Jumat, 05 Juni 2026

Sane Anarchy

Penulis: Larry Gambone

FAKTANYA: TIDAK ADA YANG MENYUKAI NEGARA

Jajak pendapat dan berbagai survei menunjukkan hal itu. Mayoritas masyarakat tidak lagi menaruh kepercayaan pada pemerintah. Mereka membenci birokrasi dan peraturan-peraturan yang menyesakkan. Mereka menginginkan desentralisasi kekuasaan politik dan suara yang lebih besar di tempat kerja. Mereka juga prihatin terhadap masalah lingkungan, kesetaraan gender, dan meningkatnya kemiskinan. Mungkin belum pernah dalam sejarah begitu banyak orang memiliki pandangan yang sedemikian radikal. Coba ingat tahun 1960-an. Minoritas kecil dari Kiri Baru yang mengemukakan gagasan-gagasan serupa saat itu dicap sebagai orang-orang yang ingin “menghentikan dunia karena ingin turun darinya”, atau sebagai kaki tangan Komunis. Ironisnya, kaum kiri justru tidak pernah berada dalam kondisi yang lebih buruk daripada sekarang. Akibatnya, pihak yang paling diuntungkan oleh keresahan sosial ini adalah kaum populis dan liberal pasar bebas (yang dalam istilah politik Amerika disebut kaum konservatif). Kekuatan-kekuatan ini memadukan dorongan menuju desentralisasi dan demokrasi langsung dengan isu-isu sosial konservatif atau ekonomi pasar bebas.


DI MANA KAUM ANARKIS?

Yang bahkan lebih sulit dipahami daripada kegagalan kaum kiri adalah ketiadaan anarkisme, atau apa yang dahulu dikenal sebagai “libertarianisme tradisional”. [1] Tampaknya telah terjadi kemunduran yang cukup mencolok dalam aktivitas kaum anarkis sejak masa puncaknya pada pertengahan hingga akhir dekade 1980-an. Bagaimana paradoks ini dapat dijelaskan? Menyalahkan media bukanlah jawabannya. Kelompok-kelompok lain juga pernah menjadi sasaran pemberitaan yang tidak adil, atau bahkan sama sekali diabaikan oleh media, namun hal itu tidak menghalangi mereka untuk menjadi kekuatan yang berarti dalam masyarakat. Lihat saja Gerakan Pembebasan Perempuan dan berbagai serangan yang mereka terima; meskipun demikian, feminisme kini menjadi salah satu kekuatan sosial yang paling berpengaruh. Kesalahan itu hanya dapat terletak pada kaum anarkis sendiri.


ANARKISME DAN KIRI BARU

Siapakah kaum anarkis, dan dari mana mereka berasal? Setidaknya di Amerika Utara, perlu ditegaskan bahwa hampir tidak ada hubungan yang berarti antara gerakan anarkis lama sebelum Perang Dunia II, atau yang disebut sebagai anarkisme klasik, dengan kelompok orang yang kembali menghidupkan anarkisme pada akhir tahun 1960-an. Pada dekade 1950-an, gerakan libertarian praktis sudah tidak ada lagi; yang tersisa hanyalah sejumlah individu yang terisolasi. [2] Mereka yang membentuk anarkisme baru berasal dari Kiri Baru, yaitu orang-orang yang kecewa terhadap pengambilalihan gerakan oleh kaum Stalinis dan memandang anarkisme sebagai kelanjutan logis dari keyakinan mereka. Apa yang sesungguhnya lahir adalah sebuah neo-anarkisme, yang memadukan anarkisme tradisional dengan gagasan-gagasan yang diambil dari Kiri Baru. Baik Kiri Baru maupun neo-anarkisme (yang juga disebut anti-otoritarianisme) memberikan pengaruh besar terhadap berbagai “Gerakan Baru” (feminisme, ekologi, gerakan anti-nuklir) pada dekade 1970-an dan 1980-an. Sebaliknya, anarkisme juga turut dipengaruhi oleh gerakan-gerakan tersebut.


ELITISME KIRI BARU

Sikap-sikap tertentu yang berasal dari Kiri Baru dan apa yang disebut sebagai kontra-budaya meresap ke dalam neo-anarkisme dan memberikan pengaruh yang merusak. Yang paling menonjol di antaranya adalah elitisme. Di kalangan Kiri Baru, berkembang keyakinan umum bahwa mayoritas masyarakat telah “dikooptasi”, “terjual”, “rasis”, dan “seksis”. Bagi kalangan hippie-kiri, kebanyakan orang dipandang tidak lebih dari para redneck berambut pendek yang gemar menenggak bir. Sebagian besar permusuhan kaum muda ini sebenarnya diarahkan kepada orang tua mereka sendiri, sehingga lebih merupakan ungkapan pemberontakan remaja daripada hasil pemahaman politik yang mendalam. Kecuali mereka yang memilih jalur anarko-sindikalisme, sebagian besar neo-anarkis membawa sikap merendahkan ini ke dalam gerakan mereka. Mayoritas masyarakat dianggap telah rusak tanpa harapan, dan sikap semacam itu masih terus bertahan hingga sekarang. Penghinaan seperti ini sangat bertentangan dengan anarkisme klasik, yang bahkan dalam bentuknya yang paling avangardis sekalipun tetap memandang dirinya hanya sebagai katalisator atau juru bicara massa.

Sambil menolak mayoritas, mereka justru terobsesi pada kelompok-kelompok minoritas. Kiri Baru, yang meremehkan kaum pekerja, beralih kepada kelompok minoritas rasial dan kaum miskin sebagai agen potensial perubahan sosial. Masyarakat adat, para narapidana, kaum yang tersisih dari masyarakat, homoseksual, dan berbagai kelompok lainnya diberi perhatian yang sangat besar, hampir dengan mengabaikan seluruh lapisan masyarakat yang lain. [3]


KULTUS DUNIA KETIGA

Aspek lain yang diwarisi dari Kiri Baru adalah obsesi terhadap Dunia Ketiga dan imperialisme Barat. Banyak neo-anarkis, meskipun secara lisan mengakui kritik anarkis terhadap Leninisme, pada praktiknya justru mendukung apa yang disebut sebagai gerakan pembebasan nasional. Sebagian memuji Front Pembebasan Nasional Vietnam (NLF), sementara yang lain berusaha membersihkan citra rezim Castro. Banyak pula yang menelan mentah-mentah propaganda Leninisme bahwa Barat, khususnya Amerika Serikat, sepenuhnya bertanggung jawab atas Perang Dingin. Demikian pula dengan gagasan bahwa “kita hidup dari eksploitasi Dunia Ketiga”, padahal pada masa itu negara-negara maju justru lebih banyak berinvestasi satu sama lain. Posisi-posisi semacam ini tidak lebih dari upaya menutupi kekejaman Stalinisme. Namun gagasan-gagasan tersebut terus didaur ulang melalui neo-anarkisme serta gerakan perdamaian dan gerakan hijau, bahkan hingga hari ini.

Bersamaan dengan pemujaan terhadap “gerakan-gerakan pembebasan”, muncul pula glorifikasi terhadap kekerasan. Ketika orang-orang yang mengaku sebagai “wakil kaum tertindas” menanam bom di pesawat penumpang, memberondong wisatawan dengan senapan mesin, dan melempar granat ke pub serta teater, sebagian anggota Kiri Baru yang neurotis atau kecewa memutuskan bahwa sudah waktunya berhenti sekadar memberi pembenaran dan mulai bertindak. Beberapa kelompok yang menyebut diri anarkis bahkan memberikan dukungan kepada organisasi teroris seperti Action Directe di Prancis dan Red Army Faction yang telah disusupi oleh Stasi. [4] Sejumlah orang naif di pinggiran gerakan anarkis, seperti Angry Brigade dan kelompok Direct Action di Kanada, benar-benar mengangkat senjata dan akhirnya menghabiskan sebagian besar masa muda mereka di balik jeruji penjara.


MISERABILISME

Namun, Kiri Baru bukanlah satu-satunya pengaruh. Sepanjang dekade 1960-an terjadi persilangan gagasan dengan berbagai ide yang berasal dari ultra-kiri atau komunisme dewan (council communism). Sebagian pengaruh ini bersifat positif, terutama yang datang dari para pengikut Paul Mattick atau kelompok Socialisme ou Barbarie pimpinan Cornelius Castoriadis. Namun setelah perpecahan kaum Situasionis dan rangkaian perpecahan tanpa akhir di dalam gerakan komunisme dewan, berbagai “teori” yang sangat ganjil mulai bermunculan. Masyarakat modern Barat dianggap sepenuhnya totaliter, sementara Kapital dipandang telah memperoleh otonomi mutlak atas umat manusia. Yang lain menyatakan bahwa seluruh peradaban adalah kejahatan, lalu menyerukan agar manusia meninggalkan teknologi (bahkan pertanian), dan kembali hidup sebagai pemburu-pengumpul. 

Teori-teori semacam itu, yang mencerminkan kemunduran marxisme pada fase akhirnya, mendapat tempat di kalangan sebagian neo-anarkis Amerika Utara ketika gerakan anti-nuklir dan gerakan lingkungan sedang berkembang (produk akhirnya yang paling ekstrem adalah sosok yang dikenal sebagai “Unabomber”). Bagi kebanyakan orang, gagasan-gagasan seperti ini tidak lebih dari kegilaan belaka. Orang biasa yang membaca jurnal yang mengusung pandangan semacam itu atas nama anarkisme kemungkinan besar akan menganggap anarkisme sebagai ideologi orang-orang sinting (dan mereka tidak sepenuhnya salah). Marxisme dalam kemundurannya telah membawa obsesinya terhadap berbagai kejahatan, baik yang nyata maupun yang dibayangkan, hingga ke titik yang paling ekstrem; sampai-sampai ia dapat dianggap sebagai ideologi "miserabilisme".

Kehidupan rata-rata manusia bukanlah penderitaan tanpa akhir, tetapi juga bukan kebahagiaan tanpa batas. Hanya sebagian kecil orang yang benar-benar hidup dalam kesengsaraan. Mayoritas merasa tidak puas, tetapi tidak hidup dalam kemelaratan. Kita mungkin tidak menyukai pemerintah atau atasan kita, tetapi hal-hal itu bukanlah keseluruhan hidup kita. Kita memiliki keluarga, sahabat, dan minat pribadi. Di sanalah kehidupan kita yang sesungguhnya bermula dan berakhir. Berkat media massa, meskipun gambaran yang disajikan sering kali sangat terdistorsi, orang-orang cukup menyadari adanya penderitaan di dunia ini. Yang dibutuhkan bukanlah lebih banyak keluhan dan ratapan, melainkan visi yang lebih positif tentang masa depan.


OTORITARIANISME NEO-ANARKIS

Berakar pada gagasan Leninisme tentang “garis yang benar” (the correct line), dan kemudian diperkuat oleh bentuk-bentuk ekstrem feminisme serta nasionalisme kulit hitam, Political Correctness telah menghantui neo-anarkisme seperti kutu yang menempel pada seekor anjing. [5] Sulit membayangkan bagaimana seseorang dapat mendamaikan sensor dengan anarkisme. Namun itulah yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku “anti-otoritarian”, sampai-sampai ada yang membakar toko video karena menjual pornografi.

Obsesi terhadap “kebenaran politik”, sikap keras yang lahir dari pemujaan terhadap kekerasan, serta ketertarikan pada ideologi-ideologi yang kabur dan ekstrem, secara alami melahirkan sektarianisme. Tidak cukup bahwa semua libertarian menginginkan penghapusan negaraisme, korporatisme, dan otoritarianisme, serta bahwa mereka memiliki jauh lebih banyak kesamaan satu sama lain dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki pandangan tersebut. Tidak. Perbedaan-perbedaan sekecil apa pun harus dipersoalkan. Dan ironisnya, mereka yang posisinya paling dekat dengan kita sering kali justru diperlakukan sebagai musuh yang paling berbahaya.

Penghinaan terhadap massa, miserabilisme, sektarianisme, Dunia Ketigaisme (Third Worldism), Political Correctness, dan pemujaan terhadap kekerasan merupakan berbagai bentuk otoritarianisme yang bersembunyi di balik topeng libertarian. Mereka yang menyebut diri sebagai anarkis itu pada kenyataannya hanyalah anggota dari satu sekte kiri otoritarian lainnya. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa mereka berpura-pura menjadi anti-otoritarian. Jika boleh dikatakan, mereka hanyalah semacam Leninisme versi lunak.


SINGKIRKAN TIPU DAYA KIRI

Kaum kiri adalah pelopor korupsi birokratis negara atas kehidupan masyarakat. [6] Bukan tanpa alasan jika kata “sosialisme” telah menjadi sesuatu yang dibenci oleh sebagian besar orang. Ketidakadilan, eksploitasi, kemiskinan, diskriminasi, kelaparan, dan kebodohan memang merupakan masalah nyata yang dihadapi dunia, dan hampir semua orang sepakat akan hal itu. Namun kaum kiri berusaha mengatasi persoalan-persoalan tersebut melalui negara, dan dengan cara itu mereka hanya menciptakan kembali kejahatan-kejahatan yang sama dalam bentuk yang baru. Alih-alih membiarkan berbagai kelompok yang berbeda menyelesaikan persoalan mereka secara bebas, negara dijadikan penengah tertinggi atas segala sesuatu. Alih-alih memungkinkan orang keluar dari kemiskinan melalui perpaduan usaha pribadi, solidaritas, dan mutual aid, negara dijadikan sumber utama jaminan sosial.

Saat ini kita hidup dalam semacam negara korporatis liberal. [7] Kalangan bisnis dan petani menerima subsidi dari pemerintah. Demikian pula dunia kebudayaan, kaum miskin, kelompok minoritas, dan pada kenyataannya hampir setiap sektor masyarakat. Masing-masing berlomba mendapatkan tempat di sekitar palungan negara, dan seluruh aspek kehidupan pun menjadi sangat dipolitisasi. Semua pemborosan ini harus dibayar oleh masyarakat pekerja. Setiap tahun utang terus menumpuk semakin tinggi, dan semua orang bertanya-tanya mengapa hal itu terjadi.

Kaum kiri juga berfungsi sebagai anjing penjaga korporatisme. Setiap upaya untuk menyerang sistem ini segera dicap sebagai “sayap kanan”. Kaum populis, anarkis, libertarian pasar bebas, dan konservatif dengan huruf “k” kecil, semuanya difitnah sebagai fasis, reaksioner, dan rasis. Taktik semacam ini bukanlah hal baru. Ia hanyalah variasi dari praktik Stalinis pada tahun 1920-an yang melabeli kaum sosialis sebagai “fasis sosial” dan kaum anarkis sebagai “anarko-fasis”.

Ketika kiri berarti etatisme dan kanan berarti anti-etatisme, maka pertentangan antara “kiri” dan “kanan” hanyalah peninggalan usang yang tidak lagi kita perlukan. Perpecahan yang sesungguhnya dalam masyarakat bukanlah antara kiri dan kanan, melainkan antara kaum otoritarian dan anti-otoritarian, antara sentralis dan desentralis, serta antara mereka yang berpikir secara politis dan mereka yang menolak politik sebagai jalan utama. Kiriisme dan libertarianisme tidak dapat dipadukan. Yang pertama berdiri di atas etatisme dan sentralisasi, sedangkan yang kedua berpijak pada desentralisasi dan penentangan terhadap kekuasaan negara. [8] Kaum anarkis seharusnya memutuskan hubungan mereka dengan kiriisme dan menempuh jalan mereka sendiri, bebas dari tali pusar otoritarian yang selama ini mengikat mereka. Ini bukan berarti mendorong sektarianisme. Sudah jelas bahwa kita dapat bekerja sama dengan kaum kiri (atau kelompok mana pun) ketika terdapat kebutuhan atau tujuan bersama. Namun kita tidak boleh terikat secara ideologis pada apa yang disebut sebagai gagasan-gagasan “kiri”.


EKOR HITAM KECIL KAUM KIRI

Apa pun posisi yang diambil kaum kiri terhadap suatu isu, selalu ada anarkis yang ikut mengadopsinya. Pada akhirnya mereka menjadi pembela kultus birokrasi dan etatisme yang dianut kaum kiri. Contohnya sangat banyak. Ambil saja persoalan kesejahteraan sosial. Siapa pun yang mengkritik "negara kesejahteraan" (welfare) apa pun alasannya, segera dicap sebagai “musuh kaum miskin”. Dan kita dapat menemukan kaum anarkis yang ikut menerima tuduhan semacam itu, meskipun sebenarnya terdapat kritik anarkis yang sangat kuat terhadap sistem kesejahteraan negara. [9]


PEMBERONTAKAN KAUM MUDA: SEBUAH PERJUANGAN YANG TELAH KEHILANGAN ARAH

Ini adalah kenyataan demografis. Di negara-negara maju, jumlah remaja dan dewasa muda semakin berkurang. Karena itu, semakin tidak masuk akal untuk mendasarkan strategi politik pada pemberontakan kaum muda atau budaya tandingan (counter-culture). Yang dibutuhkan justru adalah anarkisme yang berakar pada kalangan paruh baya dan generasi lanjut usia. Sebab di sanalah sebagian besar populasi berada. Suasana anti-negara yang berkembang saat ini juga lebih berkaitan dengan persoalan-persoalan yang menjadi perhatian kelompok usia tersebut. Perpajakan adalah contoh yang sangat jelas.


KEUSANGAN ANARKISME TRADISIONAL

Jika neo-anarkisme dipenuhi berbagai kontradiksi, sebagian anarkis tradisional juga menghadapi persoalan mereka sendiri. Mereka memang mengidentifikasikan diri dengan kaum pekerja, dan itu setidaknya merupakan suatu kelegaan, tetapi mereka terjebak dalam cara pandang yang usang. Seolah-olah tidak ada yang berubah sejak tahun 1910. Dalam pandangan mereka, para pekerja masih merupakan kaum miskin yang tertindas dan hidup sengsara, sementara masyarakat masih dikuasai oleh sekelompok kapitalis berperut buncit dan bertopi tinggi yang memanipulasi pemilu serta mengendalikan seluruh media. Bahwa perekonomian modern sebagian besar dijalankan oleh lembaga-lembaga besar, bahwa masyarakat telah menjadi sangat birokratis, dan bahwa mayoritas pekerja, meskipun menghadapi otomatisasi dan pengurangan tenaga kerja, tetap hidup relatif makmur menurut hampir semua ukuran yang ada, tampaknya sama sekali luput dari perhatian mereka. Sebagian anarko-sindikalis juga tampaknya tidak menyadari bahwa kerja tidak lagi menempati posisi yang sama seperti dahulu. Mengorganisir perjuangan semata-mata di sekitar tempat kerja berarti mengabaikan tiga perempat kehidupan manusia. Serikat pekerja pun tidak lagi menjadi sesuatu yang menarik bagi banyak orang. Sebagian besar justru memandang serikat sebagai satu lagi birokrasi yang dipaksakan kepada mereka (meskipun mereka tetap menyukai upah yang lebih tinggi). Upaya kaum sindikalis untuk menjangkau masyarakat umum memang dilandasi niat baik, tetapi sering kali gagal. Terbelenggu oleh pandangan dunia yang sudah ketinggalan zaman, mereka tidak lagi mengenal ataupun memahami kehidupan orang biasa.

Kecenderungan elitis juga dapat ditemukan di kalangan anarkis tradisional. Anarkisme lahir dari pemberontakan terhadap otoritarianisme yang begitu dominan dalam masyarakat dan terhadap penerimaan masyarakat terhadap otoritas tersebut. Kaum anarkis telah terlalu lama terbiasa menjadi minoritas kecil yang “berseru di tengah padang gurun”, sehingga kesulitan menyesuaikan diri dengan kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat kini menerima banyak gagasan anarkis. Akibatnya, mereka terus berpikir dan bertindak seolah-olah mayoritas masyarakat masih memuja para penguasa mereka. Padahal kenyataannya tidak demikian. Yang dibutuhkan saat ini bukanlah meyakinkan orang tentang kebusukan sistem yang ada, melainkan menemukan cara untuk membangun sebuah masyarakat yang berskala manusiawi, yang sesuai dengan kebutuhan dan kehidupan nyata manusia.


BAHAYA UTOPIANISME

Dalam upaya menciptakan masyarakat yang lebih bebas dan lebih manusiawi, kita tidak boleh terjebak dalam perangkap utopianisme. Sedikit sekali gagasan yang telah menimbulkan penderitaan sebesar khayalan ini. Kaum utopis merancang skema-skema tentang “masyarakat yang sempurna”, lalu berusaha memaksa semua orang untuk menyesuaikan diri dengan cetakan tersebut. Ketika orang-orang menolak mengikuti fantasi itu, mereka dicap sebagai “terbelakang”, sehingga penggunaan paksaan dianggap perlu. Tujuan akhir dari utopianisme adalah gulag dan kamar gas.

Utopia liberal maupun sosialis hanya dapat berfungsi jika manusia adalah malaikat. Namun kenyataannya, manusia bukanlah malaikat. Manusia adalah makhluk yang tidak sempurna, dan setiap sistem sosial yang kita bangun harus memperhitungkan kenyataan tersebut. Thomas Jefferson memahami hal ini, sehingga ia berupaya membatasi kekuasaan negara sejauh mungkin. Pierre-Joseph Proudhon, yang sering disebut sebagai "Bapak Anarkisme", memiliki kesadaran yang serupa, tetapi melangkah lebih jauh dengan menuntut bukan sekadar pembatasan, melainkan penghapusan negara. Sebab jika kita semua adalah makhluk yang tidak sempurna, yang mampu bersikap serakah, iri hati, bodoh, atau neurotis, mengapa kita harus menempatkan segelintir makhluk yang sama tidak sempurnanya untuk memerintah semua orang lainnya? Siapakah yang pada akhirnya benar-benar lebih baik daripada orang lain?

Kaum anarkis seharusnya tidak mengejar utopia, melainkan berusaha meminimalkan otoritas seseorang atas orang lain, dan karena itu menolak segala bentuk utopianisme. Masyarakat semacam itu tidak akan pernah sempurna. Namun setidaknya ia memberi ruang bagi kita, manusia-manusia yang tidak sempurna, untuk menyelesaikan persoalan dan perselisihan secara langsung, berhadapan satu sama lain, serta menemukan solusi-solusi praktis bagi berbagai masalah sosial dan ekonomi.


NIHILISME ADALAH MASALAH ZAMAN KITA

Seseorang tidak perlu membaca Friedrich Nietzsche untuk menyadari bahwa persoalan utama di dunia maju saat ini bukan lagi otoritarianisme tradisional, melainkan nihilisme. Gejala nihilisme yang paling mencolok, yang setiap hari diteriakkan kepada kita melalui surat kabar dan siaran berita televisi, adalah runtuhnya keluarga, kecanduan narkoba, kejahatan, dan kenakalan sosial. Namun nihilisme juga memiliki dimensi ideologis. Salah satunya adalah tren akademik yang dikenal sebagai “dekonstruksionisme” (deconstructionism), yang menganggap sejarah tidak memiliki makna atau nilai yang dapat dipercaya. Contoh lainnya adalah multikulturalisme yang didorong secara berlebihan hingga memecah masyarakat dan menghancurkan rasa kebersamaan. Demikian pula Political Correctness, dengan relativisme budaya dan moralnya yang ekstrem. Nihilisme pada dasarnya adalah pandangan bahwa “apa pun boleh dilakukan”, sampai pada saat mereka yang berhasil meraih kekuasaan mulai memaksakan aturan-aturan sewenang-wenang mereka sendiri untuk menggantikan moralitas lama (kebenaran adalah apa pun yang dikatakan Partai sebagai kebenaran). Karena itu, nihilisme merupakan bentuk baru dari otoritarianisme, bahkan jauh lebih berbahaya daripada bentuk lamanya, sebab ia menyamar sebagai sesuatu yang anti-otoritarian dan membebaskan.

Kaum anarkis keliru jika terus menyerang otoritarianisme seolah-olah tidak ada yang berubah dalam seratus tahun. Ancaman yang sebenarnya justru terletak pada bentuk barunya yang nihilistis. Cara terbaik untuk melawan nihilisme adalah melalui etika anarkis. Kaum anarkis yang sejati tidak pernah percaya pada prinsip “apa pun boleh”. Di sinilah terdapat jalan untuk menjangkau masyarakat umum. Kebanyakan orang sangat prihatin terhadap berkembangnya nihilisme pada masa kini, dan sebagai respons mereka mulai kembali, setidaknya sebagian, kepada apa yang disebut sebagai “moralitas tradisional”. Hal ini tidak seharusnya mengejutkan ataupun menggelisahkan kaum anarkis. Sebab konservatisme dan anarkisme memiliki satu kesamaan penting: keduanya menghadapi amoralitas dengan sikap etis yang tegas. Selain itu, tidak selalu terdapat perbedaan yang sangat besar mengenai nilai-nilai etis apa yang dianggap baik dan layak dipertahankan. Kaum konservatif menekankan pentingnya keluarga dan komunitas, serta nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, tanggung jawab, dan kemandirian. Kaum sindikalis Prancis pada pergantian abad ke-20 membenci kapitalisme karena mereka menganggapnya merusak keluarga dan komunitas. [10] Nilai-nilai yang mereka tekankan adalah hidup sederhana, penghematan, pendidikan yang luas, dan mutual aid.

Kaum nihilis mungkin akan mencap para anarkis semacam itu sebagai reaksioner. [11] Namun nilai-nilai tersebut justru merupakan sebagian dari fondasi yang memungkinkan suatu masyarakat dapat bertahan dan berfungsi. Tanpa nilai-nilai itu, yang tersisa hanyalah keadaan di mana setiap orang memangsa satu sama lain, sebuah dunia yang dapat diringkas dengan ungkapan: anjing memakan anjing.


KEMBALI KEPADA RAKYAT

Ketika anarkisme menjadi gerakan massa sekitar 75 hingga 100 tahun yang lalu, ia berbicara dengan bahasa para perajin, petani, dan buruh industri, serta membenamkan dirinya dalam perjuangan dan persoalan yang mereka hadapi. Meskipun anarkisme berbicara atas nama mayoritas masyarakat, ia juga mendorong mereka untuk melampaui chauvinisme, korporatisme, dan berbagai praktik pemecah belah lainnya, sekaligus membela kelompok-kelompok minoritas. Namun isu-isu tersebut bukanlah satu-satunya isi propaganda mereka. Pada dasarnya, para militan anarkis lebih banyak memusatkan perhatian pada kebutuhan dan keinginan rakyat kebanyakan.

Kini keadaannya sangat berbeda. Kaum kiri berusaha memaksakan suatu ideologi kepada rakyat dan memberitahu mereka apa yang harus dipercaya, alih-alih mendengarkan apa yang mereka pikirkan. Alih-alih menjadi sarana bagi rakyat untuk menyuarakan kepentingannya, kaum kiri justru bertindak sebagai juru bicara bagi beragam birokrat kecil yang mengklaim mewakili kaum minoritas, kaum miskin, dan para pekerja. Setiap kali salah satu birokrasi tersebut dikritik, apa pun alasannya, kaum kiri segera melancarkan tuduhan histeris berupa “rasisme”, “menyalahkan korban”, “anti-pekerja”, “seksisme”, dan sebagainya. Sayangnya, sebagian anarkis ikut terbawa arus ini.

Sudah saatnya kembali kepada tradisi lama anarkisme. Sudah saatnya meninggalkan pandangan elitis yang menganggap rakyat sebagai musuh, lalu duduk bersama mereka dan mendengarkan apa yang mereka katakan.

Sebenarnya tidak sulit mendengar apa yang mereka teriakkan. Apakah saya benar-benar perlu menjelaskan apa yang menjadi kegelisahan mereka?


HAL-HAL YANG MEMBUAT ORANG MUAK

  • Pajak—Seorang pekerja rata-rata menyerahkan sekitar 40 persen pendapatannya dalam bentuk pajak. Bahkan seseorang yang hanya menerima upah minimum tetap memberikan sekitar satu hari kerja setiap minggu kepada pemerintah.
  • Ketidakefisienan Pemerintah— Pajak terus meningkat dan negara terus membesar, tetapi program-program pemerintah tidak menyelesaikan masalah. Jumlah orang miskin bertambah, antrean di rumah sakit semakin panjang, dan banyak layanan publik tidak berjalan sebagaimana mestinya.
  • Regulasi Berlebihan dan Birokrasi—Hampir segala sesuatu memerlukan izin atau lisensi. Segala hal diatur melampaui batas kewajaran. Cobalah membangun rumah sendiri, maka Anda akan melihat betapa banyak peraturan dan ketentuan yang menambah biaya harus dipatuhi.
  • Rekayasa Sosial—Kelompok kecil yang memerintah memaksakan reformasi moral kepada masyarakat yang sebenarnya tidak memintanya. Contohnya adalah sistem kuota dalam bidang ketenagakerjaan.
  • Sentralisasi—Tingkat pemerintahan yang lebih tinggi mendominasi tingkat yang lebih rendah dan membuat keputusan yang sering kali merugikan warga biasa.
  • Pekerjaan—Kurangnya pekerjaan dengan upah yang layak, minimnya kesempatan kerja bagi kaum miskin, tidak adanya kepastian kerja, serta cara pengelolaan tempat kerja yang tidak demokratis.
  • Kemunduran Sosial—Sekolah yang gagal mendidik, runtuhnya keluarga, meningkatnya kejahatan, serta melemahnya rasa tanggung jawab dan penghormatan terhadap individu.
  • Politikus dan Figur Otoritas Lainnya—Mereka dipandang sebagai sosok yang hanya mementingkan diri sendiri, tidak jujur, dan penuh kemunafikan.


APA ARTI ANARKISME DALAM PRAKTIK?

Ada sejumlah prinsip yang menjadi bagian tak terpisahkan dari anarkisme dan saling melengkapi satu sama lain. Tujuh prinsip berikut juga membentuk dasar etika anarkis.

  1. Individualisme—Individu adalah unit sosial yang paling mendasar. Tidak ada ciptaan manusia yang boleh ditempatkan di atas individu, kecuali sejauh individu itu sendiri secara sukarela memberinya kewenangan. Karena itu, tingkat paksaan dalam masyarakat harus ditekan seminimal mungkin.
  2. Mutual Aid—Individu atau komunitas tempat mereka berada bekerja sama untuk saling membantu dalam melakukan hal-hal yang tidak dapat mereka capai sendirian.
  3. Pertukaran—Melalui rasa keadilan yang alami, atau melalui kontrak dan kesepakatan yang dibuat secara sukarela, individu maupun kelompok saling bertukar barang dan jasa secara bebas, baik secara formal maupun informal.
  4. Desentralisme—Kekuasaan politik dan ekonomi dipecah menjadi unit-unit yang sesuai dengan skala kehidupan manusia, seperti bengkel kerja, keluarga, desa, lingkungan, kabupaten, atau wilayah.
  5. Otonomi—Individu dan kelompok harus dibuat semandiri mungkin. Hal ini juga menuntut tingkat tanggung jawab pribadi dan tanggung jawab sosial yang sangat tinggi.
  6. Pengelolaan Mandiri—Setiap unit sosial dikelola secara demokratis oleh para anggotanya sendiri.
  7. Federalisme—Unit-unit yang terdesentralisasi bersatu berdasarkan kebutuhan bersama. Dalam sebuah federasi yang sejati, kekuasaan selalu mengalir dari bawah ke atas, bukan dari atas ke bawah.


MENUJU ANARKISME TANPA TANDA HUBUNG

Bahkan jika Anda hanya membaca buku paling sederhana tentang anarkisme, Anda akan segera menemukan bahwa ada banyak bentuk anarkisme: anarko-komunisme, anarkisme individualis, anarko-sindikalisme, anarkisme pasar bebas, anarko-feminisme, dan anarkisme hijau. Pembagian ini muncul karena orang-orang cenderung mengambil sistem ekonomi favorit mereka, atau mengembangkan anarkisme berdasarkan apa yang mereka anggap sebagai perjuangan sosial yang paling penting, lalu menghubungkannya dengan anarkisme. Di satu sisi, memang bagus mereka membuat hubungan-hubungan seperti itu. Namun di sisi lain, semua itu tampak tidak perlu dan dapat menimbulkan masalah yang serius. Anarkisme sebagai teori kebebasan sejak awal telah menentang dominasi terhadap perempuan. Melalui konsep pertukaran dan tanggung jawab, anarkisme juga memiliki dimensi ekologis. Anarkisme tidak menentang pertukaran bebas ataupun komunisme sukarela, dan sejak lama mendukung pengorganisasian diri para pekerja. Karena itu, sebenarnya tidak perlu menambahkan embel-embel apa pun pada kata anarkisme. Anarkisme sudah mencakup semuanya.

Namun penambahan label-label tersebut mengandung bahaya. Suka atau tidak, setiap orang, tanpa pengecualian, pada suatu saat akan berkompromi, mengubah, atau melunakkan keyakinannya. Yang penting adalah pada titik mana kompromi itu dilakukan. Apakah yang dikorbankan adalah anarkismenya, atau justru unsur lain yang menyertainya? Anda dapat yakin bahwa sebagian besar anarkis yang memakai label tambahan akan lebih mudah melepaskan sisi libertarian dari label tersebut. Sejarah menyediakan banyak contoh mengenai hal ini. Segera setelah Revolusi Bolshevik, ribuan anarko-komunis dan anarko-sindikalis bergabung ke dalam Partai Komunis. Banyak anarko-feminis kemudian mendukung praktik sensor. Sebagian anarkis lingkungan bahkan merasa nyaman mendukung intervensi negara yang kuat. Sementara itu, sejumlah libertarian pasar bebas menjadikan Margaret Thatcher atau Ronald Reagan sebagai sosok yang dipuja. Satu-satunya cara untuk menghindari kompromi-kompromi semacam ini adalah dengan menghapus tanda hubung itu dan menekankan anarkisme itu sendiri.


APA YANG HARUS DILAKUKAN

Hal pertama yang harus dilakukan adalah bahwa kaum anarkis harus benar-benar menjadi libertarian. Sisa-sisa kecenderungan kiri yang otoritarian harus ditinggalkan. Kita juga harus menyadari bahwa menjadi seorang anarkis bukan sekadar mengadopsi retorika dan ideologi anti-otoritarian. Menjadi anarkis berarti melakukan transformasi kepribadian: menolak sifat-sifat otoritarian dalam diri sendiri dan menggantinya dengan sifat-sifat libertarian. Selama seseorang masih bersikap elitis, ia hanyalah anarkis di permukaan.

Hal yang sama berlaku bagi anarkis yang tidak toleran terhadap orang lain dan pandangan mereka. Dan seorang anarkis yang gemar berbohong atau memfitnah kelompok maupun individu lain hanyalah seorang fasis yang menyamar dengan buruk. Terlalu banyak orang tertarik kepada anarkisme karena kesalahpahaman bahwa anarki berarti dapat melakukan apa saja sesuka hati. Mereka melupakan bahwa kebebasan selalu memiliki harga. Dan harga itu terlalu berat bagi mereka yang belum dewasa atau masih memiliki watak otoritarian. Harga tersebut adalah tanggung jawab. Seorang anarkis sejati dengan senang hati memikul tanggung jawab itu, karena di sanalah letak hubungan kita dengan sesama manusia. Bahkan, tanggung jawab itulah yang membantu menjadikan kita manusia. Hubungan kita dengan orang lain seharusnya tidak didasarkan pada dominasi ataupun parasitisme. Dasar dari kebebasan adalah pertukaran. Dan pertukaran merupakan fondasi dari seluruh gagasan tentang keadilan, solidaritas, dan otonomi. Tanpanya, masyarakat tidak mungkin dapat bertahan. 

Anarkisme personal inilah yang harus menjadi landasan utama tempat gerakan dibangun. Saat ini, ukuran seseorang disebut anarkis sering kali hanyalah kemampuannya mengucapkan hal-hal yang dianggap benar mengenai isu tertentu. “Garis partai” semacam itu dapat dipelajari hanya dalam beberapa hari. Tanda lain dari seorang “super-anarkis militan” adalah kemampuan memanaskan retorika atau terus-menerus berbicara tentang kekerasan. Siapa pun dapat melakukan itu, bahkan orang yang sangat bodoh sekalipun (terutama orang yang bodoh). Ada pula mereka yang dianggap anarkis karena mampu mengutip “kitab suci” anarkisme pada setiap kesempatan. Memang dibutuhkan waktu lebih lama untuk mempelajari kutipan-kutipan itu daripada sekadar menghafal “garis partai” anarkis. Tetapi setiap pedant yang gemar pamer pengetahuan juga mampu melakukannya.

Perubahan pribadi jauh lebih sulit daripada semua formalitas dangkal tersebut. Karena itu, ketika seseorang berkata, “Saya seorang anarkis”, atau “Saya ingin bergabung dengan kelompok kalian”, hal pertama yang harus dicari adalah anarkisme personalnya. Itulah hal yang paling penting. Menegaskan perlunya anarkisme personal bukan berarti perubahan semacam itu mudah dicapai, ataupun bahwa kita harus menunggu sampai semua orang sehat secara emosional sebelum bertindak. Sebaliknya, kita perlu menyadari pentingnya perubahan tersebut dan secara sadar berusaha mewujudkannya. Untuk menegaskan kembali gagasan ini, berikut adalah beberapa sifat yang perlu kita kembangkan:

  1. Toleransi. 
  2. Kepercayaan kepada orang biasa. 
  3. Sikap skeptis, bukan hanya terhadap pandangan kaum elite, tetapi juga terhadap semua ideologi, termasuk ideologi yang kita anut sendiri.
  4. Kejujuran, bahkan ketika kejujuran itu terasa menyakitkan.
  5. Tanggung jawab.


AKTIVITAS INDIVIDU DAN KELOMPOK KECIL

Inilah bidang di mana kaum anarkis sejauh ini meraih keberhasilan terbesar. Cukup melihat berbagai proyek penelitian individu, toko buku, jurnal, stasiun radio (baik legal maupun bajakan), serta komite-komite aksi. Namun demikian, masih banyak ruang untuk pengembangan dan lahirnya gagasan-gagasan baru.

Komunikasi

Akan selalu ada kebutuhan akan jurnal-jurnal anarkis yang secara khusus ditujukan kepada mereka yang telah berkomitmen pada gagasan tersebut. Namun, itu saja tidak cukup. Ketika anarkisme berada pada puncak popularitasnya, gerakan ini memiliki pers yang berbicara dengan bahasa para pekerja dan perajin serta membahas persoalan yang mereka hadapi sehari-hari. Saat ini, banyak jurnal yang mengaku anarkis justru menggunakan jargon kiri yang sulit dipahami dan lebih banyak membahas kepentingan para penulis maupun editornya sendiri. Pada akhir dekade 1970-an, kaum anarkis mulai menerbitkan lembar berita mingguan atau dua mingguan yang dibagikan secara gratis. Pada dasarnya, ini adalah gagasan yang baik dan layak dipertimbangkan kembali. Namun, lembar-lembar berita tersebut terlalu tenggelam dalam budaya tandingan kiri (counter-culture) dan nyaris mengabaikan masyarakat luas.

Salah satu cara menjangkau publik adalah melalui surat kabar mingguan dan media komunitas yang sudah ada. Media semacam itu selalu membutuhkan materi baru. Jika ditulis dengan baik, artikel maupun ulasan buku yang memuat gagasan-gagasan libertarian dapat memperoleh perhatian yang jauh lebih besar dibandingkan majalah anarkis mana pun. Di beberapa wilayah bahkan tidak terdapat surat kabar komunitas. Kondisi ini membuka peluang bagi kaum anarkis yang memiliki inisiatif untuk mendirikan media komunitas mereka sendiri. Dari luar, media tersebut dapat tampak seperti surat kabar mingguan biasa, tetapi secara halus menyampaikan pesan-pesan libertarian.

Setiap kota besar biasanya memiliki media mingguan yang berfokus pada hiburan dan kebudayaan, yang sering kali dikelola oleh kalangan kiri. Jika seseorang mulai menulis artikel yang benar-benar menyentuh kebutuhan mayoritas masyarakat, publik akan memperhatikannya dan mulai mengikuti kolom atau tulisan orang tersebut. Karena itu, media semacam ini dapat menjadi saluran yang efektif. Bahkan terbuka kemungkinan untuk membangun media hiburan mingguan yang dikelola oleh kaum anarkis sendiri.

Radio kampus, radio komunitas, televisi lokal, maupun radio bajakan telah beberapa kali dimanfaatkan oleh kaum anarkis, tetapi sering kali dilakukan dengan cara yang kurang mudah diakses oleh masyarakat umum. Menyelenggarakan “Jam Anarkis” setiap minggu bukanlah solusi, demikian pula mendirikan stasiun radio yang secara eksplisit mengidentifikasi diri sebagai radio anarkis. Pendekatan semacam itu umumnya hanya menjangkau mereka yang sudah setuju sejak awal. Kebanyakan orang tidak terlalu tertarik pada ideologi; mereka lebih membutuhkan informasi yang relevan dengan kehidupan mereka. Karena itu, pendekatan yang lebih efektif adalah menghadirkan program yang tidak mudah dilabeli secara ideologis, tetapi tetap membawa perspektif anarkis dalam isi dan pendekatannya.

Perkembangan teknologi komunikasi juga tidak boleh diabaikan. Forum daring, papan buletin komputer, dan internet dengan cepat berkembang menjadi sarana komunikasi yang penting. Dalam ruang ini, perlu dibangun dua jenis wadah yang berbeda. Yang pertama adalah forum khusus anarkis untuk diskusi internal yang lebih mendalam. Yang kedua adalah forum yang lebih umum, terbuka bagi khalayak luas, tetapi tetap memiliki orientasi anarkis dalam arah pembahasannya.

Kaum anarkis juga membutuhkan lembaga kajian atau pusat pemikiran yang dapat disamakan dengan versi anarkis dari Fabian Society. Sangat mudah untuk melontarkan slogan tentang penghapusan negara atau mengajukan berbagai program politik. Namun, diperlukan pendekatan yang jauh lebih serius dan mendalam. Saat ini, hanya sedikit orang yang benar-benar berusaha menjawab persoalan-persoalan rumit yang akan muncul dalam proses mengurangi birokrasi masyarakat. Apa yang harus dilakukan terhadap ribuan mantan pegawai pemerintah? Bagaimana mengubah negara kesejahteraan (welfare) menjadi sistem mutual aid? Bagaimana cara terbaik memperkenalkan pengelolaan mandiri? Selain itu, terdapat kebutuhan mendesak akan penelitian ekonomi dan sosial yang independen, alih-alih terus bergantung pada sumber-sumber kiri yang sering dianggap tidak objektif. Kelompok semacam ini dapat dibangun secara internasional, berkorespondensi melalui internet, serta menerbitkan jurnal, pamflet, dan berbagai kajian mengenai isu-isu kontemporer. Dengan cara demikian, anarkisme tidak hanya menjadi seperangkat slogan politik, tetapi juga berkembang menjadi tradisi intelektual yang mampu menawarkan solusi konkret terhadap persoalan sosial yang kompleks.


MENGHADAPI NEGARA

Kaum anarkis harus mengorganisasi diri di tingkat lokal, baik di lingkungan tempat tinggal, desa, munisipalitas, maupun wilayah administratif setempat, dengan berfokus pada persoalan-persoalan yang secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat. Berbagai bentuk ketidakpuasan publik yang telah dibahas sebelumnya seharusnya menjadi bagian dari “program” libertarian. Di tingkat kota, konsep “munisipalisme libertarian” yang dikembangkan oleh Murray Bookchin layak untuk dipertimbangkan. Sebuah organisasi tingkat kota dapat memperjuangkan desentralisasi pemerintahan hingga ke tingkat paling bawah (lingkungan tempat tinggal) dan mendorong otonomi yang lebih besar bagi munisipalitas.

Namun, seberapa keras upaya yang dilakukan, ada satu hal yang tidak dapat diabaikan: Leviathan, yaitu negara pusat. Pada akhirnya, negara harus dihadapi secara langsung, dan hal itu hanya dapat dilakukan melalui gerakan massa berskala nasional. Ini bukan berarti terdapat pertentangan antara organisasi-organisasi lokal dan gerakan yang lebih luas. Sebaliknya, gerakan yang lebih besar harus bertumpu pada fondasi yang dibangun oleh organisasi-organisasi lokal tersebut. Gerakan ini harus berfokus pada satu isu utama, yaitu menyatukan semua orang yang memiliki keluhan terhadap negara ke dalam sebuah gerakan untuk mendesentralisasikan kekuasaan. Gerakan tersebut tidak boleh terseret ke dalam isu-isu sekunder yang berpotensi memecah belah. Persoalan-persoalan semacam itu dapat ditangani oleh kelompok-kelompok lain.

Metode yang dapat digunakan mencakup demonstrasi massal di ibu kota negara, pemogokan besar-besaran, serta pendudukan kantor-kantor pemerintahan, baik di tingkat lokal maupun nasional. Masyarakat di negara-negara bekas rezim Stalinis telah menunjukkan kemungkinan jalan semacam ini. Tirani di Polandia, Cekoslowakia, Hungaria, dan Jerman Timur runtuh hampir tanpa kekerasan. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ketika lebih dari 90% penduduk secara aktif menentang negara, hanya sedikit yang dapat dilakukan para birokrat untuk mempertahankan kekuasaan mereka. Kita sebenarnya tidak terlalu jauh dari angka 90% tersebut. Tugas utamanya adalah membangun oposisi yang aktif sekaligus non-kekerasan. Pentingnya prinsip non-kekerasan tidak dapat dilebih-lebihkan. Kekerasan hanya menguntungkan Leviathan. Dari aksi-aksi teror kaum anarkis pada abad ke-19 hingga pengeboman Oklahoma, pengalaman menunjukkan bahwa tindakan semacam itu hanya berfungsi untuk mendiskreditkan dan memecah belah gerakan revolusioner.


REVOLUSI TANPA KEKERASAN

Sebuah revolusi tanpa kekerasan dapat berkembang dengan cara berikut: Masyarakat mulai mengambil kendali di tingkat lokal, mengembangkan atau menghidupkan kembali berbagai bentuk pemerintahan mandiri, dan secara bertahap mengabaikan negara. Sejumlah politisi di tingkat nasional mulai menyadari berkembangnya sentimen anti-negara dan, baik karena keyakinan yang tulus maupun kepentingan oportunistis, mereka membantu mencegah rezim menyerang gerakan-gerakan desentralis. Mereka juga dapat mengesahkan berbagai undang-undang yang “menjinakkan” negara dan secara bertahap mengurangi kekuasaannya. Pada saat yang sama, demonstrasi yang disertai pemogokan massal berlangsung hampir setiap hari di ibu kota sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan-gerakan lokal sekaligus sebagai sarana untuk terus menekan para politisi. Hubungan dengan kaum anarkis dan para pendukung desentralisasi di negara-negara lain juga perlu dikembangkan guna memastikan munculnya gelombang protes internasional apabila negara memilih untuk menindas kebangkitan gerakan libertarian tersebut. Hasil akhirnya adalah berkembangnya institusi-institusi federal yang benar-benar nyata, yang berakar pada otonomi lokal dan kerja sama sukarela, bukan sekadar menjadi perpanjangan tangan negara pusat.


BEBERAPA USULAN PROGRAMATIK

1. Sistem Pendidikan

Salah satu gagasan paling keliru yang pernah lahir dari cara berpikir otoritarian adalah mengonsolidasikan dan mensentralisasikan sistem pendidikan. Tidak mengherankan jika angka putus sekolah tinggi, keterasingan sosial meluas, dan kenakalan remaja berkembang di sekolah-sekolah raksasa yang beroperasi layaknya pabrik. Sekolah perlu dikembalikan ke skala yang lebih manusiawi. Salah satu alternatif yang dapat dipertimbangkan adalah sistem voucher, yang memungkinkan orang tua menggunakan bagian mereka dari pajak pendidikan sebagai biaya untuk menyekolahkan anak-anak mereka di lembaga yang mereka pilih sendiri. Sistem ini juga memungkinkan para orang tua dan guru mendirikan sekolah yang dikelola serta didanai secara mandiri. Departemen pendidikan di tingkat provinsi, negara bagian, maupun federal harus dihapuskan karena dianggap hanya menghabiskan anggaran dan menjadi sumber berbagai kebijakan yang keliru, seperti konsolidasi sekolah.

Alternatif lainnya adalah mempertahankan sistem sekolah negeri, tetapi mengembalikannya ke tangan komunitas lokal. Pendidikan dasar dan menengah sepenuhnya menjadi tanggung jawab desa-desa dan komunitas setempat. Tidak ada sekolah yang seharusnya memiliki lebih dari 250 hingga 300 murid, dan para siswa seharusnya dapat berjalan kaki menuju sekolah mereka.

2. Perumahan

Pada tahun 1950-an, seseorang yang miskin masih dapat membeli sebidang tanah murah di luar kota dan mendirikan gubuk sederhana dari kayu lapis. Uang yang dihemat dari biaya sewa atau cicilan rumah kemudian digunakan untuk membeli bahan bangunan hingga pada akhirnya rumah yang layak dapat dibangun secara bertahap. Ketika melakukan perjalanan di Prancis beberapa tahun lalu, saya melihat rumah-rumah di kawasan pinggiran yang diiklankan dengan luas hanya sekitar 400 kaki persegi. Karena ukurannya yang kecil, harganya cukup terjangkau bagi hampir semua orang kecuali mereka yang benar-benar hidup dalam kemiskinan ekstrem. Kedua alternatif tersebut pada dasarnya tidak mungkin diwujudkan di Amerika Utara karena bertentangan dengan peraturan daerah setempat. Peraturan-peraturan semacam itu merupakan hambatan terbesar yang menghalangi kaum miskin untuk memiliki rumah mereka sendiri. Sebagai gantinya, negara menawarkan perumahan bersubsidi atau perumahan milik negara, yang biayanya sangat mahal dan jumlahnya tidak pernah mencukupi kebutuhan. Solusi yang diajukan adalah mencabut kewenangan pemerintah untuk mengatur pembangunan rumah, kecuali dalam hal keselamatan bangunan, pencegahan kebakaran, kesehatan, dan perlindungan lingkungan (dalam hal ini, peraturannya harus tetap masuk akal). Masyarakat juga dapat membentuk koperasi pembangunan perumahan untuk membeli lahan, memperoleh bahan bangunan secara kolektif, dan saling membantu dalam proses pembangunan. 

3. Reformasi Agraria

Pemerintah (di tingkat negara bagian, provinsi, maupun federal) merupakan pemilik tanah terbesar. Sebagian besar tanah tersebut dibatasi untuk permukiman atau penjualan, yang secara artifisial menaikkan harga properti dan membuat kaum miskin semakin sulit memiliki rumah sendiri (hal ini terutama berlaku di wilayah Barat). Sebaliknya, para birokrat negara sering memberikan atau menyewakan tanah dengan harga yang sangat murah kepada para kroni mereka untuk pembangunan jalur kereta api, pertambangan, bendungan, atau operasi penebangan kayu. Kepemilikan atas lahan yang begitu luas secara alami memberikan negara keunggulan besar atas komunitas-komunitas lokal. Seluruh tanah milik negara seharusnya segera diserahkan kepada munisipalitas, desa, atau wilayah administratif setempat. Penyerahan tersebut harus disertai dengan ketentuan-ketentuan perlindungan lingkungan. Untuk mencegah kemungkinan korupsi di tingkat lokal, setiap penjualan atau penyewaan tanah milik komunitas harus diawasi oleh dewan yang dipilih secara demokratis, sementara setiap pengalihan lahan dalam skala besar harus disetujui melalui referendum dengan dukungan minimal dua pertiga suara. Ini juga dapat menjadi cara untuk menyelesaikan tuntutan hak atas tanah masyarakat adat, yaitu dengan menyerahkan tanah-tanah milik pemerintah yang berada di sekitar komunitas adat kepada mereka.

4. Layanan Kesehatan

Kita sering mendengar tentang krisis layanan kesehatan. Katanya, dana yang tersedia tidak pernah cukup. Tidak mengherankan jika hal itu terjadi pada lembaga yang dikelola negara. Enam puluh tahun lalu, sebagian besar penduduk Britania Raya tercakup dalam sistem asuransi rumah sakit yang dibentuk oleh serikat-serikat buruh dan berbagai organisasi nirlaba lainnya. Di Prancis modern, layanan kesehatan sebagian besar berada di tangan lembaga mutual aid yang bersifat nirlaba dan dikelola secara demokratis. Salah satu faktor yang membantu menekan biaya dalam lembaga-lembaga tersebut (selain karena mereka lebih efisien daripada pemerintah) adalah bahwa para dokter bekerja sebagai pegawai tetap, bukan dibayar berdasarkan jumlah kunjungan pasien. Layanan kesehatan seharusnya diserahkan kepada lembaga-lembaga mutual aid, sementara bagi mereka yang terlalu miskin untuk membayar iuran, negara cukup membayarkan biaya keanggotaan kepada lembaga pilihan mereka. Rumah sakit seharusnya dimiliki, dikelola, dan didanai secara langsung oleh lembaga mutual aid atau oleh komunitas setempat. Situasi di mana negara dapat memerintahkan sebuah rumah sakit komunitas untuk ditutup tidak boleh lagi terjadi.

5. Asuransi Pengangguran

Dahulu serikat-serikat buruh memiliki sistem asuransi pengangguran mereka sendiri. Bahkan, inilah salah satu alasan utama mengapa serikat buruh dibentuk. Memang, pengambilalihan oleh pemerintah memperluas cakupan perlindungan hingga mencakup mereka yang bukan anggota serikat. Namun, seperti yang sering terjadi, sistem tersebut pada akhirnya mengalami krisis. Asuransi pengangguran harus diambil dari tangan negara dan diserahkan kepada mereka yang benar-benar menggunakan dana tersebut. Tidak ada alasan mengapa koperasi asuransi yang dijalankan dengan prinsip-prinsip "serikat kredit" (credit union) tidak dapat dibentuk. Para pekerja seharusnya membayar seluruh iuran mereka sendiri agar tidak perlu melibatkan pemberi kerja dalam pengelolaan dana tersebut (dan dengan demikian menghindari munculnya konflik kepentingan). Sekilas hal ini mungkin tampak memberatkan, tetapi itu tidak akan menjadi masalah apabila seluruh iuran tersebut dapat dikurangkan dari pajak secara penuh (100% tax deductible).

6. Dana Pensiun

Orang-orang yang mencetuskan konsolidasi sekolah tampaknya juga merupakan pihak yang merancang skema pensiun pemerintah. Alih-alih mengambil potongan gaji untuk dana pensiun dan menginvestasikannya (sebagaimana akan dilakukan oleh siapa pun yang memiliki sedikit akal sehat), pemerintah federal justru menghabiskan uang tersebut. Akibatnya, dana pensiun harus dibayar dari pendapatan umum negara. Ketika generasi baby boomers memasuki masa pensiun, negara tidak akan mampu memenuhi kewajibannya. Solusinya adalah menghapus sistem pensiun yang ada saat ini, dengan tetap mempertahankan hak mereka yang sudah menerima pensiun atau yang telah mendekati usia pensiun. Setiap orang lainnya harus menerima bagian dari dana yang telah mereka bayarkan sebelumnya untuk kemudian ditempatkan dalam dana pensiun pilihan mereka sendiri. Seluruh pekerja diwajibkan menyisihkan minimal 10 persen dan maksimal 20 persen dari pendapatan mereka ke dalam dana pensiun, dengan seluruh kontribusi tersebut dapat dikurangkan dari pajak (100% tax deductible). Para pekerja yang terlalu miskin untuk memenuhi kontribusi minimum dapat menerima bantuan untuk melakukan pembayaran tersebut. Idealnya, dana-dana pensiun dikelola secara demokratis seperti serikat kredit (credit union), sehingga para peserta memiliki suara dalam menentukan bagaimana dana mereka digunakan. Seluruh dana pensiun juga harus diasuransikan (seperti rekening bank) agar tidak ada seorang pun yang jatuh miskin apabila sebuah dana pensiun mengalami kebangkrutan. Dana pensiun memiliki keuntungan tambahan. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, dana-dana tersebut akan menjadi pemilik perusahaan-perusahaan besar, sehingga pemisahan antara pekerja dan pemilik pada akhirnya akan menghilang.

7. Megaproyek

Negara tidak boleh lagi memiliki hak untuk mendanai atau mensubsidi proyek-proyek raksasa yang mahal, boros, dan tidak berguna. Kanada dipenuhi oleh rel kereta yang tidak menuju ke mana-mana, bendungan yang mengekspor listrik di bawah biaya produksi, jembatan yang tidak diperlukan, jaringan jalan bebas hambatan yang menghancurkan kota, bandara-bandara yang berlebihan, proyek pasir minyak (Tar Sands Projects) yang tidak pernah menghasilkan setetes minyak pun, serta stadion bernilai miliaran dolar dengan atap yang dapat dibuka-tutup tetapi bahkan tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Korupsi dalam skala yang bahkan tidak pernah dibayangkan oleh para kaisar Romawi ini dapat dihentikan. Setiap pengeluaran berskala besar harus disetujui melalui referendum dengan dukungan minimal dua pertiga suara. Prinsip NIMBY (Not In My Back Yard) juga dapat diterapkan, yaitu bahwa setiap proyek pembangunan yang berpotensi memengaruhi suatu wilayah harus memperoleh persetujuan dari masyarakat yang akan terdampak (sekali lagi dengan dukungan minimal dua pertiga suara). Selain itu, hak negara untuk melakukan pengambilalihan paksa atas tanah harus dihapuskan.

8. Pengurangan Jam Kerja

Pembagian pekerjaan perlu didorong, dan para pekerja harus diberi kebebasan untuk menyepakati minggu kerja empat hari. Lapangan kerja perlu didistribusikan lebih merata sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk bekerja. Jika setiap akhir pekan menjadi akhir pekan panjang, akan terjadi peningkatan besar dalam kegiatan sukarela dan berbagai aktivitas waktu luang. Pada gilirannya, hal ini akan memberikan dorongan tambahan bagi penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi.

Jika dilihat secara terpisah, tidak satu pun dari langkah-langkah ini yang tampak sangat radikal. Semuanya pernah diusulkan oleh orang lain, dan semuanya sejalan dengan apa yang tampaknya diinginkan banyak orang. Namun, apabila kedelapan usulan ini diterapkan secara bersamaan, dampaknya akan mengubah dan merevolusi masyarakat secara menyeluruh. Sebagian besar penduduk akan memperoleh kendali yang lebih besar atas kehidupan mereka sendiri karena memiliki kemampuan untuk membatasi kekuasaan negara, birokrasi, dan perusahaan-perusahaan besar.


Catatan Kaki:

[1] “Libertarianisme tradisional”, yakni tradisi anarkis Eropa dari Pierre-Joseph Proudhon hingga Colin Ward, individualisme Amerika yang dicontohkan oleh Josiah Warren dan Benjamin Tucker, serta sindikalisme, memandang penghapusan negara sebagai tujuan akhir. Sebagian besar libertarianisme modern yang disebut sebagai “sayap kanan” sebenarnya merupakan bentuk liberalisme negara terbatas.

[2] Pentingnya tokoh-tokoh seperti Sam Dolgoff, Murray Bookchin, Dorothy Day, Paul Goodman, George Woodcock, dan Art Bartell tidak boleh diremehkan. Mereka memberikan pengaruh positif terhadap kemunculan Kiri Baru dan neo-anarkisme pada masa awal perkembangannya.

[3] Tidak diragukan lagi bahwa akan ada yang menuduh saya ingin mengabaikan kelompok-kelompok minoritas. Dalam bahasa yang lugas, hal itu bukan yang saya maksud. Persoalannya bukan terletak pada keterlibatan dalam berbagai perjuangan mereka, melainkan pada kecenderungan untuk sepenuhnya mengabaikan mayoritas populasi. Selain itu, ada masalah lain, yaitu kecenderungan memandang kelompok minoritas secara reduksionis. Apakah seorang akademisi kulit hitam bergelar doktor memiliki lebih banyak kesamaan dengan masyarakat miskin di ghetto, atau dengan orang-orang berpendidikan tinggi lainnya, terlepas dari ras mereka? Faktor-faktor seperti kelas sosial, pendidikan, pendapatan, budaya, dan ideologi sering kali jauh lebih menentukan daripada ikatan keturunan semata.

[4] Seperti Black Flag dan Open Road.

[5] Untuk kritik yang lebih mendalam terhadap political correctness (PC), lihat Laughter Is Bourgeois.

[6] Jika negara adalah musuh dan sumber ketimpangan kapitalis (sebagaimana pandangan tradisional anarkis), lalu apa sebenarnya “kiri” selain bagian dari musuh tersebut? Namun demikian, tidak perlu diragukan bahwa sebagian besar kaum kiri adalah orang-orang yang tulus dan sungguh-sungguh ingin membantu kaum miskin dan tertindas. Persoalannya adalah mereka tidak dapat membayangkan cara lain untuk melakukannya selain melalui pemerintah.

[7] Saya tidak menyukai penggunaan istilah “korporatisme” untuk menyebut negara demokratis karena istilah tersebut sebenarnya lebih tepat digunakan untuk menggambarkan fasisme. Namun, jika dilepaskan dari konotasi “kemeja hitam”-nya, istilah itu tetap mengandung unsur kebenaran. Pada tahun 1970-an, kelompok kiri radikal sering menggunakan istilah tersebut untuk menyebut demokrasi sosial sebagai cara untuk menyiratkan bahwa sistem itu bersifat fasis (sementara Stalinisme tentu saja dianggap tidak demikian). Ironisnya, orang-orang yang sama sekarang berada di garis depan dalam membela “korporatisme”, dengan tingkat histeria yang sama seperti yang dahulu mereka gunakan untuk menyerang kaum kiri moderat. Hal itu hanya menunjukkan betapa munafik dan tidak konsistennya mereka.

[8] Keadaannya tidak selalu seperti itu. Pada abad ke-19, sebagian besar kaum sosialis (termasuk Karl Marx) menginginkan perekonomian yang didasarkan pada koperasi-koperasi pekerja. Sekitar seratus tahun yang lalu, orientasi tersebut mulai bergeser ke arah kepemilikan negara. Orang-orang kontemporer yang menyebut diri mereka “anarkis kiri” pada dasarnya sedang merujuk kembali pada periode yang lebih awal itu, yakni masa ketika gerakan kiri anti-negara dalam skala massa masih ada.

[9] Negara kesejahteraan (welfare), meskipun jelas lebih baik daripada kelaparan, pada kenyataannya merupakan bentuk penindasan yang baru. Secara tradisional, kaum anarkis lebih mendukung kesempatan kerja penuh melalui pembagian kerja dan penyelenggaraan jaminan sosial melalui sistem mutual aid sebagai alternatif yang lebih manusiawi daripada sekadar menggantungkan orang pada tunjangan sosial. Selain itu, tidak ada sosialis abad ke-19 yang mendukung gagasan membayar orang-orang yang mampu bekerja agar tidak bekerja. Mereka akan merasa ngeri terhadap gagasan semacam itu. Yang mereka perjuangkan adalah pengurangan jam kerja secara bertahap dan tersedianya pekerjaan bagi semua orang yang mampu bekerja.

[10] “Keluarga” tidak harus berarti patriarki. Sebagian besar kaum kiri dan anarkis menolak institusi keluarga karena mengaitkannya dengan bentuk keluarga patriarkal yang otoriter. Namun, dalam melakukannya, mereka justru membuang hal yang berharga bersama dengan hal yang bermasalah.

[11] Saya masih ingat, dua puluh lima tahun yang lalu, bagaimana para anggota tua Industrial Workers of the World (Wobblies) dan para anarko-sindikalis Spanyol tampak begitu puritan dibandingkan dengan kaum kiri hippie. Padahal, sebenarnya ada banyak hal yang bisa kami pelajari dari mereka.


Diterjemahkan dari: https://theanarchistlibrary.org/library/larry-gambone-sane-anarchy

Sabtu, 30 Mei 2026

Tuhan atau Kebebasan?

Penulis: Mikhail Bakunin

Sering kali dituduhkan bahwa kami adalah musuh kebebasan berbicara karena kami menentang segala gagasan keagamaan. Namun tuduhan itu sama sekali tidak benar. Kami adalah musuh yang konsisten dan berprinsip terhadap setiap bentuk otoritas, terhadap setiap kekuasaan yang memerintah. Kami juga menentang gagasan otoriter tentang negara, dan kami tidak akan pernah mengakui suatu tatanan sosial yang tidak didasarkan pada kebebasan seluruh umat manusia.

Kami begitu mencintai kebebasan sehingga kami menghormati pandangan dan pendapat setiap orang, bahkan ketika pandangan itu secara langsung bertentangan dengan pandangan kami. Bukankah salah seorang pembicara dari mimbar ini baru saja menyatakan bahwa Kekristenan adalah dasar dari seluruh moralitas? Kami telah mendengarkannya tanpa menyela, dan kini kami menuntut toleransi yang sama untuk menyatakan keyakinan kami yang terdalam: bahwa bukan hanya Kekristenan, melainkan juga semua agama lainnya, apa pun nama yang mereka sandang, merupakan pertentangan langsung terhadap moralitas manusia.

Kami tidak menentang agama karena kehendak sesaat atau kebencian yang membabi buta. Tidak! Kami menentangnya atas nama moralitas, keadilan, dan kemanusiaan. Kami yakin bahwa prinsip-prinsip tersebut tidak akan pernah terwujud sepenuhnya selama umat manusia masih berada di bawah pengaruh utopia religius dan takhayul keagamaan.

Gagasan yang mendalam dan benar ini bahwa agama dalam keseluruhannya merupakan musuh bagi moralitas, martabat, dan keadilan manusia, bukanlah pertama kali dikemukakan oleh kami. Para pemikir besar abad yang lalu telah lebih dahulu mengembangkannya. Gagasan itu telah mengilhami jiwa-jiwa paling mulia, para pahlawan dan martir Renaisans, tokoh-tokoh seperti Giordano Bruno, Vanini, dan Servetus, yang dibiarkan dibakar hidup-hidup di Jenewa oleh Calvin, serta banyak lainnya yang melihat cahaya semangat Yunani kuno di tengah kegelapan Kekristenan. Merekalah yang mengibarkan panji kebebasan dan kemanusiaan di atas setiap menara benteng yang runtuh dari gagasan tentang Tuhan dan despotisme.

Pagi ini saya menemukan di atas meja ruang depan sebuah prospektus yang mengundang para delegasi untuk berlangganan sebuah buku yang ditulis menentang para paus. Moto buku tersebut diambil dari kata-kata Ulrich von Hutten: “Jika umat manusia ingin merdeka, pertama-tama ia harus mematahkan rantai tirani kepausan dan membebaskan dirinya dari kuk berat yang telah diletakkan para biarawan dan imam yang korup di atas pundaknya.” Lalu siapakah Ulrich von Hutten, tokoh besar Reformasi itu? Apakah ia menghancurkan belenggu Gereja Katolik hanya untuk tunduk kepada tirani Protestan yang saleh dari Luther, Calvin, atau Melanchthon? Tidak. Hutten adalah seorang ateis, sahabat sekaligus murid para ateis di Florence, tempat ia berkenalan dengan ajaran luhur kaum humanis.

Pahlawan besar pemikiran bebas ini, bersama seluruh pembebas besar umat manusia lainnya yang dikejar, dipenjarakan, disiksa, dibakar hidup-hidup, atau dibunuh dengan berbagai cara oleh para algojo kekuasaan, memang tumbang di bawah tirani raja dan imam, gereja dan negara. Namun gagasan-gagasan mereka tidak ikut binasa. Gagasan-gagasan itu menyamar dalam berbagai bentuk dan muncul kembali dengan berbagai nama. Mereka mempersiapkan karya besar kaum humanis pada abad ke-16, dan tanpa diragukan lagi Erasmus dari Rotterdam yang terpelajar dan bijaksana merupakan wakil mereka yang paling menonjol.

Pada abad ke-17, arus pemikiran ini memperoleh kekuatan yang jauh lebih besar melalui perkembangan ilmu pengetahuan alam. Galileo, Kepler, Newton, Gassendi, dan Bacon, yang dapat disebut sebagai perintis positivisme modern, membangun ilmu pengetahuan di atas landasan realitas. Landasan inilah yang membunyikan lonceng kematian bagi seluruh ajaran metafisika, dan dengan demikian juga bagi agama. Dari pertemuan kedua arus besar inilah lahir filsafat Prancis yang agung pada abad ke-18.

Abad 18 yang agung ini, yang melahirkan kita semua dan yang hingga kini masih mengilhami kita dengan gagasan-gagasannya yang perkasa, pada hakikatnya adalah abad yang paling manusiawi sekaligus paling ateistis. Abad ini mengakui manusia dan menolak Tuhan. Para pemikir besarnya memahami bahwa jika umat manusia sungguh ingin membebaskan dirinya, mematahkan rantai-rantai yang membelenggunya, serta meraih kebahagiaan, martabat, dan kebebasan, maka pertama-tama ia harus menghancurkan setiap utopia keagamaan dan seluruh konsep teologis maupun metafisis yang telah menjadi alat sekaligus pembenaran bagi segala upaya para tiran untuk memperbudak, merusak moral, dan mengeksploitasi umat manusia sepanjang sejarah. Para filsuf abad 18 lebih beruntung daripada para pemikir besar Renaisans. Zaman telah siap bagi mereka, dan propaganda mereka yang kuat serta penuh semangat melahirkan revolusi besar.

Haruskah saya menguraikan di sini sebab-sebab yang menghalangi revolusi besar itu mewujudkan seluruh harapannya? Itu akan membawa kita terlalu jauh. Cukuplah saya katakan bahwa doktrin-doktrin keagamaan Jean-Jacques Rousseau menjadi penghalang bagi kesatuan intelektual abad ke 18. Doktrin-doktrin itu juga didukung oleh teisme Voltaire yang tidak konsisten, picik, dan kasar, yang beranggapan bahwa agama mutlak diperlukan bagi rakyat, bagi “para bajingan”.

Saya hanya akan menambahkan bahwa selama Revolusi, doktrin ini mempersatukan pemujaan abstrak terhadap Tuhan dengan pemujaan abstrak terhadap Negara. Kedua arus metafisis ini, yang menjelma dalam sosok kelam Robespierre, Calvin-nya Revolusi, pada akhirnya membunuh Revolusi itu sendiri. Kemudian dimulailah masa kediktatoran Kekaisaran Prancis Pertama dan persatuannya dengan Gereja atas dasar prinsip kemanfaatan; tentu saja kemanfaatan bagi despotisme. Lalu datanglah masa Restorasi Bourbon dengan kemerosotan Katoliknya beserta para wakilnya: Chateaubriand, Lamartine, dan Schlegel. Dan akhirnya muncullah filsafat spekulatif Jerman dengan nama “eklektisisme”, yang berubah menjadi lembaga resmi negara di Prancis.

Inilah akar terdalam dari keadaan kita saat ini, suatu keadaan yang sulit untuk dilepaskan. Namun jika kita sungguh-sungguh ingin menyelamatkan diri, maka kita harus dengan terbuka dan tanpa rasa takut mengangkat kembali panji Renaisans dan Revolusi, panji yang bertuliskan: “Pemberontakan Manusia terhadap kuk Tuhan!”

Marilah kita memiliki keberanian untuk menyatakan secara terbuka dan bebas bahwa keberadaan Tuhan tidak memungkinkan terwujudnya kebahagiaan, kebebasan, martabat, dan akal budi umat manusia. Jika Tuhan ada, maka akal budi dan kehendak saya, betapapun besar kekuatannya, bukanlah apa-apa dibandingkan dengan kehendak dan akal budi Tuhan. Kebenaran saya akan menjadi kebohongan di hadapan-Nya. Kehendak saya menjadi tak berdaya. Kebebasan dan pemberontakan saya berubah menjadi dosa terhadap-Nya. Hanya ada dua kemungkinan: Dia atau saya. Jika Tuhan ada, maka sayalah yang harus lenyap. Dan jika Dia begitu baik hingga mengutus para nabi-Nya untuk menyampaikan kepada saya kebenaran-kebenaran yang tak mampu dijangkau oleh akal saya; jika Dia mengutus para imam untuk membimbing pikiran saya, yang dengan kemampuan mereka sendiri tidak sanggup membedakan yang baik dari yang buruk; jika Dia mengutus raja-raja bermahkota untuk memerintah saya, maka saya harus tunduk kepada kehendak-Nya dengan kepatuhan seorang budak.

Barang siapa menginginkan Tuhan, ia juga menginginkan perbudakan umat manusia. Pilihannya hanya dua: Tuhan dan perbudakan manusia, atau kebebasan manusia dan penghapusan setiap gagasan tentang Tuhan. Tidak ada jalan ketiga. Kalian sendirilah yang harus memilih. Kebenaran yang mendalam ini, yang begitu banyak orang takut untuk mengungkapkannya secara terbuka, bahwa keberadaan Tuhan tidak memungkinkan kebebasan dan akal budi manusia bersatu dengan moralitas individu maupun moralitas sosial umat manusia, sesungguhnya diakui oleh banyak delegasi Kongres yang, karena berbagai alasan, memilih berpihak kepada mayoritas yang kami tentang. 

Bukankah salah seorang anggota dari kelompok moderat telah dengan jelas menyatakan bahwa perkembangan ilmu-ilmu positivisme niscaya akan mengakibatkan kehancuran bertahap seluruh dogma keagamaan, dan bahwa karena itu pendidikan merupakan sarana terbaik bagi emansipasi intelektual, politik, moral, dan sosial massa rakyat? Kami pun mendukung pendidikan yang baik dan bersifat umum. Kami juga berpendapat bahwa seluruh ilmu pengetahuan serta pencapaian tertinggi pemikiran manusia harus menjadi milik intelektual rakyat. Namun agar rakyat dapat belajar, mereka pertama-tama harus memiliki waktu dan kesempatan untuk menuntut ilmu. Mereka harus mampu menghidupi anak-anak mereka selama masa pendidikan. Akan tetapi, syarat itu sendiri menuntut perubahan yang radikal terhadap struktur ekonomi masyarakat yang ada saat ini.

Dan itu belum semuanya. Para pendukung revolusi damai, semua perkumpulan pemikir bebas yang meyakini bahwa mereka dapat menghancurkan kekuatan takhayul keagamaan hanya melalui pendidikan, propaganda tertulis, dan pidato-pidato, sedang melakukan kekeliruan besar. Agama bukan semata-mata pengaburan akal budi manusia. Agama juga merupakan ungkapan yang penuh gairah dan tak henti-hentinya dari pemberontakan terhadap kenyataan hidup manusia, terhadap kemiskinan, keterbatasan, dan kesempitan hidup sehari-hari. Imajinasi manusia menciptakan sebuah dunia buatan, sebuah dunia tempat seluruh kerinduan, harapan, dan cita-cita umat manusia dihimpun. Manusia telah membuat surga semakin kaya, dan karena itu menjadikan bumi semakin miskin. Itulah yang telah dilakukan agama. Dan agama akan tetap berkuasa selama kebodohan dan ketidakadilan masih merajalela di dunia. Karena itu, marilah kita menegakkan keadilan dan memberikan kepada bumi apa yang menjadi haknya: kebahagiaan dan persaudaraan. Marilah kita menghancurkan seluruh lembaga ketidakadilan dan tirani, lalu membangun sebuah dunia yang berlandaskan persaudaraan antarmanusia; sebuah dunia tempat hak yang setara bagi semua orang bertumpu pada solidaritas timbal balik semua orang; sebuah dunia tempat kebebasan menjadi buah dari kesetaraan. 

Dalam masyarakat seperti itu, agama tidak lagi akan memiliki tempat. Namun untuk menghancurkan agama dan seluruh bayang-bayang ilahi dalam imajinasi manusia yang membuat kita tetap terbelenggu dan terperangkap dalam kemiskinan, pencerahan intelektual saja tidaklah cukup. Yang dibutuhkan adalah sebuah revolusi sosial.


Diterjemahkan dari:


Tuhan atau Pekerja?

Kalian mencemooh kami karena tidak percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, kami menuduh kalian karena percaya kepada-Nya. Kami tidak mengutuk kalian karena itu. Kami bahkan tidak mendakwa kalian. Kami mengasihani kalian. Sebab zaman ilusi telah berlalu. Kami tidak dapat lagi ditipu.

Siapakah yang kita temukan di bawah panji Tuhan? Kaisar-kaisar, raja-raja, seluruh pejabat dan penjilat kekuasaan; para tuan tanah dan kaum bangsawan; semua golongan istimewa di Eropa yang nama-namanya tercatat dalam Almanach de Gotha; para pembesar dunia industri, perdagangan, dan perbankan; para profesor bersertifikat dari universitas-universitas; para pegawai birokrasi negara; para polisi berpangkat rendah maupun tinggi; para gendarme; para sipir penjara; para algojo atau penghukum mati; tanpa melupakan para imam, yang kini menjadi polisi berjubah hitam yang memperbudak jiwa kita demi Negara; para jenderal yang agung, para pembela ketertiban umum; dan akhirnya para penulis pers bayaran. Itulah bala tentara Tuhan.

Lalu siapakah yang kita temukan di kubu seberangnya? Bala tentara pemberontak. Mereka yang dengan berani menyangkal Tuhan dan menolak setiap prinsip ilahi maupun otoriter. Mereka yang karena itu percaya kepada kemanusiaan. Mereka yang menegaskan kebebasan manusia. Kalian mencela kami karena kami adalah ateis. Kami tidak mengeluh karenanya. Kami tidak merasa perlu meminta maaf. Kami mengakuinya.

Ya, kami adalah ateis. Dengan kebanggaan yang masih dapat dimiliki oleh makhluk-makhluk rapuh yang, seperti ombak, datang lalu lenyap kembali ke dalam samudra kehidupan kolektif yang tak bertepi, kami bangga menjadi ateis. Ateisme adalah kebenaran. Atau lebih tepatnya, ia adalah dasar dari segala kebenaran. Kami tidak merendahkan diri dengan menghitung-hitung konsekuensi praktisnya. Kami menginginkan kebenaran di atas segalanya. Kebenaran untuk semua.

Kami percaya bahwa, terlepas dari segala kontradiksi yang tampak, terlepas dari kebijaksanaan politik kaum parlementer yang selalu berubah-ubah, dan terlepas dari skeptisisme zaman ini, hanya kebenaranlah yang dapat membawa kebahagiaan nyata bagi rakyat. Inilah pasal pertama dari keyakinan kami.

Tampaknya kalian tidak puas hanya dengan mencatat bahwa kami adalah ateis. Kalian segera menyimpulkan bahwa kami tidak mungkin memiliki cinta ataupun penghormatan terhadap umat manusia. Kalian mengira bahwa semua gagasan besar dan perasaan luhur yang sepanjang zaman telah membuat hati manusia berdebar kini tidak lebih dari kata-kata kosong bagi kami. Kalian membayangkan kami menyeret hidup yang menyedihkan secara membabi buta; merangkak alih-alih berjalan, sebagaimana yang ingin kalian percayai; dan karena itu kalian menganggap kami tidak mengenal perasaan apa pun selain pemuasan hasrat-hasrat yang kasar dan inderawi.

Apakah kalian ingin mengetahui betapa besar cinta kami terhadap hal-hal indah yang kalian hormati? Ketahuilah bahwa kami mencintainya sedemikian dalam sehingga kami merasa marah sekaligus muak melihat semua itu digantung jauh di luar jangkauan, di langit idealisme kalian. Kami bersedih melihatnya dirampas dari ibu pertiwi kita, lalu diubah menjadi simbol-simbol yang tak bernyawa atau menjadi janji-janji jauh yang tak pernah terwujud. Kami tidak lagi puas dengan bayang-bayang dan khayalan. Kami menginginkan semuanya dalam kenyataannya yang utuh. Inilah pasal kedua dari keyakinan kami.

Dengan melontarkan cap materialis kepada kami, kalian mengira telah berhasil memojokkan kami. Namun kalian keliru besar. Tahukah kalian dari mana kesalahan itu berasal? Apa yang kalian sebut materi dan apa yang kami sebut materi adalah dua hal yang sama sekali berbeda. Materi versi kalian adalah sebuah fiksi. Dalam hal ini ia serupa dengan Tuhan kalian, Setan kalian, dan jiwa abadi kalian. Materi versi kalian tidak lebih dari kerendahan yang kasar, kebrutalan yang tak bernyawa, dan kebendaan yang mati. Ia adalah sesuatu yang mustahil ada, sama mustahilnya dengan roh murni kalian yang disebut “tak berwujud” dan “mutlak”.

Para pemikir pertama umat manusia, mau tak mau, adalah para teolog dan metafisikawan. Akal budi manusia memang terbentuk sedemikian rupa sehingga ia bangkit secara perlahan, menembus labirin kebodohan, dan melalui berbagai kekeliruan serta kesalahan, sedikit demi sedikit mencapai secercah kebenaran. Kenyataan ini tentu tidak dapat dijadikan alasan untuk memuliakan “kejayaan masa lampau”. Namun para teolog dan metafisikawan kita, karena ketidaktahuan mereka, menganggap segala sesuatu yang tampak memiliki kekuatan, gerak, kehidupan, atau kecerdasan sebagai satu hakikat yang sama. Melalui suatu generalisasi yang serampangan, mereka menamakannya roh. Sedangkan sisa yang mereka bayangkan tertinggal setelah pemisahan awal itu, yang secara tidak sadar mereka cabut dari keseluruhan dunia nyata, mereka beri nama materi. Kemudian mereka sendiri merasa heran ketika materi tersebut, yang sesungguhnya hanya ada dalam imajinasi mereka sebagaimana roh mereka juga hanya ada dalam imajinasi, tampak begitu mati dan bodoh bila dibandingkan dengan Tuhan mereka, roh yang abadi.

Terus terang, kami tidak mengenal Tuhan semacam itu. Dan kami juga tidak mengakui materi semacam itu. Dengan kata materi dan material, yang kami maksud adalah keseluruhan segala sesuatu; seluruh tingkatan realitas yang dapat diamati, sebagaimana kita mengenalnya, mulai dari benda-benda anorganik yang paling sederhana hingga fungsi-fungsi paling rumit dari pikiran seorang jenius; mulai dari perasaan-perasaan yang paling indah hingga gagasan-gagasan yang paling luhur; mulai dari tindakan-tindakan yang paling heroik hingga pengorbanan dan pengabdian diri; mulai dari kewajiban dan hak hingga penyangkalan diri dan egoisme dalam kehidupan sosial kita. Manifestasi kehidupan organik, sifat-sifat dan kualitas benda-benda sederhana, listrik, cahaya, panas, serta gaya tarik-menarik molekuler, semuanya bagi kami hanyalah berbagai bentuk perkembangan dari keseluruhan realitas yang kami sebut materi. Perkembangan-perkembangan ini dicirikan oleh suatu solidaritas yang erat, oleh kesatuan tenaga penggerak yang mendasarinya.

Kami tidak memandang keseluruhan keberadaan dan segala bentuknya ini sebagai suatu substansi yang kekal dan mutlak, sebagaimana yang diyakini kaum panteis. Sebaliknya, kami memandangnya sebagai hasil yang senantiasa berubah dan terus berubah dari beragam aksi dan reaksi, serta dari kerja tanpa henti makhluk-makhluk nyata yang lahir dan hidup di dalamnya. Sebagai penentangan terhadap keyakinan para teolog, saya mengajukan pokok-pokok berikut:

  1. Bahwa apabila ada Tuhan yang menciptakan dunia, maka dunia tidak akan pernah dapat eksis.
  2. Bahwa apabila Tuhan adalah penguasa alam, maka hukum-hukum alamiah, fisik, dan sosial tidak akan pernah dapat eksis. Dunia hanya akan menyajikan pemandangan kekacauan yang sempurna. Diperintah dari atas ke bawah, dunia akan menyerupai kekacauan yang dirancang dan diperhitungkan sebagaimana yang kita lihat dalam politik negara.
  3. Bahwa hukum moral adalah hukum yang sungguh-sungguh bermoral, logis, dan nyata hanya sejauh ia lahir dari kebutuhan-kebutuhan manusia. 
  4. Bahwa gagasan tentang Tuhan tidak diperlukan bagi keberadaan maupun bekerjanya hukum moral. Jauh dari itu, gagasan tersebut justru menjadi unsur yang mengacaukan dan merusak moral kehidupan sosial.
  5. Bahwa semua tuhan, baik yang dahulu maupun yang sekarang, berutang keberadaannya kepada imajinasi manusia yang belum terbebaskan dari belenggu naluri kebinatangan purbanya.
  6. Bahwa setiap tuhan, setelah ditegakkan di atas takhtanya, akan menjadi kutukan bagi umat manusia dan sekutu alami bagi seluruh tiran, penipu sosial, serta para pengeksploitasi manusia. 
  7. Bahwa keruntuhan Tuhan akan menjadi konsekuensi yang tak terelakkan dari kemenangan umat manusia. Dan penghapusan gagasan tentang Tuhan akan menjadi hasil yang niscaya dari emansipasi proletariat.

Dari sudut pandang moral, sosialisme adalah kedatangan kembali harga diri bagi umat manusia. Sosialisme menandai berakhirnya kehinaan dan ketundukan di hadapan Yang Ilahi.

Dari sudut pandang praktis, sosialisme merupakan penerimaan penuh atas sebuah prinsip besar yang dari hari ke hari semakin meresap ke dalam masyarakat. Prinsip itu semakin kuat menegaskan dirinya dalam kesadaran publik. Ia telah menjadi dasar bagi penyelidikan ilmiah, kemajuan pengetahuan, dan perjuangan kaum proletar. Ia berkembang di mana-mana. Singkatnya, prinsip tersebut adalah sebagai berikut:

Sebagaimana dalam dunia material, unsur-unsur anorganik seperti proses mekanis, fisik, dan kimia menjadi dasar bagi perkembangan kehidupan organik, baik tumbuhan maupun hewan, demikian pula dalam kehidupan sosial, perkembangan ekonomi telah dan terus menjadi landasan yang menentukan arah perkembangan agama, filsafat, politik, dan seluruh tatanan sosial kita. Prinsip ini dengan berani menghancurkan seluruh gagasan keagamaan dan keyakinan metafisis. Ia merupakan pemberontakan yang jauh lebih besar daripada pemberontakan yang lahir pada masa Renaisans dan abad ketujuh belas, yang meruntuhkan seluruh doktrin skolastik yang selama berabad-abad menjadi benteng kokoh Gereja, monarki absolut, dan kaum bangsawan feodal, lalu melahirkan kebudayaan dogmatis yang mengatasnamakan apa yang disebut akal budi murni, yang pada akhirnya justru menguntungkan para penguasa modern, yakni kelas borjuis.

Karena itu, melalui Internasional, kami menyatakan: Perbudakan ekonomi yang menimpa kaum pekerja, yakni ketergantungan mereka kepada mereka yang menguasai kebutuhan hidup, alat-alat kerja, perkakas, dan mesin-mesin produksi, merupakan sebab utama dan sumber dari segala bentuk perbudakan yang ada saat ini. Dari situlah lahir kemerosotan intelektual dan ketundukan politik. Oleh karena itu, emansipasi ekonomi kaum pekerja adalah tujuan yang harus ditempatkan di atas segala tujuan lainnya. Setiap gerakan politik harus menundukkan keberadaannya kepada tujuan tersebut dan berfungsi semata-mata sebagai sarana untuk mencapainya. Singkatnya, inilah gagasan pokok Internasional.


Diterjemahkan dari:

Jumat, 29 Mei 2026

Anarki dan Agama

Penulis: Ziq

Selama bertahun-tahun, orang-orang menyebut diri mereka sebagai “anarkis Kristen”, “anarkis Yahudi”, “anarkis Muslim”, dan sebagainya. Di sebagian besar lingkaran anarkis, hal semacam itu diterima begitu saja tanpa banyak dipertanyakan, karena keinginan untuk bersikap inklusif sering kali dianggap lebih penting daripada keberatan terhadap sifat hierarkis dan patriarkal yang secara inheren melekat dalam sebagian besar afiliasi keagamaan.

Menurut saya, sama sekali tidak masuk akal mencoba menggabungkan anarkisme dengan sistem-sistem otoritas yang secara terang-terangan bersifat hierarkis. Dan seperti halnya “anarko-kapitalisme”, saya memandang upaya untuk menambatkan anarki pada bentuk-bentuk otoritas yang begitu jelas sebagai dorongan yang keliru, dorongan yang muncul dari orang-orang yang telah terlalu lama diindoktrinasi oleh sistem otoriter sehingga mereka tidak benar-benar bersedia melepaskan bentuk-bentuk otoritas yang masih memiliki ikatan emosional dan nostalgia bagi mereka. Rasa nyaman atau rasa aman yang diberikan agama membuat mereka mencoba mereformasi agamanya menjadi sesuatu yang lebih egaliter ketika mereka mulai tertarik pada gagasan ekonomi dan sosial yang ditawarkan anarkisme, tetapi tetap tidak ingin meninggalkan keyakinan agama yang telah lama mereka pegang.

Saya rasa perlu ditegaskan bahwa kaum anarkis tidak memiliki hak untuk memaksakan pandangan mereka kepada orang-orang yang menganut agama. Yang ingin saya lakukan hanyalah menelaah beberapa prinsip berbasis otoritas yang secara inheren dianggap sakral oleh organisasi-organisasi keagamaan, serta mencoba memahami mengapa kaum anarkis religius merasa perlu semacam “menulis ulang” agama yang mereka anut demi memaksakan kecocokan yang rapuh dengan anarkisme.

Seperti biasa, saya juga perlu menegaskan bahwa saya sendiri tidak menganut konsep tentang “masyarakat anarkis”. Jadi tulisan ini bukanlah upaya untuk mengatakan bahwa agama harus “dilarang” dalam suatu “masyarakat anarkis” yang bahkan tidak benar-benar ada. Saya tidak menganggap hal semacam itu mungkin untuk diwujudkan.

Anarkisme adalah cara berpikir anti-otoritarian, sebuah proses yang terus berlangsung ketika manusia mempertanyakan dan melawan otoritas. Anarki bukanlah sistem buatan yang dirancang secara artifisial, ataupun sebuah “masyarakat” untuk mengatur manusia. Ia juga bukan keadaan permanen di mana otoritas entah bagaimana lenyap sepenuhnya. Otoritas akan selalu ada, dan terutama akan berkembang subur di dalam sistem-sistem kekuasaan dan kontrol yang formal, tempat kepatuhan dan konformitas dijunjung sebagai sesuatu yang diinginkan. Dan jika sekelompok orang benar-benar berhasil “mencapai” anarki lalu mencoba melarang orang lain memiliki keyakinan agama, maka anarki itu tentu akan langsung lenyap pada saat mereka mulai memaksakan otoritas atas orang lain.

Seseorang tentu saja bisa menjadi religius (“spiritual”) tanpa mendukung otoritas. Seseorang bisa percaya pada makhluk-makhluk gaib, roh, bahkan dewa-dewa tanpa harus membangun hierarki dan ritual otoriter di sekeliling kepercayaan tersebut. Namun hampir seluruh “Agama Besar” pada dasarnya memang dibangun di atas otoritas, dan sejak awal memang dirancang demikian.

Agama monoteisme diciptakan oleh orang-orang beradab untuk membiasakan umat manusia tunduk pada sosok “makhluk agung” di langit, agar mereka juga lebih mudah menerima untuk diperintah oleh “manusia agung” di kastel (atau belakangan: di istana presiden, pabrik, ataupun kantor).

Otoritas monoteisme dengan cepat dipaksakan ke seluruh dunia melalui ujung pedang, menggantikan politeisme di sebagian besar kebudayaan. Para pemimpin agama dan negara menganggap kaum politeis sebagai “penyembah berhala yang tidak beradab”, lalu membantai mereka apabila menolak tunduk pada tatanan dunia baru. Bukan suatu kebetulan bahwa monoteisme dan peradaban berkembang berdampingan. Beragam kebudayaan yang majemuk digantikan oleh sebuah monokultur global yang kaku dan jauh lebih mudah didominasi oleh para penguasa.

Perbudakan juga sangat dibantu oleh beberapa agama monoteistik baru ini yang secara langsung membenarkan praktik tersebut, menyediakan legitimasi moral yang mudah bagi para pemilik budak, sekaligus membuat para budak enggan melawan sistem karena takut akan hukuman kekal. Gereja Romawi secara terbuka mengecam budak-budak yang melarikan diri dari tuannya, bahkan menolak memberikan komuni kepada mereka. Tidak sulit memahami mengapa masyarakat religius begitu cepat menopang sistem perbudakan ketika kitab-kitab suci yang mereka jadikan pedoman hidup justru secara terang-terangan menormalisasi praktik tersebut:

“Terkutuklah Kanaan! Ia akan menjadi budak yang paling hina bagi saudara-saudaranya” (Kej. 9:25)

Ini adalah kutipan dari Perjanjian Lama, ketika Nuh mengutuk Kanaan (anak Ham) menjadi budak untuk selamanya. Kaum Kristen dan Muslim kemudian mengidentifikasi keturunan Ham sebagai orang-orang Afrika berkulit hitam, yang pada akhirnya digunakan untuk membenarkan secara moral berabad-abad perbudakan rasial di masyarakat mereka, sekaligus membangun gagasan bahwa sebagian umat manusia memang ditakdirkan untuk hidup dalam penghambaan abadi kepada mereka. Ini merupakan pola yang terus berulang dalam agama-agama terorganisir, sebab dokumen-dokumen religius hampir selalu membangun dan memperkuat otoritas di dalam kebudayaan yang menganggapnya suci.

Perjanjian Baru melanjutkan tradisi yang mengajarkan umat beriman untuk menerima perbudakan, bahkan melangkah lebih jauh dengan memerintahkan para budak agar menaati tuan mereka sebagaimana mereka menaati Tuhan:

“Wahai kaum budak, taatilah tuanmu di dunia dengan rasa hormat dan gentar, serta dengan tulus hati, sama seperti kamu taat kepada Kristus. Jangan hanya taat ketika mereka mengawasimu untuk mencari muka, tetapi sebagai hamba Kristus yang melakukan kehendak Allah dengan sepenuh hati. Layanilah mereka dengan sungguh-sungguh seperti melayani Tuhan dan bukan manusia.” (Efesus 6:5–7)

Pembenaran terhadap perbudakan yang terdapat dalam Alkitab pada akhirnya memang diterapkan secara nyata oleh orang-orang religius sepanjang sejarah. Di Barbados pada tahun 1710, Society for the Propagation of the Gospel in Foreign Parts memperoleh perkebunan untuk membiayai Codrington College. Ratusan budak dipaksa bekerja di perkebunan tersebut, dan dengan besi panas membara dada mereka dicap dengan kata “Society” (Masyarakat), sebagai penanda bahwa mereka adalah milik gereja. Hingga hari ini, orang-orang religius masih menjajah negeri-negeri lain sambil menggunakan kitab suci mereka untuk membenarkan berbagai kekejaman yang mereka lakukan. Jauh lebih mudah membenarkan kekejaman terhadap diri sendiri maupun orang lain ketika seseorang dapat menunjuk sebuah ayat dalam kitab suci lalu berkata, “Tuhan yang esa dan sejati membenarkan hal ini.” Agama memiliki cara untuk membebaskan para tiran dari rasa bersalah, dengan memindahkan tanggung jawab kepada sosok-sosok otoritas mistis yang dianggap tidak boleh dipertanyakan.

"Tetapi Aku berkata kepadamu: janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu. Melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berikan juga pipi kirimu kepadanya." (Matius 5:39)

Agama-agama yang melibatkan modifikasi tubuh secara paksa, indoktrinasi sejak bayi atau masa kanak-kanak, menuntut penghormatan dan kepatuhan kepada sosok ilahi, berhala, kitab suci, simbol, tetua, pemimpin agama, ataupun sekadar mengajarkan manusia untuk “memberikan pipi yang lain” ketika sedang dieksploitasi, tidak dapat secara jujur disebut selaras dengan anarkisme. Menjadi seorang anarkis berarti melawan otoritas dalam setiap aspek kehidupan, bukan menutup mata terhadap otoritas ketika hal itu terasa nyaman untuk dilakukan.

Sunat adalah salah satu contoh ritual keagamaan yang memiliki dampak seumur hidup. Memaksa anak menjalani operasi yang tidak esensial bukanlah tindakan anarkis, sehingga siapa pun yang melakukannya tidak bisa mengklaim dirinya sedang menjalankan anarki sambil secara paksa memutilasi tubuh seorang bayi. Merampas otonomi tubuh seorang anak secara paksa berarti Anda tidak sedang mempraktikkan anarki. Tidak ada cara untuk berpura-pura bahwa seorang bayi dapat menjadi peserta yang sadar dan sukarela dalam tindakan semacam itu. Memaksa anak-anak mengikuti praktik keagamaan sebelum mereka cukup dewasa untuk mengambil keputusan secara sadar dan sukarela, serta memaksakan ritual yang mengubah tubuh mereka sejak bayi, berarti menempatkan otoritas atas diri mereka. Mereka terlalu kecil untuk secara sukarela memilih sunat, pembaptisan, mutilasi genital perempuan, ataupun bahkan memahami apa yang sedang dilakukan terhadap diri mereka.

Seseorang bisa saja menjadi religius sekaligus menjadi seorang anarkis, sebab kebanyakan orang memang dilahirkan ke dalam agama, dan proses membebaskan pikiran dari otoritas merupakan perjuangan seumur hidup yang tidak pernah benar-benar selesai. Namun, Anda tidak bisa mengklaim bahwa memaksakan operasi yang tidak diperlukan pada seorang bayi adalah tindakan anarkis. Itu sama sekali bukan tindakan anarkis. Itu sepenuhnya bertentangan dengan anarkisme. Hal yang sama berlaku bagi mereka yang menerima ketundukan kepada seorang tuan, sekaligus mengajarkan orang lain untuk menerima eksploitasi, memaafkan para penindasnya, dan memilih untuk tidak melawan.

Agama terorganisir dijalankan dari atas oleh lembaga keagamaan, yakni otoritas yang menentukan ajaran agama itu sendiri. Ia merupakan sistem yang terdiri dari penguasa dan pihak yang dituntut untuk patuh, dan sepanjang sejarah telah digunakan untuk membenarkan hampir segala bentuk kekejaman. Mencoba menebus institusi-institusi otoriter yang berlumuran darah ini dengan mengaitkannya pada cita-cita anarkis berarti ikut mempertahankan sebuah kebohongan yang koersif dan destruktif. Menyematkan bendera hitam pada institusi-institusi yang telah mengukir jejak pembantaian tanpa henti sepanjang sejarah (menjajah dan menghancurkan segala sesuatu yang mereka sentuh) sama sekali tidak membantu anarkisme, dan justru hanya membantu otoritas gereja menyamarkan jubah mereka yang berlumuran darah cukup lama untuk mencekik korban berikutnya.

Seperti semua bentuk otoritas, otoritas agama tidak akan pernah tinggal diam. Dalam masa-masa konflik, orang-orang yang menolak menyesuaikan diri dengan agama dominan akan dijadikan kambing hitam, ditindas, bahkan dibunuh atas nama segala sesuatu yang dianggap suci, baik, dan adil.

Agama adalah otoritas sebesar otoritas lainnya, dan seperti semua bentuk otoritas, pertumbuhannya tidak dapat benar-benar dibatasi. Tentu saja tidak oleh segelintir pendukung versi agama yang lebih libertarian. Arus utama yang dominan akan selalu tetap bersifat otoriter tanpa penyesalan, dan akan berubah menjadi sangat represif pada masa-masa pergolakan budaya maupun peperangan. Yang dilakukan oleh cabang-cabang reformisnya hanyalah menciptakan pembenaran agar agama itu dapat terus dipertahankan, sampai pada akhirnya arus utama yang otoriter kembali menumpahkan pembantaian berdarah terhadap para “kafir tak bertuhan” yang menolak otoritas gereja dan penguasa gaib maha kuasa mereka, sosok yang dengan mudah tak pernah bisa dimintai pertanggungjawaban atas kekejaman yang dilakukan atas namanya.


Diterjemahkan dari:

Kamis, 28 Mei 2026

Tidak ada Tuhan, Tidak ada Tuan

Mengapa Ateisme dan Anarkisme Selaras Satu Sama Lain? 

Penulis: The Polar Blast

Ateisme dan anarkisme merupakan dua posisi yang berbeda, tetapi perjalanan intelektual dan politik keduanya telah lama saling bersinggungan. Ateisme yang dipahami sebagai penolakan terhadap Tuhan atau otoritas ilahi, merepresentasikan penolakan untuk tunduk pada kekuatan transenden. Sementara itu, anarkisme yang dipahami sebagai penolakan terhadap hierarki yang tidak dapat dibenarkan, serta dukungan terhadap organisasi sosial tanpa negara dan tanpa hierarki, merepresentasikan penolakan untuk tunduk pada penguasa duniawi. Keduanya sama-sama menantang otoritas, kepatuhan, dan dominasi, meskipun bergerak dalam ranah yang berbeda.

Ateisme dan anarkisme dapat dipadukan secara alami karena keduanya berbagi kritik terhadap otoritas eksternal, menekankan otonomi manusia, serta memiliki warisan sejarah berupa perlawanan bersama terhadap dominasi. Keselarasan itu juga terletak pada orientasi etis mereka. Keduanya berusaha mendasarkan moralitas pada solidaritas manusia dan mutual aid, bukan pada perintah ilahi atau hukum negara. Kesamaan konseptual, keterkaitan historis, serta berbagai ketegangan yang mungkin muncul di antara keduanya menunjukkan bagaimana ateisme memperkuat kritik anarkisme terhadap hierarki, sementara anarkisme memberi ateisme bentuk ekspresi politik yang melampaui sekadar ketidakpercayaan.


Otoritas dan Kritik terhadap Hierarki

Di jantung anarkisme terdapat penolakan terhadap otoritas yang tidak sah. Bagi pemikir seperti Mikhail Bakunin, negara bukanlah penengah yang netral, melainkan institusi yang melanggengkan dominasi. Dengan cara yang serupa, ateisme dapat dipahami sebagai penolakan terhadap otoritas tertinggi yang diklaim oleh Tuhan dan para pemuka agama di bumi. Dalam kedua kasus tersebut, kritik diarahkan pada logika hierarki dan asumsi bahwa kepatuhan terhadap kekuasaan eksternal adalah sesuatu yang alami dan diperlukan.

Otoritas keagamaan, terutama dalam tradisi monoteistik, sering kali mencerminkan bentuk kedaulatan politik. Bahasa agama seperti “Tuhan”, “Raja”, atau “Bapa” memiliki kesamaan langsung dengan struktur kekuasaan negara. Seperti yang dikemukakan oleh Emma Goldman, agama menguduskan kepatuhan dan membiasakan individu untuk tunduk, sehingga ikut menopang hierarki politik dan ekonomi. Ateisme mengganggu proses tersebut dengan menolak premis kekuasaan ilahi, sementara anarkisme memperluas prinsip yang sama terhadap institusi duniawi. Karena itu, hubungan antara keduanya dapat dipahami sebagai penolakan ganda terhadap otoritas teokratis maupun otoritas negara.


Otonomi Manusia dan Penentuan Nasib Sendiri

Dimensi lain yang menunjukkan keselarasan antara ateisme dan anarkisme terletak pada penekanan keduanya terhadap otonomi manusia. Bagi kaum anarkis, kebebasan bukan berarti ketiadaan segala bentuk tatanan, melainkan kemampuan untuk turut menentukan kondisi kehidupan sendiri tanpa tunduk pada kekuasaan yang memaksa. Sementara itu, bagi kaum ateis, otonomi berarti penolakan terhadap moralitas yang ditentukan oleh perintah ilahi.

Kerangka religius sering kali menempatkan moralitas pada titah Tuhan dan menuntut kepatuhan tanpa memedulikan akal maupun empati manusia. Sebaliknya, ateisme menuntut agar etika dibangun melalui pertimbangan manusia, solidaritas, dan pengalaman praktis. Anarkisme mencerminkan sikap yang serupa dengan menolak hukum yang dipaksakan dari atas, dan sebagai gantinya menekankan penentuan nasib sendiri secara kolektif serta asosiasi sukarela. Karena itu, kedua posisi tersebut bertemu dalam visi tentang kehidupan moral yang berakar pada otonomi, bukan kepatuhan.


Tradisi Historis Perlawanan

Catatan sejarah juga memperkuat anggapan bahwa ateisme dan anarkisme saling mendukung satu sama lain. Kritik era Pencerahan terhadap agama, yang diwakili tokoh-tokoh seperti Denis Diderot dan Voltaire, sering kali berjalan beriringan dengan tantangan awal terhadap sistem politik yang mapan. Pada periode berikutnya, para pemikir anarkis secara lebih terbuka menghubungkan ateisme dengan kritik mereka terhadap otoritas.

Pernyataan Mikhail Bakunin: “Jika Tuhan benar-benar ada, maka Ia harus dilenyapkan”, mencerminkan kecurigaan kaum anarkis bahwa kepercayaan kepada Tuhan dapat melegitimasi ketimpangan dengan menjadikan hierarki tampak alami. Karya-karya Emma Goldman juga secara konsisten menempatkan agama, bersama negara dan kapitalisme, sebagai “tiga musuh besar” kebebasan. Berbagai gerakan sejarah pun menunjukkan hal yang sama. Paris Commune menyita properti gereja dan mendorong pendidikan sekuler, sementara kaum anarkis Spanyol pada dekade 1930-an menentang fasisme sekaligus Gereja Katolik karena melihat keduanya saling memperkuat struktur hierarkis.

Meskipun terdapat arus anarkisme religius seperti Kekristenan Tolstoyan, teologi pembebasan, atau gerakan Pekerja Katolik, arus-arus tersebut lebih merupakan pengecualian daripada kecenderungan utama. Tradisi anarkis yang dominan secara konsisten memandang ateisme sebagai sekutu alami dalam upaya membongkar struktur-struktur hierarkis.


Etika Tanpa Perintah Ilahi

Para pengkritik sering berpendapat bahwa ateisme meruntuhkan moralitas karena dianggap menghilangkan landasan ilahinya. Namun, teori anarkis justru menawarkan kerangka etika yang kuat tanpa membutuhkan Tuhan. Alih-alih bertumpu pada perintah ilahi, kaum anarkis mendasarkan moralitas pada solidaritas, pertukaran, dan mutual aid.

Bagi Pyotr Kropotkin, kerja sama bukanlah cita-cita moral yang dipaksakan dari atas, melainkan prinsip yang berakar pada keberlangsungan evolusi. Manusia berkembang bukan melalui kepatuhan kepada penguasa atau Tuhan, tetapi melalui kepedulian kolektif. Karena itu, etika anarkis menekankan praktik kebebasan dan saling ketergantungan, berbeda dari kerangka otoritarian yang menyamakan moralitas dengan kepatuhan.

Ateisme memperkuat kerangka etika tersebut dengan menolak pembenaran supranatural atas kekerasan, pengucilan, maupun ketimpangan. Tanpa otoritas ilahi yang menyucikannya, praktik-praktik seperti perang suci, inkuisisi, dan penganiayaan terlihat jelas sebagai proyek politik yang dibungkus dengan bahasa teologis. Dengan demikian, anarkisme ateistik menawarkan etika yang sekaligus bersifat humanis dan emansipatoris.


Tidak ada Tuhan, Tidak ada Tuan

Ketika dipadukan, ateisme dan anarkisme membentuk visi radikal mengenai transformasi sosial. Ateisme tanpa anarkisme berisiko berhenti sebagai posisi intelektual yang terbatas karena ketidakpercayaan kepada Tuhan tidak otomatis berarti penolakan terhadap hierarki duniawi. Sebaliknya, anarkisme tanpa ateisme berisiko jatuh pada kontradiksi: menolak penguasa di bumi sambil tetap memuliakan otoritas ilahi. Namun, ketika keduanya dipertemukan, mereka membentuk pandangan dunia yang utuh dalam menentang dominasi dalam segala bentuknya.

Slogan: “No Gods, No Masters” (Tidak ada Tuhan, Tidak ada Tuan), merangkum penolakan ganda tersebut. Slogan itu juga menegaskan kemampuan manusia untuk menciptakan makna, nilai, dan bentuk organisasi sosial tanpa bergantung pada kekuatan transenden. Dalam pandangan ini, pembebasan tidak dapat ditunda hingga kehidupan setelah mati ataupun diserahkan pada kehendak ilahi, melainkan harus diwujudkan di sini dan sekarang melalui perjuangan kolektif.


Menanggapi Anarkisme Religius

Untuk memahami kompleksitas persoalan ini, perlu diakui bahwa sebagian kaum anarkis memang mengambil inspirasi dari tradisi religius. Anarkis Kristen seperti Leo Tolstoy menekankan penolakan Yesus terhadap kekuasaan imperium, sementara para teolog pembebasan menghubungkan prinsip-prinsip anarkisme dengan seruan keadilan dalam Alkitab. Perspektif-perspektif tersebut menunjukkan bahwa anarkisme dan agama tidak selalu sepenuhnya bertentangan.

Namun demikian, posisi semacam itu tetap menyisakan persoalan. Bahkan konsep Tuhan yang non-otoritarian sekalipun tetap menghadirkan standar eksternal yang harus dipatuhi oleh para penganutnya, sehingga hierarki kembali muncul pada tingkat metafisik. Selain itu, sepanjang sejarah, institusi-institusi keagamaan jauh lebih sering berfungsi sebagai sekutu negara dan kapital dibandingkan sebagai sumber perlawanan yang konsisten. Karena itulah, ateisme dianggap menawarkan landasan yang lebih jelas dan lebih konsisten bagi etos anti-otoritarian dalam anarkisme.

Ateisme dan anarkisme dianggap selaras karena keduanya sama-sama menantang struktur otoritas, menekankan otonomi manusia, serta berusaha mendasarkan etika pada solidaritas antarmanusia, bukan pada perintah ilahi. Secara historis, kaum anarkis memandang agama sebagai salah satu penopang utama hierarki dan karena itu mendukung ateisme sebagai bagian dari politik emansipatoris yang lebih luas. Secara filosofis, ateisme melengkapi anarkisme dengan menyingkirkan pembenaran metafisik terhadap kepatuhan, sementara anarkisme memberi ateisme kerangka politik untuk mewujudkan kebebasan dalam praktik nyata.

Keselarasan keduanya dapat diringkas dalam slogan: “No Gods, No Masters” (Tidak ada Tuhan, Tidak ada Tuan). Slogan ini bukan sekadar bentuk penolakan, melainkan juga penegasan bahwa manusia mampu dan harus menciptakan dunia yang didasarkan pada kebebasan, kesetaraan, dan mutual aid tanpa bergantung pada penguasa ilahi maupun penguasa politik. Dengan mempertemukan ateisme dan anarkisme, kita tidak hanya menemukan kritik terhadap dominasi, tetapi juga visi pembebasan yang berakar pada otonomi manusia dan penentuan nasib sendiri secara kolektif.


Diterjemahkan dari: