Mengapa Ateisme dan Anarkisme Selaras Satu Sama Lain?
Penulis: The Polar Blast
Ateisme dan anarkisme merupakan dua posisi yang berbeda, tetapi perjalanan intelektual dan politik keduanya telah lama saling bersinggungan. Ateisme yang dipahami sebagai penolakan terhadap Tuhan atau otoritas ilahi, merepresentasikan penolakan untuk tunduk pada kekuatan transenden. Sementara itu, anarkisme yang dipahami sebagai penolakan terhadap hierarki yang tidak dapat dibenarkan, serta dukungan terhadap organisasi sosial tanpa negara dan tanpa hierarki, merepresentasikan penolakan untuk tunduk pada penguasa duniawi. Keduanya sama-sama menantang otoritas, kepatuhan, dan dominasi, meskipun bergerak dalam ranah yang berbeda.
Ateisme dan anarkisme dapat dipadukan secara alami karena keduanya berbagi kritik terhadap otoritas eksternal, menekankan otonomi manusia, serta memiliki warisan sejarah berupa perlawanan bersama terhadap dominasi. Keselarasan itu juga terletak pada orientasi etis mereka. Keduanya berusaha mendasarkan moralitas pada solidaritas manusia dan saling tolong-menolong, bukan pada perintah ilahi atau hukum negara. Kesamaan konseptual, keterkaitan historis, serta berbagai ketegangan yang mungkin muncul di antara keduanya menunjukkan bagaimana ateisme memperkuat kritik anarkisme terhadap hierarki, sementara anarkisme memberi ateisme bentuk ekspresi politik yang melampaui sekadar ketidakpercayaan.
Otoritas dan Kritik terhadap Hierarki
Di jantung anarkisme terdapat penolakan terhadap otoritas yang tidak sah. Bagi pemikir seperti Mikhail Bakunin, negara bukanlah penengah yang netral, melainkan institusi yang melanggengkan dominasi. Dengan cara yang serupa, ateisme dapat dipahami sebagai penolakan terhadap otoritas tertinggi yang diklaim oleh Tuhan dan para pemuka agama di bumi. Dalam kedua kasus tersebut, kritik diarahkan pada logika hierarki dan asumsi bahwa kepatuhan terhadap kekuasaan eksternal adalah sesuatu yang alami dan diperlukan.
Otoritas keagamaan, terutama dalam tradisi monoteistik, sering kali mencerminkan bentuk kedaulatan politik. Bahasa agama seperti “Tuhan”, “Raja”, atau “Bapa” memiliki kesamaan langsung dengan struktur kekuasaan negara. Seperti yang dikemukakan oleh Emma Goldman, agama menguduskan kepatuhan dan membiasakan individu untuk tunduk, sehingga ikut menopang hierarki politik dan ekonomi. Ateisme mengganggu proses tersebut dengan menolak premis kekuasaan ilahi, sementara anarkisme memperluas prinsip yang sama terhadap institusi duniawi. Karena itu, hubungan antara keduanya dapat dipahami sebagai penolakan ganda terhadap otoritas teokratis maupun otoritas negara.
Otonomi Manusia dan Penentuan Nasib Sendiri
Dimensi lain yang menunjukkan keselarasan antara ateisme dan anarkisme terletak pada penekanan keduanya terhadap otonomi manusia. Bagi kaum anarkis, kebebasan bukan berarti ketiadaan segala bentuk tatanan, melainkan kemampuan untuk turut menentukan kondisi kehidupan sendiri tanpa tunduk pada kekuasaan yang memaksa. Sementara itu, bagi kaum ateis, otonomi berarti penolakan terhadap moralitas yang ditentukan oleh perintah ilahi.
Kerangka religius sering kali menempatkan moralitas pada titah Tuhan dan menuntut kepatuhan tanpa memedulikan akal maupun empati manusia. Sebaliknya, ateisme menuntut agar etika dibangun melalui pertimbangan manusia, solidaritas, dan pengalaman praktis. Anarkisme mencerminkan sikap yang serupa dengan menolak hukum yang dipaksakan dari atas, dan sebagai gantinya menekankan penentuan nasib sendiri secara kolektif serta asosiasi sukarela. Karena itu, kedua posisi tersebut bertemu dalam visi tentang kehidupan moral yang berakar pada otonomi, bukan kepatuhan.
Tradisi Historis Perlawanan
Catatan sejarah juga memperkuat anggapan bahwa ateisme dan anarkisme saling mendukung satu sama lain. Kritik era Pencerahan terhadap agama, yang diwakili tokoh-tokoh seperti Denis Diderot dan Voltaire, sering kali berjalan beriringan dengan tantangan awal terhadap sistem politik yang mapan. Pada periode berikutnya, para pemikir anarkis secara lebih terbuka menghubungkan ateisme dengan kritik mereka terhadap otoritas.
Pernyataan Mikhail Bakunin: “Jika Tuhan benar-benar ada, maka Ia harus dilenyapkan”, mencerminkan kecurigaan kaum anarkis bahwa kepercayaan kepada Tuhan dapat melegitimasi ketimpangan dengan menjadikan hierarki tampak alami. Karya-karya Emma Goldman juga secara konsisten menempatkan agama, bersama negara dan kapitalisme, sebagai “tiga musuh besar” kebebasan. Berbagai gerakan sejarah pun menunjukkan hal yang sama. Paris Commune menyita properti gereja dan mendorong pendidikan sekuler, sementara kaum anarkis Spanyol pada dekade 1930-an menentang fasisme sekaligus Gereja Katolik karena melihat keduanya saling memperkuat struktur hierarkis.
Meskipun terdapat arus anarkisme religius seperti Kekristenan Tolstoyan, teologi pembebasan, atau gerakan Pekerja Katolik, arus-arus tersebut lebih merupakan pengecualian daripada kecenderungan utama. Tradisi anarkis yang dominan secara konsisten memandang ateisme sebagai sekutu alami dalam upaya membongkar struktur-struktur hierarkis.
Etika Tanpa Perintah Ilahi
Para pengkritik sering berpendapat bahwa ateisme meruntuhkan moralitas karena dianggap menghilangkan landasan ilahinya. Namun, teori anarkis justru menawarkan kerangka etika yang kuat tanpa membutuhkan Tuhan. Alih-alih bertumpu pada perintah ilahi, kaum anarkis mendasarkan moralitas pada solidaritas timbal balik dan saling tolong-menolong.
Bagi Peter Kropotkin, kerja sama bukanlah cita-cita moral yang dipaksakan dari atas, melainkan prinsip yang berakar pada keberlangsungan evolusi. Manusia berkembang bukan melalui kepatuhan kepada penguasa atau Tuhan, tetapi melalui kepedulian kolektif. Karena itu, etika anarkis menekankan praktik kebebasan dan saling ketergantungan, berbeda dari kerangka otoritarian yang menyamakan moralitas dengan kepatuhan.
Ateisme memperkuat kerangka etika tersebut dengan menolak pembenaran supranatural atas kekerasan, pengucilan, maupun ketimpangan. Tanpa otoritas ilahi yang menyucikannya, praktik-praktik seperti perang suci, inkuisisi, dan penganiayaan terlihat jelas sebagai proyek politik yang dibungkus dengan bahasa teologis. Dengan demikian, anarkisme ateistik menawarkan etika yang sekaligus bersifat humanis dan emansipatoris.
Tidak ada Tuhan, Tidak ada Tuan
Ketika dipadukan, ateisme dan anarkisme membentuk visi radikal mengenai transformasi sosial. Ateisme tanpa anarkisme berisiko berhenti sebagai posisi intelektual yang terbatas karena ketidakpercayaan kepada Tuhan tidak otomatis berarti penolakan terhadap hierarki duniawi. Sebaliknya, anarkisme tanpa ateisme berisiko jatuh pada kontradiksi: menolak penguasa di bumi sambil tetap memuliakan otoritas ilahi. Namun, ketika keduanya dipertemukan, mereka membentuk pandangan dunia yang utuh dalam menentang dominasi dalam segala bentuknya.
Slogan: “No Gods, No Masters” (Tidak ada Tuhan, Tidak ada Tuan), merangkum penolakan ganda tersebut. Slogan itu juga menegaskan kemampuan manusia untuk menciptakan makna, nilai, dan bentuk organisasi sosial tanpa bergantung pada kekuatan transenden. Dalam pandangan ini, pembebasan tidak dapat ditunda hingga kehidupan setelah mati ataupun diserahkan pada kehendak ilahi, melainkan harus diwujudkan di sini dan sekarang melalui perjuangan kolektif.
Menanggapi Anarkisme Religius
Untuk memahami kompleksitas persoalan ini, perlu diakui bahwa sebagian kaum anarkis memang mengambil inspirasi dari tradisi religius. Anarkis Kristen seperti Leo Tolstoy menekankan penolakan Yesus terhadap kekuasaan imperium, sementara para teolog pembebasan menghubungkan prinsip-prinsip anarkisme dengan seruan keadilan dalam Alkitab. Perspektif-perspektif tersebut menunjukkan bahwa anarkisme dan agama tidak selalu sepenuhnya bertentangan.
Namun demikian, posisi semacam itu tetap menyisakan persoalan. Bahkan konsep Tuhan yang non-otoritarian sekalipun tetap menghadirkan standar eksternal yang harus dipatuhi oleh para penganutnya, sehingga hierarki kembali muncul pada tingkat metafisik. Selain itu, sepanjang sejarah, institusi-institusi keagamaan jauh lebih sering berfungsi sebagai sekutu negara dan kapital dibandingkan sebagai sumber perlawanan yang konsisten. Karena itulah, ateisme dianggap menawarkan landasan yang lebih jelas dan lebih konsisten bagi etos anti-otoritarian dalam anarkisme.
Ateisme dan anarkisme dianggap selaras karena keduanya sama-sama menantang struktur otoritas, menekankan otonomi manusia, serta berusaha mendasarkan etika pada solidaritas antarmanusia, bukan pada perintah ilahi. Secara historis, kaum anarkis memandang agama sebagai salah satu penopang utama hierarki dan karena itu mendukung ateisme sebagai bagian dari politik emansipatoris yang lebih luas. Secara filosofis, ateisme melengkapi anarkisme dengan menyingkirkan pembenaran metafisik terhadap kepatuhan, sementara anarkisme memberi ateisme kerangka politik untuk mewujudkan kebebasan dalam praktik nyata.
Keselarasan keduanya dapat diringkas dalam slogan: “No Gods, No Masters” (Tidak ada Tuhan, Tidak ada Tuan). Slogan ini bukan sekadar bentuk penolakan, melainkan juga penegasan bahwa manusia mampu dan harus menciptakan dunia yang didasarkan pada kebebasan, kesetaraan, dan saling tolong-menolong tanpa bergantung pada penguasa ilahi maupun penguasa politik. Dengan mempertemukan ateisme dan anarkisme, kita tidak hanya menemukan kritik terhadap dominasi, tetapi juga visi pembebasan yang berakar pada otonomi manusia dan penentuan nasib sendiri secara kolektif.