Selasa, 20 Januari 2026

Mengapa Kami menjadi Anarkis di Sudan?

Ditulis oleh: Fawaz Murtada

Kawan-kawan di “Forum Anarkis Kurdi” (KAF) baru-baru ini menerima pesan dari seorang kawan anarkis di Sudan. Kami ingin membagikannya agar orang-orang dapat mengetahui situasi kaum anarkis di Sudan.


Mengapa Kalian menjadi Anarkis di Sudan?


Pertanyaan ini terus menghantui saya dalam banyak momen. Di sebuah negara yang dipenuhi keberagaman ideologi, budaya, etnis, suku, dan pandangan politik, pilihan tampak begitu tak terbatas, tetapi pada saat yang sama tidak satu pun benar-benar dapat dipilih secara bebas. Sejak lahir, identitasmu di Sudan sudah ditentukan oleh agama, sementara suku memainkan peran besar dalam membentuk budaya bahkan nasib hidupmu.

Untuk menjadi seorang anarkis di Sudan, pertama-tama kamu harus mampu melepaskan diri dari seluruh identitas yang dipaksakan itu, juga dari berbagai belenggu yang menyeret kita ke dalam tungku negara. Sudan adalah negeri tempat perang, krisis, dan penyakit seolah tidak pernah berhenti. Rakyatnya, yang dibentuk oleh ideologi militerisme, agama, dan kesukuan, terus dijadikan bahan bakar bagi konflik yang berkepanjangan. Di negara seperti itu, saya sering memandang hidup saya sendiri dengan rasa heran. Perjuangan kami kerap terasa seperti adegan dalam film aksi (mungkin terdengar aneh atau sulit dipahami bagi orang luar) di mana untuk tetap hidup kami harus terus melarikan diri dari berbagai faksi yang saling berperang, menghindari hujan peluru yang diarahkan langsung kepada kami: peluru negara, agama, suku, sekte, dan kelompok-kelompok bersenjata.

Memilih menjadi seorang anarkis adalah bentuk kesadaran yang lahir dari pengakuan atas kegagalan seluruh sistem itu. Ia merupakan kesadaran yang mendorong seseorang menuju titik paling ekstrem dalam perjuangan praktis, sekaligus ke dalam pengalaman manusia yang sangat rumit dan mendalam. Jalan ini pada akhirnya hanya menyisakan dua kemungkinan: bertahan sebagai seorang revolusioner sejati, atau dihancurkan oleh pusaran kekuasaan itu sendiri.

Sebagaimana otoritas di Sudan hadir dalam berbagai bentuk, demikian pula oposisi terhadapnya. Ada gerakan perlawanan politik, partai-partai, kelompok bersenjata bayaran, milisi yang menyebut diri mereka revolusioner atau liberal namun tetap dibangun di atas struktur kesukuan, hingga berbagai faksi kebudayaan yang secara mendalam terlibat dalam praktik otoritarianisme berbasis propaganda. Jalinan hierarki yang saling bertaut inilah yang membentuk krisis di Sudan. Sudan sesungguhnya menyerupai kumpulan bangsa-bangsa kecil yang terperangkap di dalam satu negara dengan kekuasaan brutal, sebuah negara yang tidak mengakui hak asasi manusia kecuali sejauh hal itu sesuai dengan kepentingannya sendiri. Selain itu, ideologi Islamofasis telah lama dijadikan alat untuk memperdalam kebodohan dan keterbelakangan di Sudan.

Berjuang menghadapi semua itu seorang diri sebagai anarkis terasa seperti seekor serigala yang dikepung kawanan hyena. Begitu mereka menemukan satu celah kelemahan dalam dirimu, kehancuran menjadi sesuatu yang nyaris tak terhindarkan. Karena itu, jalan ke depan harus dimulai dengan mencari orang-orang yang berbagi ide denganmu, lalu bersama-sama mengembangkannya melalui pengetahuan dan pendidikan.

Sebagai seorang anarkis, kamu membawa keyakinan bahwa di mana pun kamu berada dan dalam kondisi apa pun, tugasmu adalah menyebarkan kebebasan. Harga dari kebebasan itu bisa sangat mahal, bahkan mungkin harus dibayar dengan nyawa. Namun pengorbanan itu tetap hanyalah setetes kecil dibandingkan besarnya kebutuhan akan pembebasan, agar manusia dapat hidup dengan bermartabat.

Kebebasan adalah hakikat tertinggi dari keberadaan manusia, dan anarkisme menunjukkan jalan untuk mencapainya sekaligus mempraktikkannya. Kebebasan bukan sekadar kata-kata puitis untuk menggantungkan harapan; ia adalah usaha yang nyata, komitmen untuk membebaskan diri sendiri dan orang lain, serta perjuangan tanpa henti untuk menjadikan kebebasan sebagai kenyataan.

Menjadi seorang anarkis adalah anugerah yang tidak bisa dimonopoli atau disembunyikan.

Menjadi bebas berarti menjadi anarkis, dan menjadi anarkis berarti menjadi bebas.


Mengapa Anarkis Sudan harus Didukung?


Setiap hari, kita menyaksikan konflik global yang dipicu oleh perebutan sumber daya, kekuasaan, dan ideologi, sementara rakyat terpecah ke dalam berbagai kubu: ada yang mendukung otoritas yang sedang berkuasa di negaranya, dan ada pula yang mendukung pihak yang berusaha merebut kendali atas negara tersebut. Di Sudan, perebutan sumber daya dan kekuasaan telah lama menjadi penggerak utama konflik, hingga akhirnya mencapai puncaknya dalam bencana yang melanda negara itu pada 15 April 2023. Peristiwa tersebut secara terang membuka kedok di balik slogan-slogan Revolusi Desember, sesuatu yang sejak awal berusaha dikritisi dan dijelaskan oleh para anarkis.

Ketika Janjaweed masih menjadi bagian integral dari negara militer dan turut terlibat dalam pembubaran brutal aksi-aksi protes, para kawan anarkis telah berani menentangnya. Mereka menyerukan pembubaran kelompok itu oleh rakyat, sekaligus memperingatkan bahwa Janjaweed merupakan ancaman bagi revolusi dan masyarakat.

Belakangan, Pasukan Dukungan Cepat (RSF) muncul sebagai kekuatan yang lebih independen, dibangun di atas fondasi kesukuan, dan menggunakan otoritas serta persenjataan mereka untuk memaksakan dominasi melalui supremasi rasial yang terang-terangan. Di Sudan, konflik kesukuan yang terorganisir dengan jelas disulut oleh negara, lalu tanpa disadari dijadikan alat utama untuk memperdalam perpecahan demi kepentingan para penguasa.

Para anarkis menolak otoritas kesukuan yang hingga kini masih menjadi salah satu pendorong utama konflik di Sudan. Mereka berupaya menyebarkan kesadaran tentang kebebasan, pemikiran yang independen, serta pembebasan dari propaganda negara dan kesukuan, agar rakyat tidak terus-menerus dijadikan pion dalam perebutan kekuasaan.

Di sebuah negeri yang telah dilelahkan oleh kemiskinan, keterbelakangan, dan perang, tempat perlawanan semakin sulit dilakukan dan para kawan menghadapi represi yang nyaris tak terbayangkan, anarkis Sudan tetap bersikeras mempertahankan keberadaan dan perjuangan mereka. Peran mereka melampaui sekadar bentuk perlawanan politik; mereka juga menjadi cermin yang memantulkan kenyataan sebenarnya, di luar distorsi media arus utama, dengan membagikan pengalaman hidup dan perjuangan sehari-hari mereka kepada para anarkis di berbagai penjuru dunia.

Di Afrika, tempat gagasan-gagasan anarkis masih relatif jarang, anarkis Sudan hadir sebagai mercusuar harapan bagi penyebaran kesadaran emansipatoris. Kebangkitan bangsa-bangsa Afrika untuk melawan perampasan sumber daya, serta penolakan terhadap perlakuan atas benua mereka sebagai tempat pembuangan limbah dan ladang eksploitasi global, bukan lagi sekadar pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Perang di Sudan bukan hanya konflik internal; ia juga telah menjadi medan terbuka bagi pengujian senjata, tempat berbagai negara menjual persenjataan mereka untuk digunakan terhadap warga sipil yang tidak berdosa.

Saat ini, rakyat Sudan tidak sedang berperang demi agama atau ideologi, tetapi sedang terlibat dalam perjuangan yang pada dasarnya bersifat otoritarian. Ketika gerakan-gerakan sosial yang melawan ideologi mulai kehilangan momentumnya, para anarkis tetap menjadi satu-satunya pihak yang mampu menawarkan analisis dan kritik yang tajam terhadap kebijakan-kebijakan otoriter. Di tengah perjuangan kami yang menguras seluruh tenaga, bahkan mungkin juga nyawa, demi mempertahankan keberadaan dan menyebarkan kesadaran, dukungan dari kawan-kawan di seluruh dunia menjadi sesuatu yang sangat berarti.

Kami tidak dapat menjalani perjuangan ini sendirian. Sebagaimana kami memahami bahwa kami bukan satu-satunya yang menghadapi penindasan di dunia ini, solidaritas internasional memberi kami kekuatan untuk terus bertahan. Karena itu, kami menyerukan kepada seluruh kawan untuk mendukung para anarkis di Sudan, sebab mendukung mereka berarti mendukung kebebasan dan keadilan melawan tirani dalam segala bentuknya.

Dukung para anarkis di Sudan.. Dukung kebebasan di Sudan!


Kontribusi Kaum Anarkis Selama Perang


Tidak dapat dipungkiri bahwa perang membawa dampak yang sangat destruktif terhadap pembentukan dan keberlangsungan kelompok kami. Pengungsian dan tercerai-berainya para anggota menjadi konsekuensi yang nyaris tak terhindarkan dari kekerasan yang melanda negeri ini. Namun berkat solidaritas internasional, kami berhasil menyelamatkan kawan-kawan yang terjebak di zona konflik, membawa mereka ke tempat yang lebih aman, serta membantu mereka menyesuaikan diri dengan kondisi kehidupan yang baru. Kami juga membantu kawan-kawan lain menemukan tempat perlindungan. Secara pribadi, selama perang saya menampung lebih dari tiga keluarga kawan, sebagai bentuk penghayatan nyata terhadap prinsip solidaritas, hingga mereka mampu kembali menstabilkan hidup mereka.

Meskipun sumber daya kami sangat terbatas, kami terus berusaha melampaui kemampuan yang kami miliki. Sebagian besar kawan kami menjadi relawan untuk membantu komunitas yang terdampak perang, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan, dan lansia. Di tengah minimnya bantuan kemanusiaan dan krisis yang terus memburuk, kami merasa tidak memiliki pilihan selain mengambil peran tersebut.

Selain itu, kami merasa penting untuk menyampaikan kepada dunia penyebab yang sebenarnya, dinamika, dan perkembangan perang dari sudut pandang anarkis. Kami juga berupaya meredakan ketegangan yang sengaja dipelihara oleh pihak-pihak yang bertikai demi memperpanjang konflik, dengan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang hakikat perang itu sendiri. Bagian penting lainnya dari kerja kami adalah memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya sisa-sisa perang, serta cara menghadapi situasi seperti penawanan, penahanan, kelaparan, cedera, dan limbah perang.

Walaupun kami kekurangan sumber daya, kami tetap berkomitmen pada tugas pembebasan kami: menyebarkan kesadaran di tengah situasi yang sangat kompleks ini. Kami berharap dapat memperluas partisipasi dan cakupan perjuangan.

3 November 2025


Diterjemahkan dari: