Penulis: Anonim
Pernah suatu kali, ketika membolak-balik sebuah buku tentang psikologi anak, saya menemukan sebuah bab mengenai pemberontakan remaja. Di situ dijelaskan bahwa pada tahap awal pemberontakan seorang anak terhadap orang tuanya, ia sering mencoba membedakan dirinya dengan cara menuduh orang tuanya tidak hidup sesuai dengan nilai-nilai yang mereka sendiri ajarkan. Misalnya, jika orang tuanya mengajarkan bahwa kebaikan dan kepedulian itu penting, maka sang anak akan menuduh mereka tidak cukup berbelas kasih. Pada tahap ini, si anak sebenarnya belum benar-benar mendefinisikan dirinya sendiri ataupun nilai-nilainya sendiri. Ia masih menerima nilai dan gagasan yang diwariskan kepadanya, dan hanya mampu menegaskan identitasnya di dalam kerangka itu. Barulah kemudian, ketika ia mulai mempertanyakan keyakinan dan moralitas yang selama ini disampaikan kepadanya seolah-olah sebagai kebenaran mutlak, ia dapat menjadi individu yang benar-benar mandiri.
Saya sering berpikir bahwa kita di dalam skena hardcore belum melampaui tahap pertama pemberontakan itu. Kita mengkritik tindakan kaum arus utama dan dampak masyarakat mereka terhadap manusia maupun hewan. Kita menyerang kebodohan dan kekejaman sistem mereka. Namun kita jarang berhenti untuk mempertanyakan hakikat dari apa yang selama ini diterima begitu saja sebagai “moralitas”. Mungkinkah “moralitas” yang kita gunakan untuk menghakimi tindakan mereka justru merupakan sesuatu yang seharusnya ikut dikritik? Ketika kita mengatakan bahwa eksploitasi terhadap hewan itu “salah secara moral”, apa sebenarnya maksud dari pernyataan itu? Jangan-jangan kita hanya menerima nilai-nilai mereka lalu membalikkan nilai-nilai itu untuk menyerang mereka, alih-alih menciptakan standar moral kita sendiri.
Mungkin sekarang Anda berkata dalam hati, “Apa maksudnya menciptakan standar moral kita sendiri? Sesuatu itu benar secara moral atau tidak. Moralitas bukan sesuatu yang bisa dibuat sesuka hati. Itu bukan sekadar persoalan pendapat pribadi.” Tepat di situlah Anda sedang menerima salah satu ajaran paling mendasar dari masyarakat yang membesarkan Anda: bahwa benar dan salah bukanlah penilaian individual, melainkan hukum dasar alam semesta. Gagasan ini, yang merupakan warisan dari Kekristenan yang telah mati, berada di pusat peradaban kita. Jika Anda benar-benar ingin mempertanyakan tatanan yang ada, maka pertanyakanlah itu terlebih dahulu.
Tidak ada benar atau salah yang berlaku universal.
Yang ada hanyalah diri Anda sendiri…
dan nilai-nilai yang Anda pilih untuk Anda pegang sendiri.
Dari mana gagasan tentang “Hukum Moral” berasal?
Pada suatu masa, hampir semua orang percaya akan keberadaan Tuhan. Tuhan ini diyakini menguasai dunia, memiliki kekuasaan mutlak atas segala sesuatu di dalamnya, dan menetapkan hukum-hukum yang wajib ditaati oleh seluruh umat manusia. Jika mereka melanggar, maka mereka akan menerima hukuman yang paling mengerikan dari-Nya. Tentu saja, sebagian besar manusia mentaati hukum-hukum itu sebaik mungkin, sebab rasa takut terhadap penderitaan abadi lebih kuat daripada keinginan mereka terhadap hal-hal yang dilarang. Karena semua orang hidup di bawah hukum yang sama, mereka pun memiliki kesepakatan tentang apa yang disebut “moralitas”: yaitu seperangkat nilai yang ditetapkan oleh hukum Tuhan. Dengan demikian, apa yang baik dan jahat, mana yang benar dan salah, semua ditentukan oleh otoritas Tuhan, yang diterima semua orang karena rasa takut.
Lalu suatu hari, manusia mulai tersadar dan menyadari bahwa Tuhan ternyata tidak pernah benar-benar ada. Tidak ada bukti ilmiah yang mampu membuktikan keberadaan-Nya, dan semakin sedikit orang yang merasa perlu mempertahankan keyakinan terhadap sesuatu yang dianggap irasional. Tuhan perlahan menghilang dari dunia. Tidak ada lagi yang takut kepada-Nya ataupun kepada hukuman-Nya. Namun sesuatu yang aneh kemudian terjadi. Meskipun manusia memiliki keberanian untuk mempertanyakan keberadaan Tuhan, bahkan menyangkal-Nya di hadapan mereka yang masih percaya, mereka tidak berani mempertanyakan moralitas yang diwariskan oleh hukum-hukum-Nya. Mungkin hal itu tidak pernah benar-benar terpikirkan oleh mereka. Semua orang dibesarkan dengan keyakinan yang sama tentang apa yang dianggap bermoral, dan terbiasa berbicara tentang benar dan salah dengan cara yang sama. Mungkin mereka menganggap sudah jelas mana yang baik dan mana yang jahat, entah Tuhan ada ataupun tidak. Atau mungkin manusia sudah terlalu terbiasa hidup di bawah hukum-hukum itu sehingga mereka takut bahkan untuk membayangkan kemungkinan bahwa hukum tersebut sebenarnya tidak lebih nyata daripada Tuhan itu sendiri.
Keadaan ini menempatkan umat manusia dalam posisi yang ganjil: meskipun tidak ada lagi otoritas yang secara mutlak menentukan apa yang benar atau salah, mereka tetap menerima gagasan bahwa ada hal-hal yang secara alami memang benar atau salah. Meskipun mereka tidak lagi percaya kepada Tuhan, mereka masih percaya pada adanya hukum moral universal yang wajib dipatuhi semua orang. Meskipun mereka telah berhenti percaya kepada Tuhan, mereka belum cukup berani untuk berhenti mentaati perintah-perintah-Nya. Mereka telah menyingkirkan gagasan tentang penguasa ilahi, tetapi belum menyingkirkan kesakralan dari kode moral yang diwariskannya. Kepatuhan tanpa pertanyaan terhadap hukum-hukum peninggalan penguasa langit yang telah lama mati ini merupakan mimpi buruk panjang yang baru sekarang mulai disadari dan coba dibangunkan oleh umat manusia.
Tuhan telah mati, dan bersama-Nya hukum moral pun ikut lenyap
Tanpa Tuhan, tidak ada lagi standar objektif yang dapat digunakan untuk menentukan apa yang baik dan apa yang jahat. Kesadaran ini sempat sangat mengguncang para filsuf beberapa dekade lalu, tetapi tampaknya tidak terlalu berpengaruh di kalangan masyarakat luas. Sebagian besar orang masih percaya bahwa moralitas universal dapat didasarkan pada sesuatu selain hukum Tuhan: pada apa yang dianggap baik bagi manusia, baik bagi masyarakat, atau pada apa yang mereka rasa sebagai panggilan moral. Namun penjelasan tentang mengapa semua itu harus dianggap sebagai “hukum moral universal” hampir tidak pernah benar-benar meyakinkan. Biasanya, argumen yang digunakan untuk membela keberadaan hukum moral lebih bersifat emosional daripada rasional. “Tapi bukankah pemerkosaan itu salah?”, tanya kaum moralis, seolah-olah kesamaan pendapat dapat dijadikan bukti kebenaran universal. “Tapi bukankah manusia membutuhkan sesuatu yang lebih besar daripada dirinya untuk dipercayai?”, kata mereka lagi, seakan-akan kebutuhan untuk percaya pada sesuatu otomatis membuat sesuatu itu menjadi benar. Kadang-kadang mereka bahkan menggunakan ancaman: “Tapi apa yang akan terjadi jika semua orang memutuskan bahwa tidak ada baik ataupun jahat? Bukankah kita semua akan saling membunuh?”
Masalah sesungguhnya dari gagasan tentang hukum moral universal adalah bahwa gagasan itu mengklaim keberadaan sesuatu yang sebenarnya tidak mungkin kita ketahui secara pasti. Para penganut konsep baik dan jahat ingin kita percaya bahwa ada apa yang disebut sebagai “kebenaran moral”, yaitu bahwa ada hal-hal yang secara moral memang benar dalam dunia ini, sama seperti langit memang berwarna biru. Mereka mengklaim bahwa pernyataan “pembunuhan itu salah secara moral”, sama benarnya dengan pernyataan bahwa air membeku pada suhu nol derajat Celsius. Namun suhu beku air dapat diselidiki secara ilmiah. Kita dapat mengukurnya, menelitinya, lalu bersama-sama menyepakati bahwa kita telah sampai pada semacam kebenaran objektif (Setidaknya sejauh masih mungkin berbicara tentang “kebenaran objektif”, bagi kalian para bajingan postmodernis!). Sebaliknya, apa sebenarnya yang dapat kita amati jika kita ingin menyelidiki apakah pembunuhan benar-benar jahat? Tidak ada hukum moral di puncak gunung yang bisa dijadikan rujukan. Tidak ada perintah-perintah suci yang terukir di langit di atas kepala kita. Yang kita miliki hanyalah naluri kita sendiri, ditambah kata-kata para pendeta dan para ahli moral yang mengangkat diri mereka sendiri sebagai otoritas, yang bahkan sering kali tidak sepakat satu sama lain. Dan mengenai ucapan para pendeta serta kaum moralis itu, jika mereka tidak mampu memberikan bukti nyata, mengapa kita harus mempercayai klaim mereka? Begitu pula dengan naluri kita sendiri. Jika kita merasa bahwa sesuatu itu benar atau salah, mungkin hal itu memang benar atau salah bagi diri kita secara pribadi. Tetapi perasaan itu bukan bukti bahwa sesuatu tersebut secara universal baik ataupun jahat. Karena itu, gagasan tentang adanya hukum moral universal tidak lebih dari takhayul belaka: keyakinan bahwa ada sesuatu di dunia ini yang sebenarnya tidak pernah dapat kita alami ataupun ketahui secara langsung. Dan mungkin lebih baik jika kita tidak membuang waktu memikirkan hal-hal yang pada dasarnya mustahil untuk diketahui. Ketika dua orang memiliki pandangan yang benar-benar bertentangan tentang apa yang benar dan apa yang salah, tidak ada cara mutlak untuk menyelesaikan perdebatan itu. Tidak ada sesuatu di dunia ini yang dapat mereka jadikan acuan untuk menentukan siapa yang benar, sebab memang tidak ada hukum moral universal; yang ada hanyalah penilaian pribadi. Karena itu, satu-satunya pertanyaan yang benar-benar penting adalah: dari mana nilai-nilai Anda berasal? Apakah Anda menciptakannya sendiri, berdasarkan hasrat dan kehendak Anda sendiri? Ataukah Anda menerimanya dari orang lain… dari seseorang yang menyamarkan pendapat pribadinya sebagai “kebenaran universal”?
Bukankah sejak awal Anda sendiri sebenarnya selalu menyimpan sedikit kecurigaan terhadap gagasan tentang kebenaran moral universal? Dunia ini dipenuhi oleh kelompok dan individu yang ingin mengajak Anda memeluk agama mereka, dogma mereka, agenda politik mereka, dan cara pandang mereka. Tentu saja mereka akan mengatakan bahwa ada satu sistem nilai yang berlaku bagi semua orang. Dan tentu saja mereka juga akan mengatakan bahwa sistem nilai merekalah yang paling benar. Begitu Anda diyakinkan bahwa hanya ada satu standar tentang benar dan salah, maka tinggal selangkah lagi sebelum mereka berhasil meyakinkan Anda bahwa standarlah milik merekalah yang harus diterima. Karena itu, kita seharusnya sangat berhati-hati terhadap mereka yang menjajakan gagasan tentang “hukum moral universal”. Klaim bahwa moralitas merupakan persoalan hukum universal kemungkinan besar hanyalah cara licik untuk membuat kita menerima nilai-nilai mereka, alih-alih membentuk nilai kita sendiri yang mungkin justru bertentangan dengan milik mereka.
Karena itu, demi melindungi diri dari takhayul kaum moralis dan tipu daya para penginjil, sudah saatnya kita meninggalkan gagasan tentang hukum moral. Mari melangkah menuju zaman baru, zaman ketika kita menciptakan nilai-nilai kita sendiri, bukan menerima hukum moral karena rasa takut dan kepatuhan. Biarlah ini menjadi keyakinan baru kita: Tidak ada kode moral universal yang seharusnya mengatur perilaku manusia. Tidak ada yang secara mutlak dapat disebut baik atau jahat. Tidak ada standar universal tentang benar dan salah. Nilai-nilai dan moralitas berasal dari diri kita sendiri, dan tetap menjadi milik kita, suka ataupun tidak. Karena itu, kita seharusnya menerimanya dengan bangga sebagai ciptaan kita sendiri, bukan terus mencari pembenaran dari otoritas di luar diri kita.
Tetapi jika memang tidak ada baik ataupun jahat, jika tidak ada sesuatu pun yang memiliki nilai moral bawaan, lalu bagaimana kita menentukan apa yang harus kita lakukan?
Ciptakan sendiri baik dan jahat Anda. Jika tidak ada hukum moral yang berdiri di atas manusia, maka itu berarti kita bebas. Bebas melakukan apa yang kita inginkan, bebas menjadi apa yang kita inginkan, bebas mengejar hasrat kita tanpa harus dibayangi rasa bersalah ataupun malu. Temukan apa yang benar-benar Anda inginkan dalam hidup ini, lalu kejarlah. Bentuk nilai-nilai yang sesuai bagi diri Anda sendiri, kemudian hiduplah berdasarkan nilai-nilai itu. Tentu saja itu tidak mudah. Hasrat sering menarik manusia ke arah yang saling bertentangan. Ia datang dan pergi tanpa peringatan. Menjaga diri agar tetap selaras dengan hasrat-hasrat itu, lalu memilih di antaranya, merupakan tugas yang sulit. Tentu saja mentaati perintah jauh lebih mudah dan lebih sederhana. Namun jika kita hanya menjalani hidup berdasarkan apa yang diperintahkan kepada kita, kemungkinan untuk memperoleh apa yang sungguh kita inginkan dari kehidupan ini akan sangat kecil. Setiap manusia berbeda dan memiliki kebutuhan yang berbeda. Jadi bagaimana mungkin satu kumpulan “kebenaran moral” dapat berlaku bagi semua orang? Jika kita berani mengambil tanggung jawab atas diri kita sendiri, dan masing-masing membentuk tabel nilai kita sendiri, maka setidaknya kita memiliki kesempatan untuk meraih suatu bentuk kebahagiaan. Hukum-hukum moral lama hanyalah peninggalan dari masa ketika manusia hidup dalam ketundukan penuh ketakutan kepada Tuhan yang sebenarnya tidak pernah ada. Dengan meninggalkan hukum-hukum itu, kita sekaligus dapat membebaskan diri dari segala kepengecutan, kepatuhan buta, dan takhayul yang selama ini membentuk sejarah kita.
Sebagian orang keliru memahami gagasan bahwa manusia seharusnya mengejar hasratnya sendiri sebagai sekadar hedonisme. Padahal yang dimaksud di sini bukanlah hasrat dangkal dan sesaat seperti yang dimiliki para pemburu kesenangan. Yang dimaksud adalah hasrat dan dorongan terdalam, terkuat, dan paling bertahan lama dalam diri seseorang. Cinta dan kebencian yang paling mendasar dalam dirinyalah yang seharusnya membentuk nilai-nilainya. Dan kenyataan bahwa tidak ada Tuhan yang menuntut kita untuk saling mengasihi ataupun hidup secara luhur bukan berarti kita tidak seharusnya melakukan hal-hal itu. Kita tetap dapat melakukannya demi diri kita sendiri, jika memang kita menemukan makna dan kepuasan di dalamnya, sebagaimana hampir semua manusia melakukannya. Namun biarlah kita melakukan apa yang kita lakukan demi diri kita sendiri, bukan karena kepatuhan kepada Tuhan ataupun kepada suatu kode moral tertentu.
Tetapi bagaimana kita dapat membenarkan tindakan kita berdasarkan etika yang kita pilih sendiri, jika etika itu tidak bersandar pada kebenaran moral universal?
Selama begitu lama moralitas selalu dibenarkan melalui sesuatu di luar diri manusia, sehingga hari ini kita hampir tidak lagi mampu membayangkan bentuk lain darinya. Kita selalu diajarkan bahwa nilai-nilai harus berasal dari sesuatu di luar diri kita, sebab menjadikan hasrat pribadi sebagai dasar nilai dianggap jahat oleh para pengkhotbah hukum moral (dan tentu saja itu tidak mengherankan!). Hingga sekarang pun kita masih secara naluriah merasa bahwa tindakan kita harus dibenarkan oleh sesuatu di luar diri kita, sesuatu yang dianggap “lebih tinggi” daripada diri kita sendiri. Jika bukan Tuhan, maka hukum moral, hukum negara, opini publik, keadilan, “cinta terhadap umat manusia”, dan sebagainya. Selama berabad-abad kita dibiasakan untuk meminta izin dalam merasakan sesuatu dan dalam bertindak. Kita diajarkan untuk tidak mendasarkan keputusan apa pun pada kebutuhan kita sendiri. Akibatnya, bahkan ketika kita bertindak berdasarkan hasrat dan keyakinan pribadi, kita masih ingin percaya bahwa kita sedang mentaati suatu kekuasaan yang lebih tinggi. Entah bagaimana, tampaknya terasa lebih dapat dibenarkan jika seseorang bertindak karena tunduk kepada suatu otoritas daripada bertindak demi dorongan dan kehendaknya sendiri. Kita begitu malu terhadap aspirasi dan hasrat kita sendiri sehingga kita lebih memilih mengaitkan tindakan kita kepada sesuatu yang dianggap “lebih tinggi” daripada semua itu. Padahal, apa yang sebenarnya bisa lebih besar daripada hasrat kita sendiri? Apa yang mungkin dapat memberikan pembenaran yang lebih kuat bagi tindakan kita selain kehendak kita sendiri? Haruskah kita mengabdi kepada sesuatu di luar diri kita tanpa terlebih dahulu mendengarkan hasrat kita sendiri, bahkan mungkin dengan melawan hasrat itu sendiri?
Persoalan tentang pembenaran inilah yang membuat begitu banyak band hardcore tersesat. Mereka menyerang apa yang mereka anggap sebagai ketidakadilan bukan karena mereka sungguh-sungguh tidak ingin hal-hal semacam itu terjadi, melainkan karena hal itu dianggap “salah secara moral”. Dengan melakukan itu, mereka mencari dukungan dari semua orang yang masih percaya pada dongeng tentang hukum moral universal, dan sekaligus dapat memandang diri mereka sendiri sebagai pelayan Kebenaran. Padahal band-band hardcore semacam itu seharusnya tidak memanfaatkan khayalan populer demi memperkuat argumen mereka, melainkan justru menantang asumsi-asumsi dan mempertanyakan tradisi dalam segala hal yang mereka lakukan. Perbaikan dalam hal apa pun (misalnya hak-hak hewan) yang dicapai atas nama keadilan dan moralitas sebenarnya adalah satu langkah maju yang dibayar dengan dua langkah mundur: ia menyelesaikan satu persoalan sambil sekaligus melestarikan dan memperkuat persoalan yang lain. Padahal perubahan semacam itu dapat diperjuangkan dan dicapai semata-mata karena hal itu memang layak diinginkan (Lagipula, siapa yang sungguh-sungguh ingin menyiksa dan membantai hewan tanpa alasan, jika ia benar-benar memikirkannya?). Semua itu dapat diperjuangkan tanpa harus memakai cara berpikir warisan takhayul Kristen. Sayangnya, karena berabad-abad pembiasaan, terasa begitu menyenangkan ketika seseorang merasa dirinya dibenarkan oleh suatu “kekuatan yang lebih tinggi”, mentaati “hukum moral”, menegakkan “keadilan”, dan memerangi “kejahatan”. Akibatnya, band-band tersebut larut dalam peran mereka sebagai penegak moral, lalu lupa mempertanyakan apakah gagasan tentang hukum moral itu sendiri memang masuk akal sejak awal. Ada sensasi kekuasaan tertentu yang muncul ketika seseorang percaya bahwa dirinya sedang melayani otoritas yang lebih tinggi, sensasi yang sama yang membuat banyak orang tertarik pada fasisme. Selalu menggoda untuk menggambarkan setiap perjuangan sebagai pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan, benar melawan salah. Namun itu bukan sekadar penyederhanaan yang berlebihan, melainkan pemalsuan terhadap kenyataan, sebab hal-hal semacam itu sebenarnya tidak pernah ada. Kita dapat memperlakukan satu sama lain dengan welas asih karena memang kita menginginkannya, bukan semata-mata karena “moralitas menuntutnya”. Kita tidak memerlukan pembenaran dari langit untuk peduli terhadap manusia ataupun hewan, atau untuk bertindak melindungi mereka. Kita hanya perlu merasakan dalam hati bahwa hal itu memang benar, bahwa hal itu benar bagi diri kita sendiri, dan itu sudah cukup menjadi alasan yang kita perlukan. Karena itu, kita dapat membenarkan tindakan berdasarkan etika kita sendiri tanpa harus mendasarkannya pada “kebenaran moral” universal, cukup dengan tidak merasa malu terhadap hasrat dan nilai-nilai kita sendiri. Kita harus cukup bangga untuk menerima semuanya sebagaimana adanya: sebagai kekuatan yang menggerakkan kita sebagai individu. Dan memang benar, nilai-nilai kita mungkin tidak cocok bagi semua orang. Namun nilai-nilai itulah satu-satunya yang benar-benar kita miliki. Karena itu, kita seharusnya berani bertindak berdasarkan nilai-nilai tersebut, alih-alih terus mendambakan suatu pembenaran agung yang sebenarnya mustahil ada.
Tetapi apa yang akan terjadi jika semua orang memutuskan bahwa tidak ada baik ataupun jahat? Bukankah kita semua akhirnya akan saling membunuh?
Pertanyaan ini sejak awal sudah mengandaikan bahwa manusia menahan diri untuk tidak saling membunuh hanya karena mereka diajarkan bahwa tindakan itu jahat. Benarkah manusia sedemikian haus darah dan kejam sehingga tanpa kendali takhayul kita semua akan saling memperkosa dan membunuh satu sama lain? Menurut saya, jauh lebih masuk akal untuk berpikir bahwa manusia memiliki dorongan untuk hidup berdampingan setidaknya sama kuatnya dengan dorongan untuk saling menghancurkan. Bukankah pada umumnya Anda lebih menikmati membantu orang lain daripada menyakiti mereka? Hari ini, kebanyakan orang mengaku percaya bahwa belas kasih dan keadilan adalah sesuatu yang benar secara moral. Namun keyakinan itu nyaris tidak berhasil menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih penuh belas kasih dan keadilan. Mungkinkah justru benar bahwa manusia akan lebih sering bertindak berdasarkan naluri alaminya untuk berlaku manusiawi jika amal dan keadilan tidak dianggap sebagai kewajiban moral? Dan lagi pula, apa sebenarnya nilai dari semua itu jika kita berbuat baik kepada sesama hanya karena sedang menjalankan “kewajiban moral”? Bukankah akan jauh lebih berarti jika kita memperlakukan satu sama lain dengan penuh kepedulian karena kita memang menginginkannya, bukan karena kita merasa diwajibkan untuk melakukannya?
Dan sekalipun penghapusan mitos tentang hukum moral pada akhirnya menimbulkan lebih banyak pertentangan antar manusia, bukankah itu tetap lebih baik daripada hidup sebagai budak takhayul? Jika kita menentukan sendiri apa nilai-nilai kita dan bagaimana kita akan hidup berdasarkan nilai-nilai tersebut, setidaknya kita memiliki kesempatan untuk mengejar hasrat kita dan mungkin menikmati hidup, meskipun kita harus berjuang dan berbenturan satu sama lain. Namun jika kita memilih hidup berdasarkan aturan yang ditetapkan orang lain, maka kita telah mengorbankan kesempatan untuk menentukan jalan hidup kita sendiri dan mengejar impian kita sendiri. Seandainya manusia dapat hidup rukun di dalam belenggu hukum moral sekalipun, apakah semua itu layak dibayar dengan penyerahan kebebasan menentukan nasib sendiri? Saya tidak akan tega membohongi sesama manusia dengan mengatakan bahwa ia harus tunduk pada suatu kewajiban moral, entah hal itu benar-benar baik bagi dirinya ataupun tidak, bahkan jika kebohongan itu dapat mencegah konflik di antara kami. Justru karena saya peduli terhadap manusia, saya ingin mereka bebas melakukan apa yang benar bagi diri mereka sendiri. Bukankah itu lebih penting daripada sekadar “perdamaian di muka bumi”? Bukankah kebebasan (bahkan kebebasan yang berbahaya) tetap lebih baik daripada bentuk perbudakan yang paling aman sekalipun? Daripada perdamaian yang dibeli dengan kebodohan, kepengecutan, dan kepatuhan?
Lagipula, lihatlah kembali sejarah kita. Begitu banyak pertumpahan darah, penipuan, dan penindasan telah dilakukan atas nama benar dan salah. Perang-perang paling berdarah justru terjadi antara pihak-pihak yang sama-sama yakin bahwa mereka sedang berjuang di pihak “kebenaran moral”. Gagasan tentang hukum moral tidak membuat manusia hidup rukun; justru ia membuat manusia saling berhadapan untuk memperebutkan siapa yang memiliki hukum moral yang “paling benar”. Tidak akan pernah ada kemajuan sejati dalam hubungan antarmanusia sampai sudut pandang setiap orang mengenai etika dan nilai benar-benar diakui. Barulah setelah itu kita dapat mulai menyelesaikan perbedaan-perbedaan kita dan belajar hidup berdampingan tanpa harus terus bertengkar mengenai pertanyaan bodoh tentang nilai dan hasrat siapa yang “benar”. Demi diri Anda sendiri, demi kemanusiaan, buanglah gagasan usang tentang baik dan jahat, lalu ciptakan nilai-nilai Anda sendiri.