Senin, 18 Mei 2026

Manifesto Antinatalisme Radikal

Tentang serangan terhadap Bank Sperma di Helsinki

Penulis: Anonim

Dunia kita dipenuhi penderitaan, ketimpangan, dan bencana ekologis. Dalam kondisi seperti ini, apakah kehidupan benar-benar merupakan sesuatu yang secara tanpa syarat layak diwariskan kepada siapa pun? Ketika kita menciptakan makhluk sadar (yang mampu merasakan penderitaan), kita juga sedang membawa mereka ke dalam kemungkinan-kemungkinan menyakitkan yang tak terelakkan: mulai dari krisis iklim yang terus memburuk, penyakit, dan kompleksitas hidup, hingga kekerasan, kemiskinan, ketidakberdayaan, penyiksaan, serta berbagai bentuk diskriminasi. Misalnya, jika mereka lahir dengan orientasi seksual atau identitas gender yang dianggap “tidak normatif”, terlahir dengan disabilitas fisik atau mental, memiliki warna kulit yang tidak sesuai dengan pandangan rasialis masyarakat, atau dipaksa melahirkan maupun ikut berperang (sebagai kombatan) oleh hukum dan tatanan sosial tempat mereka hidup.

Namun bagaimana jika mereka tidak pernah diciptakan? Jika seseorang tidak pernah ada, maka tidak akan pernah ada penderitaan yang harus ia alami. Antinatalisme adalah pandangan yang setidaknya mengajak kita menyadari betapa besar dan seriusnya konsekuensi moral dari keputusan menciptakan makhluk sadar yang sebenarnya tidak akan pernah menderita jika tidak dilahirkan; dan dalam bentuk yang lebih radikal, menolak reproduksi (atau bentuk lain dari penciptaan makhluk sadar baru) sama sekali. Pandangan ini bukanlah penolakan terhadap hak reproduksi, melainkan upaya untuk meninjau kembali hak tersebut dari sudut pandang moral dan etika.


Etika Kehidupan dan Penderitaan

Setiap manusia baru yang lahir ke dunia pada akhirnya pasti akan menghadapi berbagai risiko, penderitaan, dan kematian. Ketika kita mendukung ideologi dominan tentang reproduksi dan terus mendorong lahirnya makhluk sadar baru, kita sering kali melupakan bahwa jika mereka tidak pernah ada, mereka juga tidak akan pernah mengalami rasa sakit, kehilangan, kesulitan ekonomi, keterasingan sosial, stres, kekerasan, penyakit, ketimpangan, ketidakadilan, kesepian, frustrasi, tekanan, maupun penderitaan. Hampir setiap alasan untuk melakukan reproduksi secara non-koersif (tanpa paksaan) pada akhirnya berangkat dari kalimat, “Saya ingin…” Antinatalis Radikal mempertanyakan etika dari reproduksi yang dilakukan secara tanpa refleksi dan dianggap begitu wajar.


Kepedulian terhadap Kualitas Hidup

Menciptakan kehidupan baru tidak pernah menjamin kualitas kehidupan itu sendiri. Pikirkan: masa kecil seperti apa yang dapat kamu berikan kepada anakmu? Warisan seperti apa yang akan mereka terima? Seberapa banyak hak yang akan dimiliki anak itu di negara tempat kamu hidup? Apakah mereka akan mengalami penderitaan jika ternyata berbeda dari mayoritas, misalnya sebagai seorang transgender? Bagaimana jika anak itu tidak mampu bekerja? Apakah kamu akan mampu menopang hidupnya sepanjang hayat? Bagaimana jika sepanjang hidupnya ia terus dihantui rasa lapar yang tak pernah terpuaskan akan kenyamanan dan kedamaian? Kita perlu mengakui bahwa kehidupan mungkin tidak membawa kebahagiaan maupun pemenuhan diri (namun bahkan jika kebahagiaan itu hadir, kebahagiaan tersebut tidak serta-merta “menyeimbangkan” penderitaan yang telah dialami). Kualitas keberadaan mungkin jauh lebih penting daripada sekadar fakta bahwa seseorang ada. Karena itu, Antinatalis radikal berpendapat bahwa kita perlu mempertanyakan apakah kita seharusnya menciptakan manusia baru jika besar kemungkinan mereka akan menghadapi begitu banyak kesulitan dalam hidupnya.


Normalisasi Budaya atas Reproduksi

Budaya terus menanamkan gagasan bahwa menjadi orang tua adalah bagian yang alamiah dan diinginkan dalam kehidupan. Namun bukankah aneh jika gagasan tentang memperbesar kemungkinan penderitaan justru dianggap sesuatu yang wajar dan diharapkan? Banyak dari kita menolak rasisme dan seksisme karena keduanya memperluas penderitaan. Banyak pula yang menentang penyiksaan, bahkan ketika itu dilakukan terhadap orang yang dianggap “sangat jahat”. Kita menolak pemerkosaan, pedofilia, pembunuhan yang tidak dapat dibenarkan, dan perang (meskipun muncul pertanyaan: adakah kekerasan yang benar-benar dapat dibenarkan?). Kita juga membenci mereka yang menyiksa hewan demi kesenangan. Namun ketika menyangkut anak-anak kita sendiri, pengecualian sering kali dibuat. Antinatalis radikal berpendapat bahwa kita perlu meninjau kembali secara kritis apakah menjadi orang tua (atau menciptakan makhluk sadar dalam bentuk apa pun) benar-benar merupakan pilihan yang lahir dari kesadaran penuh, atau justru konsekuensi dari norma sosial yang ditanamkan kepada kita sejak usia dini. Mereka juga berpendapat bahwa promosi terhadap reproduksi perlu dipertanyakan, sebagaimana kita mempertanyakan praktik-praktik lain yang memperbesar penderitaan, seperti diskriminasi, kekerasan terhadap hewan, dan perang.


Krisis Lingkungan dan Sumber Daya Planet

Bumi saat ini telah berada di bawah tekanan yang sangat besar akibat ledakan populasi. Setiap manusia baru membutuhkan sumber daya: makanan, air, energi, dan ruang hidup. Sementara itu, ekosistem terus mengalami kerusakan dan pengurasan. Di tengah pemanasan global dan degradasi lingkungan yang semakin parah, menciptakan kehidupan baru tampak sebagai tindakan yang tidak bertanggung jawab, baik terhadap masa depan anak-anak yang harus hidup di dunia yang terus memburuk, maupun terhadap dunia itu sendiri yang semakin terbebani oleh pertumbuhan populasi manusia.

Bank sperma, sebagai institusi yang mendorong reproduksi, dianggap turut mempercepat pertumbuhan populasi, yang pada akhirnya memperburuk krisis ekologis yang sudah ada. Antinatalis radikal percaya bahwa manusia perlu memberi kesempatan kepada planet ini untuk pulih secara sukarela, sebelum pada akhirnya kondisi ekologis memaksa hak reproduksi manusia dibatasi secara paksa.


Ancaman Penderitaan Ekstrem

Ada bentuk-bentuk penderitaan ekstrem yang tidak dapat dibenarkan oleh apa pun: bukan oleh Tuhan, bukan oleh kebetulan, bukan demi kebahagiaan banyak orang, dan bukan pula atas nama moralitas atau etika apa pun. Penderitaan semacam itu tidak seharusnya ditoleransi dalam keadaan apa pun, terlepas dari manfaat apa yang diklaim dapat lahir darinya. Contoh penderitaan ekstrem mencakup penyiksaan, direbus hidup-hidup, dikuliti, penyakit berat, sakaratul maut yang berkepanjangan, kehilangan anggota tubuh dan luka perang yang parah, hingga Sindrom Irukandji. Jika terdapat kemungkinan sekecil apa pun bahwa anak yang kamu lahirkan dapat mengalami penderitaan ekstrem semacam itu (dan kenyataannya kemungkinan itu memang ada, bukan hanya karena kematian menyakitkan yang bersifat kebetulan, tetapi juga karena berbagai bentuk kekerasan terus direproduksi secara aktif oleh kelompok-kelompok bersenjata dan pemerintahan di seluruh dunia), maka menciptakan makhluk sadar baru dipandang sebagai tindakan yang sangat tidak bermoral.


Serangan terhadap Bank Sperma

Tentu saja, “antinatalisme radikal” di sini tidak dimaksudkan sebagai ancaman literal. Dan beberapa grafiti disebut sebagai “serangan” terutama karena daya provokatif dari istilah tersebut. Meskipun bank sperma dipandang sebagai salah satu simbol paling jelas dari reproduksi, kami sama sekali tidak menyerukan pelarangan orang untuk memiliki anak. Yang kami serukan adalah penolakan sukarela terhadap reproduksi, atau setidaknya lahirnya kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar dalam keputusan untuk melahirkan.

Tujuan dari aksi tersebut bukanlah untuk menutup institusi itu (kami bahkan menolak segala bentuk tindakan destruktif yang dapat mengganggu keseluruhan kerja rumah sakit), melainkan sebagai upaya putus asa untuk menarik perhatian terhadap sebuah gagasan yang tertanam di kepala kita jauh lebih kuat daripada heteronormativitas ataupun patriotisme: yakni pronatalisme, gagasan bahwa reproduksi adalah sesuatu yang normal dan harus diterima begitu saja. Kritik terhadap pronatalisme sebenarnya telah muncul sejak abad ke-19, tetapi hampir seluruh umat manusia menolak untuk benar-benar memikirkannya, padahal persoalan ini berkaitan dengan salah satu pertanyaan paling mendasar: bagaimana meminimalkan penderitaan makhluk sadar? Pada akhirnya, sebagian besar tindakan manusia sebenarnya bergerak menuju tujuan tersebut.

Aksi non-kekerasan ini tidak melukai satu pun makhluk sadar. Kerugian finansial akibat beberapa grafiti itu sangat kecil dibandingkan dengan penderitaan baru yang terus kita ciptakan setiap hari, lalu dibenarkan atas nama cinta. Mungkin sebagian antinatalis lain akan mengkritik tindakan ini dan menganggapnya sebagai cara yang buruk untuk memperkenalkan antinatalisme. Namun kami percaya bahwa di tengah sikap acuh tak acuh dan ketidaktahuan yang begitu luas, segala bentuk dialog mengenai isu ini tetap lebih baik daripada keheningan total.

Kami para antinatalis, baik yang radikal maupun tidak, tidak menyerukan pelarangan secara paksa ataupun kekerasan. Tujuan kami adalah mengangkat pertanyaan-pertanyaan penting mengenai hakikat kehidupan dan reproduksi. Serangan terhadap bank sperma hanyalah simbol dari keinginan untuk menghentikan reproduksi yang dilakukan tanpa refleksi, sekaligus mengajak orang berpikir tentang apa arti menjadi manusia di dunia yang tidak sempurna ini. Aksi itu juga dimaksudkan untuk menarik perhatian terhadap apa yang kami anggap sebagai salah satu ideologi paling tak terlihat sekaligus paling penuh kekerasan yang ada saat ini.

Kita perlu memikirkan kembali nilai kehidupan dan konsekuensinya bagi seluruh umat manusia, serta menyadari bahwa setiap kelahiran baru berarti menciptakan makhluk sadar baru, dan bersama itu muncul tanggung jawab yang sangat besar. Refleksi semacam ini diharapkan dapat membantu membangun masyarakat yang lebih berkelanjutan dan lebih etis, di mana penderitaan dan ketimpangan tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang wajar.

Terima kasih telah membaca manifesto kami. Kini keputusan sepenuhnya berada di tanganmu: apa yang ingin kamu lakukan setelah ini.


Diterjemahkan dari:


Antinatalisme sebagai Revolusi

Penulis: Anonim

Mengapa kita, kaum proletar, harus memiliki anak jika pada akhirnya mereka akan direnggut oleh kaum kapitalis untuk “dibunuh” secara metaforis melalui kerja, atau oleh kaum militeris untuk dibunuh secara nyata sebagai tentara?

Antinatalisme adalah sebuah filsafat yang telah berkembang selama berabad-abad dan menolak kelahiran manusia baru atas dasar pertimbangan etis dan filosofis. Kaum antinatalis berpendapat bahwa keberadaan manusia di dunia ini niscaya akan membuat seseorang mengalami penderitaan dan pengalaman negatif. Mereka biasanya mendasarkan pandangan tersebut pada dua posisi filosofis:

  1. Hedonisme, yaitu gagasan bahwa makna hidup terletak pada kebahagiaan.
  2. Jika makna hidup adalah kebahagiaan, maka kita seharusnya tidak menciptakan penderitaan atau ketidakbahagiaan bagi orang lain.

Berangkat dari dua posisi tersebut, serta dari kenyataan bahwa kehidupan tak terelakkan akan membawa pengalaman yang menyakitkan dan tidak memuaskan, kaum antinatalis berpendapat bahwa reproduksi sebaiknya dihindari, karena dengan melahirkan anak kita memaksa mereka menjalani kehidupan yang penuh penderitaan dan pengalaman negatif. Dalam tulisan ini, yang menggunakan sudut pandang anarko-komunis, kami mencoba mengemukakan secara ringkas gagasan bahwa kaum proletar memiliki tanggung jawab etis untuk menghindari reproduksi, setidaknya karena dua alasan: pertama, karena anak-anak mereka akan mengalami penderitaan di bawah kapitalisme; kedua, karena dengan melahirkan, mereka sekaligus menciptakan pekerja baru bagi kaum kapitalis dan tentara baru bagi kaum militeris.

Tujuan tulisan ini adalah mencoba menjawab pertanyaan: apakah antinatalisme dapat membantu revolusi? Apakah ia, pada dasarnya, merupakan filsafat revolusioner?

Kami memulai dari asumsi bahwa masyarakat yang paling bebas dan paling memuaskan adalah masyarakat yang dibangun di atas cita-cita Anarko-komunisme, yaitu masyarakat yang sejalan dengan gagasan-gagasan dasar Pyotr Kropotkin. Namun, karena masyarakat saat ini belum bersifat anarko-komunis, kaum proletar hidup di tengah pengalaman yang penuh penderitaan: utang, kelaparan, pemenjaraan, serta perang-perang yang dijalankan demi kepentingan elite.

Ketika seorang proletar memiliki anak, besar kemungkinan anak-anak tersebut juga akan menjadi proletar dan mengalami bentuk-bentuk penderitaan yang sama seperti orang tua mereka. Dengan demikian, melalui reproduksi, seorang proletar memaksa anaknya menjalani kehidupan yang dipenuhi kesedihan dan ketidakpuasan. Dari sudut pandang antinatalisme, tindakan itu dianggap tidak etis, karena tidak benar memaksa orang lain mengalami penderitaan. Lebih jauh lagi, seorang proletar yang memiliki kesadaran revolusioner juga memiliki tanggung jawab etis untuk tidak membantu sistem kapitalisme mempertahankan dirinya. Kehadiran proletar-proletar baru membantu kapitalisme terus bertahan, karena mereka menjadi konsumen baru, pekerja baru, dan tentara baru. Singkatnya, kelahiran anak-anak baru dari kaum proletar pada akhirnya ikut menopang keberlangsungan kapitalisme.

Berdasarkan pandangan tersebut, kaum proletar seharusnya tidak menciptakan anak baru, karena dengan begitu mereka menyerahkan anak-anak itu kepada sistem kapitalis yang tidak memiliki belas kasih dan akan menggunakan mereka demi mempertahankan tatanan yang tidak adil. Kapitalisme sendiri tidak mungkin bertahan tanpa keberadaan proletar dalam jumlah besar. Dari sini, kami mencoba memberikan jawaban atas pertanyaan mengenai sifat revolusioner antinatalisme. Antinatalisme dapat dipandang sebagai filsafat revolusioner karena ia menolak menyuplai proletar baru bagi mesin kapitalisme. Dalam pengertian itu, penolakan kaum proletar untuk melahirkan generasi baru dapat dipahami sebagai salah satu bentuk perlawanan terhadap barbarisme kapitalis.


Tambahan

Antinatalisme tidak bertentangan dengan tindakan mengadopsi anak-anak yang sudah lahir dan telah ada di dunia ini.

Jika kita menerima gagasan bahwa janin yang belum lahir pun dapat merasakan penderitaan dan rasa sakit (yang menjadi sumber ketidakbahagiaan), maka dari sudut pandang antinatalisme, aborsi menjadi persoalan yang rumit untuk diterima. Sebab antinatalisme dibangun di atas keyakinan bahwa kita tidak seharusnya memaksakan penderitaan kepada makhluk lain. Karena itu, kontrasepsi kemungkinan merupakan solusi yang lebih sesuai bagi antinatalis yang aktif secara seksual.

Kami tidak mengklaim bahwa tulisan ini memberikan jawaban yang lengkap atau sepenuhnya benar mengenai persoalan reproduksi di kalangan proletar. Tulisan ini hanya menawarkan salah satu sudut pandang yang memadukan antinatalisme dengan anarko-komunisme (namun juga tetap dapat dipahami dalam kerangka perjuangan kelas yang lebih luas).


Diterjemahkan dari: