Penulis: Hasse-Nima Golkar
Hari ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, aksi-aksi besar berlangsung di berbagai kota, termasuk Stockholm, ibu kota Swedia, dengan partisipasi ribuan pekerja serta para pendukung sindikalisme, anarkisme, dan antifasisme, bersama orang-orang yang memperjuangkan kebebasan dan kesetaraan, dalam rangka memperingati Hari Buruh Internasional.
Hidup 1 Mei; Hari Buruh Internasional!
1 Mei bukan sekadar peringatan sejarah, melainkan momen untuk meninjau kembali makna kekuasaan, kerja, dan pembebasan. Hari ini mengingatkan kita bahwa seluruh struktur ekonomi dan sosial bertumpu pada kerja para pekerja, sementara mereka sendiri justru terampas dari hasil kerja mereka. Dari perspektif anarko-sindikalisme, kontradiksi mendasar ini, antara produksi kolektif dan kepemilikan privat, merupakan akar utama ketidakadilan dalam sistem kapitalisme.
Perjuangan kelas berlangsung terus-menerus di ruang hidup, di tempat kerja, dan di jalanan. Namun pertanyaan utamanya adalah: bagaimana perjuangan ini dapat mengarah pada pembebasan yang nyata? Anarko-sindikalisme memberikan jawaban yang jelas: bukan melalui negara, bukan melalui parlemen, dan bukan melalui perwakilan politik, melainkan melalui pengorganisasian langsung, horizontal, dan mandiri oleh para pekerja itu sendiri.
Negara, bahkan dalam bentuknya yang paling demokratis sekalipun, tetap merupakan struktur yang berfungsi mempertahankan tatanan yang ada, yakni kelangsungan akumulasi kapital. Parlemen, terlepas dari klaim representatifnya, telah menjadi arena tawar-menawar antar faksi kekuasaan; faksi-faksi yang pada akhirnya memiliki kepentingan bersama dalam mempertahankan sistem kapitalisme, meskipun tampak berbeda di permukaan. Karena itu, menggantungkan harapan pada reformasi parlementer hanya akan menjerat pekerja dalam siklus penantian dan kepasifan.
Sebaliknya, anarko-sindikalisme menekankan aksi langsung: pemogokan, pendudukan tempat kerja, pengelolaan mandiri, serta pembentukan dewan-dewan pekerja yang bebas dan independen. Sarana-sarana ini bukan hanya alat perjuangan, tetapi juga gambaran awal dari masyarakat yang ingin dibangun: masyarakat tanpa hierarki, tanpa otoritas dan dominasi, yang bertumpu pada solidaritas, mutual aid, serta kerja sama sukarela yang bebas.
Dalam kerangka ini, 1 Mei adalah seruan untuk merebut kembali kendali atas hidup dan kerja. Sebuah pengingat bahwa pembebasan kelas pekerja hanya dapat dicapai oleh tangan mereka sendiri. Tidak ada partai, pemimpin, atau institusi yang dapat menggantikan kehendak dan pengorganisasian langsung dari kelas pekerja.
Di tengah dunia yang dilanda krisis lingkungan, ketimpangan yang semakin tajam, dan ketidakstabilan ekonomi yang terus meningkat, semua ini menjadi tanda jelas kegagalan sistem kapitalisme. Horizon pembebasan anarkis bukan sekadar pilihan ideologis, melainkan sebuah kebutuhan historis dan politik.
Hidup Solidaritas Pekerja Internasional!
Tidak untuk Mullah, Tidak untuk Shah, Tidak untuk Perang!
