. Kajian tentang alam “bukanlah keterpakuan sempit pada hal-hal material seperti yang sering dituduhkan sebagian orang, melainkan pencarian terhadap hukum-hukum yang mendasari kesatuan keberadaan manusia, di mana pengalaman mental, moral, dan sosial hanyalah berbagai bentuk dari keseluruhan itu.” Prinsip dasarnya adalah perkembangan, pertumbuhan, dan perubahan yang bertumpu pada bukti.
Sebaliknya, seluruh bangunan teologi berdiri di atas prinsip yang berlawanan: ketetapan, ketidakberubahan, dan finalitas. Seluruh pembuktiannya bertumpu pada tradisi. Tak satu pun dari keajaiban-keajaibannya dapat diperlihatkan kembali di hadapan masyarakat modern yang berpikiran sehat. Manusia dituntut untuk percaya bahkan pada hal yang mustahil. Itulah yang disebut iman, sesuatu yang dengan bangga dibicarakan oleh begitu banyak orang. Jika seseorang tidak mengetahui sesuatu, tetapi tetap mempercayainya, bahkan bersedia menyalakan api penyiksaan demi mempertahankan dogmanya, maka itulah yang disebut iman.
Semua hal ini menjelaskan mengapa orang-orang cerdas, yang kecerdasannya diarahkan ke jalan yang keliru, maupun orang-orang yang tidak pernah dilatih untuk berpikir secara mandiri, tetap dapat mempercayai Gereja.
Namun jika digabungkan, masih banyak pengaruh lain yang sama kuatnya. Misalnya, ada faktor kemalasan berpikir; alasan bahwa sejak kecil kita dibesarkan dengan keyakinan tertentu dan tidak ingin mengguncang perasaan keluarga atau orang-orang terdekat. Lalu ada naluri untuk mengikuti kelompok, rasa nyaman karena menjadi bagian dari lingkungan yang sama, berada di pihak mayoritas, beserta berbagai keuntungan sosial dan bisnis yang menyertainya. Ada pula kaum pengecut intelektual, orang-orang yang takut dianggap aneh apabila berpikir berbeda dari lingkungannya. Kemudian ada mereka yang lemah pendirian dan selalu ingin berada di pihak yang aman, yang dikuasai Gereja melalui janji pahala atau ancaman hukuman. Sebab harus diingat bahwa Gereja menjalankan kekuasaan yang justru terasa semakin besar ketika manusia semakin jauh dari sesuatu yang dapat dibuktikan secara nyata. Gereja mengklaim mampu memengaruhi nasib manusia setelah kematian, dan praktik jual beli misa menunjukkan bagaimana lembaga itu masih dapat menarik upeti bahkan dari orang yang telah meninggal. Gereja seolah memberikan surat janji pembayaran, lengkap dengan petunjuk untuk menagihnya di dunia lain. Dan yang paling buruk dari semuanya adalah kemunafikan religius, yaitu mereka yang berusaha menipu bukan hanya sesama manusia, tetapi juga Tuhan yang mereka sembah sendiri. Bagi saya, tuduhan paling serius terhadap dunia Kristen terletak pada pertentangan antara apa yang mereka akui dan apa yang mereka jalankan. Saya tidak mengetahui kelompok agama lain (Yahudi, Muslim, maupun Pagan) yang sedemikian jauh menyimpang dari prinsip-prinsip yang mereka klaim junjung tinggi. Kekerasan, penipuan, kebohongan, dan penindasan yang terus berlangsung di tengah masyarakat Kristen, bahkan setelah hampir dua ribu tahun perkembangan Kekristenan, menunjukkan bahwa agama Kristen sebagai pedoman praktis kehidupan merupakan kegagalan yang menyedihkan. Argumen bahwa Kekristenan telah menjadi penghalang bagi ketidakadilan dan kejahatan terdengar begitu berlebihan sehingga cukup ditanggapi dengan penghinaan yang diam. Bahkan peninjauan singkat terhadap sejarah gereja sudah cukup untuk meyakinkan siapa pun yang berpikiran terbuka bahwa Gereja, sebagai pembawa panji dan wakil Kekristenan, telah menjadi salah satu penghasut kekejaman terbesar dalam sejarah umat manusia.
Oh, baiklah, mungkin ada yang berkata, “semua itu hanyalah sejarah lama.” Ya, sampai batas tertentu memang sejarah lama pada masa ketika kekuasaan Gereja masih mendominasi. Namun justru ketika kekuasaan Gereja mulai melemah, lahirlah sejarah tentang toleransi, belas kasih, dan keadilan. Yang melumpuhkan Gereja bukanlah Gereja itu sendiri, melainkan kekuatan sekuler; dan yang membimbing kekuatan sekuler itu adalah semangat modern, pikiran yang telah merdeka, pikiran yang dipimpin oleh akal budi, bukan oleh iman warisan leluhur. Gereja terus meratap tentang kemungkinan lahirnya umat manusia yang tanpa Tuhan. “Apa yang akan terjadi pada kehidupan batin kita”, katanya, “jika manusia tidak lagi tergetar oleh surga atau gemetar karena neraka? Apa yang akan terjadi pada jiwa kita tanpa penghiburan doa?” Baiklah, dunia tampaknya harus belajar hidup tanpa doa. Darwin, Huxley, Tyndall, dan Spencer tidak berdoa. Orang-orang yang cukup cerdas untuk memahami arah pemikiran abad ke-19 pun tidak berdoa. Apakah mereka memenuhi penjara-penjara? Mengapa manusia yang masih terkungkung dalam kegelapan harus berdoa kepada Tuhan yang Maha Tahu dan Maha Kuasa? Apakah ia berharap dapat memengaruhi kuasa dan kehendak yang mengatur alam semesta? Bagi saya, doa adalah inti dari penghujatan. Sebab jika Tuhan itu adil, mengapa saya harus berusaha memengaruhi kehendak-Nya? Jika saya berdoa ketika berada dalam kesusahan, berarti saya meragukan kebijaksanaan-Nya. Jika saya bersyukur atas keberhasilan saya, berarti saya mengharapkan imbalan dari Tuhan berupa keberhasilan yang lebih besar lagi. Jika saya merasa lebih tahu daripada Tuhan tentang apa yang baik bagi diri saya, maka saya menyangkal kemahatahuan-Nya. Pembelaan paling modern terhadap doa mengatakan bahwa doa tidak boleh dipahami secara harfiah. Doa hanyalah simbol, sarana untuk mengangkat jiwa dan memberi penghiburan batin. Saya pun dapat berargumen bahwa segelas wiski membuat orang miskin merasa dirinya kaya. Salah satu argumen kesayangan Gereja adalah klaimnya atas kekuasaan terhadap jiwa manusia. “Apakah Anda hendak menyangkal”, tanya seorang beriman dengan campuran nada iba dan penghinaan, “keberadaan jiwa manusia? Apakah Anda rela merendahkan diri hingga setara dengan binatang yang tak berjiwa? Apakah kita diciptakan hanya untuk mati? Ketika kita mati, apakah kita benar-benar lenyap?” Keangkuhan umat manusia tampak jelas dalam semua pertanyaan itu. Dari mana kita tahu bahwa binatang tidak memiliki jiwa? Apakah seorang Katolik Roma sungguh peduli terhadap jiwa seorang Hindu? Apakah ia menganggap jiwa itu berharga? Ya, jika orang Hindu itu menjadi Katolik. Bahkan di mata Paus, menjadi Protestan pun belum tentu banyak membantu. Dalam pandangan Gereja, seseorang mungkin dianggap lebih baik menjadi seekor kuda atau anjing daripada hidup tanpa membawa label dari suatu keyakinan tertentu.
Yang kita ketahui tentang jiwa hanyalah bahwa ia merupakan fungsi dari kesadaran, dan tidak seorang pun pernah mampu membuktikan adanya kesadaran yang terpisah dari tubuh. Jika kita ingin memahami jiwa, maka pencarian itu harus dilakukan di dunia ini, bukan di luar sana. Persoalan ini bukan persoalan agama ataupun spekulasi metafisik, melainkan persoalan pengalaman dan penelitian ilmiah. Jika prosesnya lambat dan penuh kesulitan, maka kita harus bersabar. Baik anatomi maupun fisiologi otak hingga kini masih menjadi wilayah yang gelap dalam ilmu pengetahuan. Namun jawaban atas persoalan itu berada di sana, bukan dalam spekulasi ataupun teologi, sebagaimana jawaban mengenai asal-usul kehidupan juga tidak terletak dalam teologi. Bumi, bukan surga, adalah tempat berdiamnya jiwa. Jika para pemilik pabrik berhenti menguras kehidupan anak-anak pekerja, maka mereka justru akan membantu perkembangan jiwa anak-anak itu. Ironisnya, kaum Puritan New England yang saleh dan gemar merataplah yang dahulu memberikan sumbangan besar terhadap eksploitasi anak-anak di pabrik-pabrik Amerika. Tubuh yang kelaparan dan jiwa yang kelaparan biasanya berjalan beriringan. Orang-orang Kristen yang saleh, yang tampaknya tidak sedikit pun gentar oleh perumpamaan Kristus tentang unta, lubang jarum, dan tertutupnya surga bagi orang kaya, kini mulai melihat tumbuhnya skeptisisme di kalangan kaum tertindas terhadap gagasan bahwa kemiskinan adalah jalan menuju surga. Dan karena itulah kami ingin menegaskan betapa besar pentingnya hak untuk tidak percaya, terutama dalam kehidupan sosial dan ekonomi manusia. Segala pengetahuan bermula dari keraguan. Ketika para korban Gereja dan Negara mulai menyadari kepalsuan yang selama ini disembunyikan di hadapan mereka, maka saat pembebasan mereka akan mulai datang. Ketika manusia menyadari bahwa Tuhan bukanlah semacam Bapa universal yang mengatur segala sesuatu demi kenyamanan mereka; bahwa para imam sesungguhnya sama tidak tahunya tentang misteri alam semesta seperti orang lain; bahwa Alkitab merupakan campuran antara kebenaran dan kekeliruan, antara sejarah dan legenda; bahwa pendidikan adalah senjata paling kuat dalam peradaban; bahwa kebajikan sama sekali tidak bergantung pada teologi; bahwa keadilan dan karakter merupakan kekuatan moral yang sejati; bahwa surga dan neraka adalah ciptaan manusia di dunia ini; bahwa Gereja Kristen merupakan penyimpangan dari sosok Kristus dalam tradisi; dan bahwa Kristus yang sesungguhnya hanyalah suara dari sisi terbaik dalam diri manusia sendiri, maka hak untuk tidak percaya yang kami tuntut sebagai hak dasar manusia akan menjadi fondasi bagi lahirnya sebuah peradaban baru.
Warga Amerika pada umumnya akan merasa dihina jika dikatakan bahwa patriotisme yang mereka banggakan sebenarnya hanyalah saudara kandung dari fetisisme agama mereka. Ketika mereka merayakan hari kelahiran dua Presiden besar yang semasa hidupnya justru dicaci dan difitnah tanpa ampun, dengan pidato-pidato penuh semangat, jamuan makan, dan kibaran bendera; ketika mereka setiap tahun meluapkan emosi untuk memperingati lahirnya republik; ketika mereka dengan gembira menyambut panggilan perang setiap kali para penguasa dan surat kabar menggiring mereka ke medan tempur, dada mereka mengembang oleh kebanggaan atas apa yang mereka sebut kesetiaan. Seluruh naluri kasar dan sifat primitif seorang patriot tampak di sana. Dengan tangan terulur mereka meraup hasil tambang, ladang, dan hutan, lalu berpesta dengan rakus pada hari yang dikhususkan untuk bersyukur kepada Tuhan atas kemakmuran mereka. Sementara itu, kanker korupsi perlahan menggerogoti tubuh bangsa itu dari dalam. Segala sesuatu yang busuk, menindas, dan tidak patriotik diselubungi atas nama bisnis dan politik. Sandiwara muram pengadilan disebut sebagai keadilan. Orang kulit hitam yang katanya telah dibebaskan dengan darah para patriot justru dianggap mencemarkan negeri ketika ia duduk semeja dengan orang kulit putih. Kotak suara yang curang menjadi rumah jagal tempat para pemilih digiring untuk dikorbankan. Para Presiden dibeli untuk memperoleh jabatan mereka.
Belakangan ini kita sering mendengar tentang gelombang moral besar yang katanya sedang menyapu negeri itu. Namun reformasi tersebut bukan lahir dari kebangkitan rohani, melainkan dari reaksi fisik terhadap bau busuk yang sudah terlalu menyengat. Begitu bau yang paling mencolok berhasil disingkirkan, masyarakat Amerika akan kembali tenang menjalankan kebusukan mereka yang rapi, nyaman, dan menguntungkan. Jika suatu bangsa bersikap munafik dalam hal yang mereka sebut paling suci dalam hidup, yaitu agama mereka, bagaimana mungkin kita berharap mereka bersikap jujur dalam urusan duniawi, ketika ketidakjujuran justru lebih menguntungkan? Orang Amerika yang kenyang dan hidup nyaman, dengan senyum licik di matanya, justru merasa geli terhadap praktik korupsi karena baginya hal itu menandakan kecerdikan yang berhasil. Ia menyebut pasal curang dalam undang-undang sebagai “joker”, sebab dalam pikirannya kelicikan selalu berkaitan dengan humor. Ia memetik buah kemakmuran dari pangkuan negerinya sendiri, tetapi buah itu membusuk di tangannya yang telah tercemar. Dan ia nyaris tidak menyadari bahwa demokrasi palsunya, agama palsunya, moralitas palsunya, dan reformasi palsunya sedang menyeret dirinya menuju suatu malapetaka besar, yang kelak harus dibayar mahal oleh anak-anaknya atau cucu-cucunya.
Catatan: Saya berutang pada karya “The New Paganism” tulisan Mussey atas beberapa kutipan yang digunakan dalam esai ini.