(Di sini manusia tidak mati, mereka hanya menghilang)
Penulis: Zargham
Belakangan ini, Kabul seperti berbau rawa. Bukan rawa dari air yang tergenang, melainkan rawa yang terbentuk dari keheningan dan ketakutan. Keheningan yang sesekali pecah oleh suara tembakan atau kabar ditemukannya jenazah di pinggiran kota, lalu kembali lagi, lebih berat dari sebelumnya. Di sini, kekuasaan tidak berada di tangan satu kelompok atau satu faksi. Kekuasaan berada dalam genggaman sebuah jaringan, semacam mekanisme tekanan yang dapat dijatuhkan ke tenggorokan masyarakat kapan saja. Hukum tidak lagi bermakna. Yang ada hanya perintah dan kepatuhan. Jika tidak patuh, kamu akan dihilangkan.
Dan pembunuhan bukan lagi istilah berat dalam sejarah. Ia telah menjadi bagian dari keseharian. Ada daftar-daftar yang beredar dari tangan ke tangan, berisi nama-nama. Nama orang-orang yang dulu adalah guru, dosen, aktivis sipil, atau bahkan orang biasa yang pernah ikut protes atau sekadar berbicara.
Daftar-daftar ini bukan sekadar tulisan di atas kertas. Di lapangan, daftar itu menjadi nyata. Pada malam hari, tim kecil beranggotakan dua atau tiga orang dengan sepeda motor Honda dan pelat nomor yang disamarkan berkeliling di jalanan Kabul. Mereka tidak berbicara dan tidak berhenti. Target mereka diserang, lalu mereka pergi. Terkadang peluru ditembakkan langsung ke kepala, dan jenazah dibiarkan di tempat. Tidak ada yang berani mendekat. Bahkan untuk melihat pun orang takut. Para tetangga menutup jendela, mematikan lampu. Saat pagi tiba, tim lain datang, mengangkut jenazah, menyiram darah dengan air, dan semuanya selesai. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Namun ada bentuk lain, dan mungkin lebih kejam daripada teror langsung, yaitu penghilangan paksa. Petugas datang dengan mobil Corolla putih (kendaraan yang kini semua orang tahu milik lembaga tertentu) lalu berhenti di depan sebuah rumah. Mereka mengetuk pintu dengan sopan dan berkata: “Teman, punya waktu beberapa menit untuk beberapa pertanyaan sederhana?” Sejak saat itu, penghuni rumah tersebut tidak pernah terlihat lagi.
Keluarga mereka selama berminggu-minggu mendatangi penjara, kantor-kantor provinsi, Pol-e-Som Khair Khana, Pul-e-Charkhi, hingga kantor keamanan. Tidak ada yang memberi jawaban. Ada yang mengatakan orang itu tidak pernah berada di sana. Ada yang mengaku tidak memiliki informasi. Dan ada pula yang bahkan tidak membuka pintu.
Sebulan kemudian, seorang penggembala di dataran Shakardara, di padang Khak-e Jabar, atau di sekitar Sarobi menemukan sebuah karung yang mengeluarkan bau busuk. Polisi setempat datang dan membukanya. Di dalamnya terdapat jasad dengan tanda-tanda penyiksaan yang bahkan sulit untuk digambarkan: kuku-kuku dicabut, tulang-tulang dipatahkan, gigi-gigi dihancurkan, kadang mata dicungkil dari rongganya. Di dada atau punggungnya terukir tulisan dengan pisau: “mata-mata, pengkhianat, musuh agama.”
Tidak ada pengadilan, tidak ada hakim yang menjatuhkan putusan, tidak ada pengacara yang membela, hanya beberapa orang di sebuah ruangan tanpa jendela yang memutuskan bahwa seseorang harus mati dengan cara seperti itu, lalu melaksanakannya. Proses ini, mesin penghancur manusia ini, kini telah menjadi bagian dari tatanan sehari-hari di Afghanistan.
Di tengah situasi ini, penjara-penjara baru yang dibangun menjadi bagian penting dari mesin tersebut. Tidak lagi seperti Pul-e-Charkhi, di mana keluarga masih bisa melakukan kunjungan mingguan atau organisasi seperti Palang Merah dapat melakukan inspeksi. Penjara-penjara baru ini dibangun di kawasan militer tertutup, di bekas pangkalan Amerika, atau di dalam kompleks barak yang jauh dari kota. Tidak ada akses, tidak ada pengawasan. Tempat bagi orang-orang yang dimaksudkan untuk dihapus dari ingatan dunia.
Ruang interogasinya dilengkapi dengan peralatan yang asal-usulnya tidak jelas. Metode yang digunakan merupakan perpaduan antara kekerasan lama dan teknik modern dalam interogasi serta tekanan psikologis: kurang tidur, penyiksaan dengan listrik, digantung berjam-jam, direndam dalam air es, dan yang paling kejam, penyiksaan di depan anggota keluarga: seorang anak dipukuli di depan ayahnya agar sang ayah berbicara. Seorang saudara dicekik di depan saudari perempuannya untuk memaksa pengakuan.
Ini bukan sekadar rumor. Ini adalah kesaksian langsung dari mereka yang berhasil keluar hidup-hidup dari neraka itu, meskipun hal itu sangat jarang terjadi.
Saat ini, Afghanistan menjadi panggung pertarungan kekuasaan yang berlangsung dalam dua lapisan. Di permukaan, Taliban menampilkan citra pemerintahan yang solid dan terpusat melalui pernyataan resmi, rapat kabinet, serta pertemuan dengan para diplomat. Namun, di balik tampilan tersebut, terjadi konflik yang nyata dan mendalam antara dua faksi utama, yaitu Kandahari dan Haqqani. Ini bukan lagi sekadar perbedaan pandangan, melainkan persaingan serius untuk menentukan siapa yang sesungguhnya mengendalikan kekuasaan.
Kelompok Kandahari, di bawah kepemimpinan ideologis dan spiritual Hibatullah Akhundzada, memandang kekuasaan melalui kerangka tradisional. Mereka bertumpu pada struktur suku, dewan-dewan lokal, dan dominasi wilayah selatan Afghanistan. Bagi mereka, pemerintahan berarti perintah harus berasal dari Kandahar, kemudian dilaksanakan oleh wilayah lain. Dalam bidang ekonomi, mereka mengandalkan pola lama seperti budidaya opium dan penguasaan jalur perbatasan selatan. Cara pandang mereka relatif terbatas, baik secara geografis maupun konseptual, serta berakar kuat pada interpretasi fikih Hanafi yang konservatif di lingkungan pedesaan.
Sebaliknya, jaringan Haqqani menunjukkan pendekatan yang jauh lebih kompleks. Mereka memadukan pragmatisme yang keras, kecerdikan dalam bisnis, serta jaringan hubungan lintas negara. Terbentuk dari pengalaman panjang selama tiga dekade konflik, mereka mampu beradaptasi dengan berbagai aktor, mulai dari Al-Qaeda dan ISIS hingga hubungan dengan lembaga keamanan Pakistan dan bahkan Iran. Jaringan ini mampu bersikap ideologis sekaligus pragmatis, bergantung pada kepentingan yang dihadapi.
Sirajuddin Haqqani, yang kini menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri, bukan lagi sekadar komandan gerilya seperti pada era 1990-an. Ia telah berkembang menjadi tokoh yang mengendalikan institusi keamanan dan intelijen utama (bekas Direktorat Keamanan Nasional, sekarang berganti nama dan menjadi sepuluh kali lebih tangguh), termasuk kepolisian, unit kontra-terorisme, serta jaringan fasilitas penahanan, baik resmi maupun tidak resmi. Ibu kota Kabul berada di bawah pengaruh kuatnya. Pergerakan kendaraan, komunikasi, hingga berbagai aktivitas di kota tersebut berada dalam jangkauan pengawasan jaringan Haqqani.
Ketegangan antara kedua faksi ini kini telah mencapai titik yang sulit diselesaikan melalui dialog biasa. Beberapa bulan lalu, di wilayah dekat Spin Boldak, pasukan dari kedua pihak sempat berhadapan langsung, dan hanya intervensi tokoh-tokoh suku yang mencegah terjadinya bentrokan bersenjata. Di Kabul, para komandan Kandahari merasa terpinggirkan. Mereka memegang jabatan formal, tetapi tidak memiliki kendali nyata di lapangan. Hampir seluruh keputusan operasional harus melalui persetujuan jaringan Haqqani. Tanpa dukungan tersebut, seorang komandan Kandahari bahkan kesulitan melakukan penahanan. Sebaliknya, ketika jaringan Haqqani bertindak, hampir tidak ada pihak yang berani mempertanyakannya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa kekuasaan efektif berada di tangan jaringan Haqqani. Bagi kelompok Kandahari, yang merasa sebagai fondasi utama berdirinya emirat, situasi ini bukan hanya ketimpangan, tetapi juga ancaman serius terhadap posisi dan pengaruh mereka.
Hubungan antara jaringan Haqqani dan Pasukan Quds Iran (IRGC) dalam persamaan ini merupakan faktor yang sangat menentukan. Relasi tersebut mulai terbentuk sejak awal invasi Amerika ke Afghanistan, lalu semakin menguat selama masa perlawanan terhadap pasukan NATO, dan kini telah berkembang menjadi aliansi strategis yang matang setelah ia berkuasa. Iran memahami bahwa kelompok Kandahari secara ideologis lebih anti-Syiah dan cenderung sulit diajak berkompromi. Sebaliknya, Haqqani bersifat pragmatis. Mereka bersedia menyesuaikan tekanan di wilayah Badakhshan dan Hazarajat sesuai kepentingan Teheran. Mereka juga siap menjalankan operasi melawan ISIS Khorasan, yang merupakan ancaman bersama bagi Iran dan jaringan Haqqani. Pertanyaannya, apa yang mereka peroleh sebagai imbalan?
Imbalan tersebut tidak hanya berupa dukungan finansial. Memang, mereka mendapatkan dana dan persenjataan. Namun yang jauh lebih penting adalah akses terhadap pengetahuan dan teknologi represif. Teknik interogasi yang digunakan di ruang-ruang tertutup kini tidak lagi sebatas kekerasan fisik sederhana. Metodenya telah berkembang menjadi pendekatan psikologis yang kompleks, berbasis analisis data, pemetaan profil individu, serta eksploitasi kelemahan mental target. Mereka juga mempelajari cara membangun jaringan informan lokal secara sistematis, serta menyusup ke dalam keluarga melalui kombinasi tekanan dan insentif.
Selain itu, mereka memperoleh perangkat penyadapan canggih, drone pengawas berukuran kecil, serta kamera pengintai dengan kemampuan pengenalan wajah yang kini terpasang di berbagai titik masuk Kabul. Asal-usul teknologi ini tidak pernah diungkap secara terbuka, namun jelas bahwa jalurnya bukan jalur biasa. Peralatan tersebut secara signifikan meningkatkan efektivitas mesin pengawasan dan penindasan. Kini, untuk melacak seorang aktivis sipil, mereka tidak lagi perlu menyisir seluruh wilayah. Cukup dengan memasukkan data wajah ke dalam sistem, lokasi target dapat diidentifikasi dalam waktu singkat melalui jaringan kamera kota.
Dukungan ini juga memberikan keunggulan politik di dalam tubuh kekuasaan. Dalam pertemuan tertutup dengan para komandan Kandahari, Sirajuddin Haqqani memiliki posisi tawar yang jauh lebih kuat. Ia dapat berkata: “Saya bisa menghadirkan peralatan. Apa yang bisa kalian lakukan?” Ia juga dapat menegaskan: “Saya mampu menghadapi ancaman keamanan yang kompleks karena saya memiliki perangkatnya. Apa yang kalian miliki selain sorban dan tongkat?”
Akibatnya, keseimbangan kekuasaan tidak hanya bergeser di lapangan, tetapi juga di ruang-ruang pengambilan keputusan, semakin condong ke pihak Haqqani. Di sisi lain, kelompok Kandahari mulai menyadari bahwa kendali atas emirat perlahan terlepas dari tangan mereka dan beralih kepada pihak yang sebelumnya merupakan sekutu dalam perjuangan, tetapi kini menjadi pesaing utama dalam perebutan kkekuasaan
Sementara itu, kelompok oposisi bersenjata, baik Front Perlawanan Nasional, Front Kebebasan, maupun sel-sel kecil lainnya, berada dalam posisi yang lemah dan cenderung defensif. Pada awalnya, mereka yakin dapat menjalankan perang gerilya klasik dengan pola serangan terbatas, mundur ke wilayah pegunungan, dan merekrut dukungan dari desa-desa. Namun, mereka segera menyadari bahwa lawan yang dihadapi justru lebih berpengalaman dalam jenis peperangan tersebut. Jaringan Haqqani, yang tumbuh dari tradisi perang gerilya dan taktik asimetris, memahami dengan baik titik lemah setiap sel rahasia. Mereka memutus jalur komunikasi, melacak sumber pendanaan, dan menekan lawan melalui keluarga mereka. Dalam banyak kasus, keluarga dijadikan alat tekanan. Misalnya, ayah seorang komandan oposisi ditangkap, lalu disampaikan pesan yang sangat tegas bahwa pilihannya hanya dua: “Anda menyerah atau kami akan melemparkan ayah anda yang telah dipotong-potong ke depan pintu anda!”
Akibatnya, rumah-rumah aman di Kabul dan sekitarnya satu per satu terbongkar. Cukup satu orang dalam jaringan oposisi yang tertangkap, ia tidak langsung dibunuh, ia dibiarkan hidup, diberi akses terbatas kepada keluarganya, lalu ditekan secara fisik dan psikologis. Setelah itu, datang tawaran: “Ungkap seluruh jaringan, dan sebagai imbalannya anda dan keluarga anda akan diampuni.” Dalam banyak kasus, ia akhirnya menyerah. Bukan karena lemah, tetapi karena ia manusia. Tidak ada yang mampu menahan penyiksaan tanpa batas. Namun setelah semuanya diungkap, janji itu sering kali tidak pernah ditepati. Ia bisa menghilang tanpa jejak, dipindahkan ke penjara lain, atau dijadikan alat sebagai agen ganda yang dipaksa bekerja untuk jaringan Haqqani. Siklus pengungkapan dan kehancuran ini terus berulang, menggerogoti kekuatan oposisi dari dalam. Kini, mereka lebih sibuk bertahan hidup dan bersembunyi daripada merancang operasi. Dan itulah kondisi yang diinginkan Haqqani: mengubah oposisi menjadi tikus yang gemetar di lubangnya, bukan harimau yang berani menyerang.
Di tengah semua itu, tulisan ini lahir dari dalam Kabul. Dari sebuah ruangan dengan jendela yang menghadap ke jalan yang sunyi. Setiap suara sepeda motor yang melintas membuat jantung seakan berhenti sejenak. Setiap panggilan dari nomor tak dikenal menghadirkan keraguan untuk menjawab. Orang-orang di sini telah belajar menjalani hidup dengan kesadaran bahwa segalanya bisa berakhir kapan saja. Ini bukan kiasan, melainkan kenyataan yang terasa di tubuh. Ketegangan menjadi bagian dari keseharian.
Kabar kematian tidak lagi disambut dengan tangisan. Reaksinya berubah menjadi hening. Menuang teh, mengangguk pelan, lalu diam. Ada kesadaran yang terus menghantui bahwa giliran itu bisa datang kapan saja. Karena itu, ketenangan bukan lagi pilihan, melainkan cara bertahan. Jika keluar dari Kabul menuju utara atau timur, akan terlihat bagaimana pinggiran kota perlahan berubah. Bukan sekadar sunyi seperti wilayah kosong, tetapi sunyi yang sarat ketakutan. Dataran di sekitar Kabul tidak lagi hanya menjadi tempat penggembalaan. Kini, sebagian berubah menjadi lokasi penemuan jasad tanpa identitas. Banyak di antaranya ditemukan di kuburan dangkal, bahkan tanpa penguburan yang layak, hanya terbungkus kantong plastik putih yang tertutup debu. Tidak ada yang benar-benar tahu berapa jumlahnya. Mungkin ratusan, mungkin ribuan, tidak ada data resmi. Sesekali, seorang penggembala melaporkan penemuan baru. Namun kabar seperti itu telah terlalu sering terdengar hingga kehilangan daya kejutnya. Ketakutan perlahan menjadi hal yang biasa.
Jangkauan jaringan Haqqani kini meresap ke hampir setiap sudut kehidupan. Di bandara, mereka hadir dalam pemeriksaan penumpang yang hendak pergi. Di rumah sakit, mereka mengawasi dan melaporkan pasien yang dianggap mencurigakan. Di universitas, para dosen berada di bawah pengawasan. Di masjid, bahkan isi khotbah pun harus melewati penyaringan keamanan. Dalam struktur seperti ini, kehadiran fisik tidak selalu diperlukan. Rasa takut sudah cukup bekerja. Masyarakat mulai menyensor diri, tetangga saling mencurigai, saudara saling waspada, bahkan seorang ayah pun tidak lagi yakin apa yang ditulis anaknya di ponsel, dan apakah hal itu bisa membahayakan seluruh keluarga.
Di tengah suasana seperti inilah tulisan ini dibuat. Tidak ada keinginan untuk menyampaikan slogan atau janji bahwa ketidakadilan akan berakhir dan keadilan akan menang. Pada saat ini, di Kabul tahun 1405, kalimat-kalimat semacam itu terdengar kosong. Tujuannya sederhana: mencatat, menjadi saksi. Agar suatu hari nanti, sepuluh atau dua puluh tahun ke depan, ketika seseorang bertanya apa yang benar-benar terjadi pada masa itu, tulisan ini dapat menjadi salah satu jejak. Sebuah catatan bahwa semua ini memang terjadi. Bahwa jasad orang-orang benar-benar ditemukan di hamparan tandus. Bahwa daftar nama itu nyata. Bahwa dua kelompok yang berada di bawah satu bendera saling berebut kekuasaan dengan cara yang keras, sementara rakyat terhimpit di tengahnya. Bahwa ada kekuatan luar yang memperkuat salah satu pihak, dan diamnya menjadi bentuk persetujuan. Bahwa di wilayah ini, di jantung Asia, sebuah bangsa perlahan tercekik dalam gelap, sementara dunia menyaksikan dari jauh dan menyebutnya sebagai situasi yang rumit.
Memang, dari kejauhan semuanya tampak rumit. Namun bagi mereka yang hidup di dalamnya, kenyataannya jauh lebih sederhana. Ini adalah sebuah mesin penindasan yang besar, dengan perangkat ekonomi, ideologi, intelijen, dan militer yang bekerja tanpa henti. Dalam mesin itu, setiap orang berada pada posisi yang sama: menjadi bahan bakar, atau menjadi penghalang. Dan mereka yang dianggap sebagai penghalang biasanya diambil pada malam hari, dibawa ke tempat yang tidak diketahui.
Saat pagi tiba, Kabul kembali bergerak seperti biasa. Para pembuat roti kembali memanggang. Sekolah-sekolah dibuka. Kehidupan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Dan orang-orang terus melanjutkan hidup. Entah ini dapat disebut sebagai perlawanan, atau sekadar kebiasaan untuk bertahan. Mungkin keduanya. Mungkin manusia memang mampu terbiasa untuk tetap hidup, bahkan ketika seluruh lingkungan di sekitarnya dipenuhi bayang-bayang kematian.
