Senin, 18 Mei 2026

Keputusasaan..

Penulis: Anonim

“Aku berharap semua orang yang telah bunuh diri masih hidup, dan semua orang yang masih hidup memilih untuk bunuh diri.”

Jika ada lapisan sosial yang bahkan berada di bawah kaum tertindas, kelompok yang paling menderita akibat absurditas masyarakat kita, maka merekalah orang-orang yang bunuh diri. Kelas bunuh diri ini, setiap menit, selalu ada yang jatuh menghantam trotoar. Siapa yang lebih tercerabut daripada mereka? Mereka baru benar-benar “diakui” ketika mereka menghilang; hanya darah mereka yang berbicara atas nama mereka. Mereka memahami lebih baik daripada siapa pun apa yang harus diubah dari dunia ini, namun karena putus asa terhadap kemungkinan perubahan itu sendiri, mereka melampiaskan kehancuran kepada satu-satunya korban yang paling mudah dijangkau: diri mereka sendiri. Dengan begitu, mereka memberi makna baru pada ungkapan bahwa mereka yang hanya menjalankan setengah revolusi pada akhirnya menggali kuburannya sendiri. 

Bayangkan seseorang merasa hidupnya di luar kendalinya, sampai-sampai ia berpikir satu-satunya cara untuk merebut kembali kepemilikan atas hidupnya adalah dengan membunuh dirinya sendiri. Dapatkah sebuah masyarakat benar-benar disebut bebas dan sehat jika manusia harus melangkah sejauh itu hanya untuk melarikan diri?

Karena itulah, sebagaimana pencurian dan perzinahan, bunuh diri dijadikan sesuatu yang terlarang dan dianggap sebuah kenistaan yang bahkan tak boleh dibicarakan. Orang-orang yang merasa puas dengan hidupnya sendiri, yang tidak pernah berhadapan dengan depresi yang melumpuhkan, merasa berhak mencemooh mereka yang mengambil keputusan sulit untuk mengakhiri hidupnya. Bahkan orang-orang yang menderita penyakit parah pun tidak diberi hak untuk menentukan kapan dan bagaimana mereka akan mati. Ada hukum yang melarangnya, seolah-olah mereka yang masih hidup berhak membuat aturan bagi mereka yang sedang melangkah menuju kematian. Apa arti sebuah peradaban jika ia bukan hanya melarang warganya bunuh diri, tetapi bahkan tidak mengizinkan pertanyaan tentang apakah hidup ini layak dijalani?

Namun sesungguhnya kita melakukan bunuh diri kecil setiap kali menyangkal kehidupan yang sebenarnya ingin kita jalani. Bunuh diri secara langsung dianggap terlarang, tetapi kebanyakan orang dengan rela menerima kematian yang dicicil perlahan, mengikis hidup mereka sedikit demi sedikit dari jam ke jam. Betapapun hampa dan tidak memuaskannya hidup itu, mereka tetap tidak berani meninggalkannya, karena mereka percaya Tuhan menunggu di seberang sana untuk menghukum mereka yang dianggap mengabaikan kewajiban duniawinya. Atau jika bukan Tuhan, maka Opini Publik yang mengambil alih peran tersebut atas nama-Nya.

Sementara itu, ketika seorang pemuda bergabung dengan militer lalu mematuhi perintah secara membabi buta hingga menemui kematian yang sia-sia, tindakannya justru dipuji sebagai keberanian dan pengorbanan. Bunuh diri, sebagaimana bencana, dianggap dapat diterima selama terjadi sesuai syarat yang ditentukan oleh penguasa. Kamu boleh mati di tangan mereka, tetapi tidak atas kehendakmu sendiri. Mereka yang menembak atau menggantung diri diperlakukan seperti bid'ah yang berbahaya, layaknya mistikus pemberontak yang mengaku menerima wahyu tanpa perantara Paus. Jika penghancuran diri telah menjadi bagian dari tatanan dunia, mereka memilih berhubungan langsung dengannya tanpa peduli pada penilaian siapa pun. Dalam menolak sekaligus kematian yang hidup dan kedaulatan otoritas atas hidup mereka, mereka hanya selangkah lagi dari penolakan total terhadap kematian dan dominasi: tak ada kematian maupun pajak!

Namun sekali lagi, sebagaimana pencurian, perselingkuhan, dan berbagai katup pelampiasan lainnya, bunuh diri adalah tindakan yang sangat mengasingkan, bahkan mungkin yang paling mengasingkan dibandingkan bentuk pelarian lainnya. Meski tindakan itu memberikan sekejap otonomi bagi individu, ia justru menghalangi manusia untuk membangun kepemilikan kolektif atas hidup mereka bersama-sama. Mereka yang menggali kuburannya sendiri hanya menjalankan setengah revolusi.

Bayangkan jika tidak ada seorang pun yang bisa mencuri, menipu, atau mengakhiri hidupnya sendiri, sementara seluruh ketegangan dan kontradiksi yang menopang masyarakat kita tetap dibiarkan ada. Betapa dahsyat ledakan sosial yang mungkin akan terjadi setelahnya.

Jika semua orang yang telah bunuh diri dapat berkumpul dan saling bertukar cerita di suatu tempat di alam setelah kematian, apa yang kira-kira akan mereka katakan kepada kita? Mungkin mereka akhirnya mampu saling memahami dan saling menolong dengan cara yang tak pernah bisa dilakukan orang lain. Mungkin mereka akan menyesali bahwa, alih-alih menghancurkan diri sendiri, mereka tidak membentuk sebuah gerakan revolusioner yang terdiri dari orang-orang yang memang sudah tidak memiliki apa-apa lagi untuk kehilangan. Atau mungkin mereka akan merasa ganjil menyadari bahwa melakukan kekerasan terhadap diri sendiri ternyata terasa jauh lebih mudah daripada melawan kekerasan yang dilakukan dunia terhadap mereka.

Tentu saja semuanya sudah terlambat. Hidup mereka telah membeku dalam keabadian, terperangkap seperti serangga di dalam damar. Namun masih ada waktu bagi kita untuk menjangkau mereka yang saat ini sedang memikirkan bunuh diri, mendorong mereka agar dapat berbicara secara terbuka tentang perasaan mereka, dan berusaha menciptakan dunia yang tidak membuat siapa pun ingin meninggalkannya.


“Keluarkan aku dari penderitaanku, atau keluarkan aku dari hidup ini!”

Hidup bukan sekadar jebakan atau hukuman. Setidaknya sekali dalam hidup, setiap orang pernah menyadari hal itu. Kita memiliki satu pilihan yang membuat kita lebih bebas daripada Tuhan, sebagaimana setiap pekerja pada dasarnya lebih bebas daripada majikan: kita bisa berhenti. Gagasan ini dapat dinikmati bahkan dalam keadaan paling ekstrem; ia memberi penghiburan ketika tak ada lagi yang mampu melakukannya. Tidak ada yang benar-benar mewajibkan kita untuk hidup. Karena itu, jika kita memiliki keberanian, setiap momen dapat menjadi tabula rasa, ruang kosong tempat segala kemungkinan terbuka dan segala risiko dapat dipertaruhkan.

Dengan kebebasan sebesar itu, kita hanya menjadi budak jika kita memilih untuk menjadi budak. Perbudakan adalah milik mereka yang masih percaya bahwa para penguasa mengendalikan ranah kematian sekaligus kehidupannya. Bagi kita, yang ada hanyalah ketidaktahuan terhadap apa yang berada di depan. Ia mungkin mengerikan, mungkin keselamatan, mungkin kehampaan, tetapi tetap tak dapat diketahui, baik dalam hidup maupun dalam kematian. Ada batas-batas untuk dilintasi, dunia-dunia baru untuk dijelajahi, jurang-jurang yang harus dipertaruhkan. Ada kemungkinan untuk merasakan kegembiraan, mewujudkan hasrat terdalam, sekaligus menghadapi risiko. Risiko untuk akhirnya berhadapan dengan rasa takut, menantang yang tak dikenal, menatap keburukan hidup secara langsung, dan dengan satu atau lain cara berhenti menjadikan keberadaan sebagai pekerjaan.

Bagi kebanyakan orang pada zaman kita, hidup itu sendiri telah berubah menjadi pekerjaan: perjuangan putus asa untuk menyeimbangkan ribuan kewajiban, termasuk kewajiban paling menyedihkan dari semuanya, yaitu menikmati hidup. Orang-orang malang ini melupakan ringannya kehidupan, betapa setiap momen dan setiap keadaan sebenarnya nyaris tak berbobot ketika dihadapkan pada kemungkinan ketiadaan.

Kita selalu memiliki pilihan untuk tidak hidup. Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak membuka diri terhadap kehidupan atau mempertaruhkan segalanya demi kehidupan yang penuh kegembiraan. Selalu ada kemungkinan untuk mengakhiri semuanya; maka jika seseorang memilih untuk tetap hidup, ia sebaiknya hidup dengan taruhan yang besar. Lagi pula, hal terburuk yang mungkin terjadi pada akhirnya memang sudah pasti akan datang.

Karena itu, tidak ada alasan untuk bangun setiap pagi selain untuk benar-benar hidup. Tidak ada bos, hukum, ataupun tuhan yang dapat merampas kemungkinan bagimu untuk mengatakan “tidak”.

Namun semua ini tidak lagi berarti apa-apa bagi seseorang yang telah tenggelam dalam keinginan bunuh diri, seseorang yang sudah terputus dari kehidupan dan menginginkan kematian hanya untuk mengakhiri keterasingan antara apa yang ia rasakan dan apa yang harus ia jalani. Ketika seseorang sudah begitu lelah dan hancur secara batin, tidak ada latihan mental sederhana yang mampu mengubah pikirannya. Pelaku bom bunuh diri, bertentangan dengan spekulasi dangkal, justru harus memiliki keterikatan yang sangat besar terhadap dunia ini untuk mampu mati dengan cara yang juga menyeret orang lain. Sebaliknya, kebanyakan orang yang bunuh diri bahkan nyaris tidak memiliki tenaga untuk membersihkan apartemennya sendiri, apalagi menjalankan misi yang rumit.

Namun bayangkan jika manusia hidup seolah-olah mereka bisa mati kapan saja, sehingga setiap hari terasa seperti kelahiran kembali. Bayangkan jika tak seorang pun membiarkan hidup berubah menjadi pekerjaan, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain. Berapa banyak orang yang masih akan memilih bunuh diri? Orang bunuh diri ketika mereka merasa lebih sulit membayangkan melepaskan seluruh keterikatan dan kewajiban hidup dibandingkan berhenti eksis sepenuhnya. Di sinilah kebiasaan, tuntutan sosial, dan berbagai investasi emosional berubah menjadi sesuatu yang membusuk, tidak alami, lalu perlahan menggiring manusia menuju liang kuburnya lebih cepat dari seharusnya.


Hidup; Pertimbangkan Alternatifnya

Jika kita cukup berani atau cukup nekat, keputusasaan sebenarnya dapat memberi kita kekuatan yang nyaris terasa supranatural. Bayangkan kita mampu bertindak tanpa rasa takut terhadap konsekuensi, memilih ketidakpastian daripada sesuatu yang sudah terlalu menyakitkan untuk terus dijalani, serta melepaskan diri dari kewajiban dan hubungan yang tidak sehat begitu kita menyadari hakikatnya. Dibutuhkan keberanian yang kejam untuk menanggalkan sentimentalitas dan menerima kenyataan tentang semua hal yang tak pernah terjadi dan mungkin memang tak akan pernah terjadi, tentang semua impian yang tak pernah terwujud. Kita harus berani mengakui bahwa kita tidak bisa menunggu selamanya, karena waktu tidak akan pernah cukup untuk itu.

Lepaskan masa lalu. Semua pertarungan lama yang masih kamu pikul, seluruh penyangkalan dan mekanisme pertahanan diri, semua kecanduan dan kelumpuhan yang menumpuk dalam dirimu, serta ketakutan-ketakutan yang membuatmu tetap terikat padanya. Ini mungkin akan menjadi hal tersulit yang pernah kamu lalui, tetapi lepaskanlah semuanya. Biarkan semuanya mati. Bertahanlah dengan keberanian melewati saat-saat sunyi di tengah kehampaan, ketika kamu menunggu dengan gemetar agar hidupmu yang baru dapat lahir. Dan ia akan lahir.

Keputusasaan. Itulah satu-satunya harapan yang kita miliki.


Diterjemahkan dari: